Bab 1

Kota Jakarta terlalu dingin untuk ukuran jam 8 malam. Angin terlalu sepoi ditambah rintik hujan yang mengguyur. Aspal kini lembap dan digenangi air. Meskipun demikian, langkah kaki

Carolin atau yang sering disapa Olin terus melaju tidak peduli akan tubuhnya yang basah. Rasa sakit hatinya lebih penting dari pada rasa menggigil yang diterima oleh tubuhnya.

 “Aku harus apa, Tuhan?” Bibir pucat itu berucap dibarengi air mata. Ia tidak tahan lagi.

Keluarganya benar-benar telah menancapkan luka di hatinya tanpa peduli sama sekali.

Mengusirnya hanya karena memberontak demi sebuah keadilan antara dirinya dan sang kakak.

Ayahnya menganggap dirinya sebagai anak durhaka dan tidak pantas tinggal di rumah mereka, sedangkan ibunya menuduhnya merebut kebahagiaan sang kakak. Padahal, jika

dipikir-pikir, Elana yang telah merusak segala kebahagiaannya.

Ah, Olin harus apa?

Elana berhasil menggoda Stevan dan mengajak tidur bersama hingga kakak satu-satunya itu hamil. Ketika menuntut keduanya dan menjatuhkan kesalahan pada Elana, kedua orang

tuanya malah menganggap dirinya yang tidak layak untuk Stevan sehingga lelaki itu melarikan diri pada Elana yang merupakan primadona.

Di depan semua orang Olin dipermalukan dengan Stevan melamar Elana dan siap menjadi ayah untuk calon bayi dalam perut Elana.

Semua orang mencemooh Olin. Mencapnya sebagai perempuan buruk yang tidak akan berhasil pada satu hubungan serius.

Dan itu semakin menyakitkan hati Olin. Kenapa? Apa salahnya? Hanya karena tubuhnya yang tidak layak mendapatkan yang sempurna?

“Akh!” Suara rintihan

keluar dari bibir pucat ketika beling menancap pada telapak kakinya. Meskipun memakai alas kaki, tapi berhasil tembus menusuk dan mengalirkan darah. Mungkin karena alas kaki yang digunakan hanya sendal jepit tipis. Olin terlalu susah payah melepas beling itu hingga ia terpaksa duduk di aspal yang tergenang air.

Terlalu perih, meskipun rasa di hatinya jauh lebih sakit dan perih.

“Kenapa rasanya sangat sakit, Tuhan!” Olin menggigit bibirnya. Percampuran antara ras sakit kaki dan rasa sakit hati benar-benar telah membuat luka teramat dalam di hidupnya.

Tangis jatuh. Rintik hujan meleburkan segalanya.

Tidak ada pilihan untuk Olin selain melepaskan segalanya. Mungkin dengan mengakhiri nyawanya maka luka dan penderitaan berakhir.

Tidak akan ada lagi yang mengejek penampilannya dan juga tubuhnya yang terlalu berisi.

Olin sudah siap untuk mati. Ia akan mencari jembatan untuk terjun bebas. Atau mencari kendaraan yang melaju cepat dan melemparkan dirinya agar dilindas.

Pemikirannya kacau. Namun, belum sempat

melakukan segala niatnya itu, seseorang berdiri di depannya,  memayungkan dan kemudian bertanya dengan nada khawatir.

“Anda baik-baik saja, Nona?” Suara itu terdengar rendah dan juga dalam.

Olin bahkan terpaku hanya pada suara. Menengadah dan menatap fokus pada lelaki yang terlihat tampan meskipun menutup wajahnya dengan masker hitam.

“Kakimu terluka. Astaga!” Lelaki itu menyerahkan payung pada Olin, lalu berjongkok dan meneliti

luka kaki yang tertancap beling itu. “Ini cukup dalam. Darah yang keluar cukup banyak. Kau harus ke rumah sakit.”

Belum lima menit kalimat itu keluar dari mulut si lelaki, Olin terkulai lemah. Bersyukur saja, gerakan cepat si penolong sungguh luar biasa sehingga mampu meraih tubuh Olin dan membawanya ke dalam pelukannya. Bahkan payung yang terjatuh dari tangan Olin berhasil ditangkap olehnya. Lelaki asing yang terlalu baik.

***

“Kau sudah bangun?” Olin yang baru saja

membuka matanya dikagetkan oleh suara lelaki asing yang terdengar begitu dekat di rungunya. 

Olin memalingkan wajahnya ke samping lantaran lelaki asing itu menunduk ke arahnya hingga jarak mereka terlalu dekat.

“Syukurlah. Aku benar-benar khawatir,” kata lelaki itu. Ia meletakkan tangannya di kening Olin.

“Demammu juga sudah stabil,” lanjutnya lagi.

Mendengar itu, Olin kembali meluruskan pandangannya, menatap wajah lelaki asing yang sangat tampan dan juga menawan. Bola mata berwarna biru itu berbinar memancarkan kelegaan yang tiada tara.

“Ah, iya. Aku lupa memperkenalkan diri.” Mengulurkan tangan pada Olin. “Darren Agler.”

Olin tidak langsung menyambut. Ia malah berusaha mengubah posisi dari berbaring menjadi duduk.

Darren dengan sigap membantunya,  memberi bantal di punggung Olin agar lebih nyaman.

“Nyaman?” tanya Darren.

Olin mengangguk.

“Boleh aku tahu siapa namamu?” Kembali Darren bertanya.

Lagi, Olin mengangguk.

“Kalau begitu beritahu padaku,” kata Darren.

“Carolin Azetta,” ucap Olin pelan.

“Nama yang cantik,” puji Darren jujur. “Kau tunggu di sini, ya. Aku akan membawakan makanan untuk mengisi perutmu.” Darren hendak berdiri, tapi Olin menahan tangannya.

“Ini di mana? Dan ... kenapa aku bisa di sini?” Darren tersenyum.

“Kau di rumahku,” sahutnya. “Apa kau tidak ingat apa yang terjadi tadi malam?” lanjut Darren.

Olin membulatkan matanya. Spontan tangannya menyilang di dada.

Darren lagi-lagi tersenyum. “Bukan itu maksudku.”

“Lalu?” cicit Olin.

“Tadi malam, kau pingsan di pelukanku,” jelas Darren. “Waktu hujan turun, aku melihatmu menangis dengan kaki terluka. Jadi, aku mendekatimu saat itu dan setelahnya kau malah

terkulai lemah,” sambung Darren menjelaskan apa yang terjadi tadi malam.

Olin menunduk. Ia ingat sekarang. Tadi malam, ia di usir dari rumah di saat kakak kandungnya

Elana bertunangan dengan Stevan si pengkhianat. 

“Terima kasih, Darren. Terima kasih karena sudah menolongku dan membawaku ke sini. Tapi ....” Olin menggantungkan pembicaraannya.

“Tapi apa?” Darren bingung.

“Tapi seharunya kau tidak perlu menolongku. Aku memiliki niat untuk mengakhiri segalanya tadi malam,” terang Olin. Tanpa terasa air matanya jatuh.

“Kenapa?” Darren ingin tahu.

Olin menggelengkan kepala. “Ini urusan pribadiku, kau tidak perlu tahu.” Olin tidak ingin orang lain yang baru ia kenal mengetahui aib keluarganya. Ia takut akan di ejek oleh Darren  seperti kebanyakan orang yang mengetahui

kisah cinta mirisnya.

“Aku tidak akan memaksamu, Olin. Tapi satu hal yang harus kau tahu, bunuh diri itu tidak akan

menyelesaikan masalah. Justru akan menambah masalah dan mungkin akan semakin

sulit untuk dipecahkan.” Darren mencoba memberi pengertian.

Olin terdiam. Ada benarnya apa yang dikatakan Darren, tapi ia tidak ingin hidup dengan penderitaan seperti ini. Tidak diterima oleh keluarganya sendiri dengan alasan yang sungguh tidak logis menurut Olin sendiri.

Dia dianggap durhaka hanya karena memberontak saat kekasihnya terlena pada rayuan kakak kandungnya sendiri.

Miris memang!

“Aku akan membuat makan siang untukmu.” Darren yang hendak berdiri lagi-lagi tertahan lantaran Olin menahan tangannya.

“Boleh aku meminta sesuatu?” ujar  Olin pelan.

“Katakan saja.” Darren menyahut santai.

Olin menghela napas.

“Em ... tidak jadi,” cicit Olin lagi. Ia takut jika Darren merasa keberatan pada permintaannya nanti.

“Kau yakin tidak ingin mengatakannya?” tanya Darren.

Olin menggelengkan kepalanya. Masih ragu untuk meminta hal yang mungkin tabu sebenarnya.

“Ya, sudah. Aku ke dapur dulu. Kau bisa membersihkan diri sekarang. Di lemari yang ada di kamar mandi, ada handuk bersih dan juga perlengkapan lainnya. Kau bisa menggunakannya.” Darren menyarankan agar Olin segera membersihkan diri agar terlihat lebih segar.

“Terima kasih,” cicit Olin.

“Kau bisa jalan sendiri?” Darren khawatir pada kaki Olin yang terluka. Meskipun Darren sudah

mengobatinya dan membalut dengan perban, tetap saja ada rasa khawatir karena bukan dokter yang melakukannya.

Sebenarnya Darren ingin membawa Olin ke rumah sakit terdekat atau klinik, tapi karena sudah sangat larut dan hujan deras, Darren akhirnya membawa pulang ke rumahnya.

Dengan bekal pengetahuan yang pernah ia pelajari dari temannya yang merupakan seorang dokter, Darren memberanikan diri melepas pecahan kaca dari tapak kaki Olin dan mengobatinya dengan sesempurna, mungkin.

Olin melirik kakinya yang diperban. Kemudian mengangguk walau dia tidak yakin apakah sanggup berjalan atau tidak.

“Aku bisa menggendongmu ke kamar mandi jika kau mau,” tawar Darren.

“Tidak perlu. Aku bisa sendiri, Darren,” tolak Olin. Ia tidak ingin merepotkan Darren yang terlalu baik padanya. Padahal dirinya hanya orang asing yang baru dikenal.

Lagian, ukuran badannya tidak akan sanggup diangkat oleh Darren, meskipun ia tahu, di balik

kaos oblong warna putih berkerah V itu ada otot kekar.

Olin menelan salivanya susah payah. Astaga, Olin. Pikiran mesum apa itu?

“Baiklah, kalau kau yakin. Aku tinggal,” ucap Darren dan kali ini benar-benar keluar dari kamar

yang di tempati oleh Olin.

Olin menghela napas kasar. Ia mencoba menggerakkan kakinya, menapak pada lantai keramik cokelat tua.

Berhasil, walau ada sedikit rasa perih. Tinggal berdiri lalu berjalan ke kamar mandi. Namun, saat Olin tegak di atas kakinya sendiri, ia tidak kuat dan akhirnya terduduk lagi di atas tempat tidur. Rasa perih semakin menjadi-jadi.

“Akh!” jeritnya tidak tertahankan.

Sedetik setelah jeritan itu keluar, Darren masuk ke dalam kamar dengan berlari. Ya, sedari tadi

ia berdiri di balik pintu yang tertutup karena yakin, tamunya itu tidak akan sanggup ke kamar mandi sendiri.

“Kau terlalu keras kepala, Nona Carolin,” tukas Darren lalu mengangkat tubuh Olin yang berisi.

Olin terkejut atas tindakan Darren. “Turunkan aku, Darren!” perintahnya, tapi Darren terlalu keras kepala sehingga dengan santai membawa Olin ke kamar mandi, meletakkannya di

dalam bathtub.

“Sekarang kau bisa mandi,” ujar Darren. Lalu mengambil handuk serta perlengkapan lainnya dari lemari dan meletakkan di dekat Olin.

Olin hanya menatap Darren dengan pandangan sulit diartikan. Lelaki yang menolongnya itu benar-benar sangat baik dan perhatian.

“Apa aku tidak berat?” tanya Olin mengingat tubuhnya yang berisi.

Darren tersenyum.

“Jangan khawatir. Kau tidak berat sama sekali.”

“Kau tidak berbohong?” Olin mencoba mencari kebohongan di mata indah milik Darren.

Darren menggeleng.

“Tidak. Aku berkata jujur. Lagian, jarak kamar dan kamar mandiku hanya beberapa langkah,” terang Darren. “Mungkin saja jika jaraknya sekitar sepuluh meter, aku sudah tewas mengenaskan,” sambungnya lagi.

Mendengar itu, Olin menunduk. Matanya berkaca-kaca karena pada akhirnya, berat badannya adalah masalah yang bisa membuat semua orang menjauhinya.

“Astaga! Aku hanya bercanda.” Darren mengangkat dagu Olin menggunakan jari tengahnya. “Aku bercanda. Kau tidak berat sama sekali. Ayolah.” Mengelus pipi Olin lembut.

Seketika air mata Olin jatuh. Ia tidak menyangka jika Darren benar-benar berbeda dari lelaki

kebanyakan.

“Jangan menangis.”

Darren menghapus air mata itu lalu memeluk Olin sembari mengelus punggung. “Kau jangan terlalu peduli pada hal yang sebenarnya sepele. Ukuran berat badan itu tidak menjamin kau jelek, kan?” Darren benar-benar menenangkan Olin.

Olin melepaskan diri dari pelukan Darren. “Terima kasih sekali lagi,” ucapnya tulus.

Ini pertama kalinya ia bertemu dengan orang yang tidak peduli pada ukuran berat badannya.

“Kau sudah tenang?”

Olin mengangguk.

 “Kalau begitu, aku benar-benar akan ke dapur

untuk memasak makan siang. Atau mungkin makanan siap saji saja.” Darren menutup pintu kamar mandi dan benar-benar keluar dari kamar menuju dapur.

***

Binar bahagia di mata Olin terpancar lantaran melihat ayam bakar di atas meja. Ia menelan

ludahnya, tapi ia tidak ingin mendahului sang pemilik rumah yang masih sibuk mengambil piring dan gelas dari lemari.

“Kau suka?” Darren meletakkan piring di depan Olin serta gelas kosong dan susu kotak.

Olin menengadah menatap Darren. “Ini enak. Pasti,” ucap Olin pelan.

Darren mengulum senyum. “Aku tidak jadi memasak. Lemari pendingin tidak menyimpan bahan makanan sama sekali. Aku lupa belanja bulan,” terang Darren. “Kau tidak keberatan

dengan makanan siap saji, kan?”

Olin menggeleng.

“Ini lebih dari cukup,” balas Olin. “Terima kasih,” katanya lagi.

“Makanlah. Aku yakin kau sangat lapar.” Darren menyodorkan ayam panggang yang sedari tadi ditatap Olin tajam. “Makan yang banyak,” perintah Darren.

“Kau semakin membuatku gemuk,” cicit Olin dan disambut tawa oleh Darren.

Tawa itu menular kepada Olin, sehingga ia juga melakukan hal yang sama. Untuk pertama kalinya ia melepas semua kegundahan hatinya dengan tawa di depan orang asing.

Setelah tawa itu berakhir, tidak ada percakapan lagi yang terjadi. Darren maupun Olin terhanyut

dalam suasana makan siang yang sederhana, tapi terlihat nikmat.

“Aku selesai,” ucap Darren setelah berhasil mengisi perutnya dengan sepiring nasi dan dua potong ayam bakar. Perutnya terlalu kenyang dan mungkin akan meledak setelahnya. Ini

pertama kalinya ia makan diluar batas kemampuan lambungnya.

Mungkin karena pengaruh makan berdua. Ya, biasanya Darren hanya makan sendiri, Walau

kadang-kadang Shawn atau Zea datang menemaninya. Garis bawahi, sesekali!

“Aku juga,” sahut Olin. Menyudahi makannya dengan meneguk susu sampai tandas tanpa siksa.

“Kenyang?” Darren menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.

Hanya anggukan yang menjadi sahutan dari pertanyaan itu.

“Biar aku aja yang beresin, Olin,” tegur Darren saat Olin mulai bergerak membereskan piring-piring kotor.

“Tapi–“

“Kakimu itu masih sakit. Jangan bandel!” dengkus Darren lalu mengambil piring-piring yang sudah Olin kumpulkan dan kemudian membawa ke tempat mencuci piring.

“Olin,” panggil Darren dari pantri.

“Ya?” Olin menoleh ke arah Darren yang sedang mencuci piring.

Ah, terlalu mandiri.

Olin salut dan semakin terpana pada lelaki tampan itu.

“Di mana alamat rumahmu? Biar aku antar,” ujar Darren tanpa melihat.

Olin menghela napas saat mendengar kalimat itu. Hal inilah yang tidak ingin ia dengar sama sekali,

karena Olin sendiri bingung harus jawab apa. Dia diusir dari rumah, lantas alamat mana yang akan ia berikan pada Darren.

Atau ... haruskah ia meminta Darren untuk mengizinkan dirinya tinggal di rumah mewah yang sekarang ini? Ya, saat tadi di kamar, inilah yang sebenarnya Olin ingin katakan pada

Darren.

Namun, ia ....

“Kenapa tidak kau jawab?” Darren sudah berada di depannya. Lelaki itu sudah selesai mencuci

piring. Ah, sejak kapan Darren berdiri di depannya? Berapa lama ia melamun?

“I-itu ....” Olin tergagap.

“Kau kabur dari rumah? Atau kau diusir?” tebak Darren asal.

Olin menggigit bibirnya bagian dalamnya. Ia tidak punya alasan lagi untuk menolak bercerita

apa yang terjadi padanya tadi malam.

“Sebenarnya ... aku diusir oleh orang tuaku dari rumah.”

Darren hanya mendengar tanpa membantah.

“Mereka mengusirku tepat di malam pertunangan kakak kandungku dengan lelaki yang sebenarnya adalah kekasihku.” Air mata Olin jatuh berderai. “Mereka selingkuh di belakangku.

Alasannya karena dia malu dengan kekasih yang  berat badannya sungguh memilukan,” jelas Olin.

“Lalu, kenapa kau diusir? Bukannya kakakmu yang bersalah?” Darren bingung pada orang tua Olin.

Yang salah siapa, yang diusir siapa.

“Mereka juga malu memiliki putri jelek rupa sepertiku. Saat aku memberontak meminta keadilan, ayahku menganggapku anak durhaka. Lalu ibuku mengatakan kalau aku yang merebut

kebahagiaan kakakku. Aneh, bukan?” Olin tersenyum di sela tangisnya.

Hidupnya yang terlalu miris.

Darren menghapus air mata Olin dengan jarinya. “Jangan menangis lagi. Kau bisa tinggal di sini jika kau mau. Ada kamar kosong yang bisa kau tempati.”

Olin menengadah.

Astaga, lelaki ini benar-benar sangat baik. Bisakah ia berharap pada lelaki di depannya itu? Berharap lebih tanpa harus terluka. Oh, misalnya ... tetap membuatnya di rumah itu dan memberinya sedikit pekerjaan.

“Terima kasih, Darren.”

Darren mengangguk.

“Ah, iya, aku lupa. Sejam lagi aku ada meeting. Tak apa jika kau ku tinggal? Darren khawatir.

“Pergilah. Aku akan menunggumu di ruang tamu.”

“Oke. Aku tidak akan lama meeting-nya. Sekitar dua jam, itu pun sudah terlalu lama. Setelah aku

pulang, akan aku tunjukkan kamar yang bisa kau tempati nantinya,” ujar Darren.

Lagi-lagi hanya anggukan kepala yang menyahuti Darren.

Darren pergi ke kamar yang tadi di tempati oleh Olin setelah mengacak rambut Olin lembut.

Senyum Olin mengembang. Di rumah orang asing ini sepertinya ia menemukan kehidupan yang ia impikan. Diperlukan dan diperhatikan! Olin tidak tahu harus membalas kebaikan Darren seperti apa. Namun, ia berjanji akan membalas dengan cara apa pun.

Ya, dengan cara apa pun yang bisa melunasi hutang budinya.

Bab 2

Darren memasuki restoran di mana pertemuannya dengan salah satu rekan bisnisnya berlangsung.

Ruang VIP yang terletak di lantai dua adalah pilihan dan kebetulan sudah dipesankan oleh Maya, sekretaris dari Darren sendiri.

Cukup lama Darren menunggu dan itu terlalu membosankan. Darren bisa saja pulang dan tanpa melanjutkan meeting itu seandainya sang rekan kerja tidak ia kenal baik.

Pintu ruang VIP itu terbuka, menandakan orang yang ditunggu telah datang. Darren menoleh ke sana dan menyaksikan Shawn dengan penampilan berantakan. Rambut acak-acakan serta dasi yang sudah mereng sana-sini, jas bahkan tidak lagi terlampir di tubuh melainkan dipegang oleh sang empunya.

Darren tidak heran akan itu. Kebiasaan Shawn dan itu tidak akan berubah sama sekali. Hanya saja Darren kadang kesal karena harus menunggu padahal mereka akan membahas tentang pekerjaan.

“Perempuan mana lagi yang kau tiduri kali ini?” Darren memberi Shawn pertanyaan.

Shawn mendudukkan dirinya di kursi. Merapikan rambutnya dan juga dasi yang berantakan. Shawn tertawa mengingat apa yang barusan terjadi padanya dan Darren selalu berhasil menebak apa yang ia lakukan di luar sana sebelum ke restoran.

“Dosen di salah satu kampus terbaik di kota ini. Bukan salahku, dia yang mendatangiku saat aku

sarapan tadi pagi di tempat biasa, lalu menawarkan diri untuk makan siang bersama,” jelas Shawn. “ Mana mungkin aku menolak rezeki. Awalnya aku pikir makan siang biasa, tapi ternyata makan siang di atas ranjang.” Shawn terkekeh.

“Sial, goyangannya sangat nikmat, dan aku lupa daratan sampai terlambat ke sini.”

Darren hanya menghela napas pelan. Kebiasaan Shawn yang tidak pernah berubah. Selalu menikmati kehangatan perempuan satu ke perempuan lain. Tidak akan pernah sama dan tidak akan lama. Hubungan yang terjalin hanya untuk sekali dan di atas ranjang. Shawn gila akan sentuhan perempuan-perempuan seksi. Darren tidak heran sama sekali.

“Kau menggunakan pengaman?” tanya Darren khawatir. Ia sangat tahu akibat dari gonta-ganti

pasangan tanpa pengaman. Sangat berbahaya.

Shawn mengangguk.

“Tentu saja. Selain menghindar dari penyakit berbahaya, aku juga menghindar dari yang namanya tanggung jawab, Sob.” Shawn menyahut.

“Baguslah. Tapi kau harus tetap hati-hati. Adakalanya kau akan kena sialnya,” nasihat Darren.

Shawn tersenyum.

“Kau terlalu setia pada Quina,” ejek Shawn.

Darren tidak ingin berdebat dengan Shawn sehingga ia membuka laptopnya dan memilih memulai membahas pekerjaan mereka.

“Bisa kita mulai?”

Shawn hanya mengangguk. Jika Darren sudah berkata seperti itu berarti saatnya untuk serius.  Shawn mengenal baik siapa Darren, mereka bukan hanya rekan bisnis, tapi juga sahabat  sekaligus sepupu yang lahir di hari yang sama, tahun yang sama dengan beda waktu yang tidak terlalu jauh, yaitu 5 menit.

Darren lebih dulu lahir, disusul oleh Shawn.

***

Sepulang dari meeting, Darren tidak langsung menuju ke rumahnya. Ia membelok ke arah jalan

lain yang tepatnya menuju ke rumah orang tuanya. Ibunya tadi menelepon dan menyuruh mampir ke rumah mewah di mana kenangan terindah menumpuk di sana.

Darren tidak akan menolak apa pun yang diminta ibunya, apalagi ia juga sudah rindu pada perempuan cantik itu dan tentu saja rindu pada adik manisnya, Zea.

Sebenarnya bukan hanya rindu pada dua orang itu, ayah sambungnya juga termasuk di dalamnya.

Meskipun hanya ayah sambung, tapi bagi Darren, Gunawan Raharja keturunan asli pribumi itu adalah ayah yang baik dan pengertian. Nyatanya, hingga 18 tahun pernikahan lelaki itu dengan sang ibu, pernikahan keduanya baik-baik saja dan melahirkan anak semanis Zea.

Kening Darren mengernyit ketika tiba di depan rumahnya. Ia disambut hangat Kang Hari yang

merupakan satpam di rumahnya.

“Kenapa rame sekali, Kang?” tanya Darren heran.

Kang Hari hanya menggeleng. “Entahlah, Den. Mereka sudah di sini sejak pagi dan membuat

keributan di dalam sana. Kasihan Tuan Gunawan.”

Mendengar penjelasan Hari, Darren buru-buru keluar dari mobilnya dan segera masuk ke dalam. Yang pertama ia lihat saat tiba di ruang tamu adalah Gunawan yang memegang dadanya

dan sedikit terengah-engah.

Astaga, apa yang terjadi?

Kenapa ibunya tidak mengatakan apa pun saat ditelepon tadi? Kenapa juga ibunya baru meminta ke rumah sekarang? Kenapa bukan sejak tadi pagi? Pemikiran Darren kacau balau

apalagi Zea terlihat menangis sembari menopang sang ayah.

“Mom, ada apa ini?” Darren melewat begitu saja di depan lima orang yang sudah duduk dengan

keangkuhan di sofa.

Samantha menggigit bibir dan menggeleng. Sedang Gunawan hanya bisa mengulurkan tangan dan menyuruh

Darren duduk di sisinya.

“Dad, What happend?” tanya Darren bingung. Kemudian menatap intens pada tamu asing dan penuh intimidasi.

“Kau Darren Agler?” tanya salah satu yang memakai jas biru tua.

Darren mengangguk.

“Ya. Kalian siapa?” tanya Darren balik.

Lelaki berambut pirang dengan jas hitam menyodorkan berkas ke depan Darren. “Kau baca itu, maka kau akan tahu siapa kami.”

Darren melirik pada Samantha dan juga Gunawan. Lalu ia menghela napas saat Gunawan memegang tangannya dan menggeleng agar tidak membaca berkas itu.

Darren tersenyum.

“Tidak apa, Dad.” Menenangkan ayah sambungnya itu.

Lalu membuka berkas itu dan membaca serius. Tidak ada perubahan dari ekspresi Darren sama sekali, datar dan tidak mudah ditebak. Setelah selesai membaca lalu meletakkan di atas meja kaca itu. Mengatur posisi duduknya dan menyeringai.

“Hanya itu bukti yang kalian bawa? Kenapa aku tidak yakin dengan isinya sama sekali?” Darren

berucap penuh penekanan dan mulai mengintimidasi.

“Itu bukti yang cukup kuat. Tanda tangan ayahmu ada di atas berkas yang isinya adalah meminjam uang pada perusahaan kami dan jika dalam dua bulan tidak mengembalikannya maka

rumah dan mobil yang ia miliki akan menjadi milik kami.” Yang memakai jas biru tua itu kembali berkata.

“Jumlah sebesar itu? Kalian lebih mengerikan dari pada bank.” Darren sebenarnya emosi hanya saja ia berusaha menahannya.

“Lima milyar adalah jumlah yang besar,” sahut si rambut pirang.

“Jadi, kesepakatannya apa? Kalian ingin rumah ini dan semua mobil milik ayah saya?” tanya Darren ingin tahu.

“Sesuai surat perjanjian. Kami ingin mengambil hak kami,” sahut si rambut pirang.

Darren mengangguk.

“Kalian akan mendapatkannya. Beri kami waktu hingga malam untuk beres-beres,” mohon Darren.

Samantha menangis, sedangkan Gunawan menggeleng.

“Darren, jangan biarkan ini terjadi,” pinta Gunawan.

Darren tidak ingin mendengar itu. Ia malah membantu Gunawan berdiri dan memapah membawa ke kamar.

“Kalian bisa kembali nanti malam.” Lalu memberi isyarat pada Zea untuk mengikuti langkahnya ke kamar juga.

Saat tiba di kamar, ekspresi Darren masih belum bisa dibaca. Ia bahkan masih terlihat biasa,

mendudukkan Gunawan di ranjang dengan bantal sebagai tumpuan agar tidak langsung mengenai kepala ranjang.

Samantha duduk di tepi ranjang, sedang Zea memilih duduk di atas ranjang dan menyandar pada Gunawan yang kondisinya masih belum membaik. Sepertinya penyakit jantungnya belum pergi meskipun Zea sudah memberi obat.

“Coba katakan apa yang terjadi, Dad? Untuk apa Dad meminjam uang pada perusahaan yang lebih tepat seperti rentenir? Lima milyar? Untuk apa, Dad? Kalau Dad butuh uang, bisa minta ke Darren.” Emosi Darren memuncak. Ia berucap dengan nada tinggi.

Gunawan hanya menggeleng.

“Apa gaji Dad sebagai guru tidak cukup untuk membiayai Mom dan Zea? Kalaupun tidak cukup, jangan sampai meminjam uang sebanyak itu, Dad. Dad tahu akibatnya?” Darren mengusap wajahnya kasar.

“Kak, jangan marah sama Dad.” Zea menangis. Gunawan menepuk-nepuk pelan lengan Zea agar tidak menyanggah. Ya, tepatnya gunawan membiarkan Darren mengeluarkan emosi yang

terpendam sejak tadi.

“Aku tidak habis pikir, Dad.” Helaan napas Darren terdengar. “Dari awal Dad menikah dengan Mom,  Darren sudah menerima apa pun tentang Dad. Dad itu yang terbaik untuk kami, meskipun hanya seorang guru, tapi Dad sudah membuktikan kalau Dad itu ayah sambung yang hebat. Lalu kenapa di saat beban hidup sudah berkurang, Dad malah meminjam uang? Kenapa gak bilang ke Darren, Dad?”

Gunawan mengulurkan tangannya pada Darren, menyuruh duduk di sampingnya. Bagaimana pun ia harus menjelaskan apa yang terjadi. Ia tidak akan membiarkan putranya itu salah paham

padanya.

Darren menurut. Se emosi apa pun dia, baginya saat keluarga meminta sesuatu padanya walau hal kecil ia akan menurut.

“Dad tidak meminjam uang pada perusahaan itu, Darren. Meskipun gaji dad kecil, tapi Mom kamu dan Zea tidak kekurangan apa pun, Nak.” Gunawan mencoba membuka pembicaraan, menjelaskan dengan nada pelan agar emosi Darren tidak memuncak.

“Jika bukan Dad, lalu siapa?” Darren penasaran.

“Dengarkan Dad kamu dulu, Darren,” pinta Samantha. Darren menghela napas.

“Saudara tiri Dad dan istrinya. Dad tidak tahu bagaimana mereka mendapatkan surat rumah ini padahal sertifikat di simpan oleh Mom kamu. 

Tapi saat tadi lima orang itu datang, Mom kamu mencari di tempat dia menyimpan berkas-berkas penting, tapi tidak ada,” terang Gunawan lagi.

Samantha membenarkan. “Iya, Darren.”

“Bagaimana soal tanda tangan Dad di atas perjanjian itu?” Darren masih belum paham sama sekali.

“Dad baru ingat, dua bulan lalu, Monica datang ke sini meminta tanda tangan dad di atas kertas

putih, katanya untuk kepentingan sekolah. Karena papa dan mamanya ke keluar kota dan kertas itu akan diserahkan ke guru hari itu juga makanya dad tanda tangan.” Gunawan meneteskan air mata karena terlaku percaya pada keponakannya itu. Bahkan Gunawan tidak bertanya kenapa kertasnya kosong saat itu. Ia guru, tapi ia merasa sangat bodoh. Karena kebodohannya, keluarganya dalam masalah.

Rumah mewah peninggalan almarhum suami dari Samantha menjadi milik orang lain

karena dirinya.

“Monic?” tanya Darren.

“Keponakan Dad,” sahut Gunawan.

Darren tidak begitu mengenal keluarga dari ayah sambungnya itu. Karena jujur, dari dulu keluarga

ayah sambungnya itu terlalu meremehkan Gunawan dan juga terlalu angkuh.

Darren menghela napas. “Jadi bukan Dad yang meminjam uang sebanyak itu?” tanya Darren lagi

untuk meyakini diri.

Gunawan menggeleng.

“Dad tidak seserakah itu, Darren. Gaji dad cukup untuk keluarga ini. Lagian kamu juga selalu memberi uang ke Mom kamu tiap bulan. Kurang apa lagi. Ya Tuhan, 5lima milyar itu bukan yang sedikit.” Gunawan akhirnya terisak.

Darren iba sekaligus khawatir. Ayah sambungnya itu terlihat tidak sehat,  dan jika terus menangisi apa yang terjadi, Darren takut akan semakin drop.

“Mereka sangat jahat!” Zea juga menangis sembari memeluk Gunawan.

Darren mengusap wajahnya frustrasi. Tidak ada pilihan lain selain membawa keluarganya ikut

bersamanya. Rumahnya cukup besar untuk menampung mereka semua. Hanya saja, Darren menyayangkan rumah peninggalan ayah kandungnya menjadi milik orang lain. Darren akan membuat perhitungan pada orang-orang yang menjebak ayah sambungnya itu.

“Mom, Zea.” Darren meletakan tangan kirinya di tangan sang ibu sedang tangan kanannya mengelus pipi Zea.

Samantha tidak menyahut, hanya menggigit bibirnya berusaha untuk tidak menangis sama sekali walau itu sia-sia, karena air matanya tetap jatuh berderai.

“Bereskan semua pakaian kalian. Jangan bawa apa pun selain pakaian dan barang penting. Mulai sekarang Dad, Mom dan Zea tinggal bersamaku.” Darren tersenyum saat mengucapkan kalimat itu.

Zea dan Samantha spontan memeluk Darren, sedang Gunawan hanya bisa memejam matanya tanpa kuasa menahan tangis. Darren, anak tirinya yang sejak dulu sudah ia anggap sebagai

anak, didik dengan penuh kasih sayang dan ketika telah dewasa, anak itu penuh pengertian dan perhatian serta tetap menganggapnya sebagai ayah.

Gunawan bangga pada dirinya sendiri. Ia bangga pada Darren. Anaknya itu benar-benar luar biasa

baik.

“Dad. Jangan dipikirkan lagi.” Darren memeluk Gunawan erat.

Tidak ada yang boleh menderita di keluarga. Oleh sebab itu, orang-orang jahat itu harus menerima hukuman yang setimpal.

Nyawa? Mungkin!

***

Olin tertatih menuju pintu saat mendengar suara pagar terbuka. Senyum mengembang lantaran apa yang ia nanti telah pulang. Ya, Darren. Lelaki itu berjanji hanya dua jam, tapi ternyata melebih waktu yang dijanjikan.

Awalnya Olin berpikir Darren akan mengacuhkannya dan tidak akan pulang ke rumah di mana ada orang asing di sana, tapi pemikirannya itu salah. Ini rumah Darren dan pasti lelaki tampan itu akan pulang.

Saat pintu terbuka dari luar, Olin menyambut dengan omelan panjang lebar tanpa melihat siapa yang ada di depannya.

“Kenapa kau lama sekali? Dua jam yang kau janjikan ternyata berjam-jam. Aku sangat lapar!”

“Kau siapa?” Olin menajamkan

penglihatannya saat suara milik perempuan menyapa indra pendengarannya.

“Kau pacar Kak Darren?”

Olin kebingungan. Syukur saja, Darren datang tepat waktu bersama seorang perempuan cantik dan seorang lelaki yang tangannya dipegang oleh Darren.

“Zea, jangan menghalangi jalan?” tegur Darren.

Zea menggeleng.

“Tidak bergeser sebelum Kakak menjawab pertanyaanku.” Zea melebarkan tangannya menghalangi jalan Darren serta orang tuanya.

“Zea, Dad kamu butuh istirahat,” tegur Samantha.

Zea memelas. “Mom, Kak Darren harus menjawab dulu soal perempuan yang ada di dalam rumahnya.”

Darren melotot kemudian menepuk jidatnya kuat. Astaga, ia lupa jika di rumahnya ada orang lain selain dirinya. Carolin! Kenapa ia bisa lupa dengan perempuan itu?

“Darren, siapa perempuan yang dimaksud oleh Zea?” tanya Samantha, menggeserkan Zea hanya untuk melihat siapa yang disembunyikan oleh Darren di rumah besar itu.

“Mom, i-itu,” gagap Darren.

Samantha melirik tajam pada Darren lalu beralih ke Olin yang sejak tadi mematung di depan pintu.

“Kau siapa? Pacar anakku?” Nada suara mengintimidasi.

Olin menggigit bibirnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jika mengatakan ‘bukan’ maka

pertanyaan akan semakin banyak. Jika mengatakan ‘iya’ tetap juga akan mendapatkan banyak pertanyaan dan selain itu mungkin Darren akan membencinya.

“Kau sangat manis,” puji Samantha lagi, kemudian memeluk Olin erat dan mengajaknya ke sofa.

“Akh!” rintih Olin saat tapak kakinya yang luka tertekan pada lantai.

“Astaga! Kau terluka?” Samantha berteriak heboh. “Darren, apa yang kau lakukan padanya?”

Darren menghela napas panjang. Ia akan mendapatkan pertanyaan beruntun setelah ini.

Nasib!

Bab 3

“Mom, hentikan. Olin bukan pacar Darren.” Darren menghela napas kesal lantaran ibunya sejak tadi terus mengatakan kalau Olin adalah pacarnya. Padahal Darren dan Olin sudah menjelaskan bahwa keduanya hanya sang penolong dan yang ditolong.

Namun, Samantha bersikeras mengatakan kalau hubungan keduanya adalah pacaran. Bukan hanya Samantha, Zea juga ikut mendukung sang ibu, hanya Gunawan saja yang tidak berpihak, tapi tetap saja membuat Darren kesal lantaran ayah sambungnya itu tertawa melihat kesulitan Darren.

“Jangan berbohong, Darren. Mom tahu kalau kalian punya hubungan khusus.” Samantha masih terus membahas soal hubungan keduanya.

Darren tidak menyerah untuk mendebat ibunya, tapi jika tidak mendebat maka ibunya akan terus

mengatakan yang tidak-tidak.

“Mom. Hentikan. Mom tahu sendiri kalau aku sudah memiliki Quin.” Darren akhirnya membela diri dengan menyebut nama kekasihnya yang berada di luar negeri karena urusan karier

model.

Samantha menampilkan ekspresi tidak senang saat nama Quin disebut oleh Darren.

“Ya ... ya ...,” tukas Samantha kesal. Lalu menatap Olin yang hanya diam. “Kau akan tinggal di sini, kan?” tanya Samantha meyakinkan diri. Padahal tadi Darren sudah mengatakan kalau Olin akan tinggal bersama mereka karena tidak punya tempat tinggal. Oleh karena itu pula, Samantha yakin kalau Darren punya hubungan dengan Olin.

“Iya, Tan. Olin akan tinggal di sini sampai mendapatkan tempat tinggal,” sahut Olin pelan.

“Ya, sudah. Kamu bilang tadi kalau mau membereskan kamar yang mau ditempati, kan? Ayo, tante bantuin.” Samantha memapah Olin menuju kamar diuang tidak jauh dari ruang makan.

Rumah Darren terdapat lima kamar. Dua kamar di atas dan tiga kamar di bawah. Kamar utama di

atas menjadi milik Darren, dan kamar satu lagi disulap Darren menjadi ruang kerja sekaligus perpustakaan pribadi. Sedang di bawah menjadi milik orang tuanya, Zea dan tentu saja Olin.

“Ini akan jadi kamar kamu, Lin.” Samantha mulai membereskan kamar itu mulai dari mengganti seprei lama dengan seprei baru yang baru diambil dalam lemari.

“Kamar ini masih sama aja, ya, Mom,” seru Zea saat menyaksikan kamar yang dekorasinya tidak

berubah sama sekali.

Olin mengernyitkan kening. “Ini kamar siapa dulunya?” tanya Olin penasaran.

Zea tersenyum manis.

“Ini kamar sempat ditempati oleh Mbak Maya, sekretaris Kak Darren.”

Olin mengangguk.

Ternyata Darren pernah membawa orang asing tinggal di sini selain dirinya.

“Tapi setelah Mbak Maya menikah, ia akhirnya ikut dengan suaminya, deh,” lanjut Zea lagi.

“Tante kira dulu mereka punya hubungan, tapi saat Maya menerima lamaran teman bisnis Darren, tante kecewa.” Samantha menghela napas saat mengingat betapa senangnya dulu

saat Maya berada di rumah itu.

Olin menatap

Samantha dalam. Ia baru menyadari jika ibu dari Darren itu terlihat cantik di usia yang tidak muda lagi.

“Dan sekarang Mom berharap kalau Kak Olin adalah pacarnya Kak Darren.” Zea memeluk lengan Samantha sembari menyandarkan kepalanya di bahu.

Samantha mengangguk.

“Mom hanya berharap Darren mendapatkan yang terbaik, Zea. Apa kau mau kalau dia mendapatkan seseorang yang tidak memedulikan keluarga kita?” Samantha melirik

Zea.

Zea menggelengkan kepalanya. “Tentu saja tidak mau, Mom. Zea tidak ingin memiliki calon kakak

ipar yang jahat kayak nenek lampir. Big no!” Zea menolak mentah-mentah.

Interaksi ibu dan anak itu tidak luput dari fokus Olin. Ia mengulum senyum dan entah kenapa bulir air matanya jatuh merembes hingga ke pipi. Zea dan ibunya sangat manis dan terlihat akrab. Membicarakan hal kecil walau sebenarnya tidak terlalu penting.

Tertawa sampai rasanya mereka berdua adalah pemilik dunia ini.

Olin iri, sungguh. Ia tidak pernah merasakan kebersamaan yang seperti itu pada keluarganya

sendiri. Ayahnya terlalu sibuk mengatainya anak durhaka, sedangkan ibunya terlalu peduli pada Elana dan Elana sendiri terlalu sibuk menggoda lelaki yang sebenarnya adalah kekasih Olin.

Keluarga yang mengerikan.

Mungkin diusir dari rumah adalah jalan terbaik. Setidaknya ia bertemu dengan Darren yang peduli padanya tanpa menyudutkannya meskipun berat badannya melebih batas normal.

Keluarga Darren yang juga terlihat welcome padanya padahal ini pertama kali mereka bertemu.

“Olin.” Samantha mengelus pipi Olin saat menyadari jika tamu mereka itu sedang melamun dengan tatapan kosong.

Spontan Olin tersadar. Berkedip beberapa kali untuk menetralkan ekspresinya dan itu membuat

Samantha serta Zea gemas sendiri.

“Kau memikirkan apa, ha?” tanya Samantha. Ia membawa Olin ke pinggir tempat tidur dan mendudukkannya di sana.

Olin menggeleng.

“Tidak apa-apa, Tante. Hanya ... em ... aku senang melihat keakraban Tante dan Zea.” Olin melengkapi pernyataannya dengan senyum merekah.

Samantha mengangguk.

“Itu hal yang wajar antara ibu dan anak. Dengan begitu, kita bisa saling memberi pengertian dan kasih sayang satu sama lain.” Samantha menjelaskan.

Tidak ada sahutan dari Olin.

“Istirahatlah. Ini sudah terlalu larut.” Samantha menyuruh Olin untuk segera istirahat.

“Terima kasih karena Tante dan Zea sudah membantu merapikan kamar ini,” ucap Olin sungguh-sungguh.

Zea mengedipkan matanya sebagai jawaban bersamaan dengan senyum manis. Sedang Samantha mengecup kening Olin dengan lembut.

“Tidur yang nyenyak,” ucap Samantha. Ia lantas menarik pelan tangan Zea agar keluar dari

kamar Olin.

“Selamat tidur, Kak Olin.” Zea tidak mau ketinggalan untuk mengucapkan selamat tidur pada Olin.

“Selamat tidur juga buat Zea,” balas Olin sembari melambai.

Setelah Samantha dan Zea keluar dari kamar,  Olin membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Menarik selimut sebatas perut. Ingatannya melayang pada keluarganya yang sama sekali tidak menghargai keberadaannya. Dibenci, dikucilkan dan diabaikan!

Hingga sampai detik ini, Olin masih bingung alasan di balik keluarganya membencinya sedemikian dalam. Jika ia adalah petaka sekaligus musibah, kenapa dia dibiarkan hidup?

Bukankah akan lebih baik jika ia dicekik sejak lahir? Pemikiran macam apa itu? Olin menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan hal negatif dari otaknya. Bagaimanapun, ia harus bersyukur, karena kejadian yang menimpanya itu ia bisa bertemu dengan Darren dan keluarga lelaki itu. Tuhan itu adil.

Sekarang ia tinggal berbuat baik dan tidak mengecewakan keluarga Darren. Ia harus membantu berberes dan mencari pekerjaan agar bisa membiayai hidupnya kelak.

“Selamat malam dunia.” Olin memejamkan mata setelah bermonolog ria. Kebisaan yang selalu ia

lakukan ketika akan tidur.

Belum sempat terlelap, pintu kamar diketuk oleh seseorang.

“Boleh aku masuk?” tanya Darren dari luar.

Olin bangun dari posisi tidurnya menjadi duduk, bersandar pada kepala ranjang lalu berkata,

“Masuklah.”

Tidak lama pintu terbuka. Darren terlihat di sana dengan pakaian santai dan siap tidur. Celana

training hitam dan kaos oblong warna putih. Di tangan lelaki itu ada kotak P3K.

“Ada apa?” tanya Olin. Ia penasaran kenapa Darren ke kamarnya di saat malam semakin larut.

Darren duduk di pinggir ranjang, menyingkap selimut hingga menampakkan kaki Olin. “Perbannya belum diganti, kan?” tanya Darren.

Olin menggeleng.

“Aku tidak bisa melakukannya. Terlalu menakutkan. Ditambah lagi, aku tidak tahu di mana kotak obat kau simpan,” kata Olin.

Darren melepas perban lama yang membalut tapak kaki Olin. Dengan hati-hati ia mengelap menggunakan kapas yang sudah ia basahi dengan alkohol.

“Akh,” pekik Olin tertahan.

“Maaf,” kata Darren dengan mimik khawatir.  Ia tidak sengaja menekan luka itu hingga membuat Olin memekik.

Olin tersenyum masam. “Bukan salahmu, Darren. Aku aja yang terlalu takut pada luka itu.”

Darren kembali melanjutkan kegiatannya membersihkan luka itu dan setelahnya menutup dengan perban. “Besok kita ke dokter, ya,” ajak Darren. Olin menggelengkan

kepala. “Tidak perlu, Darren. Kau sudah melakukan yang terbaik jadi tidak usah ke dokter lagi,” tolak Olin. Alasan lainnya karena ia tidak ingin terus berhutang budi pada Darren.

“Kau yakin?” tanya Darren memastikan.

“Tentu saja. Aku yakin, dalam dua hari, luka itu akan sembuh.” Olin meyakinkan Darren.

“Baiklah.” Darren membereskan kotak P3K dan bangkit dari duduknya. “Tidurlah. Jika kau butuh

sesuatu saat tengah malam, kau bisa menghubungiku.” Meletakkan ponsel mewah

berwarna merah marun di atas nakas. “Nomorku sudah tersimpan di sana.”

Olin menganga. Ia tahu bahwasanya harga ponsel itu bukan sesuatu yang murah. Sangat mewah dan juga keluaran terbaru. Bagaimana Darren meninggalkan kepadanya? Apa Darren se

percaya itu padanya? Olin pernah melihat di televisi jika harga ponsel pintar itu sampai puluhan juta.

Astaga!

“Aku akan kembali ke kamarku. Jangan tidur terlalu malam.” Darren tersenyum sebelum meninggalkan kamar Olin.

Olin meraih benda pipih itu dan memperhatikan desain yang luar biasa membuatnya terpesona. Untuk pertama kalinya ia menyentuh ponsel yang harganya fantastis.

Bolehkah ia berharap untuk memiliki ponsel itu selamanya?

Olin tersenyum lalu kembali meletakkan ponsel itu ke atas nakas. Ia sudah sangat mengantuk dana sebaiknya ia tidur sebelum malam semakin larut.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED