"Halo. Apakah ini benar dengan Bapak Kenan Putra Abimana?" tanya seorang wanita melalui ponsel pintar dengan brand ternama milik seorang CEO Muda A&G Groups yang memiliki gurita bisnis terbesar di negeri ini. Meskipun usianya baru genap tiga puluh tahun. Kenan sudah berhasil mengembangkan bisnis keluarganya hingga memiliki berbagai cabang bisnis yang berbeda. Mulai dari real estate, departemen store, restoran hingga penginapan kelas bintang lima yang tersebar dimana-mana.
"Ya. Benar. Siapa ini? Kenapa anda menggunakan ponsel Jovanya?" tanyanya cepat.
"Saya pelayan di One Night Club hanya ingin mengabarkan jika tunangan anda sedang berada disini dalam kondisi yang sangat mabuk. Dia ditinggal sendirian oleh teman-temannya yang sudah dijemput oleh pacar masing-masing," balas wanita itu.
"Apa? Baiklah. Nanti saya kirim orang untuk menjemputnya," timpal Kenan enteng. Namun, sebelum dia menutup sambungan teleponnya wanita itu kembali berkata.
"Dia hanya ingin dijemput olehmu, Tuan. Makanya sejak tadi dia menolak pulang bersama teman-temannya."
"Ish. Menyusahkan sekali wanita ini. Baiklah. Aku akan datang," timpal Kenan dengan nada sedikit marah.
"Terima kasih, Tuan." Tut. Sambungan terputus.
"Bagaimana? Dia mau kan datang kesini?" tanya Jovanya antusias. Pelayan itu pun tersenyum lalu mengangguk mantap.
"Yeeee," sorak Jovanya dan teman-temannya.
"Kalau begitu sekarang kamu harus siap-siap. Cepat pura-pura mabuk! Biar dia tidak curiga," ujar temannya.
"Iya. Kita pergi dulu ya! Inget kamar hotelnya, kan? Jangan lupa kasih Kenan minuman itu juga!" tambah yang lain.
"Iya-iya. Aku masih ingat semuanya kok. Udah sana kalian pergi. Nanti keburu Kenan datang malah hancur semua rencanaku," usir Jovanya.
"Iya-iya. Kita pergi dulu ya. Bye!"
"Bye!" Setelah cipika-cipiki kedua teman Jovanya pun segera meninggalkan tempat itu. Begitu juga dengan pelayan tadi. Tak lama berselang Kenan datang. Seperti rencananya Jovanya pun langsung pura-pura teler.
"Ayo, kita pulang!" ajak Kenan sambil meraih tangan Jovanya untuk dipapah meninggalkan tempat itu. Namun, Jovanya malah menggeleng sambil meraih gelas wine yang ada di meja itu.
"Kau harus mencoba minuman ini, Ken. Kau pasti akan menyukainya," kata Jovanya sambil pura-pura mabuk.
"Nggak-nggak! Aku lagi nggak ingin minum," tolak Kenan sambil mendorong gelas kecil itu. "Lebih baik kita pulang saja!"
"No. No. No. Aku tidak akan kemana-mana sebelum kau mencicipi minuman ini. Ayo, Kenan sekali saja!" ujar Jovanya. Dia menyodorkan gelas itu ke depan mulut Kenan.
"Aku nggak mau mabuk, Jo? Aku harus nganterin kamu pulang."
"Ini cuma segelas kecil, Ken. Kamu nggak akan mabuk. Ayolah, Ken!" bujuk Jovanya sambil pura-pura tidak sadar. Awalnya Kenan terus menolak, tapi akhirnya dia menenggak minuman itu. "Yeee. Enak, kan?" seru Jovanya. Kenan tak menjawab. Mendadak kepalanya terasa sangat berat.
"Ayo, kita pulang sekarang!" ajak Kenan. Sambil memapah tubuh Jovanya yang pura-pura lemas. Kenan berjalan keluar. Namun, baru saja melewati pintu masuk ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya.
"Ken. Kamu tidak apa-apa?" tanya Jovanya berakting polos.
"Kenapa mendadak udara sangat panas sekali?" gumam Kenan. Sambil mengibaskan bagian depan kemejanya.
"Mungkin kau merasa tidak enak badan. Lebih baik kita cari hotel terdekat saja. Ayo!"
Hingga detik ini rencana Jovanya terbilang sukses. Apalagi obat perangsang itu bekerja semakin baik saat mereka sudah sampai di kamar hotel. Jovanya meletakkan tubuh Kenan ke atas ranjang yang empuk. Lelaki itu tanpa sadar langsung membuka kancing kemejanya yang paling atas. Jovanya tersenyum penuh kemenangan.
"Malam ini kau akan menjadi milikku seutuhnya, Ken," gumam Jovanya. Dia melepaskan dress ketatnya hingga menyisakan pakaian dalamnya saja. Kemudian dengan gerakan yang sangat menggoda iman. Pelan-pelan Jovanya naik ke atas ranjang. Mendekati Kenan yang sedang keblingsatan sendiri. "Ken. Malam ini akan menjadi malam terindah untuk kita berdua," gumam Jovanya tepat di depan telinga Kenan. Tangannya dengan nakal sudah merayap turun. Mengekspor dada bidang Kenan yang berotot.
Mendengar ucapan itu Kenan seakan tersadarkan. Ia langsung mencegah tangan Jovanya yang ingin merambat lebih turun.
"Maaf, Jo. Aku tidak bisa melakukan ini!" kata Kenan sambil mendorong tubuh Jovanya hingga jatuh ke ranjang. Dengan cepat Kenan segera pergi dari tempat itu.
"Kenan! Kenan tunggu!" teriak Jovanya kesal. Karena rencananya gagal total.
Keesokan harinya Kenan pergi berkonsultasi dengan dokter spesialis Seksologi andalannya. Sebenarnya, dia mengidap kelainan aneh. Dimana Kenan belum pernah bisa merasakan bergairah meskipun ada gadis cantik dan seksi menggoda di depannya. Seperti halnya semalam. Saat dia mendapatkan pengaruh dari obat perangsang. Dia sudah menyadarinya sejak awal. Namun, dia sengaja pura-pura tidak tahu. Untuk mencari tau reaksi tubuhnya setelah dirangsang oleh obat itu. Akan tetapi, hingga saat-saat terakhir Jovanya menggodanya. Dia tetap saja tak bisa merasakan apapun. Makanya, Kenan segera menolak permintaan sang tunangan malam itu. Sebelum dia menyadari kelainan bagian pusaka pada tubuh Kenan.
"Bagaimana?" tanya Dokter sambil menunjukkan gambar wanita seksi dari layar laptopnya.
"Tidak menarik," balas Kenan dengan ekspresi datar.
"Baiklah. Kita coba selanjutnya!" Dokter memindah gambar ke slide selanjutnya. Gambar wanita yang lebih seksi dari yang tadi. "Bagaimana sekarang?"
"Tidak menarik," kata Kenan datar. Dokter mulai gelisah. Begitu juga dengan asisten pribadi Kenan yang mengantarnya. Mereka saling berpandangan dengan wajah bingung.
"Baiklah. Ini gambar kita yang terakhir," ujar sang Dokter sambil mengubah tampilan gambar pada layar. Jantung si asisten pun berdebar kencang. Saat Kenan menatap gambar di depannya dengan seksama. Di layar itu tampak seorang lelaki tampan yang tersenyum manis selayaknya anggota kaum pelangi. "Bagaimana?" tanya Dokter dengan nada bergetar. Kenan masih menatapnya dengan cermat. Hingga akhirnya tak lama kemudian ia menggeleng perlahan.
"Tak menarik juga," ujar Kenan yang membuat asistennya yang merupakan seorang lelaki tulen bernafas lega.
"Ya. Mungkin hanya itu terapi yang bisa kita lakukan sekarang. Kita bisa lanjutkan lagi di pertemuan selanjutnya," ujar Dokter. Kenan menghembuskan nafas beratnya.
"Sejak awal aku juga sudah menduga jika ini tidak akan berhasil. Buang-buang waktu saja!" ujar Kenan kemudian beranjak. "Ayo, pergi! Kita masih ada agenda meninjau kemajuan hotel baru kita, bukan!" tambahnya kemudian pergi dari tempat itu.
"Kami permisi dulu, Dok. Terima kasih," ujar sang asisten pribadi.
"Sama-sama. Jangan lupa untuk ingatkan dia meminum obat yang sudah saya resepkan."
"Baik."
Di tempat lain seorang gadis cantik berpakaian khas seorang pelayan di sebuah restoran kecil sedang terburu-buru membereskan meja pelanggan yang baru saja selesai dipakai. Setelah ini dia akan menjalani tes wawancara kerja di tempat lain untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Maklum ibunya yang sakit-sakitan membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk bisa mendapatkan perawatan medis yang tepat. Sementara, gadis itu sudah tidak ingin merepotkan orang lain dalam hal pembiayaan ibunya. Meskipun itu berasal dari kekasihnya sendiri ataupun ibu tirinya yang pelit.
"Lia! Kau masih ada waktu? Bisa bersihkan meja itu juga?" ujar temannya sambil membawa tumpukan nampan di tangannya. Gadis itu pun menoleh ke arah meja yang ditunjuk oleh rekan kerjanya itu.
'Tidak terlalu kotor. Aku bisa menyelesaikannya dengan cepat,' pikir Lia.
"Baiklah. Aku akan melakukannya," timpal Lia sambil kembali fokus dengan pekerjaannya.
Setelah semua pekerjaannya selesai. Dengan terburu-buru Lia pergi ke hotel tempat ia akan menjalani interview. Karena tak sempat berganti pakaian di restoran tadi. Lia yang baru saja sampai di area parkir pun mencari tempat sepi. Mata Lia pun terpaku pada sebuah ruang tersendiri yang menjorok lebih ke dalam dan hanya diisi oleh satu mobil mewah. Mobil itu tak bergerak sedikitpun. Sehingga Lia yakin jika mobil itu sudah ditinggal oleh pemiliknya. Dengan bergegas, Lia mendekati mobil itu.
Kemudian di samping mobil itu dia segera melepaskan seragam restorannya dan diganti dengan kemeja putih yang sudah dia bawa dari rumah. Tak hanya kemeja, Lia juga mengganti roknya yang berwarna merah dengan rok span hitam yang cukup ketat. Setelah itu, tak lupa Lia merias wajahnya agar terlihat segar dan tampak menarik. Kaca mobil tak bersalah itu pun menjadi pengganti cermin yang lupa ia bawa untuk mengoreksi penampilannya. Setelah memoles bibirnya dengan lipstik murahan yang dia beli di pinggir jalan. Lia merasa penampilannya sudah maksimal. Makanya, dia memonyongkan bibirnya seakan-akan ingin mengecup kaca film itu. Tiba-tiba kaca mobil itu pun terbuka perlahan dari dalam. Tentu saja hal itu membuat Lia terkejut.
"Apa yang akan kau lakukan dengan mobilku?" tanya Kenan dari dalam mobilnya.
Jimmy, Asisten Pribadi Kenan melajukan mobil mewah sang bos besar menuju Panorama Hotel. Ini adalah cabang hotel terbaru yang dimiliki Kenan. Meskipun terbilang cukup anyar. Namun, pengunjung hotel ini sudah mulai ramai. Sebab, tarif hotel yang kompetitif dengan full fasilitas yang mewah, nyaman dan elegan. Tentu saja menjadi minat tersendiri bagi para pengunjung. Belum lagi jika ada modus tamu yang ingin bertemu dengan Kenan sang eksekutif muda yang sukses. Hanya sekedar untuk mengingat masa lalu pertemanan mereka ataupun sengaja datang untuk menawarkan bisnis bersama. Pasti mereka akan semakin betah tinggal di hotel itu.
"Kita sudah sampai, Tuan," kata Jimmy. Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran VIP khusus untuk mobil Kenan. Kenan yang sedari tadi merasa ada kotoran di ujung sol sepatunya. Merasa risih untuk memakainya.
"Kau masih membawa sepatu ganti untukku?" tanya Kenan.
"Oh, maaf. Apa sepatu Tuan Muda kotor kembali? Persediaan yang saya bawa sudah habis. Terakhir yang dipakai anda itu," balas Jimmy sambil memutar badannya ke jok belakang.
"Ish. Lalu ini bagaimana? Aku tidak bisa memakai sepatu kotor seperti ini. Seharusnya kau membawa lebih untuk persediaan."
"Maaf, Tuan. Ini adalah salahku," balas Jimmy.
"Lalu bagaimana sekarang? Pokoknya aku tidak mau memakai sepatu seperti ini."
"Bagaimana kalau saya cuci sebentar di dalam, Tuan. Bukankah hotel ini juga dilengkapi dengan fasilitas laundry?"
"Iya. Kau benar. Cepatlah lakukan! Aku masih memiliki banyak agenda selain menunggu sepatu itu kering kembali."
"Baik, Tuan."
Jimmy keluar dari mobil. Kemudian ia mengambil sepatu Kenan di jok belakang sebelum pergi. Sedangkan Kenan kembali sibuk dengan layar iPad-nya. Saat Jimmy sudah berlalu sepeda motor milik Lia datang. Gadis itu tampak celingukan sesaat. Sebelum akhirnya memilih untuk berjalan mendekati mobil Kenan. Kenan masih sibuk dengan pekerjaannya ketika Lia sedang menolah-noleh ke sekeliling. Baru saat Lia mulai membuka bajunya tanpa sengaja Kenan menoleh. Kenan langsung menutupi wajahnya saat melihat Lia melepaskan seragam restorannya. Namun, sedetik kemudian Kenan mengintip dari sela-sela jarinya. Entah mengapa dadanya mendadak berdebar kencang. Matanya tak berhenti menatap kemolekan tubuh Lia yang tampak dari atas kemeja putihnya yang masih terbuka.
Gluk!
Saliva Kenan seakan sangat sulit ditelan. Padahal, tenggorokannya terasa sangat kering. Kenan masih belum bisa mengontrol dirinya. Hingga akhirnya dia tersadar kala Lia memanyunkan bibirnya di balik kaca mobilnya.
Deg!
Jantung Kenan seakan berhenti berdetak. Mendapatkan rayuan seperti itu. Ia pun langsung membuka kaca mobilnya. Hingga membuat Lia terkejut.
"Apa yang kau kau lakukan dengan mobilku?" tanya Kenan dari dalam mobilnya. Lia tak membalas. Ia hanya mengangkat tangannya sambil menunjukkan jari tengah dan telunjuknya dengan wajah ketakutan. Pada menit berikutnya Lia segera tunggang langgang dari tempat itu. "Hei, tunggu!" teriak Kenan sambil turun dari mobilnya. Ketika Lia sedang celingukan mencari gadis itu. Jimmy sudah kembali.
"Tuan. Apa yang kau cari?" tanya Jimmy.
"Apakah kau melihat sosok gadis yang lari dari arah sini?" tanya Kenan. Jimmy tak langsung menjawab. Ia malah terlihat bingung.
"Gadis? Tidak. Aku tidak melihatnya," balas Jimmy jujur. Wajahnya terlihat bingung sambil ikut celingukan ke sekitarnya. Namun, tetap saja mereka tak menemukan siapapun.
'Shit! Siapa sebenarnya gadis itu? Kenapa melihatnya berganti pakaian sabisa membuat tubuhku bergetar?' pikir Kenan sambil terus mengedarkan pandangannya.
Sementara itu, Lia berlari dengan cepat meninggalkan parkiran. Dia benar-benar kaget bercampur ketakutan tadi. Sampai di tempat yang cukup aman dia berhenti untuk mengatur nafasnya lagi.
"Hosh. Hosh. Hosh. Untung saja aku bisa kabur. Pasti aku akan mendapatkan masalah. Jika masih berada di sana," gumam gadis itu. Ketika menyadari banyak pelamar kerja yang sudah mengantri di ruangan tempatnya melamar kemarin. Lia pun tak membuang banyak waktu untuk segera mendekatinya.
"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang gadis yang berdiri di balik meja resepsionis.
"Hari ini saya ada wawancara kerja, Mbak."
"Dengan atas nama siapa?"
"Camelia." Lia menjawab mantap. Gadis itu terlihat sedikit sibuk dengan layar komputer di depannya.
"Baiklah. Anda bisa menunggu untuk dipanggil. Data anda sudah saya forward ke HRD," ujarnya.
"Baik. Terima kasih."
Waktu berlalu. Sudah lebih dari satu Minggu sejak interview. Lia belum juga mendapatkan panggilan untuk bekerja di Panorama Hotel. Makanya dia masih bekerja di restoran itu dengan gaji yang kecil. Malam itu, teman sang bos baru saja mengadakan acara di restoran tempat Lia bekerja. Makanya semua karyawan pun harus kerja lembur untuk membereskan sisa-sisa pesta mereka.
"Lia! Tolong antarkan menu ini ke meja sebelas ya!" ujar teman Lia saat gadis itu sedang membersihkan salah satu meja.
"Lah. Kenapa nggak kamu antar langsung saja?" tanya Liam bingung.
"Aku masih ada kerjaan di belakang!" balasnya sambil berjalan menjauh. Lia tentu tak bisa mengelak lagi. Ini sudah menjadi tanggung jawabnya juga. Akhirnya dia mengakhiri urusannya dengan meja itu. Kemudian mengangkat nampan berisi dua porsi iga bakar, dua piring kentang goreng dan dua gelas lemon tea. Gluk! Lia menelan ludahnya sendiri melihat menu makanan kesukaannya itu. Dia pun baru sadar jika memang sedari siang dia belum makan apa-apa. Karena begitu sibuknya melayani pelanggan.
"Ini pesanannya, Tuan. Silahkan dinikmati!" kata Lia sambil meletakkan makanan-makanan tadi ke depan meja seorang lelaki yang sedang sibuk membaca buku menu.
"Mbak tunggu!" ujarnya saat Lia hendak berjalan pergi.
"Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?"
"Iya. Bisakah anda menemani saya menikmatinya?" tanya lelaki itu sambil menurunkan buku menu tadi. Lia pun langsung tersenyum manis melihat sosok lelaki yang sudah dua tahun ini menjalin asmara dengannya itu.
"Randy? Sejak kapan kau datang?" tanya Liam tanpa melunturkan senyumannya.
"Sejak pacarku lembur dan tak bisa dihubungi," ujar sambil meraih tangan Lia. Lia pun duduk di bangku terdekat dengan Randy. Wajahnya seketika terlihat bersalah.
"Maaf ya. Tadi keadaan sangat ramai sekali. Aku tidak ada waktu untuk membuka ponselku," ujar Lia. Randy pun mengembangkan senyumannya. Tangannya terangkat untuk menyelipkan poni rambut Lia ke belakang telinga.
"Aku tau kok. Bahkan, aku juga tau kalau kamu belum makan sejak siang. Makanya aku buru-buru kesini untuk mengingatkan."
"Terima kasih ya. Aku sangat beruntung bisa mendapatkan lelaki seperti dirimu. Wajahmu tampan, hatimu baik dan pengertian. Kau begitu sempurna untuk orang seperti diriku ini, Ran," kata Lia. Selain parasnya yang tampan dan sikapnya yang perhatian dengan Lia. Randy juga sebenarnya anak orang kaya. Meskipun, sampai saat ini Lia belum pernah bertemu dengan keluarganya secara langsung.
"Kau juga cantik, Sayang. Kau dulu adalah primadona kampus dan aku sangat beruntung bisa mendapatkanmu," ujar Randy. Ia meraih tangan Lia lalu mengecup punggung tangan dengan lembut. Lia pun tersenyum bahagia. Kemudian mereka melanjutkan waktu berdua dengan menikmati makanan mereka.
Seperti biasa Lia tidur di rumah sakit untuk menemani ibunya. Dia tak mungkin bisa meninggalkan wanita paruh baya itu sendiri. Karena kini hanya dia satu-satunya keluarga yang dia punya. Lia menggeliat pelan saat telinganya sayup-sayup mendengar percakapan beberapa orang di sampingnya. Maklum, ibunya di rawat di ruangan yang berisi enam pasien. Jadi, selain ada Lia dan ibunya disana juga ada pasien lain dan keluarganya juga. Saat Lia menegakkan badannya sang ibu ternyata sudah bangun. Dia tersenyum sambil mengelus rambut panjang Lia.
"Ibu sudah bangun?" tanya Lia sambil mengucek matanya.
"Iya, Sayang. Ibu lihat kau tidur nyenyak sekali. Kau pasti kecapean kemarin. Iya, kan?"
"Ya. Lumayan sih, Bu. Kemarin di resto ada pelanggan yang mengadakan acara anniversary pernikahan gitu sampai malam. Makanya aku pulangnya terlambat karena harus lembur dulu. Tapi, karena itu aku mendapatkan uang lembur yang cukup banyak. Lihat ini!" Lia merogoh saku jaketnya lalu memperlihatkan dua lembar uang seratus ribuan dengan wajah gembira.
"Wah. Banyak sekali."
"Iya, Bu. Pelanggan kami ini merasa puas dengan pelayanan kami. Makanya dia kasih uang tambahan sebagai tanda terima kasih."
"Kamu patut mendapat itu dari kerja kerasmu, Nak," kata Ibu Lia.
"Hehehe. Oh, ya. Ibu pengen makan apa pagi ini? Aku tau ibu pasti udah bosen, kan? Makan makanan dari rumah sakit terus?" Sang ibu kembali tersenyum.
"Kamu simpan saja uang itu untuk keperluanmu sendiri. Ibu kan sedang sakit. Jadi, ibu tidak boleh makan makanan sembarangan."
"Tapi, Bu. Ibu kan sudah lama tidak makan sama rendang. Aku beliin nasi Padang ya?" tawar Lia.
"Tapi, Lia. Nasi Padang sama rendang itu mahal. Mendingan yang kamu disimpan saja. Siapa tau nanti kamu butuh sesuatu?"
"Udah. Nanti Lia cari uang lagi. Lia kan sehat. Lia masih bisa bekerja. Tak lama lagi Lia juga dapat pekerjaan yang gajinya lebih baik. Ibu jangan khawatir!" ujar Lia sambil mengelus tangan ibunya. Mata sang ibu berkaca-kaca melihat kebaikan sang anak padanya.
"Kau memang anak yang baik, Lia. Maaf ibu belum bisa membahagiakanmu." Air mata sang ibu pun tiba-tiba menetes begitu saja.
"Lah kok Ibu menangis? Ibu tidak boleh berkata seperti itu. Dengan Ibu sehat dan bisa pulang seperti dulu. Itu sudah cukup membuat Lia bahagia. Karena cuma Ibu satu-satunya kebahagiaan yang Lia miliki," balas Lia sambil memeluk tubuh ibunya. Ibu Lia pun menyeka air matanya. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan anaknya.
"Kau benar, Sayang. Ibu pasti akan segera sembuh dan kita akan kembali ke rumah seperti dulu," timpal wanita paruh baya itu kemudian mereka pun berpelukan satu sama lain. Ibu Widya menderita penyakit autoimun. Dimana sel antibodi dalam tubuhnya justru menyerang sel-sel tubuh lain yang sehat. Karena penyakit ini sudah komplikasi, Bu Widya kini juga menderita penyakit jantung dan beberapa sarafnya rusak. Makanya, dia harus terus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit.
"Ibu tunggu sebentar ya! Aku akan segera kembali," kata Lia sambil melepaskan pelukannya. Ibu Widya pun langsung mengangguk mantap. Ia tersenyum melihat kepergian sang anak melewati tirai pembatas yang masih tertutup.
Setengah jam kemudian Lia kembali dengan dua bungkus nasi Padang di tangannya. Langkahnya tampak sangat riang menuju ruang rawat sang ibu yang sudah sangat ia hafal. Namun, baru saja melewati pintu masuk mendadak matanya membulat melihat sosok sang ibu sedang dibentak-bentak oleh wanita bergaya glamor dengan dua bodyguardnya. Orang-orang sampai tak tega melihat ibu Widya yang hanya bisa menangis sesenggukan.
"Dasar wanita jalang! Berhentilah mengganggu uang suamiku! Kau bukan istrinya lagi! Kau tidak berhak atas apapun dari kekayaan suamiku!" teriak wanita itu. Lia segera berlari mendekat lalu mendorong wanita itu hingga terjatuh.
"Tutup mulutmu! Sesungguhnya kaulah wanita jalang itu! Kau yang sudah menghancurkan kehidupan kami. Kau merebut ayahku dan semua kekayaannya! Ingat! Ibuku yang sudah menemani ayah sejak dia masih kere. Dia diceraikan tanpa membawa apapun kecuali diriku. Uang kompensasi dari ayah tiap bulan itu tidak cukup untuk mengganti penderitaan yang kami lalui!" balas Lia penuh amarah. Wanita itu segera bangkit dengan bantuan kedua bodyguardnya.
"Kau hanya anak ingusan yang tidak tau apa-apa. Lebih baik kau urusi saja ibumu dengan baik. Karena lain kali aku tidak akan membiarkan Mas Arya mengeluarkan sepeserpun untuk pengobatan ibumu!" ancam wanita itu.
"Lakukan saja! Aku akan melaporkannya ke polisi karena sudah abai dan menelantarkan anaknya. Ingat! Mungkin ibu hanyalah mantan istri, tapi aku tidak akan pernah menjadi mantan anaknya. Selama aku belum menikah dia masih memiliki kewajiban untuk menafkahi aku!" tantang Lia penuh amarah.
Sarah tak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya sambil menahan amarahnya yang sudah memuncak. Setelah itu Sarah pun akhirnya pergi.
'Dulu kau bisa menghancurkan kehidupanku. Tapi, sekarang aku tidak akan membiarkannya terjadi lagi,' batin Lia sambil menatap kepergian Sarah dengan penuh amarah. Setelah itu, Lia menyeka matanya yang berair. Dia pun segera balik badan dan menenangkan ibunya yang masih terus menangis.
"Sudah, Bu. Jangan takut! Lia ada disini untukmu," gumam Lia sambil memeluk tubuh ibunya dengan erat.
Sementara itu, di bagian VIP rumah sakit yang sama. Kenan kembali datang menemui Dokter langganannya untuk berkonsultasi.
"Wah. Apakah benar kau merasakan semua itu?" tanya sang Dokter dengan antusias.
"Iya, Dok. Aku juga merasa aneh. Padahal, dia hanya membuka bajunya saja. Pakaian dalamnya masih ada dan itu terjadi sangat singkat. Tetapi, mampu buat jantungku berdebar kencang," jawab Kenan.
"Ini sungguh menakjubkan. Setelah sekian lama kau berobat. Baru kali ini kau menunjukkan tanda-tanda kemajuan dan itu cukup signifikan. Aku mulai merasa optimis metode ini akan berhasil."
"Benarkah begitu?"
"Iya. Coba kau cari gadis itu lagi! Jika dia bisa merangsang gairahmu. Aku yakin dia bisa menjadi perantara kesembuhanmu."
"Baiklah, Dok. Aku akan pastikan dia akan segera kutemukan!" balas Kenan mantap sambil melirik ke arah Jimmy. Jimmy tak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk setuju. Meskipun dengan sedikit terpaksa.
Setelah menyelesaikan konsultasinya Kenan dan Jimmy meninggalkan ruangan Dokter Raymond. Di depan pintu masuk rumah sakit. Mobil mewah Kenan sudah menunggu. Jimmy segera melangkah lebih dulu untuk membukakan pintu.
"Kau sudah mendengarnya sendiri, bukan? Aku tidak mau mendengar alasan apapun. Cepat cari gadis itu bagaimanapun caranya! Aku harus sudah sembuh sebelum acara pernikahan dengan Jovanya diselenggarakan!" kata Kenan memerintah.
"Baik, Tuan," balas Jimmy yang sudah duduk di jok belakang kabin kemudi. Jimmy pun segera menyalakan mesin mobil itu. Tepat saat mobil berjalan tampak Lia sedang mendorong kursi roda ibunya dari sisi rumah sakit di belakang mobil Kenan.
"Bagaimana sekarang, Bu? Merasa lebih baik, kan?" tanya Lia sambil jongkok di depan sang ibu.
"Ya. Melihat bunga warna-warni selalu membuat Ibu tenang," balas Bu Widya. "Tapi, kenapa kau belum berangkat bekerja? Bagaimana jika nanti ketinggalan bus?"
"Ibu jangan khawatir. Sebentar lagi Randy akan datang untuk menjemputku."
"Ibu sangat senang melihat hubungan kalian yang selalu harmonis. Ibu harap dia bisa menjaga dan mencintaimu sampai tua. Tidak seperti ayahmu yang seorang pengkhianat," kata Ibu Widya dengan air mata yang tak terasa mengalir begitu saja.
"Hust. Ibu jangan mikirin ayah lagi ya! Percaya sama aku. Kita pasti akan bahagia meskipun hidup berdua. Aku sangat mencintaimu, Ibu. Janganlah menangisi ayah lagi! Kumohon," ujar Lia kemudian memeluk erat tubuh ibunya.
'Aku berjanji suatu hari nanti akan membalas semua yang pernah kau lakukan pada ibuku, Sarah,' ancam Lia dalam hati. Ia pun langsung mengusap air matanya sebelum sang ibu melihat.