Bab 2

"Seperti yang saya bilang tadi, saya mengandung anak dari putra Bapak, Rafael," jelas Alenta pada orang di hadapannya.

Direktur Richard, Ayah dari Rafael yang merupakan pemilik perusahaan Number One membetulkan letak kacamata lalu menatap Alenta dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan.

Richard terlihat berpikir sejenak mendengar perkataan Alenta, "Jadi, berapa usia kandunganmu?" Tanya Richard.

Alenta membuka tas tangannya lalu mengambil foto USG yang kemarin lusa ia lakukan di tempat Jenny, "Sekitar tiga minggu," tukas Alenta singkat. Dibanding dengan Rafael, Richard terlihat lebih tenang menanggapi perkataan Alenta.

Richard menganggukkan kepalanya, ia melirik foto USG itu dengan kening berkerut, "Apa Rafa sudah mengetahuinya?"

Alenta balas mengangguk lalu kemudian menghela nafasnya berat, "Ya, tapi Rafa meminta saya untuk menggugurkannya,"

"Jadi, kau ingin mempertahankannya?" Tanya Richard memastikan.

Alenta menganggukkan kepalanya dengan yakin, "Saya meminta untuk bertemu dengan Anda berharap Bapak bisa membantu saya,"

Richard kembali terlihat menimbang-nimbang, ada hening sejenak diantara mereka kemudian ia kembali bersuara, "Kau yakin itu adalah anak Rafa?"

Alenta melebarkan matanya tersinggung dengan perkataan Richard, memangnya dia pikir Alenta wanita macam apa?

"Tentu saja, saya yakin seratus persen hanya Rafa yang pernah menyentuh saya, itu pun saat saya tidak dalam keadaan sadar," ucap Alenta dengan sinis.

Richard menyandarkan tubuhnya lalu menatap Alenta dengan tatapan lembut, "Tenanglah jangan marah, aku hanya ingin memastikan. Jika itu memang anak Rafa, aku akan membantumu."

Alenta memasang wajah sumringah mendengar perkataan Richard, "Benarkah? Anda benar-benar akan membantu saya, Pak?" tanya Alenta tidak percaya.

Richard menganggukkan kepalanya, "Tentu. Rafael harus mempertanggungjawabkan perbuatannya padamu, bukankah itu yang kau inginkan?"

Alenta menghela nafas lega mendengar perkataan Richard, ia mengangukkan kepalanya merasa bersyukur karena Richard memahami semua masalah yang tengah ia hadapi.

"Aku akan membicarakan ini dengannya, akan ku kabari lagi nanti," ujar Richard,

Alenta menganggukkan kepalanya lalu tersenyum lebar, "Terimakasih Pak," ucapnya dengan penuh rasa syukur. Akhirnya masalahnya memiliki titik terang, ia yakin Rafael pasti mendengarkan ucapan ayahnya karena kekuasaan perusahaan Number One berada di tangannya. Alenta mengusap perutnya meyakinkan anaknya bahwa setelah ini mereka akan baik-baik saja.

****

Plak! Plak! Plak!

Dengan sekuat tenaga, Richard menampar Rafael berkali-kali. Sosok tinggi itu menatap nyalang pada Rafael, tidak menghiraukan gurat kesakitan yang tergambar di wajah puteranya.

Rafael terlihat membeku di tempat, namun ia tidak bisa berbuat banyak dan membiarkan sang ayah melampiaskan amarahnya. Darah segar muncul di sudut bibirnya, tapi Richard tetap menampar wajahnya sekuat tenaga sekali lagi.

Richard terlihat mengatur nafasnya yang kelelahan lalu mengumpat pada Rafael, "Kau benar-benar bodoh!"

Richard menggelengkan kepalanya lalu menghela nafas, ia kembali menatap berang pada anaknya.

Melihat kemarahan yang ditunjukkan Richard, Rafael segera menjatuhkan dirinya, memasang posisi berlutut di depan ayahnya.

"Maafkan aku, Ayah," mohon Rafael, ia mengangkat kedua tangannya.

"Sudah ku bilang, jangan terlibat dengan wanita apalagi dari kalangan selebriti! Jika kau tidak bisa mengendalikan hawa nafsumu, bayarlah mereka, bukan malah menjalin hubungan serius dengannya!" Geram Richard, ia mengepalkan kedua tangannya, merasa sangat murka kepada Rafael. Semua rencananya akan kacau balau jika Rafael terlibat dengan wanita itu.

Rafael hanya menunduk tidak mampu mengatakan sepatah kata pun.

Richard melemparkan tubuhnya ke kursi lalu memijit keningnya yang terasa berputar, "Lalu bagaimana sekarang? Apa kau akan menikahinya?"

Rafael menggeleng keras, ia tahu ayahnya tidak akan setuju jika ia menikahi Alenta.

Alenta hanya wanita dari kalangan kasta terbawah yang memiliki nasib mujur menjadi bintang baru, ayahnya pasti akan membunuhnya jika dia melakukan keputusan itu. "Tidak Ayah, aku hanya menyukai tubuhnya, itu saja. Karena sekarang dia sudah tidak berguna, aku tidak mau apa-apa lagi darinya," ucapnya membela diri.

Richard tersenyum miring mendengar pengakuan puteranya, "Bagus, kau hanya boleh menikah dengan Barbara, puteri dari keluarga Johnson, pernikahan kalian nanti akan semakin memperkuat perusahaan,"

Rafael menganggukkan kepalanya patuh, "Baik Ayah, soal Alenta aku akan mengurusnya diam-diam," ujar Rafael yakin.

Richard mengangkat sebelah tangannya, "Tidak, tidak, biar Ayah yang mengurusnya, bisa-bisa kau bertindak ceroboh lagi," sahut Richard tidak percaya.

Rafael yang tidak mampu menyanggah ucapan ayahnya lagi hanya bisa mengangguk pasrah. Dalam hati ia merutuk kesal, keputusan Alenta menghubungi ayahnya merupakan kesalahan fatal. Seharusnya wanita itu menurutinya untuk menggugurkan kandungan itu diam-diam, jika ayahnya sudah mengetahuinya maka dapat dipastikan Beliau juga akan menghabisi Alenta.

Rafael tidak bisa berbuat apapun, jika ingin selamat dan mempertahankan posisinya sekarang maka ia harus pasrah dengan semua keputusan ayahnya.

"Jangan berbuat onar lagi atau kucabut semua fasilitasmu nanti, Rafa!" Tukas Richard mengingatkan.

Rafael menganggukkan kepalanya, "Kalau begitu aku pamit, Yah," ucapnya lalu undur diri dari ruangan ayahnya.

Rafael menarik nafas lalu menghembuskannya kasar. Semua rencananya kacau balau! Sayang sekali padahal ia sudah sangat menyayangi Alenta dan enggan kehilangannya. Sial! Seharusnya ia berhati-hati malam itu dan memakai pengaman. Karena terlalu dilanda gairah yang besar, ia sampai melupakan hal sepenting itu.

Alenta, gadis itu berbeda. Gadis itu tidak ingin bersentuhan dengannya sebelum ikatan pernikahan dilakukan. Selama berbulan-bulan lamanya Rafael mencoba bersabar dan menahan hawa nafsunya karena tidak ingin kehilangan Alenta. Namun, semakin lama kewarasannya semakin terkikis, ia merasa makin penasaran dengan tubuh Alenta hingga dia terpaksa membius Alenta pada malam itu, membawa tubuh Alenta ke hotel lalu melakukan pelepasan pada milik Alenta berulang kali tanpa memikirkan akibatnya.

Rafael menjambak rambutnya keras, semuanya akan berakhir jika Richard sudah turun tangan. Rafael mendesah, kini ia hanya bisa pasrah dengan kehidupannya yang selalu dimonopoli oleh sang ayah.

****

"Saya sudah bicara dengan Rafael," ucap Richard di telepon.

Alenta menegakkan tubuhnya, mencoba mendengar perkataan Richard lebih seksama,

"Lalu bagaimana? Apa dia masih menolak?" Tanya Alenta tidak sabar.

"Tidak, tenang saja, dia menuruti semua perkataanku, kalian bisa menikah,"

Mendengar hal itu, mata Alenta segera berbinar, ia merasa sangat bersyukur pada Tuhan karena semua do'anya akhirnya terkabul. Status anaknya akhirnya bisa ia selesaikan dengan baik.

"Anda menyetujui pernikahan ini?" Tanya Alenta gugup.

"Tentu saja, aku senang akan memiliki menantu yang cantik sepertimu,"

Alenta mengusap bulir airmata yang keluar dari sudut matanya, terharu dengan apa yang dikatakan oleh Richard. Ada perasaan bangga karena ia akan menjadi menantu di keluarga Herenson, keluarga ternama di kota ini.

"Terimakasih, saya sangat senang karena Anda berada di pihak saya," ucap Alenta dengan senyuman tulus.

Richard terdengar mendesah di seberang telepon. Alenta mengangkat alisnya, tidak paham kenapa Richard terlihat tidak suka, apa ia salah bicara?

"Kau sebentar lagi akan menjadi menantuku, kenapa masih bersikap formal? Kau bisa memanggilku Ayah mulai sekarang,"

Sekali lagi Alenta merasa tersanjung dengan kelembutan nada bicara Richard, "Ah, maaf, Ayah," ucap Alenta terbata.

Richard terdengar terkekeh, "Baiklah, Nak, kita akan membicarakan semua persiapan pernikahanmu nanti. Kita harus sering-sering bertemu."

Meski Richard tidak bisa melihatnya, Alenta menganggukkan kepalanya semangat, "Baik, Ayah, aku akan menunggu kabarmu,"

"Kalau begitu jaga kesehatanmu dan cucuku dengan baik,"

Hati Alenta terasa hangat mendengar ucapan itu. Akhirnya tangisannya selama beberapa hari ini terbayar dengan kebahagiaan.

"Baik, Ayah,"

"Baiklah, sampai nanti,"

Telepon itu kemudian diputus oleh Richard.

Alenta meletakkan ponselnya di seberang meja lalu memasang senyuman lebar, ia tidak menyangka hati Richard lebih hangat dari yang terlihat dari luar. Awalnya Alenta merasa ragu melihat gerak gerik Richard tempo hari, namun sepertinya ia terlalu berprasangka buruk.

Alenta mengusap perutnya lalu bergumam pelan, "Kamu akan punya keluarga sayang, jangan khawatir, Kakekmu orang yang sangat baik,"

Tampak seorang pria mengamati gerak-gerik Alenta dari balik tembok. Pria itu kemudian mengambil ponselnya yang berada di saku celana lalu benda itu ia tempel ke arah telinga.

"Semua beres Bos, wanita itu tidak mencurigai apapun!"

Setelah berkata seperti itu panggilannya diputus begitu saja tanpa ada jawaban apapun.

Bab 3

Richard tersenyum puas mendengar laporan preman yang ia bayar untuk mengawasi Alenta.

Semuanya berjalan sesuai rencana, wanita itu sudah terkena jerat yang ia pasang untuknya tanpa mencurigai apapun.

Ia tinggal mengeksekusi segala yang menghalangi rencananya dan semua akan kembali ke semula.

****

Alenta memijat kaki ibunya, Helenna, dengan penuh perhatian. Hari ini ia memutuskan menjenguk ibunya sekaligus memberikan sebuah kabar gembira.

Setelah mendapat telepon dari Richard, Alenta memberanikan diri untuk berbicara dengan sang ibu, tentu saja ia tidak akan mengungkit tentang keadaan dirinya yang tengah hamil muda, bisa-bisa ibunya akan mengalami serangan kembali.

Selama dua tahun terakhir, ibunya dirawat di rumah sakit karena mengalami gagal jantung, sedikit saja ibunya merasa terkejut atau stress maka itu akan mengancam jiwanya. Ayahnya telah meninggalkan Alenta saat ia masih belia dan hanya ibunya yang berjuang membesarkan dirinya seorang diri. Kini, sudah saatnya ia membalas jasa ibunya.

"Sudahlah tidak usah, kamu pasti lelah," tukas Ibunya lalu menepis tangan Alenta dari kedua kakinya.

Alenta tidak mengindahkan perkataan ibunya, ia menjangkau kaki ibunya lalu memijatnya kembali.

"Gapapa Ma, mumpung aku libur hari ini, aku akan memanjakanmu," seloroh Alenta pada ibunya.

Helenna tersenyum, ia menyerah dan membiarkan Alenta memijat kakinya yang terasa kaku karena terlalu lama berbaring.

"Bagaimana keadaan Mama?" Tanya Alenta.

"Sejauh ini Mama baik-baik saja,"

"Apa ada serangan lagi?" Tanya Alenta lagi, kali ini dengan nada cemas. Jika mengalami serangan, ibunya akan merasa sangat sakit di bagian dada. Alenta sudah melihatnya berkali-kali dan itu membuat seluruh hatinya ikut sakit.

Helenna mengusap tangan Alenta, "Mama baik-baik saja sayang, jangan khawatir,"

Alenta menganggukkan kepalanya lalu tersenyum, syukurlah jika keadaan ibunya membaik hari ini.

"Ada yang ingin aku beritahukan pada Mama," ucap Alenta membuka pembicaraan.

Melihat raut wajah Alenta yang serius, Helenna mencondongkan tubuhnya ke depan, "Ada apa Sayang?" Tanya Helenna lembut.

"Ma, aku akan menikah,"

Helenna terperangah mendengar ucapan Alenta, "Menikah? Dengan siapa? Kamu tidak pernah terlihat dekat dengan siapapun," tanya Helenna bingung.

Ia tidak pernah mendengar Alenta membicarakan seorang pria di hadapannya, ia pikir Alenta hanya memikirkan karier dan kesehatan dirinya, tapi menikah? Ini sebuah kejutan.

Alenta menghela nafasnya, "Ada pria yang sangat mencintaiku dan dia ingin menikahiku," gumam Alenta pelan, ia memutar jari jemarinya dengan gugup, berbohong pada ibunya tidak semudah yang ia pikirkan.

"Benarkah? Siapa?"

"Rafael Herenson," sahut Alenta singkat.

Helenna menganggukkan kepalanya, "Herenson? Sepertinya Mama pernah dengar marga itu,"

"Dia putera pemilik perusahaan Number One,"

Helenna semakin terkejut mendengar ucapan Alenta, perusahaan Number One adalah perusahaan yang sangat terkenal dalam pembuatan produk pangan di kota ini. Alenta memang cantik, tapi ia tidak menyangka anaknya bisa dekat dengan putera keluarga Herenson. "Astaga, Sayang, kamu serius? Apa dia sangat tergila-gila padamu?" Tanya Helenna kembali tidak percaya.

Alenta menganggukkan kepalanya dengan yakin, "Tentu saja, aku adalah anak Mama yang paling cantik, akan ku kenalkan kalian nanti," tutur Alenta dengan senyum lebar.

Melihat Alenta bersungguh-sungguh dengan perkataannya, Helenna ikut tersenyum. "Kamu harus segera mengenalkan Mama padanya,"

"Mama akan merestuinya?" Tanya Alenta hati-hati.

"Tentu saja, jika dia membuatmu bahagia maka Mama akan merestuinya. Sekalipun dia bukan dari kalangan orang berada, Mama tetap akan menerimanya," tukas Helenna.

Alenta merasa sangat bersalah karena telah berbohong pada Helenna, ia kemudian memeluk sang ibu erat untuk menyembunyikan kegugupannya.

"Aku akan menggelar pernikahan kami setelah Mama selesai operasi, maka dari itu Mama harus sembuh," ucap Alenta penuh harap,

Operasi Helenna akan dilakukan minggu ini, Alenta yakin operasinya akan berhasil dan Helenna akan menghadiri pernikahannya.

Helenna membalas pelukan Alenta lalu menganggukkan kepalanya yakin, "Mama akan berusaha sekuat tenaga untuk itu, Mama akan menyaksikan kebahagiaanmu,"

Alenta berharap semoga hal itu benar-benar terjadi, semoga nanti ibunya tidak merasakan sakit lagi setelah ini.

****

"Selamat siang, Ayah," salam Alenta pada Richard, ia merasa kagok saat memanggil Richard dengan sebutan 'ayah', namun karena ini permintaan dari Richard maka ia harus terbiasa melakukannya sekarang. 

Ia merasa sangat senang karena Richard ingin bertemu kembali dengannya hari ini, apalagi Richard mengundangnya ke ruangan pribadinya di kantor membuat ia merasa bahwa ia benar-benar telah diterima oleh Richard.

"Ah, aku senang kau datang, duduklah," ujar Richard ramah, ia menunjuk kursi sofa di hadapannya.

Alenta masuk lebih dalam ke ruangan itu dengan ragu.

"Mana Rafa?" Tanya Alenta bingung, ia melihat sekeliling, tapi tidak ada kehadiran Rafael disana. Tadi Alenta sudah memberitahu Rafael soal undangan ayahnya, namun Rafael tidak membalas pesannya. Mungkin dia masih sibuk.

Hubungan mereka kembali membaik setelah Richard menerimanya. Alenta berusaha mengembalikan cinta yang hilang itu kembali karena bagaimanapun Rafael adalah calon suaminya. Ia ingin meluruskan semua kesalahpahaman diantara mereka sebelum mereka menikah. Ia akan berusaha menjalani kehidupan pernikahan dengan Rafael sebaik mungkin.

"Rafa sedang ada urusan kantor sebentar, nanti dia akan menyusul kesini. Apa kau sudah merindukannya sekarang? Kalian akan segera menikah dan kau akan menemui dia setiap hari sampai kau bosan," seloroh Richard lalu terkekeh.

Alenta mengangkat sebelah tangannya, "Ah tidak, saya hanya ingin tahu," ujar Alenta merasa malu.

Richard menghentikan tawanya lalu bertanya, "Kau mau minum apa?"

Alenta merasa tidak enak mendengar tawaran Richard, "Ah, tidak apa-apa, tidak perlu repot-repot Ayah,"

"Jangan begitu, kau adalah calon menantuku, ini pertama kalinya kau datang kemari tentu saja aku harus menyambut kedatanganmu dengan baik," desak Richard.

Alenta kembali merasa terharu dengan sikap baik yang ditunjukkan oleh Richard padanya. Ia merasa sangat beruntung mendapatkan calon mertua yang baik. Richard seperti sosok ayah yang telah hilang di dalam kehidupannya, "Baiklah, apapun yang disediakan, aku akan meminumnya, Ayah," ujar Alenta dengan sopan.

Richard tersenyum mendengar ucapan Alenta, ia kemudian keluar dari ruangan kantornya untuk meminta minuman pada sekertarisnya.

Alenta menunggu disana dengan gugup, ia memandangi interior ruangan itu dengan takjub. Untuk sekedar ruangan kantor, interiornya terlihat sangat mewah. Kursi sofanya juga terasa sangat empuk, selera orang kalangan atas memang beda.

Richard kembali ke ruangan itu beberapa menit kemudian, di belakangnya terlihat sekertaris kantornya membawa minuman dan cemilan dengan nampan. Sekertaris itu segera meletakkan nampan di meja lalu berlalu dari sana.

"Cobalah," ucap Richard menunjuk cemilan dan minuman itu.

Alenta menatap piring kecil berisi biskuit juga juice berwarna kuning di sampingnya. Ia mengambil sekeping biskuit dari piring lalu memakannya perlahan. Biskuit itu terasa sangat renyah dan gurih, ia sendiri tidak tahu apa namanya, tapi ini terasa enak.

"Ini enak," ucap Alenta jujur, ia mengunyah biskuit itu hingga habis.

Richard tersenyum mendengar ucapan Alenta, "Baguslah, jika kau menyukainya,"

Setelah memakan biskuit, tenggorokan Alenta terasa sedikit kering, ia mengambil gelas berisi juice lalu meminumnya seteguk.

"Jadi kapan pernikahan saya dan Rafa...."

Kata-kata Alenta menggantung di udara, ia mengerjapkan matanya, kenapa kepalanya tiba-tiba terasa sangat pusing?

"Kau baik-baik saja?" Tanya Richard.

Alenta mengerjapkan matanya berkali-kali lalu menggelengkan kepalanya, pandangannya terasa kabur, bayangan Richard di hadapannya menjadi samar-samar.

Alenta memegangi kepalanya yang semakin terasa berat lalu pandangannya semakin lama semakin gelap dan hal terakhir yang ia lihat adalah Richard terlihat tersenyum menyeringai lalu bergumam pelan dihadapannya, "Dasar gadis bodoh,"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED