"Lima puluh... Bang, Mas, sini aja lima puluh udah sama kamar full servis!"
"Sini aja, tiga ratus, tiga hari tiga malam!!"
Melambai-lambai, berteriak, menghalangi pengendara di jalanan temaram, para wanita-wanita tersebut bak menawarkan dagangan pada si pembeli. Bukan dagangan biasa yang mereka gadaikan, melainkan tubuh mereka sendiri.
Era saat ini memang sangat sulit hanya untuk bertahan hidup. Apalagi untuk rakyat biasa seperti gadis-gadis malang itu. Terlahir dari keluarga yang minim pendidikan juga sangat condong pada tradisi zaman kuno, membuahkan hasil yang sangat diluar prediksi. Anak-anak yang kehilangan edukasi dini, kini berpetualang di dalam gelapnya realita. Terbiasa, hingga tidak ada lagi keluhan pada dunia. Merasa bebas, bahkan tidak ada tangis jika banyak ucap yang terkadang menancap dada.
Salah satu dari gadis malang itu adalah Andara. Gadis berambut panjang, berwajah bulat, dengan mata yang mengkilap. Tinggi tubuhnya umum orang Indonesia. Yang membuat Andara terasa seperti bukan orang lokal, adalah warna skin tonenya. Putih bersih tidak ada noda sedikit pun. Itulah yang kadang membuat orang-orang salah menebak negara kelahiran Andara.
"Mas, lima puluh aja nih. udah ful servis!" ujar Andara, kala mobil berwarna hitam melambatkan laju kendaraan di depannya. Andara melirik ke dalam mobil lewat kaca. Masih terdengar memaksa si empunya mobil untuk menerima tawarannya.
"Lima puluh aja. Bebas deh mau gaya apa aja. Cus... gue pesanin kamarnya," ucapnya lagi, usai kaca mobil turun.
"Maaf?" ucap sosok pria yang ada di belakang setir, bingung.
"Duh ribet banget sih, lu! Mau apa nggak nih? Kalau nggak biar gue cari yang lain!" cerocos Andara sewot.
Sosok pria berkacamata bening di sana tetap saja bergeming. Sebelum akhirnya dia menangkap sesuatu hal yang asing di depan matanya, yakni kumpulan para wanita yang berbaris di jalanan menghentikan para pengendara terutama para kaum adam. Lantas pria itu kembali melirik Andara di sampingnya yang kelihatannya masih menunduk.
"Baiklah, saya pesan," ucap pria itu kemudian.
"Nah gitu dong. Jangan banyak mikir. Mau berapa malam nih? Biar gue pesanin kamarnya." Andara bertanya dengan nada nakal.
"Hm... satu malam saja. Berapa yang harus saya bayar?" jawabnya sambil bertanya.
"Lu kaya tapi bloon ye. Udah gue bilang satu kali main itu lima puluh doang. Kalau dua ya kali aja. Gimana sih?" kesal Andara. Gadis itu beralih mengibaskan tangannya. "Udah, jangan banyak mikir. Lu parkirin mobil aja dulu, abis itu masuk ke dalam hotel. Ntar gue bilangin sama si mbaknya buat nunjukin di mana letak kamar kita. Gue prepare dulu. takut lu kecewa ntar. Oke?"
Andara segera berlari kecil masuk ke dalam gedung yang tak terlalu besar. Di dalam box lampu yang di pajang di sana, tertera nama hotel Yara yang memfasilitasi dua belas kamar. Kembali mata legam milik pria itu menatap ke muka gedung, yang mana baginya lebih layak tempat untuk peliharaannya.
Sesuai apa kata Andara tadi, pria tersebut mendaratkan mobilnya di tempat parkir yang tersedia. Dia mulai berjalan memasuki hotel yang seadanya. Namun, belum juga dibungkus seluruhnya ke dalam gedung tersebut, sang pria di hentikan oleh dering ponsel. Dia menjeda langkah, guna melihat siapa yang menghubunginya di jam tidur seperti ini.
"Ada apa?"
"Kau sedang tidak di rumah?" tanya sosok di seberang telepon.
"Katakan saja, apa yang kamu mau kali ini?" Suara datar pria itu terdengar begitu berat.
"Aku akan ada pertemuan dengan salah satu anak perusaan yang akan menjalani kerja sama dengan Dubai Mall. Aku hanya mau mengatakan, kalau aku tidak akan pulang selama dua hari. Aku hanya khawatir ada yang mencariku," jelas si lawan bicara.
"Lagi? Kamu baru pulang pagi tadi, bagaimana bisa kamu pergi lagi?"
"Sudahlah, Risyad! Lakukan apa yang kau mau. Selama ini juga kan seperti itu. Kenapa kau terlihat tidak setuju kali ini?"
Pria bernama Risyad tersebut memijat pelipisnya seraya menghela napas begitu berat. Tampaknya sangat lelah dengan jawaban demi jawaban yang sang lawan lontarkan.
"Aku ini suamimu, kapan kamu akan bersikap layaknya seorang istri?" tanya Risyad lagi, mencoba berdamai dengan nada perang intonasi suaranya.
"Memangnya siapa yang tidak mengakui kalau aku ini istrimu?"
"Shama, bukan begitu."
"Sewa saja perempuan jika kau memang membutuhkannya. Aku sudah bilang, aku tidak akan melarang apa pun, asalkan permainanmu terlihat cantik. Sudah cukup, aku mau istirahat dulu. Selamat malam."
Panggilan terputus. Risyad nyaris saja membanting ponsel, jika tak ingat tentang perjanjiannya barusan dengan gadis yang tidak dia kenali sebelumnya.
Sesabar apa pun Risyad menghadapi istrinya, tetap saja ada perasaan gusar dalam dada. Sudah dua tahun dia menikahi Shama, tapi tetap saja Risyad tidak pernah mendapatkan haknya sebagai seorang suami. Sampingkan tentang hak biologis, untuk sekadar dicintai balik oleh shama saja tidak pernah dia dapatkan.
Risyad mengembuskan napas cukup berat. Sadar akan janjinya tadi, laki-laki pemilik mata legam mengkilap itu pun berjalan menuju tempat yang gadis itu katakan. Sesuai pesan apa yang tadi dia dapatkan. Ada seorang karyawan hotel yang menyuruh Risyad untuk datang ke kamar nomor sembilan di lantai tiga. Meski tak ada niat sama sekali untuk melakukan hal ini, nyatanya Risyad terlanjur gerah akan keadaannya hingga dia memutuskan untuk mencari ketenangan.
Kamar nomor sembilan kini ada di depan matanya. Tak harus mengetuk harusnya, hanya saja, Risyad terlahir dari keluarga konglomerat yang menjunjung tinggi etika dasar. Jika bukan kamar atau rumahnya, maka ruangan yang harus dimasuki harus diketuk lebih dulu.
"Masuk aja, Bwaaanggg...." seru gadis dari dalam sana. Nada bicara itu ... nakal.
Risyad sempat menaikkan alisnya, entah merasa jijik atau sekadar geli mendengar sahutan itu. Begitu tangannya memutar kenop pintu dan membiarkan sepasang matanya menatap ke dalam sana, tiba-tiba saja pria tinggi itu tersedak ludahnya sendiri begitu mendapati potret Andara yang sedang berbaring di atas ranjang dengan busana malam pertama ala pengantin baru, ditambah gaya sensual yang dibuat-buat.
"Apa-apaan ini?" Risyad jadi bingung. Dia buru-buru menggeleng cepat sambil menutup pintu kamar mengurung niat untuk masuk. "Shit! Ini salah Risyad, ini tidak benar!"
Bersamaan dengan kekhilafan yang muncul entah dari mana, tiba-tiba saja dering ponselnya terdengar lagi. Risyad segera menjawab panggilan lantas segera berlari dari tempatnya usai mendengar pernyataan dari seseorang di balik telepon. Dia meninggalkan Andara yang sudah bersiap, dan juga sudah menghabiskan modal untuk memesan kamar.
Segera mungkin Andara beranjak dari tempatnya, begitu melihat Risyad tak jadi masuk. Andara sempat melihat kepergian Risyad yang terlalu cepat. Bahkan pria itu pergi tanpa membayar lebih dulu atau bahkan tanpa embel-embel pamit. Sial! Andara kena tipu lagi?
"Anjir... main pergi aja dia. Woiiii bayar dulu! Dasar cowok, Anjing!" pekik Andara, marah.
"Anjirlah, lu nggak tau apa seberapa kesal gue? Masa gue udah booking kamar sama pesan makanan, eh nggak taunya si cowok nggak tau diri itu malah kabur. Emang gilak tuh orang. Harusnya bilang dari awal kalo emang kere. Bayar kamar 150 aja mikirnya kejauhan. Dasar cowok nggak guna. Sialan!"
Andara bersungut-sungut atas kejadian yang baru saja dia alami. Di temani sang sahabat yang memang sengaja datang hanya untuk mendengar celotehan Andara ini, benar-benar sukses membuat telinga temannya itu terasa bengkak.
"Udah sih, ngapain marah-marah coba? Sesuai apa kata elu, kamar cuma 150, kan nggak rugi-rugi amat. Doa'in aja ntar malam dapat job lagi. Biasanya, kan malam Minggu gini banyak tuh yang nangkring di lampu merah. Nggak usah kesal, udah! Kayak nggak ada lakik lain aja," tanggap Missa, mencoba menenangkan.
Andara seketika saja meringis mendengarkan kata-kata Missa tadi. Apa katanya? Berdoa? Andara bergidik lucu untuk yang itu.
"Terus gimana sekarang? Lu ada job nggak? Karena uang gue udah habis nih buat booking kamar," tukas Andara sambil melorotkan kimononya. Meninggalkan celana pendek juga tank top yang mencetak tubuh.
"Duh, gue juga bingung nih, Dar, dapat uang dari mana ya? Mana besok kita harus bayar kosan lagi. Ya dewa... capek banget hidup jadi orang. Pengen jadi bintang gue kadang-kadang," sahut Missa ikut mengeluh. Berbeda dengan Andara, Missa lebih memilih merebahkan tubuh di atas kasur hotel seharga kipas angin hadiah pasar malam.
Andara yang baru saja ingin menyapu kulitnya dengan body lotion, tiba-tiba saja di interupsi oleh pesan singkat yang muncul di layar ponselnya. Penasaran, buru-buru dia meraih benda persegi tersebut guna melihat pesan siapa yang baru masuk.
'Lun, ada job nih buat lu. Datang ke kafe sekarang, buru! Banyak konglomerat di sini. Jangan sampe kehabisan!'
"Alhamdulillah... Akhirnya kita kebagian rejeki, Mis. Wuuuu..." serunya setelah selesai membaca pesan singkat tersebut.
Missa sontak saja melirik Andara dengan kepala yang meneleng. "Segila-gilanya gue, lu lebih stres, Dar. Job haram di katain Alhamdulillah. Nggak-nggak memang lu." Alih-alih ikut senang, Missa justru lebih tertarik mengomentari kata-kata Andara yang di luar galaksi.
Lagi-lagi, Andara hanya nyengir kuda. "Biasa lah Sis, namanya juga refleks," jawab Andara tidak kehabisan kata-kata.
Missa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru teringat lagi akan job yang baru di katakan Andara tadi.
"Oh iya, job apaan yang lu maksud tadi? Berapa orang nih? Biar gue bisa siap-siap setel badan. Duh... capek Gusti olahraga malam-malam," tanyanya tak luput dari keluhan.
"Nggak tau gue. Kata si Kon tadi banyak pengusaha konglomerat. Belum tau juga sih, mau apa nggak. Kita coba-coba aja dulu. Kalo emang iya semua tuh laki-laki orang kaya, gue jabanin dah sampe pagi juga. Asal besoknya gue bisa belanja di Dior plus LV. Huff... nggak sabar banget njirr..." angan Andara membayangkan hasil yang akan dia dapatkan.
"Ya udah, buruan! Kita ke sana sekarang. Kali ini gue nggak akan buka harga lima puluh, tapi lima juta!" tukas Missa, ikut semangat.
"Gue lima puluh aja sih. Asal ada bonus sekali servis," tanggap Andara yang lantas tertawa.
***
Sesuai agenda juga lokasi yang di berikan Konen—masih satu kolam dengan Andara—kedua perempuan itu sudah tiba di lokasi. Kafe Yara yang terletak di bagian sudut kota. Lumayan terkenal di kalangan anak-anak bebas seperti mereka.
Andara langsung saja melengos masuk ke dalam, mencari keberadaan Konen. Sepertinya benar apa kata laki-laki itu, di sini sedang banyak terdampar para laki-laki usia matang dengan setelan jas yang mewah. Tidak salah lagi, mereka pasti si pria dengan uang berlimpah.
"Woi Kon, gimana?" seru Andara begitu melihat wajah lebar laki-laki itu.
"Sini buruan!" Konen menarik tangan Andara yang di belakangnya ada Missa yang turut mengekori. "Lu pada tau nggak? Usut punya usut, ternyata semua orang-orang yang lu liat di sana itu masih sebatas kacung alias pesuruh. Si Tuan yang memfasilitasi semua ini belum muncul. Katanya akan tiba dua puluh menit lagi," kata Konen begitu situasi terlihat aman.
"Benaran, Cok? Gilak, gilak, nggak kebayang seberapa banyak tuh duit si Tuan Kacung. Tapi tujuan dia ke sini mau ngapain? Jangan bilang dia mau berantas kafe Yara? Bisa jadi kuman kita kalau kafe ini di bongkar," tanggap Andara.
"Anjai... tumben-tubenan lu punya pikiran kritis macam gitu. Biasanya biar Intel yang datang juga lu jabanin," komentar Missa, sangat tahu tabiat temannya itu.
"Udah-udah!" Konen mengibaskan tangan. "Dengerin gue. Gue dapat kabarnya dari teman gue salah satu orang yang nunjukin kafe Yara buat bahan pertimbangan untuk Si Sultan. Kalian tau nggak, dia mau cari apa ke sini?"
Andara dan Missa kompak menggeleng.
"Dia mau cari cewe yang bisa di bawa ke Dubai sono. Buat di jadiiin teman tidur tiap malem. Katanya sih gitu. Kalau emang iya, kalian berdua daftar aja. Kan lumayan tuh tinggal di Dubai. Siapa tau juga biaya hidupnya di penuhi oleh si Sultan. Gimana?" sambung Konen menjabarkan informasi yang dia dapatkan.
"Dubai?" beo Andara.
"Iya Dubai. Nih orang berasal dari sono. Bukan main lagi tuh dompetnya. Gas ajalah. Rejeki nomplok ini mah," sahut Konen, tidak berhenti sumringah.
"Gimana sama lu? Mau?" tanya Missa pada Andara.
"Gimana ya, gais... gue ikut nggak nih?" gumam Andara, malah jadi bingung sendiri.
"Udah coba aja. Siapa tau beruntung," sahut Missa membungkus dalam-dalam keraguan Andara.
Beberapa menit mencoba menimbang segala sesuatu tersebut, akhirnya yang di tunggu-tunggu pun memunculkan batang hidungnya. Dari jarak ketiga sahabat itu, dapat mereka lihat bagaimana orang-orang mendadak hormat pada sosok yang baru saja muncul. Ya, tidak salah lagi, pasti dia si Sultan Dubai yang dibicarakan.
**
Andara memilih ikut mendaftarkan diri sebagai calon yang akan di bawa ke Dubai. Dia sudah mempersiapkan diri dengan tampilan paling anggun yang dia berikan. Konen dan Missa tak luput membantu persiapan Andara untuk bertemu dengan si Sultan tersebut.
Hingga tibalah di puncaknya. Seluruh perempuan yang mencalonkan diri, berbaris di depan si Sultan yang sedang duduk di sofa sambil menaikkan satu kakinya di kaki yang lain. Matanya begitu datar mengeja satu-satu wajah-wajah perempuan di depannya.
Hampir saja Andara terlambat. Di barisan paling ujung dari arah mata si Sultan menyisir, buru-buru Andara menempati posisi. Dia merapikan lebih dulu rambutnya sebelum akhirnya sepasang mata yang penasaran dengan rupa si Tuan Kacung itu, menetap pada pahatan wajah yang menurutnya tidak asing.
"Kamu saja yang ikut saya. Yang lain boleh pergi," kata pria kaya itu persis saat matanya mengarah pada Andara.
Kaget semakin kaget perasaan Andara, kala dirinya terpilih. Sosok yang ada di depan Andara saat ini adalah laki-laki yang kabur waktu itu saat kamar dan makanan sudah di pesan. Tapi siapa sangka? Kalau dia ini ternyata seorang Sultan Dubai yang di incar banyak perempuan mata duitan.
"Gue pikir lu orang miskin. Rupanya kaya," ucap Andara pada pria di depannya. Keduanya sedang duduk disalah satu meja di Kafe.
Pria itu tidak menanggapi. Dia justru memberikan satu lembar kertas dibungkus map di atas meja pada Andara.
"Baca kontraknya. Setelah itu, tandatangani. Lusa kita berangkat ke Dubai." Pria di sana menjelaskan secara singkat.
Andara menurunkan pandangan dari wajah Risyad ke meja. Jemari lentiknya meraih kertas yang katanya berisikan kontrak. Andara mana paham tentang beginian. Dia hanya sedang berpura-pura elegan saja, agar nanti terlihat sepadan dengan apa yang akan ditawarkan oleh si pria.
"Buset! Ini tulisan apa mantra? Mana ngerti gue astaga..." gumamnya dalam hati, begitu melihat bacaan dikertas.
"Duh maaf ya, gue cuma paham bahasa asing, Korea Selatan. Yang lainnya gue kurang ngerti," kata Andara sembarang sambil meletakkan kembali kertas ke posisi awal.
"Nae jib-e meomulmyeonseo maeil bam naleul manjogsikyeo jusibsio."
Andai saja Andara sedang ada di dunia kartun, pasti saat ini mulutnya sudah terjatuh ke bawah saking tercengangnya. Dia beralih meringis kecil seraya menggaruk kepala yang tidak gatal sama sekali.
"Iya, iya, gue ngalah! Gue ini norak. Nggak bisa apa-apa. Lagian kenapa sih harus pake kontrak-kontrak segala? Ribet tau, nggak? Kalo emang kerja ya langsung kerja aja. Ngapain buang-buang tenaga buat ngetik banyak huruf nggak jelas gini," sungut Andara akhirnya mengubah diri ke setelan pabrik.
"Kontrak kerja sama itu dibutuhkan agar dua belah pihak bisa saling menjaga kesepakatan. Jika kontrak tidak ada, sangat minim kepercayaan yang didapat," jelas si pria.
Andara hanya mengangguk-angguk sok paham.
Oh Jadi begini cara orang kaya bekerja? Semuanya perlu diperhatikan. Segala kontrak juga harus ada. Duh jadi bingung, ntar kalau gue jadi orang kaya, bisa nggak ya bikin kontrak gini juga? Hati Andara berbicara, berkhayal menjadi orang yang sama dengan si pria.
"Ya udah, gue ngikut aja mah. Nggak usah banyak naninuneno. Yang penting ada uang gue kerja. Nggak usah ragu sama gue. Gue orangnya bisa di percaya. Lu aja yang kemarin kabur, padahal kamar udah gue booking. Mana rugi 150 rebu lagi." Andara masih ingat tentang kejadian malam itu.
"Saya akan mengganti kerugian kamu. Yang penting saat ini, kamu memahami dulu apa tugas kamu setelah tiba di Dubai."
"Tugas apa aja emang?" tanya Andara penasaran.
"Buat istri saya cemburu."
Andara hampir saja tersedak ludahnya sendiri begitu ucapan pria di depannya terlontar. Gadis dengan busana tanpa lengan tersebut, membulatkan matanya tidak percaya.
"Apa? Nggak, nggak, nggak! Gue malas ribut sama perempuan. Apalagi seorang istri. Mulut mereka tuh kayak kereta api, nggak mau diem. Malas gue ngeladeni istri orang. Nggak, gue nggak mau!" Andara tak berpikir dua kali untuk menolak.
"Dia berbeda dengan perempuan lain. Saya akan bayar 1000 dollar per satu hari. Kamu tinggal di rumah saya selama satu bulan saja. Setelah itu, kontrak selesai," bujuk pria di sana.
"Seribu dollar berapa tuh kalau di rupiahin?"
"Sekitar lima belas juta, kurang lebih."
Langsung saja Andara membekap mulutnya sendiri begitu mendengar nominal yang akan dia terima. Buset... 15 juta? Per hari? Di kali 30 berapa juta yang dimiliki Andara? Gadis itu menggeleng-geleng takjub.
"Oke, deal! Gue jabanin dah bini lu. Mau kayak kuntilanak sekali pun, nggak bakal takut gue. Asal lu memang nepatin janji buat bayar gue segitu. Awas kalo lu boong!" ancam Andara dengan jari telunjuk yang mengacung tajam.
"Saya akan tambahan jika istri saya benar-benar bisa cemburu sama kamu," tambah pria itu lagi.
Semakin mengawang angan-angan Andara akan rupiah yang merajalela. Kalau begini keadaannya, mungkin Andara tidak akan melelang diri selama beberapa tahun ke depan.
"Oke, setuju. Serahin aja sama gue," seru Andara, tanpa beban sama sekali.
**
Risyad menyiapkan beberapa kepentingan Andara yang akan ikut terbang ke Dubai bersamanya. Risyad baru tahu kalau Andara rupanya hanya lulusan SMA. Tapi walau pun begitu, Risyad tetap memilih Andara untuk dia jadikan bahan agar istrinya bisa 'melihat' dirinya sebagai seorang suami. Sudah cukup lelah rasanya ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan dari istrinya sendiri.
"Kamu sudah pahami apa saja yang akan kamu lakukan sesudah sampai di Dubai?" tanya Risyad. Keduanya baru saja naik mobil menuju bandara.
Andara sempat berpamitan pada Missa juga Konen. Meski dibalut kata-kata yang minim bau perpisahan, namun tak bisa ditutupi oleh Andara bahwa hatinya akan benar-benar rindu pada teman seperjuangannya itu.
"Belum. Kan belum lu masukin bahasa yang bisa gue pahami. Mana bisa gue bahasa alien kayak gitu. Lu kaya tapi bloon, ye," tukas Andara, tak kenal sopan santun.
Risyad yang duduk di jok belakang, hanya bisa melirik tajam ke arah kaca spion depan mobil, yang mana Andara duduk di sebelah sopir. Andara mengangkat alisnya, terkesan menantang. Alih-alih paham akan apa yang hendak diperingati Risyad, justru tatapan lantang itu yang dia dapatkan.
Risyad menghela napas berat. "Dengarkan saya baik-baik." Laki-laki itu memulai. Andara hanya mengangguk sambil menatap jalanan di depan. "Sesampainya di sana, ubah caramu berbicara. Berikan sedikit tata krama pada lidahmu itu!"
Andara mendengar lalu mengerutkan keningnya. Sontak saja gadis berambut hitam legam itu menengok ke belakang, menatap Risyad penuh selidik.
"Woi! Lu mau apain gue sih sebenarnya? Mana ada luntie kayak gue cara bicaranya aja harus di atur. Gilak lu?" protesnya.
"Pelankan suara kamu. Jangan sekali-kali berbicara keras seperti ini saat di rumah saya nanti."
"Udah deh. Nih ya gue jelasin sama lu, gue ini cewek yang nggak suka di atur. Apalagi tata bicara harus lemah lembut, mana bisa gue. Kalo lu mau ngatur gue, atur pas kita lagi di ranjang! Dengar lu?"
"Tapi saya menyewa kamu bukan untuk bermain di atas ranjang. Jangan salah menyimpulkan dulu."
Andara semakin di buat tidak paham akan laki-laki aneh ini. Bukannya dia mencari perempuan asing untuk dijadikan bahan di atas ranjang? Terus, kalau bukan ingin bermain, lantas apa?
"Tunggu-tunggu! Lu mau jual gue? Anjirr, bangsat lu! Kok gue baru kepikiran sekarang?" Asumsi Andara memakasanya menghentikan laju mobil.
Gadis itu memukuli si sopir dengan membabi buta, membuat mobil sempat hilang kendali. Nyaris saja mobil itu menyerempet pengendara lain, jika tak secepatnya si sopir mengambil alih kembali.
"Stop!" teriak Risyad. Andara tiba-tiba tertegun. "Kamu mau bunuh kita bertiga?" lanjutnya dengan wajah memerah, marah.
Andara yang sudah dibungkus kilat kemarahan efek dari asumsinya tentang Risyad, langsung saja turun dari mobil.
"Pergi lu sana! Fuck you, bitch!!" umpat Andara dengan wajah geram, tak lupa mengacungkan dua jari tengahnya ke arah jendela kaca Risyad.
Meski terlahir tak punya otak yang cerdas, namun sudah berulang kali pengalaman mengajari Andara. Banyak orang-orang kaya macam Risyad ini yang memberikan harapan palsu dengan iming-iming uang sebanyak-banyaknya. Tentu bukan hal baru untuk Andara paham tentang siasat Risyad. Sebelum dia menjadi budak di negara orang, lebih baik dia kabur meski tetap jadi budak di negerinya sendiri.
"Bagaimana dengan 15 jutanya? Dibatalkan?" kata Risyad kala kedua kaki jenjang Andara akan melangkah menjauh.
Sontak saja Andara berhenti. Dia menatap Risyad dengan sejuta bimbang dalam kepalanya. Diamnya Andara di posisinya, membuat Risyad memiliki waktu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Bukannya tadi malam kita sudah sepakat? Saya tidak akan menjual kamu. Lagi pula, untuk apa saya jauh-jauh mencari orang kalau hanya untuk dijual? Saya memiliki jutaan pelayan, untuk apa lagi satu orang sepertimu ini? Pun kalau kamu laku, berapa orang berani menebusmu?"
"Bangsat! Mulut lu kayak silet, anjirr! Tajam bener!" tanggapnya, sewot.
Risyad hanya mengangkat alisnya sekilas juga bersamaan dengan bahunya yang terkesan menyerahkan semuanya pada Andara.
"Naik dulu. Saya jelaskan lebih detail. Berhenti di trotoar seperti ini tidak baik."
Andara menghilangkan kekesalan juga asumsinya yang sempat panik tadi secepat kilat. Kakinya yang hendak menjauh, akhirnya tertarik lagi untuk mengikuti ucapan laki-laki itu. Tak butuh waktu lama, Andara sudah ada di dalam mobil lagi seperti tiga menit yang lalu.