Bab 1

Sebuah rumah mewah, tampak sepasang suami istri baru saja selesai sarapan pagi.

“Sayang, Abang pulang telat ya? karena hari ini ada audit di sekolah. Langsung dari pusat.”ujar Fadhil.

“Ya Bang, nggak apa–apa. Yang penting jangan terlalu fokus dengan kerjaan, tapi perut Kamu lapar.”balas Naiya.

Fadhil tersenyum membalas ucapan sang istri yang Dia cintai.

Sebuah kecupan mendarat di kening Naiya.

“Bulan depan Abang ambil cuti ya?Kita bulan madu lagi. Mana tau kali ini Kita berhasil.” ajak Fadhil. Seraya mengedipkan mata nakalnya, membuat sang isteri tersipu malu. 

“Ya Bang, terserah Abang gimana baiknya. Aku manut aja. Yang penting Abang bahagia, maafkan Aku ya? belum bisa memberikan buah hati untuk Abang.” lirih Naiya.

Wanita itu menatap sendu ke arah sang suami. Hati Fadhil ikut sedih dengan apa yang diucapkan Naiya. Dengan cepat memeluk Naiya, untuk menenangkan wanita cantik itu.

“Kita sama-sama sehat Sayang, jadi Kamu jangan menyalahkan diri Kamu. Insya Allah bulan madu kali ini pasti berhasil. Kamu mau kemana? Abang pasti bawa Kamu,”

“Kita ke sabang aja. Jangan jauh-jauh, sekalian ke rumah Kak Erly. Bagaimana?”

“Ide bagus, Abang setuju. Nanti Kamu telpon aja Kak Erly ya? minta tolong carikan hotel yang paling bagus di sana,”

“Siap Bos,”

Keduanya tersenyum bahagia, seolah dunia milik Mereka berdua. Hingga Mama Fadhil datang, Dia mendengar semua pembicaraan anak dan menantunya.

“Kalian mau bulan madu lagi? buang duit aja. Dil, Kamu nikah aja lagi. Tinggalin itu perempuan mandul. Mama sudah pingin banget punya cucu,” ujar Aini.

“Mama. tolong jangan ikut campur dengan urusanku. Urus aja anak manja Mama itu, yang kerjanya hanya habisin duit aja.”balas Fadhil.

Pria tampan itu tidak menyukai sikap  Aini yang selalu ikut campur dengan urusannya dengan Naiya.

“Dil. Keluarga Kita membutuhkan penerus, Kamu nanti waktu tua siapa yang urus? jika bukan anak Kamu. Mama sudah punya kriteria perempuan yang cocok dengan Kamu. Anak orang kaya lagi, Mama ini sudah tua Dil. Jangan sampai Mama mati, belum melihat keturunan Kamu.”

“Cukup Ma. Aku tidak ingin membahas lagi masalah ini.  Mama jangan berdoa agar cepat mati, itu dosa Mama masih sangat banyak. Sayang, Ayo ke kamar.”

Fadhil menarik pelan tangan Naiya dan Mereka berlalu dari hadapan Aini.

“Entah pelet apa yang dipakai perempuan miskin itu, sampai Fadhil tidak pernah melirik perempuan manapun. Ini tidak bisa Aku biarkan. Sudah cukup lima tahun Dia menumpang hidup di keluargaku. Aku mesti memisahkan Mereka dengan caraku sendiri,”

Aini tidak pernah menyukai Naiya, karena menantunya itu berasal dari keluarga sederhana yang berbeda dengan Mereka yang orang kaya.

“Bang. Kamu tidak boleh bersuara keras dengan Mama. Beliau sudah membesarkan Abang. Nanti malahan Abang berdosa lho. Entar Aku sendirian di surga, ”ujar Naiya. Wanita berhidung mancung itu mengerucutkan bibirnya.

Membuat Fadhil langsung mencium bibir merah delima itu.

Naiya memukul pelan dada Fadhil, yang tersenyum nakal pada Naiya.

“Iss. Mesum pagi-pagi, Pokoknya Abang jangan membantah perkataan Mama. Dosa,” ujar Naiya.

“Tidak sayang, malahan Abang yang akan berdosa jika membela mama. Kamu yang akan terzalimi. Abang tidak ingin malaikat murka pada Abang. entar Abang di neraka, Kamu di surga. emang mau pisah dengan Abang? ” goda Fadhil.

Naiya menggelengkan kepalanya, lantas

Keduanya pun saling berpelukan dengan erat. Rasa cinta yang begitu besar pada Naiya membuat Fadhil menutup mata dan telinga dengan segala kekurangan sang istri. Tidak ada wanita yang bisa menggantikan posisi Naiya dalam hati pria rupawan itu.

“Abang pergi dulu, jangan keluar Kamar jika Mama masih ada di rumah Kita. Mama itu seperti virus yang berbahaya, melebih corona. Makanya Kamu mesti jauh-jauh dari Mama.”

“Tapi Bang, kan nggak mungkin Aku biarkan Mama sendirian aja. entar malahan Mama tidak suka dengan Aku. Kan Aku punya anti virus Bang, Kamu tenang aja. Kerja yang benar.”

“Biar aja Mama sendirian, nanti Kamu makan hati dengan kata-kata Mama. Pokoknya  mesti nurut kata Abang. Entar nggak jadi Kita bulan madu.”

“Pakai ngancam segala, ya udah. Aku akan tidur di kamar aja, nggak akan kemana-mana.”

“Itu baru isteri Abang, cup..”

Fadhil mengecup pucuk kepala sang istri dengan lembut.

“I love you, baik-baik di rumah. Jika ada apa-apa langsung telpon Abang.”

“Siap komandan, I love you,”

Naiya memeluk sang suami dengan erat, selesai mengantar Fadhil di depan pintu kamar. Wanita itu langsung mengunci pintu kamarnya.

Fadhil mendekati Aini yang masih duduk santai di ruang keluarga. Nampak wanita itu sedang menonton televisi.

“Mama pulang aja ke rumah, jangan lama-lama di sini. Yang ada Nai sakit hati  dengan sikap Mama.”ujar Fadhil.

“Kamu mengusir Mama? hanya karena wanita kampung itu? Gila Kamu, Fadhil. Mau jadi anak durhaka Kamu? Kamu lupa, Mama ini yang sudah membesarkan Kamu. Bukan wanita miskin bin mandul itu.”bentak Aini.

Wanita berusia lima puluh tahun lebih itu menatap tajam pada Fadhil.

“Mama. Aku sayang dengan Mama, tapi tolong jaga sikap dan kata-kata Mama. Jangan terus menghina Naiya,”

“Emang kenapa dengan kata-kata Mama? kan nggak ada yang aneh? toh yang Mama katakan itu semua benar,”

“Aneh sih nggak Ma. cuman pedes melebihi cabe setan.Mama jika bicara asal aja, saring dulu. Jangan asal bicara saja. Nai pasti sakit hati, Ma.”

“Emang kopi mesti disaring? enak aja bilang mama ini kayak setan. pergi kerja sana. Baru aja jadi kepala sekolah Kamu udah berani katain Mama yang bukan-bukan. Mau Mama doakan yang jelek buat Kamu?”

Fadhil mengelidik ngeri melihat Mamanya yang mengancam dirinya.

Aini mendorong tubuh Fadhil agar segera keluar dari rumah. Karena Dia memiliki sebuah rencana untuk Naiya.

“Cepetan pergi Fadhil. Itu sudah hampir jam delapan, Mentang-mentang Kamu kepala sekolah. Tapi suka bolos waktu. Kasih contoh ke anak buah Kamu, Dil.”

“Ya Ma. titip Naiya ya? Jangan Mama ganggu Dia ya?”

“Tenang aja, Nggak akan Mama makan isteri Kamu itu.”

“Hahaha,”

Fadhil mencium tangan Aini, lantas masuk ke dalam mobil.

“Yes, Pergi juga itu anak, Aku akan buat Naiya pergi dari hidup putraku. Perempuan mandul itu akan pergi dengan sendirinya tanpa Aku usir. Aku akan mencari wanita yang berkelas seperti keluargaku, bukan benalu dan keluarga miskin seperti Nai," gumam Aini.

Lantas Aini menelpon seseorang untuk segera datang ke rumah Fadhil. Senyum menyeringai di wajah Aini.

Ternyata Aini mempunyai niat jahat pada sang menantu. Entah setan apa yang mempengaruhi wanita berusia lima puluh tahun itu.

Bab 2

Aini menyimpan ponselnya, lalu menuju ke dapur untuk menemui asisten rumah tangga Fadhil.

Nampak Bik Minah sedang membersihkan dapur.

“Minah. Kamu ke pasar belanja bahan-bahan dapur untuk satu minggu ya? awas jika ada yang ketinggalan, resikonya Kamu akan Aku pecat.”ancam Aini. Wajah Bik Minah memucat mendengar ancaman wanita itu.

Aini menyerahkan uang lima ratus ribu pada Bik Minah.

“Untuk satu minggu Nyonya? Mana cukup Nyonya. Bukannya Ibu Nai yang biasa berbelanja? Saya kurang paham Nyonya,”tanya Bik Minah.

“Nggak usah banyak tanya. Pergi sana, pokoknya Aku tidak mau tau semua bahan dapur mesti lengkap. Tidak ada yang kurang,”bentak Aini.

Bik Minah tidak ingin dipecat, lantas mengambil keranjang belanja. Wanita yang berusia senja itu pergi dari rumah dengan perasaan was-was dan rasa khawatir.

“Ya Allah. Aku lupa pamit dengan Ibu Nai. Kalau Beliau perlu apa-apa gimana? kenapa pulak Nenek sihir itu mesti datang? Mana nggak ada yang bisa minta tolong,”gerutu Bik Minah.

Dengan tergesa wanita berusia lima puluh tahun lebih itu mencari ojek untuk bisa pergi ke pasar. Karena jarak rumah Fadhil ke pasar lumayan jauh.

Sudah lama bekerja dengan Naiya, Bik Minah tidak pernah ke pasar. Karena Naiya tidak ingin merepotkan Bik Minah.

“Nasib-nasib jadi orang miskin, selalu aja rendah di mata majikan.”

Hingga sebuah sepeda motor mendekati Bik Minah, Mereka pun pergi ke pasar.

Sementara itu di tempat lain, di sekolah Fadhil. Lelaki itu masih sibuk dengan laptopnya. Banyak laporan yang mesti Dia periksa.

“Pak. Tim audit sebentar lagi akan tiba. Kita bertemu di aula atau di ruangan Bapak saja?”tanya Ranti. Seorang asisten kepercayaan Fadhil.

“Di sini saja, toh Mereka hanya bertiga saja. Tolong panggilkan Akbar dan juga Pak Ham. Karena Mereka yang akan diaudit. Bukan Saya,”balas Fadhil.

Pria itu masih fokus dengan laptopnya, tanpa melihat ke arah asistennya.

“Siap Pak, Saya akan memanggil Mereka.”kata Ranti.

Gadis cantik itu keluar dari ruangan Fadhil untuk menemui Pak Ham dan Akbar.

“Pak Fadhil itu sombong banget, jika bicara kagak pernah pun lirik Aku. Udah dandan cantik tapi nggak Dia liat pun. Huft.”gumam Ranti.

Ternyata diam-diam gadis itu mengagumi atasannya. Namun Fadhil tidak pernah merespon sikap Ranti yang menunjukkan rasa sukanya.

“Aku pasti akan mendapatkan Pak Fadhil, bagaimanapun caranya. Sepertinya Aku mesti bersabar dulu.”

Lantas gadis itu pergi menuju ke ruang lain.

“Pak Ham. Di minta menemui Pak Fadhil Karena tim audit akan segera tiba.”

“Ya Ranti, Saya akan kesana dengan berkas–berkas.”

Ranti tersenyum membalas ucapan Pak Ham, kemudian menuju ke tempat Akbar berada. Ruangan yang Akbar tempati berada di ruang guru.

“Akbar. Kamu diminta menemui Pak Fadhil, cepetan ya? jangan pakai lama.”kata Ranti.

“Ya Cantik, Ayo Kita kesana barengan?”ajak Akbar seraya mengedipkan matanya.

“Dasar genit, itu jangan sampai genit dengan cewek–cewek yang audit.” kata Ranti.

“Kenapa? kamu cemburu?” tanya Akbar seraya memamerkan giginya yang putih.

“Hah? cemburu? Kamu itu bukan tipeku, Akbar. Kecuali Pak Fadhil, itu baru Aku klepek–klepek. Gantengnya tingkat dewa,” balas Ranti. Wajah gadis itu memancarkan aura bahagia menyebut nama Fadhil

“Aku pasti akan mendapatkan Kamu, Ranti. Fadhil tidak akan melirik Kamu. Karena dalam hatinya ada Naiya,” batin Akbar..

Ucapan Ranti menyisakan kecewa dan rasa benci didalam hati Akbar yang ternyata menyukai Ranti. Keduanya pun ke ruangan Fadhil tanpa berbicara apapun. Sesekali Akbar melirik gadis cantik di sampingnya yang fokus dengan ponselnya.

“Akhirnya tidak ada lagi orang di rumah. Aku tunggu si Herman aja di depan. Semoga aja rencanaku lancar, tidak ada yang mengganggu.” gumam Aini.

Wanita itu menutup pintu belakang, lalu dengan cepat menuju ke teras.

Nampak olehnya seorang satpam menjaga pintu pagar.

“Pak Hasan apa Aku minta pergi juga? tapi kayaknya nggak masalah, toh pintu nanti di tutup juga. Dia pasti tidak akan mendengar suara teriakan Naiya, Kasihan Dia. Pasti akan trauma, terus merasa tidak percaya diri. Dan pergi dari kehidupan Fadhil,”

Aini terus berandai-andai jika Naiya tidak jadi menantunya lagi.

Hingga akhirnya yang ditunggu pun tiba juga, seorang lelaki berusia tiga puluh tahun datang menemui Aini.

“Mana menantu Kamu yang kurang ajar itu? Biar Aku yang kasih pelajaran, pasti Dia akan ingat seumur hidupnya.”tanya Herman.

“Dia ada dikamarnya,masuk aja. Aku mau ke kamarku ya? selamat bersenang-senang. Habis itu ke kamarku ya? Kita main, Aku kasih servis yang membuat Kamu melayang-layang,”balas Aini. Wanita itu menarik tangan Herman agar segera masuk ke dalam rumah.

Herman adalah lelaki berondong yang di sewa oleh Aini untuk menuntaskan hasrat biologisnya. Tapi hari ini wanita berusia lima puluh tahun lebih itu mempunyai maksud jahat pada sang menantu.

“Jangan lupa kunci pintu jangan sampai Dia lari.”

“Siap Sayang, Kamu beneran nggak cemburukan?”

Herman merangkul Aini ke dalam rumah, dan menutup pintu depan.

“Ya gak lah, kan sekali doang. Jangan sampai Kamu suka dengan Naiya. nanti Kamu kena sial seperti Fadhil.”

Herman mencium dengan ganas bibir Aini, hingga kemudian Aini melepas ciuman Mereka.

“Nanti Kita teruskan, Aku antar ke kamar Nai. Buat Dia menjerit ketakutan ya?”

“Siap Sayang, Dia akan meminta ampun padaku. Minta di puas kan seperti Kamu. Hahah,”

Keduanya pun menuju ke pintu kamar Naiya.

“Ketuk pintu kamarnya , jangan bersuara. Dia pasti mengira Aku yang mengetuk pintu. Kamu tunggu sampai Dia keluar.”bisik Aini.

Lantas wanita itu meninggalkan Herman di depan pintu kamar.

tuk..tuk..tuk..

“Siapa? Mama ya?”terdengar suara Naiya di dalam kamar.

tuk..tuk..

Naiya yang sedang membaca al quran, pun membuka pintu kamarnya.

Klek..,

Herman dengan cepat menarik tubuh Naiya masuk kembali ke kamar. mengunci tubuh Naiya dan membawanya menuju ke ranjang.

“Kamu siapa? ngapain Kamu di kamarku?”tanya Naiya.

“Hahaha, Kamu tidak perlu tau siapa Aku, yang jelas Aku adalah musuh Kamu hari ini. Aku menginginkan tubuh mulus Kamu, Sayang.”balas Herman.

Lelaki itu mencengkram lengan Naiya dengan keras. Namun Naiya segera menginjak kaki Herman dengan sangat kuat.

“Awwwww,”

“Bugghhhh.. Bugghhh..”

Naiya langsung meninju perut Herman dengan membabi buta. Herman tidak menyangka jika menantu dari Aini sangat kuat. Wanita cantik itu ternyata mempunyai ilmu bela diri.

“Bangun, Kamu punya niat jahat denganku bukan? Siapa yang menyuruhmu?” bentak Aini.

Naiya menginjak perut Herman , lelaki itu sudah terkapar tidak berdaya. Herman merasa sangat menyesal sudah mengikuti niat jahat Aini.

Bab 3

Herman ketakutan melihat amarah Naiya. Sungguh lelaki itu tidak menyangka jika wanita secantik Naiya bisa ilmu kanuragan.

“Cepat katakan, siapa yang menyuruhmu melakukan perbuatan laknat itu? Kenapa Kau diam? Kau mau Aku cincang hidup-hidup?”bentak Naiya.

Tubuh Herman bergetar, mendengar ancaman Naiya.

“Ma–afkan Aku, Nai, Mertua Kamu yang menyuruhku. Tolong lepaskan Aku,”lirih Herman.

“Apa? Mama? Ya Allah, Kamu tidak berbohongkan?”tanya Naiya lagi.

Herman menggelengkan kepalanya dengan lemah.

“Kita keluar sekarang, Mama mesti tanggung jawab. Bangun Kamu, atau mau Aku seret?”

Herman dengan cepat bangun, walaupun merasa sakit di perutnya lelaki itu tetap berjalan di depan Naiya.

“Jalan yang cepat, jangan kayak siput. Tadi Kau begitu bernafsu padaku, sekarang udah jadi pengecut.”

Herman sangat marah pada Naiya, namun Dia tidak bisa berbuat apa–apa. Nyawanya dalam bahaya jika melawan wanita cantik itu.

tukk..tukk..

“Sayang, ini Aku!”

terdengar suara Herman memanggil Aini. tidak lama kemudian Aini pun membuka pintu.

Nampak wanita berusia lima puluh tahun itu sedang memakai baju yang cukup terbuka.

“Bagaimana menantuku?”

ucapan Aini menggantung melihat Herman yang babak belur dan Naiya yang menatap tajam padanya.

“Kenapa Mama tega padaku? Aku akan membawa kasus percobaan pelecehan ini ke kantor polisi.”

“Maksud Kamu apa Nai? jangan menuduh Mama sembarangan,”

Aini mencoba mengelak dengan apa yang terjadi. Tapi Naiya bukanlah wanita yang mudah di bohongi.

“Aku sudah menyimpan bukti yang lelaki ini lakukan padaku. Mama lupa jika kamar Kami ada CCTV? yang hanya Aku dan Bang Fadhil saja bisa melihatnya? lagipula Aku sudah merekam pengakuan lelaki brengsek ini. Mama mau bantah apa lagi?”

Naiya melipat tangan di dadanya seraya mendelik penuh benci pada Aini.

“Hahaha, ya Aku yang membuat rencana ini. Tapi Sayang ternyata gagal. Kamu mau apa?”tantang Aini.

“Aku mau Mama di penjara,”balas Naiya

Lantas wanita itu mengambil ponselnya di dalam saku gamisnya.

“Apa yang Kau lakukan Nai? hentikan,”cegah Aini.

“Bukannya tadi Mama mau tau apa yang Aku inginkan? nikmatilah masa tuamu di dalam sel penjara,”balas Naiya.

Aini terkejut dengan sikap Naiya yang berbeda dari biasanya yang lembut dan patuh.

“Mama mohon Nai, jangan lapor polisi, Mama akan melakukan apapun yang Kamu minta.”

Aini menangkupkan kedua tangannya, membuang segala gengsi dalam dirinya.

“Benarkah? Mama mau memberikan apa yang Aku minta?”

“Ya Nai, Kamu boleh minta apapun sama Mama. selagi Mama bisa mengabulkannya.”

Naiya terdiam untuk beberapa saat lamanya, hingga wanita itu tersenyum.

“Transfer uang ke rekening Aku. Lima puluh juta. Sekarang juga,”

“Apa Nai? banyak banget, Mama tidak mau.”

Aini menolak permintaan menantunya itu. Tapi bukan Naiya yang tidak bisa memeras Aini.

“Hei. Kau. Apa hubungan Kau dengan Dia.”tunjuk Naiya ke Herman.

“Aku ini simpanan mertua Kamu, Nai. Kami berhubungan sudah satu tahun lebih.”

Naiya merekam semua yang dikatakan oleh Herman. membuat Aini kesal dan memukul Herman.

“Kenapa Kau bicara tentang hubungan Kita? bisa-bisa Fadhil tidak akan mengirim uang ke Aku lagi.”bentak Aini.

“Aku masih ingin hidup, Aku kesakitan tau?”balas Herman.

Keduanya saling beradu mulut, hingga tepukan dari Naiya membuat Mereka berhenti.

prokk..prokk..

Naiya menepuk dua tangannya, membuat Aini terdiam.

“Kalian mau Aku viralkan sebagai pasangan mesum ? apa kata dunia Ma? sudah siap Mama kena kecam oleh keluarga dan semua teman-teman mama?”

Akhirnya Aini terpaksa mengirim uang ke rekening Naiya.

“Sudah Mama kirim, pergilah Kamu dari sini. Muak Aku liatnya,”usir Aini.

“Apa? Mama mengusirku? Mama lupa ini rumah siapa? ini rumahku, Aku Bos di sini yang berhak mengatur siapa yang tinggal atau pergi. dan Kalianlah yang pergi, sampah seperti Kalian itu tidak pantas ada di rumahku.”

Naiya menarik tangan Aini dan juga Herman. entah dari mana tenaga yang dimiliki wanita cantik itu.

“Tunggu Nai. Mama ganti baju dulu, mana mungkin Mama pergi dengan pakaian seperti ini.”

Aini memberontak ketika Naiya menarik tangannya.

“Bukannya wanita murahan pakaiannya seperti Mama? malahan lebih bermartabat p***cur dari pada Mama.”

Naiya tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Aini.

“Tunggu di situ, Aku akan mengambil barang-barang Mama.”

klek..

Naiya mengunci pintu rumahnya, lalu mengambil tas serta baju milik Aini yang tertinggal di kamar.

“Ambil punya Mama. Jika Mama masih punya niat jahat denganku. Siap–siap Mama tinggal nama.”ancam Naiya.

Dengan cepat Naiya menutup pintu rumahnya kembali. membiarkan Aini dengan pakaian tipis menerawang.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED