"Hari ini, kamu boleh pulang ke Jakarta," ucap Renata pemilik perusahaan tempat Sofia bekerja.
Sofia Storia, atau biasa dipanggil dengan nama Sofia. Bekerja di salah satu perusahaan distributor makanan ringan ternama di kota Jakarta. Ia menjabat sebagai admin di perusahaan tersebut.
"Baik bu," jawabnya dengan hati riang.
Mendengar itu, tentu saja ia merasa senang. Karena sudah tiga hari ini Sofia tidak bertemu dengan Alvian, suami yang sangat ia cintai. Karena kesibukanya yang harus mengurusi pekerjaan pembukaan toko cabang baru di kota Bandung.
Sofia berniat memberikan kejutan pada suaminya. Maka, dengan sengaja, ia tak memberi kabar pada Alvian jika ia akan kembali lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan sebelumnya.
"Bu, saya pamit yaa ...," ucap Sofia pada Renata yang tengah duduk di kusi kerjanya.
"Oke hati-hati ya, Sofia!" jawab perempuan berumur 40 tahun itu.
Dengan ditemani lagu-lagu favoritnya. Sofia, wanita yang sangat mandiri itu mengendarai mobilnya sembari bernyanyi riang.
Sesampainya di apartmen, Sofia kaget melihat ruangan yang selalu rapih dan bersih itu, kini terlihat sangat kotor dan berantakan. Beberapa bungkus snack tergeletak diatas karpet. Asbaknya dipenuhi dengan puntung rokok dan abu yang bertebaran disekitarnya. Juga, terlihat dua botol minuman yang tegak berdiri di atas meja ruang tv nya.
Sofia berjalan masuk, mendekati dua botol yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dengan rasa penasaran, wanita gendut itu membuka tutup botol untuk mencari tau jenis minuman apa itu. Belum sempat Sofia mendekatkan hidungnya ke mulut botol, tiba-tiba saja tercium bau aroma yang cukup menyengat menusuk hidungnya.
"Hah. Siapa yang meminum minuman ini? Bukankah mas Alvian tidak pernah meminum alkohol?" monolognya sembari memegang dan memperhatikan botol yang bertuliskan Martel itu.
Ia juga memperhatikan puntung rokok yang berceceran diatas mejanya. Terlihat noda merah disekitaran pangkal batang rokok itu. Seperti lipstick? Tapi, lipstick siapa?
Belum habis rasa penasaranya. Tiba-tiba saja, terdengar suara samar Alvian berbincang bersama seorang wanita dari balik pintu apartmenya. Sebelum pintu sempat dibuka, Sofia bergerak cepat, masuk ke dalam kamar bersembunyi dibalik lemari pakaianya.
"Ahh, Sayang. Aku benar-benar ketagihan dengan permainanmu semalam." Suara bariton itu menggema memecah keheningan.
Jantungnya berdegup kencang, "Tidak! tidak mungkin Mas Alvian melakukan itu!" tepisnya.
Sofia memberanikan diri sekaligus menyiapkan mentalnya, mengintip dari balik celah lemari pakaianya. Sepasang pria dan wanita telah bergumul mesra diatas singgasana cintanya. Desahan jalang itu benar-benar memekakkan telinganya. Dimanik matanya, tergambar dengan jelas sosok suami yang selama ini terlihat setia, tengah menindih tubuh wanita ramping dan sexy, menghisap leher jenjangnya dengan rakus.
Sofia sangat terkejut melihatnya. Alih-alih dirinyalah yang akan memberikan kejutan kepulangannya pada sang suami, justru Sofia lah yang dikejutkan oleh perselingkuhan suaminya.
Tubuhnya membeku, nyawanya serasa lepas dari jasad karena terkejut melihat pertunjukan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya itu. Kini, Nafasnya terasa sesak, darahnya seolah mendidih. Tanpa ragu, wanita gendut itu menerobos keluar dari balik pintu lemarinya.
"Ya Tuhaaaan ... apa yang kamu lakukan, Mas." teriak Sofia dengan mata membola dan tarikan napas menggebu.
Mendengar suara yang menggelegar, Alvian menghentikan aksinya. Ia menarik tubuhnya dan berdiri di hadapan Sofia. Ia tercengang melihat istrinya yang tiba-tiba saja muncul didalam kamarnya.
PLAAAAKK!
Sebuah tamparan kuat mendarat dengan sempurna di wajah pria yang terlihat baik itu.
"Kurang ajar kamu, Mas! Teganya kamu mengkhianatiku!" sentak Sofia dengan wajah merah padam.
Pipinya terlihat memerah membentuk telapak tangan Sofia. Dengan wajah arogan, ia menahan tangan Sofia, ketika Sofia akan menampar pipinya untuk yang kedua kalinya.
"Diam kamu! Seharusnya kamu berkaca, mengapa saya melakukan semua ini?" sentak Alvian menahan tangan Sofia lalu menghempaskanya dengan kasar.
"Apa kurangnya aku, Mas?" tanya Sofia dengan nada bergetar. Air sudah menggenang di pelupuk matanya.
Melihat pertengkaran sengit antara suami istri itu, Clara, wanita yang berprofesi sebagai ladies karaoke tersenyum getir melihatnya.
"Apa? Kamu masih bertanya apa kekuranganmu? Kamu lihat saja dirimu yang gendut dan jelek itu. Bagaimana aku bisa bernafsu jika tubuhmu tak terawat seperti itu. Bertahun-tahun aku sabar menerima kamu, bukanya merubah mempercantik diri. Kamu malah semakin gendut dan membosankan!"
Bukanya meminta maaf dengan apa yang telah dilakukanya. Tanpa rasa bersalah, Alvian malah tega mencaci dan menghina tanpa memedulikan bagaimana perasaan wanita yang sudah menemaninya selama lima tahun itu.
Mendengar hinaan itu, Sofia menangis sejadi-jadinya. Ia sungguh tak menyangka, hanya karena fisiknya yang berubah bisa membuat Alvian tega mengkhianatinya, hingga melakukan hal yang menjijikan di dalam kamarnya sendiri.
"Saya akan adukan kelakuan kamu pada ibumu, Mas!" ucapnya seraya menyeka air mata.
"Silahkan! Saya tidak peduli!" jawab Alvian dengan lantang.
Sofia memutar arah pandangnya, menatap wanita jalang yang tak tau diri itu. Kemudian, berjalan medekatinya. Namun, seolah tau dengan apa yang akan dilakukan Sofia padanya, Alvian dengan cepat mencekal tubuh Sofia agar tidak mendekati Clara.
"Lepaskan aku, Mas!" ronta Sofia yang tak tahan ingin menampar perempuan jalang itu.
Alvian terus menahan tubuh Sofia dengan kuat. Ia tak akan membiarkan istri gendutnya itu menyakiti wanita selingkuhanya.
"Heh, wanita jalang. Dengar! Kamu akan menyesal karena kamu telah menghancurkan rumah tangga saya!" teriak Sofia dari balik badan Alvian seraya menunjuk wajah Clara.
Wanita berwajah binal yang duduk di pojokan ranjang itu, lagi-lagi tersenyum sinis pada Sofia. Ia sungguh tak peduli dengan perasaan Sofia. Padahal, ia juga sama-sama seorang wanita.
"Lepas! Aku tak sudi bersentuhan dengan tubuhmu yang kotor itu!" Sofia meronta melepaskan cekalan Alvian.
Sofia pergi meninggalkan kamarnya yang kini telah dikotori oleh perbuatan suaminya itu. Ia berniat mengadukan perbuatan Alvian pada Ambar, Ibu mertuanya, yang tak lain adalah ibu kandung Alvian.
Dengan linangan air mata yang terus membanjiri pipinya. Sofia mengendarai mobil sedan peninggalan orang tuanya menuju rumah mertuanya, yang hanya berjarak 2 kilo meter dari apartemenya. Ia merasa tak sabar ingin segera mengadukan perbuatan anaknya.
"Sofiaaa ... Sofia. Kamu tuh ya. Memang betul apa kata anak saya. Kalo kamu gendut dan tak merawat diri seperti ini, mana berselera Alvian untuk menyentuhmu. Jangankan menyentuh, melihatpun juga sudah malas," ucap Ambar, sembari menatap Sofia dari ujung kaki hingga ujung kepala mendelikan matanya malas.
Bukanya mendapat pembelaan dari sang mertua, Ambar malah seolah membenarkan prilaku anaknya yang bejad itu.
"Tapi Bu, aku begini karena efek meminum obat penyubur yang Ibu berikan agar aku bisa cepat hamil," jawab Sofia terbata-bata.
"Kamu tuh ya. Malah nyalahin saya. Kalo kamu bisa cepat kasih saya Cucu, saya juga ga akan kasih kamu obat penyubur itu. Atau, jangan-jangan kamu mandul ya?" cetus wanita berusia 55 tahun itu.
Bagai ditabur garam di atas luka yang masih menganga. Hatinya terasa perih mendengar Ambar berkata demikian. Mertua yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri juga tega menyayat-nyayat hatinya.
Ambar adalah tipikal ibu mertua yang sangat toxic. Selalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya. Ia juga selalu menyalahkan Sofia yang sudah lima tahun menjadi menantunya itu, karena belum juga hamil. Dimatanya, apa yang Sofia lakukan selalu saja salah.
Karena tak mendapat pembelaan, Sofia pergi dari rumah mertuanya menuju rumah peninggalan almarhum orangtuanya, yang kini ditempati oleh paman dan bibinya, untuk ia menenangkan diri.
"Maaf. Anda mencari siapa ya?" tanya seorang wanita asing dari balik pintu rumahnya.
"Apakah Bibi Ella ada didalam?" jawab Sofia keheranan.
"Ohh..., Bu Ella sudah tidak tinggal disini. Sekarang kami adalah pemilik baru rumah ini. Satu minggu yang lalu kami membelinya dari Bu Ella." terang wanita berparas cantik itu dengan ramah.
Bagai tersambar petir disiang bolong. Ia tak menyangka jika bibi dan pamanya yang merupakan keluarga Sofia satu-satunya di muka bumi ini, berani menipu dan menjual rumah peninggalan orang tua Sofia tanpa seizinnya.
Di balik kemudi mobilnya. Sofia menangis tersedu-sedu. Ia merasa tidak ada satupun orang di dunia ini yang menyayanginya. Kini, ia merasa sendirian dan bingung tak tau harus kemana.
Dengan perasaan yang tak menentu. Sofia melajukan mobilnya menuju makam kedua orang tuanya. Makam, adalah Satu-satunya tempat yang sering ia kunjungi, ketika ia merasa sedang tidak baik-baik saja.
Dihadapan gundukan tanah itu, ia menceritakan apa yang tengah menimpanya. Tak kuat menahan sakit, Sofia pun menangis sejadi-jadinya.
"Ibu, mengapa kau tinggalkan aku sendiri di dunia ini. Semua orang begitu kejam padaku, Bu. Kini aku tak tau harus kemana. Rasanya aku ingin sekali menyusulmu, Bu." ucap Sofia terbata-bata dan terisak.
Ditengah area pemakaman yang luas itu, ia duduk dan terus menangis. Tetesan air matanya jatuh membasahi rumput hias yang tumbuh subur diatas pusara.
Rasa sakit yang ia rasakan, benar-benar terasa menghujam jantungnya. Rasanya seperti mati, namun masih bernafas. Ia terisak seraya memeluk batu nisan ibunya.
Desir angin sore itu terasa dingin menerpa tubuh gempalnya. Awan hitam dan suara petir pun terdengar samar saling bersahutan.
Ditengah area makam yang luas dan sunyi itu. Tiba-tiba saja, "Menikahlah denganku!" terdengar suara bariton dari balik badannya.
"Menikahlah denganku!"
Mendengar itu, Sofia tak langsung menoleh ke arah sumber suara. Ia mengira suara itu hanya halusinasinya saja. Lagi pula, mana ada pria mengajak menikah di area makam seperti ini, pikirnya.
Sofia terus menangis, seraya mengusap rumput hias yang tumbuh subur berjejer rapih diatas pusara ibunya. Namun, lagi-lagi ia mendengar suara bariton itu. Kali ini, suaranya terdengar dengan sangat jelas.
"Menikahlah denganku!" ucap lelaki misterius yang berdiri dibalik tubuh Sofia.
Sofia menoleh ke arah sumber suara. Sontak ia terkejut. Badanya terjengkang kebelakang, setelah ia melihat sesosok laki-laki yang berdiri dihadapanya.
Laki-laki itu menundukan kepalanya. Ia mengenakan setelan serba hitam. Setengah wajahnya tertutupi oleh masker dan topi hitam, sehingga Sofia tidak dapat mengenali rupanya dengan jelas.
"Siapa kamu?" sentak Sofia seraya memegangi dadanya dengan nafas yang ter'engah-engah.
"Kenalkan, nama saya Reyfaldi." jawabnya sembari mengulurkan tanganya mengajak bersalaman.
Tentu saja wanita bertubuh gempal itu tidak membalas ajakan bersalaman pria yang menurutnya aneh itu. Melihat Sofia yang tak menyambut uluran tanganya, Reyfaldi menarik kembali tanganya kemudian memasukanya ke dalam saku celananya.
"Saya tidak kenal kamu. Jangan macam-macam ya! Kalau kamu berani macam-macam, saya akan berteriak!" ancam Sofia yang benar-benar merasa ketakutan.
Sofia bangkit dari posisi duduknya. Ia berdiri lalu mundur beberapa langkah menjauh dari sosok misterius itu. Wajahnya terlihat sangat tegang. Rasa kecewa bertubi-tubi yang ia rasakan, menjadikanya tidak mudah untuk mempercayai manusia. Apalagi pada orang yang baru dilihatnya.
"Sejak kapan orang aneh ini ada disini? Perasaan tadi tidak ada siapa-siapa di area makam ini." monolognya seraya menatap tajam ke arah Reyfaldi.
Di area makam yang luas dan sangat sepi itu, Sofia benar-benar merasa takut Reyfaldi akan berbuat jahat padanya. Ia berfikir, jika ia berteriak pun, tidak akan ada orang yang akan mendengarkan teriakanya. Namun, sosok kaku itu hanya berdiri, diam dan menunduk.
"Kamu tidak perlu takut pada saya, kita pernah bertemu sebelumnya, ketika menjemput jenazah orang tua kita di bandara halim perdana kusuma."
"Hah. Apa maksudmu?" tanya Sofia kebingungan.
"Itu adalah makam orang tua saya." terang Reyfaldi, seraya menunjuk ke arah sisi kananya.
Sofia menoleh ke arah telunjuk itu mengarah. Ia melihat dua makam yang tanggal wafatnya sama dengan tanggal wafat ayah dan ibunya.
Kedua orang tua Sofia meninggal dalam insiden kecelakaan pesawat. Kala itu, Sofia belum menikah dengan Alvian. Reyfaldi, yang berkepribadian introvert itu, pertama kali melihat Sofia ketika menunggu kedatangan jenazah orang tua mereka di bandara halim perdana kusuma.
Masih teringat dengan jelas di ingatan Reyfaldi, ketika ia melihat Sofia menangis kemudian pingsan beberapa kali karena tak kuat menahan duka.
Melihat makam yang ditunjuk oleh pria itu, ketakutan Sofia menjadi sedikit berkurang. Namun, tetap saja ia harus waspada pada orang yang baru pertama kali dilihatnya itu.
"Maaf. Secara tidak sengaja, saya mendengarkan percakapanmu barusan. Jika kamu merasa tidak memiliki siapa-siapa lagi. Kamu bisa menikah dengan saya." ucap pria berpakaian serba hitam itu.
Mendengar itu, Sofia kaget. Seketika matanya membola. Bagaimana bisa, pria yang baru dilihatnya itu mengajaknya menikah dengan mudahnya. Benar-benar tidak masuk akal.
Sofia mendengus dan tersenyum getir. Tentu saja ia langsung menolaknya mentah-mentah. Jangankan menikah dengan orang yang baru ia lihat. Menikah dengan orang yang sudah ia kenal bertahun-tahun pun bisa tega menyakitinya.
"Tidak! aku tidak kenal kamu. Tentu saja aku tidak mau menikah dengan kamu!" sentak Sofia menggelengkan kepalanya cepat.
"Baiklah kalau begitu. Tapi setelah ini, kamu akan pergi kemana? Bukankah suamimu telah mencampakanmu dan kamu sudah tidak mempunyai tempat tinggal?" tanya Reyfaldi.
Sofia kaget mendengar ucapan Reyfaldi. Saking sedihnya, ia sampai tidak menyadari jika lelaki aneh itu sedari tadi berada di belakangnya, mendengar semua percakapan Sofia dengan almarhum ibunya.
"Apa pedulimu? Toh kamu juga tidak kenal dengan aku, kan!" jawab Sofia.
"Saya tau kamu. Kamu adalah istrinya Alvian." ucap Reyfaldi.
"Hah?" Sofia terbelalak, rupanya lelaki misterius itu sudah banyak mengetahui tentang dirinya.
"Meski begitu, tetap saja aku tidak mau menikah denganmu!" sentak Sofia padanya.
Mendengar itu, Reyfaldi yang sedaritadi menundukan kepalanya, kini sedikit mengangkat wajahnya. Ia menatap tajam ke arah Sofia.
Melihat sorot mata pria aneh itu. Sofia menjadi ketakutan. Perlahan ia melangkah mundur. Kemudian, berbalik badan dan berjalan cepat meninggalkan area makam itu.
Namun, pria itu berusaha mengejar langkahnya. sesekali Sofia menoleh kebelakang. Ternyata, pria itu mengikutinya. Sofia terus mempercepat langkah kakinya, lalu berlari kencang dengan panik. Namun, tiba-tiba saja,
"Awww...!" pekik Sofia.
Kakinya tergelincir. Tubuh gempal itu ambruk diatas batu nisan. Darah segar merembes keluar dari kakinya, setelah terkena ujung tembok nisan yang tajam. Tanganya pun ikut tergores.
Sofia terduduk seraya merintih kesakitan. Ia berusaha bangkit. Namun, ia merasa kesulitan mengangkat tubunya sendiri. Kaki kirinya pun sepertinya terkilir, ia tidak bisa berdiri dan berjalan.
Awan hitam terlihat sudah semakin pekat. Suara guntur yang mulanya terdengar samar saling bersahutan, kini terdengar sangat jelas. Kilatan cahaya nya pun terasa dekat berkilau menembus tanah. Tetesan air hujan mulai turun membasahi area makam itu.
Melihat itu, Reyfaldi mencoba membantu Sofia berdiri. Namun, Sofia menolak dan mengehempaskan pegangan tangan Reyfaldi dengan kasar.
"Tidak! Jangan sentuh saya." sentaknya pada laki-laki aneh itu.
"Izinkan saya membantumu, Sofia. kamu tidak akan bisa berjalan jika kondisimu seperti ini." jawab Reyfaldi seraya melingkarkan lengan Sofia ke belakang lehernya. Kemudian, berusaha mengangkat tubuh gempalnya.
Namun, lagi-lagi Sofia meronta dan tak ingin Reyfaldi menyentuhnya.
"Darimana kamu tau namaku?" tanya Sofia keheranan.
"Sekarang, Itu tidak penting. Yang terpenting adalah saya harus segera menolongmu. Sebelum hujan turun dengan deras." ucap lelaki misterius itu.
Melihat darah yang merembes keluar dari kaki Sofia cukup banyak. Reyfaldi tiba-tiba saja membuka bajunya. Sofia berteriak ketakutan. Ia mengira Reyfaldi akan melakukan sesuatu yang buruk padanya. Namun, dengan cepat Reyfaldi mengikatkan bajunya ke kaki Sofia, agar darahnya terhenti.
Reyfaldi membantu membangunkan dan menopang tubuh Sofia. Akhirnya, wanita itupun merasa tak punya pilihan lain selain membiarkan pria misterius itu menolongnya. Tetesan air hujan sudah semakin membasahi tubuh mereka berdua. Reyfaldi memapah wanita bertubuh gempal itu hingga masuk ke dalam mobilnya.
"Mengapa kamu malah membawa saya masuk ke mobilmu? Mobilku berada disana." tunjuk Sofia ke arah kanan.
Mendengar itu, Reyfaldi tak menjawabnya. Ia menoleh kebelakang meraih jaket yang tergeletak di kursi belakang mobilnya. Lalu, mengenakanya. Ia segera menyalakan mesin mobilnya. Kemudian, melaju membelah jalanan ibu kota yang tidak terlalu padat.
Sofia merasa ketakutan dengan sikap Reyfaldi yang menurutnya aneh itu. Ia mengira, Reyfaldi adalah seorang psikopat atau penculik yang jahat.
"kamu akan membawaku kemana?" tanya Sofia dengan suara sedikit bergetar.
Masih dibalik kemudi mobilnya. Sembari menatap lurus kedepan. Lagi-lagi Reyfaldi tak menjawab pertanyaan Sofia. Ia malah menoleh ke arah Sofia. tergurat raut wajah ketakutan dari wajah chubynya. Tingkah Sofia pun memperlihatkan jika ia merasa sangat tidak nyaman.
"Tenang saja Sofia. Saya tidak akan menyakitimu!" terang lelaki bertopi hitam itu.
Sofia yang sudah tidak mampu berjalan sendiri itu pun akhirnya pasrah. Ia membiarkan pria misterius itu membawanya pergi entah kemana.
Kini mobilnya terhenti di area parkir klinik rumah sakit. Reyfaldi turun dari mobil mewahnya, berjalan memutari mobilnya membukakan pintu sebelah Sofia. Kemudian, membantu memapah Sofia berjalan masuk kedalam klinik tersebut.
Setelah Sofia selesai diobati dan mendapatkan dua jahitan di betisnya. Reyfaldi kembali memapah Sofia hingga masuk kedalam mobilnya.
Sofia duduk dan tak bicara sepatah katapun. Ia hanya melamun memandangi rintikan air hujan yang mengalir dibalik kaca mobil Reyfaldi.
"Maafkan saya Sofia. Karena saya, kamu menjadi terluka seperti ini." ucap Reyfaldi yang duduk menunduk dibalik kemudi mobilnya.
Sofia menoleh pelan ke arah laki-laki aneh itu. Ia sangat penasaran dengan wajahnya yang sedari tadi tertutupi topi dan masker itu. Secepat kilat, tangan Sofia menarik masker dan melepaskan topi hitam yang menutupi setengah wajah Reyfaldi.
Melihat wajah itu, mata Sofia membola karena kaget. Ia merasa terhipnotis oleh raut wajah misterius itu.
Sorot mata pria misterius itu seakan menghipnotis Sofia. Dibalik penampakannya yang menurut Sofia aneh, ternyata ia memiliki wajah yang sangat tampan. Manik matanya berwarna kecoklatan, hidung mancung, bibir merah alami dan garis rahang yang tegas. Setelah beberapa detik beradu pandang, pria tampan itu kembali menundukan wajahnya.
Reyfaldi merasa malu, ia langsung merebut topi dari genggaman tangan Sofia. Kemudian, menyimpanya kembali diatas pucuk kepalanya.
Sofia mematung beberapa saat, "Maaf!" ucapnya sembari memegangi masker penutup hidung milik Reyfaldi.
Pria itu tidak menjawab kata yang terlontar dari mulut Sofia. Pandangan mata wanita itu masih tertuju pada wajah yang kini terlihat bentuk bibir dan hidungnya sebelum ia kembali mengalihkan pandangan pada jendela kaca mobil di sisi kirinya.
Tanpa memberitahukan mereka akan pergi kemana. Reyfaldi menatap lurus kedepan menyalakan mesin mobilnya. Melaju menerobos hujan deras yang mengguyur kota Jakarta.
Sofia diam dan tak ingin bertanya akan dibawa kemana oleh pria misterius itu. Ia hanya duduk melamun menatap terpaan air hujan di kaca mobil Reyfaldi. Hatinya terasa sakit mengingat kejadian tadi siang di dalam kamar apartemennya.
"Apakah Alvian masih bersama wanita jalang itu? Mengapa dia begitu tega padaku? Ternyata, pengorbananku selama ini tak berarti untuknya." monolognya seraya menatap jendela samping mobil yang buram tertutupi lelehan air hujan.
Tiba-tiba, ponsel Sofia berdering. Terlihat nomor tidak dikenal di layar ponselnya. Tanpa ragu, Sofia menjawab panggilan telepon itu.
"Hallo."
"Hallo! Bibi mu kabur kemana, hah? Dia sudah tidak membayar hutang-hutangnya selama dua bulan! Jika dia tidak membayarnya, maka kamulah yang harus membayar hutang-hutang Bibimu yang kini sudah mencapai 150 juta!" sentak penelepon bersuara bariton itu.
Sofia baru ingat, jika bibi Ella pernah mengajukan pinjaman uang untuk usahanya, menggunakan data pribadi Sofia, karena KTP Bibi Ella hilang entah kemana.
Bibi Ella adalah adik dari almarhum ayah Sofia. Usaha Bibi Ella dan suaminya bangkrut. Akibatnya, mereka menjual semua asetnya hingga mereka tidak lagi memiliki tempat tinggal.
Semenjak orang tuanya meninggal, Sofia tinggal bersama Bibi Ella dan suaminya, Paman Danu, dirumah peninggalan almarhum orang tua Sofia. Namun, siapa sangka, mereka malah menusuk Sofia dari belakang. Mereka merampas warisannya dan meninggalkan hutang dengan nominal yang cukup banyak.
"Saya tidak tau Bibi saya pergi kemana, jangan ganggu saya!" jawab Sofia dengan suara sedikit bergetar, lalu mengakhiri panggilanya.
Belum habis kegalauanya. Kini ia dihadapkan pada satu masalah yang sangat pelik. Mana mungkin ia bisa membayar hutang-hutang bibinya yang nominalnya sangat besar menurutnya.
Namun, Sofia berharap penelepon tadi tidak akan mengganggunya lagi, setelah ia memblokir nomornya. Dan akan segera mengganti nomor teleponya, bila perlu.
Reyfaldi diam dan fokus menyetir. Namun, ia mengetahui jika ada sesuatu yang tidak beres menimpa wanita gendut itu. Reyfaldi berpikir, Jika ia bertanya pun, pasti Sofia tidak akan menceritakan permasalahnya.
Kini, mobil mewah itu terhenti di area halaman rumah yang cukup luas. Rumah yang terdapat banyak dinding kaca seperti rumah impian Sofia.
"Rumah siapa ini?" tanya Sofia seraya menebarkan pandangan dari balik kaca mobil.
"Kamu bisa tinggal dirumah ini untuk sementara waktu." jawab pria misterius itu.
"Tidak! Aku tidak mau tinggal bersama orang yang tidak aku kenal." tolak Sofia mentah-mentah.
"Memangnya kamu mau kemana? Sebentar lagi hari akan gelap. Setidaknya, bermalam lah disini, hingga kamu dapat berfikir apa yang akan kamu lakukan besok." tawar Reyfaldi.
"Tapi--." Belum selesai wanita itu berkata.
Reyfaldi keluar dari mobilnya. Ia berjalan memutari mobil kemudian membuka pintu sebelah Sofia, membantu memapah wanita itu masuk kerumahnya.
Sofia menghentikan langkahnya tepat di hadapan pintu rumah Reyfaldi. Ia menebarkan pandangan ke seisi rumah, sesaat setelah Reyfaldi membuka pintu rumahnya.
Tampak ruangan yang luas dengan interior minimalis namun mewah terpampang di hadapanya. Sepertinya, Reyfaldi bukan orang biasa-biasa. Belum habis rasa penasaranya, pria aneh itu berkata,
"Ayo masuk! Ada Mbok Nah yang akan menemanimu disini. Saya akan bermalam dirumah kakek saya!" ucap Reyfaldi dengan cepat.
"Oiyaa..., nanti saya akan memerintahkan sopir saya untuk mengambilkan mobilmu. Berikan kunci mobilnya!" pinta Reyfaldi sembari menandahkan tanganya.
"Tidak! Saya belum mengenal siapa kamu. Saya akan pergi dari sini!" bantah Sofia membalikan badanya melangkah tertatih ke arah luar rumah.
"Lantas, kamu akan pergi kemana? Kembali ke apartemen suamimu?" tanya Reyfaldi.
Mendengar itu, Sofia menghentikan langkahnya. Kemudian, berpikir sejenak. Ada benarnya juga omongan pria aneh itu. Sofia tak mungkin kembali ke apartemen Alvian malam ini. Lagi pula, ia merasa tidak punya harga diri jika ia kembali ke apartemen itu.
Namun, Sofia tidak ingin merepotkan orang lain, terlebih lagi, ia belum mengenal siapa pria aneh yang tengah bersamanya itu.
"Sudah saya katakan, menginaplah disini! Setidaknya hanya malam ini, hingga kamu dapat berpikir akan kemana besok," tutur pria tampan itu.
Sofia membalikan badanya pelan. Kemudian, berjalan tertatih mendekati Reyfaldi yang sedari tadi berdiri di pintu masuk menatap ke arahnya.
"Berikan kunci mobilmu!" pinta Reyfaldi kembali menadahkan tanganya.
Sofia merogoh saku celananya yang lusuh itu. Kemudian, menaruh kunci mobilnya diatas telapak tangan pria misterius itu.
"Mboook ...," panggil Reyfaldi.
Datang seorang pelayan wanita berumur sekitar 45 tahun memakai pakaian khas pelayan berwarna hitam. pelayan wanita itu biasa dipanggil dengan sebutan, Mbok Nah.
"Iya Tuan," jawabnya dengan membungkukan badan.
"Tolong siapkan kamar untuknya. Kemudian, berikan ia makan." perintah Reyfaldi pada pelayan wanita itu.
Tanpa berlama-lama, pria misterius itu berbalik badan, berjalan menjauhi Sofia. Ia masuk kedalam mobilnya. Kemudian, pergi entah kemana.
"Mari silahkan ikut saya, Nona," ucap wanita itu membuyarkan fokus pandangan Sofia yang sedari tadi menatap ke arah Reyfaldi.
Wanita bertubuh gempal itu mengedarkan pandanganya ke segala arah. Ia menatap interior rumah itu dengan perasaan kagum. Kakinya melangkah sambil tertatih-tatih mengikuti arah langkah pelayan wanita itu.
"Silahkan, Nona. Ini kamar anda," persila wanita itu membuka pintu kamar untuk Sofia, lalu kembali ke tempatnya semula.
Sofia masuk ke kamar itu. Ia memperhatikan seluruh isi kamar tersebut. Mulai dari tembok yang dihiasi interior elegan hingga ranjang berukuran besar yang setara dengan hotel berbintang lima.
"Waaah ... Siapa dia sebenarnya?" gumam Sofia.
Tak lama berselang, terdengar suara ketukan pintu. Diiringi dengan panggilan, "Permisi, Nona. saya mau mengantarkan pakaian."
"Masuk!" sahut Sofia.
Pelayan itu membuka pintu kamar. Kemudian, menyimpan beberapa helai pakaian dan handuk diatas tempat tidur.
"Terimakasih, Mbok." ucap Sofia tersenyum ramah.
Setelah pelayan itu pergi dari kamarnya. Sofia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. "Ck ... wah, keren sekali kamar mandinya!" ia berdecak kagum melihat bathub mewah berwarna putih yang dilengkapi dengan jacuzzi.
wanita itu melangkah masuk. Mengusap dinding bathub tersebut dengan halus, dan melihat ke sekelilingnya. Terdapat ruangan bilas dengan tiang shower berbentuk kotak besar. Apa yang ia lihat, sungguh sangat jauh berbeda dengan kamar mandi yang ada di apartemenya.
Wanita itu membersihkan diri. Kemudian, mengganti pakaian lusuhnya dengan pakaian yang diberikan oleh pelayan tadi.
Sofia memandangi pantulan dirinya di depan cermin. Rambutnya terlihat sedikit acak-acakan. Tetapi, pelayan tadi tidak memberinya sisir. Sofia mencoba mencarinya sendiri dengan membuka laci meja rias yang ada dikamar tersebut. Namun, ketika tangannya berhasil menarik tuas laci dan membukanya, sontak ia kaget. Matanya terbelalak, ketika melihat sebuah foto dari dalam laci tersebut.
"Hah. Ternyata pria itu ...."