Sesampainya di tempat gym di beberapa sudut ruangan sudah ada beberapa orang yang hilir mudik dan mulai memakai beberapa alat-alat olahraga. Beberapa orang masih ada di bagian reservasi. Tiba-tiba seorang laki-laki datang menghampiri Lea. Laki-laki itu bertubuh atletis dan juga sangat tampan memiliki kulit tan dan juga ada bulu-bulu halus nan terawat yang tumbuh di sekitar dagunya.
"Hai Marco!”sapa Lea begitu melihat lelaki itu berjalan kearahnya.
"Hai, sudah sarapan?" tanya Marco balik.
"Belum. Ini si mbok bawakan ini untukku. Apa kamu sudah sarapan?”sambil menunjukkan sebuah kantong kecil berwarna biru muda yang sengaja si mbok bawakan untuknya.
"Baiklah. Aku akan mengambil sarapanku. Nanti kita ketemu di ruang makan ya." Lalu ia undur diri sambil membelai kepala Lea dengan sangat lembut.
Marco memang menyukai Lea. Tapi Lea, masih betah menjomblo. Marco beberapa kali menyatakan keseriusannya, namun sayang Lea menolaknya. Padahal Lea juga sesungguhnya menyukai Marco. Tapi ia masih tidak ingin berhubungan serius dengan seorang laki-laki. Di saat usianya yang baru saja menginjak 20 tahun.
Marco adalah salah satu pemilik tempat gym ini. Ia adalah pengusaha tempat pusat kebugaran dan juga healthy food. Setiap pagi dirinya pasti akan berada di tempat ini dan pukul 10 pagi biasanya dia akan pulang ke penthousenya yang terletak tak jauh dari mall itu.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Marco ketika melihat Lea sedang duduk menyandar pada kursi dan menatap nanar orang-orang yang sedang melatih kebugaran tubuhnya.
Lea tersenyum.
"Ada yang ingin kamu ceritakan? Aku siap menampungnya,”katanya penuh dengan kelembutan.
"Aku hanya lelah Marco. Jadwalku padat sekali akhir-akhir ini." Sambil mengucek matanya yang terasa sedikit gatal.
"Kalau begitu, bagaimana setelah kamu latihan dengan Amira aku akan mengantarmu pulang. Lalu kemudian aku akan mengantar kamu ke kampus, karna yang aku tau kamu ada jadwal kuliah kan? Aku akan menjadi supirmu hari ini.”
"Kenapa sih kamu baik sekali Coco?" menatapnya dalam.
"Karna aku sayang padamu Lea. Masa kamu tidak mengerti juga?”katanya penuh harap.
Lea kembali tersenyum lalu membuka kotak bekal makanannya dan menyeruput susu hangat yang dimasukkan kedalam tumbler oleh mbok Ijah.
******
Hari itu Marco benar-benar mengantar Lea ke manapun. Marco memang bisa dibilang bucinnya Lea. Walaupun udah berkali-kali di tolak, tapi ia masih saja berusaha meluluhkan hati Lea. Orang tua Lea sudah tau mengenai Marco yang mencintai anak satu-satunya itu.
Marco juga seorang yang laki-laki yang sangat bertanggung jawab menurut kedua orang tua Lea. Waktu itu mereka pernah menitipkan Lea padanya ketika mereka secara mendadak harus keluar kota. Dan Marco menjaganya dengan sangat baik. Lea dan ARTnya juga menyampaikan hal serupa. Jadi jika Marco kapan-kapan mengajak Lea pergi keluar kota atau keluar negeri mereka pasti akan mengizinkannya ujar mereka berjanji.
"Ada yang ketinggalan ga coba dicek dulu?”kata Marco begitu Lea mendaratkan bokongnya di sebelah kursi kemudi.
Lea langsung memeriksa tasnya dan juga laptop yang ia bawa serta dari kelas tadi."
"Ga ada Coco. Yuk kita jalan," jawab Lea tersenyum.
"Ok, jika memang tidak ada yang tertinggal. Mari kita jalan!”Marco kemudian memasangkan safety belt untuk Lea.
Lea sudah mulai terbiasa dengan hal ini. Malah, hal ini bukan yang pertama kalinya Marco melakukan itu untuk Lea. Saat bersama Marco, Lea benar-benar merasakan sangat nyaman. Laki-laki berkulit tan itu benar-benar memanjakan hidupnya. Walaupun tidak setiap hari mereka bersama seperti ini. Tapi Lea selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan Marco yang notabene bucinnya.
"Semuanya sudah selesaikan?”Marco memulai pembicaraan begitu mobil Evoque hitam yang dikemudikannya melaju keluar dari gedung parkir kampus Lea.
"Iya. Bagaimana kalau kita mampir makan di resto milik Marriane?”tanya Lea antusias.
"Marriane? Ah tidak-tidak. Aku sedang malas betemu dengannya. Kami baru saja ribut.”
"Kenapa kalian ribut? Bukannya seorang Coco selalu menyayangi adiknya?”mengelus lembut lengan Marco.
"Aku memang menyayanginya. Tapi dia benar-benar sedang menjengkelkan. Aku tidak mau bertemu dengannya dulu." Katanya masih dengan nada kesalnya.
"Memangnya kalian kenapa sampai-sampai kamu tidak mau bertemu dengannya?”tanya Lea sambil menatap Marco.
"Tidak apa-apa hanya saja dia tidak mau mendengarkan kakanya yang tampan tanpa batas ini. Aku benar-benar dibuat jengkel olehnya.”Menampakkan wajah kesalnya.
"Bisakah kamu memaafkannya kali ini?”katanya sambil menyatukan tangannya dan memasang muka memohon.
"Oh, come on Lea. Jangan menatapku seperti itu,”katanya sambil terus berkonsetrasi menyetir, melirik sesekali kepada gadis yang berada di sebelahnya itu.
Lea masih mengerjap beberapa kali menampilkan wajah imutnya. Marco berfikir keras untuk mengabulkan atau menolak permintaan Lea. Lea masih bergeming dengan gayanya yang masih dibuat seimut mungkin dan masih tetap menyatukan tanganny. Memohon pada Marco. Lea tau, jika dirinya sudah memasang tampang memohon Marco tak mungkin menolak permintaannya. Biar bagaimanapun Marco adalah bucinnya Kalea. Jadi apapun permintannya dia pasti akan mengabulkannya, sekalipun Lea memintanya mengambil bintang yang paling bersinarpun ia pasti akan mengambilnya jika itu memungkinkan.
"Ok-ok Princess, i'll do!”ujarnya menyerah.
"Yes!”Kalea kemudian tersenyum senang.
Ia juga mencium sebentar pipi Marco. Hal itu sukses membuat semburat merah pada wajah lelaki berumur 26 tahun itu. Marco langsung salah tingkah dan merasakan seperti ada kupu-kupu yang terbang kesana ke mari di dalam perutnya. Ia sangat senang mendapat ciuman dari Lea, walau hanya di pipinya.
******
Lea dan Marco tiba di sebuah resto yang terletak di pusat kota Jakarta dan saat itu, sedang ramai oleh pengunjung. Resto itu kepunyaan adik Marco yang benama Marriane. Marriane dan Lea bersahabat sejak mereka masih sama-sama dibangku SMA.
"Marriane!”panggil Lea senang begitu melihat sahabatnya itu berjalan ke sana ke mari ikut membantu karyawannya menjamu tamu-tamu yang datang ke resto itu.
Tak lupa gadis berumur 20 tahun itu melambaikan tangannya dan tersenyum memamerkan deretan giginya yang terlihat rapi.
"Leaaaa!”katanya kemudian menghambur memeluk sahabatnya itu dengan senang, "sama siapa lo ke sini?” tanya Marriane yang berusaha mengacuhkan kakanya.
"Sama Coco,”katanya tersenyum dan melirik Marco yang sedang melipat tangannya.
Marco yang berdiri di belakangnya hanya memalingkan pandangannya kearah lain. Sedangkan Marriane memutar bola matanya dan melihat malas ke arah kakanya yang mengantarkan sahabatnya itu. Marriane langsung menarik tangan Lea untuk duduk di kursi yang sengaja ia taruh di sudut ruangan sebagai cadangan jika ada orang yang dikenalnya datang ke sana disaat sedang ramai seperti ini. Bisa dibilang itu kursi VVIP di resto itu.
Marco dan Marriane adalah kaka adik yang suka bertengkar namun saling menyayangi satu sama lainnya. Untuk permasalahannya ini, Lea tidak mengetahui. Tapi pasti sebentar lagi juga ia akan tau kenapa kaka beradik ini sampai perang dingin seperti ini.
"Mau minum apa Lea ku Sayang?” tanya Marriane penuh dengan senyuman.
"Gw mau ice cream! Seperti biasa. Lo tau apapun yang gw suka kan?”jawab Lea santai dan senang karna bisa bertemu dengan sahabatnya kali ini.
"Tentu saja!”Anne tersenyum.
"Coco mau minum apa?”tanya sang adik kepada Marco yang sedari tadi sibuk memainkan ponselnya.
"Apapun akan ku minum," jawabnya datar tanpa menoleh pada adiknya.
"Tunggu ya. Pesanan kalian akan segera datang,”kemudian pergi melangkah menuju dapur.
Tak lama kemudian Marriane datang dan membawakan pesanan mereka. Ice cream 1 cup berukuran sedang rasa cookies & cream campuran coklat dan strawberry serta topping kiwi. Marriane sengaja menambahkan topping kiwi karna memang sahabatnya itu juga suka dengan buah rasa asam dan bertekstur lembut itu. Marco diberikan ice coffee latte ukuran besar dan juga roti panggang dengan selai nutella.
"Terimakasih Marriane cantik!" puji Lea pada sahabatnya yang sedang menaruh piring dan gelas-gelas di hadapan mereka.
"Sama-sama Lea. Tumben lo kemari. Apa lo ga ada jadwal manggung hari ini?”tanya Marriane yang langsung duduk di sebelah Lea.
"Ya! hari ini gw lagi free dan malas ke manapun. Dan hari ini dengan baik hatinya Coco mau mengantar gw ke manapun.”Lea kini mengamit lengan dan menyandarkan kepalanya ke pundak Marco.
"Ohhh … baik hati sekali Cocoku ini.”Puji Marriane yang berusaha mencairkan suasana dan tak mengacuhkan kakanya lagi.
"Ga usah sok baik di hadapanku.”Jawab Marco sarkas.
Lelaki itu masih menekuri ponselnya walaupun sudah dipuji oleh adiknya.
"Ululululuuuu … Coco jangan begitu dong,” goda Marriane yang langsung bangkit berdiri dan mencolek-colek dagu kakanya hingga kegelian dan risih sendiri.
"Ane hentikan!" katanya protes.
"Maafkan aku! Cocoku yang tampannya tanpa batas. Aku mengaku salah, dan aku minta maaf padamu,” memeluk kakanya.
Awalnya Marco memberontak, tapi begitu mendengar Marriane meminta maaf padanya. Ia langsung memaafkan adik satu-satunya itu. Karna jika membiarkan kakanya terlalu lama marah juga pastinya akan sangat berbahaya baginya. Salah satunya, uang jatah bulanannya pasti akan dihentikan akibat dirinya tidak menuruti maunya Marco. Laki-laki tampan nan baik hati itu memang selalu memberikan uang jajan tambahan untuk Ane. Walaupun Ane sudah mempunyai resto sendiri dan pengahasilan. Tapi jika Marco memberikan jatah bulanan, ia tak pernah menolaknya.
"Maafkan saja Adikmu itu ya Coco Sayang.”Kata Lea kali ini meminta mengulangi perkataannya tadi di dalam mobil menuju ke resto itu.
"Iya-iya akan aku maafkan. Tapi hentikan memelukku di depan Lea dan berjanjilah jangan menjadi Adik yang menjengkelkan!”katanya melerai pelukan adiknya.
"Memangnya kenapa? Lea juga tau kamu menyayangiku,”kini Ane duduk di sebelah Marco masih memeluknya menyandarkan kepalanya pada lengan berotot yang Marco miliki, "aku berjanji aku akan menuruti Kaka tersayangku ini.”Lanjutnya.
Lea hanya terkekeh melihat kelakuan adik kaka ini. Jika mereka sedang bertengkar hanya Lea yang bisa membuat mereka berdua berdamai. Seperti yang sudah Author ceritakan tadi, Marco itu bucinnya Lea. Jadi apapun permintaan Lea. Ia pasti berusaha mengabulkannya. Kali ini permintaannya adalah memaafkan Ane. Dan Coco mengabulkannya.
"Nah! Kan enak melihat kalian akur. Aku sayang kalian!”kata Lea memeluk mereka berdua bersamaan,
******
"Kenapa sih kalian bertengkar?”selidiknya.
"Itu semua karna gadis di sampingku ini tidak mau mendengarkan kakanya yang tampan tanpa batas ini.”
"Jadiiii, ceritanyanya itu. Coco ngasih tau gw, kalo Mark jalan ama cewe lain. Tapi gw ga percaya. Akhirnya gw debat sama Marco. Dannn … ga sampai seminggu gw ngeliat dengan mata kepala gw kalo Mark emang jalan sama cewe lain. Akhirnya gw percaya sama Coco! Gw udah minta maaf tapi dia ga mau maafin gw dan thanks God. Lo ke sini sebagai perantara Allah untuk mendamaikan kami. Tapi bener kan Coco maafin adikmu yang manis ini?”memastikan kakanya mau memaafkannya dan mengerjapkan matanya berkali kali, bertingkah imut.
"Iya-iya gw maafin.”
Lea tersenyum senang melihat kaka beradik ini benar-benar bisa berdamai.
******
Setelah dirasa resto Marriane agak sepi dan bisa ditinggalkan, Ane mengajak Lea dan juga kakanya itu untuk menonton film romance yang baru saja melakukan premier. Pemeran utama laki-lakinya adalah aktor Indonesia yang sudah banyak mengeluarkan film-film yang diperankannya secara sempurna yaitu, Reza Rahardian. Dia adalah salah satu aktor kesukaan Lea. Lea sudah pernah bertemu dengan aktor idolanya itu bahkan sempat menyanyikan single lagu untuk salah satu film si laki-laki berwajah manis dan berkharisma itu.
Lea juga memajang foto ketika pertama kali dirinya bertemu dengan Reza Rahardian di feed IGnya. Betapa bahagianya hari itu ketika melihat idolanya ada di hadapannya. Bahkan malamnya ia tidak bisa tidur karna grogi besoknya akan bertemu dengan aktor idolanya itu.
Marco menuruti kemauan dua gadis dalam hidupnya yang sangat ia sayangi itu. Walaupun, Marco tidak terlalu suka menonton apalagi film romance. Tapi untuk kali ini ia mau karna memang Lea yang mengajaknya.
Ketika sedang menunggu film itu dimainkan, tiba-tiba tatapan mereka tertuju kepada seorang laki-laki yang baru saja memasuki ruang tunggu bioskop. Tangan seorang wanita dengan pakaian serba kekurangan bahan mengamit tangan atletis prianya itu. Tanpa kedua orang itu sadari, tatapan tiga pasang mata penuh amarah itu langsung mengintimidasi kehadiran mereka. Namun sayang, sepasang sejoli itu nampaknya masih tidak menyadari tatapan dari Marco, Marriane dan Lea.
"Gw mau ke sana!”kata Marco hampir berdiri.
"Marco stop!”tangannya ditahan oleh Lea yang berusaha mencegah laki-laki itu menghajar dan membuat keributan di sana.
Marco menurut dan duduk kembali di samping Lea.
"Udah Co, kita cabut dari sini. Gw begah banget liat mereka bermesraan gitu. Yuk, masuk barusan pintu theaternya udah dibuka tuh,”jawab Marriane yang kemudian segera berdiri dari duduknya.
Tapi bukan melangkah menuju pintu theater yang mereka harus masuki. Tapi, Marriane malah berlari ke arah Mark bersama wanitanya. Ya, laki-laki yang sedari tadi mereka lihat itu adalah Mark, laki-laki yang sudah menduakan cintanya dan menyelingkuhinya. Marriane berubah fikiran dan segera ingin melampiaskan kemarahannya pada laki-laki yang dicintainya itu.
PLAKKKK
"Ane!”kata Mark begitu menerima tamparan dari wanita yang sama sekali tidak ingin ia temui saat ini.
Mark memegangi pipinya yang baru saja ditampar oleh Marriane dan memang terasa panas dan kebas. Matanya menyalang penuh emosi. Sedangkan wanita yang berdiri dengan dress kekurangan bahan itu masih setia berdiri di sampingnya sambil membulatkan matanya menatap Marriane, wajahnya juga berubah menjadi marah.
"Apa rasanya sakit?”tanya Marriane begitu melihat Mark jalan bersama dengan kekasih gelapnya itu.
"Dasar Jalang! Apa yang kau lakukan pada Suamiku?”kata wanita itu membela Mark.
"Apa? Suami katamu? Jadi benar dia Suamimu? Hehhh! Bodoh sekali aku selama ini mempercayaimu, Mark!” sambil menangis menutup mulutnya yang sedikit terbuka karna tangisan kekecewaannya.
PLAAKKK
Kali ini Marriane yang menerima tamparan dari wanita yang mengaku istri Mark. Marriane langsung memegang pipinya yang terasa sangat panas dan hilang rasa. Marco dan Lea yang berdiri beberapa langkah dari mereka langsung membulatkan matanya, bahkan Mark sendiri terlihat shock dengan perbuatan dua wanita yang mengisi hidupnya itu. Lea ingin maju dan menarik Marriane dari sana, namun kali ini Marco menahannya dan terus mengawasi mereka.
Marriane langsung melayangkan tamparan balik kepada istri Mark. Dan wanita itu tidak terima karna mendapatkan balasan atas perbuatan yang sudah ia mulai duluan pada Marriane. Belum sampai wanita itu menampar Marriane lagi, tangannya ditahan oleh Mark. Mark menatap kesal pada istrinya itu.
"Hentikan Tania!”kata Mark sambil menahan tangan istrinya itu.
Marriane menatap Mark dengan tatapan tajam.
"Mark! Apa yang kamu lakukan? Kamu membelanya?" kata wanita itu tidak terima dengan tatapan menyalang dan seperti ingin menelan lelaki itu hidup-hidup.
"Dia wanita yang selama ini aku cintai. Aku tidak akan pernah terima jika Marriane kamu sakiti!”katanya penuh emosi dan menunjuk Marriane ketika ia mengucapkan wanita yang ia cintai.
"Tapi kamu Suamiku, Mark!”penuh dengan nada emosi.
"Memang! Tapi selama kita menikah, aku bahkan tidak pernah mencintaimu. Yang aku cintai selama ini adalah Marriane. Itulah kenapa setelah kita menikah 2 bulan lalu, aku tetap berhubungan dengannya dan tidak akan pernah memberitahunya jika kita sudah menikah. Karna, aku tidak bisa kehilangan Marriane!”jelas Mark.
Orang-orang di sekitar mereka mulai memperhatikan mereka. Bahkan mereka sudah diawasi oleh beberapa orang petugas keamanan. Mendengar pernyataan itu, Tania langsung tertegun dan mulai menitikkan air matanya. Ia kemudian pergi tanpa permisi, meninggalkan suaminya dan Marriane di sana. Mark tidak menahan wanita itu pergi. Ia menatap Marriane dengan penuh tatapan penyesalan.
"Terima kasih Ane!”kata Mark begitu istrinya itu pergi dari sana.
"Untuk apa?”tanya Marriane datar sambil terus berusaha menghentikan air matanya yang dengan menyebalkannya tidak mau berhenti.
"Karna sudah menyadarkanku, aku memang mencintaimu. Bahkan aku ingin sekali menyembunyikan statusku darimu. Tapi aku juga manusia yang punya lelah menghadapi wanita itu. Dan hanya kamu yang membuatku nyaman dan betah berlama-lama di sampingmu.”Kemudian melangkah mendekati Marriane dan memeluknya.
Laki-laki itu juga menitikkan air matanya. Air mata penyesalan lebih tepatnya. Tapi Marriane tidak begitu saja membalas pelukannya walau ia sudah mendengar langsung jika Mark mencintainya dan memilihnya. Dalam kasus ini Marriane bisa saja dicap sebagai orang ketiga. Walau sebenarnya Marriane duluan yang memiliki Mark.
******
Selesai menonton film dari aktor kesayangannya, Lea dan Marco pergi ke penthouse milik Marco. Sedangkan Mark dan Marriane sudah pergi sebelum film itu dimulai. Akhirnya Lea dan Marco hanya menonton film itu berdua saja. Marriane akhirnya memutuskan untuk pergi dengan Mark setelah mendapatkan izin dari Marco untuk membicarakan yang sebenarnya dan ia menuntut penjelasan dari Mark.
Dengan adanya kejadian itu bisa dibilang, Marco senang juga karna Marriane tidak ikut menonton. Jadi ia bisa berlama-lama dengan Lea dan menonton layaknya sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Lea kemudian duduk di sofa ruang tv dan menyalakan tv LED berukuran besar itu dan mencari-cari channel tv yang bisa ia nikmati malam ini.
"Ini minum!”kata Marco memberikan sebuah gelas yang sudah ia isi air putih dingin.
Saking dinginnya, gelas berbahan kaca bening itu sampai menimbulkan embun dan menetes-netes kepada benda yang berada di bawahnya.
"Dingin sekali!”kata Lea tersenyum sumringah.
"Besok kamu ke mana?”tanya Marco memulai pembicaraan setelah ia meneguk sampai habis air putih dingin yang ia ambil dari kulkasnya itu.
"Aku? ehmm … siang aku berangkat ke Pekanbaru dan malamnya aku kembali ke Jakarta. Tapi itu hanya transit. Aku langsung pergi lagi ke Singapur untuk melakukan mini konserku di sana.”
"Kapan kamu akan pulang? Aku takut sekali berjauhan denganmu Lea,”protes Marco kini mengisi sela-sela jari tangannya dengan jari Lea yang terlihat imut dan lentik itu.
"Oh, ayolah Coco. Itu hanya sebentar saja. Mana mungkin kita akan berjauhan. Bagaimana jika kamu ikut denganku ke Singapur dan melihatku konser di sana?”memasang wajah ceria dan membetulkan duduknya menghadap Marco yang duduk di sampingnya.
Ia juga masih belum melepaskan genggaman tangan Marco yang membuatnya terasa begitu nyaman.
"Baiklah! Aku akan datang Kalea!”jawabnya dengan memasang wajah senang.
Tak lama kemudian Marco mencium punggung tangan Lea dengan sangat lembut dan menatapnya dalam. Lea yang mendapatkan tatapan itu, langsung mengalihkan pandangannya sebelum pipinya merona akibat tatapan Coco.
"Lea!”panggil Marco.
Lea masih tak mau menoleh, ia masih menyembunyikan wajahnya yang merona dengan melihat saluran tv yang sedang menayangkan drama korea.
"Lea!”Marco memanggilnya sekali lagi lalu memegang dagu Lea dan mengarakan matanya kepada Marco.
Lea menurut dan berusaha mengatur detak jantungnya agar wajahnya juga tidak lebih memerah.
"Lea, apa kamu tidak mencintaiku?”tanya Marco dengan tatapan intimadasi yang cukup kuat.
Lea berfikir sejenak mencari kata-kata yang pas agar Marco tak tersinggung.
"Aku … Akuu …”Lea masih masih belom menemukan kata-kata yang pas. Entah kenapa tatapan itu membuat otaknya buntu untuk berfikir kalimat yang pas. Berulang kali Lea menghindar dari pertanyaan-pertanyaan yang Marco lontarkan. Tapi Kali ini sepertinya ia tidak bisa berkelit lagi.
"Jawab aku Kalea Pradipta!”dengan penuh penegasan.
"Coco … a-aku …”belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya Marco membungkam bibir ranum gadis yang ia cintai itu dengan bibir sexynya.
Marco mulai menciumnya dengan sangat lembut. Lea masih juga tak membalas ciumannya. Laki-laki tampan itu kemudian mengigit kecil bibir bawah Lea dan berhasil memasuki mulut Lea. Ia membelitkan lidahnya dengan lidah Lea. Lea mulai membalas ciuman itu dan akal sehatnya mulai tidak bisa berfikir dengan waras. Ciuman itu begitu menuntut dan Lea begitu menikmati ciumannya dengan Marco.
Marco tersenyum kecil ketika Lea mulai membalas ciumannya itu. Ia menarik pinggang Lea dan menuntunnya untuk naik ke atas pangkuannya. Kaka dari sahabatnya itu juga menuntun tangannya untuk dilingkarkan di lehernya itu untuk berpegangan. Bunyi cecapan mulai terdengar di seluruh ruang tv penthousenya. Marco hanya tinggal sendirian di penthouse nan mewah dan besar itu. Jadi tidak mungkin ada yang mengganggu mereka.
"Coco!”panggil Lea begitu Marco sebentar melepaskan pagutan bibir mereka untuk mencari oksigen.
"Ya!”jawabnya dengan tersengal-sengal.
Lea masih betah duduk dipangkuan Marco yang sialannya terlihat begitu sexy karna dilihat dari jarak yang begitu dekat seperti ini.
"Apa kamu benar mencintaiku?”tanya gadis manis itu.
"Ya! Aku bahkan sangat mencintaimu, Lea!”katanya dengan sungguh-sungguh.
Menatap dalam dan intens pada iris mata Lea.
"Apa kamu juga tidak akan meninggalkan aku seperti yang dilakukan Mark pada Ane?”tanya Lea lagi.
"Tentu saja tidak akan aku lakukan, Lea. Kenapa aku harus meninggalkanmu? Aku mencintaimu dan aku akan menikahimu sekarang juga jika kamu ingin.”Ucap lelaki itu lagi.
Lea terkekeh mendengar kalimat Marco yang menurutnya lucu. Tapi tidak dengan Marco, ia merasa heran dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Lea.
"Kenapa tertawa? Memangnya ada yang lucu?”kemudian mengernyitkan dahinya.
"Maaf … Maaf. Hanya saja wajahmu lucu ketika menyebutkan ingin menikahiku. Bahkan umurku baru memasuki kepala 2. Dan kamu ingin menikahiku? Apa kamu yakin dengan ucapanmu?”masih sedikit terkekeh sambil sesekali menutup mulutnya yang terbuka.
"Baiklah, aku harus melakukan apa agar kamu percaya jika aku tidak akan meninggalkanmu dan akan menikahimu?”tanya lelaki itu bersungguh-sungguh.
"Buktikanlah jika memang kamu serius dengan ucapanmu!”tantang Lea.
"Baiklah … As your wish Princess! I'll do!”
"Dan satu lagi.”
"Apa?”
"Buat aku jatuh cinta padamu hingga aku akan menangis jika aku kehilanganmu!”
"Memangnya belum ada cinta untukku?”mata lelaki itu menyirit dan rasa ingin taunya begitu kentara.
"Ada, tapi masih sebesar ini.”Lea menunjukkan dengan ibu jari dan telunjuk yang disatukan.
"Hanya sebesar itu?”tanya Marco yang sepertinya tidak terima dengan jawaban Lea.
Lea mengangguk.
"Ok, aku akan lakukan apapun untuk mendapatkan hatimu!”dengan penuh penegasan.
Marco kemudian mencium Lea dengan penuh kesenangan di hatinya. Ia benar-benar tak menyangka jika Lea meminta dirinya menunjukkan keseriusannya dan membuat gadis itu jatuh cinta padanya.
******