Mata Salwa memaksakan diri untuk membuka tatkala merasakan sesuatu yang lembab dan basah menyapu ujung dadanya. Permukaan tubuhnya terasa mengigil, seolah-olah tiada kain yang melindungi tubuh kurusnya dari hawa dingin ruangan ber-AC itu. Dia terkesiap di saat matanya terbuka sempurna, lalu bersiap membuka mulut untuk berteriak. Akan tetapi, suaranya tertahan karena sebuah tangan kekar tiba-tiba membungkam mulutnya.
"Tugasmu belum selesai, Kucing Mungil!" ucap seorang lelaki yang telah mengganggu tidur lelap Salwa. Dia melepas bungkamannya setelah dirasa perempuan itu sedikit tenang.
"Tuan, ...." Belum selesai sebuah kalimat terucap, tetapi lelaki itu sudah memerangkap tubuh Salwa, menindih dengan memosisikan tubuh mungil itu di bawahnya. Dia menundukkan wajah, menempelkan ujung hidungnya ke ujung hidung Salwa.
"Aku tidak suka jika melakukan itu dengan wanita yang sedang tertidur. Kau harus tetap sadar ketika aku menginginkannya lagi."
"Tapi, ...." Dia ingin menyela, mengungkapkan ketidaksetujuannya, tetapi mulut itu telah dibungkam dengan ciuman ganas yang terasa kasar dan menyakitkan.
Rasa benci, jijik, malu, terhina, dan sakit melingkupi hati Salwa. Dia ingin berteriak, melawan sikap seenaknya lelaki itu, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain "menyerah".
***
Koowloon, Hong Kong.
Mobil sport jenis Lamborghini Veneno dengan warna hitam metalic itu melaju gesit, membelah keramain jalan raya di salah satu kota besar di Hong Kong. Lekuk body mobil itu terlihat begitu exotic di bagian tertentu, terlihat elegan juga mewah menambah kesan mahal dari segi harga dan kualitas.
Lelaki itu menggulung lengan kemejanya sebatas siku. Pandangannya lurus ke depan terfokus ke jalanan, dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancung yang selalu terlihat tampan dan menawan.
"Kalian di mana?" ucapnya kepada seseorang berada nan jauh di sana yang kini sedang terhubung dengan lelaki itu melalui Smartphone keluaran terbaru versi limited edition.
Dia menyematkan earpiece di telinga, sementara tangannya sedang fokus mengendara agar segera sampai ke tempat tujuan.
"Bodoh! Benar-benar tidak berguna!" Umpatan kesal keluar dari mulut lelaki itu sembari memukul gagang setir mobil.
Kilat kemarahan tercetak jelas dari sorot matanya, gerahamnya pun mengeras bersamaan kening yang berkerut dalam. "Bunuh saja dia! Aku sudah tidak peduli dengan nyawa yang tak berguna itu."
Panggilan berakhir dengan hasil yang tidak memuaskan. Lelaki itu menambah laju kendaraannya, menerobos kepadatan jalan raya kota Kowloon.
Hampir tiga puluh menit berlalu, mobil mewah itu akhirnya berhenti tepat di sebuah lahan kosong dengan bangunan tua yang tampak menyeramkan. Tanaman rambat liar terlihat menghiasi bangunan itu, menjalar hingga ke atap, hampir menutupi permukaannya.
Lelaki itu turun tanpa ragu, menapakkan kaki jenjang yang beralas sepatu berkilat-kilat, melangkah ringan tanpa beban seolah-olah apa yang akan dia hadapi saat ini merupakan mainan tak berharga dan patut untuk segera dimusnahkan keberadaannya.
Dia berjalan melewati lorong gelap bangunan tua itu seorang diri. Begitu gelap, hingga dia harus mengaktifkan kacamata sensornya yang bisa melihat dalam gulita untuk bisa mengamati keadaan sekitar.
Layaknya seorang petinggi, saat dia datang, semua orang yang berpakaian sama yaitu setelan formal serba hitam, kacamata hitam dengan earpiece tersemat di telinga yang menghubungkan antara satu orang dengan yang lain segera menepi memberi jalan, membiarkan seseorang bernasib sial, yang kini sedang mengerang kesakitan akibat pukulan-pukulan yang telah diterima untuk bertemu dengan takdir sesungguhnya.
Derap langkah sepatunya berdentum, menggema melingkupi ruangan itu, hingga ketika kakinya sudah sangat dekat dengan seonggok tubuh, hampir menyentuh kepala lelaki malang yang sedang meringkuk di lantai, dia berhenti.
Satu kaki ditekuk ke belakang dengan kaki yang lain terlipat sebagai tumpuan. Dia memosisikan tangan kanan di atas lututnya yang ditekuk, sedangkan tangan kirinya menarik paksa rambut si lelaki malang hingga kepala itu tergiring menengadah.
"Siapa yang menyuruhmu!"
Bukan jawaban yang keluar dari bibir lelaki malang itu, melainkan sebuah senyuman mengejek yang sengaja ditujukan kepada seseorang yang telah menyiksanya. Dia mencoba memantik kemarahan sang singa, yang kini tampak mulai tidak sabar untuk melenyapkannya. Ya, dia adalah satu-satunya petunjuk yang masih tersisa setelah beberapa rekannya telah mati terbunuh.
"Ambilkan air!"
Sebuah perintah terdengar penuh ketegasan, dan dengan cepat seseorang telah datang seraya membawa sebuah wadah berisi air.
Lelaki itu mengambil alih wadah itu, menyiramkannya secara kasar ke wajah lelaki malang yang sedang meringkuk kesakitan. Sepatunya menginjak dada manusia yang tak berdaya itu dengan kejam. Dia membungkukkan tubuh, menunduk, lalu menatap tajam ke arah lelaki itu.
"Kau tahu bukan, siapa aku?" Dia tersenyum sinis, menambah daya tekan kakinya di atas dada lelaki malang itu. "Cari anak istrinya! Siksa mereka agar dia mau membuka mulut!"
Lelaki malang itu tercengang, tidak menyangka dengan ucapan yang terlontar dari bibir pria jahat itu. Dia lupa siapa yang sedang dihadapinya, sosok iblis yang tak berperikemanusiaan juga tak memiliki empati serta belas kasihan. Pikirannya seketika berkecamuk, saling beradu pendapat dan berakhir dengan sebuah jawaban, kematian.
Sungguh kematian lebih baik baginya daripada harus menyaksikan istri dan anaknya disiksa oleh lelaki bengis itu. Jika dia bersuara, seseorang yang telah menyuruhnya akan berbuat sama dengan keluarganya. Dua manusia kejam yang berdiri mengelilingi kehidupannya membuat lelaki malang itu tak sanggup untuk memilih, hingga sebuah keputusan sulit harus ditempuhnya.
Lelaki malang itu menjulurkan lidah semampu yang dia bisa, menggigitnya dengan kuat hingga darah segar menetes sedikit demi sedikit dan ....
Ya, kematian seperti keinginannya telah terwujud dan disaksikan langsung oleh lelaki kejam yang berdiri di atasnya, Sean Arthur.
"Singkirkan mayat yang tak berguna ini!" Dia berteriak kesal, menahan amarah yang bergemuruh di dada. Bahkan, tawanan rela memilih mati daripada harus membuka mulutnya untuk memberikan sebuah jawaban.
Sean Arthur melangkahi jenazah itu begitu saja, seolah-olah tubuh yang baru saja mengakhiri kehidupan di depan matanya tidak memiliki harga sama sekali.
***
Bertolak belakang dengan kehidupan seorang Sean Arthur. Di tempat yang berbeda, di salah satu sudut kota di Indonesia, tampaklah seorang gadis baru saja keluar dari pagar sekolahnya. Senyum mengembang terlihat jelas di wajah gadis berkerudung putih itu. Dengan semangat dia berlari sembari mencangklong tas sekolah di bahunya. Ijazah dengan nilai terbaik sudah berada di tangan kanannya. Dia ingin menunjukkan kepada orang tuanya bahwa nilai terbaik sudah berhasil ia dapatkan. Bukan hanya itu, tawaran beasiswa dari salah satu perusahaan terkemuka untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi juga telah berhasil dia raih.
Sungguh hari ini adalah hari keberuntungan bagi gadis itu, Salwa Humaira.
Mengabaikan peluh di dahi, Salwa Humaira yang baru saja menerima piagam kelulusan dari sekolah menengah atas berlari memasuki pelataran rumahnya. Rumah berbahan dasar bambu yang dianyam sebagai dinding, beralas semen yang tampak tidak rata permukaannya, dan bilah bambu yang dirakit sedemikian rupa untuk dijadikan ranjang tidur yang terletak di sudut teras rumahnya.
Salwa menghentikan langkah, ketika kakinya telah sampai di depan pintu rumah. Dia mengatur napas sejenak, sebelum pada akhirnya memasuki rumah itu yang tak terlihat terbuka pintu depannya.
"Assalamu'alaikum," ucap Salwa memberi salam. Tiada jawaban yang terdengar dari dalam rumah. Dia terus melangkah, masuk ke dalam rumah yang terlihat sunyi, sangat berbeda dengan biasanya.
Sayup-sayup terdengar panggilan dari luar rumah, membuat Salwa segera meletakkan tas dan ijazah yang sedari tadi dia genggam. Dia buru-buru keluar tanpa sempat berganti pakaian.
"Salwa, Salwa!"
Gadis itu terus melangkah, hingga terhenti di depan pintu. Pandangannya bersirobok dengan seorang wanita berbadan tambun yang terlihat tak sabar ingin menyampaikan sesuatu.
"Bapakmu ... masuk rumah sakit." Wanita itu berbicara tanpa menunggu Salwa menanyainya.
Salwa ternganga, terkejut akan kabar yang baru saja dia terima. Patutlah tak ada seorang pun yang berada di rumahnya, karena mereka semua sedang sibuk di rumah sakit.
"Tante Ayi, bisakah mengantarkan saya ke sana? Saya ... tidak memiliki uang untuk pergi," pinta Salwa dengan ragu.
Kehidupannya memang sulit. Dia lebih banyak jalan kaki atau menumpang teman yang kebetulan searah dengannya jika akan berangkat atau pulang sekolah. Sepeda roda dua satu-satunya digunakan oleh kedua adik laki-laki Salwa yang masih mengenyam pendidikan sekolah menengah pertama. Ya, Salwa adalah anak sulung dari empat bersaudara, hal itu membuatnya harus lebih banyak mengalah untuk kepentingan adik-adiknya daripada kepentingannya sendiri.
Tante Ayi mengangguk menyetujui. Dia sangat tahu bagaimana kondisi keluarga Salwa sehingga dia memilih untuk mengantarkan Salwa ke rumah sakit di mana bapaknya sedang dirawat.
"Tunggu sebentar, Tan! Saya akan berganti pakaian."
Salwa segera masuk kembali ke dalam rumahnya, bersiap diri untuk segera berganti pakaian. Tidak menunggu lama, gadis itu telah siap dengan pakaian rumahan juga kerudung instan yang dipakai alakadarnya, tak lupa juga tas punggung yang entah apa isinya.
Dia berlari kecil ke luar rumah agar Tante Ayi tidak terlalu lama menunggu kedatangannya. Dia mengangguk kemudian, menutup rapat pintu rumah, lalu mengikuti Tante Ayi pergi.
Hati Salwa begitu gelisah memikirkan apa yang baru saja terjadi. Bapaknya sedang sakit, sementara ibunya pasti harus bekerja lebih untuk mencukupi segala kebutuhan keluarga. Apakah dia akan tega jika memutuskan untuk melanjutkan kuliah di tengah perekonomian keluarga yang sedang terpuruk?
Dia adalah anak sulung, dan di sana ada tiga orang Adik yang harus ditanggung kebutuhan juga pendidikannya. Bukankah sudah sepatutnya Salwa harus membantu kehidupan keluarga, meringankan beban sang Ibu agar tidak terlalu berat memikul masalah keluarga. Lantas, bagaimana dengan mimpi-mimpinya? Bagaimana dengan beasiswa yang berhasil diraihnya?
Salwa termenung di atas jok motor Tante Ayi yang sedang membawanya ke rumah sakit. Pikirannya saling bertentangan, beradu, mencari jalan keluar atas apa yang sedang menimpa keluarganya.
Antara melanjutkan kuliah atau mencari pekerjaan. Antara mengejar mimpi atau meringankan beban keluarga. Salwa harus bisa memilih di antara keduanya. Merelakan mimpi yang sudah hampir dia raih, atau merelakan mimpi itu pergi setelah perjuangan berat yang dia lakukan selama ini untuk mendapatkannya. Keputusan itu harus diambil dengan segera oleh Salwa, karena hanya dia seorang yang bisa diandalkan dalam keluarganya untuk saat ini.
Dua puluh menit berlalu. Motor Tante Ayi sudah terparkir di parkiran sebuah rumah sakit yang terletak di sudut kota. Bukan rumah sakit besar, tetapi cukup lengkap untuk fasilitasnya.
Salwa segera melepas helm, lalu meletakkan helm itu di jok motor Tante Ayi. Pikirannya masih berkecamuk dengan perasaan gelisah yang kini sedang membebat hatinya. Sampai suara Tante Ayi menyadarkannya, memaksa lamunan Salwa agar segera terlepas begitu saja.
Salwa mengangguk menanggapi. Dengan wajah pasi, Salwa mengikuti ke mana Tante Ayi mengajaknya pergi. Dia menundukkan pandangan, mengekor jalan Tante Ayi yang ada di depannya. Hingga tanpa terasa mereka sudah berada di area ruang perawatan pasien.
Dengan sekilas pandang saja Salwa bisa melihat bahwa ruangan itu diperuntukkan bagi pasien kelas menengah ke bawah. Bukan sebuah ruangan yang dipisahkan sekat-sekat kecil menggunakan kelambu, melainkan sebuah ruangan luas yang terdapat banyak sekali ranjang berjajar dengan saling berhadap-hadapan.
Keuangan yang serba kekurangan pada keluarga Salwa tak mampu menyewa ruang perawatan yang lebih menjaga privasi. Bapak Salwa dirawat di sebuah area bangsal yang dihuni oleh hampir lima belas pasien.
Di antara ranjang-ranjang yang tampak sudah berpenghuni itu, Salwa melihat ibunya sedang duduk menggunakan kursi plastik dengan ketiga adiknya berdiri mengitari. Mereka menangis sembari menatap tubuh yang sedang terpasang masker oksigen bertekanan tinggi di bagian wajah.
"Salwa, Tante ada urusan sebentar. Apakah kamu bisa sendiri?"
Salwa mengangguk seraya menyunggingkan senyum. "Terima kasih atas bantuannya, Tan." Tante Ayi segera pergi setelah mengucapkan sepatah dua patah kata perpisahan kepada Salwa.
Pandangan Salwa beralih ke dalam area bangsal itu lagi yang sebelumnya menatap punggung kepergian Tante Ayi. Dia melihat beberapa pasien dengan berbagai macam jenis penyakit sedang berkumpul di area itu. Salwa tak menghiraukannya, tujuannya hanya satu yaitu menemui keluarganya.
Salwa berjalan lurus ke depan, mengabaikan pemandangan pedih di sekelilingnya. Dia berhenti ketika berada beberapa langkah dari jarak di mana ibu dan adik-adiknya berada.
"Ibuk," panggil Salwa dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
Dia adalah Darmini, wanita paruh baya yamg biasa bekerja sebagai buruh cuci keliling. Sosok yang dipanggil Salwa Ibu pun menoleh, bersamaan dengan ketiga adik Salwa yang sedang berdiri di samping perempuan itu. Salwa segera mengambil langkah lebar, berjalan menghampiri ibu dan juga adik-adiknya.
Mereka saling berpelukan, mengurai rasa sedih dengan membentuk satu dukungan. Beban berat dipikul bersama tanpa perlu merasa menjadi kerdil lantaran tanggungan yang teramat besar.
"Apa kata Dokter, Buk?" Salwa berkata setelah melepas pelukan dari ibunya. Matanya mematri tubuh yang kini terbaring lemah di atas ranjang perawatan dengan selimut garis-garis yang dibawa dari rumahnya menutupi sampai sebatas pinggang.
"Jantung Bapak kambuh. Tapi Dokter mengatakan Bapak masih bisa diselamatkan. Kondisinya mulai membaik setelah sebelumnya hanya bisa memejamkan mata dengan mulut ternganga. Kita berdoa sama-sama untuk kesembuhan Bapak, ya?"
"Ya, kami selalu mendoakan kesembuhan Bapak," jawab Salwa dengan mengangguk.
Salwa menoleh ke arah ketiga adiknya yang berdiri di samping ibunya. Ada Ahsan, Alfatih, dan si bungsu Azlina.
Ahsan masih duduk di kelas tiga SMP, sedangkan Alfatih kelas satu SMP. Azlina si bungsu masih kelas dua SD. Hati Salwa kembali gulana ketika menyadari bahwa ketiga adiknya sangat membutuhkan biaya untuk kelangsungan hidup serta pendidikan mereka.
Mata Salwa beralih menatap Darmini. Sosok wanita hebat yang mendampingi ayahnya di waktu susah, membesarkannya juga adik-adiknya dengan penuh sayang juga kelembutan. Tak pernah sekalipun Salwa mendengar keluhan yang keluar dari bibir kehitaman wanita itu. Ibunya begitu sabar dan ikhlas menjalani kekurangan dan kesulitan perekonomian juga keterbatasan keluarganya.
"Kalian sudah makan?" tanya Salwa kepada ketiga adiknya. Mereka menggeleng secara bersamaan sambil menunjukkan mimik muka lesu.
Sesak kembali mencekik, menghimpit di dada. Salwa tak kuasa menahan haru di hatinya. Perih di perut dia tahan. Segera diraihnya tas punggung yang sedari tadi dikenakannya untuk mengambil kue yang dia dapatkan dari sekolah. Ya, Salwa mendapatkan sekotak kue pada acara pelepasan siswa di sekolahnya tadi pagi. Dia ingin memakannya, tetapi dia teringat akan adik-adiknya yang mungkin menyukai kue-kue yang ada di kotak berwarna putih itu.
"Makanlah! Jangan berebut!" ucap Salwa setelah mengulurkan kotak kue itu kepada adik-adiknya.
Ahsan, Alfatih, dan Azlina segera membuka kotak kue itu secara bersamaan. Ada empat kue di dalam kotak itu dan kesemuanya adalah kue basah. Ada kue lemper, pukis, kroket kentang, dan yang terakhir puding yang diletakkan di cup bening kecil.
Mungkin, hanya melahap satu buah kue dengan ukuran kecil itu tak membuat perut mereka kenyang, tetapi setidaknya mampu mengganjal rasa lapar yang sedari tadi mereka rasakan.
Salwa termenung dengan pandangan kosong. Dia tidak bisa melihat keluarganya terus seperti ini, serba kekurangan dan sering menahan rasa lapar. Dia sebagai anak sulung merasa tidak berguna. Seharusnya dia tidak mementingkan diri sendiri dengan melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Sebaiknya dia segera mencari pekerjaan untuk mengurangi beban sang Ibu. Dia tidak boleh egois. Ketiga adik-adiknya harus memiliki masa depan cerah, bukan masa depan suram yang tak patut hanya untuk dibayangkan.
Sampai ketika suara lirih Ahsan terdengar, membuat lamunan Salwa segera tertarik ke permukaan.
"Mbak Salwa, ini masih sisa satu."
Dia mengerjapkan matanya sekali, lalu menoleh ke arah Ahsan yang kini tengah mengulurkan cup bening berisi puding. Salwa menatap cup puding itu dengan perasaan ingin, tetapi segera ditepisnya rasa itu. "Kamu tidak lapar?" Dia memilih bertanya kepada Ahsan.
Ahsan kembali mengawasi puding di tangannya, tetapi buru-buru dia menggeleng. "Aku sudah kenyang, Mbak. Mbak Salwa pasti sudah sangat lapar, kan?"
Salwa tersenyum kemudian. Dia menangkap raut tidak rela di wajah Ahsan, tetapi melihat ketulusan dari adik pertamanya membuat Salwa mengambil makanan itu juga. "Terima kasih."
Tepat ketika Salwa menyendokkan puding itu dengan sendok kecil, dia memandang Darmini. Urung sendok itu mendarat ke mulutnya. Dia memilih menyuapi ibunya dengan puding tersebut.
"Ibu juga belum makan, 'kan? Kita makan puding ini sama-sama," ucap Salwa seraya mengangsurkan sendok yang berisi potongan puding ke mulut ibunya.
Darmini menerimanya. Mata tua berkaca-kaca melihat kerukunan anak-anaknya. Dia sangat bersyukur memiliki anak-anak yang baik dan penurut. Keluarganya memang tidak memiliki banyak harta, tetapi kasih sayang antar keluarga sangat kuat dan itu membuat keluarga mereka selalu merasa bahagia di tengah kesulitan yang tengah mereka alami.
***
"Usir dia! Aku tidak mau melihatnya bekerja di sini lagi."
Sean Arthur menyalakan pemantik, menyulutkan api di ujung rokok yang telah diapit di sela bibirnya. Dia mengesah kasar, lalu merebahkan tubuhnya ke sofa panjang yang ada di balkon kamar.
Pria berdarah Kanada itu menatap bangunan area belakang penthouse yang dia tempati, menyesap rokok, lalu mengembuskan kepulan asap dari dalam mulutnya.
"Kau pikir mudah mencari pelayan?" Leon yang merupakan adik angkat sekaligus tangan kanan Sean Arthur di perusahaan legalnya tampak berdecak setelah tragedi pemecatan asisten rumah tangga yang dipekerjakan Sean Arthur di penthouse milik lelaki itu.
Dalam sebulan ini, dia harus mencari asisten rumah tangga sebanyak sepuluh kali, karena Sean Arthur selalu saja menemukan ketidakcocokan dengan hasil pekerjaan mereka. Terkadang mereka sendiri yang tiba-tiba mengajukan pengunduran diri atau bahkan kabur di tengah tugas. Entah apa yang membuat semua pelayan yang telah menginjakkan kaki ke penthouse Sean Arthur tidak bertahan lama, seolah-olah ada hal yang membuat mereka ketakutan, terintimidasi, dan penuh teror.
Sean hanya menatap Leon dengan wajah dingin yang sama, lalu menyesap pipa nikotin itu tanpa menanggapi ucapan adik angkatnya. Dia mengalihkan perhatiannya pada sebuah map yang tergeletak di atas meja kecil di sisi kiri sofa yang dia duduki. Lelaki itu membacanya sekilas, menghempaskannya kemudian.
"Setiap pelayan yang kau dapatkan selalu tidak becus bekerja. Mereka semua tidak berguna."
Leon mengayunkan langkah mendekati Sean, berdiri tepat di depan lelaki itu. "Lupakan tentang pelayan. Nona Natasya menawarkan diri untuk menemanimu akhir pekan. Apakah kau bersedia?"
Lelaki berusia tiga puluh dua tahun itu menggeleng, dia merasa bosan dengan perempuan bernama Natasya. Sepertinya dia harus mengganti teman kencannya kali ini, karena waktu untuk Natasya sudah lebih dari cukup. "Carikan yang lain. Aku sudah bosan dengannya."
Hal kedua yang tidak disukai Leon dari seorang Sean Arthur adalah cepat bosan dengan wanita yang sama. Padahal Natasha baru dikencaninya selama dua pekan ini, sedangkan di pekan ketiga dia harus mencari alasan agar perempuan bernama Natasha itu tidak merengek untuk bisa bertemu Sean Arthur lagi.
"Aku melihat wanita Jepang yang menjadi model iklan produk sampo XX. Aku ingin dia untuk dua pekan mendatang." Sean menengadah ke arah Leon seraya berkata, "Kau mengerti?"
"Ya, dia akan datang sesuai keinginanmu."
"Berkas-berkas ini ...." Dia mengedikkan dagu ke arah map yang baru saja dibaca isinya. "Revisi semua! Aku ingin ide yang fresh, bukan yang seperti ini."
Leon segera mengambil berkas yang Sean maksudkan. Membuka isinya sekilas, Leon memeriksa sejenak apa yang membuat Sean tidak menyukai idenya. Dia mengesah kemudian, mengembuskan napas kasar. Sean benar-benar tipe pria perfectionist.
Dia mengangguk setelah memahami, melangkahkan kaki untuk segera pergi dari hadapan Sean Arthur. Namun, tepat ketika dirinya berada di bibir pintu kaca, lelaki berdarah Chinese itu menoleh, seraya menanyakan sesuatu. "Sejak kapan kau tertarik dengan wanita Asia?"
"Apakah kau memerlukan jawaban itu?"
Mengabaikan pertanyaan Leon, Sean Arthur justru melemparnya dengan pertanyaan.
Bagi seorang Sean Arthur, wanita dipandang sebelah mata, dianggap seonggok tubuh yang hanya berguna ketika dia sedang ingin menuntaskan hasrat biologisnya. Tidak ada yang spesial dari mereka karena dengan kuasa yang dimilikinya, tak ada seorang wanita pun yang mau menolak dan menampik pesonanya.
Perempuan-perempuan kelas atas akan dengan sabar mengantre untuk mendapatkan jatah berkencan dengannya. Bahkan karier mereka akan semakin cemerlang ketika memperkenalkan diri sebagai wanita seorang Sean Arthur.
Selama ini, wanita kelas atas yang sempat berkencan dengan Sean Arthur adalah dari kalangan model papan atas berkebangsaan Eropa atau Amerika. Sean tak pernah sekalipun memutuskan untuk berkencan dengan seorang wanita Asia. Dia memiliki sudut pandang berbeda terhadap wanita. Menurutnya, wanita barat tentu lebih berkelas daripada wanita Asia. Hingga detik ini, permintaan aneh yang keluar dari bibir lelaki itu membuat Leon sedikit tertarik.
“Karena permintaanmu, tidak biasa.”
“Jadi, apakah aku perlu membuang waktuku untuk menjelaskannya kepadamu?”
Leon terkekeh, dia menggeleng kemudian. "Ah, tidak. Itu semua terserah kepadamu. Aku hanya penasaran, apakah memang seleramu sudah berubah atau kau sengaja mengubah sudut pandangmu terhadap wanita Asia? Tapi kau tak perlu menjawabnya."
Dan sebelum kakinya melangkah lagi, dia menangkap suara Sean Arthur menjawab pertanyaannya. "Aku hanya tertarik, tidak lebih," ucap Sean sembari menyesap batang rokok itu kembali.
Leon tersenyum menanggapi. Sudah terbiasa mendengar kata Sean Arthur mengenai kesannya terhadap wanita.
“Kau tidak perlu mencemaskannya, karena dia akan datang sesuai dengan keinginanmu."
Leon segera melangkah pergi setelah mengucapkan hal itu. Membiarkan Sean Arthur menikmati waktu bersantainya.
Salwa membuka jendela kamarnya ketika langit telah menurunkan hujan dengan debit air yang tidak terlalu deras. Dia mengapit sebuah koran yang baru dibeli kemarin, yaitu ketika perjalanan menjemput orang tuanya pulang dari rumah sakit. Salwa sudah melingkari beberapa lowongan pekerjaan yang tertera pada surat kabar itu.
Keputusannya untuk bekerja sudah bulat. Dia akan berjuang demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Berharap dengan pengorbanannya ini, adik-adiknya akan tetap bisa bersekolah tanpa memusingkan biaya yang harus dibayarkan.
Dia mengamati perusahaan-perusahaan yang membutuhkan karyawan lulusan Sekolah Menengah Atas. Ada Officegirl, kasir, Waiters, dan Babysitter. Salwa memutuskan melamar sebagai kasir di sebuah supermarket, karena jika dilihat dari gaji pekerjaan tersebut lebih menghasilkan.
Namun, saat dia beralih ke halaman lain, sebuah artikel menggiurkan membuat gadis berbulu mata lentik itu mengurungkan niatnya. Sebuah artikel yang menunjukkan jalan keluar bagi permasalahannya untuk segera mendapatkan banyak uang dengan hanya bermodal ijazah Sekolah Menengah Atas.
Sebuah yayasan penyalur tenaga kerja resmi telah membuka kesempatan bagi siapa saja yang mau mengubah nasib dengan berkarier di negera asing. Senyum seketika mengembang di bibir Salwa. Doa-doanya terjawab sudah, dia sudah memutuskan untuk segera mengambil kesempatan itu demi masa depan keluarganya.
***
Peluh membasahi pipi, Salwa tak menghiraukannya. Dengan sepeda usang, dia mengayuh roda dua itu untuk menuju tempat yayasan penyalur tenaga kerja. Tas dia panggul di punggung, mengenakan celana bahan yang warnanya telah pudar di berbagai sisi, perempuan itu bersemangat untuk menjemput impian mengubah nasibnya juga keluarga.
Hingga ketika tepat berada di lampu merah, kakinya mengerem di jalan beraspal. Sepeda roda dua yang dikenakannya memang remnya tak berfungsi dengan baik, sehingga membutuhkan kaki yang dipijakkan ke tanah untuk menambah gaya gesekan.
Nahansnya, sebuah mobil yang mengerem mendadak mencipratkan genangan air bekas hujan mengenai pakaian Salwa. Dia ingin memaki pemilik mobil tersebut, tetapi begitu kaca jendela mobil itu menurun dengan melihat siapa pemiliknya membuat hati Salwa berubah sedih.
Seorang pria berkacamata hitam yang di sebelahnya duduk dengan anggun wanita cantik berpakaian tanpa lengan menatap sinis ke arahnya. Pria itu berada di kursi kemudi yang mana posisinya agak jauh dengan Salwa, sementara perempuan cantik itu lebih dekat posisinya dengan Salwa.
Pria itu adalah Alvaro, cowok populer di sekolah Salwa yang secara diam-diam disukai oleh gadis itu. Perbedaan terlalu senjang membuat Salwa tak berani mengungkapkan perasaannya, sehingga dia lebih memilih memendam rasa untuk memutuskan menyukai pria itu dalam diam.
Salwa masih menatap ke arah dalam mobil dan tanpa sengaja lelaki itu pun turut menatapnya. Ada raut terkejut di mimik muka lelaki itu, melihat Salwa basah kuyup yang tak lain karena ulahnya.
Dia ingin menyapa, meminta maaf, tetapi melihat penampilan Salwa yang berantakan dengan wajah berpeluh karena sengatan matahari membuat lelaki itu urung melakukannya. Ada rasa malu yang membelenggu, menangkup dirinya agar tak perlu memedulikan sosok Salwa. Hingga ketika lampu lalu lintas berubah hijau, lelaki itu bergegas melajukan mobilnya tanpa menatap Salwa.
Melihat sosok itu telah pergi dan tak memedulikannya, Salwa kembali mengayuh sepedanya. Ada rasa sakit di sudut hatinya melihat seorang yang dia sukai hanya menatapnya sambil lalu, tak menghiraukan apalagi menegurnya kendati mereka saling mengenal. Rasa ngilu di sudut hatinya telah dipendamnya rapat-rapat, tak perlu dipertunjukkan karena perasaannya dianggap hal yang tidak penting oleh orang lain. Kini, tujuannya hanya satu, yaitu mendapatkan pekerjaan agar bisa mengubah kehidupan keluarganya yang penuh akan kekurangan menjadi lebih baik dan tercukupi.
Usai sampai di gedung yayasan, Salwa menunggu dengan tenang setelah sebelumnya meminta izin membersihkan diri di toilet. Perempuan itu duduk di salah satu kursi tunggu yang mana di sebelahnya terdapat beberapa orang yang juga sedang menunggu dipanggil namanya.
Segala persyaratan yang tertera di surat kabar sudah dipersiapkan olehnya, sehingga Salwa tinggal menunggu semua dikumpulkan. Tekadnya sudah bulat, meskipun rasa takut untuk pergi merantau ke negeri orang begitu tinggi, tetapi keinginan mengubah nasib keluarganya lebih besar daripada rasa takut itu. Dia akan menekan kuat perasaan gelisah itu, mengubahnya menjadi sebuah spirit demi keluarga tercinta.
***
Segala proses telah dilewati Salwa setelah dua bulan berada di asrama Yayasan. Pendidikan singkat terkait pekerjaan yang akan dilakukannya di sana telah dengan baik dilewati. Otak cerdasnya sangat berguna ketika harus menghafal dan mempraktikkan percakapan bahasa asing yang mungkin akan dia gunakan nanti di tempat kerja.
Sempat tebersit keraguan ketika dirinya meminta izin Pak Samsul, ayahnya saat itu untuk merantau mendapatkan pekerjaan yang bagus, tetapi semuanya sirna setelah niatnya tercurahkan dengan baik.
Meskipun sebelumnya kedua orang tua Salwa menentang keras, tetapi akhirnya Salwa bisa meyakinkan mereka dan mendapatkan izin serta restu walau dengan hati yang tak rela.
Bagaimanapun kedua orang tua Salwa tak bisa melihat putri sulungnya itu mencari penghidupan di tempat yang jauh tak tersentuh. Bayangan seorang TKW yang disiksa, diperkosa, bahkan dibunuh oleh majikannya membuat rasa cemas dan khawatir mereka akan kehidupan Salwa di sana. Apakah anaknya itu akan baik-baik saja selama di perantauan?
Hanya doa yang mampu mereka panjatkan demi keselamatan dan keberhasilan Salwa, karena mereka hanya bisa memasrahkan semua takdir kepada Yang Kuasa.
Dan kini, ketika semua telah siap dengan sebuah koper di tangan. Salwa dan rekan-rekannya hari ini melakukan jadwal penerbangan menuju negara tujuan, yaitu Hong Kong.
Dia memejamkan mata begitu pesawat melakukan lepas landas. Bayangan kedua orang tuanya tersenyum sambil menangis ketika melepaskan kepergiannya terbayang kembali dalam ingatannya.
Senyum teduh mereka menjadi sebuah amunisi bagi Salwa, bahwa dia mampu untuk memperjuangkan hidupnya dan hidup keluarganya. Ya, bismillah, hanya niat yang tulus dengan tekad yang kuatlah sebagai modal serta pondasinya dalam berjuang di negara orang.
***
Hampir lima jam perjalanan yang cukup banyak drama, di mana teman-temannya yang baru sekali naik pesawat membingungkan dirinya. Dari salah menduduki kursi penumpang lain, hingga mabuk udara, membuat perjalanan ke Bandar Udara Internasional Hong Kong menjadi lebih berwarna. Beruntung Salwa tak mengalami kesusahan yang berarti kendati dirinya juga kali pertama menaiki pesawat terbang.
Pengetahuan yang didapatkan ketika di asrama cukup membantunya tetap tenang selama berada dalam pesawat. Dari mulai proses pemeriksaan tiket, pemeriksaan barang bawaan, pembayaran pajak, hingga sampai berada dalam pesawat sudah dia hafal diluar kepala sehingga sekalipun untuk pertama kalinya Salwa tak banyak melakukan kesalahan.
Dan kini, ketika kakinya sudah menjejak di negara orang, menghirup udara yang jauh dari keluarga, rasa takut mulai menyelimuti. Dia mencengkeram tali tas punggunggungnya dengan erat sambil merapal doa untuk meyakinkan diri bahwa keputusan yang dia ambil ini akan bisa mengubah kehidupan keluarganya.