Dia tidak suka perubahan. Biasanya perubahan selalu tak menyenangkan dan berakhir pada kekacauan. Untuk mendapatkan hal terbaik, kata orang, kita harus membayar harga terbaik itu, karena itu manusia akan lebih menghargai hasil.
Mencoba mengingat-ingat mimpinya tadi malam. Gadis itu sering merasa mimpi-mimpinya bersambung dan Mirna berdebar saat mengingatnya.
“Suatu hari, aku ingin menceritakannya,” katanya, entah pada siapa.
Ada yang tak pernah bisa dia katakan. Mimpi tak bisa diwujudkan. Atau harapan yang entah! Ada sisi yang membuatnya selalu kesepian.
Gadis itu berhenti sejenak, dia memandang sekelilingnya. Ada banyak bunga liar yang yang telah mekar, warna-warnanya terlihat cerah.
“Ah, ternyata sudah musim bunga.” Gadis itu berlalu lagi.
Mirna tidak mengerti, kenapa perkenalan warna dari masa kecilnya seperti sangat memengaruhi penilaiannya tentang banyak hal. Seperti ini misalnya, Mirna suka bikin klasifikasi teman-temannya berdasarkan warna kesukaan mereka. Jika saat remaja teman-temannya lebih percaya ramalan zodiak, atau saat dia berusia 22 tahun ke atas, mereka menggantungkan nasib pada shio. Mirna menentukan pertemanan, pengaruh dan menebak karakter seseorang dengan warna mereka.
Namun, dia belum bisa berdamai dengan warna kuning.
“Mawar Kuning ...” Ibunya bercerita, sambil membelai si bungsu yang hampir tertidur dipangkuannya.
“Akhirnya dia menjadi permaisuri raja dan cantik jelita.” Beliau mengakhiri dongengnya.
“Umak, aku belum pernah liat mawar warna kuning?” Si tengah bertanya.
“Ada kok. Umak pernah lihat.”
“Sudah. Sudah ayo tidur.”
“Jadi Mawar Merah dan Mawar Putih tadi gimana?”
“Mereka jadi budak.”
Mirna si sulung, segera beranjak ke belakang, terdengar suara air dialirkan, gadis umur 10 tahun itu membasuh tubuhnya sebelum tidur.
“Emma kau tak membasuh wajahmu?”
“Ngantuk, Mak.” Emma menguap. Hanna si bungsu yang sudah tidur langsung diangkat sang ibu, dibaringkannya pada dipan dengan kasur tipis.
“Mak, kapan beli kasur yang agak tebal?” Emma melihat ibunya, dengan mata berkedip-kedip menahan kantuk.
“Nanti kalau sudah punya uang.”
“Mak nanti belikan yang gambar mickey mouse ya. Seperti punya Kak Rahayu.”
“Warna pink.” Itu kalimat terakhir yang dia ucapkan, bocah kecil umur enam tahun itu tak kuasa lagi menahan kantuknya.
“Aku lebih suka tinggal di sini,” kata Mirna, “Aku tak perlu bersembunyi.”
Mereka tinggal di tengah kebun karet. Jarak rumah ke tetangga paling dekat 500 meter.
“Tidurlah.” Ibunya menghela napas.
“Mak.” Panggil Mirna lagi. “Mak, kenapa Mak tidak jadi mawar kuning saja. Mak kan tidak jahat seperti Mawar Merah itu?”
Tidak ada jawaban.
“Tapi aku juga tak mau jadi Mawar Kuning. Mawar warna kuning itu tidak ada kan, Mak?”
Mirna menoleh ke atas dipan kecil itu. Ibunya telah memejamkan mata. Mengira ibunya telah tidur, gadis kecil itu juga akhirnya memejamkan matanya.
Kenapa dia perduli hal-hal di luar jangkaunya. Menginginkan dongeng dalam dunia mereka, tapi tidak cukup mampu mengubahnya menjadi menyenangkan untuknya juga. Dia tidak menyesali membaca Cinderella. Tidak semua yang ia tahu ingin diketahuinya. Tetapi dia sedih, tak jua menemukan apa yang benar-benar di inginkan.
Beberapa lama gadis itu masih menatap ibunya.
Mirna menggelung dalam selimut paling ujung. Dia sedikit merasa benci terlahir terlalu cepat dan mengingat banyak hal. Banyak hal yang tidak dapat dihindarinya, bertumpuk menyesaki dada kecilnya, banyak hal yang mungkin nanti akan membuat hidupnya kacau balau, lelah memikirkannya, dia akhirnya juga tidur.
Beberapa menit kemudian, mata si Ibu terbuka. Dari sudut matanya mengalir airmata. Wanita muda yang sebagian wajahnya melepuh terbakar itu menangis dalam diam.
Pong burung cinta kasih. Terbang di kesa berengen koneng. Hinggap di behu kidau Mir. Bertengger di behu kanan Mir. Bertelur di hati lidah Mir. Bersarang di hati tangan Mir ...
Dia lebih mendekatkan lagi kertas kusut itu, ingin membaca lebih jelas apa yang tertulis. Tulisan dalam kertas itu lebih buruk lagi. Wanita itu tidak menyerah, beberapa lama mulutnya membuka lagi.
Menetas di anak mate kanan mir. Singgah turun kedunia menunduk sendi Mir. Orang sejagat segendang alam. Sehelai sipatku tidak berubah lagi. Segendang sebelai raya. Sigat cahya wang hanya melihat mukaku-
Mestinya kata –ku semua diganti Mir, karena ingin cepat dia sering lupa menggantinya.
...
Meraba kertas kuning yang sudah lusuh itu. Mendekatkan pada lampu minyak, membolak baliknya berulang, mulutnya masih berdesis.
Mirna terbangun oleh suara berisik itu. Dia melihat ibunya memegang kertas kuning lusuh dibawah lampu minyak. Sesaat seperti nenek sihir dalam cerita Hansel dan Gretel.
Mirna mendecih, dia ingat, suatu ketika berlari kedalam hutan itu, ingin menemukan sang nenek sihir. Entahlah kenapa waktu itu dia berpikir lebih baik jadi budak si nenek sihir atau mati dalam panci masakannya daripada hidup seperti hidupnya.
Selama enam tahun mereka tinggal di tengah hutan, Mirna tidak takut apapun lagi, seolah semua cerita hantu juga hilang saat mereka mulai menetap di sana. Mirna dan ibunya bersepakat, tidak takut mati, karena itulah mereka tidak takut apapun lagi.
Pong burung cinta kasih, pong burung cinta kasih!.
“Umak!” Panggil Mirna. Gadis kecil itu duduk. Menatap ibunya dengan mata masih mengantuk. Dia tak ingin perduli kelakukan ibunya, hanya sepertinya ibunya semakin tidak waras.
Sekarang dia bukan gadis kecil umur sepuluh tahun lagi, Mirna sudah kelas dua SMP, dia sudah mengerti hal yang pantas dan tidak, hal yang benar atau tidak. Melihat ibunya terus-terusan membaca tulisan di kertas lusuh yang entah darimana, lama-lama dia juga merasa tidak waras.
“Mirna itu cantik. Tapi cantik saja tidak cukup. Dia harus punya pengasihan.”
Mirna pernah mendengar obrolan itu suatu ketika.
“Ini ilmu paling mujarab Mirna, orang-orang sering tidak berhasil melakukan ritualnya, kalau dia diberkati. Dia akan jadi gadis paling beruntung di dunia ini.”
Mirna mengintip, mata ibunya berbinar-binar.
“Kau beruntung, rumah kalian dekat muara tiga sungai!”
Kata ibunya setelah itu,
“Kau anak baik, kau anak cantik, jangan bernasib seperti Umak, ya.”
“Mirna, kau ingin Mak bahagia, menikahlah dengan orang kaya, Nak.”
“Ini mantra paling mujarab. Paling mempan. Kau tak perlu menghafalnya, Mak yang akan bacakan ....”
“Berhentilah!” Gadis itu mendekati, masih setengah mengantuk, dipaksanya bangun. Gerakannya yang tergesa bersitubruk dengan piring dan cangkir kaleng. Menimbulkan suara berisik lebih meriah lagi.
“Umak ...” Bungsu terbangun dan merengek.
Mereka berdua menoleh. Mirna terus mendekati lampu minyak.
Ibunya mengawasi Mirna, Mirna menatap ibunya. Mereka saling waspada.
Ibunya mengalah, perlahan mendekati bungsu yang terus merengek, dan menenangkannya.
Mirna menoleh pada kertas itu, belum sempat dia meraihnya, tangan kekar ibunya mengambil dengan gegas, membuat si bungsu yang terlepas dari pelukannya merengek lagi.
“Kau akan mewujudkan mimpi kita. Kau akan menikah dengan orang kaya.” Ibu memandang Mirna dengan tersenyum. Mirna memandang ibunya dengan pandangan tak mengerti.
“Berhentilah mengkhayal, Mak. Sudah. Berhenti!” Mirna jadi geram juga. Mungkin ibunya sekarang sudah setengah gila.
“Mir tidak akan menikah!” Tegasnya.
“Seribu mantra yang Umak rapalkan, sepanjang malam empat puluh hari empat puluh malam atau mandi di sepuluh muara. Mir tidak akan menikah!”
“Seribu mantra yang Umak rapalkan, sepanjang malam empat puluh hari empat puluh malam atau mandi di sepuluh muara. Mir tidak akan menikah!”
“Jangan keras kepala. Kau cantik. Kau butuh pengasihan untuk ...”
“Mir tidak akan menikah.” Mirna, gadis 14 tahun itu, airmatanya mengalir. Sejak dia mulai mengingat, dia hanya mengingat makian kasar Bapaknya dan jeritan ibunya yang terus terusan dianiaya. Terakhir lelaki biadab itu menyiram minyak lampu berserta lampunya ke tubuh ibunya hingga membuat wajahnya cacat.
“Waktu Mak sudah habis Mir. Sekarang adalah waktumu, kau akan jadi mawar kuning. Kau punya syarat untuk hidup bahagia dan membahagiakan kami, hanya ini yang bisa Ibu lakukan.”
“Kita akan kaya. Mir janji. Mir akan kerja keras untuk buat hidup kita kaya, ya.” Mirna menatap dengan nelangsa.
‘Tanpa harus menikah, Mir bisa kaya Mak.”
“Kau tidak boleh ngomong begitu.”
Hanna tertidur lagi, ibunya membaringkannya pelan-pelan.
“Kenapa Mak tidak melakukannya saat itu. Kenapa Mak malah menikah sama lelaki itu, jika pengasihan itu memang benar!”
“Mak tidak ada yang mengajari dulu ... kalau Mak tahu mantra itu, kalian tidak akan sengsara.”
Aku tidak akan menikah dengan berandal itu, tambahnya.
“Mir tidak akan jatuh cinta, Mak.” Mir menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam kepalanya terbayang lagi wajah seram bapaknya saat memukul ibunya tanpa ampun. Setiap mengingatnya, Mirna mematikan seluruh indranya. Dia tak ingin mengingat rasa ngilu itu.
“Kau tak perlu jatuh cinta, biar mereka yang jatuh cinta, ya.” Ibu membelai wajahnya.
Mirna menatap mata ibunya. Rasa iba merebak di ulu hatinya, melebar ke pembuluh darahnya. Wanita menyedihkan di depannya, dulu katanya gadis yang manis, bahkan dengan wajah setengah melepuh itu, ibunya masih terlihat cantik. Wanita yatim piatu yang katanya beruntung disunting anak pemilik ladang kopi. Sayang, nasib mengkhianatinya. Keluarga dari bapaknya memperlakukan mereka dengan semena-mena dan mengusir mereka.
“Kak Mirna jangan marah lagi sama Umak.” Emma si tengah, yang sedari terbangun, memberanikan diri untuk berkata.
“Tidurlah, Emma. Kakak tidak marah lagi.”
Namun, itu bukan malam terakhir dari keributan itu. Ibu mereka terus merapalnya, menghapalnya dan membacanya dengan tanpa lelah setelah larut malam. Mirna menutup kupingnya kuat-kuat. Kadang saking kesalnya dia pergi dan tidur di lepau bambu depan pondok mereka.
Suatu malam dini hari. Mak memaksa Mirna, setengah menyeretnya menuju sungai kecil dibawah rumah gubuk mereka. Melemparkan gadis kurus itu ke tengah-tengah air.
“Ini malam bulan purnama, kau diberkati, Nak. Kau akan mengubah nasib kita!” Mak tertawa-tawa seperti orang gila.
“Aku tak mau, Makk!” Remaja empat belas tahun itu berteriak-teriak jengkel dari dalam air. Tubuhnya menggigil.
Mirna merasakan tubuhnya melemah, entah jeritan ke-berapa dia merasa dirinya hilang dari dunia. Tubuhnya menjadi lebih dingin.
Sang ibu tertawa panjang, dia seperti ingin menari melihat purnama penuh. Matanya berkilat, sesaat tadi dia mendengar suara berisik. Matanya dilemparkan ke arah pucuk-pucuk pohon karet yang menjulang.
“Itu burungnya, benar itu burung keramat itu. Kau terberkati, Nak.”
Ibu Mirna merasa seolah dunia telah jatuh dalam pelukannya. Sebelum sadar anaknya hampir tak bernapas dalam arus sungai, tersangkut di kaki-kakinya yang kekar dan kurus.
“Mirna ... Mirna!” Ibu Mirna segera mengangkat tubuh anaknya.
“Jangan mati, Nak. Jangan mati. Kau berjanji akan membahagiakan Umak!” Wanita dengan kulit wajah yang menghitam itu segera membopongnya, setengah berlari menaiki undak tanah menuju pondok kediamannya.