Bab 1

Seringai senyum tercetak jelas dari bibir seorang pria yang saat ini sedang berada di atas tubuh seorang wanita cantik. Tangan kanannya bergerak menyusuri sisi wajah wanita itu. Pelan, yang mana membuat bulu kuduk si wanita meremang seketika. Sama halnya dengan si pria, wanita cantik berkulit putih itu pun menebar senyum yang menggoda juga gerak tangannya yang melingkar pada leher kokoh pria yang tak lagi muda, tetapi tetap terlihat garis ketampanannya itu seketika mematik hasrat kelaki-lakiannya. 

“Malam ini kamu harus jadi milikku, Ayya,” bisiknya lirih tepat di telinga sang wanita yang biasa dipanggil Ayya itu. Embusan napas hangat yang menerpa wajahnya seketika membuat sekujur tubuh sang wanita membeku. Pria itu kembali tersenyum lalu menatap penuh nafsu pada bibir berpemulas merah merona juga seksi itu. 

Perlahan dia gerakan bibirnya mendekati bibir wanita itu, tetapi sial. Baru saja kulit bibirnya akan menyentuh bibir seksi yang sedari tadi menggodanya itu, ketukan pintu kamar menginterupsi gerakannya. Mencoba abai, dia teruskan apa yang sempat dia hentikan. Namun, lagi-lagi suara ketukan pintu mengganggunya bahkan kali ini suara itu begitu memekakkan telinganya, pria itu pun mengeram kesal. 

“Brengsek! Siapa yang berani mengganggu kesenanganku seperti itu!” umpatnya kesal seraya beranjak dari atas tubuh sang wanita. 

“Mungkinkah layanan kamar?” Alayya Farhana Pramudhita bicara sambil beringsut bangkit dari rebahnya. Tubuh atasnya yang menyisakan pakaian dalam itu dia tutupi segera dengan selimut tebal dari ranjang tidurnya.

“Nggak mungkin. Aku nggak pesan apa-apa dan orang hotel tahu aku ke sini bersamamu,” ujar pria bertubuh tinggi dan tegap itu sambil mengancingkan kembali pengait celana panjangnya.

“Buka pintunya! Cepat buka pintu ini atau saya dobrak sekarang!” Mendengar seruan dari luar kamar, Alayya membesarkan bola matanya, tubuhnya tiba-tiba gemetar ketakutan. 

“Jangan bilang itu polisi, Tuan.” Bibirnya pun bergetar saat mengucapkan kalimat itu. 

“Tuan Hardiawan Daneja! Cepat buka pintu kamar Anda kalau Anda tidak ingin saya buat malu!” Kali ini pria bernama Hardiawan Daneja itu yang terbelalak.

“Kurang ajar! Siapa dia berani memerintahku!” ucapnya dengan kesal yang tak terkira, Hardiawan segera menuju pintu kamar hotel tempatnya menginap. Dia ingin tahu siapa yang sudah berani mengganggu malam yang seharusnya indah buatnya itu. 

Saat pintu terbuka, mata Hardiawan kembali melotot sempurna karena bukan hanya satu orang yang berada di balik pintu bercat cokelat kayu itu, melainkan ada sekitar enam orang. Mereka semua memakai jas hitam, tetapi ada satu yang mencolok di antara gerombolan kecil itu. Dia adalah pria yang berdiri paling depan dengan jas slim fit yang membalut tubuh atletisnya, wajahnya tampan dengan cambang tipis di rahangnya, sorot matanya bening tetapi tajam menghunus iris mata Hardiawan yang terkejut saat itu juga. 

“Siapa kamu dan apa urusanmu denganku!” tanya Hardiawan dengan mata memincing.

“Saya nggak ada urusan dengan Anda, melainkan dengan wanita yang ada bersama Anda di dalam.” Tegas, lugas, dingin serta raut wajah yang datar itu berbicara. 

Hardiawan berdecih. Dia melipat kedua tangan di depan dada yang tidak tertutup sehelai benang pun lalu dengan nada sinis dia menanggapi ucapan sang pria. 

“Memangnya kamu siapa? Dia wanita yang aku bayar untuk melayaniku malam ini, kalau kamu mau, tunggulah sampai aku selesai dengannya pria bodoh!” 

Rahang pria itu mengeras. Seenaknya saja pria yang lebih tua darinya itu mengatainya pria bodoh. Kedua tangan kanan yang sedari tadi ada di dalam kantong celana bahannya itu pun terkepal dengan kuatnya. 

“Kalian masuk dan bawa wanita itu keluar, ingat, jangan sampai melukainya,” titahnya kepada kelima ajudan dengan tubuh berotot dan wajah sangar itu. 

“Siap, Tuan.” Kompak kelimanya menjawab. Kemudian tanpa menghiraukan keberadaan Hardiawan yang berdiri di ambang pintu, kelima ajudan itu masuk ke kamar President suits itu berbarengan hingga sempat membuat tubuh pria berusia kepala lima itu terhuyung. 

“Hei! Apa yang kalian lakukan! Berhenti!,” cegahnya, tetapi tidak ada satu pun yang mau menurutinya. 

Hardiawan makin kesal jadinya, dia pun menyusul gerombolan itu yang sudah memaksa Alayya turun dari ranjangnya. Wanita itu tidak terlihat takut meski wajah kelima pria di depannya seakan-akan ingin menelan dirinya. 

“Pergi kalian! Apa-apaan kalian memaksaku berhenti melayani pelangganku, memangnya siapa kalian ini!” pekik Alayya dengan seluruh tenaganya. Tubuhnya yang hanya berbalut pakaian dalam berwarna hitam sempat menggoda iman kelima ajudan laki-laki itu, tetapi mereka harus profesional. Wanita ini keinginan Tuannya, hanya milik Tuan mereka. 

“Segera pakai pakaian Anda dan ikutlah bersama kami, Nona. Jangan membantah maka Anda akan aman bersama kami,” ucap salah satu ajudan. 

“Enak saja! Kalian ini siapa? Saya nggak mau nuruti orang yang nggak saya kenal.” Alayya melengos, kedua tangannya pun sudah terlipat di depan dadanya. 

“Silakan pakai pakaian Anda atau kami akan memaksa anda, Nona?” Ajudan itu bicara lagi, dia bahkan sudah berani menyentuh tangan Alayya membuat Hardiawan yang melihat langsung terbakar emosi.

“Kurang ajar, kalian berani menyerobot kamarku dan menyentuh wanitaku, aragghh ….” Satu pukulan berhasil mendarat di ulu hati Hardiawan yang sebelumnya ingin menyerang salah satu dari ajudan pria tampan itu. 

“Jangan banyak bicara pak tua! Jangan sampai kami bertindak lebih kurang ajar dari ini!” desis ajudan berkulit hitam itu setelah berhasil memilin tangan Hardiawan ke belakang punggungnya. 

“Sebenarnya siapa kalian! Apa mau kalian?” tanya Hardiawan dengan berteriak frustasi. Dia tidak bisa bergerak sama sekali karena tubuh ajudan itu begitu kuat. 

“Ibrahim Abhimata Danadyaksa, CEO CULTURE Company, pengusaha muda yang masuk deretan lima pengusaha terkaya di negara ini, itulah saya. Dan malam ini saya akan membawa pergi Nona Ayya bersama saya, apa Anda bisa mengerti sekarang Tuan Hardiawan yang terhormat?” 

Hardiawan kembali tercengang. Pria yang jauh lebih muda darinya itu muncul dan langsung menebar tatapan setajam mata elang padanya yang sedang meringis kesakitan. Pria muda itu ternyata bukan orang sembarangan. Dia tahu benar sepak terjang perusahaan yang pria itu sebutkan, maka tanpa pikir dua kali, Hardiawan berkata pada Alayya, “Ikuti perintahnya agar kamu nggak mengalami kesulitan, Ay.”

Alayya melongo. Tidak percaya kalau pria yang sudah jadi pelanggannya sejak sebulan terakhir ini menurut pada pria yang Alayya akui jauh lebih tampan dari orang yang masih mencoba melepaskan diri dari cengkeraman ajudan itu. 

“Aku nggak mau!” salak Alayya dengan mata membulat, dia memilih duduk di tepi ranjang dan kembali menarik selimut untuk menutupi tubuh setengah bugilnya itu karena AC kamar membuatnya kedinginan. 

Ibrahim tersenyum sinis. Dia melangkahkan kaki mendekati wanita berambut panjang dan lurus itu. Setengah membungkukkan tubuhnya, Ibrahim berkata dengan sangat jelas dan tegas tepat di depan wajah Alayya. “Kamu harus ikut saya pergi karena jantung di dalam tubuhmu itu milik almarhum istri saya, mengerti?”

Ucapan itu sukses membuat Alayya terperangah untuk kesekian kalinya. 

Bersambung …

Bab 2

Satu detik

Dua detik

Tatapan tajam dari iris mata sehitam jelaga milik Ibrahim berhasil membungkam mulut Alayya. Wanita cantik berhidung mancung itu pun sampai tidak bisa berkedip karena terpesona oleh ketampanan yang dimiliki pria di hadapannya ini. 

Jantungnya pun ikut berdentam-dentam seakan tahu siapa yang sedang ada di dekatnya. Refleks tangan kanan Alayya menyentuh dadanya sendiri. Dirinya tidak mengerti kenapa bisa merasa deg-degan seperti ini.

“Kenapa diam? Apa jantungmu berbisik memberi tahu siapa saya?” tebak Ibrahim sambil tersenyum sinis kala melihat Alayya meraba dadanya sendiri. 

Alayya tidak terima, dengan kedua tangannya dia dorong tubuh Ibrahim menjauh. “Jangan asal bicara Anda, Tuan. Saya tidak mengenal Anda apalagi almarhum istri Anda. Lebih baik Anda pergi dari sini dan biarkan saya melanjutkan pekerjaan saya.”

Wanita itu kembali membuang muka, sekuat tenaga dia mencoba mengingkari apa yang sudah dirasakan pada jantungnya sendiri. 

“Alayya Farhana Pramudhita, 24 tahun. Nama samaran Ayya Cantika, berasal dari Surabaya. Itu kamu, bukan?” Alayya sukses kembali terbelalak dengan ucapan Ibrahim. 

“Bagaimana Anda bisa tahu nama asli saya? Sebenarnya siapa Anda?” Bukan hanya Alayya. Hardiawan yang masih di cekal oleh ajudan Ibrahim pun jadi ikut penasaran kenapa pria konglomerat itu bisa mengenal wanita malam seperti Alayya. 

Ibrahim tersenyum miring, lalu berkata, “Karena saya adalah suami dari pemilik jantung yang ada di dalam tubuhmu.”

Refleks Alayya kembali menyentuh dadanya. Degub jantungnya semakin tidak beraturan saat Ibrahim mengatakan siapa dirinya. Tidak ingin percaya, tetapi ada rasa aneh yang perlahan merasukinya. “Perasaan apa ini?” gumam Alayya dalam hati. 

“Ini tidak mungkin, Tuan. Saya tidak mengerti apa yang Anda ucapkan,” kilah Alayya sekali lagi. Dia benar-benar tidak ingin mempercayai ucapan lelaki yang baru saja dilihatnya.

Ibrahim hampir kehilangan kesabaran sekarang. Dia kembali melangkahkan kakinya mendekati ranjang dengan satu tangan ada di dalam kantong celana bahannya. 

“Satu tahun yang lalu, kamu melakukan transplantasi jantung di salah satu rumah sakit di kota ini, bukan? Khairunissa Azalia Wahyudi adalah pendonor itu dan dia adalah istri saya,” terang Ibrahim tanpa mengalihkan sedikit pun matanya dari iris mata Alayya. 

“I-ini nggak mungkin,” ucap Alayya terbata. 

“Selama satu tahun ini saya berusaha keras mencari siapa saja orang yang menerima tiga organ tubuh yang didonorkan oleh istri saya. Untuk mata dan ginjal, sejak lama saya sudah mengetahui pemiliknya barunya, tapi untuk jantungnya saya harus susah payah menemukanmu karena kamu sering berganti nama dan berpindah tempat.” Ibrahim menjeda kalimatnya hanya untuk melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Alayya. Wanita itu tentu saja hanya bisa terpaku mendengar penjelasannya. Tanpa ingin berlama-lama, Ibrahim pun kembali melanjutkan bicaranya. “Saya nggak nyangka sama sekali kalau jantung istri saya ada dalam tubuh seorang wanita malam sepertimu. Itu kenapa saya ingin membawamu bersama saya karena saya tidak ingin jantung dari wanita yang saya cintai harus rusak oleh kebiasaan burukmu yang belum juga hilang. Sekarang kamu udah tahu alasan saya menginginkanmu, bukan? Pakailah pakaianmu dan ikut saya pulang.” 

Ibrahim pikir semua penjelasannya akan dengan mudah membuat Alayya menurutinya, tetapi dia salah saat Alayya justru berucap, “Bagaimana kalau saya tetap nggak mau ikut denganmu, Tuan?”

Jujur saja, mendengar pertanyaannya itu, Ibrahim ingin sekali menarik wanita itu dari atas ranjang dan memaksanya pergi, tetapi pria tampan berhidung mancung itu bukan orang yang bisa kasar pada perempuan. Maka satu kalimat yang dia ucapkan kali ini, dia yakin pasti akan mampu meruntuhkan kekeraskepalaan Alayya. “Ikut saya pulang dan tinggalkan pekerjaanmu ini atau kembalikan jantung istri saya sekarang.”

Detik itu juga jantung yang sejak tadi berdetak tidak karuan mendadak seperti kehilangan kemampuannya berdenyut. Ancaman Ibrahim tidak bisa dia abaikan karena laki-laki itu mengatakannya dengan wajah yang serius dan tidak terbantahkan. 

“Baik. Anda menang kali ini, Tuan. Saya akan ikut Anda,” ujar Alayya pada akhirnya yang mana membuat Ibrahim tersenyum lega. 

Wanita itu pun segera beringsut dari ranjang besarnya. Dengan tubuh tetap dibalut selimut, Alayya menuju toilet kamar mewah itu untuk memakai kembali pakaiannya. 

Sementara menunggu Alayya selesai berpakaian, Ibrahim kembali menghadapi Hardiawan. Dia meminta ajudannya melepaskan pria paruh baya itu untuk membiarkannya pergi dari kamar itu. 

Hardiawan pun tidak berniat melawan atau pun membantah. Dia masih ingin hidup dan alasan Ibrahim memaksa mengambil alih wanita malam bayarannya pun sangat jelas. 

“Ini uang yang udah Anda berikan pada Ayya. Saya menggantinya tiga kali lipat,” ucap Ibrahim sesaat sebelum Hardiawan benar-benar meninggalkan kamar itu. “Kalau kurang sebutkan saja berapa yang Anda mau,” lanjutnya sambil mengulurkan satu lembar cek pada pria yang lebih tua darinya itu. Hardiawan tersenyum sinis dan mendorong pelan tangan Ibrahim yang terulur. 

“Saya nggak semiskin itu sampai anda harus mengganti uang saya, Tuan. Lagi pula saya tahu alasan kuat Anda menginginkan Ayya. Lupakan aja. Saya permisi,” tegas pria itu yang kemudian beranjak dari hadapan Ibrahim. 

***

Rumah mewah bergaya Eropa klasik dengan warna dindingnya yang dominan putih di depan Alayya adalah milik Ibrahim. Rumah inilah yang akan jadi tempat tinggal barunya setelah Ibrahim berhasil membujuknya untuk ikut dengan pria tinggi semampai itu. 

“Wah! Saya nggak salah lihat? Rumah Anda besar sekali Tuan?” pekik Alayya setelah turun dari mobil Mercedes Benz hitam. 

“Ayo masuk,” ucap Ibrahim tanpa berniat menanggapi pujian Alayya pada rumahnya. 

Wanita itu mengerucutkan bibirnya kesal, tetapi langkah kakinya tetap saja mengikuti pria itu berjalan. 

Tanpa memencet bel, dua daun pintu bercat hitam itu terbuka. Ada seorang wanita paruh baya dengan pakaian seragam ala kantoran menyambut keduanya. 

“Assalamu'alaikum,” sapa Ibrahim sopan.

“Wa'alaikumsalam, Tuan,” sahut wanita itu sembari bergerak ke sisi kanan untuk memberi jalan pada Tuan rumahnya. 

Alayya yang mengikuti Ibrahim masuk tanpa bicara kembali dibuat terperangah dengan pemandangan yang tertangkap mata indahnya saat sudah berada di dalam rumah. Semua perabotan mewah dan dia yakin sangat mahal harganya itu benar-benar membuat Alayya tertegun di tempat sampai dia tidak menyadari kehadiran seorang wanita lain yang lebih tua dari wanita yang tadi membukakan pintu utama rumah ini. 

“Kamu udah pulang Ibrahim?” tanya wanita itu sembari berjalan mendekat. 

“Iya, Tante. Oiya, kenalkan dia Alayya. Mulai hari ini dia akan tinggal bersama kita di sini. Ayya, ini Tante Mustika, dia adik almarhum ayah saya yang sudah merawat saya sejak kecil.” Ibrahim memperkenalkan wanita itu pada Alayya, tetapi karena tidak ada tanggapan, Ibrahim menengok ke belakang punggungnya, ternyata Alayya sedang memunggunginya sambil membawa matanya menyusuri tiap sudut rumah mewah ini. 

“Ayya, kamu dengar saya?” sentak Ibrahim yang mana membuat Alayya berjengit kaget. 

“Oh, maaf, Tuan. Saya terlalu kagum dengan isi rumah Anda sampai saya tidak mendengar Anda bicara pada saya. Ada apa?” 

Ibrahim berdecak lalu meraih tangan Alayya untuk menghadap sang tante.

“Kenalkan ini Tante Mustika. Kamu bisa memanggilnya Tante Tika. Dia juga tinggal di sini bersama saya,”

Alayya tersenyum manis lalu mengulurkan tangan kanannya berniat menyapa wanita paruh baya itu. Namun, Mustika tidak semudah itu menyambut uluran tangannya. Mustika justru memilih memindai Alayya dari ujung kepala hingga ujung kaki, hingga tanpa basa basi, wanita tua itu berkata, “Dari mana kamu bawa wanita murahan seperti dia ke rumah kita, Ibrahim ?” 

Bersambung … 

Bab 3

Alayya mendelik tak terima dengan penilaian Mustika. Benar dia memang wanita malam, tetapi dia bukan perempuan murahan yang bersedia tidur dengan sembarang pria.

“Bisa jaga mulut Anda, Nyonya!” sentak Alayya dengan wajah geram.

“Ayya, bersikaplah sopan pada Tanteku,” kata Ibrahim berang dengan ucapan Alayya.

Alayya berdecak sebal, lalu menatap kesal pada pria rupawan itu. “Aku akan bersikap sopan pada orang yang sopan padaku. Jelas-jelas Tante Anda yang mulai duluan.”

“Kamu pikir siapa kamu ini, berani bicara seperti itu di rumahku?” Mustika menyela dengan nada naik satu oktaf. 

Alayya tertawa sumbang. “Oh ya? rumah Anda? Saya nggak tuli ya, Nyonya. Ini rumah Tuan Ibrahim bukan rumah Anda!” 

Mustika melotot mendapati perlawanan dari orang yang bahkan tidak dia kenal sama sekali. Wanita paruh baya yang selalu dominan di dalam rumah besar ini pun tidak terima dengan sikap Alayya yang dirasa kurang ajar. 

“Ibrahim cepat katakan sama Tante siapa dia, kenapa dia tidak punya sopan santun seperti itu pada Tante?

Ibrahim memijat pelipisnya pelan. Belum ada satu jam Alayya ada di rumahnya, tetapi sudah berhasil membuat sang Tante naik darah. “Dia Ayya, Tan. Orang yang sudah menerima donor jantung dari Nissa.”

“Apa?” Mustika tercengang, lalu matanya kembali menelisik Alayya yang berpakaian mini dress ketat sepuluh centi di atas lutut membungkus tubuh sintal dan seksinya, rambut panjang kecokelatannya dibiarkan tergerai, make up-nya tidak tebal, tetapi eye liner pada kelopak mata besarnya mempertegas garis mata wanita itu belum lagi bibirnya yang tipis dipoles lipstik merah merona, sungguh Mustika tidak bisa tidak mengira kalau perempuan ini adalah wanita baik-baik.

“Ini mustahil Ibrahim, Tante nggak bisa percaya begitu saja,” sanggah Mustika segera setelah menilai alayya dari pandangan matanya. 

“Tadinya aku juga begitu Tante. Tapi, semua bukti menunjukkan kalau Ayyalah penerima donor itu. Orang yang selama ini aku cari. Jadi, Tante nggak bisa menyangkal atau pun menolak kehadiran Ayya di rumah ini,” terang Ibrahim dengan nada yang tegas.

“Lalu, maksud kamu apa membawa dia ke mari?” Meski tidak percaya, Mustika juga tidak mungkin membantah keinginan keponakannya itu. 

“Aku minta dia meninggalkan pekerjaannya dan sementara dia akan tinggal di sini sampai dia bisa mendapatkan pekerjaan baru dengan kebiasaan baru.” 

“Kamu nggak berniat menikahinya ’kan, Ibrahim?”

Alayya yang mendengar pernyataan itu pun  langsung mengajukan protesnya. “Tunggu ya, Tante. Jangan asal ngomong deh, siapa juga yang mau nikah sama dia.”

Ibrahim berdecak mendengar penolakan Alayya. “Dengan senang hati Nona Ayya, saya pun nggak punya keinginan untuk menikah denganmu. Christy ….” Panggilnya kepada kepala asisten rumah tangganya.

Wanita berpakaian formal itu pun tergopoh menghampiri Tuannya.

“Antarkan Nona Ayya ke kamarnya dan jangan biarkan dia pergi selangkah pun dari rumah ini, mengerti!” titahnya tanpa basa basi. 

“Baik, Tuan. Saya akan suruh dua ajudan untuk menjaga di depan kamarnya,” jawab Christy sambil melirik pada wanita yang kembali terkejut dengan perintah Ibrahim.

“Apa-apaan ini, Tuan?” tanya Alayya ketus .

“Hanya antisipasi Ayya. Saya belum percaya sepenuhnya padamu, jadi biarkan ajudan menjaga kamarmu. Kamu akan keluar saat jam makan setelah itu tetaplah berada di kamar jika saya tidak memanggilmu.”

“Apa! Aku ini bukan tawananmu, Tuan!” Jelas Alayya tidak bisa terima kalau kebebasannya terenggut. “Kalau tahu begini alasan Anda membawaku, aku nggak akan pernah mau ikut dengan Anda,” ucap Alayya dengan wajah memerah karena kesalnya sudah sampai di ubun-ubun.

Ibrahim pun menutup matanya demi menahan segala gejolak rasa amarahnya yang tiba-tiba menyeruak. “Terserah! Kalau kamu mau pergi dari rumah ini pun dari kehidupan saya, tapi sekarang juga kembalikan jantung istriku.”

“Itu namanya saya mengantarkan nyawa saya pada Anda, Tuan Ibrahim!”

“Kalau begitu, turuti saya dan nggak ada protes!” tegas Ibrahim dengan iris mata menghujam langsung pada netra Alayya. Tanpa ingin mendengar apa pun juga dari bibir merah itu, Ibrahim memilih menyingkir dari ruangan itu meninggalkan Alayya yang masih ingin membantah. 

“Brengsek! Aku nggak terima diperlakukan begini!” ujar Alayya gusar. Mustika yang menyadari pun berusaha mendekati wanita itu.

“Aku juga nggak suka kamu ada di rumah ini, tapi ini semua keinginan keponakanku. Mau nggak mau, aku harus terima, kan?” Seringai senyuman dari bibir Mustika membuat hati Alayya tidak nyaman. Ada maksud tersirat dari kata-kata orang tua itu padanya. Namun, apa itu?

***

“Brengsek! Siapa yang sudah berani mengambil ladang uangku!” Darel Agustino mengamuk. Pria bertubuh oversize itu menggebrak meja kerjanya tanpa peduli telapak tangannya panas dan suara yang ditimbulkan memekakkan telinga semua orang yang ada di ruangan itu. 

“Tuan Ibrahim Adhitama, Tuan. Pemilik sekaligus CEO CULTURE Company. Dia yang udah membawa pergi Ayya dari hotel tempat Ayya dan Tuan Hardiawan seharusnya bersenang-senang,” lapor salah satu penjaga klub miliknya. 

Darel membeliakkan matanya. Dia terkejut dengan nama orang yang sudah membawa pergi salah satu aset berharga klubnya.

“Aku nggak peduli, ya, John. Siapa pun dia, dia sudah mengusik ketenanganku. Cepat cari di mana orang itu tinggal dan bawa kembali Ayya padaku!” titahnya dengan raut wajah memerah karena menahan kesal dan marah bersamaan. 

“Tapi, Tuan. Kita nggak bisa mengambil Ayya begitu saja. Tuan Ibrahim bukan orang sembarangan, saya udah mencari tahu tentang pria itu. Bisa-bisa Anda dan klub kita yang akan jadi korban.” Tora –asisten Darel– memberi peringatan. 

Darel nampak berpikir setelah mendengar ucapan Tora. Selama ini dia menjalankan klub malam tanpa pernah berurusan dengan pihak yang merugikan. Kalau pun salah satu anak buahnya pergi, dia tidak akan mempermasalahkan, tapi ini Ayya Cantika. Wanita malam favorit banyak pria hidung belang yang menjadi pelanggan klubnya, jadi mana mungkin Darel bisa melepas sumber uangnya begitu saja?

“Kalau begitu, buat janji dengan Tuan Ibrahim, aku harus dapatkan Ayya kembali atau minta tebusan yang besar padanya,” ucap Darel dengan seringai senyum yang tercetak di bibir tuanya itu. 

***

“Silakan istirahat, Nona.” Christy membuka pintu kamar tamu di lantai dua rumah mewah Ibrahim. 

Alayya masuk ke kamar itu dengan hati tak senang. Dia wanita bebas, tidak biasa dipaksa dan selalu berbuat sesukanya. Masuk ke kamar ini berarti dia harus menanggalkan semua kebiasaannya itu. Untuk apa? Demi siapa? Wajah cemberut Alayya pun tidak bisa dia sembunyikan. 

“Mana baju tidurku? Aku nggak bisa tidur dengan baju seperti ini,” ucapnya sambil membawa matanya menelusuri setiap sudut kamar mewah ini. Biarpun kamar tamu, kemewahan yang tidak pernah dilihat Alayya tersaji di dalam kamar bernuansa broken white dan gold ini. Di hadapannya ada Ranjang berukuran besar dengan bed cover seputih salju dengan lampu hias di kedua meja nakas kanan kirinya juga gorden berwarna kuning keemasan menutup dinding sebelah kanan yang Alayya yakin itu pasti jendela kamar ini. Tidak ketinggalan di sisi kiri ada sofa yang menghadap televisi dan di sebelah kanan ranjang ada meja rias dengan cermin berbentuk oval.

Christy menjawab dengan sopan, “Semua pakaian Anda sudah ada di walk in closet kamar ini, Nona. Silakan pakai sesuka Anda.”

Mendengar ucapan itu mendadak mata Alayya berbinar terang. Pakaian dan perhiasan adalah barang kesukaan Alayya. Karena hatinya bahagia, dia seakan-akan lupa dengan rasa kesalnya pada Ibrahim. 

Tanpa menunggu perintah lagi, Alayya masuk ke satu ruangan di sudut kiri kamar didekat kamar mandi. Dia hidupkan lampu ruangan itu dan melihat ada enam pintu lemari yang menempel di dinding. Di paling ujung terdapat cermin besar seukuran tinggi tubuhnya. Alayya pun membuka pintu salah satu lemari. Sontak mata Alayya membola melihat semua pakaian di dalam lemari itu. Dia pun berteriak memanggil Christy. 

“Ada apa Nona?” tanya wanita paruh baya itu khawatir. 

“Apa-apaan ini? Kenapa semua baju ini tertutup? Di mana bajuku!” 

Bersambung …

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED