"Ma. Buka pintunya dulu, Nak. Ayah mau bicara. Ma."
Dibarengi dengan rasa waspada. Ema, seorang mahasiswi tingkat akhir, mengangkat tinggi dua lututnya. Dalam genggaman gadis itu, ia mengeratkan pegangan pada sebuah gunting tua dengan ujung runcing. Siap untuk menghunuskan apabila sosok di luar nekat untuk membuka paksa pintu dan menemuinya.
"Pergi! Jangan ganggu gue," teriaknya memperingati.
"Ma ... Jangan kasar gitu dong sama Ayah. Ayo buka, ada yang mau Ayah bicarakan."
Ema tahu bukan itu maksud sebenarnya. Sepeninggalan ibunya, Sudar kian tak tahu diri. Laki-laki lima puluh tahun mata keranjang itu terus-terusan menggodanya. Memaksa Ema untuk melakukan hal yang tidak-tidak demi memuaskan hasrat bejat yang ia miliki.
Entah apa yang almarhum Ibunya dulu pikirkan. Sampai bisa menikah dengan sosok seperti Sudar. Laki-laki pemalas tak tahu diri yang suka main tangan. Kini setelah ketiadaan sang Ibu, Sudar kian menjadi dan bertingkah di luar akal, menggodanya dan mengajak untuk melakukan hubungan badan layaknya suami istri. Dasar edan!! Seperti sekarang contohnya.
"Ma .. ayo dong, Sayang. Ayah udah nggak tahan lagi nih. Kamu anak yang baik, kan Ayo turuti Ayah. Kamu juga pasti bakalan suka."
"Pergi! Pergi sialan! Atau gue bakal bunuh lo."
"Ema?"
"Pergi, pergi, pergi. Pergi lo dari sini."
Lama ditunggu, detik demi detik berlalu. Tak lagi terdengar suara Sudar yang menggoda dari balik pintu. Mungkin si tua keladi itu sudah pergi karena bentakkannya. Menyerah untuk menggoda anak kandung dari mendiang sang istri.
Namun, Ema tak bisa langsung bernapas lega. Keesokan pagi dan seterusnya. Sudar pasti akan kembali melakukan hal yang sama. Mengetok pintu kamar dan menggodanya dengan kalimat-kalimat menjijikkan.
Ema menggigit kukunya yang tumpul. Gelisah bercampur degup jantung yang keras. Serasa menggedor dada dan memaksa loncat keluar begitu saja.
Dia tak tahu harus melakukan apa lagi agar bisa tenang. Satu-satunya hal yang terpikirkan adalah, dia harus pergi dari rumah ini dan memulai kehidupan baru. Meninggalkan sang Ayah tiri sendirian bersama dengan sikapnya yang tak kunjung berubah.
Keesokkan harinya. Langit cerah, awan berarak membawa keteduhan bagi siapa pun yang bernaung di bawah. Jalanan ibu kota terasa seperti biasanya. Mobil mewah melesat memenuhi jalan. Juga bus yang mengangkut banyak penumpang.
Ema turun dari kendaraan yang ia tumpangi. Berjalan menggeret sebuah koper menuju alamat yang tertera, lokasi dimana sebuah rumah sewa dengan harga miring dan fasilitas yang cukup manusiawi.
Erina, salah satu teman kampusnya yang menawarkan tempat itu. Dia juga merupakan sahabat dekat Ema yang peduli pada apa yang menimpa Ema.
Namun sayang, Erina tak dapat menemani Ema untuk pergi ke alamat rumah yang akan dituju, karena sebuah kesibukan yang tak bisa ditunda dan sangat mendesak. Ibunya terkena kanker darah, jadi harus dirawat di rumah sakit. Ema memaklumi itu.
Jalan setapak, sebuah perkampungan dimana anak-anak usia delapan sampai sepuluh tahun tengah bermain layang-layang terlihat. Berlarian kesana kemari untuk menerbangkan kertas yang telah dirakit sedemikian rupa. Sambil tertawa menyebut nama temannya.
Ema menyuguhkan senyum tipis tatkala melewati seorang perempuan tua yang mengunyah sirih, rambutnya memutih, disanggul sederhana. Dia menatap dengan tatapan tak biasa ke arah Ema yang sedang lewat.
"Siang Mbah, numpang lewat, ya."
"Mau kemana, Nduk?" tanya Si Mbah.
Ema sesaaat menghentikan langkah demi kesopanan. "Nyari rumah sewa."
"Rumah sewa dimana? Di sini nggak ada rumah sewa, mending koe pulang aja, ngapain ke sini. Cari rumah lain."
Ema tampak diam sesaat. Ia memeriksa catatannya, lalu kembali menatap pada nenek tua itu. "Saya mau ke rumah sewa punya Buk Yati."
"Rumah Yati?" tanyanya balik. Nenek tua itu masih sibuk dengan sirihnya yang sudah hampir menghitam. Mengumpulkan liur di mulut lalu meludahkannya ke tanah. "Nggak ada di sini yang namanya Yati. Mending koe pulang. Pulang aja sana. Pulang!"
Ema meringis. Dia mengangguk sekali dan meneruskan perjalanan, sementara nenek tadi kembali mengunyah sirih, menyerap sari patinya yang sudah hampir tak bersisa.
Lanjut menyusuri jalanan, seolah tak memperdulikan peringatan yang ada. Ema menemukan sebuah petilasan di pinggir jalan setapak yang ia lalui. Petilasan sendiri adalah istilah yang diambil dari Bahasa Jawa, suatu tempat yang pernah disinggahi atau didiami oleh seseorang (yang penting).
Terdapat pohon beringin yang tumbuh di halamannya, dilihat dari ukurannya yang tak biasa, dengan cabang pohon yang sudah mekar dan menutupi akses cahaya matahari untuk masuk. Pohon itu diperkirakan sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun lamanya.
Tepat di bawah, di salah satu cabang dahan, terdapat ayunan tua yang terlihat sudah usang. Sepertinya dahulu sering dijadikan tempat anak-anak bermain. Ema membayangkan momen ketika anak-anak masih ramai mengunjungi tempat ini, mungkin kelihatannya tidak seseram sekarang.
Roda zaman telah berlalu, masa itu tertinggal jauh dan kini yang tersisa hanya saksi bisunya saja.
Tiba-tiba angin berembus kencang, menerbangkan anak rambut Ema sehingga menampakkan sedikit dahinya yang putih. Rasa dingin ganjil menyengat serasa merayapi tubuh. Perempuan itu menggosok tangan berkali-kali, lalu mendongak ke atas memperhatikan cabang-cabang beringin besar yang menjadi markas bagi kelompok bryophyte, atau nama umumnya lumut.
Daun berguguran, jatuh dan menutupi tanah serta akar pohon yang mencuat.
Perasaannya mendadak kalut. Di antara kesadaran atau tidak. Ema bisa mendengar semancam bisikan halus yang berada di daun telinga. Berkata dalam bahasa yang baru kali ini ia dengar.
Namun anehnya, Ema mengerti.
Sosok tak kasat mata yang membisikkan sejumput kalimat itu seolah menyuruhnya untuk mendekat dan mengikis jarak menuju lokasi yang akan ia datangi. Mempercepat menemuinya untuk membebaskan sebuah kekang agar bisa mengembalikan kekuasaan yan sempat padam.
"Udah gila apa, ya, gue. Masa gue ngerasa ada yang bisikin sih?" Perempuan itu mengedar pandang. Memeriksa barang kali ada seseorang yang luput dari matanya dan sedang berbicara. Namun, tak ditemukan siapa pun atau apa pun.
Lanjut melangkah. Ema dengan susah payah menggotong koper besar miliknya meninggalkan pohon itu. Tak ingin berlama-lama karena perasaannya berkata ia harus segera pergi dari tempat ini.
Tanpa Ema sadari. Sesosok makhluk kecil dengan tubuh ringkih sedang mengayun-ayunkan diri pada ayunan tua di cabang pohon. Menyeringai lebar menampakkan gigi-giginya, tangan-tangan keriput dan pucat menggenggam erat tali yang menyangga ayunan. "Ndoro ayu sudah datang," katanya. Lalu dalam sekejap, sosok itu hilang bersama tiupan angin.
Perjalanan dengan track yang cukup sulit akhirnya berakhir. Ema tiba dengan napas sedikit tersengal di depan sebuah rumah berukuran sangat besar dan mewah pada zamannya.
Seperti istana namun dengan kearifan lokal yang membuatnya tampak sangat eksentrik.
Ema memeriksa alamat rumah di secarik kertas yang ia bawa. Memastikan bahwa ia tak salah tempat.
"Bener kok ini. Gue kira rumah sewanya, ya, beneran berbentuk rumah, tapi ini kayaknya bukan rumah deh. Apa gue dikerjain sama Erina? Sialan tuh orang kalau emang iya."
Bingung dengan langkah apa yang harus diambil. Ema akhirnya mencoba mengetuk pintu rumah, memanggil sosok penghuni di dalam yang ia ketahui bernama Bu yati.
"Selamat siang. Permisi, hallo," panggilnya.
Detik berlalu, berganti menjadi menit. Ema menghela napas masih menunggu dengan sabar panggilannya mendapat sambutan. Dicoba untuk yang kedua kali karena berpikir, mungkin saja pemilik rumah tidak mendengar apa yang ia ucapkan.
"Hallo, permisi. Selamat si—" belum selesai salam yang ia ucapkan, pintu dengan kusen kayu megah dan ukiran rumit terbuka. Menampilkan seorang perempuan paruh baya dengan raut wajah ramah.
"Siapa, ya?"
"Emm. Saya mau nyewa di rumah ini. Ini benar, kan, rumahnya Bu Yati?"
Sosok yang sedang diajak bicara mengulas senyum lembut. "Oh, iya, Nduk. Bener, saya sendiri Bu Yati. Sampean mau nyewa di sini?"
Ema mengangguk dua kali dengan gerakan ragu.
"Kebetulan masih ada tiga kamar lagi yang kosong. Ayo masuk, saya antarkan."
"Lho, ini kos-kosan, ya, Bu? Saya pikir ini tadi rumah sewa tunggal."
Bu Yati menatap dengan tatapan lembut. "Tadinya iya, ini disewakan secara tunggal, tapi pas buka harga, ternyata ada banyak banget yang berminat. Dan salah satu dari mereka memberi usulan untuk membuat kos-kosan saja. Mengingat ada banyak kamar kosong yang tersedia. Gimana? Kamu nggak masalah, kan?"
Ema mengangguk semringah. "Oh, nggak masalah kok, Bu. Saya malah seneng kalau di sini rame. Cuma saya agak kaget aja, ternyata informasinya beda dari yang saya dapat."
"Mbak nya dapat informasi dari siapa? Duh maaf, ya, kalau mengecewakan."
"Nggak apa-apa, Bu. Beneran. Saya nggak masalah kalau rame, malahan suka punya banyak tetangga nantinya"
"Yaudah, yuk masuk dulu. Kita lihat-lihat ruangan yang ada."
Ema melangkah masuk bersama dengan Bu Yati. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang ada. guci-guci besar, sebuah foto yang menunjukkan orang-orang di zaman dahulu. Kursi goyang yang terbuat dari kayu jati, dan juga barisan buku dengan halaman tebal yang tersusun dalam lemari kaca megah di sudut ruangan.
"Dulunya ini adalah tempat berkumpul para bangsawan Belanda. Mereka semua membuat rapat atau sekedar pertemuan di sini. Sambil bincang-bincang mengenai bisnis. Di belakang bangunan ini adalah ladang tebu dulunya, cuma sekarang udah nggak ada lagi."
"Ladang tebu?" ulang Ema tertarik.
"Iya, tempat ini dulunya tempat tinggal keluarga kaya Tjokrodjiwo, pemilik pabrik tebu yang mengelola selama zaman kolonial. Itu masih ada fotonya." Bu Yati menunjuk pada sebuah figur lelaki berkumis tebal dengan blankon di kepala. Juga tongkat yang ada di tangannya. Di kiri dan kanan laki-laki itu berdiri dua wanita. Satunya berwajah pribumi, sedangkan satunya lagi berwajah seperti orang asing.
"Itu yang dikiri dan kanannya siapa, Bu?"
"Oh, itu Nyai Endah, dan Nyai Miranda. Istri kesayangannya pemilik pabrik jaman dulu. Sengaja saya taruh di sana buat hiasan."
Mulut Ema membentu huruf 'o' tanpa suara. Dia mengangguk-angguk paham.
"Oh, ya, kita belum kenalan. Nama Mbak ini siapa, ya?"
"Saya Ema."
"Kepanjangannya?"
Ema jeda sejenak. Dia menjilat bibirnya sebelum lanjut berucap, "Ema saja, tidak ada nama panjang."
Bu Yati mengangguk-angguk. "Nama saya Bu Yati, seperti yang Mbak Ema tahu. Anak-anak yang ngekos di sini juga manggil saya begitu."
"Iya, Bu."
"Ayo langsung aja ke atas. Saya tunjukkin kamarnya sampean yang mana."
Ema mengikuti langkah Bu Yati, menyusuri tangga melingkar yang mengantarkan mereka berdua menuju ruangan di lantai dua.
Ada banyak sekali pintu-pintu yang ada. Saling berhadapan satu sama lain. Mereka terus berjalan hingga menuju kamar terakhir yang letaknya paling ujung. Bu Yati mengeluarkan kunci dari saku rok kain jarik yang ia kenakan. Memutarnya dan membuka pintu.
Sebuah pemandangan kamar dengan area yang cukup luas menyambut pemandangan. Sejenak Ema tertegun, tak menyangka bahwa di dalam rumah yang tampak tak biasa ini, ternyata isi di dalamnya sangat bagus dan rapih.
Plafon terbuat dari kayu dengan sebuah lampu gantung berukuran cukup besar tergantung di tengahnya.
Ema melangkahkan kaki masuk, masih tak bisa melepaskan raut kagumnya pada setiap sudut ruangan yang ada. Rasanya tak menyesal sudah datang sejauh ini untuk menemukan lokasi tempat tinggal sementara yang memuaskan keinginan.
"Gimana Mbak? Mau nyewa di sini?"
"Mau, Bu. Saya mau nyewa di sini."
"Mau berapa bulan?"
Ema tampak tercenung sebentar, memikirkan berapa tabungan yang ia miliki. Tak banyak, tetapi untuk tinggal sampai setengah tahun di rasa cukup. Apalagi harga sewa di sini sangat-sangat murah kalau di kota. Kalau di kota mungkin hanya mampu menyewa dua sampai tiga bulan saja.
"Saya ambil empat bulan deh, Bu."
"Lho, kenapa nggak setahun aja. Rata-rata di sini ambilnya tahunan, Mbak. Karena murah dan suasananya tenang. Jauh dari perkotaan. Mbak sebentar lagi bakal garap skripsi, kan? Ini tempat yang tepat buat menemukan ide, soalnya nggak akan terganggu."
Ema menggigit bibir, sesungguhnya ia juga ingin menyewa pertahun, tetapi ia takut uangnya tak cukup untuk makan. Bagaimana cara dia mengisi perut nantinya.
"Kalau Mbak nya mikir soal biaya, santai aja. Di sini bisa nyicil kok. Mbak sambil kerja?"
Ema mengangguk.
"Kalau gitu bayar pas gajian aja, Mbak. Nggak apa-apa. Mbak kerja sebagai apa kalau boleh tahu?"
"Saya penulis novel horor, Bu."
"Oh, penulis, ya? Hebat dong."
Ema tersenyum kikuk. "Nggak hebat-hebat banget kok, Bu. Pembaca saya juga nggak terlalu banyak."
"Tapi penghasilannya banyak, kan?"
Ema tak menjawab, lagi-lagi hanya tersenyum saja.
"Ya, sudah kalau gitu. Mbak bisa langsung tinggal di sini aja, ya. Kalau mau mandi, kamar mandi ada di ujung satunya lagi. Tapi sering dipakai kalau pagi-pagi. Kalau nggak mau ngantri, di bawah juga ada kamar mandi. Ada banyak, ada empat. Di belakang juga ada sumur kalau mau mandi di sumur, tapi ya gitu. Harus nimba. Nggak apa-apa, kan?"
"Nggak apa-apa, Bu."
"Yaudah, saya tinggal dulu, ya."
Ema mengangguk. Begitu pintu kamar di tutup dan kunci telah ia terima. Ema langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Menghirup aroma khas dari kasur yang ia tiduri.
"Akhirnya, gue bisa bebas juga dari si tua keladi itu." Ema bernapas lega.
Tubuhnya kini terasa sangat lelah. Sendi tulangnya remuk karena harus berjalan sambil menenteng koper yang isinya tidak ringan. Ia mulai memejamkan mata.
Detik berlalu, berganti menit. Tanpa ia sadari, perempuan itu mulai tenggelam dalam mimpi. Saat baru saja akan kehilangan kesadaran. Sebuah teriakan peringatan menelusup masuk ke telinga. Menggemakan namanya dengan satu bentakkan keras.
"EMA. Pergi dari tempat itu!!"
Dua mata nyalang terbuka. Napas terengah, di ambang kesadaran yang belum terkumpul sempurna perempuan itu bangkit dari tidur.
"Ibu? Itu suara ibu?"
Ema menyapu pandangan ke sekeliling. Dia yakin baru saja mendengar suara ibunya, tetapi tak bisa membuktikan hal itu.
Gadis itu akhirnya bangkit dari tidurnya. Ia keluar membuka jendela yang langsung terhubung pada halaman samping bangunan. Dari tempatnya berada, Ema bisa melihat pohon beringin besar yang tadi ia lewati. Namun perempuan itu lagi-lagi harus kembali dikejutkan, tak kala matanya menangkap sesosok makhluk tinggi hitam bungkuk yang sedang bertengger tepat di ujung puncak pohon paling tinggi. Sedang melambai-lambaikan tangan padanya sambil menyeringai.
"Gue ... Nggak salah liat, kan? I-itu kuntilanak?"
Ema mencoba gosok-gosok matanya dengan punggung tangan. Barangkali dia salah lihat, barangkali rasa lelah membuat ilusi semacam siluet mengerikan di ujung sana. Lalu hal itu menipu pikirannya.
"Kayaknya perasaan gue doang deh." memilih untuk tidak terlalu memusingkan Apa yang dia lihat, Gadis itu akhirnya kembali merebahkan tubuh di atas tempat tidur.
Bau khas kasur lama yang dibiarkan dimakan usia, tercium keluar dari ranjagnya. Ema memukul-mukul tangan kirinya ke atas tempat tidur itu, debu-debu berterbangan membuatnya mengalah nafas berat.
"Kayaknya lumayan banyak PR gue buat ngebersihin ni kamar. Besok aja lah."
Tubuhnya merenggang mencoba melonggarkan sendi-sendi yang terasa sakit akibat perjalanan yang cukup jauh. Ada kelegaan yang muncul akibat bisa membebaskan diri dari Sudar.
Tentu saja gadis berwajah cantik itu tidak memberitahu Ayah tirinya Ke mana dia pergi. Dan kabar baik pula dia masih bisa menyimpan uang tabungan pemberian almarhum ibunya, sehingga bisa menjadikan bekal uang itu sebagai modal untuk membayar uang kos beberapa bulan ke depan.
Ema saya terlelap. Dua matanya mulai disapa oleh rasa kantuk sehingga membuat perasaan terlena pelan-pelan merayap di seluruh tubuh. Tanpa dia sadari dihitungan embusan napas ke sepuluh, kesadarannya menguap ke atas langit dan dia tidur.
***
Mimpi. Apakah mimpi bagi setiap orang? Apakah mimpi hanyalah sebuah bunga tidur saja? Sesuatu yang dihasilkan oleh alam bawah sadar manusia sebagai pengisi ketika manusia itu terlelap di alam mimpi.
Namun bagaimana jika mimpi itu datang belasan puluhan dan ratusan kali. Dengan alur yang sama, sensasi yang sama, lokasi yang sama, sampai-sampai pemilik mimpi itu hafal Bagaimana ini semua akan terjadi.
Malam panjang dan gelap membungkus sebuah rumah kecil di tengah hutan, Hening suara membungkus setiap kegelapan yang ada di sana. Lirik-lirik serangga berbunyi, saling sahutan satu sama lain membisikkan berita yang mereka curi dengar dari para lelembut.
Binatang-binatang kecil turut serta menghasilkan suara decak. Angin kemudian bertiup pelan seperti membelai tiap helaian bulu Ari dengan sangat ringan.
Di tengah hutan itu, juga di rumah itu. Semua peristiwa dimulai.
Helaian kain-kain panjang berwarna hitam pekat menjuntai menutupi tiap daun jendela di sebuah rumah. Jumlah mereka tidak hanya satu atau dua tetapi banyak.
Di zaman dahulu rumah yang memiliki banyak jendela adalah hal lumrah. Di sana di dalamnya, orang-orang berkumpul.
Saling menatap dengan wajah yang aneh sekali satu sama lain. Sesekali mereka tertawa geli, sesekali juga menangis, lalu berubah ekspresinya menjadi sangat marah, dendam, dan juga gelisah.
Ada sesuatu. Ada sesuatu yang sembunyi.
Usia ke-4 orang itu sekitar 30 sampai 50 tahun. Mereka semua mengenakan kebaya model lama, dengan bawahan jarik yang dililit. Rambut panjang disanggul ke belakang.
Malam itu angin berhembus cukup kencang tetapi di dalam rumah, justru hawa panas yang mengeluarkan.
Tubuh mereka semua berkeringat, menyebabkan pakaian yang mereka kenakan menempel ketat karena basah.
Kepala mereka bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan, ada juga yang mengadah menatap langit-langit, atau menunduk memperhatikan lantai yang tidak ada apa-apa. Mereka semua tidak sepenuhnya sadar, seperti ada sesuatu yang merasuki.
Sebuah meditasi yang tidak membutuhkan aturan apapun. Mereka hanya duduk bebas berserakan, sibuk menyendiri dan fokus dalam persekutuan pribadi di alam bawah sadar mereka.
Keringat mengucur deras dan terus timbul dihasilkan oleh pori-pori. Membasahi kulit dan membuat permukaannya menjadi licin.
Hening suasana mendebarkan, seolah-olah kegelapan merayap-prayap di bawah kulit dan siap untuk menerkam siapa saja.
Jangan bersuara, Jangan berbicara, jangan memperhatikan Kalau tidak mau diperhatikan. Diam dan pura-pura buta, diam dan jangan menyimak apapun. Karena kalau makhluk itu tahu, Dia akan menuju padamu. Membelai wajahmu dengan kuku-kukunya, dan setelahnya sesuatu yang tidak kau inginkan akan terjadi.
Satu-satunya suara yang terjadi di sana hanyalah suara decak api di lilin yang menempel pada dinding ruangan. Tidak ada angin yang bertiup, mungkin hal itu juga yang menyebabkan panas di dalam sana semakin menjadi-jadi.
Si cantik berwajah tidak seperti wajah parah perempuan pribumi yang ada. Duduk bersila di lantai dengan penuh keringat bersimbah dan membuat kulit putihnya semakin tampak berkilau dipantulkan oleh cahaya api.
Dia benar-benar adalah lambang kecantikan. Proporsi rahang yang sempurna, alis yang tebal dan menukik, bulu mata yang lentik, mata Sewarna madu, dan kulit yang benar-benar putih seperti salju di benua Eropa.
Semua itu menghasilkan ekspresi yang sangat mempesona saat dia. Seolah semesta memang memberinya hidup yang memukau.
Bahkan di usianya yang sudah menyentuh kepala tiga, sama sekali tidak membuat kecantikannya pudar sedikitpun.
Sepanjang Hidup perempuan dengan nama Belinda, yang biasa dipanggil Ndoro ayu Linda, selalu berkubang dalam hinaan dan cacian orang-orang di sekitarnya.
Menelan setiap kata-kata yang seharusnya memang tidak pantas dikeluarkan oleh mulut manusia. Semua itu disebabkan dirinya yang bukan perempuan asli pribumi, melainkan seorang keturunan Belanda campuran dengan darah indonesia.
Membuat identitasnya tidak jelas Apakah dia orang Indonesia atau orang Belanda. Sematan kata-kata anak Belanda yang haram selalu ditujukan untuk dirinya, bahkan saat dia kecil anak-anak sebaya dengan dirinya menyebutnya titisan iblis tjokrodjiwo.
Manusia sesat yang sangat terkenal di era itu.
Ndoro Ayu Belinda padahal memiliki seorang ayah yang bukan orang biasa, melainkan seorang saudagar yang memiliki pabrik gula di sebuah kampung.
Kekayaannya terkenal bahkan sampai ke desa seberang. Namun amat sangat disayangkan nasibnya buruk. Dia harus mati dibunuh oleh penduduk kampung yang menganggap bahwa dirinya bersekutu dengan iblis agar bisa meraih kekayaan.
Bahkan orang-orang yang bekerja dengan dirinya turut serta Mengayunkan benda tumpul dan tajam ke tubuh pria itu. Orang-orang yang sama pula yang diberi pekerjaan dan makan olehnya.
Seluruh garis keturunan tjokrodjiwo. Pada akhirnya mengemban fitnah bahwa mereka semua adalah budak dari iblis. Penyembah setan-setan Penghuni gunung agar bisa mendapat kekayaan. Hingga fitnah itu terus mengalir di dalam darah Belinda.
Tatapan para warga desa yang memandangnya jijik memicu kemarahan terdalam di hati Belinda. Kelakuan-kelakuan para warga yang selalu menuduhnya sebagai budak iblis, membuatnya bertekad untuk mewujudkan. Persis seperti tuduhan yang dilayangkan padanya.
"Anak iblis, Budak iblis, keturunan Tokrodjiwo sesat. Anak dukun, pergi saa ke neraka sana."
"Cuihh!! Jangan berani-beraninya kamu, ya, anak setan."
Seumur hidupnya Belinda kenyang dengan Makian itu.
Puncaknya ketika dia berusia 28 tahun. Belinda menaruh hati pada seorang pemuda di kampung yang bernama Gumelar.
Seorang pemuda Arif yang terlihat sangat baik dan bijaksana. Dia adalah seorang anak kepala desa. Memiliki rupa yang sangat rupawan dan memikat hati setiap gadis yang ada di kampung itu.
Gumelar dan Belinda Saling mencintai satu sama lain. Mereka diam-diam sering bertemu di pematang sawah untuk saling berbicara satu sama lain.
Sampai akhirnya Gumelar mengatakan kepada Belinda kalau dia memiliki perasaan terhadap Belinda. Niat ingin mempersunting gadis keturunan Belanda itu akhirnya disampaikan kepada ibunya.
"Bu, Saya mau menikah. Saya sudah menemukan perempuan yang sangat saya cintai."
"Siapa perempuan yang kamu cintai, Le? Bawa dia kemari dan pertemukan dengan ibu."
Gumelar yang merasa Ibunya sudah memberi lampu hijau. Keesokan harinya langsung membawa Belinda untuk diperlihatkan bahwa dialah perempuan yang terpilih dari sekian banyak perempuan yang menyukai dirinya di kampung ini.
Namun Malang tak dapat ditolak, rupanya Ibu Gumular benar-benar sangat marah saat mengetahui bahwa perempuan yang dicintai oleh anak yang dia banggakan adalah Belinda.
Yaitu keturunan Tjokrodjiwo yang terkenal menganut ilmu sesat di kampung. Seorang anak haram yang tidak jelas kebangsaannya apa. Tidak memiliki kelas di mata masyarakat.
Hina dan menjijikkan.
Belinda akhirnya harus pulang ke rumahnya yang berada di tengah hutan, menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang sangat malang.
"Kenapa? Kenapa saya harus mengalami nasib seperti ini? Ayah saya mati dan tidak ada keluarga yang tersisa. Saya diasingkan di kampungnya menganggap saya adalah titisan iblis. Kenapa dunia sangat tidak adil terhadap orang-orang seperti saya. Saya mencari keadilan, jikalau Tuhan tidak bisa memberi keadilan. Maka mungkin saya akan menempuh cara lain."
Tangis yang pecah dan janji yang mengerikan itu disimak oleh makhluk-makhluk kegelapan. Mereka semua menyeringai dan mulai menunggu puncaknya.
'Teruslah membenci, teruslah menanam dendam di hatimu cah ayu, teruslah menyalahkan orang-orang. Mereka semua pantas untuk dibunuh,' bisik suara tak kasat mata yang merayu-rayu.
Hingga pada akhirnya, Belinda harus kembali menelan pil pahit saat mendengar kabar bahwa ku melar telah dijodohkan oleh seorang anak saudagar kaya dari desa sebelah.
Seorang gadis cantik keturunan pribumi, yang jelas bibit bebet dan bobotnya.
Semakin Lara lah hati Belinda mendengar itu semua. Dan semakin luar biasa kemarahan di hati.
Bertahun-tahun dia menyimpan dendam, bertahun-tahun dia mengumpulkan cara untuk membalaskan dendamnya.
Semua orang harus merasakan penderitaan yang dia rasakan. Bahkan sampai keturunannya sekalipun. Sama seperti apa yang dialami.
Dosa-dosa yang sebenarnya tidak ada justru dianggap ada.
Malam itu, akhirnya tiba...