Hujan turun deras malam itu, membasahi kaca jendela apartemen Ravina Aleysha Pratama. Langit kelabu menggantung muram, seolah ikut menertawakan hidupnya yang tiba-tiba porak-poranda.
Berita di televisi masih menayangkan hal yang sama - wajah ayahnya, dr. Rendra Pratama, mantan Menteri Kesehatan, ditangkap oleh Komisi Antikorupsi. Potongan gambar ketika sang ayah digiring keluar dari rumah keluarga mereka, tangan diborgol dan wajah tertunduk, terus berulang tanpa henti.
"Kasus korupsi alat medis senilai triliunan rupiah yang melibatkan mantan Menteri Kesehatan, Rendra Pratama-"
Klik.
Ravina mematikan televisi dengan keras.
Suara itu terlalu menyakitkan.
Setiap kata dari berita itu seperti pisau yang menusuk dadanya, berulang-ulang.
Ayahnya. Orang yang selama ini ia banggakan. Orang yang selalu mengajarinya untuk hidup jujur, bekerja keras, dan tak mengotori profesi dokter dengan uang haram.
Kini semua prinsip itu lenyap, bersama nama baik keluarga Pratama yang runtuh hanya dalam semalam.
Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Tangannya bergetar ketika ia menatap surat pemecatan yang belum lama ini datang dari asosiasi dokter.
Mereka tidak memecatnya, tapi menangguhkan izin praktiknya sementara "sampai kasus ayahnya selesai diselidiki."
Alasannya diplomatis, tapi Ravina tahu, dunia kedokteran bukan tempat yang mudah bagi seseorang dengan nama belakang seburuk miliknya sekarang.
Ponselnya bergetar di meja.
Ratusan pesan masuk. Sebagian besar dari nomor tak dikenal.
Pesan-pesan kebencian.
Ucapan seperti "Dokter koruptor!", "Layak dipenjara satu keluarga!", dan "Jadi dokter cuma numpang nama bapak ya?" membanjiri notifikasi ponselnya.
Ravina memejamkan mata, dadanya sesak. Ia tidak kuat membacanya lagi.
Lalu muncul satu pesan dari orang yang paling ia hormati di rumah sakit tempatnya bekerja - dr. Meira, kepala bagian bedah.
"Vina, kamu masih diizinkan masuk kerja. Tapi Direktur baru ingin bertemu kamu besok pagi. Jangan terlambat."
Ravina menggigit bibir bawahnya. Direktur baru?
Ia belum pernah bertemu orang itu. Kabarnya, pria itu datang dari rumah sakit swasta ternama di Jakarta. Orangnya disiplin, keras, dan tak segan memecat staf yang dianggap "tidak profesional."
Dalam hati kecilnya, Ravina tahu - pertemuan itu tidak akan berjalan baik.
Pagi berikutnya, rumah sakit tempat Ravina bekerja terasa berbeda.
Bukan karena ia datang terlambat, tapi karena semua mata kini tertuju padanya.
Bisik-bisik menyambut langkahnya sejak ia melangkah masuk ke lobi utama.
Seragam putih yang dulu membuatnya bangga kini terasa seperti beban berat yang menempel di tubuhnya.
"Eh, itu anaknya Menteri Rendra, kan?"
"Iya, yang bapaknya korupsi itu. Tapi dia masih berani kerja di sini ya?"
"Gak malu, ya?"
Bisik-bisik itu terdengar cukup jelas di telinganya.
Ravina menunduk, menggenggam tas erat-erat, berusaha berjalan lurus menuju ruang direktur.
Sesampainya di depan ruangan berlabel Darian Mahendra Arsatama, M.D., Ravina menarik napas panjang. Ia mengetuk pelan pintu kayu berwarna gelap itu.
"Masuk," suara berat dari dalam menjawab.
Ruangannya tampak elegan, tapi sederhana. Dinding putih bersih dengan satu rak buku besar di sisi kanan. Di balik meja, seorang pria berdiri membelakanginya, menatap keluar jendela yang menghadap taman rumah sakit.
Ravina menegakkan punggungnya. "Selamat pagi, Pak. Saya Ravina Aleysha Pratama, dokter residen di-"
"Duduk."
Nada suaranya tegas, datar, tanpa intonasi.
Ravina menurut, duduk di kursi berhadapan dengan meja kayu besar itu. Baru ketika pria itu berbalik, Ravina benar-benar melihat wajahnya untuk pertama kali.
Tinggi, berwibawa, dengan rahang tegas dan tatapan dingin yang seolah bisa menembus siapa pun yang berani berbohong di depannya.
Senyum bukan bagian dari ekspresinya. Dan ketika mata mereka bertemu, Ravina merasa seluruh udara di ruangan itu membeku.
"Jadi, kamu Ravina," katanya pelan. "Anak dari Menteri Rendra Pratama."
Nada itu tidak bertanya.
Lebih seperti menegaskan sebuah fakta yang tidak menyenangkan.
"Ya, Pak. Tapi saya harap-"
"Ayahmu ditangkap semalam. Seluruh media menayangkan namanya. Dan kamu masih datang ke sini seolah tidak terjadi apa-apa."
Nada suaranya tajam, mengiris.
"Saya masih dokter di rumah sakit ini, Pak. Saya tidak terlibat dalam apa pun yang dilakukan ayah saya."
Darian menghela napas pendek, menatapnya lama. "Kamu sadar, kan? Reputasi rumah sakit ini sedang dipertaruhkan. Banyak pasien menolak ditangani oleh dokter yang punya hubungan darah dengan tersangka korupsi nasional."
Kata-katanya seperti tamparan.
Ravina berusaha tetap tenang. "Saya mengerti, Pak. Tapi saya di sini untuk bekerja, bukan membawa nama keluarga saya."
Darian berjalan memutar meja, kini berdiri di hadapannya.
Tatapannya turun, menelusuri wajah Ravina dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Kau pikir publik peduli dengan perbedaan itu?"
Ravina terdiam.
Ia tahu, pria itu benar. Tapi cara Darian berbicara-dingin, merendahkan, membuat darahnya mendidih.
"Aku hanya ingin melakukan tugasku, Pak," ujarnya akhirnya, menahan nada suaranya agar tidak bergetar.
"Dan aku ingin memastikan semua staf di sini tidak membawa masalah pribadi ke dalam pekerjaan," balas Darian cepat.
"Kalau kau tidak tahan tekanan publik, pintu keluar ada di belakangmu."
Ucapan itu menusuk lebih dalam daripada ejekan mana pun.
Ravina menatapnya dengan rahang mengeras. "Saya tidak akan lari, Pak Direktur."
Senyum sinis tipis terlukis di bibir pria itu. "Kita lihat saja nanti."
Hari-hari berikutnya berjalan berat.
Ravina bekerja dua kali lebih keras dari biasanya, seolah ingin membuktikan pada seluruh dunia bahwa ia tidak seperti yang mereka kira.
Tapi tetap saja, cibiran datang dari segala arah.
"Dokter Ravina, pasien di ruang 305 batal konsultasi. Katanya dia gak mau ditangani sama kamu," ujar perawat Lila dengan wajah serba salah.
Ravina menatap selembar catatan di tangannya. "Bilang saja tidak apa-apa. Pindahkan ke dokter lain."
"Tapi, Dok, itu sudah pasien keempat hari ini..."
Ravina hanya tersenyum getir. "Tidak masalah, Lila. Aku masih bisa bantu di ruang bedah."
Namun bahkan di ruang bedah pun, ketenangannya tidak ada.
Darian sering muncul tiba-tiba di ruang operasi, mengawasi setiap gerakannya dengan tatapan seperti elang yang menilai mangsanya.
Sekali saja Ravina sedikit lambat dalam pengambilan keputusan, suaranya akan terdengar-dingin dan memotong udara.
"Jangan ragu di meja operasi, dr. Ravina. Keraguan bisa membunuh pasien."
Ravina menahan napas.
Ia ingin menjawab, tapi ia tahu melawan hanya akan memperburuk keadaan.
Setelah operasi selesai, Ravina meninggalkan ruangan dengan wajah pucat.
Perawat-perawat berbisik pelan di belakangnya.
Sementara di koridor, Darian berjalan santai dengan ekspresi datar, seolah tidak sadar bahwa setiap kata tajamnya sudah menggores harga diri seseorang.
Malam itu, Ravina duduk di balkon apartemennya, memandangi lampu-lampu kota. Tangannya memegang secangkir teh yang sudah dingin.
Ponselnya berbunyi lagi - kali ini dari media, meminta wawancara eksklusif tentang kasus ayahnya.
Ia mematikan ponsel itu, menunduk, dan membiarkan air matanya jatuh.
Semua ini bukan salahnya.
Tapi kenapa dunia seolah bersatu untuk menghukumnya?
Tiba-tiba terdengar suara ketukan keras di pintu apartemennya.
Ia terkejut, buru-buru menghapus air mata dan membuka pintu.
Sosok yang berdiri di sana membuat jantungnya nyaris berhenti.
Darian Mahendra Arsatama.
Masih mengenakan jas dokter, rambutnya sedikit basah oleh hujan.
"Pak Direktur?" suaranya hampir bergetar. "Ada apa malam-malam begini?"
"Aku butuh bicara," jawab Darian singkat.
Ravina menatapnya curiga. "Tentang apa?"
"Kasus pasien siang tadi. Aku ingin memastikan laporanmu."
Ravina terdiam. Ia tahu itu alasan formal. Tapi entah kenapa, sorot mata pria itu malam ini berbeda. Tidak setajam biasanya. Ada sesuatu yang... lelah di sana.
"Silakan masuk," katanya akhirnya.
Darian masuk, melepaskan jasnya, menatap sekeliling apartemen kecil itu.
"Tidak seperti yang kubayangkan dari seorang anak menteri," katanya datar.
Ravina menegakkan bahu. "Ayahku sudah bukan menteri. Dan aku tidak butuh kemewahan untuk hidup."
"Begitu ya?" Darian menatapnya lama. "Tapi dunia tidak akan berhenti mengingat siapa kamu, Ravina."
Nada suaranya kali ini bukan sinis, tapi pelan... nyaris seperti peringatan.
"Aku tahu," balas Ravina lirih. "Tapi aku tidak bisa terus menanggung dosa orang lain."
Darian terdiam lama, lalu menatap keluar jendela.
"Aku tahu rasanya," ucapnya tiba-tiba.
Ravina menoleh, bingung. "Apa maksud Anda?"
Darian tidak menjawab. Hanya tatapan kosong ke arah hujan di luar sana, seolah ada masa lalu yang berat tersembunyi di balik kata-kata itu.
Untuk pertama kalinya, Ravina melihat sisi lain dari pria itu - bukan direktur dingin yang selalu menekannya, tapi seseorang yang mungkin juga terluka.
Suasana hening cukup lama sebelum Darian akhirnya berbalik.
"Lupakan yang kukatakan. Aku akan pergi."
"Pak Darian-"
Langkahnya terhenti di depan pintu. "Istirahatlah, dr. Ravina. Kau akan butuh tenaga lebih besar untuk bertahan di tempat ini."
Pintu tertutup perlahan, meninggalkan Ravina berdiri di tengah ruangan, hatinya berdebar dengan perasaan aneh yang tidak bisa ia pahami.
Antara benci, takut, dan sesuatu yang lain... sesuatu yang tak seharusnya tumbuh di antara mereka.
Namun, malam itu tak berakhir begitu saja.
Telepon berdering lagi. Kali ini dari nomor tak dikenal.
"Ravina Aleysha Pratama?"
Suara di seberang terdengar berat dan berbahaya.
"Ayahmu tidak bersalah. Tapi orang yang menjebaknya... adalah orang yang sekarang paling dekat denganmu."
Suaranya membeku.
"Siapa maksud Anda?"
"Cari tahu sendiri, sebelum semuanya terlambat."
Telepon terputus.
Ravina menatap layar ponselnya lama, napasnya tercekat.
Satu nama terlintas di kepalanya - nama yang baru saja meninggalkan apartemennya beberapa menit lalu.
Darian Mahendra Arsatama.
Dan sejak malam itu, semuanya berubah.
Ketenangan yang tersisa dalam hidup Ravina lenyap.
Yang tersisa hanyalah teka-teki besar, kebencian yang samar-samar bercampur dengan rasa ingin tahu, dan sebuah malam yang kelak akan menjadi awal dari kesalahan paling fatal dalam hidupnya.
Pagi menyambut dengan langit kelabu, aroma kopi dan antiseptik bercampur di udara rumah sakit Arsatama Medical Center. Suasana yang biasanya menenangkan, kini terasa berat bagi Ravina.
Semalaman ia tidak tidur. Kata-kata misterius dari penelepon semalam terus terngiang di kepalanya:
"Orang yang menjebak ayahmu adalah orang yang paling dekat denganmu."
Ia mencoba mengabaikannya, menganggap itu hanya ulah orang yang ingin mempermainkannya. Tapi pikiran itu tak mau pergi.
Dan sialnya, setiap kali ia mencoba menepis, wajah Darian muncul dalam bayangannya.
"dr. Ravina!" suara Lila, perawat senior, memecah lamunannya.
Ravina menoleh cepat. "Iya?"
"Pasien baru di IGD, laki-laki usia empat puluh, kecelakaan motor. Kondisinya kritis. dr. Dimas minta bantuanmu."
"Baik."
Ravina berlari ke ruang gawat darurat. Suara monitor dan instruksi dokter lain saling bersahutan.
Darah mengalir di lantai, bau logam dan adrenalin memenuhi ruangan.
"Tekanan darah turun! 80/50!"
"Siapkan plasma! Cepat!"
Ravina bergerak cepat, mengendalikan kepanikan di sekitarnya. Tangannya cekatan memeriksa luka robek di dada pasien, memastikan tak ada pendarahan internal yang terlewat.
"Pasien kehilangan banyak darah," katanya pada dr. Dimas. "Kita butuh transfusi segera."
"Bank darah lambat kirimannya."
"Kalau begitu aku yang ke sana langsung!"
Tanpa pikir panjang, Ravina berlari keluar ruangan, menyambar jas putihnya. Ia berlari menembus lorong panjang rumah sakit, tanpa menyadari bahwa seseorang mengawasinya dari kejauhan.
Begitu sampai di ruang penyimpanan darah, ia langsung meminta dua kantung O negatif. Tapi perawat jaga di sana menatapnya dengan ekspresi ragu.
"Maaf, dr. Ravina... Saya butuh izin dari Direktur."
"Izin? Ini darurat!"
"Maaf, Dok. Prosedur baru dari Pak Darian. Semua pengambilan darah harus melalui otorisasinya."
Ravina menghela napas keras, amarah mendidih di dada.
"Kalau begitu hubungi beliau sekarang juga!"
"Tapi beliau sedang dalam rapat-"
"Saya yang akan ke sana!"
Tanpa menunggu, Ravina menuju ruang rapat di lantai atas. Ia tahu itu tindakan gila, tapi detik ini ada nyawa pasien di ujung tanduk.
Begitu sampai, ia langsung membuka pintu tanpa mengetuk.
Beberapa dokter senior menoleh kaget. Di ujung meja, duduk Darian, mengenakan jas hitam dengan ekspresi datar khasnya.
"dr. Ravina?" suaranya dingin. "Ada keperluan mendesak, saya kira."
"Pasien di IGD kritis. Saya butuh dua kantung darah O negatif sekarang. Tapi perawat tidak mau menyerahkan tanpa izin Anda."
"Itu prosedur," jawab Darian tenang.
"Prosedur bisa menunggu. Nyawa pasien tidak!"
Ruangan mendadak sunyi. Beberapa dokter saling melirik, tak berani bicara.
Ravina menatap Darian dengan rahang mengeras, menahan emosi yang hampir meledak.
Akhirnya Darian berdiri.
Tatapannya menusuk, namun tanpa emosi.
"Kau mengambil darah tanpa catatan resmi, kau bertanggung jawab atas risiko medis dan hukum yang timbul."
"Aku terima," jawab Ravina cepat.
Darian menatapnya lama, lalu menandatangani berkas di depannya.
"Ambil. Dan jangan pernah datang ke ruang rapat tanpa izin lagi."
Ravina menggertakkan gigi, menahan diri agar tidak menjawab. Ia membungkuk sedikit lalu keluar cepat dengan langkah panjang.
Begitu pintu tertutup, beberapa dokter berbisik.
"Berani juga dia melawan Pak Darian begitu."
"Anak menteri itu memang keras kepala."
Darian hanya menatap kosong ke arah pintu, rahangnya menegang halus. Tapi dalam sorot matanya, ada sesuatu - mungkin kekaguman samar, mungkin keingintahuan yang tak ingin ia akui.
Beberapa jam kemudian, pasien yang ia tangani berhasil melewati masa kritis.
dr. Dimas menepuk bahu Ravina. "Kerja bagus, Vin. Kalau bukan kamu yang nekat tadi, mungkin pasien itu gak selamat."
Ravina tersenyum lelah. "Aku cuma melakukan apa yang harus kulakukan."
"Tapi Direktur mungkin gak akan senang."
"Dia memang gak pernah senang," gumam Ravina lirih.
Namun belum sempat ia keluar dari ruang IGD, suara sepatu kulit itu sudah terdengar di belakangnya.
Langkah tegas, dingin, khas Darian.
"dr. Ravina."
Ia memutar tubuh pelan, menatap pria itu. "Ada yang bisa saya bantu, Pak Direktur?"
"Pertama, jangan lagi masuk ruang rapat tanpa izin. Kedua, tindakanmu pagi ini melanggar protokol."
"Tapi pasien hidup. Itu yang paling penting, kan?"
"Tidak kalau kamu mengorbankan aturan demi emosi."
Nada suaranya tajam, tapi Ravina tidak mundur.
"Saya tidak beroperasi berdasarkan emosi, Pak. Saya beroperasi berdasarkan sumpah saya sebagai dokter."
Hening sejenak.
Mata Darian menatapnya lama, hingga suasana di antara mereka menegang.
Ravina menatap balik, menolak tunduk.
Sampai akhirnya pria itu menarik napas panjang dan berkata pelan, "Kau sama keras kepalanya seperti ayahmu."
Kata itu langsung menohok.
Ravina menegang, wajahnya memucat. "Jangan bawa-bawa ayah saya."
"Kenapa tidak? Semua orang sudah membicarakannya. Aku hanya jujur."
"Dia bukan koruptor," ucap Ravina tegas, meski suaranya bergetar.
"Kau yakin?" Darian mendekat satu langkah. "Kadang orang yang paling kita percayai justru menyembunyikan sisi tergelapnya."
Ravina mundur setengah langkah, matanya berkaca-kaca.
"Saya tidak akan izinkan siapa pun menghina ayah saya, termasuk Anda."
"Aku tidak menghina, Ravina. Aku hanya mengingatkan."
Ia menatapnya lama sebelum akhirnya berbalik, meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.
Begitu pintu tertutup, Ravina jatuh terduduk di kursi terdekat.
Kata-katanya terasa seperti cambuk yang menampar keras hati dan kepalanya sekaligus.
Sore itu hujan turun lagi. Ravina duduk sendirian di kantin rumah sakit yang hampir sepi, menatap kopi hitam di tangannya.
Kelelahan, sakit hati, dan rasa ingin tahu bercampur di dadanya.
Penelepon misterius itu. Kata-kata Darian. Semua seolah berputar mengarah ke satu hal: ada rahasia besar di balik kasus ayahnya.
Dan entah kenapa, semuanya selalu berhubungan dengan Darian Mahendra Arsatama.
Ia menatap ponselnya. Sudah dua jam sejak ia menulis pesan itu, tapi belum dikirim:
"Apa maksud Anda semalam soal ayah saya dijebak?"
Ravina ragu.
Kalau penelepon itu benar, berarti hidupnya masih dalam bahaya. Tapi kalau bohong... ia hanya akan terlihat bodoh.
Ia menekan tombol kirim.
Pesan terkirim. Tapi belum sempat ia menutup layar, seseorang duduk di kursi seberang.
Darian.
Ravina hampir menjatuhkan ponselnya. "P-Pak Darian?"
"Aku lihat kamu belum pulang," katanya pelan. "Sudah makan?"
Ravina menatapnya curiga. "Ada urusan apa kali ini?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin bicara."
Nada suaranya tidak sekeras biasanya. Ada kelelahan yang sama seperti malam sebelumnya.
"Bicara tentang apa?"
"Tentang ayahmu."
Jantung Ravina berdetak cepat. "Apa yang Anda tahu tentang ayah saya?"
Darian menatapnya, lalu berkata perlahan, "Lebih banyak daripada yang kau kira."
Ravina menegakkan tubuhnya. "Jangan main-main dengan saya, Pak."
"Aku tidak main-main."
"Kalau begitu jelaskan!"
"Tidak di sini."
Sebelum Ravina sempat membalas, ponselnya bergetar. Pesan balasan dari nomor misterius tadi muncul:
"Hati-hati dengan Darian Mahendra. Dia bukan orang yang kau kira."
Ravina menatap layar ponsel, lalu menatap Darian di depannya.
"Kenapa saya harus percaya Anda, sementara ada orang yang bilang Anda yang menjebak ayah saya?"
Darian terdiam.
Senyumnya tipis, tapi matanya memancarkan sesuatu yang lebih gelap dari sekadar kemarahan.
"Jadi mereka sudah mulai mendekat padamu."
"Mereka siapa?"
"Orang-orang yang sama yang menghancurkan ayahmu," jawabnya datar.
Ravina menatapnya bingung. "Jangan berputar-putar! Jelaskan!"
Darian berdiri, menatapnya dalam. "Kalau kau ingin tahu kebenaran, datanglah ke ruanganku malam ini. Setelah jam kerja."
Tanpa menunggu tanggapan, ia pergi meninggalkan Ravina yang kini duduk terpaku, dengan seribu tanya berputar di kepalanya.
Malam itu, Ravina datang ke ruang direktur dengan langkah ragu.
Lampu sebagian besar sudah dimatikan, hanya cahaya lembut dari lampu meja yang menyala.
Darian duduk di balik meja, menatap layar komputer dengan wajah serius.
"Kau datang juga," katanya tanpa menoleh.
"Anda yang memanggil saya," jawab Ravina dingin.
Darian mematikan layar komputer, lalu menatapnya lurus.
"Ayahmu bukan satu-satunya yang dituduh dalam kasus itu. Ada tiga nama lain, tapi dua di antaranya sudah menghilang."
"Dan?"
"Salah satu dari mereka... adalah direktur rumah sakit ini sebelum aku."
Ravina tertegun. "Apa?"
"Kasus pengadaan alat medis yang membuat ayahmu dituduh itu berhubungan langsung dengan rumah sakit ini. Dan aku datang ke sini bukan kebetulan."
Ravina melangkah mendekat. "Jadi kau tahu siapa dalangnya?"
"Aku punya dugaan," jawab Darian pelan. "Tapi tidak cukup bukti. Karena itu aku tidak bisa bicara banyak."
"Kau tahu ayahku dihancurkan oleh fitnah, tapi kau diam saja?" suara Ravina bergetar menahan amarah.
"Diam bukan berarti tidak bergerak."
"Kalau begitu buktikan!" Ravina menghentak meja di depannya. "Buktikan kalau ayahku tidak bersalah!"
Darian bangkit berdiri, jarak mereka kini hanya beberapa langkah.
"Aku sedang berusaha, Ravina. Tapi kau tidak tahu seberapa dalam jaringan orang-orang itu."
"Kalau begitu kenapa kau terlihat seperti bagian dari mereka?!" seru Ravina, matanya berkaca-kaca. "Semua orang bilang kau yang menjebak ayahku!"
Hening sejenak.
Hanya suara hujan di luar jendela yang terdengar.
Lalu Darian berkata pelan, tapi tajam, "Kalau aku benar-benar ingin menghancurkan ayahmu, kau tak akan berdiri di sini sekarang."
Ravina terdiam, napasnya memburu.
Ada sesuatu di tatapan Darian yang membuatnya sulit berpaling - campuran luka, amarah, dan kejujuran yang dingin.
"Kenapa aku harus percaya padamu?"
"Karena kau tidak punya pilihan lain."
Darian mendekat, begitu dekat hingga Ravina bisa merasakan aroma khas sabun antiseptik di jasnya.
Tatapan mereka bertemu, intens, penuh ketegangan yang sulit dijelaskan.
Untuk sesaat, waktu seolah berhenti.
Lalu suara keras dari luar pintu memecah momen itu.
"Pak Direktur! Ada audit dari kementerian!" teriak salah satu staf.
Darian segera menjauh. "Pergilah, Ravina. Jangan sampai mereka melihatmu di sini."
"Tapi-"
"Sekarang!"
Ravina berlari keluar lewat pintu belakang ruangan itu. Begitu sampai di koridor gelap, ia sempat menoleh.
Darian berdiri di balik meja, menyambut kedatangan dua orang berpakaian resmi yang memasuki ruangan.
Dan dari balik dinding, Ravina mendengar sepenggal percakapan yang membuat darahnya berdesir.
"Dr. Darian, kami mendapat laporan bahwa Anda terlibat dalam penyelewengan dana pengadaan alat medis tahun lalu."
Darian menjawab tenang, "Silakan periksa semua dokumen saya."
"Tapi ada bukti transfer atas nama ayah dr. Ravina Aleysha Pratama."
Ravina menutup mulutnya, menahan napas agar tak bersuara.
Nama ayahnya lagi. Selalu nama ayahnya.
Tapi kali ini, bukti itu justru mengarah ke Darian.
Dan di saat yang sama, suara misterius di telepon semalam kembali menggema di kepalanya.
"Hati-hati dengan Darian Mahendra. Dia bukan orang yang kau kira."
Ravina berlari keluar dari koridor itu, hatinya kacau, dadanya sesak.
Satu hal pasti - mulai malam ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Antara kebenaran dan kebohongan, antara kepercayaan dan kebencian, ia kini terjebak di tengah badai yang semakin besar.
Dan di dalamnya, berdiri seorang pria bernama Darian Mahendra Arsatama, yang entah akan menjadi penyelamatnya... atau kehancurannya.
Suara hujan deras mengguyur atap rumah sakit malam itu, seperti hendak menenggelamkan semua kegelisahan yang Ravina simpan. Ia masih duduk di kursi ruang residen, memandangi layar komputer yang sudah mati sejak satu jam lalu. Jari-jarinya kaku di atas meja, matanya kosong menatap pantulan wajahnya di monitor hitam itu.
Hari ini adalah hari terpanjang dalam hidupnya.
Sejak pagi, berita tentang ayahnya muncul lagi di televisi: "Eks Menteri Kesehatan, Haryo Pratama, kembali diperiksa atas dugaan aliran dana proyek alat kesehatan." Nama itu disebut berulang-ulang, dan setiap kali terdengar, dada Ravina seperti diremas.
Bahkan pasien dan perawat di bangsal tidak bisa menahan diri untuk membicarakannya.
"Kasihan ya, anaknya kerja di sini," kata salah satu perawat yang tak sadar Ravina berdiri di belakangnya.
"Kau pikir kasihan? Aku sih malu kalau punya bapak kayak gitu," jawab yang lain, setengah berbisik.
Ravina tersenyum miris. Ia sudah kebal dengan kata-kata seperti itu, tapi malam ini rasanya berbeda. Mungkin karena ia sudah terlalu lelah pura-pura kuat.
Pintu ruangannya terbuka tiba-tiba.
Darian muncul, masih dengan jas putih dan kemeja abu yang sudah sedikit kusut. Rambutnya basah karena hujan. Di tangan kirinya ada map berisi laporan operasi sore tadi.
"Dokter Ravina," suaranya dalam, tegas seperti biasa. "Anda belum pulang?"
Ravina menoleh malas. "Tidak, Pak Direktur. Saya sedang menyelesaikan catatan medis pasien bedah thoraks."
Darian mendekat, menaruh map di meja. "Saya sudah periksa catatan itu. Sudah cukup. Pulanglah. Besok Anda ada shift pagi."
"Ada banyak yang belum saya perbaiki."
"Kalau Anda jatuh pingsan di tengah operasi besok pagi, itu justru menambah masalah."
Nada suaranya tidak marah, tapi tajam. Ravina menunduk, menahan desakan emosi yang tiba-tiba naik.
"Masalah saya sudah terlalu banyak, Pak," katanya pelan. "Satu lagi juga tidak akan mengubah apa pun."
Darian diam. Pandangannya menusuk. "Anda masih membawa beban itu ke sini?"
"Kalau Bapak bicara soal kasus ayah saya, saya mohon jangan mulai lagi. Saya datang ke sini untuk bekerja, bukan untuk dihakimi."
"Siapa yang menghakimi?"
"Semua orang," Ravina balas cepat. "Dan Anda salah satunya."
Hening. Suara hujan semakin keras di luar. Darian menatapnya lama, ekspresinya sulit dibaca.
"Kalau saya ingin menghakimi Anda, saya sudah memecat Anda sejak minggu pertama saya masuk ke sini," katanya datar.
Ravina menelan ludah. Ia tahu pria itu tidak sedang menggertak. Darian bisa saja menyingkirkannya kapan pun.
"Tapi saya tidak melakukan itu," lanjut Darian. "Karena saya tahu Anda dokter yang baik."
Ravina menatapnya, antara bingung dan curiga. "Kenapa Anda bicara seolah tahu siapa saya?"
"Karena saya pernah di posisi Anda."
Ucapan itu membuat Ravina tertegun. "Apa maksud Anda?"
Namun Darian hanya menghela napas, memungut mapnya kembali, lalu berjalan ke arah pintu. "Tidak semua orang di dunia ini sebersih yang terlihat, Dokter Ravina. Termasuk saya."
Pintu tertutup.
Ravina masih terpaku. Ada sesuatu dalam nada suaranya - semacam kelelahan yang sama seperti miliknya. Tapi pria itu terlalu pandai menutupi perasaan.
Keesokan paginya, Ravina datang lebih awal. Matanya sembab karena tidak tidur, tapi ia berusaha terlihat normal.
Di lobi rumah sakit, sekelompok wartawan sudah menunggu. Kamera dan mikrofon diarahkan pada siapa pun yang mengenakan jas dokter.
"Dokter Ravina! Apakah benar Anda anak dari Haryo Pratama?"
"Bagaimana komentar Anda soal kasus ayah Anda?"
"Apakah benar Anda juga terlibat dalam proyek yang sama?"
Ravina langsung memucat. Ia ingin lari, tapi langkah-langkah cepat seseorang datang dari belakang.
Darian.
Tanpa bicara, pria itu menarik pergelangan tangannya, membawa Ravina menembus kerumunan wartawan dengan tatapan tajam.
"Maaf, area ini untuk staf medis saja. Kalian tidak punya izin!" suaranya menggema keras. Para wartawan sempat berdebat, tapi Darian hanya menatap dingin dan berkata pelan, "Saya akan pastikan izin liputan kalian dicabut."
Mereka langsung mundur.
Begitu mereka sampai di lift, Ravina menarik tangannya.
"Saya bisa sendiri!" katanya dengan nada tersinggung.
Darian tetap diam, menatap layar lift tanpa ekspresi. "Anda seharusnya melapor pada pihak keamanan agar wartawan itu dilarang masuk."
"Saya tidak ingin memperkeruh keadaan."
"Anda justru memperkeruh keadaan dengan diam."
"Kenapa Anda peduli?" Ravina menatapnya dengan mata berair. "Kenapa Anda tidak ikut saja dengan orang-orang yang menatap saya seolah saya kriminal?"
Lift terbuka. Darian melangkah keluar, lalu menoleh sebentar. "Karena saya tahu, tidak semua anak bisa memilih dosa orang tuanya."
Ravina membeku. Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari apa pun.
Ia menatap punggung pria itu yang menjauh. Untuk pertama kalinya, ia tak tahu harus membenci atau berterima kasih padanya.
Jam makan siang.
Cafetaria rumah sakit penuh. Ravina membawa nampan, mencari tempat duduk kosong. Namun bisik-bisik kembali terdengar.
"Itu dia, anak mantan menteri."
"Katanya ayahnya korupsi ratusan miliar, ya?"
"Makanya dia bisa jadi dokter secepat itu, mungkin dibeli juga."
Ravina menggigit bibir. Ia meletakkan makanannya di meja paling pojok, mencoba menahan air mata.
Seseorang duduk di depannya - tanpa permisi.
Darian. Lagi.
"Boleh saya duduk?" tanyanya datar, padahal sudah duduk.
Ravina mengangkat alis. "Kalau saya bilang tidak?"
"Sudah terlanjur."
Ia menatap piring Ravina yang hampir tak disentuh. "Anda bahkan tidak makan."
"Saya tidak lapar."
"Tidak bisa. Tubuh Anda tidak boleh lemah."
Ravina mendengus. "Anda ini direktur atau pengasuh pribadi saya?"
"Direktur yang tidak ingin kehilangan salah satu dokternya karena kelelahan."
Ravina menatapnya, antara jengkel dan terharu. "Anda benar-benar tidak punya ekspresi lain ya selain dingin?"
"Punya," Darian berkata sambil menatap matanya langsung. "Tapi Anda tidak akan siap melihatnya."
Ravina mendadak kehilangan kata.
Ada sesuatu di sorot mata pria itu - campuran peringatan dan luka. Ia menunduk, jantungnya berdetak cepat tanpa alasan.
Malam itu, Ravina pulang larut. Hujan turun lagi, kali ini lebih deras. Jalanan sepi, hanya suara klakson sesekali.
Begitu sampai di parkiran apartemen, ia melihat sosok lelaki berdiri di bawah atap kecil.
Darian.
Ia menatap Ravina sejenak sebelum berkata, "Saya mengantar berkas hasil operasi yang Anda minta tanda tangani tadi siang."
"Kenapa tidak lewat email saja?"
"Saya ingin memastikan Anda sampai rumah dengan selamat."
Ravina terdiam. Ia berusaha menutupi rasa bergetar di dada.
"Kenapa Anda terus saja melakukan hal-hal seperti ini?"
"Karena Anda butuh seseorang untuk memastikan Anda tidak runtuh."
Ravina tertawa pahit. "Saya tidak butuh dikasihani."
"Kalau saya bilang saya tidak kasihan?"
"Lalu apa?"
"Entahlah," katanya pelan. "Mungkin... saya hanya ingin memastikan seseorang tidak tenggelam seperti saya dulu."
Ravina menatapnya lama, bingung, sebelum akhirnya mengambil berkas itu dari tangannya.
"Apa maksud Anda dengan 'seperti saya dulu'?"
Darian menatap langit yang gelap. "Saya juga pernah hidup dengan nama besar. Sampai semuanya direnggut dalam semalam."
Ravina terpaku. "Keluarga Anda?"
"Orang tua saya... dipenjara karena kasus suap bertahun-tahun lalu. Saya tumbuh dengan kebencian terhadap nama saya sendiri. Jadi saya tahu persis apa yang Anda rasakan."
Ravina tak tahu harus berkata apa.
Untuk pertama kalinya, topeng dingin pria itu retak. Di balik jabatan dan ketegasannya, ternyata ada masa lalu yang serupa. Luka yang sama.
"Kenapa Anda memberitahu saya ini?"
"Karena Anda satu-satunya orang yang mungkin bisa mengerti," jawabnya pelan.
Hening. Hanya suara hujan di antara mereka.
Lalu Ravina membuka pintu apartemennya, berbalik menatap pria itu. "Terima kasih, Pak Direktur."
Darian tersenyum samar - senyum pertamanya yang Ravina lihat.
"Darian saja."
"Baiklah... Darian."
Pintu menutup.
Tapi bahkan setelah itu, Ravina masih berdiri di balik pintu, mendengarkan langkah kaki pria itu yang perlahan menjauh.
Entah kenapa, dadanya terasa hangat. Tapi di saat yang sama, ada rasa takut yang merayap.
Sesuatu sedang berubah. Dan Ravina tahu, ia tidak siap untuk perubahan itu.
Keesokan paginya, Ravina datang ke rumah sakit dengan perasaan aneh. Ia merasa lebih tenang, tapi sekaligus gelisah.
Baru saja ia mengganti jas dokter, perawat Livia datang tergesa-gesa.
"Dokter Ravina! Ada pasien gawat di ruang IGD, dan Pak Direktur yang memimpin!"
Ravina segera berlari.
Begitu masuk, ia melihat Darian sudah mengenakan sarung tangan bedah, berdiri di samping meja operasi darurat.
"Dokter Ravina, bantu saya. Kita harus lakukan laparotomi segera," katanya cepat.
Tanpa pikir panjang, Ravina bergabung. Tangan mereka bekerja cepat, gerakan mereka sinkron seolah sudah lama berpasangan di ruang operasi.
Suasana tegang. Detak monitor jantung naik turun.
"Clamp!"
"Sudah!"
"Pressure dropping, 80 over 40!"
"Tambahkan saline, cepat!"
Darian menatap Ravina, mata mereka bertemu di balik masker. Ada bahasa tak terucap di sana - saling percaya.
Beberapa menit kemudian, suara monitor stabil kembali.
"Pressure normal. Pasien stabil," ujar Ravina lega.
Darian menarik napas panjang, menatap timnya. "Kerja bagus, semua."
Begitu operasi selesai, mereka berdua keluar ke koridor. Hujan di luar sudah berhenti.
Ravina menatap tangannya yang masih bergetar. "Saya hampir lupa rasanya berhasil menyelamatkan nyawa seseorang," katanya lirih.
Darian menatapnya. "Itu karena Anda terlalu sibuk menyelamatkan diri sendiri."
Ravina tersenyum tipis. "Mungkin benar."
Darian mendekat sedikit. "Mulai sekarang, jangan biarkan masa lalu mengendalikan Anda. Biarkan saya yang urus sisi buruk dunia ini. Anda hanya fokus menyembuhkan orang."
Ravina menatapnya lama. Tatapan itu bukan lagi tatapan dokter pada direktur, tapi dua jiwa yang mulai saling mengenali luka masing-masing.
Dan di saat itulah, pintu ruang operasi terbuka lagi. Seorang staf datang tergopoh-gopoh.
"Pak Direktur! Media sudah menunggu di lobi. Mereka membawa bukti baru soal kasus lama keluarga Anda!"
Waktu seolah berhenti.
Ravina menatap Darian, terkejut. "Keluarga... Anda?"
Darian memejamkan mata sebentar, wajahnya menegang.
"Sepertinya... masa lalu saya juga belum selesai, Dokter Ravina."