Velin menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah kafe yang terletak sedikit terpojok karena terimpit dua bangunan tinggi. Hotel yang tingginya melebihi batas penglihatan seorang Velin, dan sebuah bangunan yang masih belum terlihat siap ditempati. Velin menarik napas mencoba menangkan diri karena terlalu gugup. Ia yakin, di dalam sana teman-teman seangkatan dengannya telah berkumpul dan mungkin bercerita tentang kesuksesan masing-masing setelah 5 tahun tidak bersua.
Jujur saja, Velin ragu untuk memasuki kafe yang
terlihat sepi itu. Ia ragu jika di dalam sana akan menjadi seseorang yang terasingkan karena hidupnya tidak memiliki perubahan selama 5 tahun. Dan juga ragu untuk bertemu dengan orang-orang yang dihindari semasa SMA dulu.
Semua mengacaukan otaknya yang terlalu kecil dan pas-pasan untuk berpikir. Seandainya saja otaknya itu bisa lebih genius, mungkin ia akan bekerja di sebuah perusahaan ternama, bukan menjadi pengantar bunga.
Apa lagi yang bisa dilakukan perempuan yang cuma tamat SMA? Pekerjaan di kota besar tidak menjamin sama sekali. Bahkan yang sudah memiliki ijazah sarjana saja bisa berakhir menjadi pengangguran. Lalu, bagaimana dengan dirinya yang hanya tamat SMA?
"Tidak berniat masuk?"
Velin menatap seorang perempuan yang berdiri tepat di sampingnya. Velin menarik napas sedikit kasar. Entah berapa lama ia melamun hingga tidak menyadari jika ada orang lain selain dirinya berdiri di depan kafe.
"Jika ragu, ayo pergi saja dari sini."
Velin mengernyitkan keningnya bingung. Perempuan cantik bak model itu mungkin sedang menyindirnya secara halus saat ini.
"Ada apa dengan wajahmu itu? Hah, aku juga ragu untuk masuk ke dalam sana. Kenangan saat masih SMA berputar terus di depan mataku."
Kalimat itu semakin membuat Velin berpikir lebih ekstra dari biasanya, dan karena otaknya tidak bisa bekerja lebih, maka ia tidak bisa menemukan jawaban dari pertanyaan yang melayang tidak karuan di otaknya.
"Maaf, kamu siapa?" Entah keberanian apa yang mendera Velin hingga ia mampu mengeluarkan suara dari bibirnya yang sejak tadi terbungkam.
"Kamu tidak mengenalku?" Ada kekecewaan dari pertanyaan balik yang diucapkan sang lawan bicara.
Velin menggelengkan kepalanya.
"Natasya. Si cupu yang selalu memakai kacamata tebal. Berjerawat dan kutu buku."
Velin membungkam mulutnya. Natasya? Dia tidak percaya apa yang ia lihat. 5 tahun tanpa mendengar kabar dari masing-masing teman semasa SMA dulu membuat begitu banyak perubahan, salah satunya Natasya. Bagaimana bisa siswi yang dikenal nerd semasa SMA, berubah menjadi perempuan cantik bahkan layak untuk menjadi model.
Wajah itu begitu mulus tanpa ada bekas jerawat di sana. Bahkan terlalu sempurna untuk disebut sebagai manusia. Mungkin, lebih tepatnya saat ini Natasya seperti bidadari yang setiap wajahnya terpahat sempurna.
"Apa kamu melakukan operasi?" Velin memukul kepalanya karena pertanyaan bodohnya itu.
Natasya tersenyum menanggapi pertanyaan Velin. "Ya, kamu benar. Aku melakukan banyak perubahan di tubuhku. Aku tidak ingin menjadi bahan kejahilan lagi."
Lagi-lagi Velin mengangguk seperti orang bodoh. "Pantas saja, itu terlihat sangat sempurna." Velin menunjuk pada wajah Natasya. "Maaf," tambahnya lagi. Ia takut jika Natasya tersinggung dengan kalimat konyolnya.
"Tidak masalah. By the way, mau masuk atau cabut?"
Velin menatap Natasya dengan senyum percaya dirinya. "Kita sudah di sini bukan? Kenapa menyia-nyiakan waktu begitu saja."
"Kamu yakin?" Natasya bertanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Ya. Setidaknya kita bisa membanggakan diri di dalam sana, meskipun harus menahan malu karena tidak mampu melakukan apa pun lebih dari yang sekarang ini."
Natasya mengangguk.
"Kamu benar."
Natasya berjalan dengan gontai dan disusul oleh Velin dari belakang. Bohong jika seorang Velin tidak gugup sama sekali, tetapi setidaknya, ia masih punya teman yang memiliki pemikiran seperti dirinya. Ya, Natasya tidak jauh beda darinya. Ragu karena beberapa alasan tertentu.
"Ah, lihat siapa yang datang!" Teriakan menggema dan itu datang dari lelaki yang memakai pakaian terlalu mencolok.
Velin bahkan hampir tertawa kencang saat menyaksikan penampilannya. Kemeja warna kuning dan dilapisi dengan jas berwarna hijau kotak-kotak. Dasi yang warna terlalu bertolak belakang. Bagaimana bisa dasi warna merah menjadi pelengkap kemeja warna kuning? Terlalu lebay.
"Maaf, kami sedikit terlambat." Natasya membungkuk memberi hormat sebelum duduk di tempat kosong, kemudian disusul oleh Velin.
"Wah, si ratu plastik ternyata." Kalimat menyakitkan itu keluar dari bibir seorang Tania. Velin ingat jelas wajah yang selalu terpoles bedak tebal itu. Apa bedanya operasi plastik dengan tambal bedak berlapis-lapis?
Velin melirik Natasya yang tersenyum ramah. Perempuan itu terlalu santai menanggapi hinaan kasar yang diutarakan oleh Tania.
"Terima kasih sudah menyambutku."
Keraguan inilah yang ternyata dialami oleh Natasya. Velin tidak yakin apakah ia bisa setenang Natasya jika nantinya mereka semua melempar pertanyaan-pertanyaan aneh.
"Ngomong-ngomong, apa kamu itu ... Velin?" Tania beralih kepada Velin.
Velin menelan ludahnya. Ia yakin kini gilirannya yang akan menjadi sasaran hinaan dari teman-teman seangkatan dirinya.
"Kamu tidak jauh beda dari dulu ya. Selalu terlihat menyedihkan."
Natasya memegang tangan Velin yang terletak di bawah meja. Menyalurkan kekuatan untuk bertahan dalam keadaan yang tampak kacau.
"Apa pekerjaanmu?" Velin mengalihkan atensinya kepada lelaki yang terlalu norak dalam berpakaian.
"Aku?" Velin menunjuk dirinya. "Aku, ah ... hanya pengantar bunga."
"Benar-benar menyedihkan?" Tania kembali mengucapkan kata-kata menyakitkan. "Kamu terlalu menderita."
"Siapa bilang kalau pengantar bunga itu menderita?"
Semua mata menatap ke arah pintu di mana seorang lelaki tampan berjalan ke arah mereka.
"Arga!" Tania selalu menjadi yang pertama menyadari siapa yang datang meskipun tidak bertemu sangat lama.
"Kapan balik dari Paris?" Tania menggeserkan kursi agar Arga duduk di sampingnya.
Velin menunduk menyadari jika Arga, lelaki yang ia hindari selama bertahun-tahun itu duduk di depannya.
"Seminggu yang lalu. Bagaimana kamu bisa tahu?" Arga tersenyum manis kepada Tania.
Tania terlihat sedikit malu. Wajah itu memerah. "Aku mengikuti akun Instagram-mu."
Natasya hampir memuntahkan minumannya saat nada suara Tania terdengar manja dan terkesan dibuat-buat menjadi seksi.
"Oh, begitu rupanya." Arga masih setia dengan senyumnya namun matanya bukan menatap Tania melain menatap Velin dengan penuh binar. "Hai, lama tidak bertemu."
Velin mengangkat wajahnya saat jemari-jemari mengacak rambutnya.
Matanya membulat sempurna. Mata Onix milik Arga begitu penuh binar membuat jantung Velin berdetak lebih cepat berkali lipat dari biasanya.
"Aku merindukanmu."
Bukan hanya Velin yang terkejut. Tania, Natasya dan yang lain yang turut bergabung dalam acara reuni dadakan itu terkejut bukan main. Bagaimana bisa seorang lelaki yang dulunya menolak Velin, tiba-tiba merindukan sosok itu?
"Kamu tidak merindukanku?"
Velin masih mematung dengan detak jantung yang masih sama.
"Aku menginginkanmu menjadi kekasihku."
What the hell?
Rasanya Velin ingin membentur kepalanya ke dinding untuk menyadarkan dirinya dari mimpi yang terlalu tiba-tiba itu.
"Tidak semudah itu. Lo harus melangkahi mayat gue dulu jika lo mau jadi pacar Velin."
Keterkejutan di kafe itu semakin menjadi saat kehadiran lelaki lain yang entah datang dari mana ikut bergabung.
"Lo tahu 'kan, gue juga suka sama cewek aneh ini."
Velin menatap wajah lelaki yang memegang tangannya dengan sempurna. Velin sangat tahu betul siapa lelaki yang menyebutnya aneh itu.
"Sean?"
Dan hanya senyum tipis yang terukir di bibir tebal nan seksi milik lelaki bernama Sean itu.
"Selamat datang di neraka." Bisikan itu terlalu pelan, layaknya desiran angin yang lewat begitu saja. Sean kembali, dan Velin akan kembali hidup dalam neraka yang dibuat oleh Sean sendiri.
"Bagaimana reunimu tadi malam? Berjalan lancar?"
Velin yang duduk di depan meja bundar beralas bantal kecil tidak menyahut sama sekali saat Mili–teman sekamarnya itu melemparkan pertanyaan tentang reuni yang ia datangi tadi malam. Velin terlalu malas untuk membahas, mengingat tentang reuni yang kembali membawanya dalam kisah luka masa lalu.
"Yak, pelan-pelan makannya. Tidak akan ada yang mengejarmu." Mili memukul kepala Velin menggunakan sendok makan. Tidak terlalu keras, tapi mampu membuat Velin melotot kepada Mili. Sedang Mili, perempuan berkacamata itu hanya tersenyum.
"Aish ... sial! Jangan menanyakan itu lagi, Mbak," pinta Velin dengan mimik memohon. Ia ingin melupakan apa pun yang berkaitan dengan reuni. Melupakan Arga, Sean dan yang lainnya.
"Kenapa? Burukkah?" Mili mengunyah sarapannya santai, tapi matanya begitu antusias kepada Velin.
Velin mengangguk.
"Wah. Apa mereka memamerkan apa yang mereka capai selama lima tahun terakhir?"
Lagi-lagi Velin mengangguk.
"Amazing." Mili terkekeh. Bukan menertawakan penderitaan Velin melainkan menertawakan kehidupan kejam yang menimpa mereka. Mili dan Velin tidak jauh berbeda. Mereka terlahir dari kehidupan yang pas-pasan. "Itu alasan kenapa aku tidak pernah mau menghadiri acara yang berkaitan dengan sekolah. Apa pun itu."
Velin mendengkus kasar. "Bukan hanya itu, Mbak, dua lelaki paling berengsek yang pernah aku kenal kembali lagi.”
"What?" Mili berteriak. Tangannya yang memegang sendok yang masih berisi nasi goreng itu menggantung di udara.
"Mereka mendatangkan bahaya masing-masing. Aish ... seharusnya aku tidak menghadiri reuni sialan itu." Velin menggulingkan tubuhnya ke lantai seperti anak kecil yang sedang protes kepada orang tuanya karena tidak dibelikan permen.
"Yak ... yak ... berhenti bertingkah seperti anak kecil. Ingat umur," protes Mili. Bibirnya tertarik membentuk segaris senyum tipis. "Cepat habiskan sarapanmu. Setelah itu berangkat kerja."
"Ya." Velin kembali membetulkan duduknya. Tanpa protes kembali mengunyah sarapannya yang tertunda meskipun dengan wajah kesal.
"Anak pintar." Mili mengacak rambut Velin. Ia gemas melihat tingkah kekanak-kanakan yang dimiliki oleh teman sekamarnya itu.
Velin tidak menyahut. Ia memilih menghabiskan sarapannya dan segera berangkat kerja.
***
Velin tersenyum ramah kepada siswi berseragam SMA yang berdiri di depan pintu, mencoba memberi layanan terbaik dari toko bunga 'Beautiful Flower' tempatnya bekerja. Sehingga langganan akan semakin bertambah. Dengan begitu semakin banyak bonus menanti dirinya dan siap masuk ke saku celana. Dan jika ia mendapatkan bonus lebih, ia ingin mentraktir Mili makan sepuasnya di restoran terbaik di kota Jakarta ini.
"Gue enggak memesan bunga sama sekali. Lo mungkin salah alamat." Siswi SMA itu berucap dengan nada dingin.
Velin mengernyit keningnya bingung. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan catatan kecil yang isinya adalah nama-nama beserta alamat tempat ia akan mengantar beberapa bunga.
"Seira Virza Nasution, 'kan?" Velin masih menatap kertas kecil itu.
Siswi SMA itu mengangguk.
"Nah, nama dan alamatnya sama. Mana mungkin salah alamat," tukas Velin. Ia menyodorkan bunga mawar merah yang terbungkus rapi kepada Seira.
Seira hanya menatap tidak tertarik pada bunga mawar cantik itu. "Setidaknya lo bisa kasih tahu ke gue siapa yang ngirim bunga itu."
Velin masih mencoba ramah meskipun hatinya mendidih melihat tingkah mengesalkan bocah SMA di depannya itu.
"Di sini tertulis, pengirimnya adalah Hafiz Altariksyah. Adik Seira bisa lihat lebih jelas di kartu yang terdapat di bunga itu." Velin menunjuk kertas yang terdapat di antara rangkaian bunga mawar.
"Buang saja. Gue enggak tertarik." Seira memutar tubuhnya. "Ah, ya ... kalau dia memesan lagi dan menyuruh lo mengantar ke sini, lo enggak usah repot-repot, buang saja di tengah jalan."
Tidak lama setelah itu suara bantingan pintu mengalun terlalu buruk di telinga Velin. Ia mendengus kasar, menatap sendu pada rangkaian bunga mawar yang ditolak mentah-mentah.
"Uh ... mengerikan sekali," gerutu Velin. Dengan gontai ia kembali ke motornya yang sudah terparkir di luar pagar rumah besar itu.
Namun, langkahnya memburu saat mata tajamnya menangkap seseorang sedang memperhatikan motor matic dengan sangat saksama. Perasaan Velin semakin buruk apalagi orang yang memperhatikan motornya berpakaian sangat aneh dan pantas dicurigai.
Jaket kulit hitam, celana jeans hitam, topi hitam, masker hitam bahkan sepatu yang dikenakan pun warnanya hitam. Ya ... manusia dengan warna serba hitam. Perasaan mencurigai semakin menjadi di hati Velin.
"Yak! Kamu maling motor, ya?" teriak Velin begitu nyaring memekakkan telinga.
Orang yang diteriaki sebagai maling itu terkejut. Ia menggelengkan kepalanya, tapi Velin yang dari awal memiliki firasat buruk tidak percaya begitu saja.
"Mana ada maling mau ngaku. Kalau ngaku mah, jaksa pasti kelelahan menangani kasus itu terus menerus di pengadilan," ketus Velin.
Dan satu tendangan mendarat di tulang kering orang yang dicurigai Velin sebagai maling itu.
"Sakit, bodoh." Suara bariton itu terdengar tidak asing di pendengaran Velin.
Dan ya ... pemilik suara itu membuka masker serta topi hitamnya. Spontan Velin mundur beberapa langkah. Otaknya kembali bekerja tidak karuan saat lelaki yang dicurigainya itu sangat ia kenal.
"Sean ...." Velin menatap gugup ke arah lelaki itu.
"Hai, kita bertemu lagi. Takdir selalu berpihak kepada lelaki tampan seperti gue." Sean maju selangkah, dan Velin mundur selangkah.
"Ngapain kamu di sini?"
Sean kembali maju selangkah, dan lagi-lagi Velin mundur selangkah.
"Seharusnya gue yang nanya, kenapa lo ada di depan rumah gue?"
Velin menatap sekilas kepada Sean lalu menatap rumah besar yang ada di belakangnya. Velin rasanya ingin menenggelamkan diri di lautan karena terlalu takut berurusan dengan Sean.
Kenapa otak kecilnya sama sekali tidak bisa menyadari jika rumah itu milik keluarga Sean. Bukankah nama siswi SMA tadi memiliki kesamaan dengan nama Sean? Sean Varza Nasution dan Seira Virza Nasution.
"Lo rindu sama gue, ya? Aish ... padahal kita baru ketemu tadi malam. Dan bukannya tadi malam gue yang mengantar lo pulang? Atau lo merindukan ciuman dari bibir seksi gue ini seperti tadi malam?" Sean menunjuk pada bibirnya.
Velin mendorong Sean kuat. Sean benar-benar gila! Membahas ciuman yang ia rebut dari Velin dengan paksa.
"Minggir. Aku harus mengantar bunga-bunga ini lagi." Velin meletakkan bunga milik Seira kembali ke keranjang bunga.
Namun, dengan cepat Sean meraihnya bunga itu. "Ini untuk gue aja."
Velin tidak menolak. Ia ingin segera menyudahi berurusan dengan Sean. Masih banyak hal yang lebih penting dari pada berurusan dengan manusia absurd seperti Sean.
"Nanti malam gue jemput, ya? Gue mau ngajak lo jalan. Mungkin sewa kamar juga."
Velin mendecit seperti anak burung. Otak Sean perlu dibersihkan dari pikiran-pikiran mesum yang luar biasa.
"Jangan menolak!" teriak Sean ketika motor Velin meninggalkan halaman rumah besar milik keluarganya.
Sean tersenyum tipis. Ia mencium bunga mawar itu. Kemudian membuang kartu yang ada. Dengan santai masuk ke dalam rumah besar dan siap menghadapi kenyataan baru.
VELIN memarkir motornya di depan toko bunga. Setelahnya, masuk ke dalam untuk meletakkan keranjang bunga.
Dengkusan kasar terdengar jelas keluar dari bibirnya. Ia sangat kesal mengingat kejadian mengesalkan yang menimpanya tadi. Bahkan ia menyesal karena bertemu dengan 2 makhluk aneh yang memiliki ikatan darah murni itu.
"Cih ... abang dan adik sama saja, sama-sama mengesalkan. Mereka benar-benar ditakdirkan menjadi saudara." Velin menggerutu seraya mengentakkan kakinya ke lantai.
"Dasar manusia aneh. Dia bilang apa? Kangen sama bibir seksinya? Hah? Yang benar saja. Yang ada di otak sekarang ini, aku ingin menendangnya hingga ke Kutub Utara, sampai ia lupa jalan pulang." Velin masih setia menggerutu bahkan tidak menyadari jika seorang lelaki yang berdiri tidak jauh darinya sedang memperhatikannya dengan saksama.
"Aku sumpahi enggak bakalan nemu perempuan yang cocok seumur hidup." Velin masih menggerutu. Dan lelaki yang sedari tadi berdiri tidak jauh darinya mendekat.
"Kalau kamu terus menggerutu seperti itu, mungkin kamu bakalan tua sebelum waktunya."
Velin mengalihkan atensinya saat suara bariton menyapa rungunya.
"Mas Gafa enggak tahu saja sih gimana ribetnya pelanggan hari ini. Belum lagi ketemu sama orang berengsek yang sotoi minta dijitak kepalanya." Dengan nada sewot Velin sedikit curhat.
Laki-laki bernama Gafa itu tersenyum mendengar penuturan Velin. "Emang siapa yang berengsek? Mantan pacar?" goda Gafa. Lelaki itu lebih tertarik soal ketemu orang brengsek dari pada yang lain.
Velin mengerucut bibirnya. Kakinya ia entak beberapa kali ke lantai. "Aish ... Mas Gafa jahat banget, sih. Gimana punya mantan pacar kalau pacaran saja belum pernah." Velin kesal bukan main.
"Cantik begini kok belum pernah pacaran? Kok Mas enggak percaya, ya." Gafa menelisik wajah Velin dengan sangat saksama. "Enggak nemu kekurangan sama sekali," tukas Gafa lagi.
Velin semakin kesal. Kalimat Gafa benar-benar membuat mood-nya semakin kacau. Jika saja ia secantik yang dipikirkan Gafa mungkin dulu ia bakalan jadi kekasihnya Arga. Namun, nyatanya?
"Mas Gafa sebenarnya niat menghibur apa mengejek, sih? Aku kesal sama Mas Gafa." Velin menampilkan wajah tidak sukanya pada Gafa.
Ayolah, pembahasan awalnya bukan soal pacar, tapi soal seseorang yang berengsek.
"Maaf. Mas bukan maksud mengejek kok. Maaf, ya ...." Gafa mengacak rambut Velin dengan lembut. Spontan membuat Velin mengangguk.
Velin tidak pernah bisa marah terlalu lama kepada Gafa. Apalagi jika Gafa sudah mengusap rambutnya begitu lembut seperti tadi. Bagi Velin, usapan lembut itu seperti sebuah semangat baru dan seperti ungkapan cinta dalam diam. Velin sangat menyukai itu!
Sayangnya, Velin tidak bisa memiliki seseorang yang memperlakukannya dengan begitu lembut itu. Semua karyawan di toko bunga itu juga tahu jika Gafa sudah memiliki kekasih. Dan kekasih Gafa itu adalah Miska yang merupakan pemilik toko bunga tempat mereka bekerja.
Sakit? Tentu saja! Setiap hari Velin harus bertemu dengan Gafa dan Miska. Dan terkadang ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat Gafa dan Miska bercumbu di sembarangan tempat.
Luar biasa bukan?
"Vel, nanti malam temani Mas, ya." Velin sedikit tersentak saat suara Gafa kembali terdengar. Ia sempat melamun beberapa saat dan lamunannya itu lumayan melayang jauh.
"Ke mana?" Velin mendudukkan dirinya di bangku kosong. Tangannya sibuk mengikat rambutnya yang sempat berantakan karena ulah tangan Gafa.
"Ketemu sepupu Mas di kafe dekat sini," sahut Gafa. Ia kembali mengacak rambut Velin yang sudah rapi hingga kembali berantakan lagi.
Velin menatap Gafa horor. Ia lagi-lagi merapikan rambutnya. "Kenapa enggak minta ditemani sama Mbak Miska?" tanya Velin heran. Jelas heran, kekasih Gafa adalah Miska. Kenapa dirinya yang harus menemani Gafa?
Bukankah jika seperti itu, perasaan cinta seorang Velin kepada Gafa akan semakin tumbuh besar.
"Miska enggak bisa. Lagian Mas sudah minta izin kok sama Miska, dan dia setuju saja selagi itu sama kamu." Gafa menjelaskan. Ia memosisikan dirinya di samping Velin.
Velin mendengkus pasrah. "Oke. Jam berapa?"
"Jam tujuh tepat." Gafa tersenyum. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan lalu per sekian detik ia mengecup pipi Velin.
Velin mematung. Wajahnya mendadak memerah layaknya tomat dan jantungnya bahkan seperti berlomba dengan aliran darahnya.
Gafa membuatnya semakin jatuh dalam perangkap yang disebut cinta.
***
Velin mondar-mandir tidak menentu. Kadang duduk kadang berdiri. Kadang membuka pintu lalu menutup lagi. Bahkan Mili sampai pusing melihat tingkah aneh Velin. Berulang kali Mili menegur agar Velin diam dan menunggu saja, tetapi dasar Velin si keras kepala tidak mau mendengar sama sekali.
Sebenarnya, bukan sepenuhnya kemauan Velin bertingkah seperti itu. Ia hanya terlalu resah menunggu Gafa. Gafa berjanji akan menjemputnya jam 7 malam untuk bertemu dengan sepupu Gafa. Dan anehnya, hingga jam 9 malam, Gafa belum juga menunjukkan batang hidungnya. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi sama sekali.
Jika seperti ini, Velin kesal kepada Gafa. Bukankah sudah ia luangkan waktu untuk malam ini? Seandainya Gafa tidak memintanya, mungkin ia sudah tidur berdamai dalam mimpi indah.
"Sudahlah. Ini sudah jam sembilan. Mungkin janji sama sepupunya itu batal." Mili memberi nasihat sepintas.
"Tidak mungkin Mbak. Jika batal, pasti Mas Gafa menelepon." Velin masih setia menunggu.
"Masalahnya, ini sudah lewat dua jam dan batang hidung Gafa itu enggak tampak sama sekali. Dia niat mau ngajak kamu atau enggak, sih?" Mili kesal. Rasanya ia ingin sekali menendang tulang kering lelaki bernama Gafa itu jika ketemu.
Velin mendengkus. Apa yang dikatakan Mili ada benarnya. Ia sudah menunggu selama 2 jam, dan sampai sekarang Gafa tidak muncul. Namun, otak kecilnya mengabaikan semua itu. Baginya Gafa tidak pernah seperti ini sebelumnya. Jika mengajak Velin keluar pasti akan selalu jadi.
Lalu malam ini?
Tidak lama kemudian ketukan terdengar di pintu membuat Velin spontan mendekat ke sana. Ia menampilkan senyum manisnya. Penantiannya tidak sia-sia. Gafa pasti datang meskipun terlambat, tapi itu tidak masalah sama sekali. Tangannya terulur membuka pintu dan matanya membulat sempurna saat orang yang berdiri di depan pintu bukalah Gafa.
"Hai, honey. Gue terharu pakai banget. Ternyata lo sangat mengharapkan kedatangan gue sampai berdandan secantik ini."
Ingin sekali Velin menimpuk kepala lelaki yang berada di depannya ini dengan apa saja. Bagaimana bisa Gafa yang ia harapkan datang malah Sean yang berdiri di depan pintu.
Tanpa menunggu lama, Velin menutup pintu tetapi Sean lebih cepat dari Velin. Ia bergerak layaknya vampir hingga tanpa Velin sadari Sean sudah berada di dalam flat mereka.
"Hai, gue Sean."
Mili yang sedang duduk seraya menatap layar televisi itu mengerutkan kening karena tiba-tiba Sean berdiri di depannya. Mengulurkan tangan dan memamerkan senyum begitu manis.
Mili salah tingkah. Ia menatap intens pada Sean yang nyatanya sangat mampu membuat siapa saja jatuh hati mendadak. Mili mengelap tangannya di baju sebelum menyambut uluran tangan Sean.
"Mili," tukas Mili sembari tersenyum. "Oh, kok kamu yang datang? Kamu sepupunya Gafa, ya?" Mili terlalu polos.
Kini giliran Sean yang mengerutkan keningnya. "Gafa? Gue enggak kenal."
Mili tersenyum kikuk. "Aku kira kamu kenal."
"Ngapain kamu ke sini?" Velin menarik tangan Sean agar menjauh dari Mili. Ia tidak ingin Sean menjadi parasit yang menggerogoti Mili nantinya.
Sean mencolek pipi Velin. "Ya Tuhan, masa lo lupa sih honey, gue 'kan ke sini mau jemput lo." Kedipan mata menggoda Sean menerpa Velin.
Bisakah Velin mengubur Sean hidup-hidup malam ini? Bagaimana bisa lelaki itu tidak berubah selama ini?
"Dari mana kamu tahu tempat tinggalku?"
Velin menghindar saat menyadari Sean hendak mencium pipinya.
"Lo enggak lupa siapa gue, 'kan?" tanya Sean. Senyum merekah indah di bibirnya.
Senyum itu menakutkan. Velin bahkan gemetaran saat ini. Aliran darahnya seolah berhenti berdetak. Jika Sean seperti ini, maka bisa di pastikan ia akan hidup dalam teror.
"Sekarang lo ikut gue keluar atau gue ngajak teman lo itu? Pilihan ada di tangan lo, sih. Kalau teman lo itu yang gua ajak, mungkin besok tinggal nama sama jasad saja yang pulang."
Velin tahu itu hanya ancaman Sean, tapi Velin tidak bisa mengabaikannya. Bukankah ancaman bisa jadi nyata jika terkesan diabaikan? Dan Velin ingin menghindari itu. Walaupun selama ini, Sean tidak pernah sampai mengakhiri nyawa seseorang.
"Baiklah." Velin pasrah.
Sean tersenyum penuh kemenangan. "Selamat datang di kehidupan Sean," bisiknya tepat di telinga Velin.