"Aku hamil, Kak."
Pria yang tengah meneguk minumannya itu seketika tersedak. Penuturan Bening membuat Kevin seperti disambar petir di siang bolong. Harusnya dia tak terkejut karena memang inilah yang Kevin harapkan, ia hanya tak menyangka rencananya akan berhasil dalam waktu secepat ini.
Hanya tiga kali saja mereka berhubungan badan, itu pun setelah Kevin melewati berbagai macam usaha demi bisa membuat Bening takluk dalam pelukannya. Sekarang, apa yang Kevin impikan pada akhirnya terwujud.
"Hamil? Kamu yakin?" Ekspresi wajah terkejut lelaki itu terlihat begitu alami tanpa Bening ketahui bahwasanya Kevin sedang berakting.
Bening mengangguk, ia lantas mengeluarkan sebuah benda yang sejak tadi ia simpan di dalam tas yang ada di pangkuannya.
"Aku mulai merasakan ada yang aneh dalam diriku sejak sebulan yang lalu. Dua minggu setelah kita melakukannya untuk yang terakhir kalinya sebelum Kakak pergi ke Jepang untuk melakukan perjalanan bisnis," ucap Bening menerangkan.
Kevin meraih benda yang diulurkan Bening, dua garis merah terlihat jelas pada alat kehamilan itu. Sudut bibirnya membentuk seringai licik yang amat samar. Betapa hanya Tuhan dan dirinya saja yang tahu kebahagiaan yang tengah ia rasakan saat ini.
"Bagaimana Kak, apa yang harus aku lakukan? Jangan diam saja."
Ucapan Bening yang terdengar mendesak memutus lamunan Kevin.
"Hm, baiklah. Besok kita pergi ke dokter untuk memastikan."
"Kenapa nggak sekarang saja, Kak? Kenapa harus nunggu besok?"
"Aku sibuk hari ini, tolong mengertilah. Aku akan mengantarmu ke dokter tapi tidak hari ini. Ada banyak hal yang harus aku kerjakan," dalih Kevin.
"Tapi kamu akan tanggung jawab kan, Kak? Sejak awal kan sudah aku bilang kalau aku nggak mau melakukan hubungan badan sebelum kita resmi menikah, tapi kamu selalu memaksa."
'Ya, aku ingat betapa repot dan banyaknya waktuku terbuang hanya demi meyakinkan dirimu untuk menyerahkan tubuhmu padaku dan aku bersyukur semua berjalan sesuai rencana.' Kevin membatin. Ia sungguh sangat menikmati wajah cemas Bening yang ketakutan jika dirinya tidak akan mau bertanggungjawab.
"Tentu saja aku akan bertanggungjawab dan kita akan segera menikah. Tunggu waktu yang tepat, aku akan membawa orang tuaku untuk datang menemui orang tuamu."
"Janji?" Bening menggenggam tangan lelaki itu.
"Iya."
"Jangan menunggu sampai perutku besar, Kak. Aku malu. Aku bahkan nggak tahu sudah berapa bulan usia kandunganku." Bening bisa sedikit bernapas lega setelah mendengar perkataan Kevin, pria itu berjanji akan menikahinya.
Sejak awal Bening tak mau menjalin hubungan yang tidak sehat, tetapi Kevin terus merayu dan memintanya untuk melakukan hubungan yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah. Kevin terus berusaha meyakinkan Bening kalau mereka akan segera menikah tak lama usai Bening menyerahkan mahkotanya. Sebesar itu Bening menaruh kepercayaan pada Kevin karena hubungan baik antara kakaknya dengan Kevin yang telah terjalin sejak lama.
Namun, terakhir kali melakukan hal itu di apartemen Kevin. Lelaki itu berpamitan untuk pergi melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri dan berhasil mengelak atas tuntutan Bening untuk menikahinya. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah hampir sebulan lebih lamanya mereka menjalin hubungan jarak jauh.
"Kamu tenang saja." Kevin mengusap puncak kepala Bening penuh kelembutan. "Jangan terlalu banyak berpikir, biar semua menjadi urusanku. Kamu cukup diam dan tunggu saja. Kita pasti menikah," ucapnya berusaha meyakinkan Bening. Direngkuhnya tubuh gadis itu lalu senyuman licik tercetak jelas di bibirnya.
Kevin merasa hari ini terasa jauh lebih indah dibandingkan hari-hari sebelumnya, padahal di luar hujan deras sedang mengguyur bumi tanpa henti.
"Kenapa Kakak menangis?" Bening melepaskan diri dari dekapan Kevin saat ia merasakan keningnya basah terkena titik air yang menetes dari sudut mata Kevin.
"Nggak apa-apa. Ini air mata kebahagiaan." Kalimat yang mewakili isi hati lelaki itu yang tentu saja berbeda makna bagi Bening.
Ada hal yang jauh lebih membahagiakan lagi ketimbang mengetahui kabar kehamilan Bening. Kevin sungguh ingin meluapkan ledakan kegembiraan yang membuncah di dadanya, tapi ia menyadari bukan saat yang tepat baginya untuk menunjukkan pada Bening.
"Pulanglah. Maaf tidak bisa mengantarmu karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."
Bening mengangguk patuh. Dia bangkit dari kursinya kemudian mereka sempat berpelukan untuk sesaat sebelum berpisah.
"Ingatlah untuk selalu berhati-hati karena sekarang ada nyawa yang bergantung padamu." Kevin berpesan.
"Kakak tenang saja. Lakukan apa yang menjadi tugas Kakak dan aku akan melakukan apa yang menjadi bagianku."
Kevin melambaikan tangannya melepas kepergian Bening. Senyuman yang sejak tadi terus tersemat di bibirnya perlahan memudar.
Tak ada yang kurang dari gadis itu. Bening memiliki kepribadian yang baik. Wajah dan bentuk tubuh yang bagus menjadi daya tarik tersendiri bagi gadis sembilan belas tahun itu. Sikap dewasanya jauh melebihi usianya yang sebenarnya meski Bening masihlah gadis yang polos. Ada banyak pria yang rela mengantre demi menjadi kekasihnya, akan tetapi kesemuanya Bening tolak dengan dalih ingin fokus pada pendidikannya.
Tak pernah sedikit pun terbersit di benak Bening untuk menikah muda, sampai akhirnya kehadiran Kevin mampu meruntuhkan pertahanannya. Lelaki yang Bening ketahui telah menjalin persahabatan sangat lama dengan sang kakak, Kevin selalu mengejarnya.
Perhatian juga kasih sayang dan cara Kevin memperlakukan Bening berhasil menumbuhkan benih cinta di hati gadis itu. Kevin bahkan telah mendapatkan restu saat dia terang-terangan menyampaikan niatnya pada keluarga Bening bahwa dia ingin menjadikan Bening sebagai pasangan hidupnya. Hal itu yang membuat Bening yakin untuk menerima Kevin menjadi kekasihnya, kemudian menjalani hubungan yang pada akhirnya menumbuhkan kehidupan baru di dalam rahimnya.
Kevin melepas alas kakinya sambil menekan tombol di dinding yang membuat suasana ruangan menjadi terang seketika. Gerimis masih mengguyur, petir sesekali terdengar menggelegar saling bersahutan. Dengan langkah gontai ia mengambil air minum dalam lemari pendingin lalu membanting bobotnya di sofa.
Bayangan ketika Bening menangis setelah ia berhasil mengambil mahkota gadis itu, kini menari dalam ingatan. Wajah cantik nan polos tanpa dosa, tapi Kevin memberinya noda. Dosa termanis, itu yang terlintas dalam benak Kevin. Ia yang semula menjaga keperjakaannya hanya untuk wanita yang dicintainya saja, pada akhirnya harus dia berikan pada Bening. Kevin yang paling memaksa dalam hubungan itu, tapi sejujurnya baik Bening maupun dirinya sama-sama terpaksa ketika melakukan hal itu untuk yang pertama kalinya.
"Kelewat polos," gumam pria itu menyerupai bisikan.
Getaran halus yang bersumber dari kantong pakaiannya berhasil menyita kesadaran Kevin usai pria itu larut dalam lamunan panjangnya. Diraihnya benda tipis itu dan segera menggeser lencana gagang telepon berwarna hijau.
"Ya?" Jeda sejenak sebelum Kevin kembali menyuara. "Aku berhasil menjalankan misiku, tinggal melakukan rencana yang tersisa." Menyandarkan tubuh hingga punggungnya membentur badan sofa kemudian memejamkan mata sembari memijit pangkal hidungnya.
"Tenang saja, tidak ada yang perlu dicemaskan. Semuanya akan berjalan sesuai rencana, aku berani jamin. Tentu saja aku akan berhati-hati. Waktunya untuk kita memulai permainan yang sebenarnya."
Kevin menurunkan benda pipih itu dari daun telinganya. Dia yang sempat akan menaruh benda itu di meja mengurungkan niat saat melihat nama Bening berkedip di layar. Kevin menekan tombol menonaktifkan gawainya dan memilih pergi ke kamar mandi untuk berendam air hangat.
"Kamu akan menjadi pionku, Bening. Kita akan bersenang-senang setelah ini," lirihnya dengan wajah penuh seringai yang menakutkan.
Bening membuang napas kasar lantaran Kevin tak mengangkat panggilan darinya, padahal baru saja nomor lelaki itu masih aktif. Akan tetapi tiba-tiba saja menjadi tak bisa dihubungi.
"Mungkin baterai ponselnya habis," gumamnya berusaha menghibur diri sendiri.
Perlahan tangan gadis itu mendarat di perut, lalu bergerak mengusap naik turun. Hingga detik ini, Bening masih tak percaya telah ada janin yang sedang berkembang di rahimnya saat ini. Seingatnya dulu ia sama sekali tak memiliki perasaan apa-apa pada Kevin selain hanya menganggapnya sebagai seorang kakak. Bening bahkan menangis ketakutan setelah Kevin berhasil mengambil harta berharganya lantaran pria itu terus memaksa.
Diperkosa?
Rasanya kalimat itu terlalu berlebihan bagi Bening mengingat status mereka walaupun kejadian itu diawali dengan sebuah paksaan.
Namun, semuanya telah berubah. Rasa takut kehilangan lelaki itu kini begitu mendominasi. Terlebih dengan adanya kesalahan yang mengatasnamakan cinta hingga menumbuhkan kehidupan baru di rahim Bening. Gadis itu takut jika Kevin akan lari dari tanggung jawabnya, meski baru saja Kevin memberikan pernyataan kalau pria itu akan segera menikahinya.
Ada setitik rasa haru bercampur sesal yang membuat Bening serasa sulit bernapas. Sulit baginya untuk melepaskan mimpinya mengenyam pendidikan lalu memulai karirnya untuk memajukan perusahaan sang papa. Kesibukannya yang akan menjadi seorang ibu membuat Bening harus berpikir ulang untuk itu. Semuanya benar-benar telah berubah.
"Bening."
Gadis itu menoleh ke arah daun pintu saat bersamaan dengan suara ketukan pintu yang terdengar. Wanita paruh baya berambut sebahu muncul tak lama setelah daun pintu terkuak.
"Iya, Ma?"
"Makan dulu Sayang, papa sama kakakmu sudah nungguin dari tadi."
Bening mengangguk kemudian mensejajarkan langkahnya dengan sang ibu. Melihat bagaimana cara Maura menatapnya membuat Bening didera perasaan bersalah. Bening tak sanggup membayangkan reaksi keluarganya jika sampai mereka tahu jika dirinya tengah hamil tanpa adanya ikatan pernikahan. Harapannya hanya ada pada Kevin. Bening berdoa Kevin dan kedua orang tuanya segera datang agar dia tak lagi harus menyembunyikan keberadaan janin dalam kandungannya.
"Kamu sakit, Sayang?"
Pertanyaan Gunawan membelah keheningan di ruang makan yang sejak tadi hanya diiringi denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Fokus semua orang tertuju pada Bening.
"Coba periksa anak gadis kita, Ma. Papa perhatikan mukanya sangat pucat." Lelaki paruh baya berkacamata itu kembali menyuara.
Maura yang memang duduk di samping Bening reflek menaruh telapak tangannya di dahi gadis itu.
"Aku nggak apa-apa Ma, Pa. Mungkin cuma kecapekan karena akhir-akhir ini banyak tugas kuliah yang harus aku kerjakan," dalih Bening seraya meraih tangan ibunya lalu menciumnya.
"Tapi benar apa yang dikatakan papamu, mukamu sangat pucat." Maura meneliti wajah anak gadisnya dengan seksama.
Bening urung menjawab perkataan ibunya karena tiba-tiba saja perasaan tak nyaman pada perutnya kembali ia rasakan. Gadis itu membekap mulutnya dan berlari menuju kamar mandi terdekat dan memuntahkan isi perutnya di sana.
"Sayang." Maura yang panik telah berdiri di belakang Bening sembari memijat tengkuk putri bungsunya.
"Tolong ambilkan minyak kayu putih sama minta bibi buatkan teh untuk adikmu!" titah Gunawan pada putra sulungnya yang juga ikut menyusul Bening lantaran mengkhawatirkan kondisi gadis itu.
"Baik, Pa."
Biru merupakan kakak laki-laki Bening, keduanya terpaut usia yang cukup jauh. Meski seringkali Biru menjahili adiknya, tapi rasa sayangnya begitu besar pada Bening. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu tak kalah panik dibanding kedua orang tuanya.
Bening masih berdiri di depan wastafel hingga perutnya benar-benar kosong menyisakan rasa pahit di lidah dan tenggorokannya.
"Duduk dulu, Sayang." Gunawan membantu Bening kembali duduk di kursi kecil yang ada di sudut ruang makan.
"Mama panggil dokter dulu." Maura baru saja beranjak, tapi kemudian Bening berhasil menahan langkahnya.
"Enggak usah, Ma. Aku baik-baik saja, kok. Cuma pusing biasa," tolak Bening.
"Nanti biar Kakak bantu buat kerjain tugas kuliahnya. Kamu sakit begini pasti karena masuk angin keseringan begadang," ucap Biru menyodorkan secangkir teh madu untuk adiknya.
Bening mengangguk dengan mata terpejam. Maura membantu putrinya minum sambil sesekali mengoceh. Semua orang tampak begitu mengkhawatirkan Bening, dan hal itu membuat Bening semakin dibuat sesak karena merasa telah mengkhianati kepercayaan keluarganya. Tak terasa setitik kristal bening luruh tanpa permisi. Bening menyesal karena telah membohongi orang-orang yang begitu menyayanginya.
"Sayang, apa rasanya sangat sakit sampai kamu menangis? Papa panggilkan dokter saja, ya?" Gunawan ikut memijat kaki Bening, dan saat itulah tangis Bening kembali jatuh berderai.
'Mereka semua begitu menyayangiku, inikah balasanku atas cinta mereka padaku? Ya Tuhan.' batin Bening merintih pedih. Nasi telah menjadi bubur, Bening tak bisa mengembalikan keadaan seperti semula.
"Kalau Bening masih ngeyel, kita bawa ke rumah sakit saja, Pa," saran Biru.
"Nggak usah, Kak! Beneran aku nggak apa-apa, dibawa istirahat sebentar juga nanti sembuh kok."
Bening tak mau dibawa ke dokter, dia sengaja mengulur waktu setidaknya sampai Kevin dan orang tuanya datang. Bening tak mau keluarganya sampai tahu kalau dia tengah berbadan dua. Cepat atau lambat mereka memang akan tahu karena janin dalam kandungan Bening juga tak bisa terus menerus disembunyikan, tapi setidaknya tidak dengan cara seperti ini. Bening terlalu takut dan tak tahu harus bagaimana menceritakannya.
"Kamu tuh dari dulu ngeyel banget kalau dibilangin. Kamu masuk angin parah, kalau nggak segera diobati nanti penyakitnya akan semakin menjalar." Biru menjadi gemas karena Bening bersikeras menolak dibawa ke rumah sakit.
"Iya, sebaiknya kita ke dokter saja ya, Nak?" Maura ikut membujuk putrinya.
"Enggak usah, Ma. Aku mau tidur saja, besok pagi pasti sembuh," tolak Bening teguh dengan pendiriannya.
Gunawan menggendong putri bungsunya ke kamar, sementara Maura membalurkan minyak kayu putih di punggung, perut juga kaki Bening. Tangis gadis itu kembali pecah sepeninggal kakak dan orang tuanya dari ruangan itu. Bening tak henti menggumamkan kata maaf.
Bening berniat untuk kembali menghubungi Kevin, berharap dengan mencurahkan isi hatinya pada sang kekasih bisa sedikit mengurangi beban di hatinya.
Namun, ternyata nomor Kevin tak bisa dihubungi. Jadilah Bening menghabiskan waktunya dengan menangis, memeluk dinginnya malam berpadu dengan rasa gelisah yang kian menggerogotinya. Sampai kemudian tubuh ringkih itu berhasil dikalahkan rasa lelah dan terdampar di pulau mimpi.
Keesokan paginya. Bening merasakan nyeri di kepalanya semakin menjadi-jadi, pandangannya terlihat berputar-putar. Belum lagi perutnya yang terasa bergolak semakin melengkapi deritanya yang harus hamil tanpa didampingi suami. Terlebih di saat usianya yang masih terlalu muda.
"Hoek."
Rutinitas yang hampir setiap pagi dilalui Bening sejak sebulan lalu, tapi Bening merasa mual muntahnya menjadi semakin parah sejak beberapa hari ini, padahal awalnya dia masih bisa menahannya dan beraktivitas seperti biasa. Setelah mengeluarkan isi perutnya, Bening akan merasa tubuhnya menjadi sangat lemas. Sungguh hal itu membuatnya tersiksa.
"Sayang, muntah lagi?"
Tubuh Bening berjingkat saat tiba-tiba saja ia mendengar suara ibunya, ternyata Maura sudah ada di belakangnya. Bening hanya mengangguk pelan menanggapi ocehan Maura yang disisipi kekhawatiran. Ibu mana yang tak panik melihat buah hatinya sakit? Sedewasa apa pun anaknya, seorang ibu akan tetap mengganggap anaknya selayaknya anak kecil.
"Lebih baik ke dokter saja, biar Papa antar. Kebetulan Papa ada jam kosong pagi ini sebelum menghadiri rapat umum pemegang saham," cetus Gunawan.
Bening menggeleng. "Nggak usah, Pa. Aku beneran baik-baik saja, minum obat juga nanti sembuh." Lagi-lagi Bening menolak tegas usulan papanya. Apa pun yang terjadi, kehamilannya belum boleh diketahui oleh siapa pun. Bening ingin Kevin sendiri yang memberitahukan kabar itu pada keluarganya karena Bening tak memiliki cukup nyali.
"Sejak semalam kamu terus berkata begitu, tapi kenyataannya pagi ini malah penyakitmu semakin bertambah parah," tukas Gunawan. Tatapannya sedikit menajam pada putrinya yang ternyata sangat keras kepala.
"Mama rasa juga begitu, Pa. Kita ke dokter saja biar tahu apa sebenarnya penyakitmu." Maura menimpali.
"Iya, memangnya kamu mau terus-menerus muntah begitu? Seperti orang hamil saja," seloroh Biru.
Tawa pemuda itu perlahan menyurut saat Biru menyadari dirinya tengah disorot tajam oleh kedua orang tuanya.
"Sembarangan ngomong kamu," omel Maura. Wanita itu reflek memukul lengan putranya.
"Tapi memang Bening itu kelihatan kayak perempuan hamil, Ma. Mual muntah, pusing, keluar keringat dingin. Aku bisa tahu karena ada salah satu staf perempuanku di kantor yang juga sedang hamil," ucap Biru menjelaskan.
Bening pikir dia masih diberikan keberuntungan kali ini, apa lagi saat ibunya memarahi Biru dan membelanya. Akan tetapi tiba-tiba tubuh gadis itu menjadi bergetar saat kakaknya kembali menyebut kata 'hamil', terlebih saat semua orang menjadikannya sebagai pusat perhatian. Biar bagaimana pun, Maura itu seorang ibu. Dia yang pernah melahirkan jelas bisa membedakan mana yang hanya sakit biasa atau sakit karena adanya gejala awal kehamilan.
Bening meneguk ludahnya getir. Kedua tangannya saling meremas, ketakutan dalam dirinya membuat tubuhnya semakin gemetaran. Bagaimana jika sampai keluarganya tahu kalau dirinya sedang hamil, sebelum Kevin dan orang tuanya datang?
"Bening?"
Panggilan Maura terdengar sangat menakutkan bagi Bening. Gadis itu bahkan tak berani sekadar menatap ibunya.
Bening terpekur untuk waktu yang lama di kafe tempat biasanya dia bertemu dengan Kevin. Memandang para pejalan kaki yang berlalu lalang di balik jendela kaca lama kelamaan membuatnya pusing.
Setelah berhasil menghubungi Kevin, mereka membuat janji temu di sana pada sore hari untuk kemudian pergi ke rumah sakit sesuai janji Kevin kemarin untuk memeriksakan kondisi kandungan Bening. Meskipun tubuhnya terasa sangat lemas ditambah mual dan pusing, tapi Bening memaksakan diri pergi ke kampus demi meyakinkan keluarganya kalau dirinya baik-baik saja. Untungnya Bening bisa lolos kali ini, tapi dia tak yakin keberuntungan akan menghampirinya di lain waktu. Keluarganya terlihat sangat berat melepasnya ketika Bening berpamitan pagi tadi.
Denting lonceng yang ada di pintu masuk mengalihkan perhatian Bening dari lamunannya. Senyumnya melebar melihat ayah dari janin yang dikandungnya itu berjalan mendekat ke arahnya.
"Maaf, nunggu lama ya? Tadi kebetulan ada kerjaan mendadak di akhir jam kantor dan aku sempat terjebak macet." Kevin mendaratkan bokongnya, meneguk cairan dalam gelas berembun milik Bening yang masih tersisa setengah.
"Nggak apa-apa, aku tahu Kakak sibuk."
"Mau langsung berangkat atau makan dulu? Takutnya kamu dan calon bayiku kelaparan."
Seperti biasa, kata-kata Kevin selalu terdengar manis di pendengaran Bening. Gadis itu selalu dibuat tersanjung dengan perlakuan kekasihnya. Ya, walaupun Bening menyadari mereka telah membuat kesalahan karena sudah terlalu jauh dalam berhubungan.
"Langsung berangkat saja, Kak. Aku belum lapar," timpal Bening.
"Baiklah." Kevin menghabiskan sisa minumannya sebelum mendorong tempat duduknya dan menggandeng Bening meninggalkan tempat itu.
Perhatian Kevin selalu Bening rasakan di setiap kesempatan. Hal kecil seperti menyiapkan kursi dan membukakan pintu adalah hal yang biasa dilakukan pria itu. Pada Maura pun Kevin terlihat begitu menaruh rasa hormat. Kedua orang tuanya bahkan pernah berseloroh menobatkan Kevin sebagai calon menantu idaman. Bening merasa sangat beruntung.
"Kamu mual lagi?" Kevin bertanya pada gadis yang kini duduk di sampingnya, melihat kekasihnya membekap mulut tak lama setelah kendaraan roda empat itu membelah jalanan.
Bening mengangguk lemah, telaga matanya dilapisi embun tipis yang dengan mudah retak dalam sekali kedipan. Semenjak hamil, ia merasa menjadi lebih sensitif. Bening belum sepenuhnya menerima kehamilan ini. Apa lagi jika harus menghadapi bagaimana susahnya menjadi ibu hamil di usia yang masih sangat muda tanpa adanya pendamping.
Kevin meraih satu bungkus permen dari dasbor mobil kemudian membukanya dan memberikannya pada Bening.
"Mau berhenti sebentar?" tanya pria itu menawarkan.
"Enggak usah." Bening menyahut dengan suara yang sedikit bergetar.
Kevin begitu tersentuh melihat Bening tampak sangat menderita, tapi dia tak mau menjadi lemah. Ini bahkan belum apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang dulu dia rasakan.
Namun, janin dalam rahim Bening adalah benihnya. Satu kenyataan yang terkadang membuat Kevin goyah.
Kevin kembali memfokuskan pandangannya pada medan jalan yang dilaluinya, keheningan yang tercipta membuat perjalanan itu menjadi tak terasa. Mereka pun tiba di rumah sakit.
"Ayo." Kevin mencondongkan tubuhnya membantu Bening melepas sabuk pengaman.
"Kak, aku takut," cicit Bening seraya menahan tangan kekasihnya.
"Tidak ada yang perlu kamu takutkan, ada aku di sini." Kevin meraih jemari Bening yang bertengger di lengannya.
"Bagaimana kalau ada orang yang melihat kita di sini, nanti? Kita belum menikah tapi sudah mengantre di poli kandungan."
Kevin tersenyum tipis menanggapi perkataan Bening yang sarat akan rasa takut. "Nggak semua orang yang periksa di poli kandungan itu untuk memeriksakan kehamilan, Bening. Kita bisa membuat alasan lain sekalipun ada orang yang kita kenal melihat kita di dalam nanti."
"Tetap saja hal itu pasti akan menimbulkan gosip. Kapan Kakak dan orang tua Kakak datang ke rumah? Aku butuh kepastian. Kakak nggak tahu kalau tadi pagi keluargaku terus mendesakku agar aku mau ke rumah sakit. Bagaimana kalau mereka sampai tahu kalau aku sedang hamil?"
"Secepatnya. Aku dan orang tuaku akan datang secepatnya. Tunggu mereka pulang dari luar negeri," sahut Kevin. "Kemungkinan lusa mereka pulang, dan sorenya aku akan langsung membawa mereka ke rumahmu," imbuhnya.
"Entah kenapa aku sungguh sangat takut Kak. Walaupun kamu sudah berjanji untuk bertanggungjawab, tapi rasa takut dalam diriku tetap tak bisa hilang." Bening tertunduk pilu.
Kevin membawa gadis itu ke dalam pelukannya, mengusap punggungnya dengan lembut untuk menenangkan Bening.
"Semuanya akan baik-baik saja, kamu hanya perlu menunggu sampai lusa," janji pria itu.
Kevin membimbing Bening untuk turun dari mobil, ia menggenggam tangan Bening dengan posesif sampai mereka tiba di dalam. Kevin terlihat seperti seorang suami yang siaga dalam mendampingi istrinya, setidaknya itu yang ada di pikiran Bening saat melihat tak hanya dirinya yang duduk di kursi tunggu poli kandungan dokter kandungan terkenal di kota tersebut. Letaknya agak jauh dari rumah Bening untuk mengantisipasi adanya orang yang mengenal mereka, Kevin sudah mempertimbangkannya.
Kevin sempat berbicara dengan beberapa pria yang juga tengah mengantarkan istri mereka memeriksakan kandungan. Sampai akhirnya giliran nama Bening dipanggil salah seorang petugas kesehatan.
Dokter wanita berkacamata itu menyambut ramah dan menanyakan banyak hal pada Bening. Sesi tanya jawab yang diselingi canda itu tak berlangsung lama dan dilanjutkan dengan proses pemeriksaan. Dokter menyuruh Bening berbaring di brankar khusus dan kini sibuk menggerakkan alat di perut gadis belia itu.
"Kalian lihat titik ini," ucap dokter itu menekan tombol untuk memperbesar layar. "Ini adalah buah cinta kalian. Mbak Bening memang sedang hamil. Selamat ya?"
Dokter dan juga suster yang bertugas jelas tak mengetahui status Bening dan Kevin yang sebenarnya belum menikah.
"Jadi benar istri saya sedang hamil, Dok?" Kevin menampilkan raut wajah sumringah menatap titik hitam yang ada di layar monitor. Kata 'istri' dengan lancar lolos dari bibirnya begitu saja.
"Iya, Pak. Kalau berdasarkan pemeriksaan yang baru saja kita lakukan, di sini dapat kita ketahui kalau usia kandungan Mbak Bening baru berumur lima minggu." Dokter kembali menjelaskan.
"Syukurlah, Dok. Tapi Bening terus muntah setiap hari dan saya sangat mencemaskan kondisinya."
Bening tak bisa menahan laju air matanya, mendengar perkataan Kevin yang sangat mencemaskan dirinya, membuatnya serasa sangat dicintai pria itu. Sedari tadi gadis itu tak fokus dengan penjelasan dokter karena sibuk dengan rasa haru di hatinya. Pria itu terlihat sangat mencintainya, itu yang ada di pikiran Bening. Tatapannya kemudian berpindah antara wajah Kevin dan layar monitor, sementara Kevin menggenggam tangannya dengan sangat erat.
"Hal itu wajar dialami wanita yang sedang hamil muda, Pak. Nanti saya resepkan vitamin dan juga obat anti mual." Dokter meminta suster untuk membantu membersihkan gel di perut Bening.
"Tetap dijaga pola makannya ya Mbak, terapkan gizi seimbang dan gaya hidup sehat. Saya lihat Mbaknya masih terlalu muda, Bapak juga harus memastikan untuk menjaga istrinya. Jangan biarkan dia kecapekan atau terlalu banyak pikiran. Pada trimester awal kehamilan sangat riskan terjadinya keguguran, jadi sebisa mungkin lebih dijaga lagi istrinya."
"Tentu, Dok." Kevin menyahut dengan senyum terkembang menghiasi wajahnya.
"Silakan."
"Terima kasih, Dok." Kevin menerima secarik kertas yang diulurkan dokter lalu membimbing Bening bangun dari kursinya.
Siapa saja yang melihat mereka pasti mengira bahwa mereka adalah pasangan suami istri yang serasi.
***
Hari yang dinantikan Bening pun tiba. Semalaman dia tak bisa tidur lantaran tak sabar menunggu hari ini. Terakhir kali bertukar pesan dengan Kevin, lelaki itu mengatakan kalau dia sedang menunggu orang tuanya di bandara. Bening tak bisa jauh dari ponselnya dan terus mengeceknya secara berkala, takut ada pesan dari Kevin yang terlewat. Akan tetapi hingga siang ini, tak ada satu pun pesan dari pria itu untuknya.
Pukul tujuh lebih lima belas menit, terlihat terakhir kali Kevin masih online, tapi anehnya dia tak mengirimkan pesan apa pun pada Bening. Bening sampai dibuat gusar karenanya. Telah berkali-kali Bening mencoba menghubungi Kevin, tapi tak ada satu pun panggilannya berhasil diangkat. Puluhan pesan pun Bening kirim dan hasilnya nihil. Parahnya lagi, nomor Kevin tak bisa dihubungi hingga menjelang siang. Lantaran tak tahan lagi, Bening pun memutuskan untuk mendatangi apartemen Kevin.
"Sayang, mau ke mana?"
Bening yang sedang berjalan mengendap tiba-tiba membeku begitu mendengar suara ibunya, langkahnya terhenti, padahal sengaja dia pergi diam-diam agar tak perlu repot-repot memberikan alasan pada Maura.
"Hm, mau ke toko buku sebentar Ma. Mau cari referensi buat ngerjain tugas," dalih Bening.
"Ya sudah, biar Mama temani ya, sekalian Mama mau belanja kebutuhan bulanan. Sudah lama juga kita nggak pergi belanja bareng, Nak."
"Hm, tapi Ma. Sepertinya nggak bisa sekarang deh. Temanku sudah nunggu di depan, nggak enak. Bagaimana kalau belanjanya besok saja pas hari minggu?" Bening kembali mencari alasan. Bisa gagal rencananya kalau Maura memaksa ikut.
"Begitu ya? Ya sudah lah." Maura tampak kecewa, tapi dia juga tak bisa memaksa. Maura takut membuat teman Bening tak nyaman dengan kehadirannya.
"Aku pergi dulu Ma, nanti begitu urusannya selesai aku langsung pulang," pamit Bening meraih punggung tangan Maura dan menciumnya.
"Hati-hati di jalan."
Bening membuang napas lega. Dengan langkah cepat dia segera berlalu dari sana. Demi apa pun juga, rasa takut dalam diri Bening menjadi berkali-kali lipat saat nomor Kevin tak bisa dihubungi. Berbagai macam pikiran buruk menghinggapi kepalanya. Bening menggelengkan kepala saat bayangan mobil yang ditumpangi kekasih dan calon mertuanya itu mengalami kecelakaan sepulang dari bandara karena terakhir kali Kevin mengirimkan pesan dan mengatakan padanya sedang menjemput orang tuanya di bandara.
"Nggak mungkin, semoga mereka semua baik-baik saja. Bisa jadi Kak Kevin sibuk mengurus orang tuanya dan kelelahan makanya nggak sempat mengabariku." Bening berusaha untuk selalu berpikiran positif.
Gadis itu membawa langkahnya cepat menyusuri lantai marmer bangunan mewah di hadapannya. Rasanya Bening tak sabar untuk segera tiba di lantai unit apartemen Kevin untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana.
Meski mengetahui kode password pintu apartemen Kevin, tapi Bening lebih memilih memencet bell dan menunggu seseorang membukakan pintu untuknya. Sambil menunggu, Bening tak henti mencoba menghubungi Kevin kembali, tapi hasilnya seperti sebelum-sebelumnya. Nomor Kevin masih tak bisa dihubungi.
"Ke mana sebenarnya Kak Kevin, kenapa nggak ada yang bukain pintu?"
Sepuluh menit menunggu akhirnya Bening mencoba membuka pintu itu sendiri dengan menekan barisan angka pada panel.
"Kok nggak bisa kebuka? Apa jangan-jangan password-nya sudah diganti sama Kak Kevin?" Bening kembali mengulangi hal yang sama. Pikirannya tak henti menebak-nebak dan pada akhirnya karena usahanya kembali gagal, Bening memutuskan untuk turun ke lobi dan bertanya pada petugas yang tengah berjaga. Berharap dengan begitu dia bisa mendapatkan sedikit informasi.
Bening menaiki lift untuk turun ke lantai dasar. Napasnya terengah saat dia harus berlari menuju lobi dan bertanya pada petugas jaga.
"Pak Kevinnya pergi semalam, Mbak. Dia sudah pamit sama kami katanya mau pindah, dia juga bawa koper besar dan menyerahkan kunci apartemen pada kami."
Ucapan petugas jaga membuat tubuh Bening seketika melemas. Tubuhnya limbung dan nyaris jatuh membentur lantai seandainya saja salah satu petugas keamanan di sana tak langsung menahannya dan membantunya untuk duduk.
"Kak Kevin pergi? Pergi ke mana dia membawa koper besar?" Bening memejamkan mata membiarkan genangan di sana saling menerobos paksa keluar.
Perlahan suara para petugas jaga menjadi samar di telinga Bening. Gadis itu ambruk tak lama berselang.