Bab 1

HAPPY READING

"Tidak! Ja-jangan dekati aku! Pergi!" teriak Bianca ketakutan. Tubuh itu meringkuk di pojokan, menyembunyikan kepalanya. Suara erangan kian terdengar jelas memekakkan telinga. Bianca menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Matanya terpejam erat, seolah dia tidak ingin melihat apapun.

Bianca kembali berteriak lantang dan keras ketika sosok pria misterius dengan perawakan tubuh tinggi besar dan wajah yang sangat menakutkan mendekatinya. Tangan kekar itu memegang kakinya dengan cengkeraman yang sangat kuat.

"Lepas! Tolong lepaskan aku," ronta Bianca ketakutan. Gadis itu makin takut ketika pria itu menarik kuat kakinya. Pria itu menarik dengan kasar hingga beberapa kali tubuhnya terbentur.

"Aaaahh!" teriaknya kencang membuatnya terbangun dari tidurnya. Bianca meraup-kan kedua tangannya ke muka. Keringat membasahi tubuhnya. "Ternyata aku hanya bermimpi, tapi kenapa seperti nyata." Bianca mengelap keringat yang mengalir melewati pipinya.

"Aku haus sekali ...." Bianca memegang lehernya. Lalu menyibakkan selimut dan menurunkan kedua kakinya.

Bianca melangkah menuruni anak tangga dan menuju ke dapur. Membuka lemari es dan mengambil sebotol air mineral. Bianca duduk dan membuka tutup botol, lalu meneguknya. Bianca diam dan menatap kosong ke depan. Pikirannya jauh kembali menerawang tentang mimpinya yang terjadi beberapa menit yang lalu.

"Ah, mikir apa aku ini," gumamnya lalu beranjak dari kursi kembali ke lantai atas.

Di tempat lain, kamar yang bersebelahan dengan kamar Bianca. Lisa Vallage meremas selimutnya, tubuhnya tampak bergetar hebat, keringat mulai membasahi tubuhnya. Kedua tangannya tampak sibuk menghalau sesuatu.

"Ti-tidak ... ja-jangan-jangan sentuh aku!" teriaknya.

Bianca yang tengah berjalan menuju kamarnya, sayup-sayup mendengarkan sesuatu. Bianca memasang kupingnya dengan tajam, dia berusaha menangkap suara tersebut.

"Seperti suara Lisa. Ada apa dengannya? Apa dia mengalami hal yang sama sepertiku?" pikir Bianca. Dia pun bergegas berlari menuju kamar Lisa.

Untung pintu kamar Lisa tidak terkunci, Bianca langsung masuk ke dalam kamar dan melihat Lisa seperti sedang menahan sesuatu. Ya, Lisa sepertinya sedang dalam pengaruh mimpinya. Bianca bergerak cepat menghampiri sisi kanan tempat tidur Lisa. Dia langsung menyadarkan Lisa dari mimpinya.

"Lisa ... Lisa, bangun!" Bianca menggoyangkan tubuh Lisa berlanjut menepuk pipi Lisa.

Lisa langsung terbangun dengan napas tak beraturan, keringat mengucur setetes demi setetes melewati pipinya hingga berakhir pada dagunya. Bahunya bergejolak naik turun serta degup jantung dua kali lebih cepat. Lisa memegangi dadanya dan matanya terpejam. Gadis itu berusaha menenangkan diri.

"Minumlah ini." Bianca memberi botol air mineral yang dia bawa tadi. Lisa segera meminum air dalam botol itu. "Kau kenapa? Apa kau baru saja mengalami mimpi buruk?" tanya Bianca menepuk-nepuk bahu Lisa.

"A-aku baru saja mengalami mimpi buruk." Lisa menganggukkan kepalanya, menatap Kakaknya yang duduk di sampingnya. "Apa Kak Bianca juga-"

"Iya, beberapa waktu yang lalu aku juga bermimpi buruk," balas Bianca.

"Kenapa bisa kebetulan seperti ini," sambung Lisa.

"Apa mimpi kita sama dan ada kaitannya?" Bianca mengerutkan alisnya.

"Aku tidak tahu dan kenapa aku jadi merasa merinding mengingatnya." Lisa memegang tengkuknya.

"Apa kau mau-"

"Tidak, Kak. Aku tidak mau mendengarkannya sekarang." Lisa menyela ucapan Bianca. Lalu dia membaringkan tubuhnya lagi ke ranjang. Merasa ada yang bergerak, Lisa bangun dan mencegahnya agar tidak pergi.

"Kak Bianca mau ke mana?" cegah Lisa memegang tangan kiri Bianca.

"Aku mau kembali ke kamar," imbuh Bianca.

"Tidak. Aku mau Kak Bianca tidur di sini bersamaku!" pinta Lisa.

Bianca menarik napas dan memutar bola matanya. "Baiklah." Gadis itu tidak bisa menolaknya permintaan adiknya. Dia pun kembali naik ke atas ranjang dan tidur di samping Lisa. Bianca menepuk-nepuk paha Lisa agar dia tidur kembali.

°°°

Pagi itu Lisa hanya terdiam menatap piring di depannya yang berisi dua rangkap roti oles selai strawberry. Claire yang memperhatikan putri keduanya tampak heran.

"Kenapa rotimu tidak di makan? Kau mau berapa menit lagi menatap roti itu?" tegur Claire. Dari atas terdengar derap kaki yang berlari. Bianca menuruni anak tangga sambil menenteng totebag-nya.

"Pagi semua ...," sapa Bianca langsung duduk dan meraih segelas susu hangat. Dia meminum susu itu sambil melirik Lisa. "Roti itu tidak akan berubah bentuk walau kau terus-menerus melototi-nya." Bianca mencomot roti milik Lisa dan spontan Lisa protes.

"Hei ... ini rotiku!" pekik Lisa merebut kembali rotinya. "Kau sudah punya jatah roti sendiri, kenapa masih mencomot roti milikku!"

Bianca kembali duduk di kursinya, dia tertawa terkekeh-kekeh melihat tingkah pola adiknya. Lalu meraih roti yang ada di depannya.

"Kenapa kau memakan rotimu seperti itu." Claire heran melihat Bianca.

"Maaf Bu, jam sudah mepet. Aku harus segera berangkat biar tidak ketinggalan bus." Bianca meneguk susu hangatnya sampai habis dan dia segera pamit dengan memakan sisa rotinya.

"Kaak, kau mau meninggalkanku?" teriak Lisa dengan mulut penuh dengan roti.

"Kau mau ikut denganku atau di antar Mommy?" kata Bianca dari balik tembok.

"Sudahlah, biar Mommy yang antar kau ke sekolah. Mommy ada urusan juga di luar." Claire membereskan meja makannya dan segera bersiap-siap.

"Baiklah," balas Lisa sambil mengunyah roti potongan terakhir.

"Pelan-pelan makannya, nanti kau bisa tersedak."

Claire memanaskan mesin mobilnya. Dia memperhatikan make up-nya pada kaca tengah. Sedangkan Lisa sibuk memasang seat-bell, lalu dia melirik Ibunya.

"Mommy hari ini akan pergi ke mana?" tanya Lisa penasaran.

"Hmm ... hari ini Mommy akan ke rumah Kakek mu, lalu-"

"Menemuinya?" sela Lisa menyandarkan kepalanya dan menatap ke depan menembus kaca saat mobil yang dinaikinya mulai berjalan menyusuri kota.

"Ah-soal itu-Mommy-"

"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, Mom." Lisa kembali menyela perkataan Claire dan itu membuat wanita itu hanya diam tidak melanjutkan perkataannya.

Dalam perjalanan kurang lebih lima belas menit, mereka berdua hanya diam seribu bahasa. Sesekali Claire melirik ke arah Lisa. Sesampainya di sekolah Lisa, gadis itu langsung turun tanpa basa-basi terhadap Ibunya. Claire hanya menarik napas melihatnya.

"Maafkan Mommy, Lis. Mommy memang bersalah dalam hal ini. Mommy janji akan segera menyelesaikan masalah ini."

Hari beranjak siang, matahari bersinar sangat terik. Lisa terduduk di taman sekolah dengan pandangan kosong. Bianca yang baru keluar dari perpustakaan heran melihat adiknya yang sedang melamun di taman sekolah.

"Dia kenapa? Sedang banyak masalah kah? Kenapa melamun di taman siang-siang begini," gumamnya.

Bianca melangkah mendekati Lisa. Saat sudah dekat dengan Lisa yang hanya beberapa jengkal. Timbullah rasa ingin menjahili Lisa.

Hmm ... aku kerjain saja ini orang, batin Bianca tersenyum layaknya iblis yang ingin meracuni otak orang-orang. Bianca berjalan mengendap-endap pelan di belakang Lisa. Saat hendak memberi kejutan pada Lisa. Gadis itu sudah menoleh terlebih dulu ke belakang.

"Tidak lucu tahu, Kak. Seperti anak kecil saja main seperti itu," kesal Lisa.

Bianca menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Lalu dia duduk di samping Lisa.

"Lagi pula kenapa kau melamun? Tidak baik siang-siang melamun di taman, nanti kesambet setan lewat," ledek Bianca. Lisa langsung melirik Bianca.

"Tidak lucu!" dengkus Lisa.

"Ha ha ha ...." Justru Bianca malah tertawa, dia seperti meledek adiknya. "Kau ini sedang banyak pikiran?" tanya Bianca.

"Tidak!" Lisa menggelengkan kepalanya.

"Atau karena mimpi buruk itu?" Bianca menatap Lisa dengan penuh tanda tanya.

"Tidak!" elak Lisa.

Mimpi buruk yang akhir-akhir ini dialami oleh Bianca dan juga Lisa sangat membuat mereka resah. Mimpi itu juga membuat keduanya tidak fokus. Rasa takut dan was-was menyerang mereka.

Mimpi buruk yang tidak hanya semalam terjadi, akan tetapi mimpi itu selalu menghantui mereka tiap malam. Sosok misterius dengan tubuh tinggi besar selalu datang ke dalam mimpi mereka.

Sebenarnya apa yang sedang mengganggu pikiran Lisa?

°°°

Lisa duduk di bawah pohon rindang yang ada di belakang rumahnya. Di tangan kirinya memegang sebuah buku gambar dan tangan kanannya memegang sebuah pensil.

Lisa duduk sambil menatap cakrawala senja. Langit yang berwarna oranye kemerahan bercampur dengan sisa semburat warna putih dan biru. Sungguh sangat indah dipandang mata.

Putri kedua Claire ini memang menyukai menggambar. Dia sangat berbeda dengan Bianca yang suka bersolek dan menyanyi.

Bianca melintasi pintu belakang, langkah kakinya terhenti dan Bianca melangkah mundur beberapa langkah. Dia melirik keluar dan melihat Lisa duduk dengan kedua kaki selonjor.

"Sedang apa di situ?"

Lisa menoleh dan hanya melihat Bianca sekilas, lalu kembali memperhatikan langit senja. Lisa mengangkat pensilnya ke atas, meletakan fokus target yang ingin dia lukis saat itu.

Bianca yang merasa dicueki hanya menggelengkan kepalanya dan kembali melangkahkan kakinya ke dapur.

Selang beberapa menit Bianca kembali melintasi pintu belakang dengan membawa gelas. Bianca lalu duduk di ambang pintu dan memperhatikan adik perempuannya sedang sibuk mencorat-coret buku gambarnya.

Bianca berdecak, lalu mengangkat gelasnya dan meneguk susu hangatnya.

"Kau seperti tidak ada kerjaan lainnya. Kenapa selalu menguntitku?"

"Hah? Siapa yang menguntitmu? Jangan GR!" Bianca mengusap bekas susu yang ada di ujung bibirnya. "Aku menguntit apa? Aku dari tadi duduk di sini dan tidak melakukan apapun. Kenapa jadi kau yang sewot."

"Kau selalu penasaran dengan apa yang aku lakukan."

"Tidak!" elak Bianca. Sejujurnya memang Bianca penasaran, akan tetapi dia gengsi.

Lisa tidak merespon Bianca, dia kembali menggerakkan pensilnya di atas kertas putih. Entah apa yang sedang di gambar oleh Lisa.

Ah, dasar penggemar rahasiaku. Kenapa tidak bilang jujur saja kalau kau nge-fans sama adikmu ini. Lisa membatin sambil fokus menggambar.

Lisa semakin fokus dan cuek. Hal itu membuat Bianca makin penasaran.

"Memangnya dia sedang menggambar apa dan kenapa dia begitu seserius itu," lirihnya pelan.

Bianca berjalan mengendap-endap. Dia berjalan agak menjauh dari tempat Lisa agar mengecohnya, lalu dia memutar kembali. Berdiri sebentar dengan berakting menatap langit. Lisa hanya meliriknya sekilas. Namun, dia tidak sadar jika Bianca berjalan pelan di belakangnya dan mengintip hasil gambaran Lisa.

Betapa terkejutnya Bianca saat melihat hasil gambar tangan milik Lisa. Matanya membulat sempurna dan mulutnya menganga.

TO BE CONTINUE

Bab 2

Lisa memang mempunyai kepekaan yang sangat tajam. Entah apa yang dia rasakan tentang mimpi tersebut. Bukan hanya mimpi yang sedang dia pikirkan, tapi ada beberapa hal yang sedang dia pikirkan juga. Sedangkan Bianca terlihat santai menanggapi mimpi buruk itu. Ya, Bianca memang tipikal perempuan yang cuek dan masa bodoh. Berbeda dengan Lisa yang begitu memperhatikan semuanya.

Kedua putri dari Claire Vallage ini kadang memang tidak pernah akur. Mereka kadang berselisih pendapat atau pun meributkan soal laki-laki. Ah, lebih tepatnya pacar.

Apa Bianca dan Lisa punya pacar? Atau kah mereka berdua berpacaran dengan laki-laki yang sama?

Tentu saja tidak. Mereka memang mempunyai banyak teman terutama para kaum adam. Bianca dan Lisa memang mempunyai paras yang cantik, mewarisi kecantikan alami dari Claire. Tak heran jika di sekolah Bianca dan Lisa menjadi dambaan para kaum adam.

Dua saudara yang hanya terpaut usia satu tahun ini memang kadang akur dan kadang cekcok. Ini sudah wajar dikalangan kakak-adik. Namun, Bianca dan Lisa mempunyai sifat yang berbeda.

Lisa mencebik, dia menarik napas panjang dan mengembuskan dengan kasar. Dia terdiam lama tidak menjawab pertanyaan dari Bianca.

"Aku tahu kau akan seperti ini, tapi jika kau butuh tempat curhat. Aku buka 24 jam untuk mendengarkan curhatan mu," ujar Bianca.

Bianca bangkit dari duduknya. Namun seperti biasa, apa yang dilakukan oleh Lisa. Dia kembali mencegah Bianca dengan menarik tangannya. Bianca menoleh menatap Lisa.

"Ada apa?" tanyanya.

"Ini soal—"

Teeeettt!

Bunyi bel berbunyi sebanyak tiga kali yang menandakan bahwa kelas akan mulai. Lisa mengurungkan untuk bercerita pada Bianca.

"Tidak jadi. Aku akan menceritakan nanti. Bel sudah berbunyi, aku harus masuk ke kelas," pamit Lisa meninggalkan Bianca.

"Kenapa dia jadi aneh seperti itu? Apa karena mimpi yang semalam atau karena hal lain—semisal soal Daddy?" Bianca merenung sesaat sebelum akhirnya sebuah suara memanggilnya.

"Kak, apa kau akan membolos?" teriak Lisa dari jauh, karena dia melihat Bianca masih berdiri di sana.

"Yee ... siapa juga yang mau membolos. Ini juga mau kembali ke kelas," balas Bianca berteriak.

Para murid telah masuk ke dalam kelas masing-masing. Siang itu adalah pelajaran yang terakhir sebelum para murid pulang ke rumah masing-masing. Bianca masing duduk termenung di bangkunya sambil berpangku dagu dan menatap keluar jendela. Kebetulan bangku Bianca dekat jendela besar.

Gulungan awan putih saling berkejaran di atas sana. Serasa seperti menonton film 3 dimensi di kaca besar. Bianca memang cuek dan masa bodoh, tapi ingatan dia masih merekam tentang mimpi tersebut.

Mimpi yang begitu menyeramkan, tapi kenapa bisa kebetulan sekali bisa terjadi bersamaan dengan Lisa malam itu. Apakah mimpi itu sebuah tanda atau kah hanya bunga tidur?

"Huft ... kenapa aku jadi parno memikirkan mimpi itu," gumam Bianca mengoceh lirih sendiri. Dia pun mengeluarkan buku dari dalam tasnya saat seorang guru masuk ke dalam kelasnya.

Siang itu Bianca mulai tidak fokus. Sama halnya dengan Lisa, adiknya. Di dalam kelas dia mulai sering melamun sampai berkali-kali Lisa harus kena tegur gurunya.

"Lisa!" Sebuah panggilan membuyarkan lamunannya.

"Eh, ada apa?" balas Lisa bengong.

"Apa kau tidak mendengarkan Bu Cherry memanggilmu?" Grace memberi kode dengan kepalanya ke depan. Lisa langsung menoleh dan menatap gurunya.

"Lisa, apa kau ada masalah? Kenapa Ibu lihat akhir-akhir ini kau sering melamun?" tanya Bu Cherry.

"Tidak, Bu!" jawab Lisa tegas.

"Lalu kenapa? Apa kau sedang sakit?" lanjut Bu Cherry bertanya.

"Tidak juga, Bu. Hanya saja—"

Teeeettt!!

Bunyi bel tanda pulang menyela ucapan Lisa. Itu membuat Lisa menjadi lega. Bu Cherry masih berdiri menatap Lisa, lalu dia membereskan buku-bukunya.

"Oke anak-anak. Pelajaran hari ini cukup sampai di sini. Kita akan menyambungnya minggu depan. Dan kau Lisa, Ibu minta kau fokus saat Ibu mengajar. Jika tidak, kau boleh keluar kelas saat pelajaran Ibu dimulai. Paham!" titah Bu Cherry.

"Paham, Bu." Lisa mengangguk. Dia berjalan lesu keluar dari kelasnya. Dari jauh Bianca berlari menghampiri Lisa.

"Kau kenapa tampak lesu?" tanya Bianca. "Apa kena marah gurumu?" lanjutnya.

"Tidak. Aku hanya lapar saja." Lisa beralasan.

"Oke. Kalau begitu ayo kita pulang." Bianca menggandeng tangan Lisa dan menunggu bus datang di halte bus. Dalam kebisingan yang dihasilkan kendaraan yang berlalu lalang di jalan. Lisa masih tampak dia menatap ke depan.

"Kak, aku merasakan ada yang aneh," ucap Lisa tiba-tiba. Ucapan Lisa sukses mengalihkan atensi Bianca yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.

"Maaf, kau bilang apa baru saja? Aneh? Apanya yang aneh, Lis?" tanya Bianca balik.

"Aku merasa kenapa mimpi kita itu bisa bersamaan, Kak. Bukankah itu sangat aneh," jelas Lisa sedikit berteriak karena suara kendaraan yang lewat.

"Ah, sudahlah. Kita akan membahas soal mimpi itu di rumah. Sekarang kita pulang, bus yang menjemput kita sudah datang." Bianca menarik tangan Lisa dan menaiki bus yang berhenti tepat di depan halte.

Bianca dan Lisa duduk di kursi bus paling belakang. Lisa duduk dipojokan sedangkan Bianca duduk di sampingnya. Bianca tengah asik dengan ponsel dan headset-nya, hingga membuat Lisa mengurungkan niatnya untuk bertanya.

Lisa menoleh ke arah Bianca dan menarik napas saat melihat sang kakak tengah asik sendirian.

"Ah, sudahlah. Dia memang selalu seperti itu. Tidak pernah bisa di ajak serius," dengkus Lisa mengalihkan pandangannya keluar jendela bus.

°°°

Claire duduk berhadapan dengan ranjang yang dimana sang Ayahnya terbaring di sana. Ayah Claire menderita kelumpuhan selama setahun ini. Dia hanya tidur dan terkadang diajak jalan-jalan oleh Claire menggunakan kursi roda. Sedangkan Ibu Claire sudah lama meninggal. Ayah Claire tinggal bersama dengan Janet, kakak pertama Claire. Hari itu Claire diminta untuk datang ke rumah Ayahnya. Ada hal yang ingin dibahas hari itu.

"Ada apa Ayah memanggilku ke sini?" tanya Claire dengan meraba lembut tangan Ayahnya.

"Sudah sampai mana prosesnya?" tanya pria tua tersebut.

"Itu—hmm—masalah itu, Ayah tidak perlu khawatir. Ayah jangan terlalu memikirkan masalahku itu. Aku jamin semua akan berjalan dengan lancar sampai selesai." Claire menenangkan sang Ayah. Tangannya menepuk-nepuk tangan sang ayah dengan lembut. Claire tahu kalau Ayahnya itu sangat mengkhawatirkannya.

"Di mana Bianca dan Lisa? Kenapa kau tidak membawa serta mereka berdua?"

"Mereka sekolah. Akhir pekan nanti aku akan mengajak mereka berdua menginap di sini," ujar Claire tersenyum.

"Aku sangat rindu dengan kedua cucuku itu. Janet belum bisa memberiku cucu."

"Ayah, jangan berkata seperti itu. Mungkin memang belum saatnya untuk Kak Janet," hibur Claire.

"Aku harap akhir pekan nanti kau membawa mereka ke sini, karena ada hal penting yang akan aku bicarakan padamu dan juga Janet." Sang Ayah menatap Claire dengan serius.

"Baiklah, aku pasti akan datang." Claire begitu penasaran saat melihat sorot mata Ayahnya. Di sana terpancar suatu rahasia yang belum diketahui oleh Claire. Sorot mata tua dan sayu itu begitu sangat serius menatap Claire, hingga membuat Claire bertanya-tanya.

Kenapa Ayah begitu terlihat sangat serius? Apa ini ada hubungannya dengan Dia? Claire bertanya dalam hatinya. Sesekali dia menatap wajah sang Ayah sambil tersenyum. Pria tua itu belum mengalihkan pandangannya pada putrinya itu.

"Apa Ayah sudah makan?" Claire berusaha mengalihkan suasana yang terlihat semakin sangat serius dan tidak membuat Claire nyaman, walaupun itu Ayahnya sendiri yang menatapnya.

"Ayah belum lapar. Pergilah makan, jika kau sudah merasa lapar. Tapi kau jangan sampai lupa akhir pekan nanti." Kembali pria tua itu mengingatkan Claire saat dia hendak beranjak dari tempat duduknya. Claire menatap sang Ayah dan menganggukkan kepalanya.

Saat Claire hendak membuka pintu kamar tersebut, kembali dia dikejutkan dengan ucapan Ayahnya.

"Cepatlah kau urus itu. Dari dulu aku tidak menyukainya. Aku menangkap ada yang tidak beres dalam dirinya. Hal ini membuatku selalu memikirkan kalian."

Claire membalikkan badannya dan tersenyum, "Ayah tidak perlu khawatir. Sekarang lebih baik Ayah istirahat." Claire keluar dari pintu dan melihat sang kakak sedang berbincang-bincang dengan suaminya. Claire pun menghampiri mereka berdua dan duduk disudut sofa. Janet memperhatikan Claire.

"Apa kau merasa ada yang aneh?" Janet menghampiri Claire.

Claire menarik napas dan menatap Janet, "Ayah—aku menangkap sorot mata yang aneh."

"Tidak perlu kau pikirkan itu. Maklumi saja, Ayah kan sudah tua. Mungkin saja Ayah hanya mengigau," tutur Janet.

"Soal akhir pekan?" Claire menatap Janet.

"Kalau soal itu aku juga tidak begitu tahu, Ayah akan membicarakan apa. Tapi ada baiknya kau datang saja ke sini."

"Aku akan datang bersama dengan Bianca dan Lisa," balas Claire.

Hari semakin sore, matahari sudah mulai redup. Kilauan cahayanya yang sangat menyilaukan kini telah berganti dengan cakrawala senja yang begitu indah. Warna oranye kemerah-merahan menghiasi langit kala itu. Sudah waktunya untuk pulang, Claire pun berpamitan pada ayahnya serta Janet dan suaminya.

"Tampaknya aku harus pulang sekarang. Aku takut anak-anak di rumah akan mencariku," ujar Claire.

"Pulanglah. Kau tidak perlu mengkhawatirkan Ayah," sahut Janet. Claire pun mengangguk. Dia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin.

Claire membunyikan klaksonnya dan setelah itu melaju pergi meninggalkan rumah sang Ayah. Dalam perjalanan pulang, pikiran Claire mulai tidak fokus. Dia masih tetap memikirkan kata-kata sang ayah. Karena tidak fokus menyetir mobilnya, Claire hampir saja menabrak pembatas jalan. Untung saja Claire sigap menginjak rem mobilnya, jika tidak mobil yang dikendarai Claire akan rusak menabrak pembatas jalan.

Jantung Claire berdegup sangat kencang, dua kali lebih kencang dari biasanya. Dia menundukkan kepalanya pada setir mobilnya dan menenangkan dirinya. Claire mengangkat kepalanya dan menatap ke depan. Asap keluar dari kap depan mobilnya. Claire menghela napas panjang.

"Oh, my God. Something wrong with me?" Claire memegang kepalanya.

Sebenarnya hal apa yang membuat Claire tidak fokus? Siapa yang dimaksud dengan dia?

TO BE CONTINUE

Bab 3

Claire sampai di rumah tepat jam tujuh malam. Dia membuka pintu belakang mobil dan mengeluarkan beberapa kantung plastik. Setelah itu dia menutup pintu garasi. Dia masuk melewati pintu belakang yang terhubung dengan garasi mobil. Claire tampak memperhatikan keadaan rumah, tampak sepi.

"Apa mereka sudah tidur?" Claire mengangkat tangannya dan memastikan bahwa saat itu memang benar jam tujuh lebih lima menit.

"Oh, Mommy sudah pulang," ucap Lisa dari dapur dengan membawa sebuah gelas. Claire sedikit berjingklak kaget. "Apa aku mengejutkan Mommy?" Lisa kembali bertanya.

"Ha ha ha—hanya sedikit. Ini Mommy belikan Pizza." Claire memberikan sebuah kotak pada Lisa. "Di mana Kakakmu, Bianca?" tanya Claire.

"Kak Bianca ada di ruang tengah sedang menonton televisi," jawab Lisa.

"Ya sudah, bawa itu dan kalian makanlah. Mommy akan membersihkan diri dulu." Claire berlalu dari hadapan Lisa dan naik ke lantai atas. Sedangkan Lisa membawa kotak Pizza ke ruang tengah.

"Kak, ini Pizza dari Mommy." Lisa menyodorkan sebuah kotak besar pada Bianca.

"Mommy sudah pulang? Di mana dia?" tanya Bianca sambil menerima sodoran kotak dari Lisa.

"Mommy sedang membersihkan diri," jawabnya sambil matanya terus memperhatikan televisi.

"Makan nih. Kau tadi bilang merasa sangat lapar," celoteh Bianca.

"Iya, nanti aku makan." Lisa meletakkan gelasnya di atas meja dan meraih Pizza di sampingnya.

Selang sepuluh menit, Claire ikut bergabung dengan kedua putri cantiknya. Duduklah Claire di samping Bianca yang sibuk mengunyah Pizza.

"Maaf, Mommy pulang agak malam." Claire mengambil sepotong Pizza di dalam kotak.

"Apa Grandfa baik-baik saja, Mom?" tanya Lisa.

"Weekend nanti, kalian akan Mommy ajak menginap di rumah Grandfa," balas Claire.

"Tapi—"

"Tidak ada kata penolakan. Ini permintaan Grandfa, jadi kalian berdua harus ikut," sahut Claire menyela ucapan Bianca.

"Selesai makan, kalian boleh tidur." Claire bangkit dari sofa dan melangkah ke pintu utama untuk memastikan bahwa pintu dan jendela sudah terkunci.

Malam semakin larut menandakan bahwa waktunya untuk orang-orang mengistirahatkan badan mereka. Di dalam kamar, Lisa masih terjaga dia duduk di ranjang dengan menyandarkan tubuhnya pada head board. Pandangan Lisa menerawang jauh menembus langit malam itu.

Tidak berbeda dengan Bianca. Gadis itu duduk di pinggiran jendela menatap langit malam yang saat itu banyak bertaburan bintang-bintang. Sekilas dia melihat sebuah bayangan di atas sana. Bianca mencebik saat mengingatnya.

"Aku rasa itu hanya bunga tidur, tidak lebih atau bahkan ada sesuatu dibalik mimpi itu." Bianca bersedekah tangan.

Di sisi lain, Claire tampak duduk di lemari riasnya. Menatap dirinya sendiri di pantulan cermin yang ada di depannya. Dadanya terasa sesak saat itu, mengingat keputusan yang dia ambil. Tapi mungkin itu adalah keputusan yang terbaik untuk dirinya dan juga kedua anak-anaknya. Claire meraup kan kedua tangannya ke wajahnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangan tersebut.

Setengah ada rasa penyesalan dan setengah lagi dia merasa sangat lega. Namun, ada sedikit rasa khawatir yang mengganjal di hatinya. Itu bukan soal sang Ayah ataupun dia, tapi soal sebuah mimpi yang dia alami beberapa hari kemarin.

Ternyata bukan hanya Bianca dan Lisa yang mengalaminya, tapi Claire pun mengalami mimpi buruk itu. Akan tetapi Claire hanya dia saja, dia tidak mau menceritakan mimpi itu pada kedua putrinya.

Tentu saja Claire juga tidak mengetahui, jika Bianca dan Lisa pun mengalami hal yang sama. Hanya Bianca dan Lisa yang saling curhat. Kedua gadis cantik itu juga belum menceritakannya pada sang Ibu. Apakah mimpi mereka bertiga ada kaitannya?

°°°

Pagi itu seperti biasa, Bianca dan Lisa duduk di bangku halte bus yang terletak sekitar 25 meter dari rumahnya. Kedua gadis itu menunggu bus jemputan yang akan membawa mereka ke sekolah. Bianca duduk asik memegang ponselnya, sedangkan Lisa sibuk mengunyah roti.

"Kenapa kau tidak sarapan, Kak?" tanya Lisa.

"Aku sudah membawanya untuk bekal makan siang nanti," jawab Bianca dengan tatapan fokus ke layar ponselnya. Belum sempat Lisa membalas ucapan Bianca, sebuah mobil berhenti tepat di depan Bianca dan Lisa. Dari dalam mobil keluar sosok seorang pria berpakaian rapi lengkap dan melangkah mendekati kedua gadis itu.

Bianca dan Lisa kompak menatap sosok pria itu dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Lisa langsung menelan kunyahan roti terakhir saat tahu siapa sosok pria yang tengah berdiri di depannya. Sedangkan Bianca hanya berkedip beberapa kali saat menyadari siapa dia.

"Apa kalian tidak terlambat, jam segini masih duduk di halte bus?" Pria itu mengangkat tangan kirinya dan mengecek jam tangannya. "Ayo, biar Daddy yang akan mengantar kalian." Pria itu memberi tawaran pada Bianca dan Lisa.

Bianca segera berdiri dan tersenyum, "Wah, kebetulan sekali. Daddy mau antar kita berdua?"

"Tentu saja," balas pria itu tersenyum.

"Tidak!" tolak Lisa membuang mukanya.

"Kenapa? Kita bisa telat, Lis," rayu Bianca.

"Masa bodoh!" ucap Lisa ketus.

"Kau ini keras kepala sekali sih. Apa kau mau dihukum berdiri di depan kelas." Bianca dengan cepat menarik tangan Lisa dan mendorongnya masuk ke dalam mobil tersebut, lalu dengan sigap Bianca langsung duduk di sebelah kiri Lisa.

Adam menyusul masuk ke dalam mobil, memasang seat-bel dan mobil melaju pelan. Selama perjalanan, Lisa diam seribu bahasa. Dia sama sekali tidak pernah merespon apa yang dikatakan Adam. Berbeda dengan Bianca yang masih merespon Adam dengan baik. Walaupun bagaimanapun juga, Adam adalah Ayah kandungnya.

Sekitar tiga puluh menit mobil berhenti tepat di depan sekolah. Lisa langsung turun dari mobil tanpa basa-basi. Bianca hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sebelum keluar dari mobil, Bianca berpamitan dengan Adam.

"Daddy, terima kasih sudah mengantar kami sampai sekolah."

Pria itu tersenyum dan memberikan sesuatu pada Bianca, "Ini buat kalian." Adam memberikan uang pada Bianca.

"Tidak perlu, Dad. Uang jajan yang diberikan oleh Ibu sudah lebih dari cukup," tolak Bianca.

"Tidak apa. Ambillah buat kalian beli apapun." Adam sedikit memaksa hingga membuat Bianca mau menerimanya.

"Terima kasih, Dad." Bianca keluar dari dalam mobil dan bergegas menyusul Lisa.

Waktu begitu cepat berlalu, siang sudah kembali menyapa kota Nevada. Perdebatan sedikit terjadi antara Bianca dan Lisa. Hanya karena hal sepele saja, Lisa begitu marah dengan Bianca.

"Sudah aku bilang kalau aku tidak mau menerimanya," kekeh Lisa.

"Lis, kenapa kau begitu keras kepala sih?"

Lisa menatap kesal pada Kakaknya, "Kalau Kak Bianca mau, Kakak bisa ambil." Lisa beranjak pergi meninggalkan Bianca.

"Ini anak kenapa jadi aneh begini sih," gerutu Bianca menepuk keningnya sendiri.

Saat jam pulang sekolah, Lisa kembali dibuat kesal dengan kedatangan pria itu. Ya, Adam Thompson kembali menjemput Bianca dan Lisa. Pria itu sudah menunggu di depan sekolah kedua anaknya.

Adam duduk di atas kap mobilnya menunggu Bianca dan Lisa. Saat Adam melihat Bianca dan Lisa berdiri di gerbang sekolah, pria itu melambaikan tangannya ke arah kedua gadis itu

"Bianca ... Lisa ...," teriak Adam. Bianca membalas lambaian tangan Adam, akan tetapi Lisa justru cemberut melihat pria itu.

Bianca menarik tangan Lisa, namun gadis itu meronta. Bianca menatap Lisa dan melototi-nya. Lisa membalas melotot pada Bianca.

"Tidak usah bercanda kenapa sih, Kak?" dengkus Lisa. "Kakak mau pulang diantar dia? Apa kata Mommy?"

"Bukannya akan lebih baik jika kita bisa menghemat uang dan meringankan Mommy. Kalau dia memberi kita uang kan kita bisa mengumpulkannya."

Lisa menatap Bianca. Lalu setelah itu justru dia melangkah meninggalkan Bianca dan langsung masuk ke dalam mobil Adam. Entah apa yang dipikirkan oleh Lisa setelah mendengarkan penjelasan dari Bianca.

"Berhenti di sini saja," cegah Lisa. Mobil pun berhenti di depan halte tak jauh dari rumah mereka. Seperti biasa, Adam memberikan sedikit uang jajan untuk Bianca dan Lisa.

Saat mereka keluar dari mobil, tak sengaja Claire melihatnya di ujung jalan setapak sana. Claire terus menatap mobil Adam hingga mobil Adam menghilang di ujung jalan.

Setelah kepergian mobil Adam dan kedua anaknya sudah masuk ke dalam rumah, Claire melajukan mobilnya dan langsung memasukkan mobilnya ke dalam garasi.

Lisa melempar tasnya ke atas ranjang. Dia masih sedikit kesal terhadap Bianca, tapi ada baiknya juga ide dari Kakaknya itu. Lisa melirik beberapa lembar uang kertas yang berserakan di dekat tasnya.

"Aku merasa ingin sekali pindah dari kota ini dan meninggalkan semuanya termasuk orang itu!" Lisa menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit-langit kamarnya.

"Ya, aku ingin sekali pindah dan aku harap keinginanku ini bisa terkabul."

Itulah keinginan Lisa saat itu, pindah dari rumah itu dan menjauh darinya. Ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Lisa, tapi hanya Lisa yang mengetahuinya dan apakah keinginan Lisa akan terkabul?

"Aku membencinya. Sangat membencinya. Aku berharap tidak akan pernah bertemu dengan dia lagi!"

Lisa bangkit dari tidurnya. Menatap kaca besar yang ada di depannya. Pantulan gambar dirinya terlihat jelas di sana. Lisa menatap pantulan gambar dirinya di kaca, lalu gadis itu mencebik saat mendengar teriakan suara Bianca.

"Dia benar-benar sangat berisik. Telingaku menjadi sakit saat mendengar dia berteriak," gerutu Lisa.

Bianca masih terus berteriak. Dia bernyanyi dengan nada asal, irama yang sangat berantakan. Namun, tidak dipungkiri kalau suara Bianca memang sangat bagus.

Saat itu Bianca sedang menyanyikan lagu dari Adele dengan judul Someone Like You. Lisa benar-benar merasa sangat terganggu. Dia menutup telinganya, tapi suara itu masih bisa menelusup masuk ke dalam telinga Lisa.

Lisa mengambil bantal dan menutup mukanya. Dia menekan suaranya dan mengerang.

"Rasanya aku ingin menjerit." Lisa turun dari ranjangnya dan melangkah mendekati dinding kamarnya, lalu Lisa menepuk dinding itu dengan kuat

"Bianca!" teriak Lisa. "Suaramu benar-benar membuat telingaku sangat sakit. Bisakah kau pindah tempat jika ingin konser!"

Namun, Bianca bukannya berhenti. Justru dia kembali berteriak dengan suara jauh lebih lantang. Lisa memutarkan bola matanya dan tangannya meraih bantal.

"Aaarrggg!" teriaknya di balik bantal yang menutupi wajahnya.

TO BE CONTINUE

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED