Bab 1

Pagi di lantai seratus. Udara terasa tipis, seolah-olah semua bunyi dari kota di bawah sana telah disaring hingga yang tersisa hanyalah dengung AC sentral yang mahal dan keheningan yang dingin.

Alexander Volkov berdiri di depan jendela yang terbentang dari lantai ke langit-langit, menyeruput kopi hitamnya-kopi terbaik yang bisa dibeli dengan uang, tapi rasanya tetap saja, cuma kopi. Di bawah sana, kota Manhattan tampak seperti peta mainan, seolah-olah dia bisa menjulurkan tangan dan menghancurkan beberapa blok tanpa ada konsekuensi apa pun. Dan secara metaforis, memang begitu.

Dia punya segalanya. Benar-benar segalanya. Bukan hanya uang; uang itu cuma alat. Dia punya kontrol. Dia punya pengaruh. Satu kata dari mulutnya bisa membuat harga minyak melonjak, atau menghancurkan reputasi konglomerat yang sudah dibangun selama tiga generasi.

Tapi hari ini, seperti ribuan hari sebelumnya, Alexander hanya merasa... bosan.

Bukan bosan yang santai, melainkan bosan yang menghancurkan jiwa. Seperti melihat lukisan yang sama setiap hari, meskipun lukisan itu adalah karya master tak ternilai harganya. Setelah kau memiliki setiap karya seni di dunia, setiap pulau pribadi, setiap model mobil eksklusif, apa yang tersisa?

Alexander meletakkan cangkir itu di meja marmer, suaranya pelan dan nyaris tak terdengar di ruangan seluas lapangan basket ini.

"Siapa yang akan datang hari ini?" tanyanya, suaranya serak-mungkin karena dia jarang sekali berbicara dengan manusia secara langsung.

Viktor, tangan kanannya yang tegar dan pendiam, muncul dari bayangan seperti hantu profesional. "Tuan Volkov, jadwal pagi ini padat. Pertemuan dengan Senator Graham. Kemudian, panggilan video dengan Dewan Eropa mengenai konsolidasi energi di Timur. Setelah makan siang, rapat dewan darurat untuk menyelesaikan akuisisi Synergo Corp yang tertunda."

Alexander menghela napas. Semua itu terdengar seperti daftar belanjaan yang membosankan. Akuisisi. Konsolidasi. Senator. Mereka semua hanya boneka yang menunggu dirinya menggerakkan tali.

"Batalkan Synergo," perintah Alexander.

Viktor tidak berkedip. "Batalkan, Tuan? Ini adalah penawaran terbesar kuartal ini. Harga saham mereka akan ambruk."

"Biar saja ambruk," kata Alexander, memutar cincin platinum di jarinya. "Aku tidak tertarik lagi. Aku sudah tahu bagaimana akhirnya. Aku sudah tahu rasa kemenangannya."

Viktor membuat catatan di tabletnya. "Baik. Apakah ada instruksi lain, Tuan?"

Alexander kembali menatap kota di bawah. Rasa puas tidak pernah bertahan lebih dari dua puluh empat jam. Kenikmatan terakhirnya adalah ketika dia memenangkan lelang lukisan Rembrandt yang hilang. Puas selama satu hari, kemudian lukisan itu hanya menjadi debu berharga di gudang bawah tanahnya.

Apa yang bisa dia beli yang belum dia miliki? Apa yang bisa dia taklukkan yang belum takluk?

Kebebasan.

Kebebasan yang nyata. Anominimitas.

"Viktor," ucapnya, setelah keheningan panjang. "Aku akan menghilang untuk sementara waktu."

Viktor hanya menunggu, mengetahui bahwa perintah gila apa pun yang akan keluar pasti harus dilaksanakan.

"Aku ingin menjadi... tidak ada siapa-siapa," lanjut Alexander, senyum tipis-pertama kalinya hari itu-melintas di wajahnya. "Aku ingin tidur di pinggir jalan. Aku ingin orang-orang tidak tahu siapa aku. Aku ingin merasakan sesuatu yang nyata, Viktor. Rasa lapar, rasa dingin, rasa takut. Sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan satu triliun dolar."

Viktor menyusun rencana dalam kepalanya. Pengamanan tersembunyi, jalur pelarian. "Saya bisa menyiapkannya, Tuan. Sebuah vila tersembunyi di Skotlandia, tanpa koneksi internet. Itu akan memberi Tuan privasi total."

"Bukan itu yang kumau, bodoh," desis Alexander, sedikit geli. "Aku tidak ingin bersembunyi dari dunia. Aku ingin bersembunyi di dunia. Aku ingin menjadi gelandangan. Dan jangan ada pengawal. Jika aku ketahuan, seluruh permainan ini selesai."

Dan begitulah, dengan satu perintah yang tidak masuk akal, Alexander Volkov, pria yang memegang tali kekang dunia, memutuskan untuk menukar emasnya dengan debu.

Tiga hari kemudian, Alexander duduk di bangku taman yang kotor, jaket tebal yang dibelinya di toko loak terasa kasar dan menusuk kulitnya. Janggut tipis yang dia biarkan tumbuh terasa gatal. Dia sudah meninggalkan dompet, kartu, dan segala bentuk identitas. Dia bahkan menanggalkan jam tangan mahal yang selalu menjadi ekstensi lengannya.

Dia sekarang hanyalah Alex-seorang pria tanpa latar belakang, tanpa tujuan, dan, yang paling penting, tanpa kekuasaan.

Hari pertama terasa mengerikan. Bau selokan, udara lembap, tatapan sinis dari pejalan kaki yang melewatinya. Dia, Alexander Volkov, diabaikan. Itu adalah sensasi aneh yang hampir memabukkan. Orang-orang tidak tahu mereka baru saja melewati orang yang bisa membeli seluruh jalur taman itu hanya untuk membangun patung dirinya sendiri.

Dia lapar. Bukan rasa lapar yang bisa disembuhkan dengan panggilan ke koki pribadi. Ini adalah rasa lapar yang menggerogoti, membuat perutnya berdenyut. Dia telah bersumpah untuk tidak menggunakan uangnya-dia hanya akan hidup dari apa yang dia temukan atau dapatkan.

Pagi ini, dia berhasil mendapatkan sepotong roti tawar keras dari tempat sampah di belakang toko roti. Rasa roti itu, meskipun basi, jauh lebih nyata, lebih berkesan, daripada semua makanan gourmet yang dia santap di restoran bintang lima. Ini adalah hadiah dari perjuangan, bukan hak yang sudah pasti.

Alexander memperhatikan seorang wanita yang datang setiap pagi. Taman ini adalah jalur yang ramai, tetapi dia selalu tampak berbeda. Dia tidak terburu-buru seperti orang kantoran, tetapi dia juga tidak santai seperti orang yang liburan. Dia bergerak dengan kelelahan yang konstan, seperti seseorang yang membawa beban yang tak terlihat.

Wanita itu bernama Elara.

Elara Senja menarik napas dalam-dalam, aroma roti panggang dan kopi pahit dari restoran tempat dia bekerja menempel di pakaiannya. Pagi itu dingin sekali, dan kelelahan seolah-olah sudah merayap masuk ke tulangnya, bukan lagi sekadar otot yang pegal.

Dia baru saja menyelesaikan shift paginya yang brutal: membersihkan tumpahan, melayani sekelompok turis yang rewel, dan harus menahan diri agar tidak menangis saat melihat tagihan medis di ponselnya.

Putrinya, Lily. Hanya nama itu yang membuatnya terus berjalan. Lily adalah satu-satunya cahaya, satu-satunya alasan dia tidak menyerah pada kegelapan yang mengelilinginya. Gadis kecilnya berjuang melawan penyakit kronis. Setiap batuk, setiap demam ringan, adalah teror yang nyata bagi Elara.

Keluarganya sudah lama menganggapnya aib. Di mata mereka, putrinya adalah sebuah kesalahan, beban, dan Elara harus membayar mahal untuk 'dosa' yang tidak pernah dia sesali seumur hidupnya. Sejak diusir, dia hanya punya dirinya sendiri dan keyakinan bahwa dia harus menjadi benteng terakhir Lily.

Dia berjalan melalui taman, membiarkan dinginnya udara sedikit membersihkan paru-parunya dari bau minyak goreng. Ini adalah ritualnya: sepuluh menit ketenangan sebelum dia kembali ke apartemen kecil, membereskan Lily, dan bersiap untuk shift malam.

Di tangannya, Elara memegang sebungkus kecil. Isinya sepotong roti yang dia ambil dari sisa sarapan pelanggan dan sepotong keju yang dia 'curi' dari kulkas dapur-bukan mencuri dalam arti sebenarnya, tetapi mengambil apa yang akan dibuang.

Dia tadinya berencana memakannya dalam perjalanan pulang, tapi pandangannya jatuh pada pria baru di bangku tua di bawah pohon maple.

Pria itu sudah ada di sana selama tiga hari. Dia terlihat muda, tapi wajahnya kotor dan letih. Yang aneh, dia tidak terlihat seperti gelandangan biasa. Gelandangan di sini sering berteriak atau mabuk. Pria ini hanya diam, matanya mengikuti pergerakan burung gereja dengan intensitas aneh, seperti dia sedang mempelajari rumus fisika yang rumit. Dia terlihat lebih tersesat daripada miskin.

Elara tahu betul rasanya tersesat.

Dia memperlambat langkahnya, keraguan merangkak di hatinya. Itu adalah makan siangnya. Namun, dia ingat wajah Lily, kurus dan pucat, yang selalu menerima kebaikan sekecil apa pun dengan mata berbinar. Lily pasti ingin dia berbagi.

"Hei," panggil Elara pelan, berdiri beberapa langkah darinya.

Alexander, atau 'Alex' si gelandangan, mendongak.

Mata Alexander menangkapnya. Itu adalah tatapan yang tidak dia harapkan. Bukan jijik, bukan belas kasihan, atau bahkan penghinaan. Itu adalah tatapan lelah yang memahami, namun masih memiliki percikan api perjuangan yang luar biasa.

Alexander menatap tangannya yang memegang roti basi. Dia terkejut. Tiga hari penuh, dia hanya menerima tatapan jijik atau ketakutan. Kali ini, dia mendapat sapaan dan, tampaknya, hadiah.

Elara merasa canggung, tapi dia maju satu langkah.

"Aku tahu ini tidak banyak," katanya, suaranya pelan tapi tegas. "Sisa keju dan sedikit roti. Tapi kurasa kau terlihat lebih membutuhkannya daripada aku."

Dia mengulurkan bungkusan itu. Tangannya kapalan karena mencuci piring, tapi gerakannya lembut dan tanpa pamrih.

Alexander melihat keju yang menguning dan roti yang sudah agak keras. Di balik penyamarannya, dia tersenyum. Sesuatu di dalam dirinya berdesir, sesuatu yang terasa asing, namun menyenangkan. Sebuah kejutan. Kekuatan miliaran dolar di dompetnya tidak pernah memberinya kejutan sekecil ini.

Dia mengulurkan tangannya yang kasar, mengambil bungkusan itu. Sentuhan kulit mereka sebentar, hanya sekejap mata, tapi Elara merasakan perbedaan suhu-kulitnya sendiri dingin, sedangkan tangan pria itu terasa lebih hangat.

"Terima kasih," bisik Alexander. Itu adalah kata yang tidak pernah dia ucapkan dengan ketulusan selama bertahun-tahun. Biasanya, "terima kasih" adalah formalitas, formalitas yang mengharuskan pihak lain membalasnya dengan ucapan "sama-sama" yang terdengar seperti "kau harus berterima kasih karena aku mengizinkanmu melakukan ini."

Elara menggeleng, senyum tipis, cepat, dan menghilang, seperti pantulan cahaya di air.

"Jangan mati kelaparan, ya," katanya, setengah bercanda, setengah serius.

Alexander mengangguk. Dia membuka bungkusan itu dan menggigit roti. Keju itu terasa asin, teksturnya aneh, tapi dia memakannya. Itu adalah makanan terbaik yang pernah dia rasakan dalam hidupnya. Kenapa? Karena itu adalah makanan yang diberikan, bukan makanan yang dibeli.

Elara berbalik, melanjutkan perjalanannya. Setiap langkahnya menunjukkan bahwa dia tidak punya waktu untuk berlama-lama.

Namun, Alexander memanggilnya, sesuatu yang tidak terduga keluar dari mulutnya. "Tunggu."

Elara berbalik lagi, alisnya terangkat karena terkejut.

"Siapa namamu?" tanyanya.

"Elara," jawabnya. "Kau?"

"Alex."

Hanya itu. Pertukaran nama yang singkat. Elara mengangguk kecil. "Sampai jumpa, Alex."

"Sampai jumpa," balas Alexander.

Alexander memandang kepergian Elara, sampai wanita itu menghilang di balik kerumunan di halte bus.

Dia menghabiskan keju dan roti itu sampai remah-remah terakhir. Alexander Volkov, penguasa dunia, baru saja diselamatkan dari kelaparan oleh seorang pelayan restoran yang pasti sama laparnya dengan dirinya. Ironi ini begitu tajam, begitu pedih, sehingga itu hampir membuatnya tertawa.

Ini, akhirnya, adalah sesuatu yang nyata.

Kenyataan Elara adalah kotak kecil yang lembap. Kamar apartemennya, yang terletak di lantai empat tanpa lift, selalu berbau obat-obatan, lilin aroma murahan, dan kekhawatiran yang tebal.

Dia membuka kunci pintu dan disambut oleh suara batuk yang pelan dari balik selimut.

"Mama sudah pulang?" suara kecil Lily terdengar, serak.

"Sudah, Sayang. Mama membawakanmu kejutan," Elara bergegas masuk.

Lily, berusia tujuh tahun, adalah keindahan yang rapuh. Wajahnya kurus, tapi matanya besar, bersinar dengan kecerdasan yang tidak sesuai dengan usianya. Dia duduk di tempat tidur, boneka usang di pangkuannya.

"Kejutan apa?"

"Lihat ini," Elara mengeluarkan mainan kecil, sebuah mobil-mobilan dari toko barang bekas. "Untuk pahlawan Mama."

Mata Lily langsung berbinar. Momen kecil kebahagiaan itu, seolah-olah dia telah memenangkan lotre, adalah hadiah Elara yang sebenarnya.

Elara merawat Lily, memberinya obat-obatan, dan mencoba memaksanya untuk menghabiskan sedikit sup yang dia siapkan kemarin. Saat Lily tertidur, Elara duduk di meja dapur yang reyot. Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat tagihan dari rumah sakit lagi.

Kali ini, jumlahnya tidak masuk akal. Ini bukan hanya masalah biaya harian, ini masalah operasi. Jika Lily tidak mendapatkan operasi secepatnya, kondisi kronisnya akan memburuk, dan... Elara tidak bisa memikirkan kata-kata itu.

Dia juga menemukan surat resmi di kotak pos. Surat dari pengacara keluarga ayahnya. Mereka akan menuntut hak asuh penuh. Alasan mereka klasik, kejam, dan menghina: Elara tidak mampu memberikan perawatan medis yang stabil dan lingkungan yang memadai. Mereka akan menggunakan kemiskinan Elara sebagai senjata untuk mengambil Lily darinya.

Dunia Elara seolah runtuh. Dia tidak punya apa-apa lagi untuk dijual. Tidak ada jam kerja ekstra yang bisa dia ambil. Dia sendirian melawan dinosaurus finansial.

"Tidak," bisik Elara, mencengkeram surat itu hingga kertasnya berkerut. "Aku tidak akan kehilangan dia."

Elara merasa seperti air mata akan membanjiri matanya, tapi dia tidak membiarkannya. Air mata adalah kemewahan yang tidak bisa dia bayar.

Dia harus mencari jalan keluar. Uang tunai dalam jumlah besar, dan cepat. Tapi dari mana? Restoran? Lelucon macam apa ini?

Di bangku taman yang sama, malam itu, Alexander tidak bisa tidur. Udara lebih dingin dari yang dia perkirakan. Rasa sakit menjalar dari punggungnya yang menyentuh kayu keras. Tapi rasa sakit itu, anehnya, adalah kejutan yang menyenangkan. Ini adalah konsekuensi langsung dari keputusannya, bukan hasil dari rapat dewan yang menjemukan.

Namun, pikirannya tidak lagi dipenuhi oleh rasa dingin atau lapar. Pikirannya dipenuhi oleh Elara.

Kenapa wanita itu memberinya makanan? Dia terlihat sangat kelelahan, sangat miskin. Setiap inci dari dirinya berteriak tentang perjuangan, namun dia rela berbagi. Kebajikan itu begitu murni, tidak terkotori oleh motif tersembunyi.

Dia teringat tatapan mata Elara-ada kesedihan yang dalam di sana, tapi juga ketangguhan baja.

Alexander, yang bisa membeli seluruh jalur Manhattan, merasa seperti dia telah menerima pelajaran paling berharga dalam hidupnya dari seorang pelayan restoran yang lelah.

Dia memutuskan bahwa dia tidak bisa hanya bermain-main di taman ini. Dia harus mencari tahu siapa Elara. Apa bebannya. Kenapa dia tampak begitu hancur, namun begitu kuat?

Viktor telah menyiapkan jalur darurat. Hanya satu nomor sekali pakai yang harus dia hubungi jika ada krisis atau jika dia ingin kembali. Awalnya, dia mengira dia akan menggunakannya karena bosan, atau kedinginan.

Malam itu, Alexander mengeluarkan ponsel sekali pakai yang disembunyikan di lipatan jaketnya.

Dia tidak menelepon untuk meminta makanan atau tempat tidur. Dia menelepon Viktor untuk meminta data.

"Viktor," ucapnya, suaranya kembali ke nada komando yang dingin. "Aku punya proyek baru. Seorang wanita bernama Elara Senja. Aku ingin semua yang bisa kau temukan. Alamat, pekerjaan, riwayat kesehatan keluarganya, detail pertempuran hak asuh apa pun. Aku ingin laporan lengkap di meja kerjaku pada pukul 08:00 besok pagi. Dan ingat, aku tidak ingin ada yang tahu bahwa aku yang meminta ini."

Di ujung telepon, Viktor tidak bertanya mengapa seorang gelandangan di taman tahu nama seorang pelayan restoran. Dia hanya berkata, "Sudah dicatat, Tuan Volkov."

Alexander memutuskan bahwa penyamarannya sudah cukup. Dia sudah mendapatkan kebebasan yang dia cari. Sekarang, sudah waktunya untuk memulai permainan baru. Dan dalam permainan baru ini, dia tidak akan bermain sebagai Alex si gelandangan. Dia akan bermain sebagai Alexander Volkov, sang Raja.

Elara Senja memberinya keju basi dan roti keras, menyelamatkannya dari rasa lapar.

Alexander Volkov akan memberinya kekayaan tak terbatas, menyelamatkannya dari jurang kemiskinan dan kehilangan, tetapi dengan harga yang jauh lebih mahal.

Keesokan harinya, saat fajar menyingsing, Alexander Volkov yang baru saja mandi, berbau maskulin dengan cologne mahal, dan mengenakan setelan jas tiga potong yang dipesan khusus, duduk di kantornya.

Di meja marmer itu, terdapat tumpukan berkas yang ditandai sebagai 'SENJA, ELARA'.

Viktor menyajikan kopi, kali ini Alexander meminumnya seperti orang haus.

"Ringkasan, Viktor," perintah Alexander, menatap foto Elara di berkas itu. Foto itu diambil saat dia melayani di restoran, senyum palsu yang dipaksakan untuk pelanggan.

"Elara Senja, 27 tahun. Pekerjaan: pelayan di 'The Downtown Diner'. Tinggal di apartemen sewaan kecil. Riwayat keluarga: diusir dua tahun lalu setelah melahirkan putrinya, Lily. Tidak ada sumber dukungan finansial lain."

"Putrinya?"

"Lily Senja, 7 tahun. Menderita penyakit jantung bawaan yang parah, membutuhkan operasi dalam waktu dua bulan. Biaya operasi melebihi satu juta dolar. Mereka tidak memiliki asuransi yang memadai."

Alexander mengatupkan rahangnya. Satu juta dolar. Itu adalah uang receh bagi dirinya. Harga dari sepatu kulit yang dia kenakan saat ini.

"Hak asuh?"

"Ayah Lily, Daniel Hartono, berasal dari keluarga Hartono yang kaya raya. Keluarga Hartono menolak Elara sebagai pasangan Daniel, tetapi mereka ingin mengambil alih Lily untuk menyelamatkan 'nama baik' keluarga dan memberikan perawatan medis yang memadai. Proses pengadilan sudah dimulai. Elara tidak memiliki representasi hukum yang kuat," jelas Viktor.

Alexander menutup berkas itu dengan pelan. Suara kertas tebal yang bergesekan terasa memekakkan telinga.

Dia mengingat kebaikan hati Elara. Dia mengingat roti basi itu. Dia mengingat mata yang lelah namun penuh api perjuangan.

Dia menemukan tantangan yang sesungguhnya. Bukan akuisisi perusahaan, tapi menyelamatkan seorang wanita dari kehancuran total. Dia akan menggunakan kekuasaannya untuk sesuatu yang belum pernah dia lakukan: menukar kebaikan dengan penyelamatan.

"Viktor, cari Hartono itu. Hentikan semua tuntutan hukum mereka, beli semua aset yang mereka miliki jika perlu, lumpuhkan mereka secara finansial. Aku ingin mereka menghilang dari kehidupan Elara," perintah Alexander.

"Sudah dicatat. Dan Nona Senja?"

Alexander tersenyum. Senyum itu tidak menjanjikan kebaikan, melainkan kepemilikan. Senyum sang Raja yang baru saja menemukan harta karun tersembunyi.

"Bawakan dia ke hadapanku. Atur pertemuan. Dalam skenario ini, aku adalah Malaikat Penyelamatnya. Tapi dia harus tahu, tidak ada yang gratis di dunia Alexander Volkov. Tidak bahkan kebaikan. Aku akan memberinya semua yang dia butuhkan untuk menyelamatkan putrinya."

Alexander berdiri dan berjalan kembali ke jendela, menatap kota dengan mata yang tajam dan haus. Rasa bosan itu sudah lama hilang. Kini yang ada hanya kegembiraan.

"Dan syaratnya?" tanya Viktor, sudah siap dengan pena dan kertas.

"Syaratnya sederhana, Viktor. Dia akan menjadi milikku. Kekasih bayaranku. Aku ingin dia di sampingku, di mana pun aku berada, selama aku menginginkannya. Untuk satu malam panas, dan setelah itu, kepatuhan total sampai aku selesai dengan permainanku. Aku akan membeli waktu dan dirinya. Bayarannya adalah nyawa putrininya. Aku ingin melihat apakah perjuangan dalam mata itu bisa dipertahankan di bawah lapisan sutra dan emas."

Viktor mengangguk. Dia tahu betul, Alexander Volkov tidak pernah main-main.

Bab 2

Dinginnya surat tuntutan hak asuh itu menjalar dari kertas tipisnya hingga menusuk tepat ke tulang Elara.

Dia duduk di meja dapur yang reyot, membiarkan Lily tidur di kamar sebelah. Cahaya pagi yang masuk dari jendela kecil tidak mampu menghangatkan ruangan, apalagi hatinya. Surat itu adalah pukulan telak yang membuat lututnya lemas. Mereka-Keluarga Hartono yang kaya raya dan kejam-tidak hanya ingin mengambil Lily; mereka ingin merobek alasan satu-satunya Elara untuk bernapas.

"Tidak mampu memberikan perawatan medis yang stabil dan lingkungan yang memadai."

Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, seperti mantra jahat yang membenarkan kekejaman mereka. Dan yang paling menyakitkan, mereka benar. Elara tidak mampu. Tagihan rumah sakit untuk Lily, yang dia buka di ponselnya, sudah menjadi angka astronomi yang mustahil dijangkau oleh upah pelayan restoran. Angka itu menertawakan perjuangannya. Operasi itu harus dilakukan. Jika tidak, waktu Lily akan habis.

"Aku harus berbuat sesuatu," bisik Elara, suaranya parau.

Dia mencoba berpikir. Menjual apa lagi? Perabotan? Hanya ada kasur usang dan beberapa perabot bekas. Ginjal? Bahkan dia tidak yakin siapa yang mau membeli ginjal pelayan restoran yang kurang gizi.

Dia memaksakan diri untuk mandi, membersihkan sisa aroma minyak goreng yang menempel di rambutnya. Dia harus bersiap untuk kerja shift malam. Mungkin dia bisa meminta jam kerja tambahan lagi. Mungkin dia bisa meminta pinjaman dari rekan kerja, meskipun dia tahu jawabannya pasti tidak.

Saat dia menyisir rambutnya yang basah, ponsel reotnya berdering. Nomor tak dikenal. Biasanya dia abaikan, tapi hari ini, dia merasa perlu menjawab. Siapa tahu itu telepon dari rumah sakit atau dari pengacara murahan yang dia temukan di internet.

"Halo?" Suaranya serak.

Suara di seberang sana sangat dingin, datar, dan berwibawa-suara yang terdengar seperti seseorang yang jarang harus mengulang perkataannya.

"Saya mencari Nona Elara Senja. Saya asisten Tuan Volkov."

Jantung Elara mencelos. Tuan Volkov? Siapa? Apakah dia berurusan dengan kolektor utang baru?

"Saya Elara. Tuan Volkov... siapa? Saya tidak kenal."

"Dia mengenalmu," kata suara itu, tanpa emosi. "Dia tahu semua tentang putrimu, Lily. Dia tahu tentang tuntutan hak asuh dari Keluarga Hartono. Dia tahu persis berapa yang kau butuhkan untuk operasi."

Dunia Elara berhenti berputar. Udara terasa keluar dari paru-parunya. Bagaimana? Bagaimana orang asing yang bahkan tidak dia kenal bisa mengetahui detail paling intim dan menakutkan dari kehidupannya? Apakah ini jebakan?

"Kau... kau siapa? Kau mau apa?" desak Elara, mencoba terdengar kuat, meskipun lututnya sudah gemetar.

"Dia ingin menemuimu. Sekarang. Sepuluh menit. Di Montage Lounge di Fifth Avenue. Lantai teratas. Jangan sampai terlambat. Jika kau ingin menyelamatkan putrimu, kau harus datang. Dan Nona Senja, jangan pernah berpikir untuk menolak panggilan ini. Pria yang menunggumu adalah satu-satunya kesempatanmu."

Panggilan itu terputus. Elara menatap ponselnya, tangannya gemetar hebat. Montage Lounge? Itu adalah tempat yang hanya muncul di film atau majalah mewah. Tempat di mana satu koktail harganya setara dengan upah kerjanya selama dua hari.

Alexander Volkov. Nama itu berputar di kepalanya. Dia merasa mual. Itu terasa seperti sihir hitam, seperti jebakan dari iblis yang menawarkan bantuan dengan janji kepemilikan abadi.

Tapi suara dingin di telepon itu benar: dia adalah satu-satunya kesempatanmu.

Malam itu, dia membagikan rotinya kepada Alex si gelandangan. Sekarang, iblis yang berkuasa di kota ini memanggilnya karena kebaikan itu, atau mungkin, karena kelemahannya.

Demi Lily. Dia akan datang.

Elara tiba di Fifth Avenue dengan bus, mengenakan pakaian kerjanya yang masih sedikit berbau kopi. Ia merasa seperti debu kotor yang terseret ke dalam museum yang berkilauan. Pintu lobi yang terbuat dari kaca setinggi langit-langit terasa begitu mengintimidasi hingga ia harus menarik napas tiga kali hanya untuk mendorongnya.

Lobi itu sunyi, dihiasi marmer putih dan seni kontemporer yang harganya mungkin bisa membeli seluruh tempat dia bekerja.

"Saya mencari Tuan Volkov," katanya kepada resepsionis yang dingin dan sempurna, seorang wanita yang mengenakan setelan jas yang harganya mungkin bisa membeli apartemennya.

Resepsionis itu hanya melirik sekilas, dan Elara merasa seluruh kotoran di pakaiannya tampak terlihat jelas. "Ikuti saya."

Dia diantar ke lift pribadi yang sunyi, di mana musik klasik diputar pelan. Lift itu bergerak begitu cepat hingga perutnya terasa berputar.

Lantai teratas. Sebuah ruangan yang didominasi oleh kaca, mirip dengan tempat Alexander berdiri di Bab 1, tetapi ini tampak lebih personal. Tidak ada meja konferensi, hanya sofa kulit mewah dan pemandangan kota yang menakjubkan.

Ruangan itu kosong, tapi ada secangkir teh panas yang diletakkan di meja, seolah-olah dia sudah ditunggu sejak lama.

Elara duduk di sofa, merasa seperti penipu. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya dengan keras. Apa yang harus dia katakan? Menjual dirinya? Menjual putrinya?

Tepat pukul 10:00, pintu kayu gelap di belakangnya terbuka.

Alexander Volkov melangkah masuk.

Elara menahan napas.

Ini bukan Alex.

Alex yang dia kenal adalah pria kotor, kelelahan, dan tersembunyi. Pria yang masuk sekarang adalah penguasa mutlak.

Jasnya berwarna abu-abu gelap, dipotong sempurna, membuat bahunya terlihat lebar dan pinggangnya ramping. Rambutnya disisir rapi, dan aroma cologne mahal menguasai ruangan, menenggelamkan bau kopi yang masih tersisa di pakaian Elara. Dia tampak seperti patung yang diukir dari es dan kesempurnaan.

Dan matanya... mata yang sama yang menatap burung gereja di taman, kini menatapnya dengan intensitas yang lebih dingin, lebih tajam, seperti pemangsa yang mengunci mangsanya.

"Elara Senja," katanya, suaranya dalam dan berwibawa. Dia tidak tersenyum.

Elara berdiri dengan cepat. "Anda... Anda Tuan Volkov?"

Alexander berjalan mendekat, gerakannya anggun dan lambat. "Duduklah. Jangan takut. Tehmu akan dingin."

"Bagaimana... bagaimana Anda tahu nama saya? Dan... dan tentang Lily?" Elara langsung ke intinya, mengabaikan teh mahal itu.

Alexander duduk di kursi di hadapannya, menyilangkan kaki. Dia tampak seperti dewa di singgasananya.

"Dunia ini kecil, Elara," katanya, menyandarkan punggung ke kursi. "Terutama jika kau punya sumber daya tak terbatas. Nama Hartono itu kecil. Masalah pengadilan hak asuhmu hanyalah masalah jam bagi orang-orangku."

Dia mengambil sebuah tablet di meja dan menggeser layar. "Lily Senja, tujuh tahun. Penyakit jantung bawaan. Prognosis: membutuhkan operasi mitral valve replacement dalam waktu delapan minggu. Biaya total, termasuk perawatan pasca-operasi, sekitar 1,3 juta dolar. Tepat?"

Elara merasakan air mata menggenang. Alexander tidak sedang berspekulasi. Dia tahu setiap detail menyakitkan dalam hidupnya. Dia telah telanjang di depan pria ini.

"Ya," bisik Elara, suaranya nyaris hilang. "Ya, itu benar."

"Dan Keluarga Hartono," lanjut Alexander, tatapannya menusuk. "Mereka hanya ingin menggunakan ini untuk membuatmu terlihat tidak mampu, mengambil putrimu, dan menyelamatkan nama baik mereka di mata kolega mereka. Mereka tidak mencintainya. Mereka hanya mencintai kekuasaan."

"Tolong," Elara memohon, dadanya sesak. "Apa pun yang Anda inginkan, saya akan melakukannya. Saya akan bekerja untuk Anda. Saya akan mencuci piring di restoran Anda selama sepuluh tahun, saya akan membersihkan toilet, apa pun. Tapi jangan ambil Lily dariku."

Alexander tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. Senyum predator yang baru saja mendengar pengakuan total dari mangsanya.

"Aku tidak butuh pelayan, Elara. Aku butuh sesuatu yang lebih... menarik."

Dia meletakkan tabletnya.

"Aku akan memberimu 1,5 juta dolar tunai. Sekarang juga. Uang itu akan membayar semua biaya operasi Lily, biaya perawatan pasca-operasi, dan biaya pengacara terbaik untuk menghancurkan Hartono. Hartono akan hilang dari hidupmu selamanya. Lily akan selamat, dan hak asuh akan aman di tanganmu. Aku akan memberimu kehidupan baru."

Harapan itu begitu besar, begitu cerah, hingga hampir menyilaukan Elara. Nafasnya tercekat.

"Syaratnya," kata Alexander, suaranya berubah rendah dan berbahaya, "kau tidak akan pernah bisa melunasi uang itu."

Elara mengerutkan kening. "Saya tidak mengerti."

Alexander mencondongkan tubuh sedikit, menatap Elara seolah-olah dia adalah teka-teki yang harus dipecahkan.

"Syaratnya adalah kau menjadi milikku, Elara. Kekasih bayaranku. Selama aku menginginkannya. Mulai malam ini."

Elara terpaku. Syok itu begitu besar hingga ia merasa telinganya berdenging. Kekasih bayaran?

"Tidak," Elara menggeleng, air mata mulai mengalir. "Tidak, saya tidak bisa. Saya bukan... saya tidak menjual diri saya."

"Kau sudah menjual dirimu, Elara," potong Alexander dingin. "Kau menjual sepuluh jam sehari di restoran kotor itu, menerima hinaan, dan kaki sakit hanya untuk seratus dolar sehari. Apa bedanya? Bedanya, denganku, putrimu hidup. Denganku, kau tidak lagi menjadi aib di depan Lily."

"Ini kotor! Ini menjijikkan!" teriak Elara, berdiri. Kebenciannya meluap, membanjiri rasa takutnya. "Anda pria yang keji! Anda mengambil kesempatan dari keputusasaan saya!"

Alexander tetap tenang. Dia adalah batu.

"Aku pria yang menyelamatkan putrimu. Pria keji adalah Hartono. Pria yang membiarkanmu kedinginan adalah Alex si gelandangan. Aku adalah Volkov. Aku adalah kenyataan. Dan kau, Elara, kau tidak punya pilihan."

Dia mengeluarkan selembar kertas tebal yang dilipat dua dari saku dalam jasnya. Ini bukan kontrak hukum, melainkan lembar diagnosis medis Lily yang paling mengerikan.

"Lily punya waktu delapan minggu. Aku bisa membayar besok. Hartono bergerak hari ini. Sementara kau berteriak padaku, setiap detik berlalu, mengurangi kesempatan Lily."

Pernyataan Alexander menghantam Elara seperti palu godam. Dia ambruk kembali ke sofa.

Dia mencoba mencari jalan keluar lain. "Saya akan mencari pekerjaan lain! Saya akan meminjam!"

"Dari siapa? Aku adalah Volkov. Aku punya kendali atas setiap pinjaman besar di kota ini. Setiap bank akan menolakmu. Setiap perusahaan besar akan menolakmu. Bahkan jika kau menemukan seribu dolar hari ini, itu hanya menunda kepastian bahwa Lily akan mati di tanganmu yang tidak berdaya."

Alexander berdiri. Sekarang dia tampak menjulang tinggi, menutupi Elara dengan bayangannya.

"Aku memberimu segalanya. Uang, perlindungan, kehancuran musuh-musuhmu. Sebagai imbalannya, aku hanya meminta waktu dan kepatuhanmu. Aku ingin tahu bagaimana rasanya memiliki sesuatu yang murni sepertimu. Sesuatu yang tidak bisa kubeli dengan uang-sampai sekarang."

Dia berjalan menuju jendela, memberikan waktu bagi Elara untuk memikirkannya. Elara menatap pemandangan kota di bawah, tetapi dia tidak melihat gedung-gedung. Dia melihat wajah Lily yang tersenyum. Dia melihat mata Lily yang memohon.

Dia ingat roti basi yang dia berikan kepada Alex si gelandangan. Pria itu kini berdiri di depannya, mengenakan topeng raja yang kejam. Dia tidak tahu bahwa kebaikan kecil Elara di taman telah memberinya target baru. Alexander tidak hanya membeli Elara. Dia membeli jawaban atas kebosanannya.

Elara memejamkan mata. Rasa pengkhianatan itu pahit, tapi rasa takut kehilangan Lily lebih pahit lagi.

"Satu malam panas dan menjadi kekasih bayaran," ulang Elara, suaranya bergetar. "Sampai kapan?"

Alexander berbalik. "Sampai aku bosan. Itu bisa enam bulan, bisa dua tahun. Tapi selama itu, kau tidak boleh menentangku, Elara. Kau tidak boleh jatuh cinta padaku. Kau tidak boleh meminta lebih. Kau adalah transaksiku. Aku memiliki waktumu, tubuhmu, dan kepatuhanmu."

"Dan Lily?"

"Lily akan memiliki perawatan medis terbaik, perlindungan penuh, dan masa depan yang terjamin. Aku akan menempatkan uang itu di akun perwalian yang hanya bisa kau akses untuknya. Aku akan menjadi bentengmu, tetapi kau harus menjadi pelayanku."

Elara menarik napas panjang, paru-parunya serasa terbakar. Dia menatap kemewahan di ruangan itu, lalu memikirkan kelemahan Lily.

Ini bukan pilihan. Ini adalah pengorbanan.

"Saya terima," kata Elara. Kata-kata itu keluar seperti desahan terakhir. "Saya terima. Tapi jangan pernah, jangan pernah membuat Lily tahu tentang ini."

Senyum kemenangan Alexander akhirnya muncul, dan itu jauh lebih berbahaya daripada tatapan dinginnya.

"Selamat datang, Elara. Keputusan yang cerdas."

Dia menjentikkan jarinya. Viktor, yang ternyata sudah menunggu di luar, masuk.

"Viktor," perintah Alexander. "Siapkan uang 1,5 juta dolar tunai dalam lima belas menit. Hubungi pengacara terbaik untuk masalah hak asuh. Tuntut Hartono hingga habis. Pastikan Elara dan putrinya dipindahkan ke apartemen baruku sore ini. Atur semuanya."

"Baik, Tuan Volkov."

Alexander kembali menatap Elara, matanya berkilauan. "Sekarang, kau adalah milikku. Kau bukan lagi pelayan restoran. Kau tidak perlu bekerja lagi. Kau hanya perlu menungguku. Kita akan memulai 'transaksi' kita malam ini. Aku akan memberitahumu semua aturannya di apartemen barumu."

Elara hanya bisa mengangguk, terlalu lemas untuk berbicara. Dia melihat Viktor menyerahkan tas kerja tebal yang berisi uang tunai kepada Elara, yang dengan enggan diterima Elara. Beratnya uang itu terasa seperti beban yang menghancurkan jiwanya.

Alexander berjalan mendekat dan mengangkat dagu Elara dengan satu jari, memaksa wanita itu untuk menatap matanya.

"Aku tidak membeli kebaikanmu, Elara," bisik Alexander. "Aku membeli keputusasaanmu. Dan aku akan memanfaatkannya dengan baik."

Elara hanya menutup mata, bersiap untuk kegelapan yang akan menelannya. Lily akan hidup. Itu saja yang penting. Harga dirinya, martabatnya, kini hanyalah barang bekas yang ditukarkan dengan nyawa putrinya.

Bab 3

Waktu bergerak seperti air raksa yang kental, melambat hingga setiap detik terasa menyiksa. Setelah Elara meninggalkan Montage Lounge dengan tas penuh uang tunai di tangannya, dunia lamanya seolah runtuh menjadi debu di belakangnya.

Viktor, si tangan kanan Alexander yang dingin, menjemputnya. Dia tidak mengucapkan kata-kata penghiburan. Dia hanya menyerahkan kunci elektronik dan kartu akses ke sebuah apartemen baru di sebuah kompleks mewah.

"Apartemen sementara. Tuan Volkov ingin kau dan putrimu pindah segera," kata Viktor, matanya tanpa ekspresi. "Pengacara akan menemuimu malam ini. Semua detail medis Lily akan diurus. Kau tidak perlu khawatir lagi."

Elara merasa mual. Uang itu terasa berat dan kotor. Dia menatap tumpukan dolar di tasnya-jumlah yang bisa membeli kebahagiaan bagi Lily, tetapi telah merenggut seluruh harga dirinya.

Dia kembali ke apartemen lamanya yang apek, ke kamar kecil yang selama ini menjadi benteng pertahanannya. Dia menatap Lily yang sedang tidur nyenyak.

Lily, malaikat kecilnya, kini aman. Nyawa Lily dibeli. Dibeli dengan apa? Dengan martabat ibunya.

Dia menghabiskan sisa sore itu dalam keheningan yang menyakitkan. Dia mengemasi beberapa barang yang paling penting: boneka usang Lily, beberapa foto, dan obat-obatan. Dia tidak membawa banyak pakaian lamanya. Pakaian itu tidak akan cocok dengan kehidupan barunya, kehidupan yang dijual.

Ketika dia memberi tahu Lily bahwa mereka pindah ke tempat yang lebih baik-tempat yang lebih besar dan cerah-mata Lily bersinar dengan kebahagiaan murni.

"Mama! Apakah akan ada taman yang bagus?" tanya Lily, suaranya lemah karena sakit, tapi penuh harapan.

"Ya, Sayang. Taman yang sangat bagus," kata Elara, memeluk putrinya erat-erat. Pelukan itu adalah satu-satunya hal yang terasa nyata di tengah kekacauan yang menghancurkan jiwanya.

Dia tahu, dia tidak boleh menyesal. Keputusan ini, meskipun kotor, adalah pilihan yang menyelamatkan hidup. Dia telah memilih Lily di atas dirinya sendiri.

Apartemen barunya-atau lebih tepatnya, apartemen Alexander-terasa seperti rumah boneka yang terlalu mahal. Segalanya baru, bersih, dan terlalu sempurna.

Dindingnya berwarna krem lembut, dilengkapi furnitur Italia dan jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota yang sama yang dilihat Alexander dari kantornya. Ada kamar tidur yang cerah untuk Lily, lengkap dengan mainan baru dan selimut tebal.

Elara membaringkan Lily di kasur yang lembut. Lily langsung tertidur lelap, kelelahan karena penyakitnya dan perpindahan yang mendadak.

Setelah memastikan Lily aman, Elara berdiri di tengah ruang tamu, dikelilingi oleh kemewahan yang tidak dia inginkan. Dia merasa seperti penjahat yang bersembunyi di balik kekayaan curian.

Tepat pukul 20:00, bel pintu berbunyi.

Elara tahu siapa itu. Jantungnya berdebar kencang, kali ini bukan karena takut kehilangan Lily, tetapi karena takut pada apa yang akan dia hadapi.

Dia membuka pintu. Alexander Volkov berdiri di sana, mengenakan setelan jas hitam yang membuat kehadirannya terasa mengancam, bahkan tanpa ia mengucapkan sepatah kata pun. Dia membawa sebotol anggur merah yang sangat mahal dan map kulit.

"Selamat datang di neraka berlapis emasmu, Elara," kata Alexander, matanya dingin dan datar.

Dia masuk tanpa diundang, meletakkan anggur dan map di atas meja kaca. Dia langsung berjalan ke kamar Lily. Elara menahan napas, takut Alexander akan menyentuh putrinya.

Alexander hanya berdiri di ambang pintu, menatap Lily yang tidur nyenyak. Ekspresinya tidak terbaca. Tidak ada kelembutan, tetapi juga tidak ada ketidaksukaan. Hanya pengamatan yang dingin.

"Kamar yang bagus untuknya," katanya singkat. "Perawatan terbaik akan tiba besok pagi. Dan pengacara terbaikku akan menyelesaikan Hartono sebelum akhir minggu."

Dia berbalik dan menatap Elara.

"Mari kita selesaikan bisnis kita, Elara. Malam ini adalah awal dari transaksi kita."

Dia berjalan ke sofa kulit dan membuka map kulit itu. Di dalamnya ada dua lembar dokumen tebal. Kontrak.

"Duduk," perintah Alexander.

Elara duduk di seberangnya, merasakan jarak yang tak terhingga antara mereka.

"Kontrak ini sederhana," jelas Alexander, suaranya tenang, seperti sedang membahas harga saham, bukan menjual jiwa seseorang. "Ini bukan kontrak asmara, ini kontrak kepemilikan. Kau akan menandatanganinya untuk menjamin pembayaran 1,5 juta dolar yang sudah kau terima, dan untuk menjamin perlindungan hukum dan medis Lily seumur hidupnya."

Alexander mulai membacakan pasal-pasalnya, dan setiap kata terasa seperti cambukan di punggung Elara.

Pasal 1: Kepatuhan. Kau adalah kekasih bayaranku. Kau akan menemaniku ke mana pun aku pergi, kapan pun aku memintanya. Pakaianmu, penampilanmu, bahkan jam tidurmu, adalah urusanku. Kepatuhan total, tanpa pertanyaan.

Pasal 2: Anonimitas. Identitasmu yang sebenarnya, terutama latar belakangmu sebagai pelayan dan penyamaranku sebagai Alex si gelandangan, harus tetap rahasia. Kau tidak akan pernah membeberkannya, bahkan kepada Lily.

Pasal 3: Sentimen. Ini adalah transaksi. Aku bukan kekasihmu. Kau tidak boleh jatuh cinta padaku. Aku tidak akan jatuh cinta padamu. Jangan pernah menuntut kasih sayang, kemesraan, atau emosi apa pun.

Pasal 4: Malam Panas. Kau telah setuju untuk menyerahkan dirimu sepenuhnya kepadaku, dan kau harus menerima itu sebagai bagian dari harga yang kau bayar. Mulai malam ini.

Elara mendengarkan dengan kepala tertunduk. Air mata membasahi pipinya, tetapi dia tidak mengeluarkan suara. Dia tahu dia tidak bisa menawar.

"Aku sudah memberimu uang, Elara," kata Alexander, nadanya sedikit lebih rendah, seolah-olah dia sedang mencoba memahami emosi wanita itu. "Ini adalah malam pertamamu. Aku tidak akan memaksamu melakukan sesuatu yang ekstrem, tapi kau harus memahami posisi dan komitmenmu. Aku membeli malam ini, dan malam-malam selanjutnya."

Dia mendorong pena emas di atas kontrak ke hadapan Elara.

Elara mengambil pena itu, tangannya gemetar. Dia tidak membaca detail hukum di balik kata-kata itu. Dia hanya melihat satu kata: Lily.

Dia menandatangani, dengan tulisan tangan yang goyah, di mana namanya sendiri terasa asing.

Alexander mengambil pena itu kembali, menatap tanda tangan Elara, dan mengangguk puas. Sebuah kemenangan yang dingin.

"Sekarang, mari kita minum. Malam ini kau akan tidur di kamar ini, dan aku akan tidur di kamar utama. Kau harus membiasakan diri untuk memenuhi setiap keinginanku. Malam pertama kita akan dimulai setelah kau merasa lebih nyaman," kata Alexander. Dia menunjukkan sisi kemanusiaan yang aneh, seolah-olah dia sedang memberi waktu kepada hewan buruannya sebelum ia menerkam.

Elara, terkejut dengan 'kebaikan' kecil itu, hanya bisa menatapnya. "Anda... tidak akan memaksaku?"

"Aku tidak memaksakan sesuatu, Elara," balas Alexander dingin. "Aku membeli persetujuanmu. Dan kau sudah setuju. Malam ini kau hanya perlu membiasakan diri berada di bawah pengawasanku. Bersihkan dirimu. Kita akan minum anggur dan membahas masa depanmu."

Elara berjalan ke kamar mandi, merasa seperti robot. Dia menanggalkan pakaian kerjanya yang usang, pakaian yang dipenuhi noda kopi dan bau minyak goreng. Pakaian itu terasa seperti penyamaran, topeng yang sudah dia kenakan terlalu lama.

Dia melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang besar. Tubuhnya kurus, dipenuhi memar kecil dari shift kerja yang brutal. Wajahnya pucat, matanya merah. Ini adalah Elara yang sebenarnya-bukan kekasih bayaran yang glamor, tapi seorang ibu yang putus asa.

Dia mandi dengan air panas, yang terasa begitu asing. Air panas tak terbatas. Sesuatu yang mewah yang bahkan tidak pernah dia impikan sebelumnya. Setelah mandi, dia melilitkan handuk tebal di tubuhnya dan kembali ke ruang tamu.

Alexander tidak ada di sana. Dia sedang berbicara di telepon di balkon, suaranya pelan dan berwibawa.

Elara berjalan ke kamar Lily. Lily tidur dengan nyenyak, tampak lebih tenang daripada yang pernah dia lihat dalam waktu lama.

Lily aman. Lily hidup. Elara mengulanginya, menjadikan frasa itu sebagai mantra, sebagai perisainya.

Ketika dia kembali ke ruang tamu, Alexander sudah selesai menelepon. Dia melihat Elara-rambutnya basah, hanya mengenakan handuk.

Tatapan Alexander berubah. Bukan lagi dingin seperti es, tetapi panas dan penuh penilaian. Tatapan itu menelanjanginya, menganalisis setiap lekuk tubuhnya, bukan dengan nafsu murahan, tetapi dengan rasa kepemilikan yang kuat.

"Kau terlihat jauh lebih baik," katanya, suaranya sedikit serak.

Dia menuangkan anggur merah ke dua gelas kristal.

"Duduk," katanya lagi, kali ini nadanya lebih lembut, lebih persuasif. "Kita akan minum dan kau akan bercerita tentang dirimu. Bukan sebagai pelayan restoran, tapi sebagai dirimu sendiri, Elara Senja."

Elara duduk, menerima gelas anggur itu, dan meminumnya hingga separuh. Cairan pahit dan manis itu membakar tenggorokannya, memberikan keberanian yang dia butuhkan.

"Apa yang ingin Anda ketahui?" tantang Elara, matanya yang merah menatap Alexander.

Alexander menyesap anggurnya, menatap Elara. "Aku ingin tahu mengapa kau memberiku roti basi itu di taman. Kau tahu kau lapar. Kau tahu kau butuh setiap remah. Kenapa?"

Pertanyaan itu menghantam Elara. Itu adalah pertanyaan yang sangat pribadi, pertanyaan yang mengungkapkan bahwa pria di hadapannya ini adalah Alex si gelandangan.

"Putriku," bisik Elara. "Dia selalu ingin berbagi. Dia punya hati yang baik. Aku melakukannya untuknya. Agar dia bangga pada ibunya."

Alexander menghela napas. Itu adalah hal yang paling jujur dan paling polos yang pernah dia dengar dalam bertahun-tahun.

"Kebaikan yang mahal," gumam Alexander. "Kebaikanmu hampir membuat putrimu mati kelaparan, dan membuatmu menjadi milikku."

Elara tersentak. "Itu adalah pilihan yang saya buat! Bukan salah kebaikan saya, tapi salah kekejaman orang-orang di dunia ini!"

"Dan di sinilah aku masuk, Elara," kata Alexander, senyum tipis di wajahnya. "Aku adalah orang yang kejam itu. Aku akan menggunakan kekejamanku untuk melindungimu. Selama kau berada di bawah perlindunganku, kau akan aman. Tidak ada Hartono, tidak ada tagihan, tidak ada kedinginan."

Dia menghabiskan anggurnya dan berdiri. Handuk di tubuh Elara terasa semakin longgar, semakin tidak aman.

"Sekarang, Elara. Malam sudah larut."

Elara merasa takut. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ini dia. Momen yang dia jual.

Alexander berjalan mendekat, dan Elara menutup matanya, bersiap untuk serangan yang kejam dan transaksional.

Namun, Alexander hanya berhenti di depannya. Dia mengangkat tangannya, dan perlahan, dengan gerakan yang lembut, dia menyentuh rambut basah Elara.

"Tidak malam ini, Elara," bisik Alexander. Suaranya rendah, nyaris seperti belaian. "Aku memberimu satu hari lagi. Tidurlah di kamar ini. Aku ingin kau tahu, aku bisa saja memaksamu, tapi aku memilih untuk tidak melakukannya. Aku ingin kau datang kepadaku, bukan karena aku memerintah, tetapi karena kau memilih untuk mematuhi."

Dia melepaskan sentuhannya. Dia meninggalkan gelas anggurnya, dan berjalan menuju kamar utama, meninggalkan Elara dalam kebingungan dan ketakutan.

"Malam pertama kita akan terjadi besok," kata Alexander, suaranya kembali dingin, sebelum menutup pintu kamar utama dengan bunyi 'klik' yang pelan.

Elara ditinggalkan sendirian. Dia harus tidur di tempat tidur yang dingin dan empuk, di bawah atap emas, sementara martabatnya sudah direnggut. Malam panas itu tertunda, tetapi bayangan Alexander yang dingin dan menuntut terasa jauh lebih menakutkan daripada paksaan fisik. Dia harus tidur sendirian malam ini, tetapi mulai besok, dia akan tidur bersama iblis yang telah membeli nyawa putrinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED