Bab 1

Namanya Meera Zean Anatashia, terkenal cantik, pintar, body semampai tapi jutek dan galaknya ngalahin ayam betina yang lagi ngeramin telur.

Meera adalah wanita yang tegar, dalam seumur hidupnya dia hanya menangis satu kali yaitu saat Mama__orangtua angkatnya meninggal.

Meera adalah yatim piatu yang diangkat anak oleh pengacara terkenal Anatashia saat dia berumur sepuluh tahun, dan saat dia berusia tujuh belas tahun Meera menangis pertama kali dipelukan para sahabatnya karena Anatashia meninggalkan dia untuk selama-lamanya.

Anatashia meninggalkan dia sebuah rumah yang nyaman dan juga tabungan serta asuransi yang bisa Meera pergunakan. Tapi Meera tahu itu tidak akan cukup hingga dia kuliah dan menjadi wanita karir yang hebat seperti Mama-nya. Untuk itulah Meera selalu belajar, dan belajar agar dia tetap menerima beasiswa dari sekolahnya. Dan bahkan sampai ke Oxford University. Universitas impiannya.

Ah, berbicara tentang sahabat Meera pertama kali bertemu mereka di SMA Pertiwi Sentosa Karya. Jika mengingat singkatan ini Meera akan selalu tertawa bersama sahabatnya meski dia hanya mengeluarkan sedikit saja suara.

Ya, SMA Pertiwi Sentosa Karya atau PSK adalah tempat dia menemukan sahabat-sahabatnya.

Celine si Mahasiswa abadi menurut Meera karena hingga kini sahabatnya itu belum resmi menyandang gelar Sarjana

Reya si gembul kesayangan Meera yang lemot, dan suka hal-hal mistis.

Ada juga Candy, sahabat Meera yang satu ini sangat manis, tapi juga teman yang suka diusik Meera karena sangat menyukai dangdut sementara selera musik Meera adalah Rock. Berbanding terbalik bukan.

Terakhir ada satu-satunya pria diantara mereka berempat. Arkana, pria jorok tapi sangat care dengan sahabat-sahabatnya ini selalu menjadi pendengar yang baik bagi mereka semua.

Well, itulah sahabat-sahabat Meera yang selalu ada untuknya.

Pacar ? Tidak, Meera tidak memiliki pacar. Dan apa itu pacar ? Sepertinya juga keempat sahahabatnya itu setuju dengan pertanyaan tersebut.

Tidak perlu memiliki banyak teman

Secukupnya saja asal mereka bisa kau andalkan dalam keadaan apapun. Termasuk titik dimana seluruh Dunia mengabaikan, bahkan mengucilkanmu.

Dan Meera beruntung memiliki mereka.

####

Salju yang turun di London membuat Meera bergegas menuju flat kecil yang ia tempati seorang diri. Flat yang ia sewa setelah dia bekerja di sebuah perusahaan ternama Derson Corp itu membuatnya pindah dari tempat awalnya tinggal yaitu di kota Oxford, dimana dia juga adalah lulusan dari Universitas tertua di Dunia itu.

Meera buru-buru membuka mantel hangatnya lalu masuk kedalam kamar kecil, dengan perasaan campur aduk Meera menunggu hasil dari benda pipih yang ia beli tadi.

Setelah menunggu akhirnya jawaban dari pertanyaan yang menghantuinya terjawab.

Dia hamil, dan itu petaka bagi Meera.

Selama ini dia menjaga baik dirinya, meski dia sudah dewasa Meera tidak pernah hidup bebas layaknya wanita-wanita muda di Eropa.

Baru pertama menikmati hari Valentine dan melakukan kencan buta hasil dari situs yang dia dengar dari teman sekantornya, Meera malah tidak sadar apa yang sudah dia lakukan.

Bagaimana bisa ?

Iya, Meera juga tidak mengerti.

Dia mengingat wajah Pria tampan yang ia kencani itu saat mereka bertemu. Bercerita layaknya orang pertama bertemu dan paginya Meera sudah terbangun dengan keadaan tertutup selimut dan pria itu sudah tidak ada.

Tentu Meera sangat menyesal, dia kehilangan apa yang dia jaga dengan cara seperti itu. Meski Meera tahu wajah pria itu tapi dia belum tahu hal lainnya, seperti dimana dia bekerja. Bahkan nama lengkapnya saja dia tidak tahu.

Dia hanya baru mengobrol, dan semuanya menjadi gelap bagi Meera. Yang dia tahu pria itu memperkenalkan dirinya dengan Mr.D.

"D WHAT ?" teriak Meera frustasi didalam kamarnya.

****

Satu Bulan Kemudian...

Meera baru saja keluar dari toilet kantornya, tanpa sengaja dia mendengar para petinggi perusahaan yang dia ketahui adalah Manager Keuangan dan Head Marketing di kantor mereka membicarakan jika perusahaan mereka di cabang Jakarta sedang membuka lowongan untuk Head Marketing yang baru.

Itu adalah kesempatan bagi Meera untuk kembali ke Indonesia, namun dia masih bisa memiliki pekerjaan impiannya ini.

Meera bergegas menuju ruangan personalia, menemui staff HRD yang kebetulan dikenal baik olehnya.

"Nancy," sapa Meera yang mendapatkan senyuman manis wanita itu.

"Yes Zean, teel me what do you want ?" Sepertinya wanita itu sibuk dan Meera sedikit takut mengatakan permintaannya.

"Begini, aku mendengar kabar kalau perusahaan kita di cabang Jakarta sedang membutuhkan kepala marketing yang baru. Apakah itu benar ?"

"Ya, benar. Ada apa ? Apa kau ingin aku mendaftarkan profil mu keatasan agar bisa kembali ke negara mu hem ?" Nancy terlihat sangat baik hati.

"Ya, jika kau tidak keberatan. Aku sangat ingin kembali kesana. Tapi tentunya dengan pekerjaan yang baik."

"Oh tenang saja Zean, namamu bahkan sudah dibicarakan kepala marketing kita. Kau sangat berambisi, dan itu sangat baik bagi perusahaan. Berdoa saja semoga kau beruntung." Meera mengangguk antusias dan pamit kembali ke ruangannya di bagian staff marketing Derson Corp.

****

Meera menikmati susu hangat yang harus dia minum semenjak dia sudah dipastikan hamil oleh seorang dokter di Royal Hospital London. Untungnya dia sedang berada di London, jadi tidak ada pertanyaan menyebalkan seperti 'Dimana suami anda ?'

Meera menghela napas lelah lalu ponsel di dalam tas-nya berbunyi.

Reya calling...

Meera langsung mengangkatnya dan terlihatlah wajah sahabatnya yang lucu itu.

"Hei nona Inggris, apa kau akan menetap di Negara Ratu Elizabeth itu ha ? Tidak pernah menelpon kami jika tidak di telpon." Meera memutar bola matanya mendapat omelan Reya.

"Apa kau lupa jika kita memiliki waktu yang berbeda Re ? Dan kenapa kau menelpon ku dijam seperti ini ? Apa kau tidak tidur ?"

"Tunggu____," Reya seperti mencermati sesuatu. "Sejak kapan kau minum susu ?" Meera langsung panik namun mencoba terlihat tenang, sedang Reya ditempatnya memicingkan matanya.

"Ah...ini hanya susu biasa. Aku sedang tidak enak badan." Bohong Meera.

"Cih...seperti aku baru mengenalmu satu atau dua tahun saja," gerutu Reya yang memang sangat susah untuk Meera bohongi.

"Ok fine, I'm pragnent."

-

-

-

"Kau bilang apa Meera ?" Reya sepertinya terkejut mendengar kalimat cepat bagaikan kereta api yang Meera ucapkan.

"Aku yakin kau pasti dengar." Meera dengan santai menjawabnya, padahal dia juga cemas setengah mati saat mengatakan hal tersebut.

"Kau serius ?"

"Hem,"

"Berapa bulan ?"

"Satu."

"Kapan rencana pernikahannya ?"

"Tidak ada rencana pernikahan Re."

"Kenapa ? Apa kau gila semenjak tinggal disana ha ?!"

"Aku tidak tahu siapa orang yang menghamiliku."

Dan mereka berdua pun terdiam, Reya terlihat sangat cemas saat ini. Dan Meera merutuki dirinya yanh dengan santai mengatakan semuanya.

"Sudahlah jangan cemaskan aku, aku akan pulang saat waktunya tiba. Aku tahu cepat atau lambat akan memberitahukan kalian berita ini, kau tahu bukan hanya kalian yang aku punya. Tolong jangan katakan hal ini dulu pada yang lainnya, aku tidak ingin mereka cemas. Kau paham bukan ?"

Reya mengangguk dan berkaca-kaca, membuat Meera menyesal mengatakan hal ini pada Reya.

"Jangan memikirkan ku Re, aku baik. Dan bayiku sehat. Kami akan kembali ke Indonesia tidak lama lagi."

"Lalu bagaimana dengan status bayimu ? Disini berbeda dengan disana. Orang-orang akan mempertanyakan status anakmu."

"Ntahlah Re, aku hanya tidak lagi bisa hidup disini. Mungkin aku akan meminta Arkana menikahiku lalu kami bercerai," kata Meera lalu dia tertawa tapi Reya hanya mengusap airmatanya yang sudah jatuh.

"Jangan menangis cengeng. Tidurlah, aku juga ingin beristirahat. Ingat pesanku, jangan bocor, paham !"

"Aku paham. Dasar menyebalkan," gerutu Reya.

"Bye Re, aku mencintaimu."

"Aku juga lebih mencintaimu."

Meera menutup telpon, dan sedikit rasa lega timbul dihatinya.

Tbc 💋

Bab 2

Salju yang turun di London masih sangat lebat, Meera benar-benar harus menghidupkan perapian flat-nya setelah dia sampai di istana miliknya yang sebentar lagi akan dia tinggalkan.

Ya, Meera hari ini sudah mendapatkan surat persetujuan mutasi dari London ke cabang perusahaan yang ada di Indonesia plus dengan kenaikan jabatan yang dia raih.

Hidup Meera berjalan sesuai dengan yang dia inginkan, dan pasti sahabat-sahabatnya itu tidak menyangka jika dia sudah berhasil meraih posisi yang dia inginkan.

Menjadi lulusan sarjana MBA atau Master of Bussiness Administration dari Oxford University dan mendapat gelar camlaude adalah hal yang paling membanggakan bagi Meera, dan dia mempersembahkan itu semua untuk Mamanya yang sudah berada di surga. Dan tentunya juga untuk ke empat sahabatnya yang selalu mendukung dia.

Hanya satu perkara yang dia tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa, yaitu tentang kehamilannya saat ini. Tidak ! Meera tidak akan melakukan aborsi, dia tahu dia sudah membuat satu dosa dan dia tidak akan mengulanginya lagi. Lagi pula dia hamil itu adalah anugrah baginya, mungkin Tuhan sengaja mengirimkan malaikat untuk Meera karena Tuhan tahu Meera tidak cocok dengan hubungan yang serius. Setidaknya anaknya kelak bisa menemani masa tuanya nanti.

****

Dengan menggunakan bathrobe Meera masih kesal karena Arka meneriakinya hamil. Apa mungkin Reya memberitahukannya kepada Arka ? Meera kesal setengah mati lalu memutuskan untuk mengirim pesan pada Raya.

Apa mungkin Reya memberitahukannya kepada Arka ? Meera kesal setengah mati lalu memutuskan untuk mengirim pesan pada Raya

Kesal bukan main Meera membanting ponselnya ke sofa. Darimana Arka tahu coba ? Meera mengurut pelipisnya dan memutuskan segera memakai bajunya. Dia akan ke cafe tempat dimana dia bertemu dengan pria kencan butanya.

****

Sudah dua jam Meera duduk di tempat yang sama dia bertemu pria itu, namun dia belum menemukan wajah yang dia cari. Meera menyadari ini adalah hal yang tidak logika. Tapi dia berharap bisa menemukan pria yang sudah menghamilinya itu di tempat ini.

Dia akan mengatakan pada pria itu jika dia hamil, dan setelahnya terserah. Dia mau mengakui atau tidak, yang penting Meera sudah mengatakan kepada ayah dari bayinya jika dia mengandung anaknya. Jika dia mau bertanggung jawab itu lebih baik namun jika tidak, juga tidak masalah karena Meera mampu menghidupi anaknya kelak. Dia sudah melihat bagaimana Mama-nya membesarkan dia tanpa sosok suami, dan lihat Meera menjadi wanita yang mandiri saat ini.

Tanpa terasa dia sudah lima jam berada di cafe itu, lalu memutuskan untuk kembali ke flat-nya.

Dengan bodohnya aku mengikuti Valentine dan berakhir seperti ini.

Meera bergumam pada dirinya sendiri, dia lalu menaiki black cab atau yang biasa disebut taksi di Indonesia itu menuju flat-nya.

Saat dia dalam perjalanan dia melihat sepasang kekasih yang bercumbu mesra di pinggir jalan membuat Meera otomatis memegang bibirnya. Lalu dia bisa melihat sekelebat malam yang dia lewati bersama pria kencan buta itu, membuat Meera mengumpat dalam hati.

Baru dia mencapai gagang pintu, ponselnya sudah bergetar. Meera memilih membuka dulu mantel hangatnya, mencuci wajah dan tangan serta mengganti piyama tidur.

Tak lupa Meera membenarkan posisi kacamatanya agar bisa sempurna melekat di hidung mancungnya.

Meera tersenyum sendiri melihat isi chat grub mereka

Meera tersenyum sendiri melihat isi chat grub mereka.

Benar apa yang dikatakan Celine, dia tidak akan betah jika harus tinggal dengan Candy.

Sahabatnya satu itu terbilang cukup ajaib menjadi seorang wanita, dia dan Candy berbeda jauh sekali. Dari selera musik Candy yang dangdut dan Meera menyukai Rock. Candy malas mandi dan terkesan suka semrawut sementara dia adalah pembersih.

Namun Meera tetap menyayangi Candy, mengingat keempat sahabatnya itu Meera jadi ingat untuk membelikan mereka semua oleh-oleh.

Dan besok setelah mengurus semua surat-surat yang dia perlukan, Meera berencana akan membeli oleh-oleh. Setidaknya dia akan sedikit menguras uang tabungannya selama ini.

####

Ini adalah malam terakhir dia di London, Meera sudah mengemas semua barang-barang dan juga sudah membelikan beberapa oleh-oleh buat para sahabatnya di Jakarta.

Salju masih terlihat lebat saat Meera mengintip dibalik kaca jendela flat.

Memikirkan sejenak Meera kembali mencoba menyusuri jalan dengan balutan mantel tebal menuju cafe tempat dimana dia bertemu dengan malapetaka.

Meera mengusap perutnya lembut saat dia turun dari black cab.

Dia membuka pintu cafe tersebut dan mengitari sekitar, seketika dia merasa sangat bodoh.

Meera tidak jadi masuk, akun kencan online pria itu saja sudah dinonaktifkan tentu saja pria itu berniat tidak ingin datang lagi ke tempat ini.

Dia memutuskan berjalan-jalan sebentar menikmati udara London yang dingin.

Suasana Bank of London memang sangat indah. London Eye terlihat begitu gagah dihadapannya dan Meera tersenyum.

Entah kapan dia akan kembali kesini, mungkin nanti setelah anaknya lahir. Samar-samar Meera menangkap sosok pria seperti yang dia cari, Meera menajamkan penglihatannya. Dan benar pria yang menghamilinya sedang bercengkrama dengan dua orang pria dan satu wanita yang dia genggam jemarinya.

Meera berhenti mendekat, dia berbalik karena merasa hal yang akan dia lakukan adalah konyol dan akan mempermalukan dirinya sendiri.

Meera berbalik namun tiba-tiba jantungnya seolah berdetak lebih lambat dan dia merasa sesak.

Hal yang selalu Meera rasakan ketika dia memilih hal yang tidak sejalan dengan logikanya.

Meera berbalik dan tidak menemukan keberadaan pria tadi. Dia berlari kecil sambil terus melihat sekeliling.

"Shit !" umpatnya kesal.

Berlari kesana kemari namun Meera tidak menemukan Pria tadi.

"Meera," panggil suara yang terdengar familiar ditelinganya.

Meera menoleh dan mendapati Sean bos ditempat Meera bekerja.

"Hai Sir," sapa Meera mencoba sopan.

"Oh come'on call me Sean." Meera tahu hal itu, Sean sering kali memintanya memanggil nama pria itu jika sudah tidak berada dikantor. Umur mereka tidak jauh berbeda dan Meera tahu Sean memiliki ketertarikan dengannya.

"Kau akan pindah ke Indonesia namun tidak membuat pesta perpisahan dengan teman-teman kantormu hem ?" Meera hanya tersenyum mengangguk. Untuk apa Meera membuat pesta perpisahan, tadi dikantor saja mereka sudah membuatkan acara untuk Meera.

"Maaf Sean," ujar Merra singkat.

"Kau sendirian ?"

"Ya," jawab Meera lagi.

"Boleh berbicara sebentar ?" Meera mengernyitkan keningnya dan mengangguk.

Mereka berjalan kearah tempat dimana banyak pengunjung lainnya yang juga duduk di cafe-cafe kecil pinggir jalan.

"Ingin pesan sesuatu ?"

"Tidak usah Sean, aku harus segera kembali. Penerbanganku besok pagi jadi kau tahu aku harus segera tidur malam ini." Meera memaksakan senyuman dan Sean tahu itu.

"Aku tahu kau selalu menghindariku," ujar Sean membuat Meera tertegun.

"Sebelum kau pergi aku ingin mengatakannya." Tiba-tiba Sean menarik tangan Meera. "Aku mencintaimu Meera, dan aku tidak ingin menyesal tidak mengatakannya sama sekali padamu." Meera merasa mulai tidak nyaman.

"Sean sorry aku...aku harus pergi." Meera bangkit dari duduknya membuat Sean menghela napas. Dia mengejar Meera dan memegang kedua bahu wanita itu.

"Meera katakan kenapa ? Apa salahnya ? Bahkan aku tidak masalah jika kita harus berhubungan jarak jauh, aku bisa menyusulmu ke Indonesia jika kau ingin menetap disana." Meera melihat kesungguhan dimata Sean dan hatinya menghangat. Bukan pertama kali dia mendengar pria mengatakan menyukai atau bahkan mencintainya, namun baru Sean yang terlihat begitu bersungguh-sungguh.

Meera tidak menolak saat Sean memeluk tubuhnya. Dia merasakan kenyaman yang tidak pernah dia rasakan, Sean adalah pria kedua setelah Arka yang bisa memeluknya.

Dan tiba-tiba Meera merindukan pelukan hangat Arka sahabatnya itu.

"I love you Meera," ucap Sean lagi terdengar begitu merdu ditelinga Meera. Tapi hati Meera seolah tidak ingin terbuka untuk saat ini. Dia tidak pantas untuk Sean yang sudah dia tahu latar keluarganya. Ditambah dia saat ini tengah mengandung anak dari pria lain.

Meera mengurai pelukan itu dan dia mencoba tersenyum.

"Sorry Sean,"

"But Why Meera ?"

"Aku hamil Sean, dan kau tidak pantas mendapatkan wanita seperti ku." Meera pergi setelah mengatakan hal itu meninggalkan Sean yang sangat terkejut mendengar apa yang Meera katakan.

Itu tidak mungkin. Dia mengikuti berita Meera selama ini dikantornya dan terkadang dia juga membuntuti Meera saat pulang dari kantor. Tidak sekalipun dia melihat Meera bersama pria, jika pun Meera pergi nonton atau hang out itu hanya bersama beberapa teman pria dikantornya dan bersama teman wanita yang lain.

Meera tidak terdengar menjalin hubungan dengan pria. Atau apakah dia yang salah ?

Sean menelpon seorang teman yang lumayan dekat dengan Meera untuk mencari tahu.

TBC...🥰🥰

Bab 3

Meera akhirnya turun dari burung besi setelah dia menghabiskan waktu berjam-jam disana.

Dia tersenyum saat matahari menyinari wajahnya yang masih terbingkai dengan kaca mata.

Dia menunggu bagasinya baru setelah itu keluar untuk melihat Reya apakah sudah menjemputnya atau belum. Namun dia menggelengkan kepala saat melihat pasukan mereka lengkap.

Mereka semua berhambur memeluk Meera dan sangat heboh, sehingga beberapa orang disana menatap mereka heran.

"Loe makin kurus aja Meer," ucap Arkana yang meneliti penampilan Meera.

"Iya, asli tadi gue sampe gak tanda sama loe." Meera menoyor kening Celin.

"By the way, gue udah ada janji sama orang marketing apartment siang ini. Kalian anterin gue ya."

"Kok anterin sih, kita baru ketemu Meer." Celin terlihat sedikit kesal.

"Lah terus maksud loe ?" Reya pun tidak mengerti.

"Iya, kan rumah nyokap gue masih disewakan sama orang. Dan gue harus letak ini tiga koper kemana ?" Meera bukan tidak ingin melepaskan rindu bersama sahabatnya hanya saja dia memang harus meletakkan semua barang-barangnya di apartement barunya.

Ingat, Meera adalah wanita yang teratur dan rapi.

"Ckckck...udah mendingan kita anterin Meera sekalian tungguin dia dapat kunci apartement baru dia. Habis itu kita buat party." usul Arkana.

"Eh jangan...Meera gak boleh capek." Reya membuat teman-teman mereka menatapnya serius. Dan Meera sudah merapalkan doa.

"Kenapa Rey ? Biasa juga kita loncat sana-loncat sini kalau ketemu." Celin mulai aneh dengan Reya.

"Ya kan Meera lagi hamil."

"APA !?"

"HAH !!?"

"SERIUS !!"

Meera menarik napasnya lelah dan Reya langsung memukul mulutnya sendiri.

Mereka semakin mempersempit jarak dan Meera mundur.

"Stop jangan tanya saat ini. Nanti gue jelasin, sekarang anterin gue." Meera lalu berjalan mendahului semua sahabatnya yang masih terkejut mengetahui kondisinya saat ini.

Reya menyusul Meera mengatakan maaf dan Meera hanya mengangguk.

Dia tahu pasti akan mengatakan kebenarannya kepada mereka semua, hanya saja waktunya tidak tepat.

"Meer serius nih maaf ya," ucap Reya dan Meera jengah mendengar sudah lima kali Reya mengatakan hal itu.

"Loe bilang maaf sekali lagi asli gue tampol." Reya mengerucutkan bibirnya dan yang lain pun menyusul mereka.

****

Reya mengemudikan mobil dan keadaan yang biasanya selalu ramai kini srolah mereka semua mengheningkan cipta.

Diam, tenang, bahkan hembusan napas hampir tidak terdengar di telinga Meera.

Meera yang duduk disebelah kursi pengemudi menoleh kebelakang menatap tiga sahabatnya itu juga melayangkan tatapan penuh tanda tanya.

"Ck, fine I'm pragnent."

"Loe bukannya gak punya pacar ? Selama ini loe bilang sama kita loe belum percaya diri buat punya pacar." Meera mengangguk sebelum menjawab pertanyaan Celin itu.

"Loe ikut pergaulan bule-bule disana ya ? Loe kan tau itu dosa Meer." Lagi Candy pun ikut mengomentari.

"Siapa yang hamilin loe ? Dia gak mau tanggung jawab ?! Ayo kita ke London, gue bakal kasih dia pelajaran."

Meera menelan susah payah ludahnya sendiri. Dia melirik Reya sekilas dan wanita itu tahu harus sedikit membantu Meera.

"Udah deh, kita bahas nanti aja pas udah di apartement Meera. Sabar dikit kali introgasi sahabat sendiri, kesian tu Meera. Dia juga jadi sedih kalian mikir yang enggak-enggak sama dia." Reya mengomeli mereka semua.

"Bukan gitu Re, kita kan hanya___,"

"Iya gue ngerti kok. Tapi nanti ya gue jelasin." Meera langsung membalik tubuhnya kembali lurus kedepan.

***

Semua urusan Meera pun selesai, setelah dua puluh menit menandatangi surat penyewaan apartement dia langsung diberikan kunci unit miliknya tersebut.

Dan karena Meera sudah tahu ke empat sahabatnya itu menunggu cerita darinya dia pun langsung duduk di sofa.

"Kalian gak mau gue pesenin makanan dulu ?"

"Setelah denger cerita loe baru kita makan dengan tenang." Meera mengangguk masih seolah dia tenang, padahal Meera sendiri tidak tahu kedepannya bagaimana.

"Gue hamil karena udah ngikutin hal bodoh. Gue ikut kencan buta yang dari aplikasi gitu kan, terus gue ketemuan ma tuh cowok dan kita juga masih manggil dengan nama inisial. Lalu yang gue ingat ke esokan paginya gue udah gak pakai apa pun dan cowok itu udah gak ada didalam kamar hotel yang sial nya juga gue gak tau. Siapa yang bawa gue kesana."

Meera sedikit terdiam saat kembali akan melanjutkan ceritanya. Dia tahu dirinya sangat tolol.

"Setelah satu hari mencoba mengingat, gue ingat potongan-potongan malam yang gue dan dia lewati. Dan memang gue enggak di paksa atau seolah diperkosa cowok itu, gue yang memang kayanya mabuk. Makanya gue gak terlalu ingat saat bangun. Dan gue gak rau cowok itu ada dimana."

"Loe gak tanya ke hotel tempat kalian melakukan itu." Celin bertanya.

"Udah, gue udah tanya tapi mereka bilang itu privasi. Dan cuma menyebutkan nama Mr.D."

"Gue juga coba datang ke cafe tempat gue ketemuan sama dia tapi dia gak pernah datang lagi kesana. Sampai akhirnya gue lihat dia semalam, dia lagi sama teman-temannya dan juga seorang wanita di Bank Of London. Gue gak berani buat bilang tapi setelah gue mengumpulkan keberanian dia malah udah pergi."

"Gila juga sih, loe baru lewatin satu malam dan langsung jadi," kata Candy ceplos. Arkana pun menoyor kepala Candy.

"Ya kalau satu malam tapi enam ronde apa gak hamil, loe ya kadang-kadang asal aja kalau ngomong."

"SAMA LOE JUGA !" Serentak Celin dan Reya memarahi Arkana.

"Jadi Meer, sekarang rencana loe gimana ?" Reya bertanya.

"Ya gak ada, gue hanya mau kembali kesini. Gue sadar gue udah lakuin dosa sekali dan gak bakal gue lakuin yang kedua kali. Mau orang bicara apa juga ini anak gue, darah daging gue. Gue udah siap nerima konsekuensinya."

Celin,Reya dan Candy memeluk Reya terharu. Arkana yang juga ikut terharu lalu menyusul memeluk mereka semua.

"Tapi Meer, saat anak loe lahir dia juga butuh status loh di mata hukum." Celin langsung mengingatkan.

"Iya gue paham, makanya gue lagi mikir gimana caranya nanti."

"Loe nikah aja sama Arka, terus cerai." Usul Candy membuat Arka yang disebut namanya langsung terdiam.

TBc...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED