Bab 1

🏵️🏵️🏵️

“Alhamdulillah, aku hamil, Mas,” ucapku bahagia kepada Mas Arif, suamiku.

“Iya, Sayang? Alhamdulillah. Ternyata kita secepat ini langsung dikasih kepercayaan untuk memiliki momongan.

“Aku terharu banget, Mas.”

“Terima kasih, Sayang.” Mas Arif memelukku lalu mendaratkan ciuman di dahiku.

Aku tidak pernah menyangka bahwa anugerah terbesar dalam hidupku telah terkabul. Tiga bulan menikah, akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk memiliki momongan. Mas Arif terlihat sangat bahagia mengetahui kehamilanku. Rumah tangga yang baru kami bina akan makin lengkap dengan kehadiran sang buah hati.

Mas Arif, suami yang sangat aku cintai dan hormati karena dia selalu melakukan yang terbaik untukku. Dia juga pasangan hidup yang penuh dengan keromantisan dan sering memberikan banyak kejutan yang tidak terduga.

Keluarganya sangat menyayangiku, bahkan papa dan mama mertua sudah menganggapku seperti anak sendiri. Kasih sayang yang mereka berikan sangat tulus hingga diriku merasa menjadi wanita paling beruntung karena memiliki keluarga yang sangat pengertian.

Kehamilanku membuat Mas Arif makin menunjukkan perhatian dan kasih sayang yang makin besar. Dia selalu memanjakan diriku bak seorang ratu dalam istana cintanya. Sungguh, aku benar-benar bersyukur atas nikmat dan karunia itu.

Akan tetapi, kebahagiaan itu ternyata hanya mampir sesaat karena kecelakaan yang menimpaku. Pada saat usia kandunganku memasuki enam bulan, calon buah hati tercinta telah pergi sebelum melihat keindahan dunia ini. Keberadaannya hanya sementara.

Kejadian nahas itu telah menggagalkan statusku menjadi seorang ibu. Musibah tersebut terjadi sangat cepat dan tidak dapat terelakkan. Ketika itu, Mas Arif membawaku ke taman untuk menghirup udara pagi. Tiba-tiba seorang anak kecil dengan mengendarai sepeda meluncur ke arah kami, dia tidak dapat menghentikan laju rodanya hingga menghantam tepat di perutku.

Rasa sakit itu akhirnya menyebabkan aku tidak sadarkan diri. Setelah kembali terbangun, aku telah berada di rumah sakit. Sangat terlihat jelas adanya perubahan pada wajah anggota keluargaku dan Mas Arif. Aku tidak mengerti kenapa mereka menunjukkan sikap seperti itu.

Mas Arif duduk di samping tempat tidurku, dia menggenggam jemariku dengan kuat. Dia akhirnya menyampaikan sesuatu yang tidak ingin aku dengarkan. Hati ini sangat sakit dan pilu setelah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.

“Kamu yang kuat, ya, Sayang. Aku tahu ini cobaan yang sangat berat, tapi kamu harus terima dengan lapang dada.” Aku makin bingung mendengar penuturan Mas Arif.

“Sebenarnya ada apa, sih, Mas?” Aku penasaran.

“Anak kita, Sayang.” Suara Mas Arif melemah.

“Ada apa dengan anak kita?”

“Dia udah nggak ada bersama kita.”

“Maksud kamu apa, Mas?”

“Dia sudah tenang di sisi-Nya.”

Aku tidak percaya dengan apa yang Mas Arif katakan. Aku segera meraba perut yang ternyata tidak membesar lagi. Aku merasa tidak dapat menyentuh buah hati yang kehadirannya telah kami tunggu-tunggu. Aku langsung menangis sejadi-jadinya.

“Anak kita ke mana, Mas?” Aku menarik tanganku dari genggaman Mas Arif lalu menggoyang-goyangkan tubuhmya.

“Kamu keguguran, Sayang. Dokter akhirnya menjalankan operasi dan anak kita tidak tertolong lagi.”

“Ini nggak mungkin, anakku masih ada!” Aku menaikkan suara.

“Kamu yang sabar, ya, Sayang. Harus ikhlas. Dia sudah dikebumikan tadi ke tempat peristirahatan terakhir.”

“Aku tidak percaya dengan semua ini, aku yakin kalau aku sedang bermimpi.”

“Ini kenyataan yang harus kita hadapi, Sayang. Aku mohon, kamu harus kuat. Ini takdirnya dari Yang Kuasa.” Mas Arif memelukku.

“Aku jahat, Mas. Aku tidak bisa menjadi ibu yang baik. Aku nggak pantas menjadi seorang ibu.” Bening kristal dari pelupuk mataku terus jatuh membasahi pipi.

“Kamu harus kuat, ya, Sayang.” Mas Arif mengusap-usap kepalaku lalu menciumnya.

Musibah itu telah membuatku tidak sadarkan diri hingga beberapa jam. Aku sangat sedih karena tidak sempat melihat wajah buah hati yang telah beberapa bulan terakhir ini menemani hari-hariku. Aku tidak dapat lagi merasakan gerakannya yang mampu membuat diriku terharu.

Ternyata penderitaan tidak berakhir hanya di situ karena setelah pulang dari rumah sakit, Mas Arif memberitahukan kenyataan yang paling pahit dan hampir membuatku pingsan. Berita itu sungguh menyayat hati yang paling dalam.

“Kamu yang kuat, ya, Sayang.”

“Aku akan berusaha untuk ikhlas, Mas.” Aku berpikir kalau Mas Arif berusaha memberikan kekuatan atas kejadian kehilangan buah hati kami yang belum pernah kulihat, ternyata tidak.

“Masih ada satu hal lagi yang harus kamu ketahui.” Mas Arif menggenggam tanganku dengan kuat.

“Ada apa lagi, Mas? Aku takut.” Hati ini mulai merasa ketakutan.

“Jangan kaget, ya, Sayang.”

“Aku semakin deg-degan, Mas.”

“Sebenarnya, dokter juga sudah mengangkat rahimmu karena kecelakaan itu. Kamu tidak akan mungkin bisa hamil lagi.”

Penjelasan Mas Arif membuat jantungku seakan-akan berhenti berdetak. “Ini nggak mungkin, Mas. Aku tidak percaya kalau aku tidak akan bisa memberikanmu anak.” Aku menangis dan membenamkan wajah di dadanya.

“Tapi ini kenyataan yang harus kita hadapi, Sayang.”

“Aku nggak berguna lagi, Mas. Untuk apa aku masih tetap di sini? Aku tidak bisa memberikanmu keturunan.”

=============

Bab 2

🏵️🏵️🏵️

“Sabar, Sayang. Jangan pernah berkata seperti itu lagi.”

Mas Arif memelukku sangat erat, kehangatan itu sangat terasa. Namun, aku tetap merasa tidak berguna lagi. Aku tidak pantas lagi mendampingi Mas Arif karena aku istri yang tidak dapat dibanggakan.

🏵️🏵️🏵️

Tiga tahun telah berlalu, kasih sayang Mas Arif masih sama terhadapku. Namun, pertanyaan mama mertua membuatku sangat bingung. Mereka tidak pernah tahu bahwa aku dan suami menyembunyikan satu rahasia terbesar dalam keluarga ini.

Seminggu yang lalu, aku dan Mas Arif berkunjung ke rumah mertua. Mereka sangat bahagia menyambut kedatangan kami. Kak Nila—kakak ipar tertua yang sudah berkeluarga kebetulan juga sedang berada di sana. Dia datang beserta suami dan Tiara—anak perempuan mereka yang kini duduk di SD kelas dua.

Tiara sangat cantik dan manis, persis seperti wanita yang melahirkannya. Aku amat menyayanginya dan dia juga selalu ingin berada di dekatku jika sudah bertemu.

“Kapan kamu hamil lagi, Al?” Pertanyaan Kak Nila membuatku lemah.

“Aku ….” Aku menjeda karena Mas Arif melirik ke arahku.

“Doakan aja yang terbaik untuk keluarga kecil kami, Kak.” Mas Arif memberikan balasan atas pertanyaan kakaknya.

“Udah nggak sabar, nih, untuk gendong anak kamu, Rif.” Kak Nila mengembangkan senyumnya.

“Mama juga udah nggak sabar ingin menimang cucu dari anak laki-laki. Kalau nunggu Adam, mah, lama. Kuliahnya aja baru semester tiga.” Aku jauh lebih terkejut mendengarkan keluhan sang mama mertua. Dia menyebut nama adiknya Mas Arif.

“Iya, Mah. Semoga harapan itu akan segera terwujud. Iya, kan, Sayang?” Mas Arif tersenyum kepadaku.

Aku berusaha memberikan jawaban yang tidak mengandung kecurigaan keluarga Mas Arif. “Iya, Mah. Semoga harapan Mama segera terwujud.” Aku berusaha kuat mengeluarkan kalimat tersebut.

Aku dan Mas Arif belum mampu memberitahukan kenyataan yang sebenarnya kepada keluarga. Tidak tahu apa yang akan terjadi jika mereka sudah mengetahui tentang semua itu. Aku tidak sanggup membayangkan sesuatu yang tidak diharapkan. Pikiran menakutkan selalu terlintas di benakku.

“Kamu mikirin apa, sih, Sayang?” Mas Arif membuyarkan lamunanku. Saat ini, kami sedang duduk di sofa ruang TV.

“Aku bingung harus gimana, Mas?”

“Bingung kenapa?”

“Aku merasa kalau kita selalu memberikan harapan palsu pada keluargamu. Bagaimana kalau kita jujur saja dengan apa yang kualami?” Aku memberikan saran kepada Mas Arif.

“Apa kamu yakin, Sayang?”

“Harus yakin, Mas. Aku nggak sanggup harus melakukan kebohongan terus.”

“Jika itu yang terbaik untuk semuanya, aku ngikut aja.” Mas Arif membelai rambutku.

“Semoga keluarga kamu mengerti posisi yang aku hadapi, ya, Mas.”

“Iya, Sayang.” Mas Arif selalu menguatkan dan meyakinkan diriku.

Sebulan kemudian, akhirnya aku dan Mas Arif berhasil memberitahukan hal yang sebenarnya kepada keluarganya. Sungguh, aku sangat terharu atas reaksi yang mereka berikan. Batapa mulia hati papa dan mama mertua menerima kekuranganku.

“Ini sudah kehendak Yang Kuasa, kalian harus kuat. Tidak perlu menutupi hal seperti ini dari keluarga, kita akan mencari solusinya. Kalian bisa mengadopsi anak.” Aku sangat terharu mendengar keikhlasan dan saran yang diberikan mama mertua.

Oleh karena itu, aku sangat menyetujui rencana yang diutarakan keluarga Mas Arif. Namun, aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba tidak menyetujui saran ibunya, padahal awalnya dia yang sangat antusias untuk memenuhi keinginan orang tuanya.

Dua minggu terakhir ini, Mas Arif juga terlihat sangat sibuk dengan ponselnya. Saat sedang berdua saja, pandangannya hanya tertuju ke layar benda itu. Ada kejanggalan yang kurasakan atas perubahannya.

Sungguh, aku tidak percaya bahwa suami yang selalu memberikan perhatian penuh selama ini, tiba-tiba menunjukkan perubahan yang tidak dapat ditutupi. Saat sedang berbincang dengannya, dia hanya memberikan jawaban seadanya dan kembali fokus ke layar ponsel. Ada apa dengan suamiku? Kenapa dia tiba-tiba berubah?

🏵️🏵️🏵️

Aku belum mampu memejamkan mata mengingat perubahan sikap Mas Arif akhir-akhir ini. Aku masih sangat penasaran, kenapa dia lebih fokus pada layar ponselnya. Rasa ingin tahu itu makin bergejolak saat melihat dia sudah terlelap.

Aku segera meraih ponsel Mas Arif. Aku makin heran karena ternyata untuk membuka benda itu memerlukan kata sandi. Kecurigaan yang kurasakan makin tidak dapat terelakkan. Sebelumnya, dia tidak pernah menyembunyikan apa pun dariku.

Setelah berpikir beberapa menit, aku mencoba memasukkan tanggal lahir Mas Arif, tetapi tetap gagal. Aku terus berusaha mengingat hari istimewa dalam hubungan kami. Tiba-tiba terlintas hari bersatunya cinta kami. Aku dengan semangat menggunakan angka tersebut.

Ternyata usahaku berhasil dan ponsel akhirnya terbuka. Aku mencoba membuka pesan dalam aplikasi hijau milik Mas Arif, terdapat nama unik pada salah satu pengirim pesan. Tuan Putri, pemilik akun tersebut.

Aku makin ingin membuka isi percakapan dari nama tersebut. Ternyata banyak perbincangan-perbincangan romantis di dalamnya. Hati ini sangat sedih dan sakit setelah mengetahui Mas Arif bersikap mesra kepada wanita lain.

=============

Bab 3

🏵️🏵️🏵️

[Rif.] Isi pesan dari akun yang bernama Tuan Putri.

[Iya, Tuan Putri.]

[Kamu masih tetap memanggilku dengan sebutan itu?]

[Panggilan itu tidak akan mungkin bisa aku lupakan.]

[Aku terharu.]

[Kamu ke mana aja selama ini?]

[Hidup bersama putramu yang udah tumbuh besar sekarang. Dia sangat mirip dengan ayahnya yang tampan.]

[Apa maksud kamu? Putra?]

Dadaku sesak membaca isi pesan tersebut. Kenapa dia berbicara tentang putra? Siapa sebenarnya yang dia maksud? Sungguh, aku tidak mengerti arah pembicaraan dalam pesan itu. Ini membuatku sangat bingung dan berpikir keras.

Aku kembali menjalankan jari ke layar ponsel, tiba-tiba terlihat percakapan menggunakan suara. Aku segera membukanya untuk mengetahui lebih lanjut.

“Apakah kamu sudi menjemputku dengan kuda putih yang aku dambakan sejak dulu? Bersediakah kamu membahagiakan aku dan putra kita?”

“Putra siapa maksud kamu, Tuan Putri?”

Isi pesan suara itu terdengar sangat nyata, bukan hanya sekadar permainan semata. Aku tidak percaya jika suami yang sangat kuhormati memiliki putra dari wanita lain. Selama ini, Mas Arif tidak pernah bercerita tentang masa lalunya lebih lengkap. Dia hanya menceritakan wanita yang sulit dia lupakan dari pikiran.

Makin ke bawah, percakapan tersebut seperti layaknya sepasang suami istri yang sedang bahagia karena memiliki buah hati yang sangat mereka dambakan. Aku melihat foto seorang anak laki-laki berumur sekitar lima tahun. Dia tampan dan sekilas mirip Mas Arif.

[Ini penerusmu, Rif.] Tuan Putri kembali mengirim pesan dengan menambahkan foto anak kecil tersebut.

[Penerus? Aku benar-benar bingung, Tuan Putri.]

[Dia Rifa.]

[Apakah dia ….]

[Dia anakmu, darah dagingmu. Namanya aku ambil dari singkatan nama orang tuanya.]

Aku tidak sanggup lagi menahan amarah melihat dan mendengar apa yang ada dalam ponsel Mas Arif. Tidak peduli jika diriku dikatakan sebagai istri yang tega mengganggu waktu istirahat suami. Tanpa menunggu lama, aku pun membangunkannya.

“Bangun, Mas.” Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya.

Dalam hitungan detik, dia terbangun dan langsung mengusap pipiku. “Kamu belum tidur, Sayang?” tanya Mas Arif dengan lembut.

“Aku mau kamu jelasin maksud pesan dan foto ini.” Aku langsung menunjukkan foto dan pesan dalam ponselnya.

“Kenapa kamu bisa buka HP-ku?” Dia meraih benda itu dari tanganku.

“Sekarang kamu udah mulai menyembunyikan sesuatu dari istrimu?”

“Aku nggak suka kalau kamu seperti ini.”

“Kenapa, Mas? Dulu kamu selalu terbuka dan tidak merasa keberatan jika aku memegang HP-mu. Apa yang kamu sembunyikan, Mas?”

“Maksudnya apa?”

“Siapa yang kamu sebut dengan Tuan Putri dan siapa anak itu, Mas?”

“Bukan siapa-siapa, kok.”

“Jangan bohong kamu, Mas! Apa benar kamu punya anak dari wanita lain?” Aku menaikkan suara.

“Baiklah … aku akan jujur. Dia anakku.”

Dadaku makin sesak mendengar apa yang keluar dari mulut Mas Arif. Sungguh, aku tidak percaya kalau dia memiliki anak dari wanita lain. Selama ini, hubungan kami baik-baik saja dan dia juga selalu menyayangi dan mencintaiku.

“Apa, Mas?” tanyaku dengan suara melemah.

“Benar … dia anakku. Karena itu, aku tidak setuju jika kita mengadopsi anak. Aku memiliki anak kandungku sendiri.”

“Cukup, Mas. Aku nggak kuat. Aku tidak pernah menyangka kalau suami yang kucintai tega mengkhianati janji suci yang telah diucapkan dalam pernikahan.”

“Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Awalnya, juga aku nggak nyangka, tapi setelah kami bertemu dua hari yang lalu, aku baru yakin kalau dia benar anakku. Kamu belum membaca pesan itu sampai ke bawah.” Penjelasan Mas Arif membuatku benar-benar terpukul.

Dia dengan berani mengakui seseorang sebagai anak kandungnya, ini benar-benar sulit dipercaya. Aku tidak kuat mengetahui sesuatu yang tidak mudah diterima akal dan pikiran. Istri mana yang akan rela mengetahui suaminya memiliki penerus dari wanita lain?

🏵️🏵️🏵️

Mas Arif telah menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Ternyata dia memiliki anak dari wanita masa lalu yang sudah enam tahun tidak bertemu. Hati ini sangat hancur dan tidak ingin mendengarkan kenyataan pahit itu.

Mas Arif mengaku kalau dirinya pernah melakukan hubungan yang tidak pantas dengan cinta pertamanya. Namun, setelah beberapa minggu, wanita itu tiba-tiba menghilang dan tidak ada kabar. Mas Arif berusaha mencari, tetapi tidak membuahkan hasil.

Harapan untuk kembali bertemu dengan sang mantan kekasih akhirnya menjadi harapan yang tidak dapat diwujudkan. Dua tahun kemudian, Mas Arif kembali membuka diri untuk mencintai orang lain, dan wanita itu adalah aku.

Tidak ada keanehan yang terjadi selama kami menjalin hubungan sebagai kekasih hingga aku yakin dan bersedia menjadi pendamping hidupnya. Kasih sayang dan cinta yang dia berikan membuat diriku sangat terharu dan tersanjung.

Ternyata semua itu tidak bisa lagi sepenuhnya kudapatkan sekarang. Wanita masa lalu Mas Arif telah berhasil membuat dirinya membagi kasih sayang yang selama ini hanya untukku. Perubahan sikap yang dia tunjukkan benar-benar tidak dapat ditutupi.

“Maafin aku, Sayang. Aku menyayangi dia dan anak kami. Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku akan berusaha adil.” Dia mengucapkan kalimat itu di meja makan tadi pagi sebelum berangkat ke kantor.

==========

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED