BAB 1
Happy reading
********
Rene menekan tombol bell di dekat daun pintu. Rene melihat jam melingkar di tangannya menunjukkan pukul 18.30 menit. Dari kantor ia langsung ke rumah Dian. Ada sesuatu yang ingin ia ceritakan kepada sahabatnya itu. Ia tahu bahwa Dian pulang jam empat sore, sudah pasti wanita itu ada di rumahnya.
Rene menekan tombol itu lagi, hingga sang pemilik rumah membukakan pintu. Sedetik kemudian pintu terbuka. Rene menatap laki-laki berdiri tepat di hadapannya. Ia tahu bahwa laki-laki itu adalah saudaranya Dian yang bernama Tatang. Karena Dian sering menceritakannya. Ia sering sekali ke rumah Dian, tapi ini merupakan pertama kalinya ia bertemu dengan laki-laki ini.
"Dian nya ada?" Ucap Rene.
"Kamu siapa?" Tanya Tatang, memperhatikan wanita di hadapannya ini. Ia tidak pernah melihat wanita ini sebelumnya.
"Saya Rene, temannya Dian,"
Tatang memperhatikan penampilan Rene, jujur ia sering mendengar nama Rene sebelumnya dari ke dua orang tua dan adiknya. Nama itu memang tidak asing baginya. Tapi ia baru tahu, ternyata wanita inilah yang bernama Rene. Wanita itu ia yakini belum pulang ke rumah, karena baju kaku itu masih terpasang sempurna di tubuhnya.
"Jadi kamu namanya Rene, masuk aja," ucap Tatang, ia memperlebar daun pintu untuk wanita itu.
Rene lalu masuk ke dalam, ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Ruangan itu terlihat sepi, ia lalu menoleh ke arah laki-laki itu.
"Dian belum pulang, jadi tunggu aja, sebentar lagi juga pulang kok" ucap Tatang.
"Iya, Om sama tante, kemana?" Tanya Rene lagi.
"Masih di toko, katanya sih masih rame," ucap Tatang.
Tatang melirik Rene, "Kamu satu kantor sama Dian, seharusnya ya pulang sama-sama,"
"Aku beda devisi mas sama Dian. Aku accounting, pulangnya jadi beda. Tadi aku samperin ruangan Dian udah gelap. Kirain udah pulang ke rumah, ternyata enggak" ucap Rene, ia lalu duduk di sofa. Ia simpan tasnya di sampingnya.
"Kamu naik apa kesini?" Tanya Tatang penasaran.
"Naik taxi mas,"
"Mungkin sekarang Dian, lagi jalan sama pacarnya," ucap Tatang, ia juga duduk di samping Rene, agar ia bisa memperhatikan Rene. Wanita itu berwajah oriental.
Rene hanya diam, karena ia tahu bahwa pacarnya Dian udah datang dari New York. Rene lalu membuka tasnya, ia merogoh ponselnya yang mati total itu. Tidak lupa Ia mengambil charger,
"Mas, ada terminal nggak,?"
Tatang melihat ponsel dan charger di tangan Rene. Wanita itu memerlukan isi batrainya, "Ada, itu di dekat Tv banyak yang kosong,"
"Numpang ya mas,"
"Iya,"
Rene lalu berjalan menuju ruang Tv, sementara Tatang memperhatikan wanita itu, dan mengikutinya. Rene nampak tidak asing dengan rumah ini. Ia memperhatikan secara jelas rok span berwarna coklat terang itu, ada sedikit bercak di sana.
"Ren ..." ucap Tatang.
"Iya, mas," ucap Rene, setelah berhasil mencolok charger untuk ponselnya.
"Kamu datang bulan ya,"
Rene mengerutkan dahi, "enggak sih," ucap Rene ragu-ragu.
"Tapi itu ada bercak darah di rok kamu,"
Rene dengan cepat memeriksa roknya. Ia lalu menepuk jidat, dan pantasan aja dari tadi sore perutnya enggak enak.
"Jadi gimana dong mas,"
"Coba kamu ke kamar Dian, mungkin kamu bisa menggantinya," ucap Tatang.
Rene mengangguk dan mengikuti langkah Tatang. Jujur ia dari tadi deg-deg kan berdua saja di rumah ini bersama saudaranya Dian itu. Entahlah tatapan Tatang seakan menusuk ke hatinya. Kini ia berada di lantai dua, karena inilah kamar Dian.
"Kamar Dian di kunci, tapi aku punya kunci serep nya," ucap Tatang, membuka hendel pintu. Setelah itu ia buka pintu itu untuk Rene.
"Makasih mas," ucap Rene, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Tanpa ia sadari, kaki kiri Rene tersandung, karena ia menginjak salah satu sendal berbulu, yang di letakkan sembarangan oleh sang pemilik kamar. Otomatis tubuhnya oleng.
Tatang melihat tubuh Rene hampir ambruk, ia menarik Rene dari belakang. Dirinya bermaksud untuk menyelamati Rene, tapi dirinya malah jatuh bersamaan.
Rene meringis menahan sakit, karena dirinya tersungkur mencium lantai, ia membenarkan posisinya. Tatang melirik Rene yang berada tepat di sampingnya. Tatang dengan cepat mendekat,
"Hey, kamu enggak apa-apa," ucap Tatang, ia memperhatikan seluruh tubuh Rene, tidak ada satupun terlihat tanda-tanda terluka dari tubuh mulus itu. Tatang menelan ludah, karena rok sepan yang di kenakan Rene tersingkap ke atas, paha mulus itu sungguh membuatnya sulit berpikir jernih.
Rene memandang Tatang, tepat di atas tubuhnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, tiba-tiba saja terasa hening. Hanya hembusan nafas terdengar. Begitu juga Tatang, ia malah mengurung Rene dengan ke dua tangannya. Ini adalah posisi ini sangat intim. Dirinya memang benar-benar sadar atas apa yang ia lakukan.
"Mas ..." ucap Rene.
Tatang mengatur nafasnya, jujur ia masih sulit berpikir, karena ia memang menginginkannya.
"Bolehkah mas cium kamu," ucap Tatang seketika.
Lama terdiam satu sama lain, Rene bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan, atas ucapan laki-laki itu. Tatang menyadarkan dirinya, ia sudah gila, meminta secara terang-terangan mencium teman adiknya sendiri, di awal pertemuannya. Tatang lalu menarik diri dari hadapan Rene, dan mencoba menegakkan tubuhnya.
"Maaf," ucap Tatang.
Rene juga menegakkan tubuhnya dan ia lalu berdiri tidak jauh dari Tatang. Ia mendengar Tatang mengatakan maaf. Rene menahan debaran jantungnya. Rene menatap Tatang yanga akan meninggalkannya.
"Mas ..." ucap Rene.
Tatang menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Rene. Ia menatap mata sendu dan bibir kecil itu memang sungguh menggodanya dari tadi.
"Ya,"
"Boleh kok," ucap Rene pada akhirnya.
Tatang sempat tidak percaya apa yang di ucapkan wanita di hadapannya ini. Tatang berjalan mendekat, ia bisa memandang secara jelas wajah wanita itu. Ia tahu bahwa Rene menginginkannya juga.
"Kamar mas ada di sebelah," ucap Tatang.
"Kenapa,"
"Ya, mas cium kamu di kamar mas aja, jangan di sini," ucap Tatang, berusaha tenang.
"Kan Diannya enggak ada,"
Tatang tersenyum, ia meraih jemari Rene, "Tapi mas maunya di kamar mas," ucap Tatang, ia lalu menarik tangan Rene menuju kamarnya.
Ini pertama kalinya Rene masuk ke kamar laki-laki. Kamar itu terlihat rapi berwarna biru gelap. Ia melihat Tatang kini sudah di hadapannya. Ia merasakan tangan Tatang sudah di tengkuknya dan siap untuk menciumnya.
"Mas ..." ucap Rene.
"Ya, Ren," ucap Tatang, ia mengelus tengkuk Rene.
Rene tidak tahu sejak kapan Tatang sudah melumat bibir. Tatang menghisap bibir bawahnya seakan tidak ingin berhenti. Rene mengalungkan tangannya ke leher Tatang, ia membalas kecupan itu. Jujur ini bukan pertama kalinya ia ciuman, ia pernah melakukan itu kepada mantan-mantanya terdahulu. Lumatan-lumatan kecil itu kini berganti dengan lumatan rakus. Tatang seakan tidak ingin berhenti mencium bibir tipis itu.
Tatang mengangkat tubuh Rene, dan mendudukan tubuh itu di pangkuannya. Agar ia bisa mencium bibir itu dengan leluasa. Hingga akhirnya ke duanya ke habisan nafas. Tatang melepaskan pangutannya, ia memandang Rene. Rene membalas tatapannya.
Tatang menepis rambut Rene, kebelakang, ia meneruskan aksinya dan memeberi kecupan di leher itu. Ia mengecup leher itu secara perlahan, dan Rene memberi akses lebih agar mengecupnya lebih dalam.
Rene tidak sanggup lagi untuk tidak menahan desahannya. Ia meremas baju Tatang, karena laki-laki terus mengecupnya hingga dalam. Sentuhan-sentuhan itu hingga ia melupakan segalannya. Rasanya begitu nikmat dan seakan tidak akan berhenti. Rene meraih kepala Tatang, agar tidak melanjutkan aksinya. Ia memandang wajah tampan itu.
"Mas, aku datang bulan," ucap Rene pelan.
Tatang sadar apa yang ia lakukan. Ia hampir saja melupakan itu. Tatang mengangguk dan mulai mengerti. Ia lalu tersenyum kepada Rene, ini bahkan baru pertama kalinya ia bertemu dan ia sudah berani melakukan tindak kan sejauh ini.
"Mas hampir lupa," ucap Tatang, ia mengelus punggung Rene. Ia yakin kancing kemeja itu sudah hilang entah kemana, karena ia telah merobeknya tadi.
Tatang melepaskan diri dari tubuh Rene, sementara Rene merapikan kemejanya yang setengah terbuka. Rene mengerutkan dahi menatap Tatang.
"Mas, kemeja aku kancingnya hilang dua," ucap Rene.
Tatang tersenyum, dan ia tahu itu akibat ulahnya. "Yasudah kita beli yang baru. Mas antar pulang yuk, kamu naik taxi kan tadi," ucap Tatang.
"Tapi, aku ada perlu sama Dian mas,"
"Besok masih ada, kamu bisa bertemu Dian di kantor," ucap Tatang, ia melangkah menuju lemari, mengambil salah satu jaketnya. Ia mendekati Rene menyampir jaket itu di pundak Rene.
"Iya deh," ucap Rene.
********
"Kamu sudah punya pacar," tanya Tatang, membawa Rene ke bawah.
"Enggak ada mas,"
"Baguslah kalau gitu," ucap Tatang lalu tersenyum.
"Mas ajak jalan, kamu mau enggak," ucap Tatang lagi, ia membuka pintu mobil untuk Rene.
"Kapan mas?" Tanya Rene.
"Ya, kapan-kapan, kalau kamunya mau,"
"Mau kok, mas," Rene masuk ke dalam mobil, dan ia lalu duduk.
"Iya," Tatang menutup pintu itu kembali.
Percakapan berlanjut hingga sepanjang jalan menuju rumah Rene.
*********
"Makasih ya mas udah di antarin Rene pulang," ucap Rene, ia melepas sabuk pengamannya.
"Iya," ucap Tatang.
Tatang memandang Rene yang sedang membuka sabuk pengaman. Wanita membuka hendel pintu otimatis lampu dasbor menyala. Tatang menarik tangan Rene dan mendekatkan tubuhnya.
Rene hanya diam, memegang erat tas yang ia pegang. Ia merasakan bibir Tatang melumat bibirnya lagi, kali ini begitu dalam. Ia tidak menolak dan malah membalas lumatan Tatang.
Tatang melepas pangutannya, ia mengelus wajah cantik Rene,
"Terima kasih," ucap Tatang,
"Iya mas,"
*********
Bab 2
Happy reading
********
Rene melangkahkan kakinya menuju pintu utama, ia masuk ke dalam. Rene melihat ke dua orang tuanya sedang menonton dangdut akademi di salah satu stasiun Tv swasta. Di sana ada Frans adik laki-lakinya yang tidur di samping bunda.
"Mbak ...," ucap Frans, sebelum Rene masuk ke dalam kamar, karena kamarnya terletak di lantai dasar.
"Apaan," ucap Rene menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Frans.
"Besok pinjam mobil lagi ya," ucap Frans.
"Lo mau ke mana lagi," ucap Rene ia mulai jengah melihat tingkah adik bungsunya itu. Semenjak si Frans punya SIM A, tapi udah belagu, kemana mana pakek mobil. Biasanya juga tu bocah pekek motor.
"Mau buat makalah mbak di rumah Genta,"
"Kamu biasa pakek motor,"
Rene menarik nafas menatap wajah memelas Frans. Ia menatap ke dua orang tuanya masih asik nonton Tv.
"Yaudah, pakek aja,"
"Yes !" Frans kegirangan, memakai mobil Rene lagi.
"Ingat besok yang terakhir,"
"Oke, makasih ya mbak," ucap Frans.
Bunda tersenyum, melihat Frans kegirangan,
"Ren ...," ucap bunda.
"Iya bunda,"
"Besok kamu ke rumah tante Gita ya," ucap Bunda Rene.
"Ngapain ke rumah tante Gita bun?" Tanya Rene, masalahnya ia paling malas bertemu dengan si Berta anaknya tante Gita.
Ngeselin tuh bocah centil, tapi ngangenin sih sama manusia cantik itu. Ia dan Berta udah kenal lama, dari kecil. Karena tante Gita temennya bunda sejak SMA. Kalau arisan, ia selalu di bawa, jadi deh ia dan Berta temenan.
"Besok malam Berta tunangan," ucap bunda lagi.
"Berta tunangan?"
"Iya, Berta tunangan. Calon suaminya dokter loh," ucap Bunda.
Wah gila, si Berta aja dapat dokter pula. Berta pasti pamer kepadanya, bahwa ia sudah dapat calon suami dokter kece. Beh, dia pasti akan besar kepala dan memamerkan dirinya yang masih belum memiliki pasangan. Pasti si Berta tertawa-tawa melihatnya masih menjomblo.
"Kamu datang ya, enggak enak sama tante Gita kalau enggak datang. Kamu tahu sendiri bunda sama ayah besok pagi ke Lampung. Acaranya juga mendadak gini," ucap bunda mencoba menjelaskan.
"Iya," ucap Rene.
Bunda memperhatikan penampilan Rene. Jaket kebesaran itu terpasang di tubuh putri sulungnya.
"Kamu pakek jaket siapa Ren, kok kebesaran gitu?" Tanya bunda.
"Owh, ini punya temen bunda. Soalnya Rene tembus," ucap Rene memperlihatkan rok belakangnya.
Bunda melihat bercak darah sedikit di rok itu,
"Ya, ampun kok bisa sih,"
"Mana tau bunda, namanya juga datang tiba-tiba. Rene mandi dulu ya bunda," ucap Rene lalu masuk ke dalam kamar.
***********
Rene meletakkan handuk di dekat jendela kamar. Ia menatap layar ponsel, karena tadi ketika ia di kamar mandi. Rene mendengar ponsel berbunyi. Ia menatap dua panggilan tak terjawab, ternyata dari si Berta.
Rene menekan nomor Berta, ia menggeser tombol hijau pada layar. Ia letakkan ponsel itu di telinga kirinya. Suara panggilan terdengar, kemudian sambungan itu terangkat.
"Halo, ber,"
"Ren, tadi gue hubungin lo tau," ucap Berta di balik speaker ponsel.
"Tadi gue lagi mandi, lo pasti mau ngasih tau kalau lo mau tunangan kan," ucap Rene, ia lalu duduk di sisi tempat tidur.
"Iya, lo tau dari mana?" Tanya Berta lagi.
"Tau dari bunda lah siapa lagi,"
"Lo datangkan besok, acara tunangan gue," ucap Berta.
"Datang kok, tapi bunda enggak datang, besok mau ke Lampung," ucap Rene.
"Ngapain ke Lampung?"
"Silaturahmi sama besan, kebetulan dan nikahan juga di sana,"
"Owh gitu,"
"Katanya tunangan lo dokter ya," ucap Rene.
"Lo tau dari mana?" Ucap Berta.
"Tau dari bunda,"
"Ya gitu deh," ucap Berta.
"Bukannya cowok lo kemarin si Bayu yang punya supermarket itu,"
"Udah gue putusin dia. Bayu enggak bener, masa nyimpan cewek di rumahnya. Mana tu cewek lebih cantik dari gue," ucap Berta.
Alis Rene terangkat, "Tumben bener, ada cewek lebih cantik dari pada lo,"
"Ya, emang bener dia cantik, kayak Dian Satrowardoyo tau. Gue pikir dia artis, tapi penampilannya biasa aja, kecean gue lah kemana-mana," timpal Berta.
"Terus terus, si Bayu gimana tuh,"
"Ya, dia bilang oke, gitu doang, enggak ada merasa berasa bersalah, ketahuan selingkuh, yaudah kita putus. Enggak ada tuh dia mau jelasin siapa tuh cewek. Gila kan, berengsek abis tu si Bayu," ucap Berta.
"Namanya juga dia enggak cinta sama lo. Lo aja yang kecentilan ngejar ngejar dia," ucap Rene, masalahnya ia pernah menemani si Berta jalan sama Bayu. Yang agresif si Berta, kayak ulat nangka, selalu lompat sana sini.
"Namanya juga usaha,"
"Terus sejak kapan lo pacaran sama si dokter itu? Enggak ada angin enggak ada hujan, langsung tunangan gitu," Tanya Rene penasaran.
"Anak temennya mami, kebetulan waktu itu dia ngantarin parcel ke rumah. Ya, kita kenalan di rumah secara dia kece gitu kan. Gue suruh masuk aja, sayang cowok kece di anggurin. Papi sama mami kebetulan lagi ke Bandung. Kita berdua aja di rumah, kita cerita cerita sambik ketawa tawa, lo tau lah sendiri, dia enggak pulang pulang dari rumah gue. Kita ngobrolin masa depan, dia ngajakin gue nikah, ya gue mau aja. Secara gue baru putus dari Bayu,"
"Gila, baru kenal lo udah terima dia. Lo yakin sama dia, Enggak pakek PDKT dulu,"
"Ya enggaklah, keren gitu, baik lagi,"
"Gue bilang oke, jadi deh sekarang kita tunangan,"
"Gila, terus terus,"
"Gue nggak pakek pacaran lagi. Orang tua gue sama orang tuanya setuju, malah seneng. Nikahnya sih nanti dua bulan lagi," ucap Berta.
"Gila lo, Enggak selidiki dulu, siapa mantanya atau seluk beluknya,"
"Enggaklah, kata mami, anaknya baik kok,"
"Owh gitu,"
"Ya mau gimana lagi seriusin aja, mumpung ada yang mau," ucap Berta.
"Terus si Bayu,"
"Gue lupain aja lah, udah move on juga,"
"Selamat deh, yang udah di lamar," ucap Rene.
"Lo kapan nyusul gue," ucap Berta.
"Nantilah gue mah gampang," padahal dalam hati ia iri, Berta aja bisa di lamar sama dokter kece. Ia tahu bahwa Berta memiliki selera tinggi soal laki-laki. Kalau dia bilang keren, pasti tu cowok keren abis.
"Lo mau enggak sama abang sepupu gue, kebetulan dia baru balik dari London,"
"Enggak deh, gue enggak mau pakek jodoh-jodohin. Gue bisa cari sendiri," ucap Rene, ia tidak terlalu suka di jodoh-jodohin, apalagi sama Berta.
"Yah, padahal abang sepupu gue keren loh Ren, dia marketing manager di perusahaanya Reckitt Benkiser," ucap Berta.
"Perusahaan bergerak di bidang apa tuh, gue baru denger,"
"Itu aja lo enggak tau, itu perusahaan besar, kelas dunia. Produsen produk kesehatan, lo tau kan durex, itu salah satu produknya. Posisi dia sebagai marketing manager di sana, keren gila abang sepupu gue," ucap Berta mempromosikan kepada Rene
"Jangan deh, gue bisa cari sendiri Ber. Lo kan tau gue enggak suka di jodoh jodohin," ucap Rene.
"Tapi abang sepupu gue keren tau, lo pasti enggak bakalan nyesel pacaran sama dia. Duit nya banyak, kerjaanya jalan-jalan keluar negri mulu,"
"Owh ya,"
"Iya beneran, kan emang gitu kerjaanya,"
"Seru dong, jalan-jalan di bayar pula,"
"Ya, iyalah,"
"Siapa namanya," Rene mulai kepo, sepertinya promosi Berta sukses membuat Rene penasaran.
"Namanya Farhan,"
"Farhan? Katanya dia keren, kok enggak punya cewek?"
"Dulu sih punya, tapi udah putus. Dia minta cariin sama gue, yang cocok lah sama dia katanya. Gue sih bilang ada, temen gue kece, gue bilang namanya Rene, udah setahun jomblo. Gue kirimin aja foto lo sama gue, yang kita selfie di mall. Dia bilang lo oke, cantik,"
"Lo kok, gitu sih Ber. Enggak ijin gue dulu kalau mau sebar sebar foto gue," ucap Rene kesal.
"Kirain lo mau, ya udah terlanjur deh kirim sama abang sepupu gue,"
"Jadi gimana dong," ucap Rene.
"Yaudah nanti gue bilang sama mas Farhan, kalau lo enggak mau,"
"Owh, iya deh,"
"Enggak apa-apa, santai aja lagi,"
"Ber, udah dulu ya, perut gue keram. Soalnya gue baru datang bulan nih,"
"Owh iya deh,"
Rene lalu mematikan sambungan telfonnya. Ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur, dan mencoba memejamkan matanya.
********
BAB 3
Happy reading
*********
Rene merapikan kwitansi kwitansi di atas meja. Ia menyelesaikan kerjaanya lebih cepat, karena ia harus pergi ke acara pertunangan Berta. Rene melirik jam melingkar di tangannya menunjukkan pukul 17.20 menit. Suara ponselnya berdering, Rene menatap layar persegi itu.
"Mas Tatang Calling,"
Rene menyimpan kwitansi itu di laci, ia mengambil tas di lemari kabinet. Ia berjalan menuju ke arah luar. Ia menoleh ke belakang ada beberapa staff masih berada di sana.
Rene menarik nafas panjang, ia masih teringat jelas di awal pertemuan dirinya dan Tatang di awali dengan ciuman yang dahsyat dan memabukkan. Rene menggeser tombol hijau pada layar dan ia letakkan ponsel itu di telinga kirinya,
"Iya mas," ucap Rene.
"Kamu apa kabarnya? Maaf ya, kemarin mas enggak nelfon kamu, mas ketiduran," ucap Tatang.
"Baik mas, enggak apa-apa kok. Lagian Rene juga langsung tidur," ucap Rene, ia menghentikan taxi yang melintas di jalan.
"Kamu lagi apa?" Tanya Tatang.
"Ini lagi mau pulang mas,"
"Pulang sama siapa?"
"Sama supir taxi, mobil Rene di pakai sama Frans udah dua hari yang lalu,"
Tatang mengerutkan dahi, "Siapa Frans?"
"Adik Rene mas. Mas lagi apa?" Tanya Rene.
"Mas lagi di kantor, biasa lah masih banyak kerjaan. Besok kamu ada acara enggak?" Tanya Tatang.
"Enggak ada sih mas,"
"Mas mau ngajak kamu malam mingguan," ucap Tatang tenang.
"Malam minggu kemana mas?" Rene menyandarkan punggungnya di kursi.
"Makan malam mungkin,"
"Owh," ucap Rene.
"Kamu mau enggak?" Tanya Tatang.
"Mau kok mas," ucap Rene.
"Kamu pulangnya hati-hati ya Ren,"
"Iya mas," ucap Rene, mematikan sambungan telfonnya. Sambil memasang wajah senyum bahagia. Ia akan malam bersama Tatang.
**********
Rene menatap penampilannya, ia mengenakan dress berwarna biru navy. Inginnya sih tadi memakai kebaya, tapi mengingat ini hanya tunangan biasa jadi ia memutuskan memakai dress saja. Rene membawa kado dari bunda, untuk Berta. Rene tadi sudah menghubungi Frans jangan pulang terlalu malam, karena ia akan mengenakan mobil ke rumahnya tante Gita. Ia melirik Frans masuk ke dalam rumah, bocah kecil itu tersenyum menyerahkan kunci mobil kepadanya.
"Kalau mau makan, kamu masak indomie telur aja atau kamu mau nasi bungkus," ucap Rene, memandang sang adik, ia memastikan Frans tidak kekurangan asupan makanan, karena tidak ada bunda.
"Enggak deh udah kenyang, tadi di rumahnya Genta makan bakso. Mamah nya Genta baik banget mbak, kerja kelompok di suguhi bakso. Baksonya nendang, aku habis dua mangkok," ucap Frans.
"Gila, makan dua mangkok lagi. Enggak malu apa makan banyak banyak di rumah orang,"
"Urat malu udah putus kali mbak, yang lain juga nambah," ucap Frans lalu melangkah menuju tangga.
Rene lalu melangkah keluar dari area rumah. Ia melihat mobilnya ada di luar pagar. Semenit kemudian, Rene sudah meninggalkan area rumah.
Rene melirik jam melingkar di tangannya, menunjukkan pukul 18.45 menit. Ia memarkir mobilnya di tepi jalan, karena halaman rumah tante Gita sengaja di kosongkan. Rene menatap wajahnya sekali lagi di kaca dasbor. Memastikan make up nya masih terlihat sempurna.
Rene melangkah memasuki halaman rumah bertingkat dua itu, menuju pintu utama, ruang tamu itu masih terlihat sepi. Calon tunangan laki-laki belum datang. Rene menatap tante Gita yang sedang mengatur makanan di meja. Tante Gita menyadari kehadirannya, lalu tersenyum mendekatinya.
"Eh si cantik akhirnya datang juga," ucapnya, lalu memeluknya dan mencium pipi kiri Rene.
"Maaf ya tante, bunda enggak datang. Bunda tadi pagi ke Lampung," ucap Rene, menatap wanita separuh baya itu mengenakan kebaya biru.
"Iya enggak apa-apa kok, bunda kamu udah ngasi tau dari kemaren. Salah tante juga enggak ngasih tau jauh jauh hari. Maklum acaranya dadakkan gini sayang," ucap tante Gita.
"Kamu bawa apa?" Tanya tante Gita, memandang bungkusan yang di bawa Rene.
"Kata bunda untuk Berta tante, Rene enggak tau sih isinya apa,"
"Owh gitu, Berta ada di kamarnya, kalau kamu mau masuk, ya masuk aja. Enggak ada siapa siapa kok," ucap tante Gita.
"Iya tante,"
"Farhan ...!," ucap tante Gita
Otomatis Rene lalu menoleh ke arah laki-laki yang bernama Farhan itu. Ia ingin tahu sekeren apa abang sepupu Berta yang di omongin Berta kemarin. Ternyata benar, laki-laki bernama Farhan itu keren. Laki-laki itu bertubuh tinggi, bahunya bidang, rahangnya tegas, alisnya tebal, dia mengenakan kemeja putih dan celana jins.
Laki-laki itu membalas pandangannya dan lalu tersenyum. Rene hanya bisa memandang, memilih diam di samping tante Gita.
"Farhan, kamu bantu tante ya, ambilin kotak aqua di dapur, taruh di sini, nanti tante yang nyusun" ucap tante Gita.
"Iya tante," ucap Farhan.
Farhan memandang wanita cantik di samping tante Gita. Ia tahu bahwa wanita itu adalah Rene temannya Berta. Ternyata aslinya lebih cantik dari pada di foto. Saling berpandangan satu sama lain.
"Oiya, kenalin ini Rene, anaknya tante Sari temannya bunda," ucap tante Gita memperkenalkan Rene kepada Farhan.
Farhan mengulurkan tangannya ke arah Rene, "Hei, saya Farhan,"
Rene menyambut uluran tangan Farhan, sentuhan jemari itu begitu hangat, menggenggamnya.
"Rene,"
"Senang bisa berkenalan dengan kamu," ucapannya lagi.
"Iya sama-sama,"
Rene lalu melepas jemarinya, ia tahu bahwa laki-laki itu memandangnya. Rene lalu menatap tante Gita,
"Tante, Rene ke atas dulu ya," ucap Rene lalu meninggalkan Farhan dan tante Gita.
Sementara Farhan menatap punggung Rene dari belakang. Ia tersenyum penuh arti dan lalu melangkah ke dapur, mengambil kotak aqua.
********
Rene membuka hendel pintu, ia menatap Berta duduk di kursi, sambil memandang wajahnya di cermin. Berta menyadari kehadirannya dan lalu menoleh ke arahnya.
Rene menatap penampilan Berta, wanita centil itu mengenakan kebaya berwarna biru. Rambutnya di tata rapi, seperti pramugari garuda Indonesia. Berta memang tidak perlu menyewa jasa make up, karena wanita itu pada dasarnya emang senang berdandan.
"Cantik banget sih lo," ucap Rene ia berjalan mendekati Berta.
"Makasih," ucap Berta, sambil tersenyum menatap Rene.
Rene memperlihatkan sebuah kado kepada Berta.
"Ini dari bunda," ucap Rene, menyimpan kotak itu di meja.
"Ya ampun, bunda lo repot repot banget sih ngasi kado segala. Padahal hanya tunangan biasa, yang di undang hanya pak RT doang," ucap Berta.
"Namanya juga bunda, udah nganggap lo anak sendiri. Gue enggak tau sih isi nya apa, disuruh kasikkan aja sama lo," ucap Rene mencoba menjelaskan.
"Nanti deh gue telfon bunda, selesai acara. Gue mau ucapin makasih," ucap Berta lagi.
"Eh gimana penampilan gue, bagus enggak?" Tanya Berta, meminta penilaian kepada Rene.
Rene memperhatikan penampilan Berta, "Bagus banget malah, pakek kebaya lo jauh lebih anggun, dari pada pakek bodycon yang dadanya rendah sama punggungnya terbuka itu," ucap Rene sambil terkekeh, karena ia dan Berta jika hangout, selalu pakek bodycon. Agar terlihat sexy, ala ala Keylie gitu.
"Kan nyesuain juga Ren, enggak mungkin lah gue pakek baju seksi acara ginian,"
Rene menatap ke arah sudut lemari, ia melihat barang barang paketan yang sudah di susun sedemikian rupa oleh Berta dengan brand miliknya. Berta adalah reseller onlie shop, product kecantikkan. Followernya mencapai ratusan ribu dan memang sangat terpercaya. Berta memang tidak selalu suka kerja dibawah tekanan seperti dirinya. Padahal Berta lulusan sarjana ekonomi.
"Jam berapa sih mulainya?" Tanya Rene.
"Sebentar lagi, jam setengah delapan,"
"Owh gitu, yaudah gue duduk di sini aja, nemenin lo," ucap Rene.
"Lo ketemu mas Farhan enggak di bawah,?," tanya Berta.
"Udah kok, di kenalin sama nyokap lo," ucap Rene.
"Bagus deh kalau gitu, keren kan" Tanya Berta.
"Lumayan," ucap Rene mengakui bahwa Farhan emang keren.
"Mas Farhan emang keren tau, gue enggak salah nyariin lo cowok,"
********