Bab 1

Bab 1 Virgin

Bertahan Hidup

"Dasar manusia tidak tahu diuntung? Saya pikir, kamu itu lugu, baik dan rajin. Tidak tahunya, hanya seorang maling!" hardik Pak Arsal dengan wajah merah padam.

Lelaki tua itu terlihat sekali marah, matanya melotot menatap kesal Rayana.

"Pergi sekarang! Saya tidak sudi mempekerjakan seorang pencuri di sini!" teriak Pak Arsal dengan suara naik satu oktaf.

"Tidak Pak, demi Tuhan saya tidak mencuri, sungguh Pak. Pasti ada yang menjebak saya," sahut Rayana membela diri sambil memohon kepada sang majikan.

Tiba-tiba, Pak Arsal mendorong tubuh kecil Rayana dengan cukup kuat, hingga gadis yang di hardiknya jatuh tersungkur. Tanpa memperdulikan Rayana, Pak Arsal masuk ke dalam toko. Sedangkan gadis itu langsung bersimpuh dan memohon.

"Pak, tolong Pak, jangan pecat saya. Saya butuh pekerjaan ini Pak, tolong kasihanilah saya, tolong Pak," pintanya mengiba sambil bersimpuh dan memohon dengan wajah yang sudah berurai air mata.

Namun lelaki paruh baya itu kembali lagi dengan membawa tas kecil milik Rayana yang ia cengkram dan kemudian ia lemparkan kencang, tepat mengenai wajah Rayana.

"Pergi! Dan jangan lagi kamu tampakkan wajahmu di sini! Ini upahmu!" teriaknya lagi. Sambil melemparkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah ke tubuh Rayana.

"Tidak Pak, tolong jangan pecat saya, saya mohon Pak," pintanya lagi dengan memohon.

Ia menyatukan kedua telapak tangannya ke depan dadanya. Namun pria paruh baya itu tak mengindahkannya. Ia berlalu, dan Raya mengejarnya, memegangi kaki Pak Arsal sambil terus memohon.

"Tolong Pak, kasihanilah saya. Jangan pecat saya Pak, saya bersumpah atas nama Tuhan, saya tidak mencuri Pak," racau Raya memohon kepada sang majikan. Tapi dengan kasar pria paruh baya itu menjauhkan tangan Rayana dari kakinya. Bahkan ia kembali mendorong tubuh kecil Rayana.

"Lepaskan! Tangan kamu terlalu kotor. Jangan pegang-pegang. Seharusnya kamu berpikir dulu sebelum mencuri, ya begini akibatnya kalau tidak jujur saat bekerja!" bentak Pak Arsal lagi. Ia berjalan menjauhi Rayana.

"Sungguh Pak saya tidak mencuri apapun, demi Tuhan."

"Dasar maling, mana ada maling mengaku, tolol kamu, sana pergi!" teriaknya lagi dan meninggalkan Raya yang masih duduk bersimpuh di pelataran toko besar tersebut.

"Tapi saya tidak mencuri Pak, demi Tuhan aku tidak mencuri," gumamnya dalam isak. Ia masih tergugu sambil duduk bersimpuh. Lalu perlahan mulai mengutip satu persatu uang kertas yang berserakan di sampingnya. Kemudian mengusap lembut ujung matanya, juga pipinya.

"Tuhan, Kau tahu bukan, aku tidak melakukannya. Sungguh, aku tidak diajarkan oleh Ayah Bunda tentang hal buruk tersebut. Tolong Tuhan, berikan aku keadilan, aku tidak bersalah," gumamnya lirih, sambil merapikan uang dalam genggamannya dan memasukkan ke dalam tasnya. Ia memandangi toko serba ada yang menjulang di hadapannya, yang selama enam bulan terakhir memberinya kehidupan.

🍂🍂🍂🍂🍂

Hari telah berganti, pekan pun berlalu, kini bulan baru telah datang kembali. Setelah menganggur selama satu bulan lebih, Rayana masih berharap ada satu saja lamaran yang ia masukkan ke kantor-kantor ada respon dan jawaban. Namun hingga bulan baru kembali datang, tak ada satupun kabar dari lamaran yang ia tunggu-tunggu.

Duduk termenung di sebuah kamar dengan luas 2 x 3 m, beralaskan kasur tipis yang sudah begitu usang. Rayana menekuk lututnya dan memeluk kedua kakinya tersebut.

"Ya Tuhan, uang tabunganku sudah menipis. Bagaimana ini, tapi belum juga ada panggilan kerja," gumamnya lirih, perih yang menyelimuti hatinya. Rayana melirik ponsel miliknya, meraih, lalu menyalakan benda tersebut, kemudian menggeserkan jempolnya, membuka-buka situs-situs internet yang ada di ponselnya. Ia melihat sebuah aplikasi yang dikhususkan untuk mencari pasangan.

"Cari teman dapat uang? Apaan sih, nggak ngerti aku," gumamnya lirih.

Rasa penasaran hinggap di kepalanya. Sebuah aplikasi, dimana yang di dalamnya hanya berisi wanita. Rayana mengerutkan dahinya sambil menggigit ujung bibir bawahnya. Isi kepalanya masih berpikir tentang aplikasi tersebut.

"Hah?! Jual badan maksudnya, astaga," ucapnya sambil menepuk keningnya sendiri. Keningnya berkerut, alisnya bertaut, ia berpikir keras.

"Tapi sepertinya cepat dapat uangnya. Ya Ampun, bagaimana ini, apa aku kerja ini saja ya?" gumamnya lagi, ia menggigit bibir bawahnya kembali, "Tapi masa depan pernikahanku? Astaga, ayolah Raya, berpikir dengan jernih."

Bisik hatinya lagi, batinnya berperang. Himpitan keuangan memaksanya harus cepat mendapatkan pekerjaan, namun kenyataan tak memberikan jawaban atas kegundahannya.

Rayana berpikir, Bagaimana caranya, agar ia tetap perawan tapi tetap bisa membuat pelanggannya puas dengan pelayanannya. Rayana menghela nafasnya, lalu kembali menatap layar ponselnya. Terlintas untuk browsing segala hal yang berkaitan dengan hubungan badan.

"Astaga, apa mungkin bisa?"

Ia memejamkan matanya kuat, dadanya berdegup kencang. Sementara itu terlintas dalam benaknya, nasib kedua orang tuanya, juga adik-adiknya yang bergantung kebutuhan darinya.

"Akan aku coba, semoga bisa."

Dengan tangan gemetar, ia mengunduh aplikasi tersebut. Mengisi biodata palsu untuk menyamarkan namanya. Karena memang semua pengguna aplikasi tersebut semuanya menggunakan identitas samaran. Dara Manis, iya, dia menggunakan nama tersebut ke dalam aplikasi tersebut.

Dan baru lima belas menit Rayana memanjang foto editan dirinya, ada chat masuk ke nomor ponselnya. Mata Rayana terbelalak, ia tak percaya akan secepat itu. Lalu ia membaca pesan tersebut dengan tubuh yang panas dingin.

"Hotel Melati pukul tujuh malam, kita ketemu di sana, berapa tarif untuk dua jam."

Begitulah isi pesan tersebut. Tangan Rayana gemetar, ia tak tahu harus membalas apa, karena sejujurnya ia sangat takut. Karena, jangankan melayani lelaki, ia belum pernah di sentuh oleh seorang pria pun sebelumnya. Dengan tangan gemetar, ia membalas pesan tersebut.

"Aku masih perawan, dan tidak ingin keperawananku hilang karenanya, apa bisa?", balas Rayana.

"Hahahaha, soal gampang itu, yang penting lakukan saja apa yang saya mau, dan saya tidak akan merusak selaput dara yang kamu miliki, saya jamin itu", balasan cepat dari pemesan Rayana.

Tubuh Gadis itu kian panas dingin karenanya. Belum sempat ia membalas pesan tersebut, sudah ada lagi satu pesan lainnya.

"Hotel Cinta nomor dua belas, besok siang pukul dua. Saya akan bayar mahal, jika kamu bisa memuaskan saya."

Begitu isi chat dari pria yang kedua. Mata Rayana kian membulat, sungguh tak terpikir olehnya akan secepat itu respon dari para pria kesepian, atau hidung belang. Rayana tak bisa menggambarkannya.

"Ya Tuhan, bagaimana ini, Ayah dan Bunda pasti akan sangat murka kepadaku. Jika sampai mereka tahu apa yang aku lakukan nanti," gumamnya lirih, dan perih semakin menggerogoti perasaannya. Ia berniat untuk menghapus aplikasi tersebut, dan mengabaikan pesanan yang sudah masuk. Toh nomor ponselnya bisa di blokir. Dengan begitu mereka tak akan menghubungi Rayana.

"Hapus saja, pasti nanti akan ada pekerjaan yang lebih baik, aku yakin itu."

Baru saja ia hendak menghapusnya, Tiba-tiba ponselnya berdering, matanya kian sayu, kala ia melihat nama yang terpampang dari layar ponselnya adalah nama sang Bunda. Dengan tangan gemetar dan tubuh yang lemas, ia menyambungkan panggilan tersebut.

"Bunda, apa kabar?", sapanya lembut dengan airmata yang berurai tak tertahan.

"Baik sayang, Raya apa kabar Nak? Bagaimana pekerjaanmu? Ayah menanyakanmu," sahut suara sang Bunda dari seberang ponselnya. Rayana meremas dadanya, perih kian menjalar di dalam sana. Ia mengusap lembut pipinya yang semakin basah.

"Raya baik bunda, pekerjaan juga baik-baik saja, puji Tuhan. Ayah Bunda dan adik-adik apa kabar?", balasnya, dengan menahan sesak yang begitu menghimpit dadanya. Ia mencoba untuk kuat dan bersabar.

"Kami baik Nak, cuma kesehatan Ayah yang sedang menurun, dan mau berobat, Bunda sedang kehabisan uang. Lalu satu minggu lagi, Bondan ada les tambahan yang biayanya cukup besar Nak. Apa Raya bisa membantu kami?", ucap sang Bunda.

Rayana menggigit ujung bibir bawahnya dengan kuat dengan mata yang terpejam. Ia menghela nafasnya panjang, dan membungkam mulutnya sendiri. Sekilas, lalu kembali ke obrolannya bersama sang Ibu.

"Berapa Bunda butuh, untuk biaya Ayah berobat juga biaya les sekolah Bondan," jawabnya pasti.

Ia mengusap kasar wajahnya, dan meraih gelas yang ada di hadapannya. Lalu meneguknya hingga air didalam gelas tersebut tandas tak tersisa.

"Mungkin sekitar lima juta Nak, kalau Raya ada ya, kalau tidak ada, tidak apa-apa, Bunda akan coba mencari pinjaman ke tetangga besok," sahut Sang Ibunda lagi.

"Ada Bunda, dua hari lagi Raya kirim ya. Sekarang Raya mau istirahat dulu, besok Raya harus berangkat lebih pagi, karena toko sekarang sangat ramai. Salam buat Ayah, Bondan dan Rasinta. Selamat sore semuanya."

Rayana langsung memutus sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari sang Bunda. Ia melempar ponselnya dan meraih bantalnya. Ia menenggelamkan wajahnya di atas bantal dan tergugu di sana.

"Kenapa seberat ini kehidupanku Tuhan? Kenapa?!", keluhnya diantara isak yang terdengar begitu pilu. Ia menangis hingga terlelap dalam tidurnya. Entah berapa lama ia tertidur, hingga suara ponsel terdengar di telinganya dan membuatnya membuka matanya dan dengan cepat meraih ponselnya.

"Halo Manis, saya tunggu setengah jam lagi ya, kirim lokasi kamu, biar saya jemput saja ya?"

Suara dari seberang ponsel yang membuat Rayana membulatkan matanya dengan nafas yang memburu dan detak jantung yang menderu. Ia menatap ponselnya, dan semakin membuat tangannya gemetar.

🍁BERSAMBUNG🍁

Apa yang akan Rayana lakukan?

Bab 2

Bab 2 Virgin

Yang Pertama

Rayana menarik nafasnya dalam-dalam, lalu dengan perlahan ia membuangnya. Berdiri dan berjalan mendekati cermin kecil di atas lemari plastik miliknya. Ia mengusap lembut wajahnya, lalu merias tipis dengan sedikit polesan bedak miliknya yang masih tersisa.

Setelah itu ia meraih tas selempangnya dan mengambil ponselnya, setelah mengganti pakaiannya dengan yang lebih feminim, dan terlihat menarik menurutnya, ia kembali menghela nafasnya panjang. Lalu melirik sisa uang yang ia punya. Sekali lagi, ia menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian membuangnya secara perlahan.

"Semoga Tuhan melindungiku, dan memberiku kemudahan dalam segala hal," gumamnya lirih.

Ia kembali membalik badan, dan menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Tak ingin sedikitpun ia menarik garis bibirnya untuk tersenyum. Menampakkan betapa manis dan cantik wajah polosnya itu.

"Sabar Raya, ini sementara, percayalah, pasti sebentar lagi akan ada panggilan kerja untukmu," bisik hatinya.

Berkali-kali ia mencoba menguatkan juga meyakinkan dirinya, bahwa semua yang ia lakukan adalah yang terbaik.

"Tuhan bersamamu Raya," sekali lagi ia berbisik. Memejamkan matanya kuat, sambil menarik nafasnya berat dan panjang. Menahannya sebentar, untuk kemudian ia buang secara perlahan.

"Raya, kamu bisa, kamu kuat, kamu hebat. Demi Ayah Bunda, juga Rasinta dan Bondan. Semangat Raya, semangat, kamu pasti bisa," bisiknya lirih, sambil menatap wajahnya di dalam cermin.

Ujung netranya membasah, ujung bibir bawahnya ia gigit dengan sangat lembut. Kelopak matanya menutup perlahan, bersamaan dengan buliran bening yang ikut turun perlahan membasahi pipinya.

Ia mengangkat telapak tangannya, dan menyeka dengan lembut pipinya. Terisak dan tertunduk sangat dalam.

"Tuhan, aku serahkan segala hidupku padaMu. Tolong jaga Ayah Bunda dan adik-adikku. Aku menyayanginya mereka," gumamnya lirih.

Ia mengangkat wajahnya perlahan, mengusap wajahnya perlahan dengan kedua telapak tangannya. Sejenak, ia memeta wajahnya, menarik nafasnya perlahan, dan mengembuskannya cepat.

Ia kembali menatap uang miliknya, lalu menggenggamnya erat. Ada perih yang teramat snagat di dalam dadanya. Hidup sebatang kara, tak ada sanak saudara. Dan ia harus siap dengan resiko dan kendala yang akan datang menyapa. Ia menghela nafasnya

Setelah memasukkan sisa uangnya yang tinggal satu lembar berwarna hijau, ia lalu keluar perlahan dari kamar kosnya, dan memilih berdiri di tepi jalan raya untuk menunggu jemputan dari pria yang menghubunginya lima belas menit yang lalu. Baru saja ia berhenti, ponselnya berdering. Ia segera meraihnya, tapi sambungan panggilan tersebut langsung berhenti.

Rayana mencebik, ia hanya membuang muka sambil menghela nafasnya kasar. Ia tak mungkin bisa menelepon balik, karena ponselnya hanya terisi paket internet saja. Ia kembali memasukkan ponselnya, dan tiba-tiba ada sebuah mobil mewah berhenti di hadapannya.

"Waw, kamu lebih cantik dari foto yang kamu pasang," ucap seorang pria muda dengan tampang sangat tampan turun dari mobil tersebut.

Pemuda tersebut meraih tangan Rayana dan mencium punggung tangannya lembut. Ada desir hangat menjalar aneh di dalam tubuh Rayana. Karena ini kali pertama tangannya disentuh oleh seorang pria. Tapi ia berusaha mengabaikannya.

"Kita pergi sekarang, Dara Manis, kenalkan, aku Roberto," ucapnya lagi, lalu ia menarik tangan Rayana dengan sangat sopan, dan menuntunnya untuk masuk ke dalam mobilnya. Dengan tubuh yang panas dingin, Rayana mengikuti langkah pemuda tersebut. Sebisa mungkin ia menghilangkan rasa gugup yang melandanya.

Rayana duduk dengan sangat gugup. Tampak dari keringat yang membasahi keningnya. Ia menarik nafasnya perlahan dan mengeluarkannya pelan-pelan. Sesekali ia melirik pria yang ada di sampingnya.

Pria muda itu terus mengembangkan senyuman, tapi Rayana masih tak bisa menyembunyikan rasa cemas dari wajahnya. Gadis itu tersentak saat sentuhan lembut di paha miliknya ia rasakan. Lalu tangan kekar itu mulai meraih jari tangannya, menariknya dan kembali menciumnya.

"Kenapa tidak fokus saja ke jalanan, lakukan saja nanti jika sudah berada di hotel. Dan aku minta, semuanya aman," ucap Rayana dengan bibir yang terlihat gemetar.

"Iya sayang, hanya pemanasan saja. Emb, boleh saya tahu, kenapa kamu tidak mau sampai Keperawananmu hilang. Toh sama saja bukan, kamu sudah terjamah laki-laki," sahut Roberto, setelah melepaskan tangan Rayana yang ditarik paksa oleh si pemilik tangan.

"Bukan urusanmu," jawab Rayana singkat. Lalu ia membuang tatapannya keluar jendela dan menarik nafasnya dalam-dalam. Perlahan ia membuangnya dengan mulut yang sedikit terbuka.

"Bagaimana jika aku bayar kamu tiga kali lipat, untuk darah perawanmu," cetus Roberto dengan senyum menyeringai, dan tangannya meremas lembut paha mulus Rayana yang terbuka. Membuat sang gadis tersentak kaget dan menatap tajam kedua bola mata Roberto.

"Seribu kali lipat pun, tak akan aku berikan," jawab tegas Rayana. Membuat Roberto semakin penasaran dibuatnya. Ia menautkan alisnya dengan senyum menyeringai.

"Why? What makes you not want to give it away?", Tanya Roberto penasaran.

"Sudah ku katakan bukan urusanmu," jawab tegas Rayana, dan tiba-tiba mobil tersebut berhenti mendadak, tangan Roberto melepaskan pengait sabuk pengamannya , juga yang melindungi Rayana. Ia dengan cepat meraih punggung gadis itu dan meraup wajahnya.

9ang dilakukan Roberto kepadanya. Membalas lumatan lembut dengan perlahan dan hangat. Seperti yang dilakukan Roberto kepadanya.

"Kenapa rasanya begitu nikmat, ya Tuhan, jangan buat aku terlena Tuhan, ini hanya tuntutan pekerjaan ku. Ampuni aku Tuhan." Hatinya kembali berbisik lirih.

Matanya membelalak saat tangan Roberto mulai menyingkap gaunnya yang menutupi sebagian paha putih mulusnya.

"Hah, apa lagi ini, kenapa tubuhku seperti tersengat listrik. Astaga, kenapa semakin nikmat. Tidak Tuhan, jangan biarkan aku terlena."

Hatinya terus bermonolog, rasa tegang dan takut dalam dirinya mulai berganti rasa hangat dan nikmat. Ia mendesah lirih saat tangan Roberto berhasil menyusup ke dalam gaunnya. Melepaskan pengait bra miliknya, dan perlahan menggerayangi tubuhnya yang kian meremang.

Rayana menggigit bibirnya saat pria tersebut mulai mengeluarkan benda kenyal di bagian dadanya dan menghisapnya lembut. Tak berlangsung lama, lalu Roberto menyudahinya. Membuat Rayana membuka matanya cepat saat tangan Roberto menjauh dari tubuhnya yang sudah berantakan.

"Hmm, aku suka kamu, original, berapa kamu butuh uang," ucap Roberto, yang kembali membawa kendaraannya melaju. Rayana membetulkan letak pakaiannya dengan cepat. Ia malu, karena setengah tubuhnya terbuka sampai ke dada, lalu tertunduk.

"Berapa kamu akan membayarku, jika itu pantas, aku akan terima. Dengan catatan, aku tetap perawan," jawabnya lirih, namun pasti dan penuh penekanan.

"Hahahaha, lugu banget sih kamu. Oke, aku suka yang original, karena aku yang mendapatkan ciuman pertamamu, aku akan kasih kamu lima juta, untuk malam ini saja. Besok malam, aku masih ingin tubuhmu. Dan akan aku berikan lebih, jika kamu sudah lebih lihai memuaskanku," ujar pemuda itu dengan wajah puasnya.

Rayana menoleh cepat dan menatapnya lekat. Ia menelan salivanya berat, dengan wajah yang memerah.

"Bagaimana kamu tahu, kalau barusan adalah ciuman pertamaku," tanyanya.

Roberto menyeringai, lalu mengangkat tangannya dan mengusap lembut bibir Rayana. Gadis itu menepisnya, dan membuat Roberto memelototkan matanya.

"Aku bilang turuti semua keinginanku, jangan berani menghindar. Atau aku akan merusakmu, tanpa upah sepeserpun!" bentak Roberto.

Yang membuat Rayana tersentak kaget dengan tubuh gemetaran. Ia terdiam, netranya menghangat, namun Rayana coba menahannya.

"Maaf, aku hanya takut," jawab Rayana lirih, dengan wajah yang menunduk. Roberto menghela nafasnya panjang.

"Yang harus kamu tahu adalah, aku menyukaimu. Mengerti," tegas Roberto, Rayana mengangguk pelan. Meski ia tak mengerti makna dari kata menyukai itu apa. Yang ia tahu, dia akan dibayar atas semua yang ia berikan dan lakukan terhadap pemuda itu.

Kendaraan berhenti di sebuah hotel bintang lima, membuat Rayana berdecak kagum. Bagaimana tidak, ini kali pertama ia memasuki gedung bertingkat dan terlihat sangat mewah.

"Ikuti aku," tegas Roberto.

Rayana menurut, dan mengekor langkah pemuda itu kemanapun ia melangkah. Sampai tiba mereka di sebuah kamar mewah di dalam hotel tersebut. Dada Rayana mulai berdegup kencang tak beraturan.

Nafasnya naik turun, kala ia menatap Roberto yang mulai melepaskan pakaiannya satu persatu dihadapannya. Terpampang di hadapannya, tubuh kekar berotot milik pemuda itu. Perutnya yang memperlihatkan otot sispeknya, membuat Rayana menelan salivanya berat.

"Apa kamu tidak memiliki pakaian yang lebih menarik Manis?", ucap Roberto menatap tubuh Rayana dari ujung kepala hingga ujung kaki Rayana. Gadis itu memperhatikan penampilannya sendiri. Ia memejamkan matanya kuat, lalu menghela nafasnya berat.

"Kamu butuh penampilan, atau tubuhku?", balas Rayana tegas. Karena ia tak punya jawaban atas pertanyaan pemuda tersebut. Yang ia kenakan adalah pakaian terbaik yang ia punya. Tidak ada yang lain lagi.

"Hahahaha, katakan saja, kalau kamu tak punya yang lainnya," balas Roberto, membuat Rayana memerah pipinya.

"Ish, bukan urusanmu lah," sahut Rayana kesal, sambil membuang pandangannya. Lalu menyilangkan kedua tangannya ke dada. Dan tiba-tiba Roberto sudah berada di belakangnya dan mendekap tubuhnya dari belakang. Rayana tersentak, namun tak berani menolaknya.

Tangan besar itu sudah menguasai tubuh Rayana. Dan gadis itu pasrah dengan yang ia terima.

"Seperti namamu, Dara Manis, kamu memang sangat manis. Berapa harus ku bayar untuk selaput daramu Manis?", bisik Roberto yang sudah menggerayangi tubuh mulus Rayana.

Rayana menahan nafasnya, ia mencengkram kuat gaun bagian bawahnya. Menggigit bibirnya kuat, gejolak yang baru pertama kali ia rasakan membuatnya meremang hebat. Gelenyar nikmat menjalar perlahan mengaliri setiap desir darahnya. Membuatnya seakan melayang dan terlena karenanya.

"Aku akan membayar berapapun yang kamu minta Manis. Katakan, berapa yang kamu mau."

Roberto semakin liar menggerayangi tubuh Rayana. Membuat gadis itu terpejam dan mendesah karenanya.

🍁 BERSAMBUNG 🍁

Akankah Rayana terlena dengan buaian Roberto?

Bab 3

Bab 3 Virgin

Terbuai

Tangan besar itu memainkan jari-jarinya, menggelitik area sensitif Rayana, tepat di clitorisnya. Membuat gadis itu kian gemetaran sambil menggigit bibirnya dengan mata terpejam.

"Manis, aku mau darah perawanmu," bisiknya tepat ditelinga Rayana.

Dan membuat Rayana tersentak kaget, lalu menyingkirkan tangan besar Roberto dari area sensitifnya.

"Kita sepakat untuk tidak merusaknya bukan," jawab tegas Rayana, Roberto menyeringai.

"Apa alasanmu, sampai kau mau mempertahankannya."

"Bukan urusanmu, katakan saja, apa yang harus aku lakukan untuk memuaskan birahimu," tegas Rayana.

"Melihat darah perawanmu membasahi kejantanan ku," balasnya sinis dengan senyum menyeringai. Rayana membetulkan letak pakaiannya, lalu meraih tas selempangnya yang berada diatas kasur.

"Kalau begitu, lupakan saja. Aku permisi," jawab Rayana tegas.

"Aku akan bayar seratus juta untuk itu Dara Manis," seru Roberto, saat langkah Rayana sudah sampai diambang pintu. Rayana menoleh menatap Roberto datar.

"Meski kau bayar aku satu milyar, aku tak akan menyerahkannya padamu. Permisi, terima kasih waktunya," sahut Rayana pasti. Ia membuka gagang pintu dan memutarnya.

"Baiklah, aku hanya butuh tubuh polosmu, dan buat aku puas, sampai puncak birahiku membuncah. Jika dua kali kamu bisa membuatku melayang, tanpa kita menyatu. Aku bayar kamu lima belas juta," seru Roberto.

Rayana menoleh cepat, ia menatap tajam wajah pria bermata sipit berkulit putih itu.

"Apa jaminannya, kalau kamu tak akan memaksaku untuk menyatu denganmu," sahutnya tegas dengan tatapan sinis.

"Jika aku sampai melakukannya, kau boleh mendendaku lima ratus juta. Kamu bisa pegang kata-kataku," sahut Roberto.

Pria tersebut mulai mencopoti kain-kain yang menempel di tubuhnya. Rayana memalingkan wajahnya, jujur dari dalam hatinya. Ia sangat takut dan khawatir. Karena ini adalah kali pertama ia bercinta dengan seorang pria.

Bayangan uang lima belas juta menari dalam benaknya. Hanya dua jam, ia bisa mendapatkan tiga kali lipat dari yang Ibunya minta. Ia menghela nafasnya berat dan panjang.

"kunci pintunya, dan sekarang lakukan tugasmu," tegas Roberto, Rayana menggigit bibir bawahnya.

"Apa yang harus aku lakukan," tanyanya lirih, ia menatap takut Roberto. Pria tersebut mencebik kasar.

"Cepat lakukan sekarang," bentaknya, membuat Rayana berjingkrak kaget.

"Aku ke kamar mandi dulu, sebentar. Buang air kecil," ucapnya terbata, lalu berjalan cepat masuk ke kamar mandi. Meremas dadanya yang berdetak begitu kencang. Nafasnya kian memburu, ia sama sekali tak mengerti apa yang harus ia lakukan.

"Raya, ayolah berpikir," gumamnya, kran mengucur deras. Lalu ia merogoh tasnya, dan mengambil benda pipih miliknya. Dengan cepat ia browsing, perihal hubungan badan, agar cepat mencapai puncak.

"Ya Tuhan, kenapa tanganku gemetaran begini," gumamnya, semakin ketakutan dengan apa yang akan ia lakukan. Sambil membaca perlahan artikel yang ia temukan, dan tiba-tiba muncul gambar bergerak di layar ponselnya.

Mata Rayana membulat, tiba-tiba perutnya terasa mual saat melihatnya. Tapi ia harus tetap melihatnya, agar ia bisa mencobanya. Dalam hati hanya berucap, demi Ayah Bunda, dan adik-adiknya.

"Woi! Kamu tidur apa ngapain sih di dalam. Buang air kok lama banget," teriak Roberto dari luar sambil menggedor pintu. Rayana tersentak, sampai membuat ponselnya masuk ke dalam bak mandi.

"Astaga! Ponselku!", ekiknya sedih, ia mengambil gayung, lalu mencoba mengambil ponselnya. Kemudian keluar kamar mandi dengan wajah murung.

"Tidak bisakah sabar sedikit, lihatlah, kamu mengagetkanku. ponselku sampai terjatuh ke dalam bak mandi," eluh Rayana.

Roberto tak memperdulikannya, ia menarik tubuh Rayana ke dalam pelukannya.

"Beli saja yang baru, berikan dulu servis untukku. Jika bagus, aku belikan ponsel baru untukmu, hmm," bisiknya, lalu menjulurkan lidahnya menggelitik lubang telinga Rayana. Gadis itu membelalak, nafasnya naik turun.

"Astaga, kenapa tubuhku, ya Tuhan, apa yang ia lakukan padaku. Kenapa enak sekali," gumam hatinya, ia betul-betul tak pernah tahu dengan semua hal tersebut.

"Wangi tubuhmu enak sekali, aku suka," bisik Roberto mencium leher Rayana lembut.

"Parfum bayi, mmmmmh," jawab Rayana, sambil mendesah lirih. Saat gigitan kecil di lehernya ia rasakan bagai sengatan listrik yang sedang mengaliri laju darahnya.

"Lakukan sekarang, aku harus pergi empat puluh menit lagi. Jika kamu tak bisa memuaskanku dalam waktu tersebut, jangan harap aku akan membayarmu," tegasnya, setelah melepaskan ciuman nya dari tubuh Rayana. Gadis itu mebisu, ia menggigit bibir bawahnya dan berpikir. Mengingat apa yang ia lihat dan dia baca tadi di dalam kamar mandi.

"Cepat," entak Roberto lagi. Rayana tersentak, ia berjalan mendekati Roberto yang terlentang di atas kasur. Perlahan memijat lembut kaki Roberto.

"Biar tidak tegang, jadi biar aku pijat dulu tubuhmu."

"Apa?!"

"Hanya lima menit, pemanasan saja," sahut Rayana cepat. Ia mengusap lembut kulit putih paha Roberto. Membuat pria tersebut mendesis dan terpejam matanya. Rayana meneruskan aksinya, bayangannya terus mengingat hal yang ia tonton dan baca.

"Mmmmh, bagus… teruskan manis. Aaaah….", erang Roberto, ketika tangan lentik Rayana mulai mengusap lembut pusaka yang tersembunyi di balik kain boxer milik Roberto. Pria tersebut kembali mendesah.

Rayana memejamkan matanya kuat, ia tak ingin melihatnya sama sekali. Malu dan takut menguasainya kini, nafasnya yang menderu membuatnya terengah. Kekhawatiran membuatnya semakin takut.

"Ayolah Raya, kamu pasti bisa. Demi liba belas juta pertamamu. Bahkan bonus ponsel baru, semangat Raya, semangat. Bunda menunggu uangmu besok," bisik hati Rayana menyemangati dirinya sendiri. Matanya spontan terbuka, saat tangannya menyentuh sesuatu yang basah di ujung batang kokoh yang menyembul keluar boxer.

"Ough… hmmm, itu sangat enak Manis. Lakukan lagi…"

Roberto mengerang lagi, yang sangat menikmati sentuhan Rayana.

"Ya Tuhan, apa yang aku pegang. Menjijikkan," batin Rayana, ia menarik cepat tangannya, spontan membuat Roberto membuka matanya lebar.

"Kenapa? Teruskan, itu sangat enak, cepat, ahh…" keluhnya, yang masih sempat mendesah, karena batangnya terus saja berdenyut. Nafas Rayana kembang kempis, ia kembali menyentuhnya, namun ia juga menutup matanya kembali.

Mendekatkan bibirnya, lalu mulai mencium puncak yang berlendir tersebut, menjulurkan lidahnya dan memainkan di puncak tersebut.

"Aaaah, mmmh…. Sssss Manis, ooough."

Tiba-tiba Roberto dengan cepat memelorotkan celana boxernya. Menjambak rambut Rayana dan menenggelamkan batangnya ke dalam mulut Rayana.

Dan Rayana mendorongnya kuat, ia mencengkram kuat batang tersebut, lalu menggerakkan genggamannya naik turun, dengan lidah yang menggelitik puncaknya.

"Aaaah, tidak mungkin! Ini sangat enak. Aaaah."

Roberto berteriak, saat cairan kental berwarna putih susu itu muncrat mengenai bibir Rayana.

"Bueh."

Rayana langsung melepehnya, meraih tisu dan membersihkan mulutnya. Sementara satu tangannya masih menggenggam batang yang sangat besar di tangannya.

"Bersihkan."

Perintah Roberto, Rayana menatap pria tersebut, lalu meraih tisu.

"Pakai lidahmu Manis. Lebih enak rasanya," imbuhnya masih dengan nafas tersengal.

"Apa!", pekik Rayana kaget. Bahkan yang muncrat ke mulutnya saja langsung ia muntahkan. Dan ini ia di minta untuk menjilati cairan kental yang baginya sangat menjijikkan itu.

"Kenapa? Cepat lakukan, kalau tidak mau, aku bisa menumpahkan untuk yang kedua kali didalam rahimmu nanti," ancam Roberto lagi.

Rayana menelan salivanya berat, ia menatap cairan tersebut yang tercecer di perut sispek Roberto.

"Pakai tisu basah kan lebih bersih, dan higienis pastinya," bantah Rayana, mencoba merayu agar tak harus melakukan hal yang menurutnya sangat aneh dan menjijikkan.

Roberto mencebik, ia meraih tangan Rayana dan meremasnya perlahan. Gadis itu merasakan gelenyar aneh yang menjalar di tubuhnya.

"Astaga, apa lagi ini."

Remangan hebat ia rasakan, saat tangan Roberto menyusup di balik baju Rayana. Pria tersebut duduk, dan terus menggerayangi tubuh Rayana.

"Lakukan dengan Rasa, Dara Manis, agar kamu menikmatinya," gumamnya, sambil memilin lembut puncak dadanya. Membuat Rayana menggeliat dan mendesah panjang.

🍃 BERSAMBUNG 🍃

Akankah Rayana bisa menguasai dirinya?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

VIRGIN

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED