Bab 1

"Buka bajuku!"

"Hah!" Aku melongo. Saat mendengar instruksi dari Inder. Pria yang baru saja sah menjadi suamiku.

"Kenapa mau dibuka bajunya, Mas?" Ah, pertanyaan konyol memang. Jelas-jelas aku sudah tahu sebenarnya apa mau Inder.

"Gak usah sok polos. Kamu pasti lebih tau apa yang aku inginkan." Entah kenapa ini suami gak ada lembut-lembutnya saat meminta haknya. Alih-alih aku mengharapkan ia bersikap romantis. Tak bicara kasar saja sudah untung.

Aku mendesah. Aku kira dia tak akan menyentuhku, Sebab kami menikah hanya karena ingin mendapatkan tujuan kami masing-masing.

"Lalu, kenapa kamu gak buka sendiri aja, sih, Mas?"

"Apa gunanya aku kasih mahar 100 juta kalau aku mau pakai kamu aja harus aku sendiri yang buka baju."

Oh, Tuhan…dia masih saja membahas mahar 100 juta yang aku minta. Maunya apa coba? Bahas ini di malam pengantin kami. Mau menunjukkan betapa murahannya aku?

Ada yang bilang kalau aku ini murahan, sih!

"Din, cepet!"

Aku beringsut maju, mendekati Inder. Perlahan tanganku memegang sisi kaos putih yang dikenakan Inder.

"Lama amat sih, Din!"

"Kalau mau cepet ya buka sendiri," ketusku.

"Sudah aku bilang aku sudah—"

"Ya, kamu sudah memberiku mahar 100 juta. Puas!" Aku menyela.

"Bagus. Makanya bekerja dengan baik," timpalnya.

Aku pun, secara perlahan mengangkat kaos Inder, mulai melucutinya. Namun kualihkan pandanganku ke samping.

"Dih, apaan, sih. Gak usah sok jaim." Tangan kekar Inder meraih wajahku dan menghadapkan ke arahnya.

"Mas, tunggu!" Aku menghentikan Inder saat wajahnya hendak didekatkan dengan wajahku.

"Apa?" Pertanyaan Inder terdengar protes.

"Aku mendadak kebelet."

Inder menarik tangannya dari wajahku. Tak lupa ia mendesah kecewa.

"Cepatan!" ketusnya.

Tanpa buang-buang waktu. Aku segera berlari ke arah kamar mandi dan masuk ke dalam sana.

****

Entah sudah berapa lama aku berada di kamar mandi tanpa ngapa-ngapain. Tadi itu hanya alasanku saja yang bilang mules. Padahal sama sekali tidak. Aku hanya grogi, gugup, takut dan tak siap menjadi satu.

Ah…kenapa mendadak aku takut disentuh oleh Inder, sih. Bukannya aku suka orang ganteng? Dan Inder ganteng.

Tapi kenapa aku setakut ini. Bukankah aku ingin sekali disentuh oleh orang ganteng. Apa mungkin…karena Inder tak mencintaiku? Berbeda dengan diriku, yang awalnya tak suka namun jadi suka saat melihat tampang rupawan Inder, saat aku baru melihat untuk pertama kalinya, setelah membuat status Facebook.

Mungkin iya. Aku tak siap dan gugup sebab Inder akan melakukan malam pengantin kami bukan karena cinta. Melainkan…kami punya tujuan masing-masing dari pernikahan ini.

Inder karena ingin mendapatkan perusahaan mamanya, yang takut akan dikuasai oleh saudara tirinya, Andra. Anak bawaan dari istri kedua papa Inder.

Padahal aku tahu jelas Inder punya kekasih, namanya Cleopatra. Sudah bisa dibayangkan, bukan, secantik apa kekasih Inder. Dari namanya sudah sangat indah, apalagi orangnya.

Jelas sangat cantik kekasih Inder. Aku saja yang wanita ikut suka melihat keindahan mantan Inder.

Sedangkan aku…aku mau menikahi Inder sebab biar ada yang biayai kuliahku. Yang saat ini tengah kuliah jurusan bidan.

Oleh karena itu aku mengorbankan diri, bahkan oleh orang-orang, ada yang menganggapku, kalau aku sedang menjual tubuhku pada Inder, dengan minta mahar 100 juta dan juga membiayai kuliah.

Tapi…mengorbankan diri pada orang ganteng itu tak rugi. Itu menurut Inggit, adikku. Lagi pula…aku berharap suatu saat nanti Inder akan mencintaiku.

Kalau di likir-pikir. Aku memang secara tidak langsung menjual diriku sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, aku gak punya uang untuk melanjutkan kuliah. Apalagi biaya sekolah kebidanan itu tidaklah sedikit. Sedangkan Emakku hanya seorang janda yang kerja sehari-harinya menjaga toko. Belum lagi kedua adikku yang keduanya.

Ringgit, atau yang biasa dipanggil Inggit untungnya sudah lulus S1, dan sekarang ia sudah bekerja di salah satu bank. Gadis cantik yang umurnya hanya selisih satu tahun lebih beberapa bulan itu memang mempunya kecerdasan diatas rata-rata. Karenanya ia menempuh S-1 dengan kecepatan.

Dan adikku Dirham, adik bungsu laki-lakiku, dia masih kuliah di semester 2. Saat ini hanya Inggit yang bisa memberikan uang untuk Emak.

Kalau aku…aku hanya bisa beri sekedarnya, sebab bayaran kuliahku saja tiap semesternya sudah besar. Belum lagi buat biaya lainnya. Yang tak banyak orang ketahui.

"Din. Kamu bertapa di dalam?"

Aku terkejut saat mendengar pintu kamar mandi digedor dengan kuat.

"Din? Lama amat. Kamu sengaja, ya?"

Dih, gak sabaran amat sih.

Aku pura-pura menyiram kloset. Agar nampak habis buang air.

"Kenapa? Kamu menghindar?" Setelah membuka pintu ia langsung menyemprotku.

"B-bukan begitu—"

"Kamu takut? Atau kamu…."

Aku hanya berdecak kesal. Heran, laki-laki kok banyak omongnya.

"Aku gak menghindar, kok." Aku berjalan melewatinya, menuju ranjang.

"Aku pikir, kau mau menikahiku hanya sebatas tujuan saja, sama sepertiku. Tak perlu berperan jadi suami, atau jadi istri. Apalagi—"

"Enak saja kalau gitu." Inder motong cepat.

Keningku mengkerut.

"Aku sudah membayarmu mahal. Tapi aku tak bisa berbuat apapun denganmu. Kamu pikir ini film, yang hanya aku anggurkan istri di malam pertamanya meskipun tak mencintainya. Namun ia akan menyentuhnya saat ia mulai suka. Ih, tidak, aku bukan pria semacam itu."

Panjang sekali penjelasannya.

"Bukan itu maksudku." Saat ini aku sudah duduk kembali di ranjang yang tadi aku duduki.

"Apa?" Inder ikut duduk. Memberikan tatapan tajam.

"Bukankah, kau punya kekasih kalau gak salah?" Aku menatapnya dengan mata memicing.

"Itu bukan jadi alasan!" ketusnya.

"Tapi kau mencintainya, bukan?"

"Tentu."

"Sangat?"

"Sangat!"

"Dan aku mencintaimu, Inder!" Ah, andaikata aku bisa mengatakan itu pada Inder. Sudah pasti aku tak seresah dan sesulit ini menjalani malam pengantin dengan Inder. Ini bukan malam pengantin yang aku inginkan.

Yang aku inginkan adalah, dimana malam pengantinku, aku bisa memeluk suka dan duka dengan pasanganku, bukan hanya sekedar memeluk karena mencari kehangatan. Seperti saat ini.

Tapi apa daya. Aku dan Inder menikah memang bukan karena cinta, tapi karena tujuan. Lalu aku bisa apa? Disini hanya aku yang mencintai.

"Kenapa dengan dirimu?"

Aku menoleh, menatapnya."Apa kau tak akan merasa mengkhianatinya, dengan melakukannya denganku?"

Inder menarik nafas kasar. "Dia selamanya akan menjadi yang terindah dalam hidupku. Kapan pun dan di mana pun. Tapi aku tak mungkin, kan, melakukan apa yang harus terjadi di malam ini dengannya? Meski aku tak fanatik dalam agama, tapi aku tahu, mana yang haram dan mana yang halal."

"Tapi membayangkan wanita lain saat menyentuh istrinya juga haram, bukan?"

"Jangan mendebatku, Din. Aku tahu apa yang baik dan tidak baik. Apa perlu aku jelaskan nanti saat acara malam pertama kita berlangsung. Bagaimana kalau saat itu aku hanya membayangkan apa yang ada di hadapanku saja, dengan siapa aku saat ini."

Dih, tadi saja dia bilang, kalau keindahan mantannya ada di mana-mana, kapan pun ada.

Ah, aku lupa, kalau pria yang di depanku ini adalah seorang terpelajar lulusan hukum, karena mau jadi pengacara. Tentu dia pandai dalam bicara, lebih-lebih mendebat.

"Jangan mempersulitku untuk mendapatkan hak ku sebagai seorang suami saat ini." Inder mendekatkan wajahnya padaku. Semakin lama semakin dekat saja, bahkan saat ini nyaris tanpa jarak.

Tanganku bergerak, menahan dadanya.

"Apa kau tak ingin membacakan doa dulu untukku?"

Mata Inder menyipit. "Doa apa?" Nadanya terdengar ketus.

"Doa pertemuan malam pengantin?" Aku mengangkat sebelah alis.

"Kamu gak ingin mendoakan aku, agar jadi istri yang baik, gitu?"

Inder tak segera menjawab. Dipandanginya lekat-lekat wajahku. Ah, kok aku mendadak panas, ya? Melihat tampang Inder dalam jarak yang begitu dekat seperti ini?

"Apa ini salah satu cara agar bisa mengulur waktu? Dan kau akan selamat di malam ini?" tuduhnya.

"Bukan!"

"Aku tak hafal doanya!" ucapnya cepat.

"Bisa cari di google!"

Inder memicingkan matanya, semakin tajam menatapku.

Ah, aku jadi takut, dan menyesali kata-kataku.

Namun selanjutnya, ia menarik diri dariku. Mengambil ponselnya, mengetik sesuatu di sana.

Cukup lama Inder menatap layar ponselnya, mungkin ia sedang menghafalnya.

Aku terkesiap saat tiba-tiba Inder menoleh dan meraih kepala dan mendaratkan bibirnya di keningku.

Bersamaan dengan itu, aku dengar Inder melafalkan sebuah Doa.

Ah, keren. Dalam sekejap ia bisa menghafal doa. Padahal doanya lumayan panjang, loh.

Selanjutnya, bibir Inder turun ke wajahku, dan lama-lama makin turun.

Jangan tanya apa kabar dengan suhu tubuhku dengan perlakuannya. Aku sudah merasakan panas dingin.

Dan untuk selanjutnya, apa yang harus terjadi, terjadilah.

Malam pertamaku, tanpa cinta.

****

Aku terbangun sekitar jam 2 malam. Aku menoleh, menatap ke samping. Aku sudah tak menjumpai Inder.

Kemana dia?

Aku menyingkap selimut dan berusaha turun dari ranjang.

"Aww…." Aku memekik, saat merasakan nyeri di area kewanitaan saat bergerak.

Kenapa perih sekali? Apa ini rasanya sakit malam pertama.

Dengan sekuat tenaga, aku berusaha berdiri dan melangkah ke kamar mandi.

"Kamu tenang saja. Aku menikahi Dinar hanya karena memenuhi syarat dari Papa. Aku tak mencintainya. Dan selamanya akan begitu."

Deg.

Saat aku melintasi balkon kamar, tak sengaja mendengar percakapan Inder di telpon. Seketika langkahku pun terhenti, ingin mendengar lebih banyak lagi kata-kata Inder.

"Kamu tahu sendiri, kan? Kalau kamu yang selalu terindah di hidupku. Aku hanya memanfaatkan Dinar saja. Baru setelah itu…."

Aku segera memalingkan wajah, tak ingin mendengar lagi kata-kata Inder. Rasanya aku tak akan kuat untuk mendengarnya.

Air mataku mengalir, entah kenapa rasanya sakit mendengar kalau Inder hanya memanfaatkanku saja.

Tapi kenapa aku harus sakit? Bukannya aku tahu kalau Inder menikahiku bukan karena cinta. Tapi kenapa aku masih merasakan sakit?

Apa jawabannya karena aku mencintai Inder?

Iya, aku rasa itu alasannya…sebab, setelah perlakuan Inder tadi, aku sempat punya harapan, kalau aku masih bisa mendapatkan hatinya.

Namun belum berlangsung lama, kini harapanku musnah bersamaan dengan kata-kata Inder dengan orang yang ditelponnya. Yang kuyakini ia adalah Cleopatra.

Tapi…kenapa sesakit ini? Ngilu rasanya hatiku mendengar kata-katanya. Rasa sakit yang diberikan Inder dua kali lipat dari yang ia berikan tadi.

Aku tersenyum miris. Benar-benar malam pertama yang menyakitkan. Inder suami yang hebat, memberikan dua rasa sakit sekaligus.

____________

Bab 2

Aku segara menghapus air mata saat melihat Lavender Alaik, atau yang akrab di panggil Inder tersebut membalikkan badan setelah selesai bertelepon.

Inder tampak terkejut saat melihat keberadaanku yang berdiri tak jauh dari balkon kamar.

Melalui pandangan ekor mataku, ia berjalan ke arahku.

"Kamu kenapa?" Inder menatapku dengan mata memicing.

"Gak papa." Aku menjawab ketus.

"Kenapa nangis?" Ia maju satu langkah.

"Dih, ogah, ya!" Aku segera memalingkan wajah. Tak ingin Inder tahu kalau aku baru saja menangisinya. Ih, gengsi dong.

"Itu, kenapa matamu bengkak!" Tangan Inder menunjuk wajahku, selanjutnya ia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Salah satu kebiasaan Inder.

"Efek tidur kali." Aku menjawab asal sambil mengusap mata. Takut ada sisa air mata disana.

"Jagan bohong, Dinar!"

"Apa, sih!" Aku melipat tangan di dada.

"Tidurmu saja gak nyenyak tadi. Sebentar pula, tuh. Lalu bagaimana bisa sampai membuat matamu bengkak?"

"Aku gak nyenyak, kan, karena ulah kamu juga." Aku masih berucap dengan ketus.

"Sakit banget, ya?"

Hah! Jadi Inder sudah tahu kalau aku sudah mendengar pembicaraan nya tadi?

"Bagus lah kau sadar. Sebab wanita mana yang—"

"Maaf, mungkin tadi aku terlalu kasar!"

Hah! Jadi dia membahas sakit yang lain? Bukan yang barusan.

"Sakitnya masih bisa dibawa jalan, gak?"

Hatiku yang sakit, Mas. Sakit karena perbuatanmu tadi tak seberapa dibandingkan sakit karena kata-katamu tadi.

Dan aku begitu bodohnya mau mengharapkan hatimu untukku hanya karena kau mau tidur denganku.

"Hei!" Inder menjentikkan jarinya tepat di depan wajahku.

"Bersiaplah. Nanti keluargaku datang kesini." Inder melangkah melewatiku.

"Ngapain?" tanyaku.

"Sudah tradisi." Ia menjawab dengan terus berjalan ke kamar mandi.

"Apa itu artinya aku harus buat hidangan?"

"Emang bisa masak?" Kali ini Inder menoleh, menatapku.

"Gak!" jawabku tanpa ragu.

Inder hanya tersenyum kecut sambil kembali melanjutkan langkahnya.

"Oh ya, keluargamu juga akan datang pagi nanti." Inder berucap, sebelum ia menutup pintu kamar mandi.

****

"Aku sudah menyiapkam cemilan dan lainnya juga. Kamu hidangkan ke meja, buat keluarga kita nati." Inder berucap dengan ekspresi dingin. Tak ada senyuman di wajahnya. Padahal ia tampan loh.

Setelah berucap, Inder kembali melangkah keluar kamar.

"Mas masak?" tanyaku.

Langkah Inder yang sudah ada di ambang pintu sempat terhenti. "Ya kali kamu yang masak."

Dih, ketus amat. Apa salahnya coba bilang dengan lemah lembut, biar gak rugi punya wajah tampan.

Aku menyudahi aktitasku yang mengeringkan rambut. Segera meraih jilbab dan memakainya.

Setelah tiba di dapur, aku segera menata cemilan di toples dan air nya juga.

"Hai, Kakak Ipar."

Aku menoleh kearah sumber suara. Sudah bisa ku tebak. Ia adala Indra. Adik Mas Inder. Dari hasil pernikahan Papanya dengan istri keduanya.

Aku hanya menanggapi sapaan Indra dengan senyuman sambil tanganku sibuk dengan gelas kecil.

"Mbak cantik sekali pagi ini," puji Indra sambil merapikan rambutnya.

Aku meliriknya sekilas."Kau datang kesini tidak untung merayuku, bukan?"

"Oh, mana berani, Mbak." Indra berucap cepat. "Bisa-bisa aku sama suami Mbak yang bertemperamen tinggi itu bisa dibikin rujak, Mbak," lanjutnya.

Adiknya saja mengakui kalau Inder keras orangnya.

Sebenarnya aku sudah tahu apa yang Indra inginkan dariku.

"Inggit datang, kan, hari ini?"

Nah, itu dia yang Indra inginkan. Ringgit, adikku. Yang mana mereka satu universitas sebelum Inggit lulus terlebih dahulu. Sebab gadis imut itu memang mempunyai kecerdasan diatas rata-rata. Menempuh S1 nya dengan kecepatan.

"Iya, dia datang!"

"Yes!" Indra bersorak girang. Aku tahu dia menyukai Inggit. Oleh karena itu, saat ia mendengar kalau masnya mau menikahiku, ia orang pertama yang setuju.

"Mbak!" Indra membantuku mengelap gelas.

"Apa yang kau inginkan?" Aku yang sudah tahu ada maksud kenapa ia membantuku segera bertanya tanpa segan.

"Bisa minta WA Inggit, gak?"

Aku mengambil gelas yang di pegang Indra."Gak perlu bantuin, sebab Mbak gak akan ngasih WA Inggit ke kamu!"

"Lah, kenapa, Mbak?"

"Karena Inggit sudah punya pacar!"

"Siapa, Mbak?"

"Miller!"

"Pria Malaysia itu?" tanyanya.

Aku mengangguk.

"Dih, masih gantungan aku juga, Mbak!" Miller mencebik.

"Iya, tapi Miller udah punya usaha. Sedangkan kamu hanya pengangguran."

"Iya kan aku masih kuliah, Mbak."

"Tapi Miller mulai berbisnis disaat ia masih kuliah juga." Aku menatap Indra."Jadi jangan jadikan alasan untuk tidak bisa berbisnis."

"Kan aku sudah bilang, kalau mereka itu wanita matre, Dra."

Sontak aku menoleh ke arah Inder yang baru saja mauk ke dapur.

"Maksud Mas Inder apa?" tanya Indra, mewakili pertanyaanku.

"Cari wanita lain. Mereka tak akan mau dengan pria yang tak beruang. Apa kamu masih tak memahami karakter mereka, dari namanya saja sudah berupa uang semua, Dinar, Ringgit. Itu sudah menandakan kalau mereka itu yang di pikirannya adalah uang…uang…dan uang."

Entah kenapa aku jadi panas mendengar kata-kata Inder.

Aku meletakkan gelas yang aku pegang. Mengangkat wajahku agar bisa menatap Inder.

"Iya. Kau benar, Mas. Kami keluarga matre. Di hidup kami hanya ada uang…uang…dan uang…." Emosiku sudah mau meledak-ledak saja.

Inder tersenyum kecut. "Tanpa kau jelaskan pun aku sudah tahu. Kalau kalian penghisap kantong pria.

"Ya, benar. Dan ada yang perlu kau ketahui juga. Kami hanya bisa bersama dengan pria yang banyak uangnya saja. Kalia tanpa uang sudah pasti kami tak bisa bertahan. Uang bagi kami prioritas. Kau paham." Aku menatap Inder dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa begitu sakit aku mendengar ia mengatakan kalau aku dan saudaraku hanya perlu uang. Sekalipun itu benar, apa ia tak bisa sekali menjaga perasaanku.

Inder hanya diam saja. Sedangkan Indra hanya menundukkan kepalanya. Entah kenapa aku tak tahu.

Tanpa berkata-kata, Aku melangkah, keluar dari dapur.

****

"Dibayar berapa kamu sama Inder?"

Aku yang hendak ke kolam renang, ingin menenangkan diri dikejutkan dengan keberadaan Andra. Anak bawaan dari istri kedua papa Inder.

Aku tak pernah bertemu dengan Andra sebelumnya. Namun aku yakin kalau dia adalah Andra. Sebab aku pernah mendengar ciri-cirinya. Kalau pria itu lebih dingin dari Inder. Makanya kalau bicara dengan seseorang jarang mau berhadapan ataupun menatapnya.

Aku tak menjawab. Masih fokus menatapnya dari belakang. Sedangkan ia fokus menatap air kolam renang dengan tangan disilangkan didepan dada.

Sedikit penasaran dengan rupa Andra. Katanya Inggit, pria itu tak kalah gantengnya dengan Inder. Bahkan lebih gagah. Aku perhatiin sih iya. Meski aku menatapnya dari belakang, sudah terlihat badannya kekar dan berotot.

Diluar dugaanku. Saat aku begitu seksama memperhatikannya, tiba-tiba Andra menoleh.

Dan…bukannya aku merasa salting atau segera mengalihkan pandangan sebab ketahuan menelitinya, pandanganku malah tertahan di wajahnya.

Inggit ternyata tak bohong. Saudara tiri Inder ini ternyata ganteng nyaris saingan sama Inder.

Aku kira Inder sudah jadi pria yang paling tampan yang aku temui. Ternyata tidak.

"Dibayar berapa kamu sama Inder. Hingga mau menjadi istri dari pria bertemperamen tinggi sepertinya?"

Andra menatapku. Bukannya menurut kabar yang kudengar, ia tak mau menatap lawan bicaranya, hanya orang-orang tertentu saja?

"Bukannya nyaris tak ada yang mau untuk menjadi istri dari pria tersebut. Selain Cleopatra tentunya." Andra memiliki senyuman sinis, persis Inder.

Menurut yang aku ketahui lewat Inggit, Andra dan Inder musuhan. Dan mereka memperebutkan perusahaan katanya. Entah perusahaan apa dan yang mana. Aku tak tahu dan tak mau tahu itu.

"Kenapa kamu tak menjawab. Dibayar berapa kamu?"

"Apa itu penting untuk Anda?" Kali ini aku menjawab. Bahkan juga membalas tatapannya.

"Hanya ingin tahu saja."

"100 juta!"

Andra tersenyum kecut. "Murahan sekali dirimu." Dia mengejek.

"Padahal kau gadis berjilbab. Tapi bisanya semurahan ini."

Kata-katanya makin lama makin kasar, entah kenapa aku dikelilingi orang-orang berkata kasar. Kenapa semua merendahkanku di sini. Apa karena niat nikahku?

"Gadis berjilbab juga butuh uang kali." Aku membalas.

"Hanya uang 100 juta kau rela menjadi istri moster Inder!" Dia masih tersenyum kecut dan tampak mengejek.

Tak tahan, aku maju satu langkah ke hadapannya.

"Iya, aku murahan sama Inder. Kenapa? Apa anda mau membayarku lebih mahal? Untuk memenuhi syarat dari papa kalian?" Aku membalas tatapan tajam Andra. "Tenang saja, nanti bisa kita bicarakan. Aku bisa jadi selingkuhanmu. Maksudku bisa selingkuh dari Inder."

Aku dapat melihat perubahan raut Andra. Dalam hati aku tersenyum puas. Emang mereka pikir hanya mereka yang dapat berkata kasar. Aku juga.

Sekali lagi aku melemparkan senyuman sinis sebum akhirnya aku membalikkan badan.

Aku terkejut seketika, saat baru saja memutar badan, dan ternyata di belakangku sudah ada Inder. Menatapku tak bersahabat.

Mampus….

Sejak kapan ia ada di sini? Dan apa ia mendengar kata-kataku barusan pada Andra?

_________

Bab 3

Aku menelan ludah. Tatapan Inder sangat dingin. Aku menoleh ke belakang. Mendapati Andra yang juga sama dinginnya.

Kenapa selain di kelilingi orang-orang bermulut kasar, aku juga dikelilingi orang-orang berwajah dingin. Apa mereka sebenarnya adalah keluarga monster?

"Pikirkan urusan selingkuhmu nanti saja. Aku masih punya uang untuk menahanmu dalam pernikahan ini." Kata-kata Inder begitu terdengar dingin. Serasi dengan wajahnya.

"Segera ke ruang tamu. Keluargamu sudah datang." Setelah berucap, Inder segera pergi, dengan masih gayanya yang selalu memasukkan tangannya ke kantong celananya.

Haish…aku pikir tadi dia kesini mau menjemputku, menarik tanganku. Tak tahunya malah hanya begitu saja. Yah…begitu saja. Tak ada romantis-romantisnya itu suami.

*****

Saat ini kedua belah pihak keluarga, keluargaku dan keluarga Inder sudah berkumpul di meja makan. Melaksanakan makan siang.

Dari keluargaku hanya tiga orang yang hadir. Emak, Inggit dan terakhir Dirham.

Sedangkan dari pihak Inder, ada Papa Aleks dan istri mudanya, Mama Anggun. Sedangkan mama Yasmin, istri pertama Papa ada di tempat rehabilitas. Itu yang sedikit yang aku tahu. Aku tak begitu dalam mengetahui seluk beluk cerita keluarga suami dadakan.

"Kamu sekarang sedang menyelesaikan S-1 mu, ya, Nak Dinar?" Papa Aleks memecah keheningan yang tercipta selama acara makan berlangsung.

"Iya, Pa." Aku menjawab dengan kepala masih menunduk.

"Ok. Semangat. Suamimu akan setia mendukung cita-citamu," ucap Papa Aleks.

"Terimakasih, Tuan Aleks. Saya sangat bersyukur Dinar bisa mendapati suami seperti Inder." Emak menimpali.

Ah, untung apanya, Mak. Gak tau aja kalau di balik uang yang diberikan Inder ada rasa sakit yang harus ku tahan. Yang hanya dapat aku rasakan sendiri.

"Iya, sama-sama, Bu Rea! Inder juga berun uptung mendapatkan Dinar. Dia punya cita-cita yang tinggi dan pantang menyerah." Mama Anggun menyahuti.

Aku melirik Inder yang sempat kulihat ia menyunggingkan senyum sinis di sela-sela makannya.

Lalu tatapanku beralih ke arah Indra. Yang sedari tadi aku lihat tengah mencuri-curi pandang pada Inggit yang duduk tepat di depannya.

Terakhir aku menatap Andra. Yang sedari tadi hanya diam saja menikmati makanannya. Tanpa sekalipun mengangkat wajahnya.

Ah, berbagai macam ekspresi orang-orang yang ada di meja makan ini.

****

"Sepertinya, jalan Mbak agak sudah lain, ya." Inggit berbisik di telingaku, saat ia hendak masuk kedalam mobil taksi.

"Ih, apaan, sih." Aku mencubit kuat pinggang Inggit. Hingga ia mengasuh sakit.

"Dir, tunggu!" Aku menghentikan langkah Dirham yang hendak masuk ke dalam taksi yang dipesankan oleh Papa Aleks.

"Iya, Mbak. Apa?" Dirham, adik laki-lakiku itu menoleh.

"Simpanlah. Maaf, Mbak gak bisa ngasih banyak." Aku menyelipkan beberapa lembar uang di tangan Dirham.

"Sudah, Mbak. Gak usah." Dirham mengembalikan uang itu.

"Lebih baik Mbak simpan sendiri saja. Kan lagian pas itu Mbak udah kasih. Mbak Inggit juga ngasih aku, Mbak," ucap lagi Dirham.

"Iya itu kan beda, Dir. Udah ambil aja. Mbak disini gak akan kekurangan, kok. Mbak tahu kamu butuh uang sekarang ini." Aku kembali menyelipkan lagi uang yang hanya beberapa lembar tersebut. Kali ini Dirham tak menolaknya.

"Terimakasih, ya, Mbak." Ekspresi wajah Dirham tampak tak enak.

Aku hanya tersenyum. Selanjutnya melangkah ke arah Emak yang berdiri di samping Inggit.

"Peganglah, Mak. Dan pergilah kontrol sama Dirham atau Inggit kalau mereka lagi senggang." Aku memberikan amplop pada Emak.

"Tapi, Din. Kamu dapat dari mana uang ini?" Emak tampak khawatir.

"Tenang saja, Mak. Ini uang Dinar, kok."

"Tapi bukannya kemarin yang yang 100 juta sudah kamu pakai dan sisanya kamu kasih ke Emak juga."

"Iya, Mak. Dan ini masih sisa."

"Serius?"

"Iya, Mak. Aku gak mungkin menggunakan uang Mas Inder untuk ku berikan pada Dirham dan Emak."

"Tapi, Din—"

"Sudah, Mak. Maaf, Dinar hanya bisa ngasih segini."

Emak memasang ekspresi tidak nyaman sebelum akhirnya ia masuk ke mobil. Yang sebelumnya ia berpamitan dulu padaku. Dan berkali-kali bilang makasih.

Aku berdadah pada Emak dan Inggit juga Dirham sebelum taksi itu lenyap dari pandanganku.

"Dinar!"

Aku menoleh saat mendengar suara Papa Aleks.

"Iya, Pa!" Aku menjawab gugup. Takut kalau beliau melihat tadi saat aku memberikan uang pada Emak dan Dirham.

"Bagaimana dengan Inder?"

Ah, aku bernafas lega. Sebab Papa mertua ternyata hanya mau menanyakan tentang Inder.

"Apa dia memperlakukanmu dengan baik?" tanya Papa.

Aku tak segera menjawab. Namun selanjutnya menganggukkan kepala.

" Dia…baik, kok, Pah."

Papa Aleks tersenyum."Terimakasih, sudah menenangkan Papa. Dengan tidak mengatakan yang sebenarnya pada Papa."

Aku hanya tersenyum kaku. Rupanya aku ketahuan berbohong.

"Tapi…percayalah, Din. Aku tak akan membuat Inder menyia-nyiakanmu. Bisa aku pastikan itu. Dan percayalah, Inder orangnya tanggung jawab, kok. Hanya saja ia sedikit tertutup dan cuek. Menuruni sifat ibunya."

Aku hanya menanggapi ucapan Papa Aleks dengan senyuman.

****

"Jadi…berapa biaya tiap semestermu?"

Aku yang duduk santai di atas ranjang dengan berselonjor kaki mainan Hp segera menoleh ke arah Inder yang baru saja masuk ke dalam kamar.

"Taka mahal pastinya kalau menurutmu." Aku menarik kakiku, jadi duduk bersimpuh saat Inder duduk di ujung tepi ranjang.

"Berapa?" Dia menatapku tanpa ekspresi.

"15juta." Aku menatapnya, menunggu reaksinya.

"Kenapa? Mahal?" Aku menyunggingkan senyum di kalimat terakhirku.

"Menurut kamu?"

"Untuk ukuran wanita sepertiku yang tak punya penghasilan jelas mahal. Tapi untuk kamu yang jelas di kelilingi uang jelas tidak, kan? Oleh karena itu, aku mau menjadi istrimu. Tapi kamu jangan khawatir, toh, sebentar lagi kuliahku kelar. Hanya tinggal beberapa bulan saja. Tapi aku punya hutang. Pas itu aku gak punya uang untuk bayar."

"Berapa?"

"45 juta!"

"Berapa kali hutang?"

"3 kali!"

"Ke siapa?"

"Ada, deh. Itu bukan urusan kamu. Kamu hanya perlu membayarnya. Itu juga termasuk dalam perjanjian kita. Sebab itu termasuk biaya kuliah ku."

Inder mengalihkan pandangannya dariku. Tak lama dari itu kembali menatapku. Tanpa berkata-kata.

"Kenapa? Kamu keberatan?"

"Gak!"

"Lalu?"

"Aku tidak keberatan, sebab itu memang tugasku, namu kau juga harus sadar dengan tugasmu. Kau harus bersungguh-sungguh melayaniku."

"Melayani apa?" tanyaku ketus. Mendadak pikiranku tak nyaman.

"Apalagi yang diharapkan seorang laki-laki dari seorang wanita. Seperti halnya seorang wanita yang mengharapkan uang dari laki-laki." Inder mengakhiri kalimatnya dengan senyuman sinis.

"Jadi…disini posisiku hanya jadi penghangat ranjangmu saja, begitu?" Aku menaikkan sebelah alis.

"Kau masuk kedalam kehidupanku untuk itu memang, kan?"

"Apa?"

"Seperti aku bersedia memberimu nafkah, jadi kamu juga harus bersedia memberiku nafkah."

Aku menegakkan posisi dudukku. Menatap Inder serius.

"Kenapa harus aku? Bukannya kau ini banyak uang. Jadi mudah saja kan, untukmu mencari wanita yang bisa menghangatkan ranjangmu?"

"Kalau di rumah sudah ada yang bersih, lalu kenapa aku harus mencari di luaran sana. Mengais sampah yang kotor." Setelah berucap, Inder membuang pandangannya, menatap ke jendela.

Namun tak berapa lama, Inder kembali menatapku lagi.

Ia menatapku lekat dan juga aneh. Matanya memindai tubuhku.

"Apa?" sengitku.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Mendadak perasaan tidak nyaman.

"Apalagi. Kalau pria menatap istrinya?"

"Apa?"

"Kenapa harus kaget? Bukankah itu memang tugas kamu?"

"Eh, Mas. Dengar! Sakit yang semalam saja masih terasa. Jangan coba-coba menyakiti dengan cara seperti ini!" ingatku.

Kening Inder mengerut. "Menyakitimu?"

"Iya, bahkan bengkak!" tambahku.

"Serius?"

"Iya lah."

Inder tak membalas. Ia menatapku tanpa ekspresi. Lalu selanjutnya ia mengeluarkan Hp nya dari saku celananya.

Entah apa yang ia lihat di Hp nya. Sampai se khusuk itu.

Tak berapa lama dari itu, ia berdiri dan melangkah keluar kamar.

Aku tak tahu mau apa ia. Sikapnya benar-benar gak bisa ditebak.

Tak berapa lama selang dari itu, Inder kembali dengan tangan membawa baskom berisi air. Dan handuk kecil di tangan satunya.

"Apa itu, Mas?" tanyaku pada Inder yang saat ini tengah berjalan ke arahku.

"Air hangat," jawabnya, singkat.

"Buat apa?" Aku bingung. Ia tiba-tiba bawa baskom berisi air hangat kedalam kamar.

"Tadi aku cari di google cara mengobati bengkak yang sedang kau alami saat ini. Caranya dikompres dengan air hangat."

"Hah!" Aku melongo. Jadi tadi dia liat Hp karena cari cara mengobati bengkak yang ada di aku sebab ulahnya itu?

Wah…ini salahku. Karena semalam aku telah memberikan ide untuk ia bertanya apapun. Dan kini ia menerapkannya lagi. Namun benar-benar konyol.

Oh, Tuhan….

"Buka kakimu!"

"Apa!" Aku menatap Inder yang berdiri di depanku.

"Kamu nanya?"

Aku mengedip-ngedipkan mata berkali-kali.

"Atau gak denger?" lanjutnya.

"Mas! Jangan aneh-aneh!" ingatku dengan sengit.

"Aku gak aneh-aneh. Buka kakimu."

"Mas, kamu, ya!" Aku menunjuk wajah Inder. Geram.

"Din. Yang sopan!"

"Mas sendiri gak sopan!"

"Aku kenapa?" Dih, dia bertanya dengan muka polos.

"Apa Mas Inder gak war*s!" Aku mulai kesal.

"Kalau aku gak war*s, tentu aku gak akan seperti ini, Din. Aku gak akan tanggung jawab dengan apa yang telah aku perbuat."

"Aku gak butuh tanggung jawabmu yang ini, Mas." Aku semakin merapatkan posisi dudukku dan melipat lututku.

"Jangan mendebatku, Din. Gak usah manja."

"Apa katamu? Aku manja?"

"Sudah cepat, buka kakimu." Tanpa seizinku. Inder menarik kakiku.

"Mas, nggak!" Refleks kakiku yang di paksa tarik oleh Inder menerjang dan….

"Arghh…Dinar…." Inder mengerang sambil memegang pusakanya.

Upsss…ini salah google.

_____________

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED