"Ya ampun, Dion. Kemana sih dia kok belum datang juga, padahal hari ini kita sudah janji makan siang bersama," gerutu Olivia yang tengah menunggu sang pujaan hati sampai saat ini tidak kunjung datang.
Olivia gadis cantik 24 Tahun. Sipatnya yang lugu juga ia terkenal dengan nada bicaranya yang lembut membuat para Pria jatuh hati kepadanya. Wanita dengan rambut pirang sebahu dengan ciri khasnya yaitu gingsul gigi yang sangat cantik sekali terlihat. Alis tebal, bibir tipis dengan balutan liptin merah muda membuat kesan kecantikan wanita itu terpancar. Dion telah berhasil memenangkan hati Olivia dari sekian banyak Pria yang mendekatinya. Sudah dua tahun ini mereka berpacaran sampai kuliah pun mereka tetap bersama. Namun, sayang Dion belum berhasil memilik Olivia sepenuhnya. Olivia selalu menjaga kehormatannya untuk suaminya kelak, bagi dirinya Dion hanya kekasih dan belum tentu menjadi suaminya. Maka dari itu ia selalu menjaga dirinya dari hawa napsu.
"Evan, apakah kamu melihat Dion?" tanya Olivia pada temannya.
"Apa dia tidak memberitahumu! Katanya dia lagi tidak enak badan. Aku dengar sih dia mengalami demam. Coba kamu datang ke rumahnya, kebetulan di sana Dion hanya sendirian aku takut dia kenapa-napa," balas Evan tersenyum.
Evan Pria yang menyukai Olivia, apalah daya Evan hanya bisa mencintainya dalam diam setelah mengetahui bahwa Olivia sudah menjadi milik Dion.
"Terima kasih infonya, Evan," sahut Olivia. Perasaannya tidak karuan. Dirinya segera melajukan mobilnya menuju rumah Dion awalnya ragu ia datang ke rumah kekasihnya seorang diri tanpa di temani oleh Fani sahabat dekat Olivia.
Setelah beberapa menit ia lalui A
Akhirnya Olivia sampai di gerbang utama rumah Dion kekasihnya. Rumah mewah yang di kelilingi banyak satpam, kedua orang tua Dion sudah menyetujui pertunangan mereka bulan depan yang akan datang. Satpam yang melihat Olivia segera membukakan pintu gerbang yang menjulang tinggi besar bercat hitam dengan perpaduan warna kuning emas.
"Terima Kasih," ucap Olivia tersenyum.
Langkah kakinya terhenti saat dirinya mulai memegang knop pintu yang terbuat dari besi mahal terlihat sangat mengkilap. Rasanya ada sedikit ragu untuk masuk ke dalam rumah Dion seorang diri. Walaupun banyak para pelayan di rumah besar kekasihnya, akan tetapi Olivia selalu was-was.
"Aku harap dia baik-baik saja di dalam," gumam Olivia sambil membuka knop pintu.
Langkah kakinya di sambut hangat oleh para pelayan yang sudah berdiri di dekat anak tangga. Walaupun Olivia sama-sama dari keluarga kaya raya, akan tetapi, dirinya sungguh tidak mau diperlakukan seperti ini oleh pelayan, baginya Olivia hanyalah manusia biasa sama seperti para pelayan pada umumnya.
"Apa Dion ada di kamar?" tanya Olivia hati-hati.
Para pelayan hanya bisa tersenyum kikuk karena tidak tahu apa yang akan terjadi setelah Olivia masuk ke dalam kamar Tuan mudanya.
"Tuan, ada di dalam kamar Nyonya," ucap salah seorang pelayan.
Olivia tersenyum ramah, dirinya segera menaiki anak tangga yang menuju ke kamar Dion. Hatinya ada sedikit kecemasan dalam dirinya. Olivia pun akhirnya tiba di depan pintu kamar Dion. Mungkin Dion lupa ia tidak menyalakan pengedap suara di dalam kamarnya. Sehingga Olivia mendengar suara erangan dari balik pintu.
"Suara apa itu, aku yakin telingaku tidak salah dengar," ucapnya percaya diri sambil menempelkan daun telinganya ke pintu kamar. Karena Olivia sudah percaya kepada kekasihnya bahwa Dion itu tidak mungkin main belakang.
Suara itu semakin jelas di daun telinga Olivia sedikit demi sedikit Oliv membuka knop pintu kamar Dion. Cerobohnya Dion tidak mengunci kamarnya sehingga Olivia bisa segera masuk ke dalam.
Langkah kakinya bergetar setelah mendengar suara erangan wanita dan juga pria yang tidak lain dari dalam kamar. Jantungnya terkoyak sungguh dirinya tidak menyangka bahwa kekasihnya akan melakukan hal sekeji ini kepadanya. Terlihat di bawah lantai banyak berceceran baju dalam dan juga baju wanita berserakan di atas lantai. Tempat tidur mewah itu sudah terlihat acak-acakan membuat Olivia membekam mulutnya di barengi tetesan air mata yang mulai mengalir dari pelupuk mata.
Kerangka gunung kembar seorang wanita menggantung di depan cermin membuatnya semakin sakit. Olivia menghentikan langkahnya mengatur semua deburan jantung yang terkoyak habis. Tetesan air mata mulai bercucuran membasahi semua pipi manisnya yang semakin banyak.
"Apa yang telah terjadi," isak tangis Olivia menuju sumber suara yang sangat sakit di telinganya.
Olivia Melangkah mantap menuju kamar mandi mewah yang ada di dalam kamar milik kekasih hatinya. Suara air mengalir dan juga erangan kebisingan antara Dion dan wanita itu semakin menyakiti hati Olivia.
Tangannya gemetar hebat, tubuh lemas kakinya sudah tidak kuasa untuk melangkah maju kedepan. Olivia perlahan membuka knop pintu kamar mandi. Terlihat dua insan yang sedang beradu kasih di guyuran air shower.
Tangisnya pun semakin pecah, Dion masih belum sadar atas kehadiran Olivia kekasihnya sendiri yang telah memergoki dirinya sedang bermadu dengan wanita lain.
"Kamu sangat jahat Dion, menjijikan!" pekik Olivia mengagetkan Dion yang sedang melakukan kegiatannya bersama wanita lain.
Alangkah terkejutnya mereka melihat Olivia yang sudah berada di ambang pintu melihat apa yang sedang mereka lakukan.
"Ol-liva," ucap pelan Dion.
Wanita itu segera pergi meninggalkan Dion yang sedang menatap ke arah Olivia. Bagai di sambar petir siang bolong melihat kekasih hatinya yang selalu dia puja dan selalu Olivia doakan. Ternyata ia adalah seorang bajingan yang kini tengah berbuat sekeji ini kepadanya, sungguh ini sudah di luar batas Olivia.
Kekasih yang selama dua tahun ini telah Olivia percaya tega mengkhianati dengan cara kotornya. Berbuat tidak terpuji olehnya sehingga Olivia malu dan juga tidak tahu harus bagaimana.
"Aku membencimu," pekik Olivia kembali menutup pintu kamar mandi dengan sangat keras. Sehingga Dion segera meraih handuk dan segera melilitkan ke lingkaran pinggang. Wanita itu terlihat sangat kusut dengan rambut yang berantakan tersenyum sinis.
"Olivia tolong jangan pergi, aku bisa jelaskan semuanya padamu," pekik Dion mengejar Olivia yang akan keluar dari kamarnya.
"Apa yang akan kamu jelaskan lagi padaku, aku tidak tahu harus bicara apalagi padamu. Kisah kita aku akhiri cukup sampai di sini. Aku mohon kamu menjauh lah dari kehidupanku," tegas tangis Olivia.
"Tidak, pertunangan kita akan berlangsung bulan depan sayang," bujuk Dion mendekati Olivia.
"Tidak! Aku tidak mau mengenal dirimu lagi, setelah apa yang telah aku lihat oleh kedua mata kepalaku sendiri kau berkhianat padaku, sungguh aku tidak mau mengenal dirimu lagi. Pergilah dari kehidupanku," pekik Olivia sengit.
Wanita yang sudah di boking oleh Dion pun malah tersenyum penuh kemenangan. Melihat dua insan yang sedang berperang dihadapannya membuatnya berpikiran untuk merebut Dion dari Olivia.
"Aku bisa jelaskan padamu," bujuk Dion memegang tangan Olivia.
"Jangan sentuh aku, menjauhlah dariku," timpal Olivia menangis dengan rasa sakitnya.
"Amerta kau pergilah dulu ke luar," titah Dion kepada Amerta.
Melihat Dion bersikap manis kepada wanita yang tengah memadu kasih dengan pacarnya sendiri membuat Olivia semakin geram. Sungguh ini di luar dugaan Olivia, hatinya pun sulit untuk ia artikan. Pikirannya melayang dan juga Olivia tidak berhenti dari tangisnya.
"Aku akan pergi, aku anggap kita tidak pernah kenal satu sama lain. Dan aku mohon tinggalkan semua kenangan yang pernah kita lalui bersama," ujar Olivia membalikan tubuhnya melangkah pergi.
"Tidak!" Pekik Dion segera merangkul tubuh Olivia dengan sangat erat.
Olivia tercengang apa yang telah Dion lakukan kepadanya.
"Lepaskan aku, kita sudah tidak punya hak satu sama lain lagi. Aku jijik sama kamu mengerti!" Bentak Olivia sambil melepaskan rangkulan Dion.
"Ini hanya salah paham, tolong percayalah padaku," ujar Dion memeluk hangat Olivia.
"Tolong lepaskan aku," lirih Olivia mencoba melepaskan rangkulan Dion dari tubuhnya dengan tegas.
Di dalam hidupnya Olivia tidak habis pikir, orang yang sangat dia cintai dan sayangi tega berbuat sekeji ini kepadanya. Pengkhianatan cintanya akan terus membekas di dalam ingatan Olivia walaupun nanti dirinya akan memaafkan Dion. Tapi untuk berteman lagi dengannya sungguh Olivia tidak mau.
Rasa cinta yang selalu Oliv pelihara untuk Dion kini telah hilang dan musnah selamanya.
"Tega kamu melakuakan ini padaku," isak tangis Olivia. Tangannya meremas baju miliknya hingga badannya bergetar hebat. Olivia lemas dan tidak berdaya saat ini. Seketika dirinya terbayang dan terngiang suara merdu dari mulut kekasihnya saat bercinta dengan wanita lain membuatnya tidak bisa menerima semuanya, ini sudah sangat keterlaluan Dion sudah menghancurkan kepercayaan cintanya.
"Ini semua salahmu Oliv, selama dua tahun aku selalu memelihara tubuhmu yang so suci ini. Akan tetapi jiwaku meronta-ronta ingin sekali aku menikmatinya," seru Dion membuat Olivia yang sedang menangis tercengang di buatnya.
"Kau biadab! Setelah apa yang kamu perbuat kepadaku berani sekali kamu bicara hal kotor seperti ini kepadaku," pekik Olivia mencoba mengatur semua sulut emosinya.
"Aku tidak cukup kalau hanya memegang tanganmu saja, rasanya hambar. Aku ingin memilikimu sekarang juga," senyum licik menyeringai Dion membuat Olivia ketakutan.
Tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Olivia segera menampar Dion. Bukannya minta maaf kepada Olivia, Dion malah bicara hal yang tidak bisa dipungkiri dan menjijikan. Sungguh Olivia menyesal telah mencintai Pria seperti Dion yang telah menipunya selama bertahun-tahun lamanya.
Kesucian cintanya telah Dion nodai oleh Dion. Olivia memberontak melepaskan cengkraman tangan Dion, ia terus memberontak. Olivia menangis dalam ketakutannya, membuat Dion semakin tersenyum licik menyeringai. Kesempatannya untuk mencicipi tubuh Olivia hari ini bisa terlaksanakan.
Akan tetapi, Olivia dengan cekatan sekuat tenaganya ia menendang kepemilikan Dion dan berhasil membuat Dion sempoyongan hingga terjatuh ke lantai. Olivia berhasil melukai kepemilikannya oleh tendangan kakinya. Olivia segera membuka pintu kamar Dan berhasil keluar dari kamar maut yang membuatnya hancur berkeping-keping.
"Oliv, aku mencintaimu," pekik Dion. Akan tetapi Olivia sudah menghilang dari pandangannya.
"Sial, kenapa aku begitu nafsu hingga membuatnya sangat kecewa kepadaku. Tidak, aku tidak mau putus dengannya," seru Dion saat dirinya akan keluar kamar, Amerta datang ia berhasil mencegah Dion untuk mengejar mantan kekasihnya itu.
"Aku tidak mau kau mengejarnya, tugas kita yang tadi belum selesai. Aku mau kita melakukannya lagi, lupakan dia aku akan ada untukmu," rayu Amerta.
Melihat tubuh seksi milik Amerta yang masih menggunakan lilitan handuk membuat Dion menyeringai dan melupakan Olivia sekejap mata.
Olivia berlari dengan sekuat tenaganya yang tersisa. Sungguh ini sangat menyakitkan bagi dirinya. Impian yang ada di depan matanya kini hancur berkeping-keping setelah apa yang terjadi hari ini. Olivia segera masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi dari rumah Dion.
"Kenapa aku sangat bodoh selama ini, cintaku, ke percayaanku telah usai di hancurkan olehnya. Aku membencimu," isak tangis Olivia di dalam mobilnya yang melaju kencang.
Di kantor Jordan.
Jordan pengusaha sukses juga pembisnis hebat. Rahasianya sudah banyak di seluruh penjuru dunia. Wajahnya yang sangat tampan dengan rahang tegas, bulu alis tebal, bibir tipis, dengan tubuh tinggi yang sangat gagah, cool juga Maco membuat siapa saja akan terpikat dengan suara yang menghisap semua wanita. Saat ini Jordan tengah memandangi sebuah photo semasa SMA-nya bertahun-tahun lalu di saat dirinya mengejar cinta seorang wanita yang sangat cantik kala itu. Akan tetapi sudah beberapa kali dia di tolak saat mendekati wanita itu, membuat Jordan ingin berubah total seperti pria lainnya. Namun, sosok culun pada masa itu memang Jordan sengaja supaya ia bisa melihat karakter para wanita saat bersamanya.
Jordan berusia 30 tahun. Di masa lalu pria berkaca mata yang terlihat sangat culun, gendut, juga tidak banyak bergaul dengan orang di sekitar membuatnya minder dan terus berusaha untuk berubah setelah lulus sekolah demi mendapatkan cinta pertamanya, Jordan rajin berolah raga, menjaga stamina tubuh agar cool dan mendapatkan roti sobek di bagian tubuhnya. Selama bertahun-tahun Jordan berhasil menjadi Pria yang rupawan.
"Aku mau dia menjadi istriku saat ini juga," ujar Jordan menatap penuh cinta kepada photo wanita yang ada di meja kerjanya.
"Sam, kau habisi orang yang telah menentang ku saat kita di jalan tadi. Matikan dia atau kau buat dia lumpuh seumur hidupnya," titah Jordan dengan nada dinginnya.
Tidak ada yang tahu, Jordan sangat kejam kepada orang yang berani mengahalangi-nya siapapun orang itu, Jordan akan segera bertindak sesuka hati. Termasuk seorang supir truk yang tadi pagi menghalangi jalanan mobilnya pada saat tengah melintas.
"Aku harus segera mendapatkan Evelin, tidak ada yang bisa memisahkan cintaku lagi. Teruntuk pacarnya akan aku lenyapkan dia , biar Evelin bisa menjadi milikku seutuhnya. Aku yakin Evelin akan cinta mati kepadaku saat dia tahu aku sudah sangat tampan saat ini hahahah," seru Jordan sambil menegug kembali minuman yang ada di tangannya.
Cinta untuk Evelin tidak pernah pudar, akan tetapi dirinya tidak tahu bahwa semasa mereka SMA dulu. Evelin lah yang membuat Jordan di tuduh mencontek di dalam kelas. Rahasia itu masih rapat sampai saat ini tidak ada yang memberitahu Jordan.
Jordan menyuruh para pengawal untuk melamar Evelin dan membawakan buket bunga mawar untuk di kirim ke rumahnya. Saat ini Evelin belum mengetahui perubahan Jordan, dengan percaya diri Jordan akan menikahi Evelin mau tidak mau Jordan sangat ambisius ingin memilikinya.
Saat ini Evelin berpacaran dengan Pria CEO kaya raya. Tetapi semua itu akan Jordan hancurkan dengan cara imelamar Evelin secara tiba-tiba. Keluarga Jordan hanya bisa menyetujui keinginan anaknya yang kini sudah berumur tiga puluh tahun itu.
Evelin wanita matre Kakak tiri dari Olivia, sipat mereka berbeda jauh dari keduanya karena mereka bukan adik kandung. Mamah Evelin lebih mencintainya dibanding Olivia anak yang penurut, cantik anggun, juga sopan kepada semua orang. Perbedaan itu tidak membuat Olivia berpikir buruk mengenai keluarganya. Dirinya selalu mengalah dalam setiap hal apapun. Berbeda dengan ayahnya yang selalu mendukung apa yang di lakukan Olivia.
Sikap manja juga matre, Evelin menjadi wanita yang selalu pilih-pilih kepada Pria yang akan mendekatinya. Saat ini Evelin merasa kesal kepada Olivia karena Dion akan melamarnya bulan depan. Dirinya tidak mau di kalahkan oleh Olivia saat ini Evelin merencanakan sesuatu untuk memisahkan hubungan Dion dan Olivia. Padahal sebelum dirinya menghancurkan semuanya hubungan Olivia dan Dion sudah berakhir.
"Sayang, ada kiriman paket bunga untukmu," teriak Mamah Ratna pada Evelin.
"Dari siapa Mah?" tanya Evelin yang saat ini sedang menuruni anak tangga.
"Dari Jordan Nata Negara," ucap Mamah Ratna.
"Apa aku tidak salah dengar, Jordan si Pria culun, bau, dekil itu berani sekali dia mengirimku bunga. Kenapa dia muncul lagi setelah bertahun-tahun lamanya kita tidak pernah bertemu lagi," ujar Evelin sambil duduk di sofa.
"Huushh, kau ini bicara apa sih sayang, dia Pria pengusaha kaya raya. Tampan, gagah Maco ahh pokonya siapa pun yang melihat Jordan pasti akan terpana olehnya. Mamah juga nih ya andai masih gadis Maman sudah sangat girang di kirimi bunga oleh pria seperti Jo," seru Mamah Ratna.
"Mamah ini, tidak usah bermimpi, dia itu Pria culun. Eve tidak mau menerima bunga itu darinya, buang saja ke tong sampah," seru Evelin masih sibuk di depan ponselnya.
"Kau lihat dulu wajahnya di google," titah Mamah Ratna.
"Eve tidak mau melihat dia Mah, ishh sumpah mukanya itu jelek sekali membuatku mual saja," ujar Evelin beranjak pergi meninggalkan Mamahnya.
Mamah Ratna sangat geram kepada anak gadisnya itu. Jordan yang sudah berubah untuk dirinya masih saja tidak di lirik oleh Eve. Andai saja Evelin tahu bahwa Jordan sudah berubah drastis ia tidak lagi culun dan bau saat ini.
Olivia menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dia menangis. Rasanya sesak di dada mengingat kejadian yang selalu terlintas di dalam pikirannya. Oliv membuka pintu mobil dan berjalan menuju danau yang sering ia datangi di saat hatinya sedang terpuruk.
"Kamu jahat Dion, entah harus bagaimana aku bicara kepada orangtuaku," isak tangis Oliv kembali di dalam keheningan.
Pandangannya terus terpacu ke depan melihat air yang tenang tanpa terusik oleh angin atau hewan lain yang ada di dalam danau itu. Ponselnya berdering.
Drrrttt.
terlihat nama Mamah Ratna menghubunginya untuk segera menyuruh arti segera pulang.
"Hallo, Mah," ucap Olivia.
"Kamu segera pulang, dua hari lagi Kakak mu akan menikah," seru Mamah Ratna.
Olivia tercengang, bagaimana mungkin Kakaknya Evelin menikah secara mendadak. ia segera beranjak dari duduknya meninggalkan danau dan kembali mengendari mobil. Di dalam perjalanan. Olivia masih memikirkan nasib buruknya, ia tidak tahu harus bicara apa kepada Papah nya.
Beberapa menit telah berlalu, Olivia memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya. Ia membuka pintu mobil sambil menghembuskan napas berat, mau tidak mau Olivia harus jujur dan tidak ada lagi yang harus ia tutup-tutupi. Olivia berjalan gontai sementara di dalam rumah Evelin sudah menunggu kedatangan adik tirinya. Ia ingin bicara sesuatu kepada Olivia, senyum menyeringai saat ia melihat Olivia datang membuka pintu, sesegera mungkin Eve menghampiri Oliv sebelum Papah nya melihat kehadiran Olivia, Evelin menyeret pergelangan tangan Olivia masuk kedalam kamarnya.
Selama mereka serumah, Olivia selalu mengalah karena Evelin selalu berbuat senonoh kepadanya. Walaupun semua harta kekayaan milik Olivia tapi yang berkuasa Evelin dan Mamah Ratna.
"Awwhh! Kak sakit," ringis Oliv.
Bugh!
Pintu di tutup oleh Eve, ia segera membanting Oliv sampai jatuh ke bawah lantai. Sungguh tidak punya hati nurani, Eve selalu berbuat seenaknya kepada Olivia. Ia tidak segan berbuat licik kepadanya begitu juga Ratna ia juga tidak menyukai Olivia. Hanya harta lah yang selalu mereka inginkan, Papah David tidak mengetahui mereka melakukan hal buruk kepada Olivia karena selama lima belas tahun ini sikap Ratna dan Eve tidak menunjukan ketidak sukaannya kepada Olivia. David pikir anak tiri dan istri keduanya menerima Olivia dengan baik.
"Dengarkan aku adik manisku. Dua hari lagi aku akan menikahi seorang pria yang sangat jelek, aku tidak mau hidup dengannya. Tapi aku mau kau yang harus menggantikan aku sebagai pengantin wanitanya. Semua surat pernikahan atas nama kamu tanpa sepengetahuan Papah atau pun pengantin pria itu," tegasnya membuat Olivia tercengang. Bagaimana mungkin dia menggantikan kakak nya untuk menikahi pria yang tidak Olivia cintai atau pun mengenalnya.
"Ta-pi, itu tidak masuk akal Kak," jawab Olivia ragu.
"Tidak masuk akal bagaimana! Kamu harus menuruti semua yang aku katakan mengerti. Urusan papah biar aku yang urus, kamu harus membantuku untuk melepaskan semua beban pernikahan ini. Bagaimana pun aku tidak menyukai pria tengil itu," tegas kembali Eve sambil memeluk dadanya melihat ke arah Olivia dengan angkuhnya.
"Bagaimana tawaranku, anak manis?" tanya Eve memastikan.
"Ak-u, bisa memikirkannya lagi, tapi untuk saat ini aku mohon lepaskan aku. Rasanya tubuhku sangat lelah hari ini," pinta Olivia dengan polosnya.
"Baiklah, besok aku tunggu jawaban kamu. Mau tidak mau, kamu harus mau!" cecarnya kembali sambil menarik dan mendorong tubuh Olivia keluar kamar.
Sungguh malang nasib Olivia, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Ia tidak tahu kehidupan setelah menikahi pria yang tidak ia kenal bagaimana. Mungkin ia harus memikirkan lebih matang kembali, di tambah kisah asmara dengan Dion pun sudah musnah di telan bumi Olivia harus bisa melupakan semuanya. Kenangan indah bersama Dion harus ia relakan hanyut jauh kedasar jurang, ia tidak mau lebih dalam menyendiri, mungkin tawaran Eve untuk menjadikan dirinya mengganti pengantin adalah jalan yang tepat untuk melupakan semua kisah asmaranya dengan Dion.
Langkah kakinya tepat berhenti di salah satu depan pintu yang dimana David berada disana. Ya itu adalah ruang kerja papah David, ia mengetuk pintunya dengan sangat pelan.
Tok ... tok
"Masuk."
Olivia masuk membuka pintu secara perlahan pintu itu tidak lama ia buka. Senyuman manis terukir dari raut wajah David menyambut hangat putri kesayangannya. Oliv berjalan pelan ke arah meja kerja David yang dimana papahnya sedang sibuk mengutak-atikan laptop di hadapannya.
"Pah," ucap Olivia duduk tepat di hadapannya sambil menundukan wajahnya. Walaupun anak orang kaya. Tetap saja Olivia pendiam dan selalu bersikap sopan kepada Papahnya.
"Apa sayang? Bagaimana hari mu, apa menyenangkan?" tanya David mematikan laptopnya sambil menatap serius kepada sang putri.
"Pah, hubungan Oliv sama Dion sudah berakhir hari ini," ucap parau Olivia mencoba untuk tetap kuat agar tidak mengeluarkan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
"Apa! Apa kamu serius. Maksud Papah hubungan kalian sudah lama sebentar lagi kalian tunangan dan langsung menikah. Apa ada masalah lain yang membuat kalian berpisah begini?" tanya David.
"Tidak, Pah. Hanya saja kita sudah tidak cocok lagi. Mau bagaimana lagi, sebuah pernikahan harus di dasari dengan adanya cinta dan kecocokan satu sama lain," jawabnya lembut sambil mencoba untuk memperlihatkan senyuman manisnya. Oliv tidak mau papahnya marah atau malu mendengar yang sebenarnya terjadi.
"Ya sudah. Papah tidak mau memaksa kamu untuk melanjutkan pernikahan mu dengan Dion. Semoga saja kamu mendapatkan pria yang sangat mencintaimu melebihi apapun," sahut Davin sambil berdiri menghembuskan napasnya berat dan memeluk putri kesayangannya.
Ingin sekali Olivia menjerit merangkul kesedihannya di hadapan orangtuanya. Tapi itu bukan Olivia, ia selalu bersikap baik-baik saja agar David tidak begitu cemas. Walaupun yang sebenarnya dirinya sangat rapuh.
"Olivia istirahat dulu," ucapnya yang segera di angguki oleh David.
"Jaga kesehatan sayang," sahut David.
Setelah pertemuannya dengan David untuk menjelaskan hubungannya dengan Dion. Olivia pamit pergi untuk mengistirahatkan tubuhnya yang mulai lelah. Ia menutup pintu ruang kerja papahnya kemudian ia berjalan menuju kamar miliknya. Oliv membuka pintunya secara perlahan dan menutupnya kembali. Setelah itu ia segera membanting tas yang ia pakai. Tubuhnya ia hempaskan ke atas tempat tidur.
"Piiuhhh!"
"Ya Tuhan, kenapa nasibku seperti ini. Apa aku tidak berhak bahagia!" ujarnya kembali bangun dan menuju ke tempat meja rias yang dimana ada photo dirinya bersama Dion.
"Dasar laknat pengkhianat. Aku sangat membencimu Dion, hubungan kita berakhir seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa bangkit kalau bayangan menjijikan itu terlintas di pikiranku," ucap Olivia membanting photo Dion masuk ke dalam tong sampah. Ia menangis sejadi-jadinya tidak lupa Oliv menyalakan pengendap suara agar tangisannya tidak di dengar orang lain.
Rapuh, sedih, sakit Hati. Hanya Olivia yang merasakannya sendiri, andai Mamahbnya masih ada kemungkinan besar Olivia tidak akan selalu menyendiri begini. Tangisan itu pecah saat ia mengingat pengkhianatan Dion kepada dirinya. Sangat sakit yang dirasakan Olivia sekarang, tidak bisa ia gambarkan bagaimana sekarang hatinya yang sangat terluka.
"Mamah, Olivia kangen," ucap parau dalam tangisnya. Ia merangkul tubuhnya di keheningan malam bersama derasnya air mata yang keluar membasahi seluruh pipi cantiknya.
Keesokan harinya, Olivia mencoba untuk menguatkan diri, menatap hati yang telah hancur berkeping-keping. Olivia tahu semua ini terjadi karena Tuhan yang telah menunjukkan kebenarannya. Bagaimana jadinya jika bulan depan tetap bertunangan dengan Dion, tanpa mengetahui jika ternyata pria itu bejat. Tentu hal itu akan lebih menakutkan, bukan? Namun, bagaimanapun juga, hati Olivia tetap sakit.
Bagaimana mungkin ketulusan cinta yang dirawat dan jaga selama bertahun-tahun harus hancur dalam beberapa menit. Disebabkan kesalahan Dion yang fatal menjalin hubungan haram dengan wanita lain. Yang saat ini Olivia pikirkan adalah bagaimana cara move on? Tentu dengan adanya kejadian itu membuat Olivia sadar jika pilihannya bukanlah yang terbaik.
"Tetapi urusan move on, tentu saja sulit! Ditambah lagi, menghapus semua kenangan yang telah terjadi! Argghhh!" Olivia benar-benar merasa kacau pagi ini.
Kejadian itu menambah beban hati, mental, dan tentu akan sulit untuknya percaya lagi dengan cinta. Bahkan, pria yang terlihat baik bertahun-tahun ternyata adalah seorang bajingan yang mengunakan topeng. Bulir cairan bening dari sudut mata tak henti menggelinding. Punggung tangannya mengusap kasar. Melarang diri sendiri agar tidak menangis sebab tak pantas membuang tenaga untuk pria tak berakhlak seperti Dion.
Olivia mencoba mengatur napas, dadanya terasa sedikit lega setelah menagis. Mungkin air mata itu telah membawa beban hati sedikit berkurang. Saat ini yang Olivia inginkan hanya ketenangan. Tak ingin diganggu oleh siapapun dan tak ingin berjumpa dengan siapa-siapa.
"Kau bisa Olivia, kau kuat dan mampu untuk menghadapi ini semua!" Olivia mensugesti dirinya sendiri.
Tubuhnya masih tak beranjak dari ujung kasur yang dia duduki. Tiba-tiba saja sepintas bayangan Evelin muncul dalam ingatannya. Kakak tirinya itu menunggu jawaban Olivia besok, berarti dia harus menemui kakaknya pagi ini.
"Evelin nambah-nambah masalah aja. Seenak jidat menyuruh menggantikan posisinya menjadi pengantin. Emang dia kira nikah itu main-main! Dasar aneh!" Olivia bangkit dengan ngomel sendiri.
Kakinya melangkah menuju kamar Kakak tirinya. Mengetuk pintunya pelan dan Evelina langsung tahu siapa tamunya. Bergegas dibukanya pintu itu dan menarik tangan adiknya masuk.
"Ayo masuk ...."
"Enggak Kak," tolak Olivia lembut sembari memaksakan senyum. "Di sini aja!"
"Ehhh, jangan. Ayo pokoknya masuk!"
Evelin dengan sedikit kasar menarik tangan adiknya. Sebenernya, Evelin tidak suka bersikap kasar jika kemampuannya dituruti. Evelin menyuruh adiknya duduk.
"Enggak Kak, Olive enggak lama kok. Cuman menyampaikan langsung balik."
"Iiih, kamu ini bandel banget sih! Apa susahnya disuruh duduk. Oke jadi, katakan apa tanggapanmu. Pasti kamu setujukan? Setuju dong!"
Sayangnya, saat Evelin merekahkan senyuman malah Olivia mengelengkan kepalanya. Yang Sontak membuatnya kaget bukan main. Apa jangan-jangan, adiknya menolak?
"Oliv, kamu ...."
Eksperisi wajah Eveline yang semula ceria kini telah berubah masam. Tatapan mata miliknya menyelidik, menatap adiknya tak berpaling sedikitpun. Olivia tampak bergetar mencoba meremas roknya saat melihat tatapan mata kakak tirinya itu.
"Apa, kamu tak setuju, Olivia? Apa yang membuatmu ragu?"
"Maaf kak, kenapa Kakak tidak katakan saja pada pria itu jika tidak suka. Kenapa malah menerimanya?" tanya Olivia kalem.
"Ehh, kamu enggak usah menasehatiku! Yang jelas kamu harus mau, titik!"
Mata Eveline langsung berubah merah karena marah. Ditambah lagi dengan nasihat adiknya yang bukan mencari solusi tetapi terkesan menghakimi.
"Maaf kak, Oliv enggak bisa. Kakak enggak bisa seenaknya maksain kehendak sendiri!"
Olivia mendegus, hatinya belum pulih sebab kejadian putusnya kemarin. Sampai rumah malah ditambah dengan kakaknya yang seenak hati menyuruh hal diluar kendali Olivia.
Merasakan hidupnya yang sangat menyedihkan ini. Olivia jadi kasihan dengan diri sendiri. Semoga Tuhan selalu memberi ketabahan hati pada dirinya.
"Ya udah, Kak. Oliv mau pamit kembali ke kamar." Tubuhnya meranjak bangkit.
Evelin yang sudah geram sebab adiknya tak menurut langsung mendorong keras bahu adiknya. Sontak, Olivia terduduk kembali.
"Enak aja main pamit, kamu pikir kamu bisa lolos dari sini. Hah! Ingat ya kamu harus mau mengikuti permintaanku dan aku gak terima penolakan!"
"Kakak apa-apa sih, enggak bisa gitu dong."
Eveline bukanlah orang yang mau memikirkan orang lain. Jadi, dia hanya berpikir untuk melakukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri.
Tanpa merasa kasihan, Evelin menarik kasar rambut panjang adiknya sampai terdongkak ke atas. Olivia menahan tangan sang Kakak, mencoba menghentikan sebab merasa sakit karena tarikan itu.
"Aduh ... aww, sakit Kak!"
Mata Olivia berkaca-kaca, kepalanya berdenyut sakit. Evelin masih mencoba mengancamnya lagi. "Mau ya adik manis!"
"Enggak!" Olivia kukuh pada pendirian meskipun harus menahan sakit.
"Bodoh, kau hanya menggantikanku. Yakin tidak mau?" sentak Eveline dengan sedikit menarik kasar rambut Olivia.
"Awwww!" jerit Olivia memegang tangan kakaknya.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, sontak membuat Eveline kaget. Tak lama, kenop pintu itu terbuka.
"Kalian sedang apa? Lho, Olivia kenapa kamu menangis?"
Deg! Di situ, seketika detak jantung Eveline berhenti berdenyut. Untungnya, papanya tak melihat apa yang dilakukannya.
"Tak usah, khawatir Pah. Tadi, Olivia minta ajarin Elevin pasang lensa mata. Biasanya untuk pemula gitu sih, Pah. Sampai keluar air mata karena masih pemula, hehe."
"Ohhh, ya sudah. Papa kira kalian berantem."
"Enggaklah, Pah." Oliva mengusap lembut air matanya.
Ya, Elevin memang begitu, ia pandai bersandiwara dengan siapa saja. Termasuk David, dengan mudah mempercayai. Pria itu kembali menutup pintu sebab kedua anaknya baik-baik saja. Selepas kepergian David, Elevin tersenyum jahat dan mengunci pintunya. Lagi-lagi menatap ke arah Olivia.
"Anak manis, apa kau masih ingin mencoba untuk menolak?"
"Ya, tentu saja. Menikah dengan pria tak dikenal adalah masalah besar, asal kau tahu itu!"
Olivia mencoba tegas, memberanikan diri mengatakan jika tidak ya tidak. Jujur, Evelin bangga dengan keberanian adiknya yang suka mengalah itu, tiba-tiba tegas pada pendiriannya dan tak gentar. Tiba-tiba saja, Eveline membalik badan mengambil sesuatu dalam laci dan menyembunyikan di balik badan, berjalan pelan mendekati adiknya.
Olivia susah bangkit, memutar knop pintu ketika hendak keluar tetapi pintu di kunci. Evelin tertawa kecil menatap tingkah lucu adiknya itu. Kenapa dia tidak ingat jika pintunya baru saja dikunci dan saat ini kunci itu ada di kantong saku Eveline.
"Hahaha ... enggak bisa buka pintunya ya, dek?" ejeknya.
"Kak, tolong aku mau keluar. Urusan kita sudah selesai."
"Kata siapa?"
Olivia tercekat saat menatap kakak tirinya sudah mengacungkan gunting tepat di bawah lehernya.
"Urusan kita belum selesai sampai kau menyetujui. Bukankah dari awal kau sudah tahu, aku bukanlah orang baik. Jadi, maaf jika aku ingin mengores sedikit lehermu sampai kau setuju untuk menggantikanku."
"Ka-kak jangan begitu!" Napas Olivia langsung ngos-ngosan. Sekujur tubuh tiba-tiba panas dingin, saat besi gunting itu sudah menyentuh kulit lehernya.
Olivia terlihat bingung, harus berbuat apa saat mengetahui sang Papa sudah merencanakan mengurus semua keperluan untuk pertunangan dan juga pernikahannya bersama Dion nanti. Bagaimana mau menikah kalau dirinya sudah memutuskan hubungan mereka, saat Olivia memergoki Dion sedang bercinta dengan seorang wanita di kamar mandi rumahnya.
"Ya Allah bagaimana ini." Olivia mengigit bibir bawahnya, berjalan mondar-mandir mencari solusi yang tepat agar dirinya bisa menceritakan kepada papanya tanpa harus menyakiti perasaan Papa David.
Sampai kapanpun Olivia tak akan pernah sudi jika harus bersanding dengan Dion, lelaki yang menodai cintanya bahkan hampir saja mengambil keperawannya. Jalan satu-satunya adalah Olivia harus mengatakan yang sejujurnya kepada sang Papa. Walaupun Olivia tak sanggup dengan apa yang telah dia putuskan itu.
"Pa." Lagi-lagi Olivia menggigit bibir bawahnya, terlihat sekali kalau dirinya sedang gugup saat ini saat menghampiri Papa David.
"Iya kenapa, Sayang. Apakah kamu ingin menambahkan sesuatu di acara pernikahanmu nanti?" tanya sang Papa dengan tersenyum sambil melepaskan kacamatanya.
Olivia menggelengkan kepalanya, membuat Papa David mengernyitkan keningnya, bingung. Saat ini keduanya sedang berada di ruang keluarga sedangkan Mama tiri dan saudara tirinya masih sibuk di kamar mereka masing-masing.
"Kenapa? Jangan bilang kamu ingin mengurus pernikahanmu sendiri," tebak Papa David dengan senyum menggoda.
"Bukan, Pa." Olivia menggelengkan kepalanya lagi, membuat Papa David lagi-lagi bingung dengan ucapannya itu.
"Lalu?"
"Pa, bisakah pernikahanku dengan Dion dibatalkan saja?" cicit Olivia seakan takut menyakiti perasaan papanya tapi, dia juga tidak bisa meneruskan pernikahannya setelah apa yang Dion lakukan padanya.
"Jangan bikin Papa syok dengan gurauanmu itu. Ingat sebulan dari sekarang acara pertunanganmu lo, dan bulan depannya kalian resmi menikah," lontar Papa David menanggapi ucapan Olivia tadi hanya sebagai gurauan semata.
"Aku serius, Pa. Aku ingin membatalkan pernikahanku dengan Dion."
"Maksud kamu apa, Olivia?" sentak Papa Dion dengan rasa terkejutnya dengan penuturan Olivia yang ingin membatalkan pernikahannya.
"Sepertinya hubunganku dengan Dion sudah tidak bisa dipertahankan lagi, Pa. Aku sama Dion sudah putus. Jadi, lebih baik kalau pernikahan kami dibatalkan saja." Olivia menundukkan kepalanya tanpa melihat wajah papanya yang saat ini masih terlihat menahan kemarahannya.
"Jangan main-main, Olivia pernikahan kalian sebentar lagi digelar dan kamu dengan seenaknya mengatakan itu pada Papa. Bahkan Papa sudah mengurus semua keperluan pernikahanmu dengan Dion."
"Aku serius, Pa. Pernikahanku dengan Dion gak mungkin dilaksanakan kalau hatiku sudah tidak menginginkan Dion lagi," terang Olivia dengan sungguh-sungguh. Tekadnya sudah bulat ingin membatalkan pernikahannya.
"Sepertinya ada yang kamu sembunyikan dari Papa." Olivia terlihat terkejut dengan penuturan papanya itu.
"Ceritakan pada apa yang telah terjadi, sampai kamu memutuskan untuk membatalkan pernikahanmu dengan Dion," ucap papa David lagi dengan tatapan menyelidik. Sebagai orangtua yang telah merawat Olivia sedari kecil, David bisa merasakan kalau ada yang sedang disembunyikan Olivia darinya. Terlihat dari tatapan mata Olivia yang selalu menghindar saat berbincang dengannya.
Sebenarnya berat bagi Olivia mengatakan keburukan Dion di depan papanya. Seakan takut jika nantinya malah membuat Papa David terkena serangan jantung jika Olivia tetap memaksa mengatakan yang sejujurnya pada papanya itu. Namun, di sisi lain dia juga tak selamanya menyembunyikan ini semua karena kebenaran lama kelamaan pasti akan terkuak juga. Begitu juga dengan kisah percintaannya dengan si brengsek Dion.
"Jujur sama Papa ada apa? Tidak mungkin kamu membatalkan pernikahan ini kalau gak ada penyebabnya. Sedangkan yang Papa tahu kalian telah lama berhubungan, bahkan kalian terlihat mencintai satu sama lain," ucap Papa mencoba tenang.
Olivia akui selama dua tahun menjalin hubungan dengan Dion. Tak pernah sekalipun Dion memperlakukan dirinya dengan kasar. Bahkan Dion begitu menghormati keputusannya yang hanya mau disentuh setelah mereka resmi menikah. Dan, selama ini gaya pacaran mereka hanya sebatas pegangan tangan saja tak lebih dari itu.
Namun, semuanya sirna sudah ketika Olivia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Dion sedang bercinta dengan wanita lain di kamar mandinya, ketika Olivia bertandang ke rumahnya. Melihat Olivia yang hanya terdiam tanpa menanggapi ucapannya, membuat Papa David kembali bertanya.
Olivia menghela napasnya sejenak kemudian mulai menceritakan alasan dibalik penolakannya untuk tidak lagi meneruskan pernikahannya dengan Dion. Mulai dari dirinya yang bertandang ke rumah Dion, kemudian mendengar suara desahan yang bersahut-sahutan di kamar mandi saat dirinya mencoba masuk ke kamar Dion. Hingga sampai Olivia memergoki Dion sedang bercinta dengan wanita lain.
"Apa! Jadi, dia berselingkuh dengan wanita lain, bahkan mereka sempat melakukan hubungan seks? Sungguh menjijikkan" geram Papa David membelalakkan matanya seketika saat Olivia bercerita alasannya ingin membatalkan pernikahannya.
"Tidak hanya itu saja, Pa. Bahkan, David juga hampir mau menodaiku, waktu aku memergokinya dan meminta putus karena aku merasa sudah tidak mempertahankan hubungan kami," aku Olivia dengan air mata berkaca-kaca ketika mengingat bagaimana saat Dion mencoba menghalau jalannya, dengan mencengkram tangan Olivia dan memeluknya erat. Bahkan saat itu Dion ingin mengambil keperawannya.
"Lancang sekali dia perbuat begitu sama anakku? Apa Dion tidak bisa sebentar saja menunggu sampai kalian resmi menikah?" lontar Papa David dengan wajah kesal sambil mengepalkan tangannya.
"Ada apa ini, kelihatannya kalian serius banget," tegur Mama Ratna tiba-tiba muncul bersama Eveline di belakangnya.
"Olivia membatalkan pernikahannya dengan Dion," terang sang Papa yang langsung membuat Mama Ratna terkejut seketika tapi, tidak dengan Eveline yang tersenyum dengan penuh arti.
"Kenapa? Bukannya sebentar lagi kalian akan bertunangan? Bahkan acara pernikahannya juga akan digelar tak lama setelah kalian tunangan?" cecar Mama Ratna seakan ingin tahu alasan Olivia yang ingin membatalkan pernikahannya.
"Dion selingkuh, Ma. Saat itu aku memergokinya sedang bercinta dengan wanita lain di kamar mandi. Bahkan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat keduanya asyik bergumul di kamar mandi."
"Jangan mengada-ada kamu, Oliv selama ini dia begitu menghormati kamu mana mungkin dia tega melakukan itu padamu," tukas Mama Ratna menggelengkan kepalanya seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan Olivia itu.
"Jadi, kamu menganggap putri kita berbohong gitu? Papa begitu mengenal Olivia mana mungkin dia berbohong soal ini. Apalagi masalah ini juga menyangkut dirinya sendiri," geram Papa David dengan membeliakkan matanya.
"Tapi, Pa." Papa David mengangkat salah satu tangannya agar Mama Ratna tak menyudutkan Olivia. Dia tahu di lubuk hati Olivia yang paling dalam pasti begitu kecewa dengan pengkhianatan yang dilakukan Dion itu.
"Kenyataannya memang seperti itu, Ma. Mana mungkin aku mengada-ngada dengan masa depanku sendiri. Namun, aku bersyukur bisa mengetahuinya sekarang. Coba kalau kami jadi menikah dan aku baru mengetahui perselingkuhannya itu, mungkin hatiku akan bertambah sangat kecewa dengan tingkah Dion yang menjijikkan itu."