Bab 1

"Pak, saya mohon ... izinkan saya masuk, saya harus bertemu ayah ...."

Sore ini hujan sedang mengguyur begitu deras, diiringi petir yang menyambar saling bersahutan.

Seorang gadis dengan tubuh yang menggigil kedinginan, tampak sedang memohon belas kasihan.

Pakaian yang dikenakan gadis ini sudah basah kuyup, dia berdiri gemetar di depan gerbang sebuah rumah besar.

"Maaf, Nona Zha. Saya tidak berani. Nyonya bisa marah besar jika kami membiarkanmu masuk," tolak security yang berjaga di gerbang rumah tersebut tidak kenal kompromi.

Sebenarnya secuity itu tidak tega melihat kondisi si gadis, tapi mau bagaimana lagi? Dia hanya melaksanakan tugas, dia bisa kehilangan pekerjaan jika membiarkan gadis tersebut masuk.

Sementara si gadis malang itu terus memohon, dia terisak mengiba tanpa memikirkan harga dirinya lagi.

Jika saja tidak disebabkan oleh hal yang sangat mendesak, dia pun tidak akan sudi datang ke rumah ini untuk mengemis bantuan.

Gadis ini bernama Zhafira Khairunnisa, dia sudah tidak peduli jika harus dianggap pengemis, tidak tahu malu, atau apa pun itu.

Yang penting baginya hanya satu, dia harus mendapatkan uang untuk biaya pengobatan ibunya. Wanita yang sangat dicintainya itu kini sedang terbaring koma di rumah sakit.

Sesaat kemudian, tampak sebuah mobil MPV super mewah mendekat. Dengan sigap security yang berjaga di pos tersebut membuka gerbang, memberi akses bagi mobil pabrikan Lexus itu untuk masuk.

Tidak membuang kesempatan yang ada, Zhafira pun menerobos masuk untuk mengejar mobil tersebut.

Security yang berjaga terkejut, mereka ingin mengejar Zhafira, tapi dicegah oleh seniornya yang merasa iba. Security senior ini tahu persis nasib malang yang dialami Zhafira.

Setelah berlari sekitar lima puluh meter menembus hujan yang teramat deras, Zhafira pun berhasil tiba di depan sebuah rumah mewah bergaya romawi.

Pilar-pilarnya yang menjulang tinggi berdiri angkuh, seolah sedang menertawakan penderitaan Zhafira saat ini.

Zhafira mendekap sendiri tubuhnya yang menggigil kedinginan, manik mata coklatnya menatap penuh harap, menanti sang pemilik rumah itu turun dari mobil.

Sejurus kemudian si pengemudi bergegas turun, lantas membukakan pintu kabin tengah.

Seorang pria kharismatik dalam balutan jas mewah melangkah turun, mata tajamnya lantas menyusuri tubuh Zhafira dari ujung kepala sampai ujung kaki, dengan pandangan tidak suka.

Sejurus kemudian seorang wanita paruh baya berpenampilan glamour menyusul turun, tangan wanita ini memegang sebuah payung edisi terbatas, untuk melidungi dirinya dari air hujan.

"Mau apa kau datang ke sini?" tanya wanita paruh baya bernama Miranda dingin.

Miranda kini sudah berdiri di teras rumahnya bersisian dengan sang suami.

Zhafira hendak melangkah ke teras, dengan maksud ingin melindungi dirinya dari air hujan. Agar ia tidak semakin menggigil kedinginan dan bisa membuatnya masuk angin.

Namun, baru sekali melangkah, suara bentakan keras dari Miranda sudah membuat langkah Zhafira terhenti.

"Tetap di tempat kamu, jangan coba-coba mendekat! Nanti kuman-kuman di tubuhmu itu luntur, dan mengotori rumahku!" hardik Miranda dengan nada bicara yang sangat congkak.

"Ba-baik, Ma," jawab Zhafira dengan suara bergetar.

"Dasar anak haram tidak tahu diri! Aku bukan mama kamu, panggil aku Nyonya!" Miranda kembali membentak.

Tatapan Miranda tampak berapi-api. Melihat wajah Zhafira yang sangat identik dengan Alya Indira, sang ibunda. Memaksa Miranda teringat pada wanita yang paling ia benci itu, wanita yang dulu pernah dicintai suaminya dengan begitu dalam.

Haris Ganendra, ayah dari Zhafira dan Alya Indira ibunya, dulu adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.

Sayangnya hubungan mereka tidak direstui oleh orang tua Haris, karena Alya adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga miskin, bukan dari kalangan terhormat seperti keluarga Ganendra.

Lantas orang tua Haris menjodohkan putranya dengan Miranda, yang juga merupakan putri dari konglomerat ternama.

Haris yang sangat mencintai Alya pun menolak Miranda berkali-kali, sehingga membuat Miranda sakit hati dan sangat membenci Alya.

Orang tua Haris tidak kehabisan akal, mereka melakukan segala cara agar putranya mau menerima perjodohan tersebut.

Puncaknya mereka mengancam akan bunuh diri, jika Haris masih nekat menikahi Alya.

Haris yang tidak ingin kehilangan orangtuanya pun menyerah. Dia terpaksa meninggalkan Alya, dan bersedia menikahi Miranda.

Kisah masa lalu yang pahit itu, menempatkan Alya Indira sebagai pihak yang paling menderita. Dia ditinggal oleh Haris dalam keadaan mengandung buah cinta mereka.

Saat itu Miranda sempat menemui Alya, dan meminta agar Alya menggugurkan kandungannya.

Tentu saja Alya menolak, dia tidak ingin semakin bergelimang dosa, dengan menggugurkan janinnya sendiri. Dan lagi ia juga sangat mencintai janin yang dikandungnya itu.

Beberapa bulan setelah kejadian tragis yang menimpa Alya Indira itu, lahirlah bayi cantik bernasib malang yang kini sudah tumbuh dewasa.

Sang ibunda memberinya nama Zhafira Khairunnisa, yang berarti 'Wanita Yang Beruntung'. Miris, kehidupan yang dijalani Zhafira berbanding terbalik dengan nama indah yang tersemat pada dirinya.

Sejak kecil Zhafira sudah hidup pas-pasan bersama ibunya yang hanya bekerja serabutan.

Memang, Haris pernah mengirimkan uang untuk biaya hidupnya, itu pun hanya beberapa kali tanpa sepengetahuan Miranda.

Tidak hanya hidup susah, keseharian Zhafira juga tak lepas dari gunjingan orang-orang di sekitarnya.

Sebutan anak haram sudah melekat pada dirinya sejak lahir, karena ia dilahirkan tanpa adanya ikatan pernikahan.

Mungkin, Zhafira adalah anak yang tak pernah diharapkan lahir ke dunia ini. Tapi apa pantas dia menanggung semua hinaan itu?

Jika bisa meminta, Zhafira pun pasti tidak ingin lahir dalam kondisi tersebut. Itu kesalahan orang tuanya, bukan kesalahan dirinya.

"Hei, anak haram! Ada perlu apa kau datang kemari? Cepat katakan!" bentak Miranda membuyarkan lamunan Zhafira.

Zhafira mengalihkan pandangan pada ayahnya, berharap orang-tuanya itu memiliki sedikit rasa iba dan membelanya.

"Ayah, tolong pinjamkan Zha uang. Saat ini bunda sedang sakit, bunda harus naik meja operasi secepatnya. Kata dokter, hiks ... kata dokter, jika bunda terlambat naik meja operasi, maka bunda tidak akan bisa diselamatkan," adu Zhafira dengan suara terisak.

Miranda mengangkat alisnya tinggi-tinggi, batinnya terasa puas mendengar musibah yang dialami Alya.

"Uang? Enak saja kau datang ingin meminjam uang untuk pengobatan wanita murahan itu. Aku bahkan berniat mengadakan sukuran jika dia segera mati. Sana pergi, aku tidak sudi memberimu uang!" usir Miranda tanpa perasaan.

Sedangkan Haris yang berdiri di samping Miranda hanya terdiam, dia seolah tidak peduli dengan kesusahan yang dialami anak gadisnya.

Dia juga tidak peduli dengan keselamatan Alya. Wanita yang dulu sangat dicintainya, sebelum Miranda berhasil mengubah pandangannya terhadap Alya.

Mendapat penolakan dari Miranda, tidak membuat Zhafira menyerah begitu saja. Dia tahu Miranda dan ayahnya adalah satu-satunya harapan, tidak ada lagi tempat mengadu selain pada dua orang ini.

Zhafira melangkah maju, dia memeluk kaki Miranda untuk bersimpuh memohon. "Nyonya, tolong kasihani bunda ... aku berjanji akan melakukan apa saja, asal Nyonya mau meminjamiku uang."

Miranda berdecih, dia mendorong tubuh Zhafira kuat-kuat hingga gadis itu tersungkur ke tengah hujan.

Zhafira belum putus asa, dia beralih menatap ayahnya dengan sorot mata memohon. "Ayah, tolong pinjamkan Zha uang, Zha tidak mau kehilangan bunda, Zha tidak punya siapa-siapa lagi, selain bunda ...."

Namun, apa pun usaha yang dilakukan Zhafira tetap sia-sia. Wajah Haris tetap datar, dia seolah tidak memiliki naluri seorang ayah, hingga nuraninya tidak merasa terpanggil untuk memberi bantuan.

"Supir! Cepat seret anak haram ini keluar dari rumahku!" perintah Miranda dengan suara melengking.

Bab 2

Tanpa disuruh dua kali, supir pribadi Miranda itu pun segera melaksanakan titah majikannya.

Zhafira diseret dan dilempar keluar layaknya anjing jalanan.

Di tengah hujan yang begitu deras. Zhafira melangkah lemah dengan serta merta membawa tangisnya.

Jika tubuh Zhafira basah oleh air hujan, maka hatinya terbenam dalam genangan air mata kesedihan.

Zhafira kembali ke rumah sakit dalam keadaan tak berdaya.

Saat ini dia hanya bisa berdoa, dan berharap Tuhan menunjukkan kuasanya, untuk memberi keselamatan pada sang bunda.

Dengan perasaan sedih bercampur cemas, Zhafira duduk di samping Brankar ibunya yang kini terbaring koma.

Saat ini Zhafira hanya bisa meratapi nasib malangnya. Dia tidak punya tempat untuk mengadu, juga tidak ada lagi tempat memohon bantuan.

Ayahnya yang sebelum ini menjadi harapan terakhir Zhafira, sama sekali tidak sudi mengulurkan tangan.

Zhafira menggenggam erat tangan ibunya, doa demi doa pun ia panjatkan demi keselamatan sang bunda.

"Bunda yang kuat, ya ... Bunda harus bertahan. Bunda harus sembuh. Zha janji akan berjuang untuk bahagiain bunda. Zha nggak akan nyerah, Zha akan berusaha lagi cari uang untuk biaya pengobatan bunda," isak Zhafira penuh tekad, meski ia sendiri tidak tahu lagi harus ke mana mencari uang tersebut.

Hampir dua jam Zhafira berada di sana, dia terus mengajak ibunya bicara. Dari yang ia ketahui, bicara pada seseorang yang sedang dalam kondisi koma, bisa membuat orang tersebut memiliki semangat untuk kembali ke alam sadarnya.

Hingga tanpa terasa hari semakin beranjak malam, dan kini jam di pergelangan tangan Zhafira sudah menunjukkan pukul delapan malam. Lalu ia pun berniat untuk pulang ke rumahnya.

"Bun, Zha tinggal pulang sebentar ya ... besok Zha balik lagi ke sini," pamit Zhafira.

Dia bangkit berdiri, lalu menunduk untuk memberi kecupan hangat di dahi ibunya.

Setelahnya, gadis pemilik nasib malang itu perlahan beranjak meninggalkan ruang rawat, dia berjalan dengan kepala tertunduk, jiwa dan raganya lelah menahan beratnya cobaan hidup.

Namun, seberat apa pun beban yang ia tanggung, Zhafira tidak pernah berpikir untuk menyerah.

Saat ini Zhafira hanya butuh istirahat agar tubuh dan mentalnya kembali pulih. Besok dia akan kembali berjualan di toko kue kecil miliknya.

Zhafira tahu keuntungan dari berjualan kue tidak akan cukup untuk membayar biaya operasi ibunya, tapi setidaknya sedikit uang itu bisa ia gunakan untuk membeli obat-obatan berikut sewa ruang rawat. Sampai nanti dia memiliki uang yang lebih banyak, untuk membayar biaya operasi untuk ibunya.

Dalam keadaan yang serba menyedihkan, Zha terus berusaha memotivasi diri sendiri agar semangat hidupnya tidak padam.

Zhafira memang masih berusia 22-tahun, tapi dia sudah tertempa oleh kerasnya kehidupan. Zhafira tumbuh menjadi wanita dengan hati setegar karang, dan memiliki ketabahan yang seolah tidak terbatas.

Boleh dikatakan, berperang melawan badai kesengsaraan sudah menjadi hal yang lazim bagi gadis ini.

"Apa kau sungguh ingin ibumu selamat?'' Pertanyaan itu terdengar oleh Zhafira tepat saat ia tiba di pintu ruang rawat.

Zhafira menoleh untuk mencari asal suara. Lalu dahinya berkerut saat manik matanya menemukan sosok kakek tua, dengan keseluruhan rambut yang sudah memutih.

"Aku bisa memberimu uang untuk membayar biaya operasi ibumu," ucap kakek tua itu lagi.

Pria ini tampak berwibawa, tubuhnya yang sudah berumur masih terlihat tegap dalam balutan jas mewah.

Sepertinya dia bukan orang sembarangan.

Zhafira menjadi heran, dia sama sekali tidak mengenal siapa kakek tua ini.

Lalu alasan apa yang membuat pria tua ini berkata ingin membantunya? Zhafira tidak mengerti.

Ah, jangan-jangan pria tua ini sengaja ingin menjadikan kesusahannya sebagai candaan?

Namun, logika Zhafira berkata kakek tua ini sedang tidak main-main, itu terlihat dari raut wajahnya yang serius.

"Benarkah Kakek ingin membantuku? Tapi kenapa?'' tanya Zhafira bingung, dia tidak ingin terlalu berharap pada orang lain.

Bagaimana bisa Zha ingin menggantungkan harapan pada orang asing? Sementara ayah kandungnya sendiri saja, tidak mau peduli dengan penderitaannya.

"Ya, aku berniat membantumu, tapi tidak gratis!" jawab pria berambut putih tersebut.

Dahi Zhafira semakin berkerut. "Apa yang harus aku lakukan?"

Kakek tua itu tersenyum, dia suka dengan orang yang cepat tanggap seperti Zhafira. "Sebagai gantinya kau harus menikah dengan cucuku," jawabnya dengan nada lugas.

Apa?

Menikah?

Zhafira merasa ada yang salah dengan pendengarannya.

Konyol sekali bagi Zhafira. Bertemu orang tidak dikenal, lalu secara tiba-tiba meminta untuk menikah dengan cucunya.

Zhafira merasa sedang berhalusinasi.

"Bagaimana? Apa kau bersedia menerima tawaranku?" desak kakek tua tersebut.

"Tapi, Kakek. Kenapa kau ingin aku menikah dengan cucumu?" tanya Zhafira tidak habis pikir.

Pria berambut putih itu tersenyum sedikit. "Ada alasan tersendiri untuk masalah itu, dan kau tidak perlu tahu. Sekarang tentukan pilihanmu!"

Zhafira tampak berpikir sejenak, lalu bibir mungilnya terbuka sesaat kemudian. "Kakek tidak bercanda, kan?"

"Jika kau bersedia menerima tawaranku, maka aku akan melunasi biaya pengobatan ibumu sekarang juga."

Tidak banyak waktu yang Zhafira miliki untuk berpikir, ini adalah kesempatan terbaik untuk menyelamatkan ibunya.

Menikah dengan pria yang tidak dikenal sepertinya tidak terlalu buruk, apalagi hal ini bisa membuat ibunya mendapatkan pengobatan.

Zhafira tidak peduli bagaimana nasibnya nanti, dia rela berkorban apa saja demi ibunya.

Dengan spontan Zhafira menjawab, "Jika memang seperti itu, aku bersedia."

"Bagus, ikuti aku ke bagian administrasi," ajak pria tua tersebut.

Zhafira mengangguk patuh, dia mengekor dari belakang.

Pria ini benar-benar menepati perkataannya, bahkan ibunya Zhafira diberikan fasilitas kelas satu, agar mendapat pelayanan terbaik dari tim medis berpengalaman.

Saat ini Zhafira benar-benar lega, akhirnya sang bunda mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan.

Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri yang telah dikorbankan? Zhafira tidak tahu, dan ia sama sekali tidak menyesal dengan keputusannya.

Apa yang menanti di depan sana? Hidup yang bahagia? Atau hidup yang penuh penderitaan? Zhafira tidak ingin memikirkan hal itu sekarang.

Setelah urusan administrasi selesai, Zhafira pun dibawa pergi oleh kakek tua itu.

Zhafira tidak bertanya, meski ia tidak tahu ke mana kakek tua itu akan membawanya. Lagi pula dia sudah menukar dirinya dengan uang untuk membiayai pengobatan sang bunda.

"Apa kau tidak ingin bertanya seperti apa cucuku, calon suamimu nanti?" tanya si Kakek, dan Zhafira menggelengkan kepala.

"Tidak perlu, Kek. Dalam hal ini aku seperti telah menjual diriku, jadi aku tidak memiliki hak untuk menolak. Apa mungkin yang akan menikahiku adalah kakek sendiri?" jawab Zhafira yang diakhiri pertanyaan.

"Hahaha ...." Kakek tersebut malah tertawa keras, karena pertanyaan Zhafira yang terdengar konyol.

"Gadis polos, sepertinya kau terlalu banyak menonton drama. Aku memang sudah lama menjadi seorang duda, tapi aku bukan pria tua-tua keladi," tambahnya.

Zhafira menarik napas panjang, "Siapa pun yang akan menjadi suamiku nanti, aku sudah pasrah, Kek. Aku melakukan semua ini demi ibuku. Demi dirinya aku rela berkorban apa saja."

Kakek tersebut menganggukkan kepala, ia merasa kagum melihat kebaikan hati Zhafira.

Jarang-jarang ada gadis muda yang mau berbakti begitu besar pada orang tua, bahkan sampai mengorbankan diri sendiri.

Setelah hening untuk sepersekian detik, Zhafira kembali berkata, "Kakek, maaf. Sebelumnya aku bahkan belum mengucapkan terimakasih, aku juga belum tahu siapa namamu."

"Namaku Chandra Martinez. Kau tidak perlu berterimakasih, kita saling membantu."

"Namaku Zhafira, Kek."

"Aku sudah tahu," sahut Kakek Chandra.

Zhafira bingung, dari mana kakek ini mengetahui namanya?

Apa kedatangan pria tua ini untuk memeberi bantuan bukan sebuah kebetulan? Melainkan sesuatu yang sudah direncanakan?

Kini mobil yang mereka tumpangi berbelok memasuki sebuah gerbang besar berukiran rumit. Kemudian terus melewati taman yang sangat luas, sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah mansion besar nan megah, yang dari luar saja sudah terlihat sangat mewah.

Zhafira menurut saja saat Kakek Chandra memintanya untuk turun, lalu mengajaknya masuk ke dalam mansion tersebut.

Zhafira sampai ternganga saat langkah pertamanya melewati pintu. Dia menemukan sebuah ruangan super besar dengan langit-langit yang menjulang tinggi.

Tirainya yang terbuat dari kain sutra menjuntai indah dari langit-langit, menutupi setiap jendela kaca.

Semua perabotan yang mengisi ruangan adalah furniture kelas satu, langkap dengan lukisan clasik bernilai tinggi yang menghiasi dinding-dindingnya.

Pada ruang tamu terdapat dua set sofa mewah model eropa klasik, ditambah guci-guci raksasa yang menghiasi sudut ruangan.

Zhafira masih mengedarkan pandangan penuh kagum pada interior mansion, ketika mendengar suara bariton Kakek Chandra.

"Antar Nona Zhafira ke kamarnya, biarkan dia beristirahat," perintah Kakek Chandra pada seorang pelayan.

"Baik, Tuan."

"Zha, pergilah beristirahat, karena besok adalah hari pernikahanmu," ujar Kakek Chandra.

Zhafira sedikit terbelalak.

Besok? Mengapa cepat sekali?

Namun, semua pertanyaan itu tetap Zhafira simpan. Dia mengangguk, lalu mohon diri pada Kakek Chandra, dan mengikuti langkah pelayan tersebut menuju lantai atas.

Zhafira tidak tahu bagaimana hari esok, tapi yang jelas dirinya akan menjadi istri dari seorang pria, yang bahkan tidak ia ketahui siapa namanya, dan seperti apa orangnya.

Bab 3

Sementara itu di tempat lain.

Pria yang akan menikah dengan Zhafira sedang duduk gelisah di ruang tamu penthousenya.

Dia adalah Bara Martinez, seorang pemuda berusia 27-tahun, berperawakan gagah, alis tebal, hidung mancung, serta memiliki sorot mata yang tegas.

Di usia yang masih terbilang muda, Bara Martinez sudah memiliki karir yang luar biasa.

Dia kini menjabat sebagai CEO di Berlian Investama Group, dan berhasil mengembangkan perusahaan milik kakeknya tersebut, hingga menjadi salah satu kerajaan bisnis terbesar di Asia.

Sepak terjang Bara dalam dunia bisnis tidak perlu diragukan lagi, dia sangat dihormati dan ditakuti oleh kawan maupun lawan.

Siapa pun orangnya pasti akan berpikir ribuan kali untuk membuat masalah dengan Bara. Pria ini adalah pebisnis yang terkenal kejam, dia tidak segan membuat lawan bisnisnya bangkrut dalam satu jentikan jari.

Yang lebih mengerikan, dia bisa membuat siapa pun yang mengusiknya menghilang tanpa ada yang tahu ke mana raibnya.

Namun, kali ini sang CEO berkuasa sedang pusing bukan kepalang. Sebabnya tak lain karena sang kakek memaksa dirinya untuk menikah.

Yang lebih buruk lagi, dia akan menikah dengan wanita yang tidak dikenal. Bahkan mereka belum pernah bertemu sama sekali. Entah dari mana asalnya, seperti apa wajahnya, Bara tidak tahu.

Tentu saja ini adalah hal terkonyol dalam hidup seorang Bara Martinez.

"Ini gila, Ma. Bagaimana mungkin aku bisa menikahi wanita itu, kenal saja tidak!" keluh Bara sembari memijit pelipis, kepalanya serasa mau pecah.

"Kamu tetap harus menikah dengan wanita itu, Bara ... ini adalah perintah kakekmu! Kamu tahu sendiri pria tua itu sangat keras kepala, dia tidak akan main-main dengan ancamannya," sahut Belinda.

Wanita paruh baya yang masih sangat cantik, dan berpenampilan serba mewah ini adalah ibunya Bara.

"Tidak, Ma. Pokoknya aku tidak mau menikah dengan wanita itu ... Mama tahu sendiri aku sudah memiliki kekasih, dan kami saling mencintai."

Saat ini Belinda juga tidak kalah pusing dibanding anaknya. Wanita paruh baya ini terus memaksa akal liciknya bekerja lebih keras.

Namun, Belinda tetap tidak berhasil menemukan solusi, karena apa pun yang ia pikirkan selalu membentur surat wasiat yang telah dibuat oleh mertuanya.

Dalam wasiat itu, Kakek Chandra Martinez akan menghibahkan seluruh asetnya pada yayasan amal, jika Bara belum menikah tepat saat ia berumur 27-tahun.

Besok Bara Martinez akan genap berusia 27-tahun.

Sebelumnya Bara sudah pernah mengenalkan kekasihnya pada sang kakek. Sialnya Kakek Chandra Martinez tidak menyukai gadis yang menjadi kekasih cucunya tersebut, dan oleh sebab itu dia memilihkan sendiri calon untuk Bara.

"Bara, kau harus mengalah. Ini hanya untuk sementara, sampai seluruh aset keluarga Martinez beralih menjadi atas namamu," desak Belinda.

"Lalu bagaimana dengan Mischa, Ma?"

Bara tidak dapat membayangkan, seperti apa kekecewaan kekasihnya tersebut, bila tahu ia menikah dengan wanita lain.

"Sebisa mungkin kau harus merahasiakan pernikahan ini dari Mischa, tapi jika nanti ketahuan olehnya, biar mama yang menjelaskan padanya." Belinda memberi solusi.

Bara membuang napas kasar, kepalanya nyaris pecah memikirkan semua ini.

"Baiklah, sepertinya memang tidak ada pilihan lain," pasrah Bara pada akhirnya.

*

Pernikahan Zhafira dan Bara akan dilangsungkan secara sederhana di mansion keluarga Martinez.

Pagi ini Zhafira sedang berada di kamar untuk dihias oleh tim makeup artist. Rambut Zhafira ditata ala messy low bun, dengan paduan aksen poni tipis yang menutupi sebagian dahinya.

Sedangkan untuk wajahnya, Zhafira hanya diberi riasan tipis, sehingga kesan cantik natural semakin memancar indah dari wajah gadis ini.

Selesai dengan prosesi makeover, Zafira pun dibawa keluar untuk menuju ruang akad. Ini adalah detik-detik yang sangat mendebarkan bagi Zhafira, karena sebentar lagi akan bertemu calon suaminya.

Dalam hati Zhafira bertanya-tanya, seperti apa pria yang akan menjadi suaminya? Apakah dia tampan? Apakah dia pria yang baik?

Namun, mengingat nasib dirinya yang jauh dari kata mujur, membuat Zhafira takut untuk berharap akan menemukan kebahagiaan dari pernikahan ini.

Terlebih bagi Zhafira, ini bukanlah pernikahan yang sesungguhnya, tapi lebih seperti pertukaran untuk biaya pengobatan ibunya.

Sampailah Zhafira di ruang tengah mansion keluarga Matinez. Dia menemukan seorang pemuda tampan, dalam balutan tuxedo putih yang berdiri gagah di samping kakek Chandra Martinez.

Zhafira menebak, bisa jadi pria ini adalah calon suaminya. Lalu secara alami Zhafira memberi salam dengan anggukan kepala, tak lupa juga memberikan senyuman terbaiknya.

Namun, balasan yang didapat Zhafira tidak sesuai ekspektasi. Pria itu malah membuang wajah, dan menunjukkan sikap tidak suka.

Tanpa terasa acara akad berlangsung cepat dan lancar. Setelah itu Zhafira dibawa ke sebuah kamar yang lebih luas dan mewah, dibanding kamar yang ia tempati semalam.

Namun, bukan kemewahan dan segala furniture kelas wahid di kamar ini yang menjadi perhatian Zhafira. Melainkan taburan bunga mawar merah yang mengisi setiap sisi ruangan ini.

Sepertinya kamar ini sengaja disiapkan bagi Zhafira dan sang suami, untuk menghabiskan malam pertama yang indah sebagai pengantin baru.

Harumnya aroma mawar yang menyeruak indra penciuman, membuat jantung Zhafira berdebar tidak menentu.

Benarkah sebentar lagi Zhafira akan merasakan indahnya malam pengantin? Sepertinya tidak!

Zhafira sangat yakin akan firasatnya, semua itu diperkuat oleh sikap dingin yang Bara tunjukkan saat prosesi akad tadi.

Bahkan Zhafira sudah ditinggal begitu saja pada saat proses akad selesai. Bara pamit kepada Kakek Chandra Martinez, dengan alasan ada pertemuan penting dengan klien.

Entah yang dikatakan Bara tadi benar atau tidak, Zhafira tidak tahu. Namun, mata hati Zhafira melihat itu hanya alibi Bara semata.

"Silahkan beristirahat, Nyonya Muda ... saya pamit dulu, Anda bisa memanggil saya jika butuh sesuatu," tutur pelayan yang mengantar Zhafira.

Zhafira mengangguk, lalu membalas perkataan pelayan tersebut, "Terimaksih, Bi."

Setelah pelayan itu pergi, Zhafira pun merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Dia menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang sulit dijabarkan.

Zhafira juga memikirkan ibu yang tengah berjuang di meja bedah, rasanya dia ingin ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi terkini sang bunda.

Namun, Zhafira sadar statusnya sekarang adalah wanita yang sudah bersuami, jadi ia pun menunda niat datang ke rumah sakit sampai Bara pulang. Zhafira tidak ingin dianggap sebagai istri kurang ajar, karena meninggalkan rumah tanpa izin suami.

Zhafira tidak tahu apa yang harus ia lakukan di sini, ia hanya keluar kamar saat makan siang. Setelah itu kembali lagi ke kamar, dan beristirahat.

Karena tidak ada yang bisa dikerjakan, Zhafira tertidur hingga sore hari.

Ketika Bara pulang entah dari mana, dia mendapati Zhafira sedang terlelap.

Melihat pemandangan itu membuat Bara menggeram kesal, seharusnya yang tidur di ranjang pengantin itu adalah Mischa kekasihnya, alih-alih wanita tidak jelas yang dinikahinya tadi pagi.

Bara melangkah cepat mendekati ranjang.

"Hei, siapa yang mengizinkanmu tidur di ranjangku!" bentak Bara dengan suara barintonnya yang terdengar mengerikan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED