Dinginnya surat tuntutan hak asuh itu menjalar dari kertas tipisnya hingga menusuk tepat ke tulang Elara.
Dia duduk di meja dapur yang reyot, membiarkan Lily tidur di kamar sebelah. Cahaya pagi yang masuk dari jendela kecil tidak mampu menghangatkan ruangan, apalagi hatinya. Surat itu adalah pukulan telak yang membuat lututnya lemas. Mereka-Keluarga Hartono yang kaya raya dan kejam-tidak hanya ingin mengambil Lily; mereka ingin merobek alasan satu-satunya Elara untuk bernapas.
"Tidak mampu memberikan perawatan medis yang stabil dan lingkungan yang memadai."
Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, seperti mantra jahat yang membenarkan kekejaman mereka. Dan yang paling menyakitkan, mereka benar. Elara tidak mampu. Tagihan rumah sakit untuk Lily, yang dia buka di ponselnya, sudah menjadi angka astronomi yang mustahil dijangkau oleh upah pelayan restoran. Angka itu menertawakan perjuangannya. Operasi itu harus dilakukan. Jika tidak, waktu Lily akan habis.
"Aku harus berbuat sesuatu," bisik Elara, suaranya parau.
Dia mencoba berpikir. Menjual apa lagi? Perabotan? Hanya ada kasur usang dan beberapa perabot bekas. Ginjal? Bahkan dia tidak yakin siapa yang mau membeli ginjal pelayan restoran yang kurang gizi.
Dia memaksakan diri untuk mandi, membersihkan sisa aroma minyak goreng yang menempel di rambutnya. Dia harus bersiap untuk kerja shift malam. Mungkin dia bisa meminta jam kerja tambahan lagi. Mungkin dia bisa meminta pinjaman dari rekan kerja, meskipun dia tahu jawabannya pasti tidak.
Saat dia menyisir rambutnya yang basah, ponsel reotnya berdering. Nomor tak dikenal. Biasanya dia abaikan, tapi hari ini, dia merasa perlu menjawab. Siapa tahu itu telepon dari rumah sakit atau dari pengacara murahan yang dia temukan di internet.
"Halo?" Suaranya serak.
Suara di seberang sana sangat dingin, datar, dan berwibawa-suara yang terdengar seperti seseorang yang jarang harus mengulang perkataannya.
"Saya mencari Nona Elara Senja. Saya asisten Tuan Volkov."
Jantung Elara mencelos. Tuan Volkov? Siapa? Apakah dia berurusan dengan kolektor utang baru?
"Saya Elara. Tuan Volkov... siapa? Saya tidak kenal."
"Dia mengenalmu," kata suara itu, tanpa emosi. "Dia tahu semua tentang putrimu, Lily. Dia tahu tentang tuntutan hak asuh dari Keluarga Hartono. Dia tahu persis berapa yang kau butuhkan untuk operasi."
Dunia Elara berhenti berputar. Udara terasa keluar dari paru-parunya. Bagaimana? Bagaimana orang asing yang bahkan tidak dia kenal bisa mengetahui detail paling intim dan menakutkan dari kehidupannya? Apakah ini jebakan?
"Kau... kau siapa? Kau mau apa?" desak Elara, mencoba terdengar kuat, meskipun lututnya sudah gemetar.
"Dia ingin menemuimu. Sekarang. Sepuluh menit. Di Montage Lounge di Fifth Avenue. Lantai teratas. Jangan sampai terlambat. Jika kau ingin menyelamatkan putrimu, kau harus datang. Dan Nona Senja, jangan pernah berpikir untuk menolak panggilan ini. Pria yang menunggumu adalah satu-satunya kesempatanmu."
Panggilan itu terputus. Elara menatap ponselnya, tangannya gemetar hebat. Montage Lounge? Itu adalah tempat yang hanya muncul di film atau majalah mewah. Tempat di mana satu koktail harganya setara dengan upah kerjanya selama dua hari.
Alexander Volkov. Nama itu berputar di kepalanya. Dia merasa mual. Itu terasa seperti sihir hitam, seperti jebakan dari iblis yang menawarkan bantuan dengan janji kepemilikan abadi.
Tapi suara dingin di telepon itu benar: dia adalah satu-satunya kesempatanmu.
Malam itu, dia membagikan rotinya kepada Alex si gelandangan. Sekarang, iblis yang berkuasa di kota ini memanggilnya karena kebaikan itu, atau mungkin, karena kelemahannya.
Demi Lily. Dia akan datang.
Elara tiba di Fifth Avenue dengan bus, mengenakan pakaian kerjanya yang masih sedikit berbau kopi. Ia merasa seperti debu kotor yang terseret ke dalam museum yang berkilauan. Pintu lobi yang terbuat dari kaca setinggi langit-langit terasa begitu mengintimidasi hingga ia harus menarik napas tiga kali hanya untuk mendorongnya.
Lobi itu sunyi, dihiasi marmer putih dan seni kontemporer yang harganya mungkin bisa membeli seluruh tempat dia bekerja.
"Saya mencari Tuan Volkov," katanya kepada resepsionis yang dingin dan sempurna, seorang wanita yang mengenakan setelan jas yang harganya mungkin bisa membeli apartemennya.
Resepsionis itu hanya melirik sekilas, dan Elara merasa seluruh kotoran di pakaiannya tampak terlihat jelas. "Ikuti saya."
Dia diantar ke lift pribadi yang sunyi, di mana musik klasik diputar pelan. Lift itu bergerak begitu cepat hingga perutnya terasa berputar.
Lantai teratas. Sebuah ruangan yang didominasi oleh kaca, mirip dengan tempat Alexander berdiri di Bab 1, tetapi ini tampak lebih personal. Tidak ada meja konferensi, hanya sofa kulit mewah dan pemandangan kota yang menakjubkan.
Ruangan itu kosong, tapi ada secangkir teh panas yang diletakkan di meja, seolah-olah dia sudah ditunggu sejak lama.
Elara duduk di sofa, merasa seperti penipu. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya dengan keras. Apa yang harus dia katakan? Menjual dirinya? Menjual putrinya?
Tepat pukul 10:00, pintu kayu gelap di belakangnya terbuka.
Alexander Volkov melangkah masuk.
Elara menahan napas.
Ini bukan Alex.
Alex yang dia kenal adalah pria kotor, kelelahan, dan tersembunyi. Pria yang masuk sekarang adalah penguasa mutlak.
Jasnya berwarna abu-abu gelap, dipotong sempurna, membuat bahunya terlihat lebar dan pinggangnya ramping. Rambutnya disisir rapi, dan aroma cologne mahal menguasai ruangan, menenggelamkan bau kopi yang masih tersisa di pakaian Elara. Dia tampak seperti patung yang diukir dari es dan kesempurnaan.
Dan matanya... mata yang sama yang menatap burung gereja di taman, kini menatapnya dengan intensitas yang lebih dingin, lebih tajam, seperti pemangsa yang mengunci mangsanya.
"Elara Senja," katanya, suaranya dalam dan berwibawa. Dia tidak tersenyum.
Elara berdiri dengan cepat. "Anda... Anda Tuan Volkov?"
Alexander berjalan mendekat, gerakannya anggun dan lambat. "Duduklah. Jangan takut. Tehmu akan dingin."
"Bagaimana... bagaimana Anda tahu nama saya? Dan... dan tentang Lily?" Elara langsung ke intinya, mengabaikan teh mahal itu.
Alexander duduk di kursi di hadapannya, menyilangkan kaki. Dia tampak seperti dewa di singgasananya.
"Dunia ini kecil, Elara," katanya, menyandarkan punggung ke kursi. "Terutama jika kau punya sumber daya tak terbatas. Nama Hartono itu kecil. Masalah pengadilan hak asuhmu hanyalah masalah jam bagi orang-orangku."
Dia mengambil sebuah tablet di meja dan menggeser layar. "Lily Senja, tujuh tahun. Penyakit jantung bawaan. Prognosis: membutuhkan operasi mitral valve replacement dalam waktu delapan minggu. Biaya total, termasuk perawatan pasca-operasi, sekitar 1,3 juta dolar. Tepat?"
Elara merasakan air mata menggenang. Alexander tidak sedang berspekulasi. Dia tahu setiap detail menyakitkan dalam hidupnya. Dia telah telanjang di depan pria ini.
"Ya," bisik Elara, suaranya nyaris hilang. "Ya, itu benar."
"Dan Keluarga Hartono," lanjut Alexander, tatapannya menusuk. "Mereka hanya ingin menggunakan ini untuk membuatmu terlihat tidak mampu, mengambil putrimu, dan menyelamatkan nama baik mereka di mata kolega mereka. Mereka tidak mencintainya. Mereka hanya mencintai kekuasaan."
"Tolong," Elara memohon, dadanya sesak. "Apa pun yang Anda inginkan, saya akan melakukannya. Saya akan bekerja untuk Anda. Saya akan mencuci piring di restoran Anda selama sepuluh tahun, saya akan membersihkan toilet, apa pun. Tapi jangan ambil Lily dariku."
Alexander tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. Senyum predator yang baru saja mendengar pengakuan total dari mangsanya.
"Aku tidak butuh pelayan, Elara. Aku butuh sesuatu yang lebih... menarik."
Dia meletakkan tabletnya.
"Aku akan memberimu 1,5 juta dolar tunai. Sekarang juga. Uang itu akan membayar semua biaya operasi Lily, biaya perawatan pasca-operasi, dan biaya pengacara terbaik untuk menghancurkan Hartono. Hartono akan hilang dari hidupmu selamanya. Lily akan selamat, dan hak asuh akan aman di tanganmu. Aku akan memberimu kehidupan baru."
Harapan itu begitu besar, begitu cerah, hingga hampir menyilaukan Elara. Nafasnya tercekat.
"Syaratnya," kata Alexander, suaranya berubah rendah dan berbahaya, "kau tidak akan pernah bisa melunasi uang itu."
Elara mengerutkan kening. "Saya tidak mengerti."
Alexander mencondongkan tubuh sedikit, menatap Elara seolah-olah dia adalah teka-teki yang harus dipecahkan.
"Syaratnya adalah kau menjadi milikku, Elara. Kekasih bayaranku. Selama aku menginginkannya. Mulai malam ini."
Elara terpaku. Syok itu begitu besar hingga ia merasa telinganya berdenging. Kekasih bayaran?
"Tidak," Elara menggeleng, air mata mulai mengalir. "Tidak, saya tidak bisa. Saya bukan... saya tidak menjual diri saya."
"Kau sudah menjual dirimu, Elara," potong Alexander dingin. "Kau menjual sepuluh jam sehari di restoran kotor itu, menerima hinaan, dan kaki sakit hanya untuk seratus dolar sehari. Apa bedanya? Bedanya, denganku, putrimu hidup. Denganku, kau tidak lagi menjadi aib di depan Lily."
"Ini kotor! Ini menjijikkan!" teriak Elara, berdiri. Kebenciannya meluap, membanjiri rasa takutnya. "Anda pria yang keji! Anda mengambil kesempatan dari keputusasaan saya!"
Alexander tetap tenang. Dia adalah batu.
"Aku pria yang menyelamatkan putrimu. Pria keji adalah Hartono. Pria yang membiarkanmu kedinginan adalah Alex si gelandangan. Aku adalah Volkov. Aku adalah kenyataan. Dan kau, Elara, kau tidak punya pilihan."
Dia mengeluarkan selembar kertas tebal yang dilipat dua dari saku dalam jasnya. Ini bukan kontrak hukum, melainkan lembar diagnosis medis Lily yang paling mengerikan.
"Lily punya waktu delapan minggu. Aku bisa membayar besok. Hartono bergerak hari ini. Sementara kau berteriak padaku, setiap detik berlalu, mengurangi kesempatan Lily."
Pernyataan Alexander menghantam Elara seperti palu godam. Dia ambruk kembali ke sofa.
Dia mencoba mencari jalan keluar lain. "Saya akan mencari pekerjaan lain! Saya akan meminjam!"
"Dari siapa? Aku adalah Volkov. Aku punya kendali atas setiap pinjaman besar di kota ini. Setiap bank akan menolakmu. Setiap perusahaan besar akan menolakmu. Bahkan jika kau menemukan seribu dolar hari ini, itu hanya menunda kepastian bahwa Lily akan mati di tanganmu yang tidak berdaya."
Alexander berdiri. Sekarang dia tampak menjulang tinggi, menutupi Elara dengan bayangannya.
"Aku memberimu segalanya. Uang, perlindungan, kehancuran musuh-musuhmu. Sebagai imbalannya, aku hanya meminta waktu dan kepatuhanmu. Aku ingin tahu bagaimana rasanya memiliki sesuatu yang murni sepertimu. Sesuatu yang tidak bisa kubeli dengan uang-sampai sekarang."
Dia berjalan menuju jendela, memberikan waktu bagi Elara untuk memikirkannya. Elara menatap pemandangan kota di bawah, tetapi dia tidak melihat gedung-gedung. Dia melihat wajah Lily yang tersenyum. Dia melihat mata Lily yang memohon.
Dia ingat roti basi yang dia berikan kepada Alex si gelandangan. Pria itu kini berdiri di depannya, mengenakan topeng raja yang kejam. Dia tidak tahu bahwa kebaikan kecil Elara di taman telah memberinya target baru. Alexander tidak hanya membeli Elara. Dia membeli jawaban atas kebosanannya.
Elara memejamkan mata. Rasa pengkhianatan itu pahit, tapi rasa takut kehilangan Lily lebih pahit lagi.
"Satu malam panas dan menjadi kekasih bayaran," ulang Elara, suaranya bergetar. "Sampai kapan?"
Alexander berbalik. "Sampai aku bosan. Itu bisa enam bulan, bisa dua tahun. Tapi selama itu, kau tidak boleh menentangku, Elara. Kau tidak boleh jatuh cinta padaku. Kau tidak boleh meminta lebih. Kau adalah transaksiku. Aku memiliki waktumu, tubuhmu, dan kepatuhanmu."
"Dan Lily?"
"Lily akan memiliki perawatan medis terbaik, perlindungan penuh, dan masa depan yang terjamin. Aku akan menempatkan uang itu di akun perwalian yang hanya bisa kau akses untuknya. Aku akan menjadi bentengmu, tetapi kau harus menjadi pelayanku."
Elara menarik napas panjang, paru-parunya serasa terbakar. Dia menatap kemewahan di ruangan itu, lalu memikirkan kelemahan Lily.
Ini bukan pilihan. Ini adalah pengorbanan.
"Saya terima," kata Elara. Kata-kata itu keluar seperti desahan terakhir. "Saya terima. Tapi jangan pernah, jangan pernah membuat Lily tahu tentang ini."
Senyum kemenangan Alexander akhirnya muncul, dan itu jauh lebih berbahaya daripada tatapan dinginnya.
"Selamat datang, Elara. Keputusan yang cerdas."
Dia menjentikkan jarinya. Viktor, yang ternyata sudah menunggu di luar, masuk.
"Viktor," perintah Alexander. "Siapkan uang 1,5 juta dolar tunai dalam lima belas menit. Hubungi pengacara terbaik untuk masalah hak asuh. Tuntut Hartono hingga habis. Pastikan Elara dan putrinya dipindahkan ke apartemen baruku sore ini. Atur semuanya."
"Baik, Tuan Volkov."
Alexander kembali menatap Elara, matanya berkilauan. "Sekarang, kau adalah milikku. Kau bukan lagi pelayan restoran. Kau tidak perlu bekerja lagi. Kau hanya perlu menungguku. Kita akan memulai 'transaksi' kita malam ini. Aku akan memberitahumu semua aturannya di apartemen barumu."
Elara hanya bisa mengangguk, terlalu lemas untuk berbicara. Dia melihat Viktor menyerahkan tas kerja tebal yang berisi uang tunai kepada Elara, yang dengan enggan diterima Elara. Beratnya uang itu terasa seperti beban yang menghancurkan jiwanya.
Alexander berjalan mendekat dan mengangkat dagu Elara dengan satu jari, memaksa wanita itu untuk menatap matanya.
"Aku tidak membeli kebaikanmu, Elara," bisik Alexander. "Aku membeli keputusasaanmu. Dan aku akan memanfaatkannya dengan baik."
Elara hanya menutup mata, bersiap untuk kegelapan yang akan menelannya. Lily akan hidup. Itu saja yang penting. Harga dirinya, martabatnya, kini hanyalah barang bekas yang ditukarkan dengan nyawa putrinya.
Waktu bergerak seperti air raksa yang kental, melambat hingga setiap detik terasa menyiksa. Setelah Elara meninggalkan Montage Lounge dengan tas penuh uang tunai di tangannya, dunia lamanya seolah runtuh menjadi debu di belakangnya.
Viktor, si tangan kanan Alexander yang dingin, menjemputnya. Dia tidak mengucapkan kata-kata penghiburan. Dia hanya menyerahkan kunci elektronik dan kartu akses ke sebuah apartemen baru di sebuah kompleks mewah.
"Apartemen sementara. Tuan Volkov ingin kau dan putrimu pindah segera," kata Viktor, matanya tanpa ekspresi. "Pengacara akan menemuimu malam ini. Semua detail medis Lily akan diurus. Kau tidak perlu khawatir lagi."
Elara merasa mual. Uang itu terasa berat dan kotor. Dia menatap tumpukan dolar di tasnya-jumlah yang bisa membeli kebahagiaan bagi Lily, tetapi telah merenggut seluruh harga dirinya.
Dia kembali ke apartemen lamanya yang apek, ke kamar kecil yang selama ini menjadi benteng pertahanannya. Dia menatap Lily yang sedang tidur nyenyak.
Lily, malaikat kecilnya, kini aman. Nyawa Lily dibeli. Dibeli dengan apa? Dengan martabat ibunya.
Dia menghabiskan sisa sore itu dalam keheningan yang menyakitkan. Dia mengemasi beberapa barang yang paling penting: boneka usang Lily, beberapa foto, dan obat-obatan. Dia tidak membawa banyak pakaian lamanya. Pakaian itu tidak akan cocok dengan kehidupan barunya, kehidupan yang dijual.
Ketika dia memberi tahu Lily bahwa mereka pindah ke tempat yang lebih baik-tempat yang lebih besar dan cerah-mata Lily bersinar dengan kebahagiaan murni.
"Mama! Apakah akan ada taman yang bagus?" tanya Lily, suaranya lemah karena sakit, tapi penuh harapan.
"Ya, Sayang. Taman yang sangat bagus," kata Elara, memeluk putrinya erat-erat. Pelukan itu adalah satu-satunya hal yang terasa nyata di tengah kekacauan yang menghancurkan jiwanya.
Dia tahu, dia tidak boleh menyesal. Keputusan ini, meskipun kotor, adalah pilihan yang menyelamatkan hidup. Dia telah memilih Lily di atas dirinya sendiri.
Apartemen barunya-atau lebih tepatnya, apartemen Alexander-terasa seperti rumah boneka yang terlalu mahal. Segalanya baru, bersih, dan terlalu sempurna.
Dindingnya berwarna krem lembut, dilengkapi furnitur Italia dan jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota yang sama yang dilihat Alexander dari kantornya. Ada kamar tidur yang cerah untuk Lily, lengkap dengan mainan baru dan selimut tebal.
Elara membaringkan Lily di kasur yang lembut. Lily langsung tertidur lelap, kelelahan karena penyakitnya dan perpindahan yang mendadak.
Setelah memastikan Lily aman, Elara berdiri di tengah ruang tamu, dikelilingi oleh kemewahan yang tidak dia inginkan. Dia merasa seperti penjahat yang bersembunyi di balik kekayaan curian.
Tepat pukul 20:00, bel pintu berbunyi.
Elara tahu siapa itu. Jantungnya berdebar kencang, kali ini bukan karena takut kehilangan Lily, tetapi karena takut pada apa yang akan dia hadapi.
Dia membuka pintu. Alexander Volkov berdiri di sana, mengenakan setelan jas hitam yang membuat kehadirannya terasa mengancam, bahkan tanpa ia mengucapkan sepatah kata pun. Dia membawa sebotol anggur merah yang sangat mahal dan map kulit.
"Selamat datang di neraka berlapis emasmu, Elara," kata Alexander, matanya dingin dan datar.
Dia masuk tanpa diundang, meletakkan anggur dan map di atas meja kaca. Dia langsung berjalan ke kamar Lily. Elara menahan napas, takut Alexander akan menyentuh putrinya.
Alexander hanya berdiri di ambang pintu, menatap Lily yang tidur nyenyak. Ekspresinya tidak terbaca. Tidak ada kelembutan, tetapi juga tidak ada ketidaksukaan. Hanya pengamatan yang dingin.
"Kamar yang bagus untuknya," katanya singkat. "Perawatan terbaik akan tiba besok pagi. Dan pengacara terbaikku akan menyelesaikan Hartono sebelum akhir minggu."
Dia berbalik dan menatap Elara.
"Mari kita selesaikan bisnis kita, Elara. Malam ini adalah awal dari transaksi kita."
Dia berjalan ke sofa kulit dan membuka map kulit itu. Di dalamnya ada dua lembar dokumen tebal. Kontrak.
"Duduk," perintah Alexander.
Elara duduk di seberangnya, merasakan jarak yang tak terhingga antara mereka.
"Kontrak ini sederhana," jelas Alexander, suaranya tenang, seperti sedang membahas harga saham, bukan menjual jiwa seseorang. "Ini bukan kontrak asmara, ini kontrak kepemilikan. Kau akan menandatanganinya untuk menjamin pembayaran 1,5 juta dolar yang sudah kau terima, dan untuk menjamin perlindungan hukum dan medis Lily seumur hidupnya."
Alexander mulai membacakan pasal-pasalnya, dan setiap kata terasa seperti cambukan di punggung Elara.
Pasal 1: Kepatuhan. Kau adalah kekasih bayaranku. Kau akan menemaniku ke mana pun aku pergi, kapan pun aku memintanya. Pakaianmu, penampilanmu, bahkan jam tidurmu, adalah urusanku. Kepatuhan total, tanpa pertanyaan.
Pasal 2: Anonimitas. Identitasmu yang sebenarnya, terutama latar belakangmu sebagai pelayan dan penyamaranku sebagai Alex si gelandangan, harus tetap rahasia. Kau tidak akan pernah membeberkannya, bahkan kepada Lily.
Pasal 3: Sentimen. Ini adalah transaksi. Aku bukan kekasihmu. Kau tidak boleh jatuh cinta padaku. Aku tidak akan jatuh cinta padamu. Jangan pernah menuntut kasih sayang, kemesraan, atau emosi apa pun.
Pasal 4: Malam Panas. Kau telah setuju untuk menyerahkan dirimu sepenuhnya kepadaku, dan kau harus menerima itu sebagai bagian dari harga yang kau bayar. Mulai malam ini.
Elara mendengarkan dengan kepala tertunduk. Air mata membasahi pipinya, tetapi dia tidak mengeluarkan suara. Dia tahu dia tidak bisa menawar.
"Aku sudah memberimu uang, Elara," kata Alexander, nadanya sedikit lebih rendah, seolah-olah dia sedang mencoba memahami emosi wanita itu. "Ini adalah malam pertamamu. Aku tidak akan memaksamu melakukan sesuatu yang ekstrem, tapi kau harus memahami posisi dan komitmenmu. Aku membeli malam ini, dan malam-malam selanjutnya."
Dia mendorong pena emas di atas kontrak ke hadapan Elara.
Elara mengambil pena itu, tangannya gemetar. Dia tidak membaca detail hukum di balik kata-kata itu. Dia hanya melihat satu kata: Lily.
Dia menandatangani, dengan tulisan tangan yang goyah, di mana namanya sendiri terasa asing.
Alexander mengambil pena itu kembali, menatap tanda tangan Elara, dan mengangguk puas. Sebuah kemenangan yang dingin.
"Sekarang, mari kita minum. Malam ini kau akan tidur di kamar ini, dan aku akan tidur di kamar utama. Kau harus membiasakan diri untuk memenuhi setiap keinginanku. Malam pertama kita akan dimulai setelah kau merasa lebih nyaman," kata Alexander. Dia menunjukkan sisi kemanusiaan yang aneh, seolah-olah dia sedang memberi waktu kepada hewan buruannya sebelum ia menerkam.
Elara, terkejut dengan 'kebaikan' kecil itu, hanya bisa menatapnya. "Anda... tidak akan memaksaku?"
"Aku tidak memaksakan sesuatu, Elara," balas Alexander dingin. "Aku membeli persetujuanmu. Dan kau sudah setuju. Malam ini kau hanya perlu membiasakan diri berada di bawah pengawasanku. Bersihkan dirimu. Kita akan minum anggur dan membahas masa depanmu."
Elara berjalan ke kamar mandi, merasa seperti robot. Dia menanggalkan pakaian kerjanya yang usang, pakaian yang dipenuhi noda kopi dan bau minyak goreng. Pakaian itu terasa seperti penyamaran, topeng yang sudah dia kenakan terlalu lama.
Dia melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang besar. Tubuhnya kurus, dipenuhi memar kecil dari shift kerja yang brutal. Wajahnya pucat, matanya merah. Ini adalah Elara yang sebenarnya-bukan kekasih bayaran yang glamor, tapi seorang ibu yang putus asa.
Dia mandi dengan air panas, yang terasa begitu asing. Air panas tak terbatas. Sesuatu yang mewah yang bahkan tidak pernah dia impikan sebelumnya. Setelah mandi, dia melilitkan handuk tebal di tubuhnya dan kembali ke ruang tamu.
Alexander tidak ada di sana. Dia sedang berbicara di telepon di balkon, suaranya pelan dan berwibawa.
Elara berjalan ke kamar Lily. Lily tidur dengan nyenyak, tampak lebih tenang daripada yang pernah dia lihat dalam waktu lama.
Lily aman. Lily hidup. Elara mengulanginya, menjadikan frasa itu sebagai mantra, sebagai perisainya.
Ketika dia kembali ke ruang tamu, Alexander sudah selesai menelepon. Dia melihat Elara-rambutnya basah, hanya mengenakan handuk.
Tatapan Alexander berubah. Bukan lagi dingin seperti es, tetapi panas dan penuh penilaian. Tatapan itu menelanjanginya, menganalisis setiap lekuk tubuhnya, bukan dengan nafsu murahan, tetapi dengan rasa kepemilikan yang kuat.
"Kau terlihat jauh lebih baik," katanya, suaranya sedikit serak.
Dia menuangkan anggur merah ke dua gelas kristal.
"Duduk," katanya lagi, kali ini nadanya lebih lembut, lebih persuasif. "Kita akan minum dan kau akan bercerita tentang dirimu. Bukan sebagai pelayan restoran, tapi sebagai dirimu sendiri, Elara Senja."
Elara duduk, menerima gelas anggur itu, dan meminumnya hingga separuh. Cairan pahit dan manis itu membakar tenggorokannya, memberikan keberanian yang dia butuhkan.
"Apa yang ingin Anda ketahui?" tantang Elara, matanya yang merah menatap Alexander.
Alexander menyesap anggurnya, menatap Elara. "Aku ingin tahu mengapa kau memberiku roti basi itu di taman. Kau tahu kau lapar. Kau tahu kau butuh setiap remah. Kenapa?"
Pertanyaan itu menghantam Elara. Itu adalah pertanyaan yang sangat pribadi, pertanyaan yang mengungkapkan bahwa pria di hadapannya ini adalah Alex si gelandangan.
"Putriku," bisik Elara. "Dia selalu ingin berbagi. Dia punya hati yang baik. Aku melakukannya untuknya. Agar dia bangga pada ibunya."
Alexander menghela napas. Itu adalah hal yang paling jujur dan paling polos yang pernah dia dengar dalam bertahun-tahun.
"Kebaikan yang mahal," gumam Alexander. "Kebaikanmu hampir membuat putrimu mati kelaparan, dan membuatmu menjadi milikku."
Elara tersentak. "Itu adalah pilihan yang saya buat! Bukan salah kebaikan saya, tapi salah kekejaman orang-orang di dunia ini!"
"Dan di sinilah aku masuk, Elara," kata Alexander, senyum tipis di wajahnya. "Aku adalah orang yang kejam itu. Aku akan menggunakan kekejamanku untuk melindungimu. Selama kau berada di bawah perlindunganku, kau akan aman. Tidak ada Hartono, tidak ada tagihan, tidak ada kedinginan."
Dia menghabiskan anggurnya dan berdiri. Handuk di tubuh Elara terasa semakin longgar, semakin tidak aman.
"Sekarang, Elara. Malam sudah larut."
Elara merasa takut. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ini dia. Momen yang dia jual.
Alexander berjalan mendekat, dan Elara menutup matanya, bersiap untuk serangan yang kejam dan transaksional.
Namun, Alexander hanya berhenti di depannya. Dia mengangkat tangannya, dan perlahan, dengan gerakan yang lembut, dia menyentuh rambut basah Elara.
"Tidak malam ini, Elara," bisik Alexander. Suaranya rendah, nyaris seperti belaian. "Aku memberimu satu hari lagi. Tidurlah di kamar ini. Aku ingin kau tahu, aku bisa saja memaksamu, tapi aku memilih untuk tidak melakukannya. Aku ingin kau datang kepadaku, bukan karena aku memerintah, tetapi karena kau memilih untuk mematuhi."
Dia melepaskan sentuhannya. Dia meninggalkan gelas anggurnya, dan berjalan menuju kamar utama, meninggalkan Elara dalam kebingungan dan ketakutan.
"Malam pertama kita akan terjadi besok," kata Alexander, suaranya kembali dingin, sebelum menutup pintu kamar utama dengan bunyi 'klik' yang pelan.
Elara ditinggalkan sendirian. Dia harus tidur di tempat tidur yang dingin dan empuk, di bawah atap emas, sementara martabatnya sudah direnggut. Malam panas itu tertunda, tetapi bayangan Alexander yang dingin dan menuntut terasa jauh lebih menakutkan daripada paksaan fisik. Dia harus tidur sendirian malam ini, tetapi mulai besok, dia akan tidur bersama iblis yang telah membeli nyawa putrinya.