"Aduuh, gatal banget, aaaaahhhh!" suara wanita itu tiba-tiba pecah dari teras rumah. Dia dengan cemas mengelus-elus bagian kewanitaannya, wajahnya berkerut karena tak nyaman.
Di jalan komplek perumahan, dentingan lonceng kecil menggema, "Dung dung dung! Es dung dung!" seru Dul, pemuda berkaus putih yang membawa nampan es balok di atas kepala. Tubuhnya tinggi dan atletis, posturnya tegas saat melangkah, membuat siapa pun yang melihat dari belakang pasti menganggapnya cukup maco.
Namun di balik wajahnya yang tampan, Dul punya selera humor yang kerap melontarkan guyonan saat berjualan. "Tampan, beli esnya dong!" suara menggoda dari arah teras memanggil.
Tasya berdiri dengan tangan di pinggul, senyum tipis menghiasi wajahnya yang matang. Di usianya yang sudah 35 tahun, dia masih menyandang status single parent. Bukan karena penampilannya yang biasa-biasa saja, tapi lebih karena hatinya yang belum sepenuhnya luluh pada pria manapun, meski ia terus berharap menemukan yang tepat. Tasya, dengan aura tegas seorang supervisor kosmetik di kota, selalu tahu cara bermain kata saat menggoda Dul.
Tasya duduk santai, wajah mungilnya yang bersih memantulkan cahaya mentari sore. Kulitnya yang putih seperti porselen, dipadu dengan tubuh aduhai yang bikin siapa pun sulit menoleh tanpa sengaja.
Dadanya yang indah, terasa pas dan proporsional, seolah jadi rahasia kecil yang membuat orang penasaran.
"Makasih, Mba. Mba Tasya baru tiba, ya?" suara Dul terdengar bersemangat sambil mengemasi dagangannya.
"Iya, Dul. Mba ambil cuti dua hari, sekalian lepas rindu sama kamu!" Tasya membalas dengan senyum paling manis yang bisa ia berikan, bibirnya membentuk lengkungan sempurna. Hehe, kamu makin cantik kalau lagi ngegombal, ya,"
Dul menyela, mencoba menahan senyum sambil melempar es ke keranjang. "Eh, Mba mau beli es satu nggak?" Tasya menatap Dul, tidak ingin si penjual pergi begitu saja. Ia menepuk dagunya dan mengerutkan alis, berusaha merancang cara supaya bisa bertahan lebih lama.
"Kira-kira, masih sisa berapa porsi, Dul?" tanyanya dengan suara lembut. "Kurang lebih dua puluh, Mba," jawab Dul sambil menghitung es di kotak pendingin. Tasya tersenyum penuh arti, lalu berkata, "Kalau begitu, aku borong semuanya, tapi kamu temani aku makan, ya!"
Ia menatap Dul sambil memainkan alis, penuh godaan. Dul tertawa kecil, lalu mengangkat bahu santai. "Siapa, sih, yang bisa nolak permintaan wanita secantik Mba Tasya?" ujarnya tulus, menghapus lelah seharian dengan senyuman itu.
Dul sudah pernah merasakan manisnya bibir Tasya, kenangan itu membuat kedekatan mereka terasa hangat, hampir seperti rahasia yang mereka bagi bersama.
Saat Dul mulai merapikan posri pesanan dari Tasya, tiba-tiba Tasya menatapnya dengan senyum menggoda. "Kamu nggak kangen sama aku, Dul?" godanya, matanya berbinar.
Dul cuma mengangkat bahu santai. "Nggak, Mba. Cuma kangen aja!" jawabnya sambil menyembunyikan senyum kecil. Tiba-tiba, tangan Tasya mencubit perut Dul dengan cekatan. "Nyiuutt...!"
Dul terkejut, es yang tadi dia pegang itu langsung meluncur dan mendarat tepat di dada Tasya. "Aduh, dingin, Dul!" teriak Tasya, sambil menarik nafas panjang.
Dul merengut, membela diri. "Siapa suruh cubitin aku, Mba? Lagian, kok kamu cuma pakai singlet gitu?" Tasya cuma melempar pandangan sambil tersipu. "Dul, aku mau bersihin badan dulu. Kalau udah selesai langsung masuk, ya!"
Dia lalu berlari kecil ke dalam rumah. Dul mengerutkan kening, tak bisa menahan senyum saat matanya tertuju pada lekuk pinggul Tasya yang bergoyang pelan. "Wih, semok banget bokongmu, Mba..." batinnya.
Dia kembali fokus pada pesanan, tapi pikirannya sudah melayang ke tubuh Tasya, berharap kenangan manis bulan lalu akan terulang lagi.
Tak lama kemudian, Tasya melangkah keluar membawa talenan untuk wadah es Dul. Begitu muncul di pintu, Dul spontan melotot, matanya membesar seolah nyaris melompat keluar saat melihat Tasya hanya membalut tubuhnya dengan handuk mandi tipis.
"Cepetan, Dul! Nanti tetangga pada julid liatin kita," bisik Tasya sambil melempar senyum nakal.
"I-iya, Mba," jawab Dul terbata, napasnya tercekat, tangan gemetar sedikit.
Tasya, yang jelas-jelas berniat menggoda, meletakkan es di atas meja lalu sengaja menunggingkan pinggulnya. Tatapan Dul tak bisa lepas dari lekuk tubuh Tasya yang menggoda-dan tanpa dalaman sama sekali.
"Astajim, mataku ternodai..." gumam Dul dalam hati, dadanya sesak ketika pandangannya jatuh ke paha mulus Tasya yang terekspos.
Tasya menoleh sebentar, matanya menyapu wajah Dul, menikmati kekagetan yang terpancar jelas. Lalu ia duduk di sofa berhadapan, membuka jarak kakinya lebar-lebar seolah ingin membuat Dul semakin terperangkap dalam perasaannya.
"Dul, kamu kenapa sih? Dari tadi cuma ngelototin aku terus, ada apa?" Tasya akhirnya memecah keheningan dengan nada penasaran, matanya tak lepas menatap wajah Dul.
Dul tiba-tiba terbatuk, wajahnya memerah, bibir gemetar. "J–jambut, e–em... m3mek, eh... anu, Mba, aku mau izin makan esnya dulu ya!" jawabnya terbata-bata, keringat dingin mulai menitik di pelipis.
Pandangannya berusaha menghindar tapi seolah tak bisa melepaskan diri dari tatapan Tasya yang menusuk. Tasya tersenyum tipis, lalu melirik ke bawah celana jeans Dul, menyadari sesuatu yang membuat pipinya hangat.
Dengan santai, dia mengulurkan tangan, "Ayo, duduk di sini aja."
Kaki Dul seperti bergerak sendiri, tanpa sadar menapak mendekat ke sisi Tasya.
Sluuuurrrppp... Tasya menikmati es krim yang dipegangnya, suara hisapan itu mengisi ruang hening. "Enak banget, Dul," ujarnya sambil menjilati ujung es yang mulai mencair.
Dul menelan ludah, lalu tanpa sadar berkata, "Kalau jilatin ini sih, Mba, lebih enak lagi."
Wajahnya makin merah tapi ada keberanian yang baru saja muncul. "Udah mulai nakal ya? Padahal bulan lalu minta ciuman aja sudah bikin keringetan," goda Tasya dengan nada menggoda, matanya berbinar.
Seketika, Tasya mencondongkan badan, bibirnya menyentuh lembut bibir Dul. Suara pelan "cup, cup, cup" berulang kali, membangkitkan getaran di dada Dul.
"Heh, bentar, Mba," Dul protes sambil tertawa kecil, "Biasanya sambil pangutan juga, lho!"
Tasya menatap Dul tanpa menjawab, lalu tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya dengan lembut tapi tegas. Dengan tarikan pelan, dia mengajak Dul masuk ke kamarya.
Begitu pintu tertutup, Tasya melepaskan lilitan handuknya, napasnya sedikit berat. "Come on, baby, tubuhku sekarang milikmu," bisiknya penuh keyakinan.
Dul mengangguk gugup, matanya membelalak, "Bo-boleh masukin itu, Mba?" tanyanya lirih, berharap mendapat izin.
"Tentu, tapi jangan sampai ada yang tahu, ini rahasia kita saja," jawab Tasya sambil tersenyum misterius.
Mendapat lampu hijau, Dul langsung melucuti pakaiannya perlahan, tangan gemetar. Ia menghampiri Tasya dengan tatapan cemas tapi penasaran.
"Kamu udah pernah, kan?" suara Tasya mengandung rasa ingin tahu, seakan ingin tahu apakah Dul benar-benar siap. Dul hanya menggeleng, bibirnya tercekat, jari-jarinya mulai meraba lembut dada Tasya yang mengundang.
"Indah banget dadamu, Mba," katanya serak, tangannya menopang kedua ******** Tasya seolah mencoba mengukur beban rasa di balik kelembutan itu.
Perlahan tubuh Tasya menunduk, dan mulutnya sejajar dengan Dul. "Mba kenapa, apa punyaku kecil?" tanya Dul sambil menunduk sejenak, namun Tasya memilih diam.
Tasya mulai memberikan perhatian dengan lembut, mengikuti irama yang membuat Dul merasa campuran antara geli dan kehangatan. Dul merasakan sensasi yang berbeda, seolah ada gelombang perasaan yang mengalir di dalam dirinya.
"Aku hampir sampai," ucap Dul dengan suara yang penuh harap. Tasya terus memberikan perhatian dengan penuh kesabaran, seolah menunggu saat yang tepat untuk berbagi kebahagiaan bersama.
Ketika momen itu tiba, Dul merasakan kelegaan dan kepuasan yang mendalam. Tasya pun menerima dengan tulus, bahkan dengan lembut menyeka sisa yang tersisa, menunjukkan kehangatan dan kedekatan di antara mereka.
Slurppp... !
Dul merasakan geli saat Tasya melanjutkan sentuhannya, meskipun sebenarnya dia hanya ingin membersihkan sisa cairan yang masih tersisa. Mereka berdua kemudian berbaring santai di atas tempat tidur, tanpa menyadari ada sepasang mata yang mengintai dari balik jendela, tetangga rumah Tasya.
Toto bergumam dalam hati bahwa dia juga ingin merasakan kehangatan tubuh Tasya, tapi memilih mengakhiri pengintaiannya karena takut ketahuan, apalagi oleh istrinya sendiri. "Mba, boleh aku lebih dekat?" tanya Dul dengan ragu.
"Boleh, kamu bebas mengeksplorasi tubuhku, Dul," jawab Tasya dengan lembut.
Dul pun bangkit dari tempat tidurnya, lalu dengan penuh perhatian mulai menyentuh dan merasakan kehangatan tubuh Tasya, membuat keduanya semakin dekat dan terhubung dalam keintiman yang penuh rasa.
Perlahan gairah Tasya kembali menggebu, napasnya terasa berat, dan tubuhnya merespon dengan sensasi yang semakin intens. Dul menikmati momen itu dengan penuh perhatian, bukan hanya dengan sentuhan lembut, tapi juga dengan kehangatan yang membuat Tasya merasa sangat dihargai.
Perlahan, sentuhan Dul bergerak turun menyusuri perut rata Tasya, membuatnya tersenyum kecil. "Ssshhttt, sayang, sentuhanmu sangat lembut, kamu benar-benar tahu caranya," puji Tasya sambil mengelus lembut rambut Dul.
Mendapatkan pujian itu, Dul semakin bersemangat dan mulai menyusuri area di sekitar dada Tasya dengan penuh kelembutan, lalu perlahan naik ke arah ketiak yang halus, membuat Tasya merasakan sensasi yang membuatnya sedikit terkejut.
"Mba, coba balik badan dulu, aku ingin menyentuh punggung Mba juga," pinta Dul dengan penuh percaya diri.
Tanpa menunggu dua kali, Tasya segera berbalik dan kini berbaring telungkup. Tasya menahan napas saat Dul mulai menyusuri punggungnya dengan sentuhan yang lembut dan penuh perhatian, dari sisi ketiak hingga ke tengkuk, menghadirkan kehangatan yang membuatnya merasa sangat nyaman dan tenang.
Dul masih belum puas, seolah belum rela jika belum menyentuh setiap lekuk tubuh Tasya. Kini, perhatiannya beralih ke bagian bawah tubuh Tasya.
Sejenak Dul berhenti ketika kedua tangannya menopang tubuh Tasya, menatap dengan penuh hasrat pada lekuk yang terbuka di hadapannya. "Mba, telentang lagi," pinta Dul sambil mengubah posisinya, turun dari kasur.
Setelah Tasya berbalik, Dul membuka lebar paha mulus Tasya dan sejenak menghirup aroma yang membuatnya semakin terpikat.
Tasya merasa bulu kuduknya merinding saat sentuhan Dul yang lembut dan penuh perhatian menyentuh bagian paling sensitifnya. "Belajar dari mana kamu, Dul?" tanya Tasya dengan suara bergetar.
"Sering lihat di internet," jawab Dul polos, lalu kembali memberikan perhatian penuh pada Tasya dengan gerakan yang tak pernah berhenti, membuat Tasya merasa sangat dihargai dan diinginkan.
"Sayang, aku ingin kamu sekarang," pinta Tasya dengan penuh kerinduan.
Meskipun Dul berusaha mendekatkan dirinya dengan Tasya, ia masih merasa kesulitan untuk menyatu sepenuhnya. Keringat dingin mulai mengalir di dahinya, karena ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Tasya yang menyadari hal itu segera bangkit dari tempat tidur. "Dul, kamu rebahan saja, biar aku yang mengatur," ucap Tasya dengan santai, meski sebenarnya ia ingin segera menyalurkan hasrat yang sudah memuncak sejak tadi.
Dul pun merapatkan tubuhnya di kasur, sementara Tasya dengan lembut membimbingnya, memastikan mereka benar-benar terhubung. Meskipun ada sedikit ketegangan karena perbedaan, akhirnya mereka berhasil menyatu dengan penuh kehangatan dan kedekatan yang membuat keduanya merasa semakin dekat dan terikat.
Dul merasakan kehangatan yang menyelimuti dirinya, membuatnya terhanyut dalam sensasi yang begitu mendalam.
Tasya bergerak dengan penuh gairah, menikmati setiap momen yang mereka bagi bersama. Dul menutup matanya, membiarkan perasaan itu mengalir tanpa hambatan. Tasya memahami bahwa ini adalah pengalaman pertama Dul, sehingga ia lebih banyak merasakan dan menstimulasi dirinya sendiri dengan lembut. Gerakannya yang naik turun berpadu dengan gerakan maju mundur dan putaran, membuat Dul menggenggam sprei kasur dengan erat, tubuhnya mulai tegang.
"Aku hampir sampai," bisik Dul di tengah permainan itu. Tasya pun semakin mempercepat ritmenya, sambil menyentuh dirinya sendiri dengan penuh hasrat. "Ayo, kita rasakan bersama," ajak Tasya dengan semangat, terus bergerak penuh energi di atas tubuh Dul.
Dul merasakan gelombang kehangatan yang menyapu seluruh tubuhnya, membuatnya semakin erat menggenggam sprei. Tasya pun tak kalah bersemangat, gerakannya penuh gairah dan energi yang membara, seolah mengekspresikan seluruh perasaannya dengan bebas.
Suasana di antara mereka begitu intens, membawa keduanya ke dalam momen yang penuh kehangatan dan kedekatan. "Enak sekali, bagaimana, Dul? Mau lanjut?" tanya Tasya dengan nada menggoda.
Dul mengangguk, mengambil napas dalam-dalam sejenak sebelum bangkit dari tempat tidurnya. Kini giliran Tasya yang berbaring, menantikan sentuhan dan perhatian dari Dul.
Meskipun Dul sudah merasakan puncak kebahagiaan dua kali, semangatnya tetap menyala, siap untuk melanjutkan perjalanan mereka bersama dalam kehangatan.
Bleess!
Akhirnya keperkasaan Dul melesak masuk ke dalam belahan kewanitaan Tasya.
"Aaaaaahhh, ternyata nikmat sekali rasanya Mba!" ucap Dul mengungkapkan rasa kenikmatan yang ia rasakan.
"Ayo, sayang gerakin, sodok Mba pakai k*ntol panjangmu!"
Dul mulai bergerak maju mundur, setelah mendapatkan perintah dari Tasya.
"Aahhh, dalam banget Dul !"
Plok plok plok!
Walaupun diameter keperkasaan Dul tidak terlalu besar, tapi Tasya begitu menikmati setiap sodokan Dul, mentok ke dalam sampai menyentuh mulut rahimnya.
"Ahh, enak banget Mba, m*mek Mba sempit !" ungkap Dul.
Plop plop plop !"
"Hhhh yeah sayang, ent*tin aku lebih cepat !" pinta Tasya.
Dul menggerakkan pinggulnya semakin cepat, tusukan demi tusukan keperkasaannya terhujam ke dalam liang nikmat Tasya, membuat Tasya blingsatan tidak karuan.
Kedua tangan Tasya semakin aktif menggerayangi otot-otot tubuh Dul, lalu menarik lengan Dul, hingga setengah badannya menunduk mendekati wajah Tasya.
Sluurrrppp... !
Tasya langsung saja melumat bibir Dul, di hisapnya lidahnya, sambil tetap mengimbangi sodokan keras Dul.
Smooooccchhhh... !
Plok plok plok !
Dul kembali posisi semula, kedua tangannya kini memegang lutut Tasya, sementara Tasya mengalunkan tangan di leher Dul.
"Ahhh, Mba aku mau keluar lagi," ucap Dul di sela-sela sodokannya.
"Keluarin aja di dalam Dul, jangan cabut k*ntolmu, aku ingin menikmati hangatnya sperm* milikmu !" timpal Tasya.
Croottt.. crottt crooott!
Seketika Dul ambruk, hingga menindih tubuh Tasya, mereka berpelukan bagai sepasang kekasih.
"Aaaahh, aahhh, hangat banget Dul, makasih !" ucap lirih Tasya di telinga Dul.
"Hehe, aku yang harusnya berterima kasih Mba, telah memberiku kenikmatan yang amat sangat nikmat !" timpal Dul.
Sekitar lima menitan terdiam, perlahan keperkasaan Dul mulai menegang di dalam kewanitaan Tasya.
"Mba aku mau lagi !" pinta Dul.
"Yaudah Dul, kita ganti posisi yah, soalnya kurang greget kalau cuman posisi classic gini !" sergah Tasya, dia menarik pinggulnya terlepas dari sodokan Kem*luan Dul.
Tasya segera bangun, dan memposisikan dirinya menungging. Tasya membuka lebar kedua pahanya dan menunggingkan pant*tnya tinggi - tinggi. Lalu tangan kanan Tasya membelah bibir Kewanitaannya lebar-lebar, memamerkan isi dalam miliknya yang merah dan cairan putih, perpaduan cairan milik Dul dan Tasya.
Blesss... !
Hanya sekali percobaan, Dul langsung melesakkan P*nisnya menembus liang nikmat milik Tasya.
"Ahhh, !" desah Dul dan Tasya bersamaan.
Plok plop plok!
"Pinggul Mba seksi banget !" ungkap Dul ketika dia mulai meremas bongkahan p*ntat Tasya.
Plakk plakk plakk !
"Mmmm, enak Dul, gamparin terus bon Mba!" pinta Tasya, dia sebenarnya memang suka mendapatkan kekerasan dalam berhubungan, namun Taysa enggang meminta karena mengetahui bahwa ini pengalaman pertama Dul, padahal Dul hanya meniru dari film - film yang pernah dia nonton.
Kulit putih Tasya seketika terlihat membekas merah, seiring tamparan yang dia terima, dia semakin mengangkat tinggi pinggulnya, membuat Dul semakin leluasa bergerak maju mundur.
Plaaaakkkk, plaakk !
"Aihhh, jangan keras - keras dong sayang, sakit tau !" Ungkap Tasya.
Kedua tangan Dul, mulai ketagihan menampar bokong Tasya, bahkan ketika dia mendapatkan teguran dia masih saja memukul keras.
"Fuckkk, aaarrgghhh !" gerutu Tasya sambil menggigit bibir bawahnya, Tasya mulai merasakan kenikmatan yang amat sangat, itu adalah kelemahan Tasya memberikan kenikmatan di selingi dengan kekerasan.
"Sayang, Mba mau keluar, kalau mau barengan, gerak lebih cepat, dan siksa aku sepuasmu!" ujar Tasya.
Mendengar permintaan Tasya, semakin membuat Dul kalap. Dengan semangat tingkat tinggi, Dul semakin membabi buta menghajar kewanitaan Tasya. Tangan kiri Dul menampar bokong, dan tangan kanannya menarik rambut gelombang Tasya.
Plok plok plok!
Plok plok plok!
Plakkk plakk plakk!
"Anjngg, enak banget hufftt !" umpat Dul.
"Aarrgg, fuck, fuck, yes, baby, aaaahhh, yahhh, mhhhh, ugghhh !" ceracau Tasya nikmat dan ungkapan rasa sakit yang ia terimah.
Puas menyiksa Tasya di kedua bagian, kini kedua tangan Dul beralih memegang kedua benda kenyal yang sedari tadi bergelantungan. Dul meremasnya keras, mengekspresikan kenikmatannya.
Setelah itu, kedua tangan Dul kembali posisi semula yaitu memegang bokong untuk di jadikan tumpuan.
Plakkk... !
Dul menampar satu kali, namun sangat keras, membuat Tasya langsung berteriak histeris, tubuhnya mengejang, liang kewanitaannya berkedut kencang, hingga keperkasaan Dul seolah di giling di dalamnya.
Crooottt... Croott... Croott .!
Cairan kenikmatan Dul kembali tumpah di dalam.
"Aaaaaahhhhhh! " desah panjang Tasya, ketika dia mencapai puncak kenikmatan yang kedua kalinya, tubuhnya bergetar hebat, bola hitam di matanya sejenak tidak terlihat.
Dul kembali Ambruk di samping Tasya, sementara Tasya langsung saja telungkup.
"Huh, huh, huhh !" mereka berdua masih berusaha mengatur nafasnya, setelah permainan nikmat mereka usai.
******
Di samping rumah Tasya, di ruang tengah rumah Toto, suasana agak panas meski TV masih menyala. Toto, lelaki berumur 20 tahun, duduk di sofa sambil merayu istrinya, Tati, yang sedang menonton dengan wajah setengah kesal.
"Bun, ayolah, papa lagi pengen banget nih," rayu Toto, tangan kanannya menyelinap lembut menyentuh dada Tati. Tati menengok, alisnya mengernyit.
"Papa lagi pengen apaan sih? Kok tiba-tiba minta bagian di siang bolong begini?" suaranya agak meninggi.
Toto tersenyum manis, tetap menggoda. "Papa janji nanti aku lebihin uang belanja, Bun."
Tati menarik napas panjang, matanya tajam menatap Toto. "Uangnya mau di mana? Papa kerjanya cuma minta jatah, habis itu keluyupan nggak jelas!" ujarnya dengan nada setengah marah.
Toto merengut, lalu membela diri dengan penuh keyakinan, "Pasti ada, Bun. Jangan anggap remeh kerjaan kontraktor. Sekali gajian bisa langsung keliling dunia!"
Tati melepas tangan Toto dengan tegas, berdiri dan berbalik menuju dapur. "Keliling kampung maksudnya? Sok keren bilangnya kontraktor, papa itu cuma buruh bangunan, inget itu!" ujarnya sebelum melangkah pergi, meninggalkan Toto yang masih duduk di sofa dengan ekspresi campur aduk.
Toto yang masih saja bergairah gara - gara mengintip pergumulan Tasya dan Dul, dia kembali membuntuti istrinya.
Tati baru saja berinisiatif mencuci piring di westafel ketika tangan Toto tiba-tiba mendarat kasar di kedua dadanya. Pelukan suaminya begitu kuat, tangan itu meremas dan mulai menggesek sesuatu yang sudah menegang di balik celana.
Tapi Tati menolak dengan tegas, wajahnya memerah, dia berusaha melepaskan diri dari dekapan itu. "Pah, bunda malas melakukannya di siang bolong begini!" suaranya terdengar tegas sekaligus letih.
Plakkk! Tangan Toto melayang dan menghantam pipi Tati dengan kasar. "Dasar wanita goblog! Sialan, mati rasa!" bentak Toto sebelum meninggalkan ruangan dengan langkah berat.
Tati terdiam, jari-jarinya gemetar meremas sisi baju sendiri, matanya menatap kosong ke dinding. Dia tahu, ini bukan pertama kalinya dia merasakan kekerasan seperti ini, terutama saat urusan intim.
*****
Berpindah di mana Dul berpamitan dengan Tasya.
"Ingat, Dul, jangan bilang siapa-siapa, ya!" Tasya menekankan dengan suara pelan tapi tegas, matanya menatap dalam ke arah Dul yang sudah bersiap mendorong gerobak. "Siap, Mba. Tapi, kapan ya kita bisa gituan lagi?" Dul bertanya, wajahnya masih menyimpan tawa kecil penuh harap.
Tasya menggeleng pelan, menyembunyikan rasa ragu di balik senyum tipisnya. "Maaf, Dul, Mba gak bisa janji apa-apa. Jangan terlalu berharap, ya."
"Hehe... setidaknya aku sudah dapat pengalaman, itu sudah cukup, Mba. Makasih banyak untuk semuanya!" Dul tersenyum lega, lalu bergegas berlalu sambil mendorong gerobaknya.
Setelah suara roda gerobak menghilang, Tasya duduk lemas di teras rumah.
Daster longgar sebatas lututnya tergerayangi angin siang yang hangat. Matanya kosong menatap jalan depan, mencoba meredam perasaan campur aduk yang susah diungkap.
Tiba-tiba, suara akrab memanggil dari kejauhan, "Siang, Mba Tasya!"
Tasya langsung menoleh ke arah suara itu. Sekilas, wajahnya yang tadi teduh berubah dingin dan sinis saat melihat siapa pemilik sapaan itu.
"Siang!" jawab Tasya dingin, sambil menghindari kontak mata. Bukan sombong, tapi wajah Toto-pria muda yang sudah jelas punya pasangan-selalu menimbulkan rasa risih di hati Tasya.
Ia tidak suka terlibat dengan pria yang tidak setia, apalagi yang diam-diam masih dekat-dekat dengan tetangga sendiri.
Toto melangkah pelan menuju teras rumah Tasya. Begitu duduk di sampingnya, dia justru diam membisu, menundukkan wajah yang tampak kusut.
Waktu berlalu sekitar lima belas menit, tapi tak ada sepatah kata pun terucap. Keheningan itu mulai membuat Tasya resah. Dengan sedikit ragu, ia menoleh ke arah Toto, matanya mencari jawaban. "To, kenapa mukamu kayak gitu? Lagi ada masalah ya?" suaranya lembut, diselingi nada cemas, seolah tak ingin menambah beban Toto.
"Biasalah, masalah rumah tangga, Mba," jawab Toto pendek tanpa menatapnya, suaranya dingin dan agak kasar. Tasya menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa bersalah yang tiba-tiba menyeruak.