Ustadzah Cantik
"Mas, bisa pembayaran sh*pee?" tanya seorang gadis.
Aku menoleh ke arah suara dan terkesima melihat keindahan wajah seorang gadis berjilbab pink.
"Bisa," jawabku sambil mengangguk.
Sebagai pelayan sebuah minimarket, aku melayani pengunjung dengan baik dan ramah.
"Kode pembayarannya, Mbak," pintaku dengan ramah.
Ia memberikan ponsel pintarnya dan kuterima dengan baik. Saat aku melihat layar ponselnya, aku tak sengaja memindahkan layar dan terlihat olehku fotonya tanpa memakai jilbab. Aku begitu terpesona melihat foto itu dan bengong sesaat. Aku terus melihat fotonya yang begitu cantik dan ia sedang tersenyum.
"Astaghfirullah," gumamku, lalu memindahkan layar ponsel ke screenshot kode pembayaran.
"Atas nama Indah Fuji Latifah," ucapku memastikan.
"Iya," balasnya dengan suara lembut.
Aku melayani pembayaran dengan baik dan mengembalikan kembalian dengan tepat.
"Eh, Ustadzah," ucap seseorang pada gadis berjilbab itu.
"Iya, Bu," balasnya.
"Ustadzah Indah lagi apa?" tanya ibu itu.
"Lagi bayar Sh*pee, Bu," jawabnya.
Kulihat mereka sedikit mengobrol dan aku terkejut ternyata gadis cantik, manis dan berjilbab rapih itu seorang Ustadzah.
"Makasih yah, Mas," ucapnya sambil tersenyum padaku.
Aku kembali terkesima, terpesona bahkan lebih dari itu melihat keindahan senyumnya.
"Subhanallah, manis banget, pipinya ada lesungnya, giginya juga bergingsul indah," gumamku sambil melihatnya berjalan keluar Minimarket tempat kerjaku.
Tiba-tiba ia menoleh padaku, lalu melemparkan senyumnya. Aku kembali hanyut oleh keindahan wajah dan senyumnya.
"Mun, itu Ustadzah?" tanyaku pada kasir yang bernama Maemunah.
"Iya, dia Ustadzah yang ngajar di pesantren sana," jawabnya sambil tangannya menunjuk ke arah barat daya.
Aku ingat, ternyata tempat kerjaku tak jauh dari Pondok Pesantren Modern yang terkenal di daerah itu. Aku pernah mengantarkan pesanan dan masuk ke lingkungan Pesantren itu. Saat itu aku dibuat takjub, karena para Santri dan Santriwati disana berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan Arab.
"Cantik yah, Ustadzah Indah?" tanya Maemunah.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Pikiranku terus teringat akan Ustadzah Cantik itu.
"Ustadzah Indah seindah wajah dan sikapnya," bisikku dalam hati.
Saat sore sehabis bekerja dan membuat laporan, aku pulang ke rumah dengan mengendarai kuda besiku. Sepanjang perjalanan pikiranku terus teringat akan sosok gadis berjilbab rapih itu. Aku sudah berjanji dengan diriku sendiri, bahwa aku tidak ingin pacaran dan akan berusaha memperbaiki diri.
"Ustadzah Indah, Ustadzah Indah, semoga kamu jadi istriku." Tanpa sadar kalimat itu terucap dari mulutku saat aku berdoa sehabis shalat Maghrib.
Aku semakin terbayang dan terus teringat wajah, tutur kata dan senyumnya. Aku berusaha melawan perasaan itu dan terus beristighfar, tapi perasaan itu terus kurasakan. Malam itu aku terus melamun dan membayangkan wajah dan senyumnya. Aku berusaha menenangkan diri dengan terus beristighfar dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an.
"Ya Allah, aku tak ingin mencintai hambaMu dengan berlebihan dan aku ingin bertaubat dari segala kesalahan dan khilaf masa laluku," ucapku dalam hati sambil melamun.
Setelah shalat isha, aku mencoba tidur dan memasang alarm supaya aku terbangun di sepertiga malam untuk Tahajud.
*****
"Kok kamu disini?" tanya Ustadzah Indah saat aku berada di depan Masjid setelah shalat Dzuhur.
"Iya," jawabku.
"Kamu udah lihat auratku, meski lewat foto. Kamu sudah berbuat dzalim," ujarnya dengan tatapan serius.
Aku kaget mendengarnya dan malu, karena ternyata ia mengetahui, kalau aku melihat fotonya di ponsel miliknya saat ia menunjukkan kode pembayaran online.
"Maaf, maaf, saya enggak sengaja." Aku berbicara sambil menunduk malu.
Ustadzah cantik itu terus menatapku dengan tatapan tajam seolah menahan amarah. Aku berkali-kali meminta maaf, lalu ia pergi. Aku berusaha mengejar dan meminta maaf, tapi gadis bernama Indah Fuji Latifah itu terus berjalan, bahkan ia menangis.
"Kenapa kamu buka-buka fotoku yang enggak pakai jilbab? Kamu jahil dan aku enggak terima sama kelakuan kamu," tegurnya.
Aku terus meminta maaf, tapi ia tak menghiraukan malah berlari sambil menangis.
"Ah, dia marah dan enggak terima, padahal salah dia kenapa berfoto seksi di HP dan aku enggak sengaja melihatnya," gumamku.
Aku khawatir, cemas dan takut atas kelakuanku melihat-lihat fotonya yang terlihat auratnya.
*****
"Astaghfirullah," ucapku setelah aku bangun tidur.
Ternyata aku bermimpi bertemu dengan Ustadzah cantik itu dan di mimpiku, ia marah, karena aku melihat-lihat foto pribadinya saat ia menunjukkan kode pembayaran online di ponselnya. Aku terus beristighfar dan ternyata sudah waktu sepertiga malam. Aku shalat malam, lalu membaca Al-Qur'an.
Saat pagi, aku bersemangat masuk kerja dan berharap bertemu dengan Gadis cantik yang dipanggil Ustadzah itu. Namun, sampai waktu Dzuhur, aku tidak melihatnya belanja atau melakukan pembayaran online di minimarket tempat kerjaku.
"Mun, kok cewek kemarin enggak kesini lagi? Semoga aja dia kesini," ucapku pada Maemunah, kasir rekan kerjaku sekaligus bawahanku.
"Cewek yang mana?" tanyanya.
"Ustadzah Cantik itu, Mun," jawabku.
"Ustadzah Indah, maksudnya? Cie, cie, kayaknya ada sesuatu nih," godanya.
Aku hanya tertawa, lalu pamit untuk Shalat Dzuhur di Masjid terdekat. Setelah aku shalat, aku kembali berdoa semoga berjodoh dengan gadis itu, lalu keluar masjid dan memakai sepatu.
"Mas," seru seseorang saat aku berada di depan Masjid dekat tempat kerjaku setelah shalat Dzuhur.
"Subhanallah," ucapku spontan saat aku melihat seseorang yang memanggilku.
Ternyata Ustadzah Indah memangilku dan ia berjalan mendekat.
"U-ustadzah," ucapku gugup saat ia berjalan mendekat.
"Ini, Mas, yang kerja di Alfam*rt itu kan?" tanyanya setelah ia mendekat.
"I-iya," jawabku gugup dan menundukkan wajah.
"Ini, saya mau belanja online buat kebutuhan anak-anak Santri, tapi enggak tahu gimana caranya ini?" Ia menunjukkan sebuah aplikasi belanja online Alfam*rt di ponselnya.
"Maksudnya gimana, yah?" tanyaku.
"Cara bayarnya mengunakan aplikasi, gimana yah? Ajarin dong," tanyanya, lalu meminta aku mengajarinya.
Aku dengan sabar dan sopan mengajarinya.
"Ini pesanannya dianterin, kan?" tanyanya lagi.
"I-iya, dianterin ke alamat yang dikirim Si Pemesan," terangku.
"Makasih yah, tadi saya mau ke toko, tapi lihat Mas, disini," ujarnya.
Aku tersenyum dan ia membalasnya, lalu mengucapkan istighfar sambil menundukkan wajah menghindari tatapanku.
"Saya pamit dulu yah, makasih, Mas," pamitnya, lalu pergi setelah mengucapkan salam.
Aku merasa bahagia bertemu dengannya dan kurasakan perasaanku semakin semakin aneh.
"Ya Allah, semoga dia jadi istriku." Aku berdoa dalam hati.
Hari itu aku bekerja dengan semangat dan bahagia. Aku terus berharap bisa bertemu lagi dengannya. Aku pun tahu alamat rumahnya dan profesinya. Ia seorang pengajar di Pondok Pesantren Modern dan katanya lulusan Pesantren Modern yang cukup terkenal. Aku mengorek informasi dari Embak Ita, penjual warteg dan warung kopi yang katanya kenal dengan Ustadzah itu. Saat aku pulang kerja dan mampir di warung nasi Embak Ita, aku keceplosan menanyakan Ustadzah itu dan ternyata Embak Ita mengenalnya.
"Dia udah punya calon, belum, Embak?" tanyaku.
"Kayaknya belum sih, karena kan dia baru lulus tahun ini, lulus kuliah sama mesantren," jawab Embak Ita.
Aku pulang ke rumah dengan pikiran terus teringat gadis itu. Setelah shalat Maghrib, aku membuka media sosial berlambang huruf F dan mencari akun gadis yang dipanggil Ustadzah itu. Namun, aku tidak menemukan.
"Indah Fuji Latifah," ucapku dalam hati mengingat dengan jelas nama lengkapnya.
Malam itu aku benar-benar seperti orang yang mabuk asmara, padahal hanya bertemu dua kali. Tutur kata, senyuman dan tatapan matanya selalu kuingat dengan jelas. Aku tidak bisa berbuat apa dan tidak bisa menahannya, kecuali dengan berdoa kepada Allah.
"Firman!" panggil ibuku.
Aku menemuinya di dapur.
"Nanti habis isha katanya ada pengajian masyarakat di Masjid, kamu hadir yah," ujar ibuku.
Aku hanya mengangguk pelan dan ibuku ternyata tengah sibuk mempersiapkan kue buat konsumsi pengajian masyarakat. Setelah shalat Isha berjamaah di masjid, aku pun ikut pengajian masyarakat dan membantu yang lain mempersiapkan semuanya.
"Yang ngisi Tausyiahnya Ustadzah Ahmad, tapi Si Angga yang jadi MC enggak bisa datang, katanya dia ada tugas kuliah, enggak bisa pulang," ujar Pak RT.
"Man, kamu aja jadi MC, kamu kan pernah jadi MC di musyawarah pemuda Karang Taruna," perintah Pak RT Sarkawi.
Aku menolak beberapa kali, tapi Pak Sarkawi terus memaksa. Akhirnya aku pun menyanggupi dan bersiap-siap. Akhirnya aku pun berhasil menjadi MC dengan lumayan baik, meski sedikit gugup. Setelah pengajian itu selesai, aku pulang ke rumah, karena rasanya ngantuk.
*****
"Mas, nama kamu siapa sih? Boleh tolongin saya, bawain belanjaan ini?" tanya Ustadzah Indah, saat aku bekerja dan ternyata aku kembali bertemu.
"Firman namaku, Ustadzah. Iya nanti saya bawain ke Pondok disana itu kan?" jawabku.
"Makasih yah, Mas Firman," ucapnya.
"Ustadzah, kok pergi?" Aku mencegahnya saat ia hendak berjalan keluar.
"Mau ke Pondok, mau ngajar lagi," terangnya.
"Ustadzah udah punya calon belum? Saya suka sama Ustadzah." Aku keceplosan.
Ustadzah Indah hanya tersenyum, lalu pamit pergi dengan menunduk. Aku berusaha mengejar, tapi ia terus berjalan.
"Maaf, maaf tadi atas ucapan saya yang enggak sopan." Aku meminta maaf.
Ustadzah Indah terus berjalan, bahkan berlari menghindar dariku. Aku hanya bisa melihatnya semakin menjauh.
"Kenapa dia pergi?" tanyaku dalam hati.
*****
Aku terbangun dari tidur dan ternyata aku kembali mimpi bertemu dengan Ustadzah cantik itu. Entah apa maksud mimpiku, aku beristighfar dan menenangkan diri. Setelah mencuci muka dan ternyata sudah sepertiga malam, aku kembali Tahajud dan berdoa semoga berjodoh dengan gadis manis dan solehah itu.
"Kalau kita ada keinginan, kita harus banyak-banyak berdoa dan minta doa dari orangtua, terutama ibu kita, terus kita berikhtiar semampu kita." Terngiang ucapan Angga, sahabatku.
Saat pagi, aku berolahraga lari pagi dan hari itu aku masuk kerja shift dua, sehingga masuk jam 14.00. aku bisa bersantai di rumah. Saat aku tertidur waktu Dhuha, aku kembali bermimpi tentang Ustadzah itu. Kali ini mimpiku berbeda, aku bermimpi tengah menjadi imam shalat dan Ustadzah Indah menjadi Makmumnya.
"Mohon bimbingannya ya, Mas Firman," ucap Ustadzah Indah saat dalam mimpi.
Aku terbangun dan kali ini merasa bahagia dan rasanya benar-benar seperti memiliki istri, meski hanya lewat mimpi. Saat berangkat kerja, rasanya aku ingin melewati pondok pesantren tempat Ustadzah Indah mengajar. Saat Aku mengendarai kuda besiku melewati tempat itu dan tidak melihatnya.
"Heh, tadi Ustadzah Indah kesini loh, nanyain kamu," ujar Maemunah sambil tersenyum.
"Beneran, Mun?" tanyaku dengan gembira.
"Iya, katanya Si Mas yang biasa jaga sama kamu itu mana, terus aku jawab, lagi masuk siang," terang Maemunah.
Aku begitu gembira dan rasanya geer pede gila. Ingin rasanya aku menari, berjoget ria sambil jingkrak-jingkrak bahagia. Aku bekerja dengan semangat dan bahagia sore itu. Saat ada pesanan yang harus kuantar ke Ponpes itu, aku bersemangat mengajukan diri mengantarkannya dengan harapan bisa bertemu dengan Ustadzah cantik yang selalu hadir di mimpiku itu.
"Semangat amat kayaknya," sindir salah satu rekan kerjaku bernama Didin.
"Ini namanya kerja dengan hati," balasku.
"Kerja dengan hati apa ingin ketemu sama Ustadzah Cantik," sindirnya lagi.
Aku hanya tertawa dan langsung menghindupkan motor mengantarkan pesanan ke tempat yang dimaksud. Aku meminta izin ke penjaga ponpes setempat untuk mengantarkan pesanan. Saat aku masuk dengan berjalan kaki dan bermaksud ke ruang pengajar mengantarkan pesanan dalam plastik besar, aku kagum melihat kesopanan dan akhlak para santrinya. Merekapun menggunakan bahasa Arab dan Inggris untuk berkomunikasi sehari-hari di lingkungan pesantren.
"De, ruang pengajar dimana yah?" tanyaku pada salah satu santri.
Ia pun mengantarkanku.
"Subhanallah," gumamku saat melewati sebuah aula dan disana ada Ustadzah Indah tengah mengajari para Santriwati. Aku berhenti sebentar untuk melihat. Aku begitu kagum ternyata Ustadzah cantik itu tengah mengajari para Santriwati menghafal Al-Qur'an.
"Masha Allah, ternyata kamu guru Tahfiz Qur'an," bisikku dalam hati.
Tiba-tiba Ustadzah Indah melirik ke arahku yang tengah memperhatikannya. Tatapan mata kami bertemu sehingga aku sangat gerogi dan malu.
"Mau anterin pesanan Pak Kiyai," ucapku secara spontan sambil menatapnya dan menunjukkan pesanan dalam plastik besar.
Tiba-tiba gadis yang dipanggil Ustadzah itu melemparkan senyumannya. Ia pun menatapku dengan tatapan cukup lama.
"Astaghfirullah," ucapnya sambil memalingkan wajah dan menunduk.
Ia pun mengelus wajahnya dan merapihkan jilbabnya. Kulihat ia kembali tersenyum sambil menunduk.
"Mas, anterin aja kesana," ucapnya dengan lembut sambil menunjuk sebuah ruangan.
"I-iya, ma-makasih," jawabku gugup, lalu aku berjalan ke ruangan yang dimaksud.
Aku dengan reflek kembali menolah ke arahnya sambil berjalan dan ia pun melihat ke arahku, lalu tiba-tiba ia kembali menunduk setelah melemparkan senyuman indahnya. Aku berhenti sejenak memperhatikan dan kulihat ia senyum-senyum sendiri sambil menggelengkan kepalanya yang tertutup jilbab rapih.
"Ya Allah, jodohkan aku dengan dia." Tiba-tiba aku berucap dalam hati.
Setelah mengantarkan pesanan, aku kembali berjalan melewati Aula yang disitu ada Ustadzah Indah tengah mengajari Para Santriwati menghafal Al-Qur'an.
"Permisi," ucapku saat melewatinya.
Ustadzah Indah yang tengah duduk di Aula dekat jalan yang kulewati itu kembali melirik, tapi ia segera menjaga pandangan matanya.
"Makasih yah, Mas," ucapnya pelan.
"Sama-sama. Assalamualaikum, semoga kita ketemu lagi." Tanpa sadar kalimat itu terucap dari mulutku.
Ia sepertinya kaget mendengarnya, lalu melihatku dengan membulatkan matanya. Kulemparkan senyuman dan ia pun membalasnya, lalu beristighfar dan kembali menunduk. Aku pun pamit pergi dan kulihat ia tersenyum sambil menundukkan wajah.
"Semoga aja dia enggak marah sama ucapanku tadi. Masha Allah, indah banget senyumnya. Ustadzah Indah, kamu emang cantik dan indah seindah namamu," gumamku saat perjalanan pulang mengendarai motor sambil senyum-senyum sendiri.
Itulah pertemuanku yang ketiga dengan Ustadzah cantik bernama Indah Fuji Latifah.
Bersambung.
Ustadzah Cantik
Part 2
Aku semakin tenggelam oleh perasaanku sendiri setelah bertemu yang ketiga kali dengan Ustadzah bernama lengkap Indah Fuji Latifah itu. Keindahan senyum dengan pipi dihiasi lesung dan gigi gingsul yang menggemaskan. Sikap dan tutur katanya pun begitu lembut dan sopan. Sebagai seorang wanita, ia selalu menjaga pandangannya.
"Gimana ketemu enggak?" tanya Maemunah.
"Ketemu lah," jawabku
"Terus? terus?" pancingnya.
"Kepo!" timpalku.
Aku kembali bekerja sambil terus terbayang Ustadzah cantik, kecil imut menggemaskan itu. Saat pulang, aku senyum-senyum sendiri sambil mengendarai motor dan terus terbayang wajah, senyum, sikap dan tutur kata gadis bernama Indah Fuji Latifah itu. Aku serahkan semuanya pada Allah dan tidak mau berlebihan mencintai seseorang, meski gejolak hati begitu besar. Shalat malam pun kembali kulakukan. Aku berdoa supaya diampuni dari segala dosa-dosaku di masa lalu. Aku menangis dan jijik sendiri setiap mengingat perbuatanku di masa lalu.
"Firman, nih ibu bikinin susu anget buat kamu," ucap ibuku setelah aku selesai Tahajud.
Ibuku menyerahkan segelas susu coklat hangat kesukaanku.
"Makasih, Bu, ibu enggak tidur?" tanyaku.
"Baru bangun, tadinya mau ikut Tahajud bareng, tapi ternyata kamu udah selesai," jawabnya.
Ibuku mengambil wudhu di kamar mandi.
"Apa ini saatnya aku minta maaf dan minta ampun pada ibuku, lalu aku minta doanya. Malu banget kalau harus minta maaf dan minta doanya," gumamku.
"Bu," ucapku saat ibuku keluar sehabis berwudhu.
"Iya, Man," balasnya.
Aku mau bicara, tapi gugup dan malu. Aku tidak jadi meminta maaf dan doanya, karena aku berbicara mengalihkan pembicaraan.
"Ustadzah Indah, Ustadzah Indah, aku tiga kali ketemu dia dan tiga kali mimpiin dia," bisikku dalam hati sambil merebahkan diri di kasur.
Saat pagi, aku berangkat bekerja dan berharap bertemu dengan Ustadzah cantik dan menggemaskan itu. Saat aku bekerja mengecek barang yang datang dan melayani pembeli, tiba-tiba ada yang memanggilku.
"Firman! Kamu kerja disini? Kalau tahu kamu kerja disini, pasti bibi sering mampir," ujar bibiku yang siang itu belanja di Minimarket tempat kerjaku.
"Eh, Bibi cantik. Iya kerja disini, Bibi mau kemana nih?" jawabku, lalu balik bertanya sambil mencium tangannya dengan sopan.
"Mau nengokin Si Anin, kan dia sekarang mesantren di sana," jawabnya.
"Beneran Bi?" tanyaku memastikan.
"Iya, makanya Bibi kesini mau belanja buat keperluannya," terangnya.
"Alhamdulillah, semoga Anin jadi anak yang solehah," balasku.
"Aamiin." Bibiku yang single parent itu tersenyum.
"Wah, berarti sepupuku muridnya Ustadzah Indah dong, hehehehe," gumamku.
Aku membantunya belanja sambil ngobrol santai. Bibiku yang bernama Ningsing adik kandung ayahku itu sangat baik terhadapku dan ia sering mengasuhku saat aku masih kecil. Meskipun profesinya tidak kusukai, tapi aku selalu menghormatinya dan Bi Ningsing itu sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri.
"Bibi ingin anak bibi jadi solehah dan berbakti sama orangtua. Cukup bibi aja yang rusak, jangan sampai anak bibi ikutan rusak," ujarnya.
"Aamiin. Bibi baik kok orangnya. Pokoknya Firman beruntung banget punya bini yang cantik dan baik kayak Bibi Ningsih ini," balasku sambil memujinya.
"Bisa aja kamu ini. Udah capek bibi juga kayak gini terus, tapi mau gimana lagi," ucapnya sambil menarik napas.
Aku berusaha menguatkannya dan kuperlakukan ia dengan baik. Aku membantunya membawa belanjaan, kubelikan minuman dingin dan roti untuk anaknya sekaligus sepupuku.
"Makasih yah Firman, bibi mau jenguk Si Anin dulu," pamitnya setelah ia selesai belanja.
"Semoga Bi Ningsing bisa berhenti dari profesinya yang sekarang dan semoga dia bisa bertobat," gumamku saat melihat bibiku yang lumayan cantik itu berjalan pergi.
"Man, kamu enggak malu setelah tahu profesi bibi kayak gini? Jangan bilang sama bapak kamu yah? Maafin bibi." Terngiang ucapannya saat aku mengetahui profesi bibiku.
"Parah loe! Diem-diem ternyata loe main tante-tante. Mantap juga tante-tante yang loe bawa. Kemarin dia kesini nyariin loe, hajar cuy, mantap tuh pasti ganas. Doyan juga loe ternyata. Cakep banget yah mirip Melody Eks member JKT48." Aku teringat ucapan rekan kerjaku di tempat kerja yang dulu saat ia melihatku jalan berdua dengan Bi Ningsing dan rekan kerjaku itu beranggapan kalau aku sedang main tante-tante girang.
Kulanjutkan pekerjaan mengecek barang dan melayani pembeli. Aku berharap bisa bertemu dengan Ustadzah Indah, tapi sampai sore pulang kerja, aku tidak melihatnya datang ke Minimarket tempat kerjaku.
"Semoga ketemu lagi, gimana caranya yah supaya ketemu? Ampun Ferguso, kayaknya aku sudah jatuh cinta sama dia," bisikku.
Adzan Ashar berkumandang, aku yang hendak pulang segera berjalan ke Masjid terdekat untuk melaksanakan kewajiban. Saat aku sampai di depan Masjid, aku teringat saat bertemu dengan Ustadzah Indah di depan Masjid itu pada pertemuan yang kedua. Senyuman dan bayangan wajahnya terus terbayang olehku. Suaranya yang lembut masih terngiang di telinga.
"Astaghfirullah, ya Allah, ampuni aku. Aku ingin bertaubat dan enggak ingin mencintai HambaMu dengan berlebihan. Kuserahkan semua padaMu ya Allah. Ampuni segala dosa-dosaku." Aku menguatkan hati supaya tidak semakin parah menyukai Ustadzah cantik itu.
Aku menunaikan shalat Ashar berjamaah dan saat berdoa selesai shalat, tiba-tiba air mataku menetes. Aku tanpa sadar berdoa semoga berjodoh dengan Ustadzah Indah.
"Udah, udah, orang penuh dosa dan br*ngsek kayak gue ini, mana mungkin berjodoh sama dia. Tobat gue aja belum tentu diterima sama Allah, masa udah minta dikasih jodoh kayak Ustadzah Indah. Ampuni aku ya Allah, kenapa perasaan ini semakin besar dan semakin dalam, bahkan membuatku terlena dalam mengingatMu." Aku berbicara sendiri dalam hati setelah selesai berdoa.
Tiba-tiba tetes demi tetes air mata berjatuhan tanpa bisa kucegah. Aku belum pernah sebelumnya menangis karena mencintai seseorang. Aku pun susah untuk menangis saat aku memohon ampun pada Allah. Namun, sore itu aku menangis tanpa bisa kucegah. Entah aku menangis karena teringat semua dosa-dosaku di masa lalu atau aku menangis karena mencintai seseorang. Aku terus beristighfar dan memohon ampun. Aku sudah berjanji untuk bertaubat dan rajin ibadah mendekatkan diri pada Tuhanku dan selalu berusaha berbuat baik pada sesama.
"Astaghfirullah, ampuni aku ya Allah, bila aku menangis karena seorang wanita. Demi Allah, aku ingin bertaubat dan ingin memperbaiki semua kesalahanku. Aku ingin menjadi hambaMu yang bertaqwa dan mendapat ampunan dariMu. Kenapa perasaan ini semakin dalam dan membuatku sesak? Enggak boleh berlebihan kayak gini," ucapku dalam hati sambil menangis sendiri dalam Masjid dan berusaha menguatkan diri, bahkan melawan perasaan gejolak di hati.
"Gimana tobatku mau terima, nyatanya aku kayak gini masih tergoda oleh wanita, tapi kok ini mah beda godaannya? Aku menyukainya, tapi aku enggak ingin berbuat macam-macam, malah ingin jadikannya sebagai pendamping hidup. Mungkin dia wanita pertama yang ada dalam doaku, selain ibuku sendiri. Ah, aku bingung dengan perasaanku sendiri. Astaghfirullah, ingat Firman, fokus perbaiki diri, biar selamat dunia akhirat. Baru berusaha tobat selama sebulan aja udah pengen punya pendamping hidup kayak Ustadzah Indah." Hatiku terus berbicara sendiri, bahkan seperti ada dua kubu yang berperang.
Terjadi peperangan batin dalam hatiku dan aku kembali meneteskan air mata. Pengalaman pertamaku dalam hidup meneteskan air mata karena jatuh cinta pada seorang wanita dan anehnya kami baru bertemu tiga kali. Sungguh terlalu. Aku sadar ternyata hatiku begitu rapuh dan lemah. Aku pun ternyata begitu cengeng. Berdoa dan beristighfar terus kuucapkan untuk menguatkan hati, tapi perasaanku semakin besar dan dalam. Aku benar-benar terkena Virus merah jambu.
"Belum pernah aku seperti ini, sampe keluar air mata segala," gumamku saat keluar Masjid.
Ternyata perutku keroncongan, karena aku belum makan. Kupacu motorku menuju Warteg Favoritku. Sesampainya di Warteg yang menurutku masakannya enak itu, tiba-tiba ponselku berdering.
[Lagi dimana, udah pulang apa masih di Masjid? Ustadzah Indah ada disini lagi belanja.] Kubaca pesan Wa dari Maemunah.
[Beneran, Mun?] balasku.
[Kesini cepetan.] Kubaca pesannya lagi.
Ia pun mengirim emoticon senyum. Tanpa nunggu aba-aba dan tanpa nunggu gunung meletus, aku bergegas ke tempat kerjaku dengan alasan mengambil sepatu buat dicuci.
"Mana Mun?" tanyaku setelah sampai.
Kasir yang centil dan kadang menjengkelkan itu menoleh ke arah kiri. Aku berjalan dengan pelan dan berpura-pura membereskan rak Snack dan biskuit. Jantungku berdebar saat kulihat Ustadzah Indah tengah berdiri memilih belanjaan sambil membawa keranjang yang disediakan oleh Minimarket itu. Aku tidak berani menyapa dan hanya berpura-pura membereskan pajangan biskuit.
"Ya Allah, ampuni aku yang berusaha mendekati seorang wanita," gumamku.
"Mas," serunya.
Seketika aku menoleh.
"Chit*to yang ini ada enggak yah?" tanyanya sambil menunjukkan layar ponselnya.
Aku begitu gugup dan salah tingkah. Ia kembali melemparkan senyuman mautnya, lalu menunduk.
"A-ada, na-nanti saya ambilin," jawabku benar-benar gugup.
Kuambil merek Snack yang dimaksud. Ia menerima dengan senang.
"A-ada lagi?" tanyaku masih gugup.
"Udah Mas, makasih yah," jawabnya.
Aku kembali berpura-pura membereskan Biskuit dan Snack. Muncullah ideku untuk mengajaknya mengobrol.
"Gimana waktu itu, udah bisa belanja di Alfam*rt Online?" tanyaku memulai pembicaraan.
"Alhamdulillah bisa, tapi aku lupa ganti alamatnya, jadi pesanannya dikirim ke rumah, bukan ke Pondok," jawabnya sambil sedikit tertawa.
Aku pun tertawa sambil menunduk. Kurasakan kebahagiaan saat mendengar ucapannya.
"Kemarin aku kesini lagi mau nanya sama Si Mas, tapi katanya Si Mas-nya masuk siang," sambungnya.
Ia menatapku sambil tersenyum dan kembali tatapan mata kami bertemu. Getar di hatiku kurasakan semakin jelas. Aku begitu gerogi dan serba salah, bahkan salah tingkah. Ia memalingkan wajah sambil mengelus dadanya sendiri, lalu berjalan ke arah meja kasir setelah menganggukkan kepala untuk pamit. Ingin rasanya aku mengejarnya dan kembali mengajak berbicara, tapi kuurungkan. Aku tak ingin terlalu menuruti gejolak hatiku dan berusaha kutahan.
"Eh Mas, angkatin galon Le Miner*le ke motor, maaf yah." Ia meminta supaya aku membantunya saat aku lewat di depannya yang tengah membayar belanjaan di kasir.
Aku mengangguk pelan, lalu langsung berjalan ke tumpukan galon air mineral. Ia keluar Minimarket dan menghampiriku yang tengah mengelap galon air merek terkenal itu.
"Satu aja, Mas," ujarnya dengan lembut.
"Ini buat di pesantren apa buat di rumah?" tanyaku memberanikan diri.
"Buat di rumah, Mas," jawabnya.
"Eh, Ustadzah, di pesantren situ ada adik sepupuku yang juga lagi mondok, namanya Anin," ujarku sudah sedikit mulai berani.
Ia membulatkan matanya sambil menatapku dengan tatapan heran.
"Anin?" tanyanya seperti kebingungan, lalu kembali menunduk.
"Iya, namanya Anindita Putri," terangku.
Aku menunjukkan foto adik sepupuku lewat ponsel, foto yang diunggah di media sosialnya.
"Oh, iya, Si Putri," ucapnya sambil melihat layar ponselku.
Setelah aku membantunya mengangkat galon ke motor matic miliknya, ia pamit pulang dan mengucapkan terimakasih.
"Semoga dia jodohku." Aku kembali bergumam.
Saat Ustadzah Indah menghidupkan motornya, aku berjalan masuk ke Minimarket sambil menatapnya dari dalam lewat kaca.
"Kalau dia jodohku, dia pasti kembali melihat ke arahku," ucapku dalam hati sambil memandanginya dari dalam minimarket.
Ia melirik ke arahku dan mematikan motornya. Bukan hanya itu, ia pun turun dari motor, lalu berjalan masuk ke Minimarket. Aku diam mematung sambil terus melihatnya. Jantungku berdetak kencang dan salah tingkah.
"Mas, ada yang lupa, tadi mau isi pulsa," ucapnya setelah masuk dan kembali bertemu denganku.
"I-iya," jawabku semakin gugup.
Ia mengisi pulsa di kasir. Aku ingin menyimpan nomornya, tapi aku takut dikatakan tidak sopan. Sebenarnya aku ingin terus mengobrol dan mendekati gadis manis menggemaskan yang dipanggil Ustadzah itu, tapi aku bingung dan sedikit minder. Aku bingung dengan diriku sendiri yang tidak bisa berkutik sedikitpun saat bertemu dengannya.
"Makasih ya Embak, Mas," ucapnya, lalu ia kembali keluar Minimarket.
Sikapnya begitu ramah dan lembut. Aku begitu terpesona, tapi tidak berani mendekatinya lagi. Hanya doa yang kuucapkan dalam hati.
"Cie, kayaknya ada yang lagi kasmaran nih," goda Maemunah.
"Apaan sih. Eh, Si Elsa udah pulang tah? Dia belum laporan penjualan Fokus Produk tuh." Aku mengalihkan pembicaraan.
Aku berjalan keluar dan terus teringat pada Ustadzah Indah. Itu pertemuan ke empat dengan gadis lembut bernama Indah Fuji Latifah.
Bersambung.
Ustadzah Cantik
Part 3
Setelah pertemuanku yang keempat dengan gadis yang dipanggil Ustadzah itu, aku tidak lagi bertemu dengannya selama dua hari aku bekerja. Aku benar-benar merindukan dan wajahnya terus terbayang. Aku pun duduk santai di warung depan gerbang pondok pesantren Modern yang ternyata disitu bukan hanya pesantren, tapi ada sekolah setingkat SMP dan SMA. Aku berharap bisa bertemu lagi dengan Ustadzah cantik bernama Indah Fuji Latifah itu, tapi semua sia-sia.
"Ustadzah Indah, semoga kita ketemu lagi," gumamku.
Aku pulang ke rumah setelah bekerja dan rasanya semakin rindu pada gadis anggun dan solehah itu, tapi rindu hanya tinggal rindu. Aku hanya berdoa dan menyerahkan semuanya pada Allah.
"Jika dia jodohku, dekatkanlah, tapi jika dia bukan jodohku, hapuskanlah perasaan ini," ucapku saat berdoa.
Saat malam, aku pergi ikut pengajian Ustadz muda di kampung sebelah untuk mencari ilmu dan memperbaiki diri. Seperti biasa aku membawa buku catatan untuk mencatat isi Tausyiah dari Ustadz yang menyampaikan. Aku pun sering belajar berbicara dan belajar bertausyiah bersama pemuda di kampungku bersama para pengurus Karang Taruna. Di setiap kegiatan Karang Taruna pun aku sering menyampaikan sambutan atau sekedar memberi Tausyiah. Sejak kecil aku sudah aktif di masyarakat diajak oleh kakek atau sering menemani Kakekku yang dimana ia seorang tokoh masyarakat sekaligus Ustadz di kampungku yang lumayan dihormati saat beliau masih hidup.
"Kayaknya Si Firman ini mirip sama Kakeknya, soalnya dia aktif di masyarakat kita." Terngiang ucapan salah satu tokoh masyarakat.
Sesampainya di tempat pengajian, aku membantu para pemuda yang lain mempersiapkan konsumsi dan membuatkan kopi untuk para jama'ah. Ustadz tampan bernama Ilham itu pun senang setiap aku hadir dan sering mengajakku ngobrol setelah selesai pengajian.
"Para jama'ah, ayo kita sama-sama memohon ampun pada Allah, kita bermuhasabah diri, hisab diri kita sebelum Allah menghisapnya. Kita mohon ampun dari segala dosa dan khilaf yang pernah kita lakukan. Ingat, kian hari sisa napas kita kian habis dan kita semakin dekat dengan saat perpisahan. Mohonlah ampun sebelum saat perpisahan itu datang. Yang paling dekat dengan kita itu adalah kematian, semoga kita mati dalam keadaan beriman dan semoga kita mati di jalan Allah," tutur Ustadz Ilham diujung Tausyiahnya.
Aku meneteskan air mata sambil mengingat semua dosa-dosa dan kesalahan di masa lalu. Aku memohon ampun kepada Allah dan meminta supaya dimatikan dalam keadaan beriman dan bertakwa.
"Kalau kita ada keinginan, mintalah pada Allah dan jangan sampai kita terperdaya oleh fitnah dunia ini. Semua yang kita kerjakan, yang kita perbuat akan diminta pertanggung jawaban dihadapan Allah. Ayo kita beristighfar," sambungnya.
"Man, jangan dulu pulang," cegah Ustadz Ilham setelah selesai pengajian.
"Iya," jawabku dengan sopan.
"Makasih ilmunya, makasih saya sudah banyak belajar dari kamu," ujarnya.
Aku bingung mendengar ucapannya.
"Justru saya yang banyak belajar dari Ustadz," jawabku.
"Saya salut sama kamu, karena kerja keras kamu dan pemuda yang lain desa kita banyak kegiatan positif. Kamu juga menyampaikan setiap Tausyiah saya di kegiatan Karang Taruna, tanpa saya suruh. Sekalipun saya lebih tua dari kamu, tapi saya belajar dari kamu di setiap kegiatan-kegiatan terutama kegiatan keagamaan. Alhamdulillah, sekarang pemuda-pemudi kita peduli sama desanya dan peduli sama kegiatan keagamaan. Saya terkesan mendengar sambutan kamu di kegiatan Maulid Nabi kemarin," terangnya.
Aku hanya diam dengan perasaan malu, karena aku sering mencontek Tausyiahnya yang kutulis di buku.
"Ma-maaf kalau saya sering mencontek materi Tausyiah yang Ustadz sampaikan," ucapku pelan.
"Enggak usah minta maaf, justru saya senang dan bangga ada pemuda seperti kamu. Alhamdulillah berarti ilmu yang saya sampaikan ada yang mengamalkannya. Terus lanjutkan, harus kuat hati dan telinga kalau kita berkecimpung di masyarakat. Saya bukan orang benar kok, cuma ditipin ilmu dan harus disampaikan pada jamaah dan masyarakat," ujar Ustadz tampan itu dengan bahasa merendah.
Kami asyik mengobrol membahas kegiatan-kegiatan di masyarakat baik kegiatan kampung atau kegiatan desa.
"Kamu udah punya calon belum?" tanyanya di tengah obrolan.
"Belum," jawabku datar.
"Kalau kamu sudah siap nikah, Insha Allah, saya bisa bantu carikan dan kebetulan kemarin ada Santriwati yang minta dicarikan suami, semoga aja cocok sama kamu," terangnya.
Aku diam sambil tersenyum mendengar ucapannya.
"Pikirkan dulu ucapan saya tadi, nanti kalau udah mantap, kita ngobrol lagi," sambungnya.
Aku kaget mendengar ucapan Ustadz Ilhan. Ia begitu akrab denganku, bahkan ia lah yang membimbingku untuk memperbaiki diri. Aku pulang ke rumah setelah berpamitan.
[Mong, besok libur enggak?] tanya Joni, Ketua Karang Taruna, lewat pesan Wa.
[Iya libur,] balasku.
[Anterin gue besok, ada kegiatan santunan anak yatim yang diadakan sama Karang Taruna kecamatan sebelah, saya diundang,] pesannya lewat Wa.
[Oke siap,] balasku.
Aku merebahkan diri di tempat tidur dan kembali teringat pada Ustadzah Indah. Aku terus beristighfar dan berusaha menghapus bayangannya, tapi aku semakin tenggelam oleh perasaanku.
"Alqur'an adalah obatnya, bersabar itu solusinya, Tahajud juga penolongnya, berzikir banyak manfaatnya." Aku teringat salah satunya Tausyiah seorang Ustadz.
Aku tadarus Al-Qur'an untuk mengobati hati yang tidak tenang dan gundah. Aku pun selalu berusaha Dawam Wudhu.
*****
"Aku selalu berdoa semoga kamu jadi suamiku. Kenapa yah aku bisa suka sama kamu? Masa sih harus aku duluan yang ngomong? Khitbah aku dong sebelum ada yang menghitbahku." Tiba-tiba Ustadzah Indah berbicara padaku saat kami bertemu di halaman masjid.
Aku gugup dan tidak percaya.
"Orang kayak gue ini, mana mungkin disukai Ustadzah Tahfiz Qur'an. Apa dia beneran bicara serius, loh kok dia nangis?" Aku bergumam sendiri sambil melihatnya menangis dengan menunduk.
Tiba-tiba Ustadzah Indah pergi dengan berlari sambil menangis.
*****
Aku terbangun dari mimpi, karena mendengar ibuku mengaji di sampingku. Ternyata aku ketiduran setelah aku mengaji dan merebahkan diri di kamar kosong rumahku yang dijadikan Musholla keluarga.
"Kamu ketiduran yah habis ngaji?" tanya ibuku setelah ia selesai membaca Al-Qur'an.
"Alhamdulillah akhirnya doa ibu terkabul. Ibu waktu naik haji nangis-nangis di depan Ka'bah doain kamu supaya kamu jadi anak Soleh. Bapak kamu saat itu udah putus asa lihat kelakuan kamu sampe dia bilang katanya mending kamu dipanggil sama Allah aja kalau masih suka bermaksiat dan enggak tobat," ujar ibuku dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa sadar aku hendak menangis dan membenamkan wajahku di kedua pahanya. Aku ingin minta maaf dan memohon ampun, tapi aku malu sehingga aku hanya bisa meneteskan air mata sambil bersandar di pahanya.
"Kamu kenapa?" tanyanya sambil mengelus kepalaku.
Aku hanya diam dan tiba-tiba aku menangis tanpa bisa kutahan. Terbayang olehku wajah ibuku saat menangis melihat kedurhakanku di masa lalu. Namun, ia masih menyayangiku dengan tulus. Ketulusan, kesabaran dan semua kasih sayangnya kurasakan, meski aku tidak pernah berbakti dan selalu membangkang.
"Kok nagis?" tanyanya.
"Pengen denger ibu ngaji lagi biar tenang," jawabku.
Ibuku mengaji sambil aku terus bersandar. Aku merasa ketenangan dan kelembutan dari setiap sentuhan tangan wanita pahlawanku itu. Ia pun meneteskan air mata. Aku menangis sampai tertidur.
"Astaghfirullah," ucapku saat terbangun dan ternyata aku sudah memakai selimut dan bantal.
Aku segera ke kamar mandi untuk berwudhu, karena sudah subuh.
"Kamu semalam sakit, badan kamu demam," ujar Wanita yang melahirkanku setelah aku pulang dari Masjid untuk shalat subuh berjamaah.
Aku sedikit membantu ibuku memasak di dapur sambil sedikit mengobrol.
"Man, Bidan Putri kemarin nanya ke ibu, katanya ibu punya anak lelaki yah, ibu jawab aja punya, terus dia minta dikenalin, hihihi," ujarnya sedikit tertawa.
Aku hanya tertawa tidak menanggapi.
"Ngapain sih minta kenalan segala? Ah, gue enggak mau kenalan sama wanita dan enggak mau tergoda sama wanita, karena kalau penyakitku kumat, bisa-bisa gue terjerumus lagi karena godaan kaum hawa," gerutuku.
Saat pagi, aku pun membantunya mencuci pakaian dan beres-beres rumah. Aku baru menyadari ternyata berbakti pada orangtua itu tidak rugi dan membuat hati tentram.
"Awas, biasanya ada maunya kalau dia mau bantuin ibu," sindir ayahku saat pagi.
Aku hanya diam sambil beristighfar dalam hati.
"Ibu ini masih percaya aja sama dia. Bapak masih belum percaya kalau dia benar-benar berubah," tambah ayahku.
Aku hanya diam tidak menanggapi dan memperlakukannya dengan baik.
"Seumur hidup, ibu belum pernah nangis di depan orangtua sambil minta maaf, tapi anak kita itu, nangis di depan ibu minta maaf." Wanita pahlawanku akhirnya angkat bicara membelaku.
"Air mata Buaya! Buaya dikadalin, kecoa lagi yang ngadalinnya," timpal ayahku.
"Astaghfirullah," ucapku sambil menunduk.
Ayahku pergi berangkat ke warung sembakonya.
"Jangan didengar omongan bapak kamu. Ibu mau nengok adik kamu dulu di pesantren, katanya dia sakit," ujar ibuku, lalu pergi.
Saat aku duduk di depan rumah sambil memikirkan Ustadzah Indah, tiba-tiba Joni datang ke rumahku dengan mengendarai motor gede miliknya. Ia datang dengan penampilan rapih dan kacamata hitam terpasang mirip mafia-mafia dalam film Mandarin.
"Duduk dulu, ngopi hitam kita." Basa-basiku.
"Kita berangkat aja sekarang, nanti gue traktir bubur ayam," balasnya.
Aku berganti baju dan membawa dompet. Setelah berdandan rapih, kami pun berangkat.
"Semoga aja ada cewek cakep," ujar Joni saat di perjalanan.
Sesampainya di tempat yang dimaksud, kami disambut oleh para pengurus Karang Taruna disitu. Aku membantu mereka menyiapkan bahan-bahan yang akan dibagikan sebagai santunan anak yatim.
"Ini sistemnya gimana, mau dianterin apa dikumpulin disini penerimanya?" tanyaku pada Joni.
"Nanti gue tanyain sama panitianya," jawabnya sambil berjalan ke arah kumpulan orang.
"Katanya mau dianterin ke rumahnya masing-masing. Mereka udah ngedata jumlah ayah yatim dan orang jompo disini," ujar Joni yang tiba-tiba muncul saat aku sibuk membantu yang lain.
Semuanya berkumpul dan mendengarkan arahan dari pemimpin kegiatan. Akhirnya diputuskan dibagi beberapa kelompok untuk menyebar membagikan paket makanan dan uang tunai dalam amplop. Kami pun menyebar dan aku hanya bertiga dengan Joni dan satu wanita bernama Nufus.
"Mana Fus, nama penerima sumbangan dan alamatnya?" tanya Joni.
Gadis berjilbab yang aktif di Karang Taruna itu menunjukkan catatan nama penerima beserta alamatnya yang akan kami datangi.
"Kita sarapan dulu yuk, belum makan apa-apa nih," ajakku.
Kami pun sarapan di warung bubur sebelum membagikan paket makanan dan amplop berisi uang.
"Kalau semua Karang Taruna di Indonesia aktif kayak gini yakin para pemudanya banyak yang tertarik ikut kegiatan," ujar Nufus.
"Iya juga yah, Karang Taruna itu kan wadah para pemuda buat berkarya dan belajar. Ini wadah resmi pemerintah loh, bukan kaleng-kaleng," tambah Joni.
Aku mengangguk dan terus teringat pada Ustadzah Indah.
"Kenapa Kak, diam aja?" tanya gadis bernama Hayatunnufus lulusan yang baru saja lulus dari sekolah Kebidanan itu.
"Dia mah lagi jatuh cinta. Katanya lagi jatuh cinta sama Ustadzah yang ngajar Tahfiz Qur'an di Pesantren Alhasimiyah," ceplos Joni.
"Beneran? Hebat juga kalau sampai berhasil," ujar Nufus.
"Kalau enggak berhasil, mending sama lulusan Bidan aja, Mong," cerocos Joni.
"Kalau mau orangnya, kalau enggak mau yah paling nyari lagi," balasku.
"Mau enggak, Fus?" goda sahabatku yang menjadi Ketua Karang Taruna di desaku itu.
"Insha Allah, kalau jodoh," jawab Nufus sambil tersenyum.
"Kita jalan kaki aja yah bagiinnya." Aku mengalihkan pembicaraan.
"Jujur yah, saya tuh salut sama kamu, Fus, kamu itu anak orang kaya, tapi mau gabung Karang Taruna, terus mau panas-panasan kayak gini." Aku keceplosan.
Gadis manis berjilbab itu hanya tersenyum sambil melanjutkan sarapannya.
"Kayaknya bakal ada yang baper plus berbunga-bunga nih," sindir Joni.
Aku hanya tertawa dan tidak menanggapi. Setelah sarapan, kami melanjutkan berjalan kaki menuju alamat yang dimaksud. Kebetulan alamatnya tidak terlalu jauh. Ada enam nama anak yatim yang akan kami datangi untuk menyerahkan paket makanan dan amplop. Kami pun jalan bertiga sambil membawa paket makanan. Bantuan yang kami berikan diterima dengan baik oleh keluarga Si Penerima, bahkan ibu dari anak yatim itu ada yang sampai meneteskan air mata.
"Tinggal dua lagi nih, ayo semangat," ucap Nufus.
Saat kami sampai di rumah yang dimaksud, Joni mengucapkan salam. Namun, tiba-tiba jantungku berdetak kencang mendengar seseorang yang menjawab salam. Aku semakin grogi dan salah tingkah saat melihat seseorang yang membukakan pintu. Aku tidak bermimpi dan itu benar-benar nyata, bahwa kulihat Ustadzah Indah membukakan pintu, lalu ia menatapku heran.
"Ustadzah!" ucapku kaget saat melihat seseorang membuka pintu.
"Eh, Mas, yang kerja di Alfam*rt." Ia berbicara pelan sambil menatapku dengan tatapan heran.
Kulemparkan senyuman indah. Ia pun membalasnya dengan senyuman yang membuatku terus terbayang. Perasaanku semakin besar dan dalam. Aku terus menatapnya tanpa berkedip. Ia terlihat indah dengan jilbab rapih berwarna biru muda.
"Subhanallah, senyuman dan lesung pipinya begitu indah ditambah gigi gingsul yang menggemaskan," gumamku.
Tiba-tiba tatapannya berubah menjadi sendu, lalu ia menundukkan wajah.
"Ustadzah, disini rumahnya?" tanyaku.
"Bu-bukan, i-ini rumah bibiku, kebetulan aku kesini silaturahmi," jawabnya sedikit gugup.
Ia kembali menatapku, lalu menunduk dan kulihat ia tersenyum sendiri sambil menunduk. Aku melihatnya dengan jelas, kalau ia senyum-senyum sendiri setelah menatapku. Joni dan Nufus berjalan menjauh seolah memberiku waktu untuk mengobrol dengan Ustadzah cantik yang memiliki lesung pipi dan gingsul indah itu.
"Ini bukan mimpi, ini nyata. Dia juga senyum-senyum sendiri setelah melihatku seperti saat pertemuan di Pondok Pesantren tempat ia ngajar. Semoga dia jodohku ya Allah," gumamku.
"Kami dari Karang Taruna kebetulan mau nyerahin santunan anak yatim buat anak bernama Alim," terangku.
"I-iya, Si Alim lagi main, nanti saya kasih tahu ibunya. Makasih yah, Mas," balasnya.
Nufus menyerahkan bungkusan dan amplop setelah menyalami. Ustadzah Indah tertangkap basah olehku sedang melihatku sambil tersenyum dan tatapan mata kami bertemu. Ia segera menunduk saat tatapan mata kami bertemu. Aku kembali melihat ia tersenyum sambil menunduk. Aku pun melihat sedang mengelus bagian atas dadanya send sambil menarik napas.
"Dari kemarin, semakin suka. Setiap bertemu, terkesima. Walaupun ingin berteman saja, sudah tak kuat aku ingin lega. Apakah kamu ada yang punya? Jikalau ada bagaimana? Kalau dipikir dada berdebar dan terasa sangat menyesakan. Terlalu suka." Tanpa sadar hatiku menyanyi lagu JKT48 yang menceritakan anak remaja sedang jatuh cinta.
Setelah menyerahkan bungkusan dan amplop, Nufus pamit pada Ustadzah Indah.
"Eh, mau kemana?" tanya Ustadzah Indah padaku dengan wajah meringis dan nada suaranya seperti nada suara gadis kecil yang manja.
Aku begitu berbunga-bunga mendengarnya. Entah itu cuma basa-basi atau ia keceplosan bertanya. Aku menoleh dan lagi-lagi tatapan mata kami bertemu.
"Enggak mampir dulu, Mas, Embak?" tawarnya padaku dan pada Nufus beserta Joni.
Wajahnya meringis dan tatapan matanya sendu menatapku, lalu ia kembali menunduk sambil memainkan jari tangannya. Saat aku hendak berbicara, ternyata ia pun hendak berbicara sehingga kami sama-sama mengucapkan suatu ucapan yang terpotong. Aku gugup dan salah tingkah. Ia pun gugup dan kulihat dengan jelas pipinya memerah. Aku tidak mengerti dengan tatapan matanya. Ia menatapku dengan tatapan aneh sebelum kembali menunduk.
"Ustadzah, semoga kita ketemu lagi." Tanpa sadar kalimat itu terucap dari mulutku.
"Aamiin, Insha Allah," ucapnya pelan bahkan nyaris tak terdengar.
Aku pamit dengan mengucapkan salam dan ia membalasnya sedikit gugup sambil menunduk. Aku berjalan pergi. Namun, saat aku menoleh ke arahnya sambil berjalan ia menatapku dengan tatapan sendu yang sulit kujelaskan. Aku sedikit geer dan pede gila, tapi segera kutepis dan berusaha menenangkan diri.
"Dari kemarin, semakin suka. Bagai menambah kecepatan. Mengapa bisa menjadi suka? Aku tak bisa ingat alasannya. Besok atau bulan depan nanti, akan mabuk cinta seperti apa? Kenapa sedih? Terlalu suka." Hatiku kembali menyanyi lagu JKT48 yang seolah mewakili isi hatiku.
"Oh, jangan-jangan itu Ustadzah yang loe maksud," sindir Joni.
Aku hanya tertawa sambil berjalan dan tidak menanggapi.
Itulah pertemuan kelima dengan Ustadzah cantik bernama Indah Fuji Latifah, seorang gadis lembut yang memiliki daya tarik senyuman indah dengan lesung pipi dan gingsul yang menggemaskan.
Bersambung.