Bab 2

Tubuh Raellyn kontan kembali bergetar. Emosinya mulai didominasi oleh amarah. Dia tidak percaya akan mendapatkan tuduhan tidak terhormat dari pria yang baru dia temui. Merasa terhina, Raellyn kontan menatap tajam pada sang director.

“Sebuah komitmen dalam hubungan asmara tidak harus didahului dengan kehamilan dan seorang anak, Pak Director.” Melihat sang director mengangkat kedua alisnya perlahan-lahan. Raellyn mengangkat kembali pisau lipatnya tepat di hadapan sang director, mengambil resiko untuk kembali menantangnya atas bekal pengetahuan yang dia dapat dari Arsene. “Kau itu pria yang berpengalaman dengan wanita. Harusnya kau tahu bahwa kehamilan bisa dicegah saat kau tidak menginginkannya.” Sesaat Raellyn bisa melihat ada kedutan kecil di ujung bibir sang director.

“Kau bisa menurunkan pisau lipatmu, Miss Raell. Namun jangan kira aku akan mengakuimu sebagai seorang wanita terhormat. Sebab seorang wanita terhormat tidak akan pernah bertingkah barbar seperti dirimu sekarang ini.” Jemari sang director berhenti mengetuk-ngetuk meja. “Yang pasti, aku tidak bisa memahami apa yang kau butuhkan dariku sebagai bentuk pertanggung jawaban yang kau mau sekaligus memuaskan kata sepadan yang sejak tadi kau ucapkan padaku. Mengapa tiba-tiba aku dilibatkan dalam kisah asmara kalian?”

Arnav menggeser tempat duduknya, jas yang menutupi pundak lebarnya tertarik mengikuti gerakan. Ketika itu pula Raellyn bersumpah bahwa rompi berwarna hijau tua yang dikenakan oleh sang director adalah rompi terbaik yang pernah dilihat oleh si gadis sejauh dia hidup.

“Semua yang aku sampaikan ada dalam catatan yang terselip dalam berkas yang kau terima.”

Pria itu menaikan sebelah alisnya. Kemudian membuka lembar pertama. Disana Raellyn memang telah menyiapkan sebuah catatan kecil dari tulisan tangannya. Inti dari seluruh aksinya hari ini. Arnav terlihat menyangsikannya.

“Catatan kecil ini lebih seperti penggambaran atas malapetaka dan ancaman atas terjadinya skandal dan juga kematian dalam keluargaku khususnya untuk adikku yang nakal Arsene.” Dia kemudian menutup kembali berkas tersebut. Pria itu justru enatap kearah Raellyn dengan penuh minat. “Semua orang tahu bahwa hubungan cinta tidak akan bisa berjalan hanya karena satu orang saja. Tapi baiklah akan aku kesampingkan soal itu, aku akan mencoba untuk menerka inginmu dengan cepat. Mari kita berdua bicara soal bisnis sekarang. Apa yang kau inginkan dariku? Uang? Rumah? Emas permata? Tentukan sekarang, karena aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni perempuan antah berantah sepertimu.”

Raellyn kontan lagi-lagi merasa bahwa harga dirinya telah diinjak dengan kalimat yang baru saja pria itu lontarkan. Wanita itu secara konstan langsung melempar pisau lipat yang ada ditangannya. Pergerakan yang cepat tadi membuat Arnav langsung berhenti melakukan pergerakan untuk menghindari benda itu menyabet kepalanya. Padahal Arnav baru saja hendak membuka laci meja kerjanya. Entah mau mengambil apa.

“Kau beruntung memiliki kemampuan refleks yang bagus, Sir. Jika tidak mungkin kali ini kepalamu yang terluka.” Raellyn menarik napasnya dalam-dalam, mencoba untuk tidak termakan amarah meskipun nyatanya rasa itu telah lebih dulu berkobar di dalam dirinya.

“Oh, dan apakah seorang pria terhormat tidak bisa menyaring ucapannya sendiri? coba balik posisinya sekarang. Jika kau memiliki saudara perempuan dan seseorang pria kurang ajar memperdayai dan memikatnya dengan sebuah janji suci akan cinta dan pernikahan. Lalu tiba-tiba saja mencampakannya begitu saja dengan menikahi perempuan lain. Balasan seperti apa yang akan kau tuntut dari dia? Apakah cukup dengan uang? Rumah? Emas permata?” tanya gadis itu sembari mengetukan jemarinya pada pegangan kursi yang terbuat dari kayu secara konstan. Arnav sendiri malah balik memberinya sebuah senyuman yang Raellyn artikan sebagai sebuah senyum menyebalkan.

“Ya, kau benar. Kurasa hanya kematian yang sepadan dengan itu.” Mendengar jawaban dari Arnav sontak Raellyn goyah, ketukan yang dia buat langsung terhenti, wajahnya mengkerut tidak senang. Pria ini sudah gila kah?

“Aku tidak menginginkan kematian Arsene.” Entah mengapa tiba-tiba saja perut Raellyn bergejolak hanya karena memikirkan kemungkinan buruk tersebut. “Membicarakan kematian adikmu dengan sangat mudah membuatku sadar bahwa reputasimu benar-benar buruk Director Arnav.”

Anehnya bibir sensual pria itu malah menyeringai geli dan bukannya tahu diri, hal yang membuat Raellyn semakin geram padanya.

“Aku sedang tidak membicarakan soal Arsene, aku sedang membicarakan tentang kematian pria kurang ajar yang menggoda dan mencampakan adik perempuanku, hasil dari rekaanmu sendiri beberapa saat lalu.” Bahkan kalimat yang dia sebutkan terdengar main-main seolah sengaja untuk mengejek Raellyn.

“Jangan berbelit-belit Sir Arnav. Intinya aku menuntut pertanggung jawaban dari adikmu. Dia harus menikahi aku!” tegas Raellyn, suaranya meninggi.

“Permintaanmu ditolak.” Kali ini Raellyn bisa melihat betapa seriusnya pria itu. Dia sudah seperti sebuah bencana, dimana setiap perkataannya, ekspresi wajah yang dibuatnya, terlalu sulit untuk diprediksi. Malah terkesan berubah-ubah laksana cuaca.

“Apa maksudmu ditolak?” Raellyn tentu tidak terima. Usahanya untuk ini akan terbuang sia-sia begitu saja. Padahal dibutuhkan banyak persiapan untuk mendatangi pria ini secara illegal.

Director Arnav menaikan sebelah tangannya lagi keatas meja. Membuat telapak tangannya menyangga salah satu pipi pria itu. “Aku tidak bermaksud untuk membuat situasi yang kau buat ini bertambah lucu, Miss. Hanya saja kenyataannya adikku memang sudah menikah. Kau itu hanya selingan bagi Arsene. Ya, bisa dibilang kau selingkuhannya.”

Raellyn melemparkan tatapan gusar ke arah pria itu. “Kau hanya berusaha menutupi kesalahan adikmu! Tidak mungkin aku diduakan dan sudi menjadi selingkuhan orang!”

Senyum tersungging di ujung bibir Arnav. Dia seperti sedang menertawakan Raellyn dan mencelanya dengan ekspresi itu.

Wajah Raellyn memerah dan dia menelan ludah. Bukankah itu pernyataan yang mustahil. Bagaimana bisa? Arsene yang dia cintai tidak mungkin suami oranglain. “Tidak mungkin—”

“Biar aku perjelas kembali situasinya. Adikku sejak awal memang sudah menikah dengan Miss Sylvia. Kau bukan kekasih pertamanya, melainkan wanita simpanannya. Untuk itulah aku hanya akan bisa menawarkan materi. Jika kau bertanya, apa aku percaya bahwa adikku menggodamu? Terus terang saja iya, aku percaya. Sebab hanya wanita gila yang akan menyerbu masuk ke dalam kantorku dengan cara yang tidak terduga. Terlebih aku terkesan karena kau berani menodongkan sebuah pisau lipat sembari menceritakan kisah luar biasa yang bisa dengan mudah dipastikan. Oh … tapi jangan salah, kau itu bukan satu-satunya wanita yang datang padaku dengan cerita yang sama.” Otot di kening Raellyn berkedut lagi. Arnav hanya mengulum senyumnya seolah menikmati setiap perubahan ekspresi dari wajahnya.

“Ah, dari ekspresi yang kau buat aku bisa menebak sepertinya kau masih kesulitan untuk menerima ya? Biar aku persempit lagi persepektifnya. Karena Arsene adalah orang yang terkenal di industri hiburan, mulanya kami mencoba untuk menutupi soal asmaranya. Tapi melihat kini publik sudah tahu soal rahasia kecil itu, kami tidak punya pilihan lain untuk membuat konfirmasi resminya. Sekarang aku bahkan sedang menunggu keponakanku, karena Miss Sylvia sedang mengandung. Kalau kau penasaran kenapa acara pernikahan yang tertulis di koran dilaksanakan secara terlambat. Sebenarnya itu hanyalah penegasan kembali sumpah setia mereka sekaligus sebuah propaganda belaka agar terlihat seperti sebuah pernikahan mereka yang sebenarnya di mata masyarakat.”

Air muka Raellyn kini pucat pasi. Kepalan tangan yang sudah siap untuk dia gunakan mengancam Arnav, kini lunglai di sisi tubuhnya. Pikiran gadis itu sibuk melanglang buana. Beberapa opsi dan kemungkinan di kepala membuat wanita itu kehilangan kekuatannya. Keputusasaan tiba-tiba saja hadir dan menjadikan suaranya berubah parau tatkala menanggapi perkataan sang director. Dia bukan tipikal orang yang mudah percaya, namun untuk sekarang entah mengapa dia merasa goyah.

“Aku butuh bukti.”

Kini giliran Arnav yang melempar kertas yang beberapa saat lalu hendak dia ambil dari lacinya. Sebuah kertas yang adalah surat resmi pendaftaran pernikahan tertulis jelas di kertas itu. Raellyn meraihnya dan tersentak melihat bukti yang terlalu konkret untuk dapat dia sangkal. Arsene-nya sudah menikah.

Hal menyebalkan yang paling membuat wanita itu tidak bisa percaya adalah bahwa selama ini dia sudah diperdaya dan dijadikan sebagai wanita simpanan oleh pria itu. Ketulusan yang dia berikan pada Arsene benar-benar dibalas oleh penghianatan menjijikan. Rasa nyeri meremas dadanya begitu kencang. Tapi Raellyn berusaha mati-matin untuk tetap tegar dan tenang selepas membaca benda itu dan menyodorkannya kembali pada Arnav.

“Apa itu sudah cukup menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi diantara kau dan adikku?” Arnav berujar dengan nada meledeknya seperti sedia kala.

Raellyn menghela napasnya. “Ya, itu kejutan yang membuat jantungku berdebar-debar.” Sebetulnya itu bahkan lebih dari sekadar itu. Hatinya tercabik dan hancur sekarang. Benar-benar tidak tertolong lagi.

“Satu juta dollar adalah penawaran pertama dan terakhirku, tidak ada negosiasi lanjutan untuk ini.” Arnav bangkit dari kursinya, pria itu tiba-tiba saja berjalan dan mengitari mejanya untuk mencapai tempat dimana Raellyn tengah berdiri. Melihat pergerakan dari pria itu, kontan Raellyn bergegas untuk membuat jarak.

“Mau apa kau?” Kini Raellyn tidak sadar memperlihatkan kepanikan dalam suaranya. Tapi pria itu tidak mengatakan apa-apa. Dia justru terus mendekatinya tanpa mau peduli sekitar. Atmosfer disekitar mereka tiba-tiba saja jadi terasa mencekik.

“Kau dengar aku? Jangan mendekat lebih dari ini!” teriak Raellyn. Kata-katanya memantul dari seluruh penjuru dinding ruangan kerja pria itu. Tapi anehnya di luar sana tidak nampak ada orang yang melakukan pergerakan untuk mencari tahu asal suaranya. Jangan katakan kalau tempat ini—

“Sepertinya kau sudah menyadarinya ya? Tempat ini kedap suara. Dan bukan salahku melakukan ini karena nyatanya kau sendiri yang melempar dirimu untuk aku ‘makan’.”

Raellyn kini telah bersandar pada salah satu rak buku yang berdiri di dinding ruangan tersebut sambil menatap garang pada Arnav. Hal yang membuatnya takut adalah jika pria itu mencoba melakukan sesuatu terhadapnya. Atau minimalnya dia membuka masker yang tengah dia kenakan. Wanita itu sudah berpikir untuk melukai Arnav dengan tendangan atau tinju mautnya. Raellyn bahkan menghitung satu sampai sepuluh, tapi langkah yang mendekat padanya tidak lagi terjadi.

Arnav justu mengarah pada sebuah buffet yang letaknya tidak jauh dari rak yang sedang Raellyn sandari. Pria sempat melirik kearahnya dengan senyuman yang tidak kunjung luntur dari wajahnya sambil menuangkan wine mahal terbaik yang tidak mungkin dapat Raellyn cicipi meskipun dia bekerja keras puluhan tahun kedalam dua gelas kaca yang entah sejak kapan ada disana.

“Apa kau mulai tergoda dengan penawaran dariku?” tanya pria itu.

Gambaran rumah sang paman yang terbilang kurang layak, tiba-tiba terlintas dalam benak Raellyn. Satu juta dollar memang besar tapi masih belum cukup untuk membantu pamannya menghilangkan hutang beban menahun atas tanah yang dia gadaikan. Apalagi untuk membantu perekonomian mereka yang sulit karena keperluan sehari-hari. Sebetulnya Raellyn suka dengan gagasan yang cemerlang itu. Namun nominal uangnya masih jauh dibawah harapan. Meski jujur saja dia hampir tergoda untuk menerima tawaran itu.

“Kau pikir begitu? Sungguh angkuh benar tingkahmu, Sir Arnav,” timpal Raellyn.

Untung saja akal sehat dan ego-nya lebih banyak bermain untuk itu. Dia tidak bisa begitu saja mengabaikan harga dirinya yang telah terluka lantaran telah dibodohi sedemikian rupa oleh Arsene. Dia juga tidak ingin begitu saja membiarkan pria yang dia cintai membuatnya patah hati dan sakit sendirian. Jika bisa maka akan lebih baik bila mereka berdua yang rasakan.

Raellyn tidak ingin masuk neraka sendirian. Bila perlu dia akan mengajak orang lain bersamanya. Raellyn akan membalas rasa sakit yang dia rasakan. Gadis itu sudah membuat keputusannya dalam situasi ini.

Tatapan Arnav kembali terfokus padanya, maka kini giliran Raellyn yang juga balas menatapnya dengan intimidasi yang sama. “Jadi?”

“Penawaran merugikan seperti itu apa menurutmu cukup untuk menggoyahkan keteguhan hatiku? Hah, yang benar saja,” timpal Raellyn sambil mendecakan lidahnya untuk meremehkan Arnav.

“Merugikan? Aku bahkan sudah bermurah hati padamu.” Pria itu menaruh minuman yang baru sekali dia teguk keatas nakas. Kemudian membawa tubuhnya untuk berdiri tepat dihadapan Raellyn. Arnav mendesah lelah, sembari mendongakan wajahnya ke langit-langit.

Raellyn meneguk saliva-nya sendiri tatkala dia terpaksa memandangi leher jenjang pria itu dan mendapati bagaimana lekukan indah itu terbentuk. Hal yang mustahil di miliki oleh salah satu director paling berpengaruh dalam kancah dunia hiburan di holywood. Dia punya estetika tersendiri sebagai manusia. Dia seperti mahakarya jika saja attitude-nya lebih baik dari yang dia kenali sekarang ini.

“Lalu katakan apa maumu Miss?” tanya pria itu tanpa memandangnya.

“Sesuatu yang lebih bernilai daripada sekadar uangmu. Ingatlah bahwa kau baru saja mempermalukanku dan menginjak harga diriku.” Raellyn mengulas senyum mengejek padanya.

“Menginjak harga diri katamu? Tidakkah kau lupa bahwa aku juga sudah menawarimu satu juta dollar Miss. Hanya orang tolol saja yang merasa dirugikan atas kebaikanku yang berlimpah seperti itu dariku.” Raellyn bersumpah pria itu sengaja menekan kata tolol diujung lidah untuk mematik amarahnya lagi.

“Uang saja tidak cukup untuk memperbaiki hati yang patah, Tuan Director.”

Hanya jeda beberapa detik saja, pria itu bangkit dari kursinya. Raellyn sama sekali tidak dapat menduga pergerakannya yang sangat cepat dari Arnav. Bahkan sampai tak sadar membuat dirinya sudah terperangkap begitu saja. Pria itu tiba-tiba telah mencengkram dagunya. Gadis itu kontan terkejut bukan main.

Meski berada dalam situasi seperti itu, Raellyn tidak ingin berada di bawah kontrol. Permainan ini tidak boleh di pimpin oleh pria itu jika dia tidak ingin kalah. Maka Raellyn kemudian secara tanggap menggunakan kesempatan yang ada. Dia menyentuh langsung dada sang pria dengan gerakan vertikal menggoda menggunakan jari jemarinya. Begitu tenang dan hati-hati, seolah dia ahli dalam urusan ini.

“Jika tidak memungkinkan bagi Arsene untuk menikahiku. Maka kuberi kau kesempatan emas untuk menggantikannya. Sebab hanya itu satu-satunya hal yang kupikir sepadan untuk menebus tindakan tercela dari saudaramu dan juga rasa malu yang terlanjur diukir oleh pria itu pada keluargaku,” tutur Raellyn sembari memainkan nada bicaranya, dia tidak tahu bahwa akan tiba baginya untuk berlagak seperti ini demi memuaskan keserakahannya.

“Kata-kata yang keluar dari bibirmu sangat sembrono, Miss.” Arnav berbisik tajam pada telinga Raellyn, membangun sebuah rasa kesiagaan dan juga rasa dingin yang begitu menusuk. “Apa perlu ku ajarkan tatakrama yang harus kau patuhi bila berhadapan dengan orang yang lebih tinggi darimu? Bagaimana kalau dimulai dengan merasakan bibir tajammu yang tertutup benda ini lebih dulu agar kau paham posisimu?”

Ah tidak! apapun asal jangan maskernya! Jangan sampai dia membuka maskernya! Dia tidak boleh ketahuan. Arnav tidak boleh tahu bahwa mereka pernah bertemu sebelum ini.

Ketegangan meliputi diri Raellyn. Apalagi saat tangan pria itu secara perlahan mulai mencoba membuka maskernya. Apakah kedoknya sekarang akan terbuka?

Bab 3

Satu hari sebelumnya…

“Pria brengsek itu! bagaimana bisa dia mencampakan aku begitu saja? aku merasa tidak pernah berbuat salah padanya! dan lagi dia dengan lihainya pergi begitu saja setelah membuat publik gempar dengan berita murahan. Dia serius berselingkuh dengan wanita itu? keparat!” Raellyn bersumpah hari ini adalah hari yang terburuk baginya. Belum genap satu pekan sejak kekasihnya Arsene yang telah membuatnya jatuh hati dalam pandangan pertama, memintanya untuk menikah. Bisa-bisanya hari ini dia malah harus mendapati berita tak sedap muncul di media masa.

Dengan situasi hati yang bercampur baur kontan gadis itu sampai pergi ke kantor agency kekasihnya untuk bertatap muka, tapi naasnya dia bahkan tidak bisa bertemu. Semua orang bilang kekasihnya telah pergi sejak tiga hari yang lalu. Lantas apakah itu bisa membuat Raellyn percaya? Tentu saja tidak.

Akhir ceritanya sudah dapat dipastikan. Raellyn di usir dari kantor bahkan sebelum dia mendapatkan kesempatan untuk memvalidasi informasi yang dia dapatkan.

Tapi bukan Raellyn namanya bila dia tidak punya ide gila. Bermodalkan name tag palsu saja wanita itu bisa masuk kedalam kantor dan berbaur bersama pegawai lainnya. Targetnya berubah dari kekasihnya menjadi ke director di perusahaan tersebut. Mengapa demikian? Sebab Raellyn pernah diberitahu oleh kekasihnya bahwa dia memiliki seorang kakak laki-laki yang bekerja sebagai director di perusahaannya. Jika tidak bisa bertemu Arsene maka Raellyn pikir dia harus bertemu dengan anggota keluarganya.

Tapi sekali lagi, dia tidak bisa bertemu pula. Lelah dengan segala upaya sia-sianya seharian, Raellyn memilih opsi menenangkan diri di atap perusahaan agency tersebut sebagai pilihan akhir. Mengiba pada takdir dan berkeluh kesah pada langit atas permasalahan yang sedang dia hadapi.

Asap yang berasal dari nikotin di udara berhasil mendistraksi. Membuat Raellyn akhirnya melirik ke satu direksi. Mulanya dia pikir hanya dia hanya sendiri. Tapi setelah melihat ada entitas lain ada disana Raellyn agak dibuat malu, sebab sejak tadi dia bersungut-sungut pada udara guna memarahi.

Adalah seorang pria bertubuh jangkung berdiri tak jauh di belakangnya dengan sebatang rokok yang tengah dia hisap ditangan. Raellyn tidak bisa melihat wajahnya karena pria itu berdiri diantara pohon setinggi tubuhnya dengan minim penerangan. Namun bila dilihat sekilas dari penampilannya, dia jelas pria dengan banyak uang. Raellyn sadar bahwa mereka berada di level berbeda.

“Permisi, boleh saya minta rokoknya?”

Tanpa ragu Raellyn berkata, memecah keheningan dan menaikan keberanian. Mungkin sudah lama sekali dia tidak merokok karena dulu dia akan di pukul bila ketahuan memakai benda itu sebagai media untuk penenangan. Tapi setidaknya untuk sekarang dia butuh itu dan tidak ada yang akan memukulnya lagi untuk alasan apapun.

Raellyn sedang menginginkannya. Anggap saja sebagai penebusan dosa karena hari ini dia gagal bertemu dengan dia. Pria bermulut manis yang meninggalkan dia dengan seluruh cerita cinta yang begitu manis dibelakang.

Kesunyian mendera. Pria yang berdiri dibelakangnya tidak bicara, dia juga nampaknya tidak mau merespon perkataan Reallyn sama sekali. Ia masih berada di posisinya seolah tidak peduli bahwa ada manusia lain disekitarnya. Hal yang membuat Raellyn entah mengapa merasa tersinggung karena diabaikan begitu saja.

“Saya tidak meminta anda untuk memberikannya secara gratis. Saya hanya butuh sebatang saja.” Sekali lagi wanita itu berkata, tapi pria di hadapannya tetap tidak menanggapi. Hanya terdengar ada satu langkah maju ke arah sebaliknya. Namun satu detik kemudian Raellyn mendapati lemparan puntung rokoknya ke tanah. Gadis itu menatap kebawah agak lama, seperti menimbang untuk memungutnya atau tidak. Namun karena dorongan kebutuhan Raellyn memilih untuk mengangkatnya dari tanah dengan menyelipkannya diantara jari telunjuk dan tengah.

“Hei tunggu sebentar.” Satu kata terlontar kembali dari mulut feminimnya.

Tanpa di duga pria itu berhenti melangkah mengikuti ujarannya, orang asing itu juga kini bahkan melirik kearah Raellyn seolah memberikan atensi lebih. Melihat reaksi tersebut Raellyn menyesap puntung rokok yang dia pungut tadi sambil merogoh celana jeans kebesaran yang dia kenakan. Lalu terlemparlah koin receh ke udara. Benda itu berdenting dan bergulir saat menyentuh permukaan lantai. Terhenti tepat di kedua tungkai kaki yang dibalut oleh sepatu mahal sang pria yang beberapa saat lalu telah menghinanya.

“Ambil saja kembaliannya,” ujar Raellyn lagi. Dia merasa cukup puas dengan balasannya terhadap pria itu. Merasa sudah tidak punya urusan gadis itu membalik badan. Dia ingin menikmati rokoknya lagi. Setelah ditemani sebatang rokok, anehnya langit malam terlihat dua kali lipat lebih indah. Meskipun udara di sekitarnya tidak jauh berbeda. Dingin yang sama.

“Kau salah memperkirakan harganya.” Nadanya begitu lembut namun rendah. Suara yang terdengar begitu menyenangkan juga memikat telinga. Tapi apa yang pria itu utarakan punya konotasi bertentangan yang kontan membuat Raellyn kembali diingatkan pada kenyataan. Dia berbalik menatap sosoknya yang kini jelas terlihat. Sedikit terkesima lantaran paras si pria yang sungguh rupawan.

“Apa kau tuli atau semacamnya?” Suara pria itu lagi-lagi membuat Raellyn terkesiap. Salah satu alisnya naik, pria bermulut sampah itulah sebutan yang pantas untuknya. Pujian soal paras tidak jadi dia utarakan. Attitude lebih diutamakan.

“Ah, ya kau benar. Itu sebabnya aku mengatakan padamu untuk menyimpan kembaliannya.”

“Ah maksudmu benda ini?” Pria itu melirik ke bawah, tepat dimana Raellyn melempar uang koinnya. Ia lalu menginjak pecahan koin tersebut tanpa merasa bersalah, “Harusnya kau memberikanku dua ratus juta untuk rokok yang telah kau hisap. Maka nilai kembaliannya kurang lebih seharga pecahan koin yang kau lempar.”

“Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan?” Raellyn mengerutkan keningnya. Jujur saja saat ini dia sedang tidak mood melayani seseorang untuk berdebat.

“Harga adalah sesuatu yang ditentukan oleh seorang penjual. Pertama, kalau kau berani meminta rokokku maka kau juga harus sudah siap membayar sesuai harganya.”

“Aku sudah berusaha bersikap baik padamu Sir. Begini sajalah, silahkan angkat kaki dan tinggalkan aku sendiri. Bukankah tadi kau mau pergi?” Anehnya pria itu malah memasang cengiran bodoh mendengar perkataan bernada sebal dari Raellyn.

“Aku yakin kau mencoba melakukan pendekatan yang sama dengan para perempuan itu. Hari ini saja aku sudah muak berhadapan dengan beberapa orang yang se-tipe denganmu.”

“Se-tipe denganku katamu?” Raellyn menaikan suaranya, tapi di saat yang sama dia melirik kearah satu direksi. Saat itulah dia kemudian mengerti dimana akar permasalahan ini terjadi. Saat ini dia sedang berada di kantor agency, jadi bisa dipastikan banyak kesalahpahaman seperti ini terjadi. Gadis itu kemudian menarik napasnya, “Aku rasa kau sudah salah paham Sir. Aku tidak tahu seberapa populernya dirimu atau sepenting apa posisimu ditempat ini. Tapi untukku, uang yang sudah aku berikan padamu itu lebih dari cukup untuk satu potong rokok bekasmu. Aku juga tidak bermaksud untuk membuat diriku terlihat seperti sedang cari perhatian. Aku murni hanya tertarik pada rokokmu.”

“Kau tidak terkait dengan tempat ini?” Dia menanyakan pertanyaan yang aneh.

“Tidak, aku hanya kebetulan kemari.”

“Kebetulan?” Langkah kaki pria itu tiba-tiba saja mendekat, membuat Raellyn kontan mundur hingga punggungnya menyentuh pembatas. Untungnya pria itu tidak lagi mencoba untuk mendekatinya.

“Kau orang yang cukup menarik. Kurasa aku akan berikan diskon untuk harga rokoknya.”

“Jangan mencoba membuatku tertawa Sir. Kenapa kau terus membahas hal itu?”

“Oh? Betapa mengecewakannya. Kalau kau sedang merayuku harusnya perlu sedikit berusaha lagi. Aku sarankan kau gunakan tubuhmu itu maka malam ini aku bisa mempertimbangkanmu untuk merasakan ranjangku.”

Raellyn mendecih dan melemparkan rokok yang baru sebentar dia nikmati. Benda itu terjatuh di lantai begitu saja atas ulahnya yang cepat panas pada apapun yang pria itu katakan. Hari ini dia sudah terlalu banyak mendapatkan masalah. Dia tentu tidak akan mau diam dan menerima dengan  lapang dada perkataan kasar pria asing dihadapannya. Maka sebagai gantinya Raellyn dengan angkuhnya meludahi rokok yang sedang dia nikmati lalu menginjaknya sambil tersenyum.

“Nah, aku sudah kembalikan rokokmu. Silahkan pungut itu dan kembalikan uangku. Transaksi kita batal.”

“Kalau kau ingin uangmu kembali maka kemarilah. Baru aku akan mengembalikannya padamu dengan caraku.”

Tangan Raellyn mengepal erat, dia tidak gemetar sama sekali ketika berhadap dengan pria bermata sebiru musim dingin dihadapannya. Meskipun kedua bola mata itu nyatanya lebih dingin dari pada angin yang bertiup melalui jendela yang terbuka di pagi buta. Dia tidak akan takut, bila tak salah. Raellyn menggertakan giginya dan berharap dengan sangat agar pria itu tidak bisa mendengar suara degupan jantungnya yang berdetak kencang, atau merasakan betapa muaknya dia untuk sesaat.

Sialnya pria itu malah semakin mengikis jarak, mendekat hingga Raellyn tidak punya sisa ruang untuk bergerak. Tangan panjang milik pria itu meraba name tag yang dikalungkan dileher Raellyn dengan gerakan sensual.

“Aku berkesimpulan bahwa benda yang kau pakai untuk mengelabui semua orang di kantor ini juga sama palsunya dengan seluruh ucapan yang kau perlihatkan padaku. Benar begitu?”

Wajah Raellyn memerah saat suara parau pria asing itu secara spontan membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Aneh baginya untuk merasakan daya tarik seorang pria dalam situasi seperti ini.

Tapi Raellyn tidak akan kalah hanya karena sedikit godaan. Perempuan itu memicingkan mata, amarah berkobar dan begitu membara didalam dirinya. Dia tidak akan membiarkan sisi gelap dalam dirinya terbuai oleh pria itu. Tidak akan pernah lagi dia dibuai oleh wajah manis. Meskipun kesan manis sama sekali tidak dimiliki oleh pria yang berdiri dihadapannya sekarang. Pria itu lebih cocok dengan kesan kasar dan maskulin. Dia memikat dengan rambut hitam dan kedua matanya yang memiliki pesona. Semakin dilihat pria itu semakin mencerminkan segala hal yang harus diwaspadai kaum wanita. Gelap, sensual, tampan dan juga sedikit berbahaya.

Tubuhnya sedikit gemetar ketika pria itu menyentuh kulitnya. Untung saja Raellyn cepat tersadarkan dan melihat seringai yang terbentuk di wajah pria itu. Dia semakin menyebalkan.

“Namaku sudah pasti tidaklah palsu. Sir,” tukas Raellyn sambil menepis tangan yang menyentuh kulitnya juga melepaskan name tag yang pria itu pegang. Dia mengambil jarak dan kemudian menegakan postur tubuhnya sendiri. “Aku Raellyn. Aku datang kemari untuk sebuah urusan yang sangat pribadi. Ada orang yang aku cari, tapi dia tidak disini. Aku tidak punya urusan dengan orang aneh sepertimu.”

“Siapa yang kau cari?”

“Director.”

“Hm … lumayan juga.” Pria itu anehnya malah kian mendekatkan diri. Kembali menjebak Raellyn dengan pagar pembatas dan juga sebelah tangan yang mencengkram lehernya. Sementara tangan yang lain dia gunakan untuk menekan bibir Raellyn.

“Apa yang—” Merasa bahaya Raellyn memutar wajahnya ke samping. Tapi pria itu justru malah mendapatkannya kembali dan bahkan meremas bibirnya seolah dia gemas. Senyumannya yang menawan tidak bisa membuat Raellyn terbius. Justru pria itu membuatnya semakin jijik. Tatapan tajam dia arahkan pada pria itu.

“Sungguh, aku sangat suka dengan tatapanmu itu. Miss Raellyn. Kurasa cepat atau lambat kita akan bertemu kembali. Aku yakin Director akan sangat suka melihatmu di kesempatan berikutnya.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED