🏵️🏵️🏵️
“Sabar, Sayang. Jangan pernah berkata seperti itu lagi.”
Mas Arif memelukku sangat erat, kehangatan itu sangat terasa. Namun, aku tetap merasa tidak berguna lagi. Aku tidak pantas lagi mendampingi Mas Arif karena aku istri yang tidak dapat dibanggakan.
🏵️🏵️🏵️
Tiga tahun telah berlalu, kasih sayang Mas Arif masih sama terhadapku. Namun, pertanyaan mama mertua membuatku sangat bingung. Mereka tidak pernah tahu bahwa aku dan suami menyembunyikan satu rahasia terbesar dalam keluarga ini.
Seminggu yang lalu, aku dan Mas Arif berkunjung ke rumah mertua. Mereka sangat bahagia menyambut kedatangan kami. Kak Nila—kakak ipar tertua yang sudah berkeluarga kebetulan juga sedang berada di sana. Dia datang beserta suami dan Tiara—anak perempuan mereka yang kini duduk di SD kelas dua.
Tiara sangat cantik dan manis, persis seperti wanita yang melahirkannya. Aku amat menyayanginya dan dia juga selalu ingin berada di dekatku jika sudah bertemu.
“Kapan kamu hamil lagi, Al?” Pertanyaan Kak Nila membuatku lemah.
“Aku ….” Aku menjeda karena Mas Arif melirik ke arahku.
“Doakan aja yang terbaik untuk keluarga kecil kami, Kak.” Mas Arif memberikan balasan atas pertanyaan kakaknya.
“Udah nggak sabar, nih, untuk gendong anak kamu, Rif.” Kak Nila mengembangkan senyumnya.
“Mama juga udah nggak sabar ingin menimang cucu dari anak laki-laki. Kalau nunggu Adam, mah, lama. Kuliahnya aja baru semester tiga.” Aku jauh lebih terkejut mendengarkan keluhan sang mama mertua. Dia menyebut nama adiknya Mas Arif.
“Iya, Mah. Semoga harapan itu akan segera terwujud. Iya, kan, Sayang?” Mas Arif tersenyum kepadaku.
Aku berusaha memberikan jawaban yang tidak mengandung kecurigaan keluarga Mas Arif. “Iya, Mah. Semoga harapan Mama segera terwujud.” Aku berusaha kuat mengeluarkan kalimat tersebut.
Aku dan Mas Arif belum mampu memberitahukan kenyataan yang sebenarnya kepada keluarga. Tidak tahu apa yang akan terjadi jika mereka sudah mengetahui tentang semua itu. Aku tidak sanggup membayangkan sesuatu yang tidak diharapkan. Pikiran menakutkan selalu terlintas di benakku.
“Kamu mikirin apa, sih, Sayang?” Mas Arif membuyarkan lamunanku. Saat ini, kami sedang duduk di sofa ruang TV.
“Aku bingung harus gimana, Mas?”
“Bingung kenapa?”
“Aku merasa kalau kita selalu memberikan harapan palsu pada keluargamu. Bagaimana kalau kita jujur saja dengan apa yang kualami?” Aku memberikan saran kepada Mas Arif.
“Apa kamu yakin, Sayang?”
“Harus yakin, Mas. Aku nggak sanggup harus melakukan kebohongan terus.”
“Jika itu yang terbaik untuk semuanya, aku ngikut aja.” Mas Arif membelai rambutku.
“Semoga keluarga kamu mengerti posisi yang aku hadapi, ya, Mas.”
“Iya, Sayang.” Mas Arif selalu menguatkan dan meyakinkan diriku.
Sebulan kemudian, akhirnya aku dan Mas Arif berhasil memberitahukan hal yang sebenarnya kepada keluarganya. Sungguh, aku sangat terharu atas reaksi yang mereka berikan. Batapa mulia hati papa dan mama mertua menerima kekuranganku.
“Ini sudah kehendak Yang Kuasa, kalian harus kuat. Tidak perlu menutupi hal seperti ini dari keluarga, kita akan mencari solusinya. Kalian bisa mengadopsi anak.” Aku sangat terharu mendengar keikhlasan dan saran yang diberikan mama mertua.
Oleh karena itu, aku sangat menyetujui rencana yang diutarakan keluarga Mas Arif. Namun, aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba tidak menyetujui saran ibunya, padahal awalnya dia yang sangat antusias untuk memenuhi keinginan orang tuanya.
Dua minggu terakhir ini, Mas Arif juga terlihat sangat sibuk dengan ponselnya. Saat sedang berdua saja, pandangannya hanya tertuju ke layar benda itu. Ada kejanggalan yang kurasakan atas perubahannya.
Sungguh, aku tidak percaya bahwa suami yang selalu memberikan perhatian penuh selama ini, tiba-tiba menunjukkan perubahan yang tidak dapat ditutupi. Saat sedang berbincang dengannya, dia hanya memberikan jawaban seadanya dan kembali fokus ke layar ponsel. Ada apa dengan suamiku? Kenapa dia tiba-tiba berubah?
🏵️🏵️🏵️
Aku belum mampu memejamkan mata mengingat perubahan sikap Mas Arif akhir-akhir ini. Aku masih sangat penasaran, kenapa dia lebih fokus pada layar ponselnya. Rasa ingin tahu itu makin bergejolak saat melihat dia sudah terlelap.
Aku segera meraih ponsel Mas Arif. Aku makin heran karena ternyata untuk membuka benda itu memerlukan kata sandi. Kecurigaan yang kurasakan makin tidak dapat terelakkan. Sebelumnya, dia tidak pernah menyembunyikan apa pun dariku.
Setelah berpikir beberapa menit, aku mencoba memasukkan tanggal lahir Mas Arif, tetapi tetap gagal. Aku terus berusaha mengingat hari istimewa dalam hubungan kami. Tiba-tiba terlintas hari bersatunya cinta kami. Aku dengan semangat menggunakan angka tersebut.
Ternyata usahaku berhasil dan ponsel akhirnya terbuka. Aku mencoba membuka pesan dalam aplikasi hijau milik Mas Arif, terdapat nama unik pada salah satu pengirim pesan. Tuan Putri, pemilik akun tersebut.
Aku makin ingin membuka isi percakapan dari nama tersebut. Ternyata banyak perbincangan-perbincangan romantis di dalamnya. Hati ini sangat sedih dan sakit setelah mengetahui Mas Arif bersikap mesra kepada wanita lain.
=============
🏵️🏵️🏵️
[Rif.] Isi pesan dari akun yang bernama Tuan Putri.
[Iya, Tuan Putri.]
[Kamu masih tetap memanggilku dengan sebutan itu?]
[Panggilan itu tidak akan mungkin bisa aku lupakan.]
[Aku terharu.]
[Kamu ke mana aja selama ini?]
[Hidup bersama putramu yang udah tumbuh besar sekarang. Dia sangat mirip dengan ayahnya yang tampan.]
[Apa maksud kamu? Putra?]
Dadaku sesak membaca isi pesan tersebut. Kenapa dia berbicara tentang putra? Siapa sebenarnya yang dia maksud? Sungguh, aku tidak mengerti arah pembicaraan dalam pesan itu. Ini membuatku sangat bingung dan berpikir keras.
Aku kembali menjalankan jari ke layar ponsel, tiba-tiba terlihat percakapan menggunakan suara. Aku segera membukanya untuk mengetahui lebih lanjut.
“Apakah kamu sudi menjemputku dengan kuda putih yang aku dambakan sejak dulu? Bersediakah kamu membahagiakan aku dan putra kita?”
“Putra siapa maksud kamu, Tuan Putri?”
Isi pesan suara itu terdengar sangat nyata, bukan hanya sekadar permainan semata. Aku tidak percaya jika suami yang sangat kuhormati memiliki putra dari wanita lain. Selama ini, Mas Arif tidak pernah bercerita tentang masa lalunya lebih lengkap. Dia hanya menceritakan wanita yang sulit dia lupakan dari pikiran.
Makin ke bawah, percakapan tersebut seperti layaknya sepasang suami istri yang sedang bahagia karena memiliki buah hati yang sangat mereka dambakan. Aku melihat foto seorang anak laki-laki berumur sekitar lima tahun. Dia tampan dan sekilas mirip Mas Arif.
[Ini penerusmu, Rif.] Tuan Putri kembali mengirim pesan dengan menambahkan foto anak kecil tersebut.
[Penerus? Aku benar-benar bingung, Tuan Putri.]
[Dia Rifa.]
[Apakah dia ….]
[Dia anakmu, darah dagingmu. Namanya aku ambil dari singkatan nama orang tuanya.]
Aku tidak sanggup lagi menahan amarah melihat dan mendengar apa yang ada dalam ponsel Mas Arif. Tidak peduli jika diriku dikatakan sebagai istri yang tega mengganggu waktu istirahat suami. Tanpa menunggu lama, aku pun membangunkannya.
“Bangun, Mas.” Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Dalam hitungan detik, dia terbangun dan langsung mengusap pipiku. “Kamu belum tidur, Sayang?” tanya Mas Arif dengan lembut.
“Aku mau kamu jelasin maksud pesan dan foto ini.” Aku langsung menunjukkan foto dan pesan dalam ponselnya.
“Kenapa kamu bisa buka HP-ku?” Dia meraih benda itu dari tanganku.
“Sekarang kamu udah mulai menyembunyikan sesuatu dari istrimu?”
“Aku nggak suka kalau kamu seperti ini.”
“Kenapa, Mas? Dulu kamu selalu terbuka dan tidak merasa keberatan jika aku memegang HP-mu. Apa yang kamu sembunyikan, Mas?”
“Maksudnya apa?”
“Siapa yang kamu sebut dengan Tuan Putri dan siapa anak itu, Mas?”
“Bukan siapa-siapa, kok.”
“Jangan bohong kamu, Mas! Apa benar kamu punya anak dari wanita lain?” Aku menaikkan suara.
“Baiklah … aku akan jujur. Dia anakku.”
Dadaku makin sesak mendengar apa yang keluar dari mulut Mas Arif. Sungguh, aku tidak percaya kalau dia memiliki anak dari wanita lain. Selama ini, hubungan kami baik-baik saja dan dia juga selalu menyayangi dan mencintaiku.
“Apa, Mas?” tanyaku dengan suara melemah.
“Benar … dia anakku. Karena itu, aku tidak setuju jika kita mengadopsi anak. Aku memiliki anak kandungku sendiri.”
“Cukup, Mas. Aku nggak kuat. Aku tidak pernah menyangka kalau suami yang kucintai tega mengkhianati janji suci yang telah diucapkan dalam pernikahan.”
“Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Awalnya, juga aku nggak nyangka, tapi setelah kami bertemu dua hari yang lalu, aku baru yakin kalau dia benar anakku. Kamu belum membaca pesan itu sampai ke bawah.” Penjelasan Mas Arif membuatku benar-benar terpukul.
Dia dengan berani mengakui seseorang sebagai anak kandungnya, ini benar-benar sulit dipercaya. Aku tidak kuat mengetahui sesuatu yang tidak mudah diterima akal dan pikiran. Istri mana yang akan rela mengetahui suaminya memiliki penerus dari wanita lain?
🏵️🏵️🏵️
Mas Arif telah menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Ternyata dia memiliki anak dari wanita masa lalu yang sudah enam tahun tidak bertemu. Hati ini sangat hancur dan tidak ingin mendengarkan kenyataan pahit itu.
Mas Arif mengaku kalau dirinya pernah melakukan hubungan yang tidak pantas dengan cinta pertamanya. Namun, setelah beberapa minggu, wanita itu tiba-tiba menghilang dan tidak ada kabar. Mas Arif berusaha mencari, tetapi tidak membuahkan hasil.
Harapan untuk kembali bertemu dengan sang mantan kekasih akhirnya menjadi harapan yang tidak dapat diwujudkan. Dua tahun kemudian, Mas Arif kembali membuka diri untuk mencintai orang lain, dan wanita itu adalah aku.
Tidak ada keanehan yang terjadi selama kami menjalin hubungan sebagai kekasih hingga aku yakin dan bersedia menjadi pendamping hidupnya. Kasih sayang dan cinta yang dia berikan membuat diriku sangat terharu dan tersanjung.
Ternyata semua itu tidak bisa lagi sepenuhnya kudapatkan sekarang. Wanita masa lalu Mas Arif telah berhasil membuat dirinya membagi kasih sayang yang selama ini hanya untukku. Perubahan sikap yang dia tunjukkan benar-benar tidak dapat ditutupi.
“Maafin aku, Sayang. Aku menyayangi dia dan anak kami. Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku akan berusaha adil.” Dia mengucapkan kalimat itu di meja makan tadi pagi sebelum berangkat ke kantor.
==========