"Aku hamil."
"Sudah berapa bulan?"
"Baru dua minggu. Aku mau kamu bertanggung jawab dan menikahi aku."
Andre menghisap sebatang rokok yang terselip diantara jari telunjuk dan jari tengahnya. Menghembuskan kepulan asap yang cukup banyak dari mulutnya kemudian mematikan rokoknya.
"Apa kamu yakin itu anak aku?"
"Maksud kamu apa bilang begitu? Memangnya kamu pikir aku semurahan itu sampai-sampai aku mau memberikan tubuh aku untuk disentuh dan dinikmati oleh banyak laki-laki?"
"Baiklah. Kalau begitu dandan secantik mungkin nanti malam. Aku akan menjemput kamu dan membawa kamu ke rumahku untuk diperkenalkan kepada kedua orang tuaku."
Seyla mengganggukan kepala.
****
"Jadi dokter memprediksi kalau kamu akan melahirkan sebentar lagi? Selamat ya. Aku ikut senang mendengarnya."
Nela tersenyum sambil mengusap perutnya.
"Terima kasih Seyla. Tapi jujur aku sedikit takut dan gugup."
"Kenapa harus takut? Kamu nggak boleh berpikiran macam-macam. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Aku doakan semoga proses persalinan kamu berjalan dengan lancar. Aku juga berharap semoga kamu dan bayi kamu selamat."
"Kamu memang sahabat aku yang paling baik. Aku beruntung punya sahabat sebaik kamu. Kamu tahu nggak sih, semenjak aku hamil sikap mas Bima manis banget," Nela bercerita sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Oh ya?"
"Iya. Dia nggak pernah biarin aku terlambat makan. Bahkan aku makan pun selalu disuapin sama dia. Anak aku manja sih. Maunya disuapin terus sama papanya. Mas Bima juga selalu mengelus perut aku sebelum tidur, bikinin aku susu setiap hari, disaat dia capek karena baru pulang bekerja pun dia selalu menyempatkan diri untuk manjain aku dan membelikan apa pun yang aku mau."
"Kamu benar-benar beruntung Nela. Punya suami sebaik dan perhatian seperti Bima. Apa Andre juga akan melakukan hal yang sama seperti Bima ketika kami sudah menikah nanti?" batin Seyla. Raut wajahnya tiba-tiba saja berubah menjadi murung.
"Apa selama menikah Bima pernah main tangan sama kamu? Melakukan tindakan kekerasan sama kamu mungkin?" tanya Seyla.
"Nggak pernah. Mas Bima itu orangnya super lembut. Lihat tangan aku berdarah sedikit aja gara-gara mengiris wortel di dapur dia khawatir dan nggak bolehin aku masak sampai sekarang. Memangnya kenapa kamu tanya-tanya begitu?"
"Syukurlah kalau begitu. Kemarin tetangga samping rumah aku baru aja bercerai karena suaminya suka main tangan sama istrinya. Istrinya nggak tahan hidup sama suaminya yang setiap hari suka mukulin fisiknya, suka mabuk-mabukan terus selingkuh pula."
"Kamu tenang aja. Mas Bima nggak begitu kok orangnya," Nela menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur.
"Jadi kapan kamu segera menyusul?"
"Nanti, tunggu aku berhasil menemukan pria seperti suami kamu."
"Tapi jangan rebut suami aku ya."
"Ya mana mungkin lah aku rebut suami kamu. Kamu kan sahabat aku."
Nela tersenyum tipis.
"Aku cumah bercanda. Seyla, sudah dulu ya. Aku mau belanja bahan-bahan makanan ke supermarket."
Seyla mengangguk.
Nela memutuskan sambungan video call mereka.
Seyla menatap jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam. Berbicara bersama Nela memang terkadang membuatnya lupa waktu. Tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengobrol.
Seyla melemparkan ponselnya ke atas kasur. Turun dari atas tempat tidur mendekati lemari pakaian lalu membukanya. Mencari-cari pakaian mana yang cocok ia kenakan untuk bertemu kedua orang tua Andre nanti.
****
"Kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Seyla. Memperhatikan sekitarnya dengan keheranan. Bukankah tadi Andre berkata kalau pria itu ingin membawanya bertemu kedua orang tuanya? Tapi kenapa Andre justru melewati jalan ini? Ini bukan jalan menuju ke rumah Andre setahu Seyla.
"Aku mau bawa kamu ke rumah dukun kampung yang bisa membantu kamu menggugurkan kandungan kamu."
"Apa? Aku nggak mau. Kamu gila ya? Ini anak kamu sendiri. Darah daging kamu. Kamu juga sudah janji sama aku akan bertanggung jawab dan menikahi aku. Mengajak aku bertemu kedua orang tua kamu malam ini."
"Seyla dengar, kedua orang tuaku sudah menjodohkan aku bersama perempuan lain jauh sebelum janin itu tumbuh di rahim kamu. Namanya Casandra, anak pengusaha terkenal yang tentunya lebih pantas bersanding bersama aku. Dia jauh lebih segala-galanya dari pada kamu. Kamu tahu sendirikan kedua orang tuaku menginginkan aku menikah bersama perempuan dari keluarga kaya raya bukan miskin seperti kamu."
Seyla menatap Andre tidak percaya.
"Dan kamu harus mau menggugurkan bayi itu karena sampai kapan pun aku nggak akan pernah mau bertanggung jawab apalagi sampai menikahi kamu. Aku nggak mau perjodohanku bersama Casandra batal hanya karena kehamilan kamu."
"Pokoknya aku akan tetap mempertahankan bayi ini. Berhenti di sini!"
"Nggak. Aku nggak mau. Kamu harus ikut aku ke rumah dukun kampung yang bisa membantu kamu menggugurkan kandungan kamu."
Seyla menggigit pundak Andre membuat Andre menghentikan laju motornya secara tiba-tiba. Seyla turun dari atas motor dan berlari menjauhi Andre yang masih saja meringis kesakitan sembari memegangi pundaknya.
"Seyla mau ke mana kamu?"
Seyla terus saja berlari sesekali melihat ke belakang untuk memastikan apakah Andre mengejarnya atau tidak sampai-sampai tidak menyadari ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan.
Begitu Seyla menatap ke depan kilauan cahaya lampu mobil menyorot ke arahnya. Seyla memejamkan kedua matanya ketika jarak mobil itu dan dirinya hanya beberapa jengkal saja dan siap menabrak tubuhnya.
Cit..
Terdengar suara ban mobil bergesekan dengan aspal. Seyla membuka kedua matanya kemudian bernafas lega begitu mengetahui kalau dirinya baik-baik saja dan mobil itu tidak jadi menabraknya.
"Kamu nggak papa kan?"
Seyla menolehkan wajah. Menatap pria tampan yang baru saja keluar dari dalam mobil yang tadi hampir menabraknya.
"Bima?"
"Seyla? Kamu ngapain ada di sini? Malam-malam begini? Memangnya kamu nggak takut ada preman yang mencelakai kamu dan berbuat sesuatu yang bisa merugikan kamu? Apalagi kamu perempuan."
"Kamu benar dan sekarang aku memang sedang dikejar sama dua orang preman dan hampir dilecehkan. Apa kamu bisa bantu aku? Tolong antarkan aku pulang ke rumah. Rumah aku nggak jauh dari sini kok," Seyla memegang tangan Bima dan memasang tatapan memohon. Dia takut Andre tiba-tiba datang lalu kembali memaksanya ke rumah dukun kampung itu lagi.
"Aku takut mereka berhasil menangkap aku dan kembali melecehkan aku seperti sebelumnya. Sedangkan di sini cumah kamu yang bisa aku mintai bantuan."
"Di mana rumah kamu?"
"Di jalan Mutiara blok A nomor 26," Seyla menyebutkan alamat tempat tinggalnya.
"Tapi sebelum pulang ke rumah kita mampir sebentar ke apotik ya. Ada sesuatu yang mau aku beli," Seyla berpesan pada Bima. Bima menganggukan kepala dan tidak banyak tanya karena tidak penting juga.
Seyla meraih gelas kosong yang ada di atas meja makan. Menuangkan air putih ke dalamnya kemudian merogoh saku roknya dan mengambil obat tidur dari dalamnya. Dimasukan secukupnya lalu mengaduknya.
Seyla menghela nafas. Memasukan kembali obat tidur itu ke dalam saku roknya dan membawa segelas air putih itu menuju ruang tamu rumahnya di mana sudah ada Bima yang menunggu dan duduk di atas kursi.
"Sudah malam, saya pamit pul_"
"Mau ke mana? Diminum dulu. Maaf ya di rumah aku cumah ada ini," Seyla meletakan segelas air putih yang ia bawa di atas meja.
"Nggak papa," Bima meraihnya lalu meneguknya sampai habis tidak bersisa.
"Makasih ya kamu sudah anterin aku pulang."
Bima mengangguk.
"Sama-sama. Sudah malam, saya pamit pulang," Bima berdiri dari duduknya, hendak melangkah namun jatuh terduduk kembali di atas kursi. Bima memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Kamu kenapa?"
"Nggak papa, cumah sedikit pusing."
"Kamu istirahat aja dulu. Nanti kalau pusingnya sudah hilang baru kamu pulang. Kan bahaya menyetir dalam keadaan nggak memungkinkan. Nanti terjadi apa-apa di jalan."
Bima tidak menjawab. Tiba-tiba saja ia merasa mengantuk sekali. Padahal sebelumnya tidak. Dia juga terbiasa begadang di jam seperti ini mengerjakan pekerjaannya dan tidur larut malam.
"Aku mau ke dapur dulu sebentar," Seyla melangkahkan kedua kakinya menjauhi Bima, tepat dilangkah ke lima Seyla menghentikan langkah kakinya dan menatap Bima.
"Dia sudah tidur. Berarti obat tidur itu sudah bekerja sebagaimana mestinya," Seyla berbalik dan melangkah mendekati Bima. Membawa Bima ke kamarnya dengan cara memapahnya lalu dibaringkan di atas tempat tidur.
Seyla melangkah pelan mendekati pintu kamarnya, menutupnya dan kembali mendekati Bima. Membuka satu persatu kancing kemeja yang pria itu kenakan sembari memandangi wajah Bima yang sedang terlelap.
"Tampan," Seyla bergumam pelan. Jari jemarinya bergerak menyentuh setiap inci wajah Bima. Mulai dari kedua kelopak mata, hidung, pipi dan berakhir di bibir.
****
Matahari mulai menampakan diri. Kilauan cahayanya menembus kaca jendela kamar dan menyilaukan penglihatan mata. Sudah pagi ternyata.
"Enghh.." Bima membuka kedua matanya dan berubah posisi menjadi duduk. Memegangi kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.
Bima menoleh ke samping begitu mendengar suara tangisan seseorang. Ditatapnya wanita berambut panjang yang sibuk menutupi tubuhnya dengan selimut tebal sampai sebatas dada dan terisak sambil menunduk hingga sebagian rambutnya menghalangi wajahnya.
"Ka-kamu, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Bima. Sedikit gelagapan begitu mengetahui dirinya ada di satu ranjang yang sama dengan seorang wanita.
Seyla mendangakan wajah. Memandang Bima dengan deraian air mata.
"Jadi kamu sama sekali nggak mengingat apa yang sudah kamu lakukan ke aku semalam?" tanya Seyla. Nada suaranya dibuat selirih mungkin seolah dia adalah korban yang paling tersakiti.
Bima menggeleng pelan. Dia benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Kenapa dirinya bisa berada di satu ranjang yang sama bersama Seyla, Bima tidak tahu. Seingatnya semalam setelah mengantarkan Seyla pulang, Bima hendak pulang ke rumahnya namun setelah itu Bima merasakan pusing dan tidak tahu apa-apalagi. Memangnya apa yang sudah dia lakukan semalam.
"Memangnya apa yang sudah saya lakukan semalam?"
"Kamu sudah melakukan hal nggak seonoh sama aku. Kamu jahat! Kamu jahat! Gara-gara kamu aku kehilangan sesuatu yang selalu aku jaga selama ini untuk pendamping hidup aku kelak. Kamu sudah menghancurkan masa depan aku," Seyla melayangkan kepalan tangannya di bahu Bima. Memukuli bahu pria itu sambil mengeluarkan air matanya.
"Aku sudah mengingatkan kamu sebelumnya, bahkan aku dorong kamu supaya kamu nggak melakukan hal bodoh itu. Tapi kamu tetap aja paksa aku. Kamu tau sendirikan aku perempuan sedangkan kamu laki-laki, tenaga kamu jauh lebih kuat dari pada aku. Mana bisa aku menghentikan niat buruk kamu," Seyla menangis tersedu-sedu. Memainkan sandiwara seapik mungkin agar Bima percaya.
"Sekarang aku nggak tahu harus bagaimana. Cepat atau lambat aku pasti akan hamil anak kamu. Aku nggak mau menanggung malu," Seyla menundukan kepala beberapa detik kemudian ia mengangkat wajahnya kembali dan menatap Bima lekat-lekat.
"Aku mau kamu bertanggung jawab dan menikahi aku."
"Kamu gila? Aku ini suami sahabat kamu. Mana mungkin aku menikahi kamu. Lagi pula aku sangat mencintai Nela. Aku nggak mau kehilangan dia," Bima menolak keinginan Seyla.
"Sudah aku duga. Kamu pasti nggak akan mau bertanggung jawab dan menikahi aku karena kamu sangat mencintai Nela, istri kamu. Kamu tenang aja, aku nggak akan memaksa kamu untuk bertanggung jawab. Meskipun aku akan mengandung darah daging kamu sekalipun. Demi keutuhan rumah tangga kalian dan juga kebahagiaan Nela."
****
sekarang belum pulang juga. Nggak tahu apa aku khawatir dan terus mikirin dia sampai aku nggak bisa tidur semalaman. Aku kan takut terjadi sesuatu sama dia. Mau ke mana pun dia pergi apa salahnya mengabari istri, supaya aku bisa lebih tenang. Aku coba hubungi nomornya berkali-kali tapi nomornya nggak aktif. Semoga mas Bima baik-baik aja," Nela memasukan semua pakaian yang baru saja selesai ia lipat ke dalam lemari pakaian dan disusun serapi mungkin.
Tidak lama kemudian pintu kamar terbuka lebar. Bima datang dengan penampilan yang sangat acak-acakan. Dua kancing kemeja bagian atasnya terbuka, Bima juga mengancingkan baju kemejanya secara asal-asalan bahkan terlihat tinggi sebelah.
"Kamu baru pulang mas? Kamu dari mana aja semalam? Aku coba hubungi kamu tapi nomor kamu nggak aktif," Nela langsung melayangkan beberapa pertanyaan pada Bima.
"Semalam aku menginap di rumah sahabat kamu Nela. Bahkan tanpa sadar aku melakukan hal bodoh itu bersama sahabat kamu. Aku nggak bisa membayangkan apa jadinya bila kamu mengetahui semuanya. Mungkin kamu akan memilih meninggalkan aku. Aku tega menghianati kamu dan meninggalkan kamu sendirian di rumah semalaman padahal kamu sedang mengandung. Sedangkan aku justru asik melakukan perbuatan menjijikan itu bersama wanita lain," batin Bima. Jujur dia juga tidak mau semua ini terjadi, tapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terjadi dan tidak bisa dicegah lagi.
"Semalam mama sakit. Maka dari itu mas putuskan datang ke rumah mama untuk menjenguk keadaan mama. Mas sempat berbincang-bincang sama mama sampai pada akhirnya mas ketiduran."
"Maka dari itu kamu nggak pulang semalam?"
"Ya. Sebenarnya mas sempat terbangun sih, waktu mas melihat jam ternyata sudah pukul dua malam. Mama melarang mas pulang ke rumah karena takut terjadi sesuatu kepada mas di jalan," Bima terus saja mengarang cerita agar Nela percaya. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam merasa sangat bersalah karena telah membohongi Nela.
"Tapi apa salahnya mengabari aku dan memberitahu aku kalau kamu menginap di rumah mama. Supaya aku nggak khawatir dan kepikiran," ujar Nela. Menurutnya apa yang dilakukan oleh Bima tentu tidak dapat dibenarkan.
"Masalahnya ponsel mas dalam keadaan mati total, baterainya habis dan mas lupa mengecasnya. Maaf ya, mas janji mas nggak akan seperti ini lagi dan membuat kamu khawatir."
"Iya mas. Kamu sudah makan?" tanya Nela. Seketika mengubah topik pembicaraan mereka.
"Belum sih. Kebetulan mas juga lapar banget. Tadi nggak sempat sarapan di rumah mama."
"Aku masak banyak makanan pagi ini. Kamu langsung ke meja makan aja ya, nanti aku nyusul. Kita sarapan sama-sama."
"Siap istriku yang paling cantik," Bima menoel dagu Nela dan berlalu keluar kamar.
Nela geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
"Mas Bima ada-ada aja."
"Yaampun mas, itu kucingnya kamu apa kan? Kenapa tiba-tiba nggak bisa jalan begitu?" Nela panik begitu tiba di dapur melihat ada seekor kucing berwarna oren berjalan dengan dua kakinya yang pincang keluar rumah.
"Mas pukul. Lagian kebiasaan suka curi makanan orang. Ternyata kemarin-kemarin waktu kita mau makan terus lauknya pada hilang dia pelakunya," Bima meletakan kembali sapu yang tadi ia gunakan untuk memukul kucing tersebut di belakang pintu.
"Itu kucing punya siapa sih? Kenapa dibiarkan sama pemiliknya main ke rumah tetangga. Apa nggak pernah dikasih makan sampai-sampai suka nyuri makanan orang," Bima mendudukan kembali tubuhnya di atas kursi makan.
"Seharusnya kamu jangan begitu mas. Apalagi aku sedang mengandung. Nanti kalau terjadi sesuatu sama anak kita bagaimana?" Nela menatap Bima.
"Kamu masih percaya sama yang begituan? Itu cumah mitos sayang. Buktinya rekan kerja mas di kantor waktu istrinya hamil mukulin ayam tetangga yang masuk ke rumahnya sampai mati. Tapi anak mereka nggak kenapa-kenapa tuh. Lahir dalam keadaan normal dan baik-baik aja," Bima mengambil lauk pauk beserta sayur kemudian melahap makanan miliknya.
Nela mengusap perutnya lalu ikut mendudukan tubuhnya di atas kursi makan.
"Kok baju kamu bau parfum perempuan ya mas?" Nela terlihat mengendus-endus.
"Ma-masa sih? Perasaan nggak deh."
Nela mencium baju kemeja yang Bima kenakan.
"Tuh kan baunya dari baju kamu mas," Nela menjauhkan tubuhnya kemudian menatap Bima lekat-lekat.
"Semalam kamu nggak bertemu siapa-siapa selain sama mama, Ayumi dan Kasih kan mas?"
"Se-semalam mas cumah bertemu sama mama, Ayumi dan Kasih sayang. Nggak ada siapa-siapa lagi di sana. Mungkin ini bau parfum Ayumi karena waktu mas datang dia kelihatan senang banget terus peluk mas. Kamu tahu sendirikan Ayumi memang suka manja sama mas meskipun sudah besar."
"Nggak. Ini bukan bau parfum Ayumi mas. Aku paham betul bau semua koleksi parfum Ayumi di kamarnya. Karena aku pernah cobain satu persatu. Dia juga pernah bilang kalau dia nggak suka sama parfum yang baunya terlalu menyengat begini," Nela membantah perkataan Bima barusan.
"Mungkin bau parfum kasih."
"Tadi bilangnya Ayumi sekarang Kasih. Jadi yang benar yang mana mas?"
"Soalnya dua-duanya peluk mas hehe."
"Tapi ini juga bukan bau parfum punya Kasih."
"Oh iya mas lupa. Semalam di rumah mama juga ada tante Hanum. Tante Hanum juga menginap di rumah mama," Bima tersenyum lebar pada Nela.
"Mungkin ini bau parfum tante Hanum karena semalam waktu mas datang tante Hanum juga memeluk mas. Mungkin kangen karena jarang bertemu."
"Biasanya kalau seseorang ditanya dan dia selalu memberikan jawaban berubah-ubah, itu tandanya dia sedang berbohong. Apa ada yang mas Bima sembunyikan dari aku? Mas Bima juga terlihat gugup saat menjawab pertanyaan aku. Apa mas Bima bertemu dengan perempuan lain selain mama, Ayumi dan Kasih semalam? Kalau iya kenapa harus ditutupi dan kenapa mas Bima nggak mau jujur sama aku," batin Nela. Kedua matanya terus mengawasi Bima yang kembali melahap makanan miliknya.
****
"Kenapa aku terus kepikiran sama Seyla ya. Bila dipikir-pikir Seyla cantik juga. Bahkan jauh lebih cantik dari pada Nela," Bima berbaring di atas tempat tidurnya sembari memandangi langit-langit kamarnya. Menjadikan kedua lengannya sebagai bantalan.
"Sejak pertama kali Nela mengenalkan aku dengan Seyla seperti ada yang berbeda setiap kali aku melihat dia. Entah kenapa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Apa aku suka sama Seyla? Ah ngomong apasih aku ini. Mana mungkin lah aku suka sama dia. Aku kan sukanya cumah sama Nela."
Bima menolehkan wajah dan menatap Nela yang baru saja memasuki kamar.
"Mas, tadi ada pesan dari Kasih."
"Terus Kasih bilang apa?"
Nela mendudukan tubuhnya di pinggiran tempat tidur.
"Dia minta uang buat beli ponsel baru. Perasaan Kasih baru beli ponsel baru bulan lalu deh mas. Masa mau membeli lagi."
"Kamu seperti nggak tahu aja anak zaman sekarang. Begitu ada barang keluaran terbaru ya langsung tergiur. Begitu pula dengan Kasih. Yaudah kamu kasih aja uangnya. Kasihan juga Kasih kalau keinginan dia nggak dituruti. Dia kan adik mas," ucap Bima.
"Aku tahu mas. Tapi kamu juga jangan terlalu memanjakan adik kamu. Nggak baik. Apa-apa selalu dituruti. Mana uangnya untuk sesuatu yang nggak berguna pula. Kalau uangnya dipakai untuk sesuatu yang bermanfaat sih aku oke-oke aja. Ini buat beli ponsel baru sedangkan ponsel dia yang lama juga masih bisa dipakai."
Bima berubah posisi menjadi duduk. Menatap Nela tidak suka setelah mendengar perkataan Nela barusan.
"Belum lagi kuliah dia kamu yang biayain."
"Kasih itu cumah punya mas dan mama sekarang. Mama nggak kerja. Mana punya uang untuk memenuhi keinginan Ayumi dan Kasih. Papa juga sudah meninggal. Sudah nggak ada lagi tempat mereka bermanjaan selain mas karena mas kakaknya. Jadi mas harap kamu mengerti."
"Kan bisa kerja sampingan mas untuk membiayai kuliahnya. Kalau sekiranya kurang baru kita bantu. Nggak harus kita yang membiayai semua biaya kuliahnya bahkan sejak awal Kasih masuk kuliah. Kuliah kita yang biayain, uang jajan perbulan juga, beli apa-apa tinggal minta sama kakaknya tapi dia hobi banget hambur-hamburkan uang sama teman-temannya. Mana uang pemberian dari kamu pula. Kemarin aku lihat dia traktir teman-temannya makan di restoran. Mana temannya banyak banget pula," Nela memberitahu Bima.
"Oh jadi kamu keberatan kalau mas memberi mama, Ayumi dan Kasih uang? Iya mas tahu kok perusahaan kamu yang punya. Mas kerja di perusahaan kamu dan kamu yang meminta mas untuk mengurusnya. Rumah juga kamu yang punya. Mas cumah menumpang di rumah ini. Menumpang makan di rumah kamu, semua aset berharga punya kamu. Mas nggak pernah lupa itu kok. Tanpa kamu mas hanya pengangguran nggak berguna. Jadi wajarlah kamu keberatan mas memberi mama dan adik-adik mas uang karena semua uang yang mas berikan sumbernya dari kamu."
"Ya, aku keberatan. Rasanya sudah capek aku begini terus. Mana yang dibantu suka nggak tahu diri. Dikira mencari uang gampang apa? Kalau sekali dua kali aku nggak masalah. Tapi ini sudah terlalu sering. Apalagi kedua adik kamu nggak ada sopan-sopannya sama aku. Setiap kali kamu mengajak aku menginap di rumah mama, mereka pasti tiba-tiba menginap di rumah teman mereka. Maksudnya apa coba? Mereka juga pernah bilang sama kamu nggak bisa cari istri yang cantik apa, masa cari istri yang sebelas dua belas sama pembantu," Nela mengeluarkan semua unek-unek yang ia pendam dalam hatinya. Bahkan adik Bima, Ayumi pernah membuat status WA nenek peyot menikah bersama pangeran tepat di hari pernikahan mereka.
"Kamu tuh kenapa sih sepertinya benci banget sama Ayumi dan Kasih? Kamu punya dendam apa sama mereka? Mereka memang selalu menginap di rumah teman mereka setiap kali kita menginap di rumah mama, ya mungkin karena kamar di rumah mama cumah ada tiga. Satu kamar mama, satu kamar Kasih dan satu kamar Ayumi. Kalau mereka nggak tidur di rumah kan kamarnya bisa kita yang menempati."
"Mas, Kasih dan Ayumi itu sama-sama perempuan. Bisa tidur satu kamar di kamar Ayumi atau di kamar Kasih. Sedangkan kita bisa menempati salah satu kamar mereka yang kosong," balas Nela tak mau kalah.
"Tapi setiap kali kita datang ke rumah mama mereka selalu berlaku sopan kok sama kamu. Mas melihat sendiri."
"Itu kan di depan kamu. Beda lagi kalau kamu nggak ada. Sekarang begini aja mas. Kalau kamu diminta untuk memilih, mana yang akan kamu pilih? Aku atau adik kamu?"
"Kamu nggak salah tanya begitu? Ya jelas mas pilih Ayumi dan Kasih karena mereka berdua adik mas. Sudahlah, mas malas berdebat sama kamu," Bima berbaring membelakangi Nela.
"Padahal aku berharap kamu akan memilih dua-duanya mas," batin Nela. Tapi yasudahlah. Nyatanya memang begitu. Bima lebih menyayangi keluarganya dibandingkan dirinya. Bahkan setiap kali mereka beradu mulut pasti Bima selalu membela kedua adiknya meski kedua adiknya salah sekalipun.