Bab 2

"Sean, bisa kau bantu aku?"

Seorang pria berdiri tanpa mengenakan baju, menatap pemandangan isi rumahnya dari balkon. Beberapa kali angin menampar, menghamburkan anak rambutnya. Pria itu tak bergeming. Wajahnya kokoh dan dingin, terlihat angkuh.

"Carikan data tentang Lily, penjual bunga di Toko La Madame Florist. Aku ingin malam ini kau mencarikannya untukku."

"Hei, apa yang kau rencanakan?"

Chris menghela napas. "Aku ingin menikahinya. Wanita itu harus segera aku nikahi, Sean. Kakek semakin mendesak, memintaku segera menikah. Kau tahu ... aku tak bisa menikahi wanita asing. Bahkan aku hanya tahu namanya."

"Bagaimana jika wanita itu cantik, sexy, tinggi, pandai dan semua kriteriamu ada pada dirinya? Apa kau akan tetap menolak, Chris? Aku yakin lambat laun pun kau akan jatuh cinta, Boy! Ayolah, jangan terlalu munafik."

"Sean, aku tidak sedang bergurau. Aku ingin menikahi wanita itu, bukan wanita pilihan kakek. Tahu apa kakekku tentang selera wanitaku?" Chris menatap langit gelap, tak ada bintang atau bulan di atas sana.

"Chris, pikirkan dulu. Kau jangan salah melangkah, menyesal hanya ada di belakang. Aku tidak mau kau mengeluh penuh penyesalan kepadaku nantinya. Lagi pula menikah itu untuk seumur hidup, Chris. Perlu kau tahu, seumur hidup itu lama."

Kulit kepala Chris terasa gatal, kesal dengan nasehat dari asistennya. Mereka sama-sama masih sendiri, harusnya saling mendukung.

"Kau ingin mengguruiku? Hei, kau pun sama denganku! Apa kau melupakannya?"

Tawa menggelegar dari seberang. "Kita berbeda, Boy. Aku bebas memilih wanita siapa saja. Lalu kau? Wanitamu pilihan. Sudah terima saja, aku yakin wanita itu sangat cantik."

"Sean, kau ini berada di pihak siapa? Kau ingin gajimu menjadi setengah?" ancam Chris.

"Santai, Boy. Aku akan mencarikan data itu untukmu. Sebentar lagi segera aku kirim."

"Aku akan menunggu," jawab Chris mematikan sambungan sepihak.

Mata Chris melunak. Perasaan tenang kemudian menyelimuti hatinya. Kedua bola mata berubah teduh, kegelisahan mendadak sirna.

"Segera akan aku dapatkan tentangmu ... Lily. Aku tak akan melepaskanmu. Lily, kau adalah milikku." Mulut Chris membentuk garis suram.

***

"Jadwalku sudah selesai bukan?" tanya Chris, melonggarkan dasi di lehernya. Raut wajahnya begitu bahagia, aroma parfumnya tercium dari jarak jauh.

"Sudah. Kau mau ke mana?" Dahi Sean menjadi bertumpuk-tumpuk.

Chris tersenyum. "Aku harus ke La Madame, Sean. Saatnya membeli bunga."

"Bunga atau wanita itu?"

"Bila bisa dua sekaligus, untuk apa hanya satu?" Chris mengedipkan matanya.

Wajah Sean mendadak berpikir. "Informasi kemarin belum akurat, Chris. Aku hanya tahu alamat tinggalnya. Data Lily sangat dirahasikan. Apa kau tak merasa aneh dengannya? Kau tak takut dia hanya sebagai mata-mata? Perlu kau ingat musuhmu banyak, Chris."

Helaan napas berhembus, Chris menatap Sean. "Kenapa kau berpikir demikian? Kau sengaja ingin membuatku takut? Aku rasa ... dia tidak sejahat itu. Mana mungkin wanita secantik Lily menjadi agen rahasia?"

Sean memukul dahinya perlahan. "Mengapa kau polos sekali, hah? Mata-mata tak hanya pria saja, wanita khusus menjerat target pria ... sepertimu."

"Lily bukan agen rahasia atau mata-mata, berhenti menuduhnya macam-macam." Chris berdehem, mengenakan parfum yang disaku.

"Kau ... membawa parfum? Chris, sejak kapan kau menjadi narsis?" tanya Sean.

Chris berdecak, menghentikan tangannya. "Harusnya kau tahu syarat mendekati wanita, Sean, harus wangi. Kau bau, maka dari itu tidak ada wanita yang mendekatimu."

"Enak saja!"

Chris melangkah, meninggalkan Sean. Genjotan semangat menggebu di dalam hati Chris, tujuan utama tentu ingin meluluhkan hati wanita incarannya. Sean mendengus kesal, kemudian mengikuti bosnya.

Selain menjadi asisten di kantor, Sean harus menjadi segala hal yang dibutuhkan Chris, termasuk supir. Cucu dari Marlino Franklin memiliki sifat sama persis dengan sang ayah dan kakeknya, Sean tak terkejut akan hal itu.

"Cepat sedikit, Sean!" Sean menghela napas kasar.

"Kau sendiri bisa membawa mobil, Chris. Aku masih memiliki pekerjaan yang lain," gerutu Sean.

Chris berhenti. "Aku mendengarnya, Sean! Ayo cepat sedikit. Aku ingin bertemu dengan Lily."

Pria dua puluh enam tahun itu berdecak kesal. "Kau tahu, bosku tak hanya kau. Bagaimana dengan Mr. Marlino, Chris? Aku harus mengirim laporan."

"Itu urusan nanti, Sean. Kau harus bersamaku terlebih dahulu. Kakek adalah urusan nanti. Aku akan membantumu. Ada masalah yang lebih penting daripada kakek, Chris, yaitu ... Lily." Chris mendekat, merangkul bahu asistennya sambil menepuk lembut.

Sean mengangguk. "Baiklah, aku pasrah."

"Ini baru asisten yang aku kenali. Siang ini aku akan menjadi pengemudi dan traktir makan siang." Chris tertawa kecil.

"Setidaknya itu menjadi tebusan untuk rasa penatku," ucap Sean.

Mobil Audi hitam melesat meninggalkan parkiran khusus, membelah jalanan kota siang ini. Kacamata hitam bertengger manis di hidung mancung sang pengemudi, bibirnya bersenandung kecil. Pria di sebelahnya memijat kening teratur.

"Kau membuat hariku menjadi suram, Chris." Sean bersuara serak.

"Sean, sudah seharusnya kau merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Hidupmu selalu diperbudak pekerjaan, kali ini nikmati jam kerja dengan bersenang-senang. Aku yakin kau tak akan mungkin menyesal. Malah berterima kasih denganku," jawab Chris dengan mengedipkan matanya.

"Aku tahu, Chris." Sean memilih memejamkan matanya.

Mobil hitam itu melaju cepat, kecepatan yang tak pernah dilakukan oleh Sean. Chris tak sabar untuk segera sampai di tempat tujuannya.

Hingga kecepatan berhenti sepenuhnya. Semerbak wangi menusuk hidung, Sean membuka matanya. Chris tersenyum, memperhatikan penampilannya. Tanpa berpamitan, turun dari mobil dan masuk ke dalam La Madame Florist.

Penuh percaya diri dengan wajah bersinar, langkah Chris yakin akan berjumpa wanita pujaannya. Lirikan mata mengarah ke penjuru toko, tak ada si wanita cantik. Chris belum menyerah.

"Selamat siang, Tuan. Apa yang bisa kami bantu?" Pria yang sebelumnya pernah Chris temui.

"Siang. Aku ingin mawah merah seperti biasa," jawab Chris. "Lily yang tahu."

Pria itu menoleh, kemudian mengerutkan keningnya. "Maaf, Tuan, Lily tidak masuk hari ini."

"Ke mana?"

"Sedang cuti, Tuan." Pria itu berjalan ke arah vas mawar merah, bunga yang sebelumnya dibeli Chris. "Kami akan membungkus bunga mawar merah untuk adan, Tuan."

Chris diam. Wajahnya memberengut, suram, cahaya itu menghilang sekejap. Tangannya mengepal dan meremas kuat. Garis kecewa terpatri di kedua bola matanya.

Sampai bunga selesai dikemas, Chris masih diam. Hanya menyerahkan uang, kemudian meninggalkan toko itu. Masuk ke dalam mobil dengan aura menyeramkan. Tak ada suara yang keluar, menyandarkan bahunya lalu bersedekap dada.

"Kau kenapa? Gelap sekali," ucap Sean.

Chris mendesah kecewa. "Aku tidak bertemu dengan Lily."

Kening Sean mengerut. "Kenapa? Wanita itu takut bertemu denganmu?"

"Dia cuti." Chris menghela napas.

"Aku masih memiliki hari esok, Sean. Cepat atau lambat aku akan bertemu dengannya," tambah Chris, suaranya mencerminkan rasa bangga.

Sean melirik bunga mawar merah itu, menggeleng perlahan. Di dalam ruang kerja, mawar itu hanya layu dan mengering. Chris hanya menimbun, bukan menikmati keindahannya.

"Kau membeli ... lagi?"

"Tentu saja. Tujuan utamaku adalah membeli bunga, sekaligus bertemu dengan Lily. Tak mungkin aku ke sana tanpa membeli bunga, Sean." Chris melepas kacamatanya, melempar asal.

Sean memutar bola matanya. Alasan basi, Chris. Lagi pula di ruanganmu bunga ini hanya layu. Aku rasa kau tak menyukai bunganya, tapi penjualnya.

***

Janji harus ditepati. Pria muda itu mengenakan kemeja hitam polos dengan celana senada. Raut wajah sumringah, bersinar seperti kemarin. Semerbak wangi tercium dari kejauhan, bahkan parfumnya masuk ke dalam saku.

Langkah kaki teratur, turun satu persatu anak tangga. Sepi, tak ada orang di ruang makan. Kening Chris mengerut, tak seperti biasanya. Mereka ke mana?

Jonathan turut tak terlihat, pria diktator itu kemungkinan besar bekerja di luar kota. Chris tak melihatnya akhir-akhir ini. Sedangkan Marlino, Chris tidak tahu keberadaannya.

"Aku harus segera bergegas," ucap Chris.

Kembali menaiki Mobil Audi, Chris melajukan dengan kecepatan sedang. Menikmati perjalanan dan udara pagi ini.

Roda bergesekan dengan aspal, berhenti di sebuah toko bunga. Kemudian Chris mengembangkan senyuman. Memperbaiki penampilannya, berusaha memberikan yang terbaik. Keluar dari mobilnya, berjalan dengan gagah. Hingga raut wajahnya mendadak berubah, datar dan dingin.

Ke mana perginya Lily? Mengapa dia tidak ada kembali?

Bab 3

"Kau di mana, Chris?"

Sean bergerak ke kanan dan kiri, wajahnya panik. Bibirnya pucat, ada bulir keringan di keningnya. "Bisakah kau menyampingkan urusan La Madame Florist? Aku serius, Chris."

"Ada apa, Sean? Aku berada di jalan, akan ke kantor sebentar lagi. Bukannya kau sudah sampai?"

"Bukan masalah itu, Chris. Cepat ke Franklin's Hospital, Mr. Marlino sedangt tidak baik. Kau harus kemari," ucap Sean dengan suara tegang dan serak, seperti menahan sesuatu.

"Kakekku? Ada apa? Ke mana Daddy?"

"Cepat, Chris, waktumu tidak banyak." Sean menutup panggilan sepihak.

Pagi buta, mata belum terbuka sepenuhnya. Nyawa tercecer, Sean mengurus bos besar di rumah sakit. Muka bantal, piyama warna biru muda. Sean risih akan tatapan lapar para wanita, sepanjang koridor semua mata meliriknya.

Ke mana perginya si Chris? Bagaimana mungkin meninggalkan Mr. Marlino sendirian di rumah sakit? Mengapa harus aku yang menjadi korbannya? Tidak cucu dan kakeknya, sama saja. Aku rasa akan naik gaji bulan ini. Sean menggerutu, sesekali menutup bibirnya, menguap lebar.

"Harusnya aku masih berada di atas ranjang tidur, menikmati mimpi. Ah sial! Aku masih ngantuk sekali. Harusnya Chris berada di sini sekarang," gumam Sean, mendengus kesal. "Chris yang lebih berhak menjaga dan merawat Mr. Marlino, bukan aku."

"Oh Chris ..., pikiranmu hanya tentang Lily. Aku rasa kau sedang bersiap bertemu dengan wanita itu, sampai tak tahu keadaan kakekmu."

Marlino ditemukan pingsan oleh penjaga di dekat ranjang, mereka membawa ke rumah sakit. Pertama yang dihubungi adalah Sean, asisten yang merangkap segala hal. Pukul tiga dini hari, saat tengah terlelap dan menikmati dunia mimpi. Sean harus mengendarai mobil ke Franklin's Hospital, mengurus segala administrasi.

Ditambah pukul dua, matanya baru bisa terpejam. Pekerjaan harus dilembur, akhir bulan banyak laporan dikerjakan. Rasa kantuk menyerang, tetapi mata harus tetap fokus berkendara. Rasanya sungguh tak adil bila Sean mengerjakan semuanya, terlebih dengan imbalan sama.

Aku tidak mau bila tak mendapat bonus. Gajiku paling tidak tiiga kali lipat untuk bulan ini.

"Sebenarnya ke mana semua keluarga Franklin? Aku rasa mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, padahal Mr. Marlino membutuhkan perhatian khusus." Sean berdecak kesal.

Anak Marlino, Jonathan Franklin tengah berada di luar kota, menjalankan proyek di sana. Hubungan ayah dan anak itu beberapa tahun terakhir terjalin tak harmonis, pendapat mereka selalu berseberangan, menyebabkan salah paham. Sean menilai bila hal itu menulari hubungan Chris dengan Jonathan.

"Aku yakin Mr. Jo tak mungkin kembali dalam waktu yang dekat. Kemungkinan buruknya, tak akan pulang bila proyek belum selesai. Hanya Chris, aku harap dia bisa membuat hati Mr. Marlino menjadi membaik. Yang bisa diharapkan adalah Chris," desis Sean.

Tangan Sean mengembalikan ponsel ke dalam saku piyamanya. Berjalan kecil ke arah pintu ruang rawat, mengintip sekilas, memastikan bila tidur Marlino tak terusik. Sean memilih di luar, keberadaannya di sana bisa membuat istirahat Marlino terganggu. Pria tua itu membutuhkan banyak istirahat agar kesehatannya lekas pulih.

Wajah keriput itu tengah terlelap terlihat damai, bibir Sean tersenyum. Ingatan dengan sang kakek beberapa tahun silam membayanginya. Marlino layaknya kakek, bos dan mentor untuknya. Sean senang bisa bekerja dan mengenal dekat Keluarga Franklin.

"Mr. Marlino benar-benar damai. Aku yakin banyak masalah yang sedang dipendam. Apa lagi berita di luar sana cukup membuat telinga mendenging," ucap Sean. Memilih duduk di kursi tunggu, kemudian melipat kedua tangannya di dada bersamaan kaki terangkat menindih lutut kirinya.

"Aku berharap keadaan Mr. Marlino baik-baik saja, mungkin hanya kelelahan dan juga ... pikiran. Akhir-akhir ini Chris cukup menyebalkan."

Sean mengangkat gelas minumnya, butuh kafein untuk menyegarkan matanya. Siang nanti akan ada rapat bersama rekan bisnis Chris, persiapan berjalan lima puluh persen. Ipad hitam di tangannya kembali menyala, kondisi apa pun akan tetap bekerja. Rasanya seperti seorang ayah dengan sepuluh anak.

Pukul sembilan, Chris tergesa-gesa mencari keberadaan Sean. Pria itu membawa sekuntum mawar merah, kemudian mendekati asistennya. Napas tak terkontrol, wajahnya panik.

"Bagai ... bagaimana dengan kakek, Sean?"

Sean menutup ipad. Kemudian berdiri dan merasa pusing sejenak. Tangannya mencengkeram kursi kuat, menggelengkan kepalanya beberapa kali.

"Kau kenapa, Sean?" tanya Chris khawatir.

"Aku hanya kurang tidur. Mr. Marlino sedang istirahat, masuk saja. Aku yakin beliau menunggu kedatanganmu." Sean menepuk bahu Chris. Penampilannya lebih segar, piyama telah berganti dengan setelan kantor. Hanya saja kantong mata tidak dapat berbohong.

Chris mengangguk dan memberinya tatapan sendu. Pria itu mengambil napas nan menenangkan lagi. Tangannya memutar gagang pintu, mengintip keadaan di dalam ruang. Sebelum mendorong dirinya maju, menemui sang kakek. Sean menanti di luar, memandang dari kaca di pintu.

Pelan kaki Chris melangkah, juga menarik kursi di samping bangsal, tak ingin pria tua itu membuka matanya. Chris takut menganggu waktu istirahat Marlino. Decitan kursi tak terlalu keras, berhasil membuat kedua mata Marlino perlahan terbuka.

Pandangan mata keduanya saling bertemu, dan Marlino mengerutkan kening pada Chris. Seolah mempertanyakan keberadaan pria muda itu di dalam ruangan. Lantas pandangan Marlino beralih ke tangan kanan Chris, membawa mawar merah.

Oh tidak, bungaku terbawa sampai di sini. Aku yakin kakek akan banyak bertanya. Chris menelan air liurnya, bersiap akan genjatan pertanyaan.

"Ada apa kau datang kemari, Chris? Pekerjaanmu banyak hari ini," ucap Marlino, tak menoleh.

Kakek kenapa? Marah denganku? Kerutan bertumpuk di dahi Chris.

"Aku yang harusnya kau hubungi pertama kali, Kek, bukan orang lain. Apa yang sebenarnya kakek pikirkan?"

Marlino membuang napas. "Siapa yang peduli denganku, Chris? Hanya aku sendiri. Sean adalah asistenku juga. Kau belum tentu bersedia menemaniku dini hari tadi, bukan? Lebih baik Sean saja."

"Aku cucumu," ucap Chris, sedikit menggeram, menahan amarahnya. "Aku yang seharusnya lebih tahu terlebih dahulu."

"Jo saja tidak peduli denganku, apalagi kau? Kau adalah titisan Jo, Chris."

"Aku tidak seperti itu. Jangan samakan aku dengan Daddy." Chris menatap Marlino.

Marlino tersenyum, helaan napasnya berat. Wajahnya pucat, tatapan sayu. Pria tua itu mengambil surat dari balik selimutnya, menyerahkan ke Chris.

"Perkembangan kesehatanku, Chris. Aku yakin kau meragukan penyakitku kemarin. Lihatlah kenyataannya, Nak. Kau pun melihatnya sendiri kondisiku sekarang," ucap Marlino.

Amplop itu dibuka, pertama Chris melihat logo rumah sakit. Jantungnya berdebar, kemudian melihat sekumpulan kalimat berjejeran rapi. Pelan-pelan membaca keseluruhan. Beralih pandangan ke Marlino, air matanya luruh.

"Maafkan aku." Chris menggenggam tangan Marlino, memberikan kecupan hangat. "Maaf, sempat meragukanmu. Mengapa tidak bicara jujur dengan kami, Kek?"

"Untuk apa? Penyakit itu ada saat kau masih kecil, Chris. Kakek semangat hidup demi kau, bila aku tak ada bagaimana dengan nasibmu? Jo bukan ayah yang baik. Pekerjaan adalah prioritasnya, hingga melupakan kau. Aku berjuang melawan penyakitku, agar bisa merawatmu."

Untuk pertama kalinya, Chris menangis, memeluk tubuh tua Marlino. Merasa cukup bersalah.

"Kau sudah percaya, Nak? Apa hatimu masih yang sulit untuk memenuhi permintaanku? Ini adalah permintaan terakhir, Nak, sebelum kau kehilangan aku."

Chris menggeleng. "Kau tak akan pergi, Kek. Kau bersamaku, di sini. Jangan berpikiran macam-macam, kau akan segera sembuh."

"Harapan hidupku kecil, Chris. Apa yang kau harapkan dariku? Aku tak bisa melawan lebih lama lagi. Tugasku sudah selesai, Chris, kau pun sudah bisa mandiri. Hanya satu yang aku inginkan ... kau menikah."

Bibir Chris merapat menjadi garis yang tipis, tidak mengatakan apapun. Mengalihkan pandangan keluar jendela.

Masih ada rasa mengganjal di hati, Chris belum bisa menerima dengan tangan terbuka. Berat, Chris membayangkan hari-harinya bersama wanita asing dalam satu atap.

"Aku akan membawa kekasihku. Nilailah terlebih dahulu, aku hanya ingin menikah dengan dia. Aku yakin kau pun merasa cocok dengan kekasihku," tawar Chris.

"Baiklah. Aku akan mencobanya. Bawa kekasihmu hari ini." Helaan napas berhembus, Marlino mengalah, tak ada pilihan lain.

"Hari ... hari ini? Beri aku waktu. Kekasihku pun membutuhkan waktu untuk bisa bertemu denganmu," mohon Chris. Gelisah mengingat beberapa hari terakhir tak bertemu wanita itu.

Pria tua itu menggeleng. "Aku tidak bisa memberikan waku terlalu banyak, Chris. Nyawaku sendiri belum tentu panjang. Kau harus secepatnya menikah. Bila kekasihmu tak yakin, kau harus menikah dengan wanita pilihanku."

Kesempatan tidak datang dua kali. Aku yakin besok Lily sudah kembali dan akan aku ajak negosiasi. Semoga saja rencanaku berhasil.

"Lusa aku akan membawa kekasihku. Akhir-akhir ini dia sibuk," jawab Chris.

"Baiklah. Bila lusa kau tak datang dengan kekasihmu, terima nasib menikah dengan wanita pilihan. Kau tidak bisa mengelak, Chris."

Chris menelan ludah. Bukan tanpa alasan, pria itu tak memiliki kesempatan kedua. Kemudian mengangguk, sepakat. Aku harus segera mendapatkan hati LIly.

Pandangan beralih ke bunga mawar merah. Marlino tersenyum. "Untuk siapa?"

"Kekasihku," jawab Chris.

Kening Marlino mengerut. "Bukankah dia bekerja di toko bunga. Untuk apa kau membelikannya?"

"Kekasihku bekerja di sana bukan berarti setiap hari menerima bunga. Lagi pula bunga ini spesial dariku, kekasihnya. Tentu memiliki makna yang berbeda." Chris menarik napas dalam-dalam, meredakan panik yang sudah sampai di tenggorokan.

"Romantis sekali." Marlino tertawa. "Apa dia mengenal Keluarga Franklin?"

Chris menoleh, mengerutkan dahinya. "Tidak, aku rasa. Dia tidak tahu aku siapa, aku mengaku hanya pekerja biasa."

"Benarkah? Lalu ... wanita itu percaya?"

"Tentu saja. Dia ... percaya denganku." Chris berdehem. "Mungkin nanti aku akan jujur dengannya."

Bahkan dia takut akan bertemu denganku. Aku yakin Lily menjaga jarak dariku. Terlalu tergesa-gesa dan gegabah.

Marlino menutup mata. "Kau harus ingat janjimu, Chris. Jangan berbohong."

"Aku tahu."

Berdehem kecil, Chris tampak berpikir. "Apa aku harus telpon daddy?"

"Tidak usah. Kematianku adalah kebahagiaan untuknya," jawab Marlino.

"Apa yang kau ucapkan? Bukankah daddy begitu khawatir dengan keadaanmu?" Dahi Chris semakin bertumpuk-tumpu dalam.

Marlino tertawa. "Kau tidak tahu aslinya, Chris. Jo pandai berakting. Seharusnya kau lebih berhati-hati lagi."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED