Seorang pria tampan berbalut jas mahal sedang berjalan tergesa gesa menuju sebuah ruangan. Langkahnya tegas dan lebar – lebar, Ia setengah berlari untuk segera mencapai tempat yang ingin ia tuju. Dalam hati dia sedikit mengumpat karena seseorang telah membuatnya repot dipagi hari. Ia sangat tidak suka bangun pagi. Baginya bangun pagi teramatlah sangatlah menjengkelkan! Kenapa harus terpaksa dengan bangun pagi ketika bisa memilih bangun siang?
Sementara ditempat lain, pria berusia 54 tahun yang masih nampak gagah dan tampan sedang duduk dengan tenang sambil menyesap secangkir kopi. Sesekali dia melihat jam yang melingkar di tangannya sambil terus menggerutu.
"Berengsek satu itu kapan datang? Bagaimana aku bisa mempercayakan perusahaan ini padanya! Benar-benar tidak disiplin!"
Carson sudah sampai di depan lift. Kakinya mengetuk ngetuk dengan tak sabar. Lift belum juga terbuka. Wajahnya gusar, berulang - ulang dia mengecek jam yang melingkar ditangannya. Sungguh orang - orang yang melihat ini sedikit bingung dengannya. Tidak pernah mereka melihat ekspresi seperti itu. Carson yang terkenal dingin dan tanpa ekspresi sekarang menunjukkan ekspresi lain. Sungguh ini hal yang cukup langka! Namun, mereka tidak berani menegur untuk sekedar menyapa.
Carson sudah tidak peduli lagi dengan apa yang orang pikirkan tentang dirinya. Fokusnya adalah cepat sampai ditempat "pria tua" yang menunggunya. Ya, dia suka memanggilnya orang itu dengan sebutan Pria tua. Pria tua? Ah sebenarnya tidak juga, diusianya yang 54 tahun dia tampak tampan dan gagah. Jika dibandingkan, mungkin wajahnya setara seperti Tyo Nugros, si vampire Drummer Dewa 19 yang dijuluki drummer terganteng se-Antariksa. Pria tua yang dimaksud adalah John Abraham, ayah dari Daniel Carson Abraham.
Pintu lift terbuka, Carson segera masuk dan bergegas memencet tombol lift di angka 15. Ia harus menuju lantai 15 tempat John berada. Setelah beberapa saat Carson kemudian sampai di lantai yang dituju. Ia setengah berlari dan segera mendatangi meja Sekretaris lalu meminta wanita itu untuk mengabarkan kepada CEO Wind Group bahwa dia sudah datang. Untuk hal-hal tentang pekerjaan, Carson harus mematuhi apa yang sudah ditetapkan oleh Perusahaan. Dirumah, John memang ayahnya, tapi disini John adalah atasannya. Memisahkan urusan pribadi dengan perusahaan adalah salah satu kewajiban yang harus dia lakukan.
Ling Ling, Sekretaris John segera mengangkat telpon dan mengabarkan bahwa Carson sudah datang. John menjawabnya dan menyuruh Ling Ling memberi tahu Carson untuk segera masuk. Carson masuk dan langsung bertatap muka dengan John.
"Hei boy, kau tahu ini jam berapa?" tampak sekali wajah kemarahan yang menyertai. John sangat disiplin tentang waktu. Ia tidak pernah memberi toleransi kepada siapapun untuk sebuah keterlambatan.
"Tidak kah kau memiliki jam ditanganmu, pria tua? Bukankah kau tahu sekarang jam berapa?" Jawab Carson dengan sinis. Berbanding terbalik dengan ayahnya, Carson adalah pribadi yang tidak terikat dengan waktu. Ia tidak masalah dengan sebuah keterlambatan. Baginya yang penting pekerjaan menjadi beres dan berakhir tanpa masalah.
"Seingatku pria tua ini sudah mengajarimu sopan santun, boy?" John mengingatkan agar Carson lebih sopan kepada Orang tua terlebih ayahnya sendiri.
"Jam sembilan" Carson sedikit mendengus
"Kau tahu apa artinya?" John menatapnya penuh arti
"Terlambat 1 jam"
"Dan kau tahu apa yang harus kau lakukan, boy?"
"Push up 100 kali!" Carson sudah sering menerima hukuman ini. Jadi, ia sudah hafal dengan apa yang harus dilakukan.
"Bagus" John menepuk pundak Carson sambil tersenyum mengejek. Ia memang harus mendisiplinkan Carson! Anaknya harus mulai untuk tidak seenaknya sendiri tentang waktu. Carson akan berdiri di puncak pimpinan. Memberikan contoh yang buruk tentusaja tidak diperbolehkan.
"Aku tidak tahu kenapa pria tua ini senang sekali menghukum dengan hukuman fisik!" guman Carson sambil melonggarkan dasinya dan bersiap mengambil posisi untuk push up.
"Aku masih bisa mendengarnya, Daniel!" John dengan santai menyesap kopinya sambil melihat anaknya yang sedang menjalani hukuman yang ia berikan.
"Kau tahu aku membenci seseorang memanggil ku Daniel bukan?? John?" Carson mulai kesal dengan ayahnya yang memanggilnya dengan sebutan Daniel.
"Well, Daddy sangat suka nama itu." John malah sekarang sedang mengejeknya. Jangan tanya bagaimana perasaan Carson. Ia sangat kesal sekali dengan ayahnya!
"Terserah" Jawab Carson malas. Ia sangat tidak suka dipanggil dengan nama Daniel. Tidak ada alasan khusus. Hanya tidak suka saja!
Carson mulai melakukan push up dan menghitung. John tersenyum tipis dan mengambil handphone untuk memotretnya. Sudah menjadi kebiasaan John mengambil gambar anaknya sejak 31 tahun yang lalu. Ia senang sekali mengkoleksi foto - foto Carson. Baginya Carson masih tetap anak kecil yang lucu dan menggemaskan. Begitulah memang seorang ayah!
Ya, Carson sudah berumur 31 tahun. Pria matang yang sampai sekarang masih saja betah melajang. Betah? Sejujurnya bisa dibilang tidak! siapa yang betah melajang? Tidak ada orang yang ingin sendirian dan kesepian!
Tidak seorangpun yang menginginkan hal itu dihidupnya. Semua ingin bahagia dengan pasangan. Menghabiskan waktu dengan orang yang disayang.
Begitu pula dengan Carson. Tapi, mungkin Semesta sedang tidak bersahabat dengannya. Segalanya tidak berjalan dengan lancar. Masterplan yang sudah dia persiapkan sebelumnya harus dikubur dalam - dalam dilubuk hatinya.
Sedih? tentu saja! Carson masih seorang manusia yang memiliki hati dan cinta. Dunia ini hadir selalu dengan dua sisi. Sisi kebahagiaan dan sisi Luka. Disatu titik kita akan bertemu dengan hal yang menakjubkan tentang Cinta. Disisi lain akan bertemu dengan luka yang mendalam. Luka yang bisa membuat sesak di dada. Bernafaspun harus bersusah payah!.
Di hitungan ke 50, Ling Ling mengetuk pintu dan masuk ke ruangan John. Ekor matanya melirik melihat Carson yang sedang dihukum. Bibirnya tersenyum mengejek kepada Carson. Ling ling memang begitu, ia sama sekali tidak takut dengan Carson. Dulu mereka sempat menjadi teman sekelas dan hubungan pertemanan mereka cukup akrab. Tidak heran meskipun ia hanya Sekretaris namun berani bersikap tidak sopan.
"Ling ling, tidak kah kau sedikit bersimpati kepadaku? Senyummu itu membuatku muak!" Carson menghentikan push up nya menghadap dan mengomeli Ling Ling.
"Apa hak mu untuk mengomentari tentang senyumku, Sir?" Jawab Ling Ling tanpa rasa takut
"Boy, berhenti mengomelinya. Kau tak bisa melampiaskan kekesalanmu padanya. Bukankah yang membuatmu kesal adalah bertemu denganku?" John tertawa meihat Carson yang sedang berdebat dengan Ling – ling. Terlihat imut dan menggemaskan!
"Shit! menyebakan sekali! Kau selalu membelanya!" Carson mengumpat kemudian melanjutkan push up.
Ling Ling kemudian menghampiri John dan memberikan beberapa berkas untuk dipelajari dan ditanda tangani. Mereka berdua fokus bekerja membahas Dokumen yang sedang berada ditangan mereka. Beberapa saat kemudian mereka sudah selesai. Begitu pula dengan Carson. Sebelum Ling Ling pergi, John berpesan untuk membawakan Dokumen yang tempo hari dia minta kepadanya.
Peluh menetes dari dahi Carson, bajunya juga sudah berbentuk tidak karuan. Basah dengan keringat. John kemudian menyuruhnya mandi dulu baru bicara. Sudah malas berbicara dan mendebat, Carson bergegas untuk mandi dan ganti baju.
Diruangan ini sudah dilengkapi dengan kamar tidur dan kamar mandi. Karena sering dihukum, Carson menyimpan juga bajunya di lemari milik ayahnya. Setelah selesai berbersih diri, Carson kemudian duduk di depan ayahnya.
"Pindah ke Indonesia!" Titah John tegas dengan nada penuh ancaman.
"What??..kau bercanda pria tua?" Carson cukup kaget dengan apa yang ayahnya katakan kepadanya. Tidak ada angin dan hujan, tiba – tiba ayahnya membuangnya!
"Apa sekarang aku seperti terlihat bercanda, Daniel Carson Abraham!" John tidak sedang bercanda. Tatapan itu menjelaskan segalanya. Carson tahu itu!
"Tidakkah itu keterlaluan?" Jawab Carson lemah. Ia sedang kalah sekarang.
"Haruskah aku memberimu cermin anak muda?" John mengingatkan kembali untuk lebih tahu diri.
"Aku tak perlu cermin karena aku tahu aku tampan" Carson mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kau tahu bukan itu yang sedang kita bicarakan kan boy?" John menatapnya malas. Anaknya memang sangat narsis sama seperti dirinya. Tapi, sekarang bukan itu yang sedang dibicarakan.
"Kenapa?" Carson penasaran kenapa Daddynya tiba – tiba berencana memindahkannya ke kantor cabang.
"Kau tahu berapa karyawan yang kita miliki?" John mengingatkan kembali tentang Perusahaan.
"Seingatku 10.000 karyawan dibawah Naungan Wind Group" Perusahaan memang sangat besar.
"Dan kau tahu siapa dimasa depan yang akan memimpin mereka?"
"Tentu saja aku, pria tua! Apa kau sudah pikun?"
"Dan kau pikir kau layak?"
"Layak atau tidak aku tetap pewaris, Dad!" Carson mulai menaikkan nada bicaranya. Ia kesal sekali diremehkan dianggap tidak layak.
"Dan kau akan membuat William Abraham tidak tenang di alam baka?"
"Kenapa mengungkit Raja Neraka?" Carson menjawabnya dengan sengit. Ya, Carson sering menyebut mendiang kakeknya dengan sebutan Raja Neraka. Kakeknya yang sangat tegas dan Diktator.
"Kau tahu kan tidak mudah membesarkan Wind Group?" John mendesah bersabar menghadapi anaknya.
"Apa hubungannya dengan pindah ke Indonesia?" Carson tidak habis pikir dengan pola pikir orang tua yang ada dalam keluarganya.
"Apakah otakmu sudah tidak bekerja? Apa kau sekarang sudah bodoh? Kau sudah tahu benar dengan pasti tradisi keluarga Abraham!" John menaikkan volume suaranya dan menatapnya tajam. Carson tahu Daddynya sekarang sedang tidak bercanda.
"Shit! Daddy akan membuangku ke Unit mana? Kau tahu kan Daddy, aku malas sekali pindah dari Singapore?"
"Gresik"
"Damn!!!" Carson mengumpat dan langsung beranjak berdiri dan bergerak gelisah "Aku bisa belajar disini !! dikantor pusat! Kenapa harus di buang dikota kecil?" Tanya Carson menggebu
"Atau kau mau ke Sumatra atau Sulawesi?atau Kalimantan?"
"Daddy, berhentilah bercanda!" Ucap Carson memelas
"Dan berhentilah mengeluh Daniel, kau itu Abraham!! Darahmu adalah darah Abraham! Berhenti menjaadi pecundang dan hadapi saja!" Bentak John
"Tapi..aku belum siap! Tidak bisakah ditunda?" Carson mencoba bernegosiasi, siapa tahu kali ini berhasil. Patut dicoba bukan?
"Berangkat atau kau tidak lagi mendapatkan semua fasilitas! Daddy dengan senang hati akan membuangmu ke jalanan!"
"Kenapa tega sekali? Aku anakmu satu-satunya jika kau masih mengingatnya, Dad!"
"Kau lupa aku masih memiliki satu pewaris lagi?"
"Olivia Abraham" Desah Carson
"Dan kau akan meletakkan segala tanggung jawab lalu menyerahkan nya pada Olivia Abraham?" Tanya John kembali
"Tidak!!" Jawab Carson tegas. Tidak mungkin ia akan melakukan itu! Olivia harus hidup dengan bahagia tanpa harus ikut campur dengan rumitnya perusahaan.
"Dan kau tahu apa yang harus dilakukan oleh keturunan Abraham bukan?" John kemudian mengangkat telfon meminta Ling Ling membawakan berkasnya.
Ling Ling masuk dan meletakkan berkas di atas meja. John segera mengambilnya dan memberikanya pada Carson.
"Itu data-data tentang Unit Gresik. Besok kau harus sudah berangkat kesana"
"Secepat itu?" Tanya Carson
"Singapore - Gresik hanya 3 jam dan kau mengeluh seolah-olah sedang pergi ke Neraka?" John mulai meninggikan suaranya.
"Baiklah!" Carson mendesah.
Carson keluar dari ruangan John dengan perasaan yang teramat sangat dongkol. Pembicaraan telah selesai. Tidak bisa membantah dan harus melaksanakan apa yang telah dikatakan oleh John, Daddynya. Sebenarnya, Ia tidak terima jika harus bekerja diperusahaan cabang. Ia lebih suka berada disini, di Singapore. Lebih nyaman tinggal di tempat dia dibesarkan. Bagaimana mungkin dia akan betah untuk tinggal di tempat asing? Walau bagaimanapun ia tidak memiliki kuasa untuk menolak. Sudah menjadi kewajiban bagi seorang keturunan Abraham untuk belajar bisnis dari bawah. Bagi keluarga Abraham, setiap pemimpin tertinggi perusahaan harus belajar untuk mengamati dari dekat para pekerjanya. Hal ini dibutuhkan agar saat mengambil keputusan menjadi bijak dan lebih manusiawi.
Selain itu dengan belajar dari perusahaan cabang akan tahu benar masalah masalah yang terjadi di perusahaan. Kantor pusat hanya tentang berkas dan proyek. Tapi perusahaan cabang adalah lini proses yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Carson masih malas bekerja di perusahaan cabang. Baginya, masih belum waktunya!.
*****
Setelah sampai di ruangannya Carson segera mempelajari berkas yang diberikan oleh John. Unit Gresik adalah Unit yang cukup besar yang mereka miliki. Perusahaan Cabang ini spesialisasi mengolah sawit.
Carson merenung mengingat, sepuluh tahun yang lalu kakeknya berkeras untuk membuka Unit di Kota Gresik. Ia dulu tidak memahami kenapa harus membuka perusahaan jauh dari kebun, bukankah lebih efisien jika mendirikan pabrik dekat dengan kebun?
Kakeknya memiliki pemikiran lain. Sumber daya manusia di Gresik cukup bagus, dan fasilitas nya juga cukup lengkap. Alhasil sekarang, Perusahaan berkembang cukup pesat.
Hal yang tidak Carson setujui sebenarnya adalah tentang keturunan Abraham yang harus dilempar ke Unit Cabang untuk belajar Proses Produksi selama beberapa tahun. Menurutnya itu sedikit kuno dan tidak relevan. Pemimpin cukup belajar tentang Manajerial. Tapi kenapa harus susah payah belajar tentang proses?
William Abraham memiliki pemikirannya sendiri. Sesuatu itu akan menjadi besar jika kita memperhatikan hal-hal yang kecil. Hanya berdiri dipuncak tanpa menapak ditanah akan membuat kita menjadi lupa untuk bersikap bijak. Dan sekarang Carson harus melaksanakan tugas itu. Kewajiban setiap keturunan Abraham.
Carson masih terus mengumpat dan tidak terima dengan tradisi konyol yang menurutnya sangat merepotkan. Dibalik tugas itu, yang tidak Carson ketahui bahwa sebenarnya semesta sedang memberikan apa yang ia cari selama ini. Sesuatu yang tersembunyi dikota kecil itu dan yang akan memberikan warna kembali pada hidupnya yang kelabu. Mungkin sekarang Carson sedang sering mengumpat kepada Daddynya. Namun, percayalah bahwa mungkin dimasa depan ia akan berterima kasih dengan pembuangan ini. John secara tidak sadar telah mendekatkan Carson dengan obatnya. Obat yang sangat mujarab untuk penyakitnya yang ia derita selama empat tahun ini. Obat yang tidak pernah ada dalam apotik manapun. Obat yang akan memberikan pintu keluar dari segala pelik yang selalu menghantui. Bagaimana hidupnya akan berjalan lagi? Sungguh menarik untuk diikuti!
“Pagi yang cukup cerah untuk jiwa yang sepi. Mereka bilang setiap hari kita harus minum susu, untuk menghadapi dunia tipu tipu yang terkadang mirip asu (anjing)”
Hari ini 17 Februari, Carson sudah dipusingkan dengan Noa, assisten John yang akan mengantar dia menuju bandara. Ini masih pagi namun keributan sudah datang menghampiri. Merepotkan!
Bel apartemennya berbunyi berulang - ulang. Ini baru jam 6 pagi dan siapa brengsek yang berani menganggunya jam segini? Ingin sekali Carson mematahkan dan meremukkan tangannya. Sungguh menggangu sekali! Ini terlalu pagi untuk membuka mata. Kepala masih nyut nyutan tidak karuan. Tidak bisakah ia menikmati paginya dengan tenang?
Ah berengsek sekali!! Carson mengumpat! Dengan susah payah dia bangun dari tidurnya. Membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Saat dia membuka pintu dia melihat Noa yang sudah menunggu. Noa kemudian menyapanya dengan ramah. Bukan tambah senang, Carson malah menatapnya dengan raut penuh kemarahan.
"Tidakkah kau tau ini jam berapa, brengsek!" Umpat Carson dan menatap Noa dengan aura permusuhan seolah – olah ingin menelannya hidup – hidup.
"Tuan John menyuruh saya datang untuk menjemput" jawab Noa dengan sopan tanpa terpengaruh dengan wajah Carson yang tidak bersahabat. Ia sudah sering menghadapi manusia macam ini. Ia adalah assisten dari John Abraham! Duplikat dari manusia yang sedang berada dihadapannya saat ini. Gentar? Tidak mungkin! Ia terlalu terlatih menghadapi manusia menyebalkan seperti Carson.
"Astaga, pria tua itu..tidakkah dia bisa sedikit saja tidak mengangguku dipagi hari!!" Carson memegangi kepalanya. Ia kesal sekali dengan Daddynya yang suka sekali mengganggu tidurnya. Kenapa Orang tuanya satu itu tidak bisa membiarkannya hidup dengan tenang. Tidak biasakah Daddy kesayangannya itu memaklumi bahwa anaknya ini sangat benci dengan hal yang dinamakan bangun pagi?
Carson kemudian menyuruh Noa masuk dan mengambil koper yang sudah dia siapkan tadi malam untuk dibawa ke mobil. Dengan patuh Noa menjalankan tugasnya.
Meskipun Carson sangat muak dan ingin menghancurkan Noa karena merusak mood paginya, tapi ia masih sadar untuk tidak melakukannya. Noa hanya melakukan tugas dari pria tua yang ia ingat adalah ayahnya. Noa tidak pernah bersalah! Yang paling bersalah dari kekesalannya hari ini adalah Daddynya!
Carson kemudian masuk kekamarnya dengan langkah lebar penuh amarah dan mengambil handphone untuk menelpon ayahnya. Ia ingin mengeluh seperti biasanya!
"Pria tua, kau memiliki jam dirumah bukan?" Carson mengatakannnya dengan keras hingga John harus menjauhkan telponnya dari telinganya. Tidak ada basa – basi Carson langsung saja menyerangnya. Ah, anaknya sedang marah sekarang.
"Apa kau sedang meragukan kekayaan John Abraham?" John menanggapinya dengan santai dengan kemarahan anaknya. Ia malah sedang senang sekarang menggodanya.
"Apa jam dirumah mungkin hanya untuk pajangan dan kau tak tahu cara melihatnya?" Carson tidak tahan untuk mengomel kepada Daddynya yang senang sekali menganggunya.
"Kau pikir Daddy mu ini sudah buta?" John malah semakin tersenyum sekarang mendapati kekesalan anaknya.
"Jam berapa sekarang?"
"Jam enam pagi" Pertanyaan konyol namun terdengar sangat merdu bagi telinga John.
"Apakah pantas seseorang menganggu di jam enam pagi?" Carson terus saja mengomel menunjukkan kekesalannya yang masih terus menguasainya.
"Siapa yang mengganggumu?" Semangat John makin menggebu untuk menyulut kemarahan anaknya. Memang terlihat seperti anak kecil, namun hal – hal seperti inilah yang membuat hidupnya lebih terasa. Kesenangannya memang terlampau sederhana.
"Pria tua yang bernama John Abraham anak dari William Abraham" Carson mengatakannya dengan lantang dan tegas.
"Aku? aku sekarang sedang dirumah menunggu masakan dari ibumu" John tidak berbohong karena ia memang sedang menunggu istri kesayanganya sedang memasak rendang kesukaannnya.
"Thats not the point daddy!!" Carson berteriak
John menjauhkan handphone nya dan tertawa. Sungguh menyenangkan sekali mengganggu Carson. Melihat kembali ekspresinya yang berubah ubah. Sudah cukup lama, hampir empat tahun. John rindu sekali melihat Carson yang dulu.
Kejadian itu telah membuat Carson berubah menjadi pribadi yang dingin. Padahal sebelumnya Carson adalah seseorang yang ceria dan ekspresif. Kejadian yang meluluh lantakkan kebanggaan seorang pria. Hingga hidup pun seperti mati rasa! Tidak ada yang bisa melupakan kejadian mengenaskan itu! Sampai sekarang John masih sering menatap anaknya dengan raut kasihan. Sungguh malang sekali!
"Cepatlah berangkat, boy!" John mengingatkan mengenai tugas yang harus Carson sebagai bagian dari keluarga Abraham.
"Berhenti menggangguku saat aku sudah di indonesia!" Carson berkata serius. Ia sungguh memohon sekarang. Ia ingin segera bebas dari Daddynya yang merepotkan. Carson sebenarnya tahu Daddynya hanya sedang kesepian sehingga terus mengusik hidupnya. Tapi, Carson terlalu lelah menghadapinnya. Ia sudah terlampau sibuk dengan urusan pekerjaan. Selain itu, dia juga masih sering berupaya untuk menyembuhkan penyakitnya. John masih belum menjadi urusan terpenting dalam hidupnya. Jadi, Abaikan saja! Ia tidak sekuat itu untuk membagi waktu!
"Ya ya ya" John langsung mematikan sambungannya. Istrinya sudah selesai memasak rendang. Ia menyudahi menggoda Carson. Jika terus menyulut amarah putra tercintanya itu maka sudah bisa dipastikan Carson akan terlambat menuju bandara.
Diseberang sana, Carson mengumpat ingin menghancurkan handphone miliknya! Ia kemudian melemparnya keatas kasur. Jika menghancurkannya terlalu merepotkan untuk membeli handphone baru.
Carson kemudian membuka bajunya. Oh shit!!! Bentuk badannya sungguh luar biasa. Siapa yang tidak meneteskan air liur saat melihatnya. Tinggi 180 cm, kulit putih dan wow! Delapan roti sobek diperutnya! Perut yang liat dan kotak kotak itu, begitu menggairahkan untuk dijamah. Wajahnya yang tegas, hidung yang mancung. Carson adalah salah satu mahakarya yang luar biasa. Seperti titisan Dewa Yunani, Menggiurkan sekali!!.
***
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Carson sudah sampai di bandara. Dia kemudian menuju jet pribadi milik keluarganya. Ya, kalian tidak salah membaca, siapa yang mau naik pesawat komersil jika dia adalah anak dari orang nomer 6 terkaya di Asia. Keluarga Abraham adalah jajaran konglomerat yang sangat kaya. Perusahaannya sangat banyak sekali. Bukan perkara besar jika hanya menyediakan jet pribadi. Tidak usah sok merendah dengan bergaya sepertu manusia biasa. Karena kenyataannya dia memang duduk ditempat tinggi. Sombong!
Selang beberapa lama penerbangan, akhirnya dia tiba di bandara Juanda Surabaya. Beberapa orang sudah menunggu dan menyambutnya. Yah mau bagaimana lagi, Carson adalah salah satu petinggi di Perusahaan Wind Group. Raksasa bisnis milik keluarga Abraham. Tidak ada penyambutan? Itu tidak mungkin! Ia adalah orang penting yang kehadirannya sangat dinanti. Penyambutan adalah protokol yang tidak bisa begitu saja dilewatkan. Memangnya hanya pejabat saja yang bisa menerima penyambutan? Tidak! Semua yang berkuasa berhak atas sebuah penyambutan.
Kali ini yang datang menyambutnya adalah Direktur Unit Gresik dan beberapa staf. Carson kemudian menyapanya dan mereka akhirnya melanjutkan perjalanan ke Gresik. Perjalanan cukup makan waktu, sekitar satu setengah jam. Carson berpikir kenapa dia tidak menaiki helikopter saja? Ia bosan melihat jalanan!
***
“Tak sebesar Surabaya, tapi tidak buruk juga” Batinnya
Sejak menginjakkan kaki di kota Gresik, Carson Abraham merasakan sedikit aneh pada dirinya. Ada rasa nyaman yang tiba tiba datang. Ada rasa yang seperti hilang namun seperti sudah ditemukan.
Perasaan apa ini? gumannya. Ada rasa yang hangat, seperti kembali pulang ke rumah. Apa karena ini di Jawa timur? Tempat Bara Pradipta pernah tumbuh dewasa? Orang yang sangat berarti dalam hidupnya! Ia terus bertanya-tanya dalam hatinya mengenai keanehan yang terjadi dalam hatinya.
Kukira aku akan muak dengan tempat ini. Tapi kenapa saat menginjakkan kaki disini terasa berbeda? Dan dengan suara asing ini, kenapa begitu bahagia mendengarnya? Dirumah ini ia sendiri, tapi kenapa ia mendengar suara wanita? Apakah mungkin hantu? Tapi tidak ada rasa ketakutan saat mendengarnya! Nyanyian nada sumbang, tidak! lebih tepatnya cempreng dan buta nada. Suara siapa itu? Kadang hilang kadang muncul. Ah, semesta ini, apa sedang bercanda? Sungguh ini tidak lucu!.
Carson kemudian merebahkan dirinya menatap langit – langit kamar.
Hari ini dia tidak ingin langsung berangkat ke pabrik. Dia mau santai sejenak dirumah untuk bermalas – malasan. John juga tidak akan menganggunya, ia sudah berjanji. Membolos sehari saja tentu tidak akan menjadi masalah besar. Mereka sudah mencapai kesepakatan bahwa John dilarang keras untuk menganggunya saat ia sudah di Indonesia. Ah, betapa damainya!
Ia kemudian mengingat kembali percakapan masa lalu dengan Bara, sahabatnya sekaligus adik iparnya yang sudah dahulu pergi ke surga. Seseorang yang telah memberikan hati untuknya dan membuatnya sehat seperti saat ini.
"Kau percaya jika aku bisa mendengar suara hati seseorang?" Bara tiba – tiba mengatakan hal aneh yang Carson tidak mengerti. Tentu saja tidak akan ada yang bisa mendengar suara hati seseorang. Itu diluar nalar yang bisa diterima dengan akal sehat.
"Dan coba sekarang tebak apa yang sedang aku bicarakan di hatiku!" Carson terkekeh dan menggoda Bara dengan menyuruhnya untuk mendengar apa yang ia bicarakan dihatinya. Ia bahkan sudah bertaruh akan memberikan ferrari miliknya jika Bara bisa menebak pertanyaannya itu.
"Aku hanya bisa mendengar suara hati satu orang! Bukan semua Orang" Bara menjelaskannya dengan tenang. Tidak ada kebohongan dalam nada bicaranya. Carson tidak pernah meragukan Bara. Ia tahu betul Bara tidak pernah berbohong.
"Menarik" Carson menaikkan satu alisnya. Ia penasaran siapa yang bisa dengar suara hatinya oleh Bara. Pasti seorang yang sangat spesial bagi sahabatnya ini.
"Tentu" Bara tersenyum lembut padanya.
"Mau bercerita?" Sudah kepalang tanggung, Carson sangat penasaran dan ini butuh dituntaskan.
"Kau ingat aku pernah di besarkan di panti asuhan di Lumajang, Indonesia kan?" Bara mulai bercerita dan Carson dengan tenang mendengarkannya.
"Tentu! keluarga kami donatur tetap disana. Dan kami juga menemukanmu juga disana." Carson tahu tentang Panti Asuhan itu.
"Aku mendengarnya disana! Suara itu" Jadi bukan disini Bara memiliki keanehan itu. Ternyata sudah sejak kecil ia mendengarnya.
"Tidak kah itu berisik?" Pertanyaan itu wajar bukan? Mendengar suara yang bisa didengar saja sudah sangat menganggu apalagi ditambah dengan mendengar suara hati seseorang. Itu merepotkan sekali!
"Berisik tapi cukup menyenangkan" Bara tidak menunjukkan kekesalannya malah tersenyum senang. Sahabatnya ini mungkin sudah tidak waras. Kenapa malah bahagia? Aneh sekali!
"Lalu?" Carson ingin mendengar kembali kisah tentang suara hati ini.
"Aku merindukannya! Suara itu" ucap Bara sambil menunduk sedih.
"Hei, kau mau Sherly adikku mengamuk?" Carson mengingatkan Bara tentang adiknya yang pencemburu. Ia bisa marah jika adiknya itu mendengar bahwa Bara merindukan sesuatu selain dirinya.
"Hahahaha...cukup mengerikan melihatnya cemburu" Bara malah terkekeh geli mendengar kekhawatiran Carson.
"Kau tahu itu, tidakkah adikku bisa memenuhi hatimu?" Carson serius menanyakannya. Mereka sudah berhubungan lama. Namun, Carson tahu bahwa tatapan Bara tidak pernah menunjukkan dia menginginkan adiknya. Carson tahu pasti Bara memiliki seseorang yang sudah penuh mengisi semua tempat dihatinya.
"Tidak" Bara menjawabnya tanpa ragu. Carson merasa hatinya sedikit tercubit merasa kasihan dengan adiknya yang memiliki cinta bertepuk sebelah tangan.
"Kau tidak takut aku menghajarmu?" Carson mencoba mengancam Bara. Namun yang terjadi malah Bara tidak takut sama sekali.
"Apakah hati perlu dipaksa? Aku sudah menyerahkan ragaku dan waktuku untuknya" Bara menjelaskaannya tanpa ragu sedikitpun. Ia memang sudah melakukannya sepanjang waktu. Terus bersama dengan Sherly meski ia tidak menyukainya. Ia terus berpura – pura tersenyum dan berbahagia. Itu sungguh melelahkan namun ia tidak pernah mengeluh. Kenapa ia tidak bisa mencintai Sherly? Bara tidak pernah bisa menjawabnya dengan pasti. Semua orang tahu bahwa Sherly wanita yang sangat cantik dan pintar. Selain itu dia juga sangat baik. Lalu kenapa sudah sekali untuk memberikan hatinya padanya? Apa karena sejak awal sepenuh hatinya sudah diberikan kepada orang lain?
"Benar-benar brengsek!" Carson memukul kepala Bara
"Aku tahu" Bara tidak mengelak dan menerima pukulan itu.
"Kau...benar benar bajingan!" Carson tidak habis pikir dengan Bara.
"Jika kau bertemu dengannya, bisakah kau menjaganya?" Tiba – tiba Bara mengatakan apa yang tidak pernah terpikir oleh Carson. Menjaga? Konyol sekali!
"Siapa?"
"Wanita itu"
"Apa kau gila? bagaimana aku bertemu dengannya? aku di Singapore bro! Dan kenapa tidak kau sendiri yang melakukannya?" Menjaga wanita yang Bara cintai? Terdengar sangat lucu!
"Kau tahu itu tidak mungkin kan? Semesta punya caranya sendiri untuk mempertemukanmu dengannya." Bara mengatakannya dengan pasti seolah – olah ia sudah bisa melihat masa depan.
"Kau sedang kerasukan? kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?" Permintaan itu terdengar aneh seperti sebuah wasiat perrpisahan.
"Hanya ingin mengatakannya saja"
"Berhentilah berpikir konyol!itu hanya masa lalu saat kau kecil!" Carson selalu ingat Bara punya cinta pertama saat umurnya sepuluh tahun.
"Dan sekarang mungkin dia sudah jadi wanita usia 26 tahun yang lucu dan menggemaskan" Bara membicarakannya dengan wajah berbinar membuat Carson kesal melihatnya.
"Weird!!"
Percakapan itu terlintas kembali di pikiran Carson. Ia segera bangun dan terduduk. Jadi, ini yang dimaksut Bara? Suara ini? Apa karena sekarang Hati Bara ada ditubuhku? sehingga aku bisa mendengarnya? Tapi bukankah dia bilang wanita itu ada di Lumajang? Apa wanita itu pindah kesini? Tidak mungkin suara ini mampu ia dengar jika tempatnya sangat jauh bukan?
Dan apakah wanita itu adalah alasan kenapa aku nyaman ditempat ini? Apalagi yang sedang semesta siapkan untuk hidupku ini? ini sungguh menarik, sangat menarik!
Aku akan menunggunya, tentang takdir yang menghampiri. Tentang hal baru yang mungkin akan terjadi. Sebuah misteri yang mungkin akan segera terungkap dengan pasti...sangat menarik...batin Carson. Ia tersenyum! Dunianya mungkin tidak akan sama lagi. Mungkin hidupnya akan segera berisik!
“Semesta selalu memiliki rahasia. Tentang manusia dan juga rasa. Tentang raga dan juga nyawa”
Hari ini adalah hari pertama Carson mulai bekerja. Semalam dia sudah memasang alarm untuk berbunyi jam 7 pagi. Yah, bangun jam 7 bagi Carson sudah sangat pagi sekali. Mengingat sebelumnya saat di Singapore dia selalu bangun siang dan berangkat sesuka hatinya. Ia hanya akan berangkat pagi jika pria tua sedang memanggilnya. Perubahan memang harus segera dimulai.
Mungkin beberapa orang akan berpikir seseorang yang bangun siang adalah seseorang yang tidak kompeten dalam bekerja. Mereka menyebutnya pemalas dan tidak disiplin. Kenyataan nya tidak begitu, Carson sangat kompeten dalam pekerjaan nya. Segalanya dikerjakan secara teliti dan rapi. Masalah terbesarnya adalah dia sangat muak dengan bangun pagi.
Sungguh aneh, memang aneh. Baginya tidak ada yang boleh memaksanya bangun. Ia harus bangun sendiri dari tidurnya. Tidak boleh ada yang memaksa.
Mood nya akan benar-benar buruk saat seseorang mulai mengusik tidurnya. Baginya tidur adalah saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Melupakan tentang urusan duniawi. Urusan tentang betapa ruwet dan menjengkelkan di dunia nyata.
Bangun dengan malas dan mulai membersihkan diri dan mempersiapkan diri untuk bekerja. Rutinitas yang terkesan membosankan. Tapi bukankah hampir semua orang melakukan ini? Bekerja mencari uang untuk sebuah kehidupan? Uang memang bukan segalanya tapi bukankah segalanya butuh uang? Andaikata dia memiliki saudara mungkin Carson tidak akan mau bekerja. Berjalan-jalan keliling dunia mungkin terdengar asyik dan sangat menyenangkan. Ah, itu hanya impiannya dahulu. Mana bisa Carson melakukannya sekarang!.
Sherly Abraham telah tiada. Saudara perempuan satu-satunya. Dia telah pergi ke surga setelah melahirkan Olivia Abraham. Adiknya tercinta, yang dulu seharusnya menjadi penerus bisnis Abraham. Sherly yang kompeten dan luar biasa. Ia masih muda namun kemampuan bisnis nya sangat luar biasa. Dimasa lalu, Carson tidak pernah ikut campur masalah perusahaan. Sedikitpun!
Sejak kecil ada penyakit di Hatinya, Ia tidak Normal! Penyakit yang mematikan! Sering keluar masuk Rumah Sakit. Sehingga ia tidak pernah sedikitpun layak untuk menjadi pewaris.
John memberikan sebuah restoran untuk mengusir rasa bosan. Namun ternyata semesta sedang mengujinya. Empat tahun yang lalu sahabatnya Bara mengalami kecelakaan sehingga mengakibatkan mati otak.
Bara Pradipta adalah yatim piatu yang pernah tinggal di panti asuhan yang ada kota kecil di Jawa Timur yaitu Lumajang. Saat itu John dan Sherly sedang memberikan santunan pada anak yatim di Yayasan Taman Karya. Sherly langsung jatuh cinta pada Bara. Ia baru 13 tahun dan Bara 14 tahun.
Lulus SMP Bara langsung dibawa ke Singapura. Siapa bisa menolak keinginan Sherly?. Tidak ada!!siapa yang berani menolak keinginan keluarga Abraham sudah dipastikan hidupnya akan seperti di neraka.
Bara tahu itu!.
Carson sangat akrab dengan Bara. Tidak ada yang mereka sembunyikan. Dan ternyata semesta sedang bercanda! Ia membawa Bara pulang ke Surga diusianya yang cukup muda, 26 tahun. Memberikan Carson hidup baru yang diluar apa yang direncanakan.
Transplantasi Hati sukses dilakukan. Tubuhnya menjadi sehat dan kuat. Siapa yang pernah menyangka, Hati ini sangatlah cocok untuknya. Tidak ada masalah kesehatan. Seperti Hati ini memang tercipta untuknya. Sungguh Aneh!
Disisi lain akhirnya Carson bisa menjadi normal. Namun, suatu saat harus terluka karena kehilangan orang yang dicintainya.
Hal yang aneh juga ikut menyertai. Yang membuat dunianya runtuh seketika. Jakie kebanggan miliknya sebagai lelaki, keperkasaannya tidak bisa bangun setelah operasi itu.
Siapa lelaki yang sanggup kehilangan kemampuannya untuk bisa menikmati lubang basah milik perempuan? Jakie mati, ia tidak bisa bangun. Jakie yang ia sayang. Jakie yang malang!
Bagaimana mungkin Carson bisa hidup bahagia tanpa desahan wanita? Merasakan hidup tapi seperti mati!! Ingin rasanya mengakhirinya. Tapi mati apakah pilihan? Siapa yang akan menyelamatkan klan Abraham jika bukan dirinya?
Sherly terpuruk!! Kehilangan Bara menghancurkan mentalnya. Lebih mengejutkan lagi, Sherly hamil!!! Sherly sempat memberi obat perangsang kepada Bara satu bulan sebelumnya. Hingga akhirnya benih itu tumbuh ditubuhnya. Tapi cerita ini bukan tentang Sherly!
Carson harus mengambil alih Wind Group!! Belajar lagi dari awal tentang perusahaan. Sulit? Tentu!
Siapa yang tidak kesulitan saat tiba - tiba harus belajar mengambil alih perusahaan yang memiliki 10.000 karyawan dan menjadi pewaris dari John Abraham, pria terkaya nomer enam di Asia? Takdir telah datang. Menghindar??tidak bisa!! Mau tidak mau, siap tidak siap harus dihadapi! Dibawah asuhan William Abraham dan John Abraham , Carson mulai belajar bisnis.
Awalnya sulit, tapi pelan pelan semuanya menjadi mudah. Menyibukkan diri dengan pekerjaan membuatnya sedikit lupa tentang Jakie. Sebuah pengalihan yang cukup berhasil. Bicara tentang Jakie, sangat mengasyikkan sebetulnya.
Siapa yang tidak tunduk dengan Jakie semasa hidupnya? Wanita mana yang tidak mengerang nikmat saat Jakie sudah bekerja. Ah Jakie...Lama sekali kau tertidur. Tidakkah kau ingin bangun dari kematian? Masih banyak yang perlu dijelajahi! Bukankah kau belum pernah menunjukkan kelasmu dengan wanita Indonesia? Carson sudah berusaha keras untuk membangunkan Jakie dari kematian. Medis?? Sudah!! Mak Erot? Sudah!! Paranormal? Sudah!! Segala cara sudah dicoba! Minum obat perangsang??.sudah! Bangun?tidak! Yang ada Carson harus menderita karena badannya panas dingin. Hasratnya sudah sampai ubun ubun tapi Jakie tak mau bangun. Sungguh menyiksa sekali!
Bahkan sekelas Mak Erot pun sudah angkat tangan. Mak Erot yang terkenal memiliki ribuan pasien sudah tak sanggup. Kenapa bisa kenal Mak Erot? Bisa! Mommy Carson adalah asli keturunan Indonesia. Nyonya Karina Yessey!! Sebagai orang tua tentunya hatinya juga sakit melihat anaknya menderita. Dengan kekuasaan yang dia miliki, dia membawa Mak Erot ke Singapura. Nihil!! Tidak ada hasil!! Sempat terpikir apa mungkin kekuatannya tidak bekerja saat melintasi lautan? Akhirnya Carson harus terbang ke indonesia untuk menemui Mak Erot lagi. Hasilnya?? Tetap Nihil!! Tidak ada efek!! Entah mengapa Jakie tak sanggup bangkit kembali! Masih menjadi sebuah misteri!
Siapa yang tidak ciut nyali saat kau memiliki segalanya tapi ternyata tidak sempurna? Carson sudah tidak punya muka lagi di depan wanita! Cassanova? Itu hanya tinggal nama! Nikmat dunia? Sudah lupa!! Ini sudah empat tahun!! Bagaimana mungkin semesta begitu tega tehadapnya?..ini sudah seperti hidup dalam kematian saja!! Pria dengan tubuh gagah ternyata impoten!! Damn!! Mengerikan sekali!!
Kapan Jakie akan bangun?? Kapan Tuhan selesai menghukumnya? Apakah ini yang dinamakan karma? Jakie yang sudah malang melintang mencicipi berbagai macam lubang kenikmatan!. Apakah ini semacam hukuman? Pertanyaan itu sering hinggap di kepala Carson. Tapi bukankah diluar sana juga banyak yang seperti dirinya? Celap celup berbagai lubang! Lalu kenapa hanya dia yang dihukum? Ah..sungguh tidak adil! Carson sudah lelah mengumpat Ia sudah menyerah tentang Jakie. Berpasrah pada takdir yang datang kepadanya. Berharap? Sudah tidak mampu lagi ia menggantungkan harapan. Ini sudah diluar batas kemampuan manusia.
Waktu telah berlalu begitu cepat. Tanpa Carson sadari, semesta ternyata telah memberikan hadiah untuknya. Jakie akan segera kembali. Semesta telah lelah menghukum!! Semesta sedang menyiapkan kejutan! Disini, dikota kecil ini...