Bab 1

Raut wajah pria itu terlihat menyeramkan saat memasuki kediamannya, tatapannya nyalang, membuat siapa pun langsung tau jika pria itu tengah menahan emosi yang sebentar lagi mungkin akan meledak.

Tujuannya hanya satu, mencari seorang wanita yang berstatus sebagai istrinya, yang telah mengkhianatinya, yang dengan berani memberi tahukan rahasia besarnya kepada keluarganya.

Wanita itu sukses menghancurkannya, juga wanita yang dia cintai, kepercayaan dan rasa sayangnya sebagai sahabat benar-benar kandas untuk wanita itu, kini yang tersisa hanyalah kebencian yang mendalam untuk seorang Allexa Aldene. Istrinya.

Dobrakan pintu yang cukup kuat itu mengagetkan seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggenggam sesuatu yang sangat berharga untuk hidupnya. Tatapannya berbinar melihat pria yang selalu ia cintai dalam diam, pria yang berhasil mengukir banyak luka dan cinta dalam hidupnya.

"Earl," panggil Alle dengan lidah kelu saat tubuhnya tiba-tiba di dorong ke dinding, lalu Earl langsung mengungkungnya dengan tatapan tajam, mencengkram kuat rahangnya tanpa perasaan.

"Kenapa kau melakukan ini, Alle?!  Kenapa kau memberitahukan semuanya pada orang tuaku?!  Lalu apa gunanya kau di sini, hah?!  Aku memintamu menjadi istriku untuk menutupi hubunganku dengan Vale?!" Earl berteriak kuat, meninju dinding hingga membuat Alle memejamkan matanya dengan perasaan takut.

"Earl," cicit Alle dengan raut berkaca-kaca, kepalanya menggeleng, berusaha mengeluarkan sepatah kata namun lidahnya terlalu kelu melihat tatapan Earl yang begitu mengerikan, tidak ada Earl yang menatapnya lembut seperti kemarin, kini yang Alle lihat adalah tatapan benci yang semakin menjadi.

"Kau mencintaiku?! Iya kan?!" Sekali lagi Earl berbisik dengan tatapan mengerikannya, pria itu tertawa sinis, sangat keras dan menatapnya nyalang. "Bagaimana kau bisa mencintaiku, brengsek?!  Karena itu kau mau menikah denganku?! Iya, Alle?! Menjijikan!!  Kau sangat licik. Rasa cintamu padaku benar-benar menggelikan. Dan tingkahmu yang menerima ini dan berperan layaknya korban, benar-benar menjijikan. Kau menikmatinya. Kau memanfaatkan rasa bersalahku yang mengikatmu dalam pernikahan ini untuk memuaskan hasratmu yang mencintaiku. Dan, sekarang, dengan serakah kau menginginkanku juga cintaku, hingga membuatmu mengatakan semuanya tentangku dan Vale!! Aku benar-benar membencimu, Allexa!! Sekarang, keluar dari sini dan jangan harap kita bisa bertemu lagi. Aku. Tidak. Lagi. Ingin. Melihatmu. Dalam. Hidupku." Earl menatapnya tajam, melepaskan kungkungannya pada Alle yang kini menatapnya penuh luka.

Bagaimana pria itu bisa menjadi begitu jahat? Rasa cinta yang selama ini dia jaga, tetap dia dekap sekali pun dia juga harus mendekap luka. Pria itu mengatakan cintanya menjijikan, menggelikan? Alle tertawa miris, wanita itu menatap Earl dengan berlinang air mata dan penuh luka.

"Aku... Aku tidak mengerti, kenapa kau bisa berkata sejauh itu. Selama ini, aku selalu menyimpan kesakitanku sendiri. Aku tidak pernah menyuarakan rasa sakitku atau rasa cintaku padamu. Selama ini aku diam akan semuanya, iya, aku mencintaimu, sejak dulu, namun aku tidak pernah memintamu untuk membalasnya. Bahkan saat kau menceritakan semua hal tentang hubungan terlarangmu dan Vale, aku menelan semua rasa sakit itu seorang diri. Lalu, kau tiba-tiba menghakimiku, menertawakan rasa cintaku, di saat aku berjuang tertatih-tatih menyembuhkan hatiku akan semua rasa sakit karena mencintaiku. Earl... " Alle menatapnya berlinang air mata, akhirnya menyerukan semua rasa sakit yang selama ini ia tahan.

"Tidak ada yang salah dengan cinta, dan aku tidak tau, bagaimana kau bisa sejahat itu dengan merendahkan perasaan cintaku yang tidak memiliki salah. Aku. . . Aku. . .. " Alle kembali menarik napasnya dalam, memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, mencengkram kuat sesuatu di tangan kirinya dengan perasaan hancur.

"Baiklah. Setelah ini, kau tidak akan pernah melihatku lagi, kita. ..tidak akan...pernah bertemu...lagi." Alle tersenyum miris, menghapus kasar air matanya, berlalu dari hadapan Earl yang kini mematung dengan segala pikirannya.

Wanita itu menatap testpack dalam genggamannya, tersenyum miris dengan hati hancur, namun setidaknya dia tidak sendiri setelah ini, setidaknya dia telah membawa sebagian dari diri Earl, yang akan memberikannya harapan baru, sepahit apapun dan seberat apapun dia mencoba berjuang untuk hidupnya.

***

Wajah pucat itu kini semakin erat menemani hari-harinya, tubuhnya yang seharusnya semakin gemuk karena kehamilannya kini justru menyusut drastis karena sakit yang di deritanya. Wanita itu menatap sayu pada pria paruh baya juga saudara kembarnya yang menatapnya penuh luka.

"Dad, aku. . . Aku. . . baik, jangan. . . jangan.. . sedih." Alle berusaha menggapai tangan Kern, tersenyum walau wajahnya terlihat pucat. Kern sekali lagi menahan tangisnya, duduk di samping ranjang dengan hati hancur dan menggenggam erat tangan Alle yang begitu dingin, kehancuran melihat bagaimana keadaan Alle kini, sesaat berpikir, mungkinkah ini karna dari semua kejahatannya dulu.

"Anak Daddy adalah anak yang kuat, kan. Saat Alle memutuskan berjuang untuk anak Alle, maka Alle juga harus berjuang untuk hidup Alle. Janji pada Daddy, tidak boleh menyerah. Oke?" Kern menggenggam tangannya erat, tidak lagi menyembunyikan air matanya, dia mengusap lembut wajah pucat Alle yang terlihat semakin tirus.

"Ya... Daddy, Alle berjanji." Alle tersenyum, berusaha menahan segala rasa sakit yang menyertainya. Hingga dobrakan pintu yang kuat itu menyentak keduanya.

Alle menatap terkejut pada seorang pria yang cukup lama tidak dilihatnya, semenjak pria itu tidak lagi ingin melihatnya.

"Earl," gumam Alle lirih, dengan berlinang air mata, lalu meringis saat rasa sakit itu kembali menghantamnya.

Sedangkan Earl, tubuhnya langsung luruh ke lantai, melihat bagaimana menyedihkan keadaan Alle yang tengah berjuang mengandung anaknya. Tubuh wanita itu sangat kurus, wajahnya sangat pucat juga tirus, matanya cekung. Dada Earl seketika berdenyut sakit dengan rasa sesak yang semakin menjadi, wanita yang mencintainya dengan tulus, yang paling mengerti dirinya, memahaminya lebih baik dari dirinya sendiri, yang tidak pernah mengeluh apapun padanya, kini terlihat begitu rapuh, bukan, wanita itu sekarat, berjuang sendirian di saat dia membutuhkan kekuatannya.

"A... Alle.. Xa.. Aku... Aku." Earl berlutut, menatap berlinang air mata pada Alle yang menatapnya nanar, wanita itu tersenyum penuh luka, dan pelan-pelan memejamkan matanya dengan rintihan sakit yang seolah menjadi vonis kematian untuk seorang Earl Sanders Addison.

"Dad... Daddy... Sa... Sakit." Alle mencengkram kuat lengan Kern dengan berlinang air mata, berusaha menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa saat dadanya begitu sesak hingga membuatnya kesulitan bernapas. Pelan-pelan mata sayu itu tertutup, mengantarkannya untuk mengakhiri rasa sakitnya sementara waktu. Sebelum sang luka kembali menyambutnya dengan rasa sakit lain.

Bab 2

"Alle, aku ... aku ... hubunganku dan adikku sudah dicurigai orang tua kami." Itu kata yang diucapkan Earl begitu tiba di kafe tempat mereka bertemu. Sedangkan Alle hanya bisa menahan napas saat Earl sekali lagi menceritakan kisah cinta terlarangnya dengan sang adik kandung.

Pria itu, satu-satunya pria yang mau menjadi sahabatnya saat semua orang menjauhinya karena dia cacat, menderita tuli dan gagap saat High School karena speech therapy yang ia lakukan sejak kecil belum membuatnya bisa berbicara dengan sempurna, membuat Alle kerap mengalami bullying dan tidak memiliki teman kecuali Axel, kembarannya, dan Earl yang akan selalu melindunginya.

Earl kembali menceritakan jika kedua orang tuanya mulai curiga hubungannya dengan Vale, Earl dan Vale tentu saja mengelak, tidak ingin habis di tangan ke dua orang tuanya dan mengungkap hubungan terlarang itu. Hingga ayahnya mengeluarkan ultimatum, meminta Earl membuktikan ucapannya, dengan meminta pria itu untuk menikah secepatnya, memberikannya waktu satu bulan untuk membawa calon istrinya. Mengancam dengan berbagai macam cara termasuk akan mengirim Vale ke Amerika dan dipastikan dia tidak akan pernah bisa menemuinya dalam waktu dekat.

Saat mendengar semua cerita itu, hati Alle merepih, sekali lagi merasakan sakit yang tidak akan pernah bisa ia suarakan, yang tidak akan pernah ia ungkapkan kepada pria yang berhasil mempermaikan hidupnya pada rasa sakit dan bahagia karena cinta.

"Bisakah kau membantuku, Xa?" Tanya Earl dengan nada lembutnya juga panggilan istimewa pria itu untuk Alle. Satu-satunya orang yang memanggilnya dengan panggilan berbeda.

"Apa yang harus ku bantu? Satu satunya yang bisa membantumu adalah dirimu sendiri, kau harus bisa menghilangkan perasaan terlarang itu. Bagaimana pun Vale adalah adikmu." Alle mendesah frustasi, kembali mengutarakan hal yang sama berkali-kali.

"Aku tidak bisa, aku ... aku sangat mencintainya dan tidak mungkin melepaskannya. Kumohon, tolong aku, menikah denganku, Xa. Ya?" Permintaan Earl benar-benar sukses mengejutkannya.

Tidak pernah ia membayangkan dilamar dengan cara menyedihkan seperti ini, tidak ada cincin, tidak ada pertunjukan romantis atau makan malam yang mewah. Hanya ada seorang pria menyedihkan yang sayangnya ia cintai, mengemis padanya untuk membantunya menyelamatkan cinta terlarangnya dengan mengajaknya menikah.

Sungguh. Kisah cintanya benar-benar menyedihkan.

Alle menatapnya nanar, berusaha mencari celah jika Earl hanya bercanda mengatakannya, namun dia tidak melihat adanya gurauan dalam tatapan mata pria itu, yang ia lihat hanya tatapan putus asa dan penuh permohonan, membuat hati Alle sekali lagi berdenyut ngilu karena orang yang sama dan masalah yang sama.

"Kenapa harus aku?" Tanya Alle dengan suara seraknya, berusaha menahan tangisnya dan tidak akan menunjukkan dirinya terluka di depan Earl.

"Karena... kau ...sahabatku, aku ... aku tidak bisa memikirkan siapa pun lagi selain dirimu." Earl menatapnya nanar, menggenggam tangan Alle dengan raut penuh permohonan.

Alle menarik tangannya dari genggaman Earl, "Kau bisa membayar siapa pun wanita untuk bekerja sama denganmu dan mengajaknya menikah, memberinya sejumlah uang dan melakukan beberapa perjanjian dengan mereka untuk berpisah beberapa tahun kemudian. Kau memiliki kuasa untuk melakukan itu, jadi kenapa harus aku, Earl?" Tanya Alle sekali lagi memastikan, Earl hanya tersenyum tipis menatapnya dengan raut yang sulit diartikan.

"Karena ..." Earl menghentikan ucapannya, tidak tau dengan jawaban apa yang akan ia berikan. Alle menatapnya dengan sendu, Earl terlihat begitu menyedihkan, perasaan cinta pria itu pada Vale, pasti sangat menyiksa namun dia tidak bisa melepaskannya.

Alle menatapnya dalam, membingkai wajah Earl dalam ingatannya begitu detail, tanpa sadar air matanya mentes, dengan rasa sakit yang kembali menghujamnya, kenapa kisah cintanya begitu menyedihkan? Kenapa Earl harus mencintai Vale? Kenapa Earl tidak bisa mencintainya yang selalu ada untuknya selama ini? Kenapa takdir tidak adil padanya?

Alle memikirkan banyak hal, tentang permintaan pria itu dan cintanya pada pria itu, pernikahan itu, mungkin bisa membuat dirinya lebih dekat dengan Earl walau hati pria itu tetap tidak bisa ia rengkuh. Namun, setidaknya, kehidupan pernikahan, mungkin bisa membuatnya menikmati setiap hal yang tidak akan pernah ia dapatkan jika hanya bersahabat dengan pria itu.

Alle lalu memejamkan matanya, menarik napasnya panjang saat akhirnya berhasil meyakinkan hatinya untuk membuat suatu keputusan, yang mungkin akan merubah hidupnya, membuat cerita antara dirinya dan Earl lebih jauh, mengukir tentang cinta, tawa, luka dan bahagia bersama pria yang masih menyimpan cinta untuk orang yang salah itu.

"Baiklah, aku mau menikah denganmu. Tapi, aku memiliki syarat, yang akan aku beri tahu padamu setelah kita menikah." Alle mengucapkan itu dalam satu tarikan napas, menatap lekat pada Earl yang kini menatapnya tanpa kata dengan tatapan yang entah bagaimana. 

***

Pesta pernikahan itu digelar begitu mewah, tentu saja keluarga Aldene dan Christopher mengundang semua rekan bisnis mereka.

Perhelatan akbar yang digelar di hotel mewah atas bersatunya dua negara yang merajai bisnis di Jerman itu terlaksana hari ini. Untuk pernikahan putra dan putri mereka. Untuk mereka yang turut berbahagia atas bersatunya dua hati dari Allexa Aldene dan Earl Sanders Chirtopher. Namun, perheletan pernikahan yang super besar dan mewah itu, yang terlihat begitu bahagia, pun dengan orang yang menyambutnya penuh suka cita, tidak mengetahui rahasia kelam di balik terjadinya pernikahan itu.

Pernikahan paling menyedihkan untuk seorang Allexa Aldene, juga pernikahan paling brengsek yang dilakukan oleh Earl Sanders, karena menyeret seorang yang tidak bersalah, seseorang yang ia sayangi sebagai sahabat dalam masalah pelik hatinya karena hubungan asmara terlarangnya dengan adiknya.

“Xa,” panggil Earl, yang memang kerap memanggil Alle dengan nama terakhirnya, berbeda dengan orang kebanyakan, satu hal pertama yang membuat Alle terpesona dengan kelembutan Earl saat memanggil namanya.

Senyum tulus Alle justru membuat Earl semakin merasa bersalah, pria itu lalu menggenggam erat tangan Alle dan menatapnya penuh permohonan maaf.  Alle hanya bisa tersenyum tipis, balas menggenggam tangan Earl walau hatinya menangis, memikirkan dia telah begitu dekat dengan pria yang dicintai dalam diamnya, namun tetap saja, hati pria itu terasa jauh dan tidak mungkin bisa untuk ia rengkuh. Entah bagaimana pernikahan mereka berjalan, dan kapan semua ini berakhir. Alle bahkan tidak bisa memikirkannya, dia tidak tau bagaimana mencuri hati Earl agar pria itu melupakan seorang Valeria.

Alle hanya akan berusaha, membuat cerita sementara mereka memiliki beberapa kebahagiaan, yang akan menjadi memori untuknya, di saat nanti, jika kemungkinan terburuknya, dia harus berpisah dengan Earl.

Tamu undangan yang terus berdatangan untuk memberikan ucapan selamat membuat Alle dan Earl tidak bisa terlibat obrolan panjang.

Hingga kedatangan seseorang yang penampilannya terlihat mencuri perhatian itu membuat Earl tersenyum miris juga sedikit bahagia, seharusnya yang bersanding di hari pernikahan ini adalah Valeria, wanita yang ia cintai, bukan sahabatnya. Sedangkan Alle langsung tersenyum miris, melihat kedatangan Valeria yang terlihat begitu anggun dan cantik, dengan long dress berpotongan dada rendah juga punggung putih yang terekspos sempurna, langkahnya terlihat angkuh, tatapan memuja Earl membuat Alle sekali lagi merasakan kesakitan yang tidak akan pernah bisa ia ungkapkan itu.

Valeria dengan senyum yang mampu memikat semua kaum adam itu kini sudah berdiri di depannya, mengulurkan tangan untuk memberikan ucapan selamat walau Alle tidak tau apakah itu penuh ketulusan atau hanya sebuah kepalsuan. Lalu, Vale mendekatkan dirinya, membisikkan sesuatu yang membuat Alle mengetahui, jika senyum itu hanya sebuah kepalsuan, dari seorang wanita yang sakit hati melihat pria yang dicintainya menikah dengan wanita lain.

“Apa seharusnya aku menyebut pernikahan ini untuk Earl-ku, tercinta Alle? Sebuah bencana dia harus menikahi gadis cacat yang tidak memiliki nilai sepertimu.” Vale berbisik lirih di telinga Alle, membuat Alle

“Lalu, haruskah aku menyebutmu manusia, yang melakukan hal yang lebih pantas dilakukan oleh binatang, Vale? Entah bagaimana wajah orang tuamu, saat mengetahui, anak yang dididiknya selama ini agar menjadi manusia, terlihat begitu menyedihkan, dan seolah tidak memiliki beda dengan, ah, aku tidak tega menyebutkannya. Wajar jika anjing mengawini saudaranya sendiri, dia tidak tau, apa itu saudara dan hubungan darah, binatang hanya tau kenikmatan. Aku harap, kau sedikit berbeda dari mereka.” Alle membalasnya telak, membuat Valeria langsung mendelik marah dan mencengkram lebih erat genggaman tangannya pada Alle. Tentu Alle langsung menghempaskannya sekuat tenaga, memberikan senyum sinis dan puasnya pada wajah merah pada Vale.

Lalu, Vale langsung beralih pada Earl, tanpa raga memeluk pria itu dan mencium bibir Earl mesra, tidak peduli dengan tamu undangan yang melihat mereka. Sedang Earl yang memahami situasi langsung melepaskannya, mengyentil kening Vale dan tertawa.

“Jangan seperti ini, Vale. Semua orang melihat kita dan bisa salah paham.” Earl berujar lembut, membuat Alle yang mendengar itu hanya bisa tersenyum sinis dan memilih mengalihkan perhatiannya pada yang lain. Hingga dia akhirnya melihat kedatangan Axel yang sejak tadi ditunggu-tunggunya. 

Alle tidak mengalihkan sedikit pun atensinya pada Axel, yang kini menghampiri Kern yang tengah berbincang dengan rekan-rekan bisnisnya ditemani oleh istri tercintanya. Ayahnya itu, tidak lagi setegap dulu, tubuhnya telah menua dimakan usia, namun senyum bahagia tidak pernah hilang dari wajahnya saat bersama Mommy-nya. Daddy dan Mommy-nya, Alle begitu beruntung memiliki mereka, mereka terlihat selalu bahagia, tidak pernah terlibat pertengkaran sedikit pun, tatapan mata mereka yang selalu menatap penuh cinta, membuat Alle selalu merasa iri, dan selalu berharap, jika dia bisa menua bersama orang yang ia cintai, seperti Daddy dan Mommy-nya, namun nyatanya, Tuhan tidak semudah itu mengabulkan keinginannya, ada gunung tinggi yang harus ia taklukan untuk menikmati kebahagiaan yang telah Tuhan siapkan di sana, saat dia berhasil melangkah setapak demi setapak akan garis takdir yang digoreskan untuknya bersama Earl.

Axel kini sudah berada di depannya, menatapnya penuh haru dan bahagia, lalu mendekap erat tubuh Alle dengan perasaan sedih juga bahagia, harus melepaskan Alle untuk kebahagiaan gadis itu, rasanya masih berat, juga tidak percaya jika akan ada orang yang bisa menjaga Alle lebih baik dari dirinya. Rasa khawatir itu tentu saja ada, dia tidak bisa mempercayai Earl sepenuhnya, walau dia tau Earl adalah pria baik dan sahabat adiknya itu.

“Kenapa kau menangis? Menangis di hari bahagiaku. Kau tidak bahagia melihat aku bahagia?” Alle melepaskan pelukannya dan memukul ringan bahu Axel, membuat pria itu tersenyum dan membelai lembut wajah Alle.

“Tentu aku sangat bahagia, adik kecilku akhirnya menikah dengan pria baik yang selama ini telah menjaganya. Hanya saja, hatiku masih berat melepaskanmu pergi dari rumah, rumah pasti akan lebih sepi, lalu Mommy dan Daddy akan semakin merajai romansa di rumah dengan segala kelakukan mereka. Membuatku kesal saja, jika sudah begini, siapa lagi yang bisa aku jadikan partner in crime merusak momen manis mereka?” Axel menatapnya dengan iba, membuat Alle langsung tertawa dan sekali lagi memukul bahu Axel.

“Kau ini, jahat sekali. Biarkan Mommy dan Daddy bahagia dengan waktu mereka, makanya, cepatlah menikah dengan Lily. Agar kau bisa menyaingi kemesraan Dady dan Mommy.”

“Menggelikan.” Axel mendengus dan mencubit pipi Alle, lalu pria itu beralih pada Earl yang tersenyum tulus menatapnya walau dalam hati penuh rasa bersalah pada Axel.

“Hai, brother. Kita saudara sekarang?” Axel langsung menepuk bahu Earl dan memeluknya. “Tapi, sekali pun kita saudara sekarang, saat tau kau melukai Alle, maka aku tidak akan segan membalasmu dua kali lipat. Aku melepaskan Alle karena dia terlihat bahagia saat mengatakan akan menikah denganmu. Tentu aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya, tapi, saat aku tau jika sumber kebahagiaannya lah yang mungkin saja akan menjadi sumber lukanya. Maka aku tidak akan pernah berpikir dua kali untuk memberikan balasan yang setimpal untuknya.” Axel berbisik lirih namun penuh intimidasi pada Earl yang mematung mendengarnya.

“Selamat untuk kalian, tunggu hadiah dariku. Okay?” Axel lalu melepaskan pelukannya, memukul bahu Earl dengan senyum bersahabatnya, berbeda dengan ucapan pria itu sebelumnya, sekali lagi Axel memeluk Alle dan memilih menyingkir dari sana.

Sedang diam-diam, Earl menatap penuh makna pada Alle, teringat dengan ucapan Axel, apakah benar jika Alle begitu bahagia saat mengabarkan pernikahan mereka? Mereka telah bersahabat lama, Earl pernah mendengar, jika persahabatan antara pria dan wanita itu tidak pernah murni, mungkinkah Alle juga diam-diam memiliki perasaan padanya? Tapi rasanya itu tidak mungkin, selama ini Alle terlihat bersikap normal, bukan wanita yang terlihat memiliki ketertarikan apalagi cinta padanya. Jadi itu semua pasti tidak mungkin kan?

“Kenapa?” Tanya Alle menatap heran pada Earl yang menatapnya sejuta makna, sedang Earl hanya menggeleng dengan senyum memikatnya, memeluk bahu Alle erat dan menggumamkan terima kasih yang begitu dalam untuk Alle.

Bab 3

Perhelatan akbar itu berakhir menjelang pukul dua belas malam, Earl langsung membawa Alle ke mansion besarnya, ingin membicarakan bagaimana mereka menjalani hari mereka dengan keadaan yang berbeda.

“Kau bisa menggunakan shower, aku akan berendam di bath up.” Ucap Earl sesaat sebelum memasuki kamar mandi, membuat Alle hanya tersenyum dan mengangguk. Menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan gaun pernikahan impian yang dirancangnya sendiri, walaupun pernikahannya jauh dari yang dia impikan.

Memiliki keterbatasan, tidak membuat Alle menjadi wanita tidak berguna yang tidak bisa memanjakan dirinya dengan uangnya sendiri, gadis itu sukses dengan semua rancangan-ranjangan dress yang selalu sold out sesaat setelah launching, dia memiliki boutique, dirinya juga telah dikontrak oleh label perusahaan fashion ternama untuk menerbitkan hasil karyanya dan bekerja sama dengan mereka. Bahkan, beberapa kali, Alle sendiri yang menjadi model untuk gaun rancangannya, wajahnya yang rupawan dan menawan tentu saja memiliki nilai di dunia model, terlepas dari tuna rungu yang dimilikinya.

Alle tersenyum miris, menghapus make up yang sejak pagi membingkai wajah cantiknya, melepas semua aksesoris di kepalanya juga gaun miliknya. Memilih menggunakan bathrobe selagi menunggu Earl keluar, walaupun Earl sudah menawarinya dan tentu pria itu tidak akan bisa melihatnya mandi di balik pintu kaca shower itu, tetap saja, dia merasa risih, melihat Earl yang bertelanjang dan hanya ada busa-busa yang menutupi tubuh atletis pria itu.

Alle kembali teringat pertemuan pertamanya dengan Earl, di saat semua teman-temannya melakukan perundungan karena cacat yang dimilikinya, untuk pertama kalinya, ada seseorang yang datang padanya, mengajaknya berkenalan dan tersenyum tulus tanpa tatapan mengejek atau meremehkan untuknya.

Earl adalah teman pertamanya, yang membuatnya merasa lebih baik dan untuk pertama kalinya dihargai sebagai manusia oleh orang asing. Perkenalannya dengan Earl berjalan baik, tahun pertama di Senior High School keduanya saling mengenal satu sama lain dan sering bermain juga belajar bersama. Alle masih menggunakan alat bantu dengarnya, namun karena Earl, untuk pertama kalinya akhirnya dia berani mengungkapkan apa yang dia rasakan. Mengatakan ingin belajar memahami gerak bibir seseorang agar bisa terlepas alat bantu dengar. Tentu saja Earl yang mendengarnya sangat senang dan mendukung Alle, setiap pulang sekolah mereka pasti akan ke kafe dan berlatih di sana. Saat weekend, Earl juga akan main ke rumahnya atau dia akan menjemput Alle untuk main ke rumahnya atau hang out.

Menginjak bangku kuliah, nyatanya dirinya masih berjodoh dengan Earl, mereka ada di kampus yang sama walaupun mengambil study yang berbeda, Earl masih begitu istimewa memperlakukannya, itu yang dirasakan Alle selama bersahabat dengan pria yang berhasil mencuri hatinya. Bohong jika Alle tidak memiliki rasa pada Earl, begitu mudah membuat dia jatuh cinta pada Earl, perlakuan pria itu yang begitu lembut dan sangat menghargainya, perhatian-perhatian kecilnya yang membuat Alle semakin jatuh cinta setiap hari, diperlakukan seperti itu di saat orang lain memandangnya sebelah mata tentu saja membuat hati Alle bekerja dengan segala perlakuan dan sikap Earl padanya.

Bertahun-tahun bersahabat dengan pria itu, dengan segala perhatian dan bentuk perlindungan yang diberikan Earl, juga Earl yang memperlakukannya dengan begitu istimewa menurutnya, membuat Alle bisa dengan mudah jatuh cinta pada pria itu.

Namun, cinta yang ia rasakan itu ia pendam sendiri, dirinya terlalu takut, terlalu merasa tidak pantas bersanding bersama Earl, pria itu terlalu sempurna untuk dirinya yang jauh dari kata sempurna. Bisa dekat dengan Earl saja Alle benar-benar beruntung, bisa menjadi tempat berkeluh kesah pria itu Alle sudah senang, setiap perlakuan dan perhatian Earl pun membuat Alle tidak bisa mengendalikan hatinya untuk tidak semakin jatuh cinta pada Earl. Namun, rasa insecure itu membuat dia selalu menahan diri, memilih memendam perasaannya dan menyembunyian rasa sakitnya saat mendengar pria itu bercerita tentang kekasihnya, Alle tidak akan pernah mengatakan tentang perasaannnya atau rasa sakitnya. Karena dia tau, jika dia mengatakan tentang hatinya, maka dia akan kehilangan Earl.

Cinta diam-diam itu nyatanya melelahkan dan menyakitkan, hingga semuanya bertambah runyam saat Earl mengatakan hal yang seolah menjadi bom mematikan untuknya. Tentang perasaan cinta pria itu pada adiknya, perasaan cinta yang tidak biasa dan tidak boleh dimiliki oleh mereka seharusnya.

Alle pikir, saat dulu pertama kali Earl menceritakannya, rasa itu pelan-pelan akan hilang, Earl hanya sedang salah jalan dan terpesona dengan adik yang seharusnya ia sayangi, bukan ia cintai layaknya seorang wanita. Tapi nyatanya, semua itu berjalan hampir lima tahun, bahkan saat mereka telah lulus dari universitas.

Setiap hari, Alle bisa melihat bagaimana kedekatan dan keiintiman mereka yang tidak seharusnya di kampus. Namun, Alle bisa apa, dirinya telah menasehati Earl untuk menghentikannya, namun pria itu justru marah padanya dan mendiamkannya. Walau beberapa hari kemudian Earl kembali datang padanya dan kembali bercerita tentang rumit hubungannya dengan Valeria. Adiknya.

Hingga Alle memilih menyerah dan membiarkan Earl dengan pilihannya, wanita itu berusaha melupakan rasa cinta yang tidak akan pernah mendapat balasannya itu, dia berusaha menyembuhkan luka yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun, tentang kisah cinta juga semua luka yang menyertai hidupnya. Alle pelan-pelan menyibukkan diri untuk menjalankan usaha boutique-nya, dirinya yang telah begitu tertarik dengan dunia fashion sejak High School dan selalu merasa bahagia saat menggoreskan pensilnya di atas kertas menjadi sebuah dress yang indah akhirnya memilih untuk memfokuskan study di bidang fashion, berharap suatu saat bisa menjadi designer terkenal.

Dia menyibukkan diri dengan segala aktivitas untuk menunjang karirnya. Berusaha menghapus luka dengan kesibukannya. Namun, sepertinya semesta tidak merestuinya, di saat dia telah bersusah payah memantapkan hati untuk berjalan maju dan melupakan masa lalu, Earl datang dan kembali menghubunginya dengan berbagai cara setelah Alle selalu berusaha menghindari pria itu.

Pria itu masih seperti dulu, menceritakan hubungan runyam dan cinta terlarangnya bersama sang adik. Menghubunginya dengan nada frustasi dan memintanya untuk bertemu, rasa yang masih ada dan baru saja berusaha untuk Alle hapus itu nyatanya membuatnya lemah saat mendengar nada putus asa Earl yang menghubunginya. Tanpa ragu dia langsung mengiyakan ajakan Earl karena hatinya juga menginginkan itu, walau dia tau, itu sama saja dia akan kembali terluka oleh orang yang sama. 

***

“Bukankah, satu permintaan untuk harga pernikahan ini terlalu sedikit, Earl? Aku akan meminta tiga permintaan padamu.” Alle menatap jauh pemandangan di depannya yang berisi deretan mobil mewah milik Earl. Keduanya tengah duduk di serambi balkon setelah membersihkan diri, lalu menikmati secangkir teh hijau yang menyegarkan.

Earl menatap Alle sendu, bertanya-tanya dalam hati, kenapa sahabatnya itu kini terasa begitu jauh, nada bicara Alle tidak selembut biasanya, wajah dinginnya membuat Earl benar-benar tidak suka.

“Alle, rasanya kau berbeda, di mana senyummu dan tatapan yang teduh itu saat berbicara denganku?” Tanya Earl menggenggam tangan Alle dengan tatapan sendunya, membuat Alle mengalihkan tatapannya dan menatap dalam pada Earl, membingkai wajah pria itu dengan sejuta rasa yang selalu ia sembunyikan untuk sahabat yang ia cintai diam-diam.

“Earl, permintaan pertamaku, mari kita tetap menjadi sahabat seperti biasanya, seperti saat kita saling berbagi cerita juga tawa, tapi kali ini, aku ingin lebih spesial, aku ingin, selain kita tetap menjadi sahabat, walaupun pernikahan kita terjadi karena sebuah alasan dan bukan karena cinta, aku ingin, aku dan dirimu, tetap menjalani peran sebagai suami dan istri, aku ingin memiliki pernikahan seperti Mommy dan Daddy, yang saling mengasihi dan melengkapi, merajut asa dalam bahtera rumah tangga. Aku tidak akan menutut banyak darimu, cukup jalani peranmu saja sebagai suamiku. Bisa?” Tanya Alle dengan satu tarikan napas, lalu menghembuskannya panjang, menatap pada Earl yang kini terdiam menatapnya dengan sejuta makna.

Permintaan pertama Alle, yang menjadi satu dari tiga permintaan yang harus ia lakukan, kenapa rasanya begitu dalam dan menyesakkan, kenapa rasanya dia telah merenggut impian Alle yang ingin memiliki kehidupan pernikahan yang bahagia. Benar, dulu Alle selalu menceritakan cita-cita sederhananya itu. Di saat teman-teman perempuannya yang lain, sibuk menceritakan tentang kekasih mereka, Alle sudah memiliki cita-cita itu, mengatakan ingin memiliki pernikahan yang bahagia seperti Mommy dan Daddy-nya. Tapi, dirinya dengan begitu brengsek, justru mengajak wanita itu menikah dengan alasan menjijikannya, menghancurkan harapan Alle juga kebahagiaan wanita itu, lalu kini saat wanita itu memintanya mewujudkan mimpi yang telah ia hancurkan, bagaimana bisa Earl menolaknya.

Earl menggenggam tangan Alle yang masih membingkai wajahnya, mengecup lembut punggung tangan itu dan membawa Alle dalam pelukannya.

“Tentu saja, kita akan tetap menjadi sahabat seperti biasanya, yang akan selalu berbagi tawa dan cerita, dan tentu saja, bukan hal yang sulit untukku memerankan peran sebagai suami, tentu aku akan sangat bahagia, saat kau menjalani peranmu sebagai seorang istri. Aku akan merasa spesial karena dilayani dan disayang olehmu. Istri dan suami akan saling menyayangi dan mengasihi kan? Aku tidak sabar mendapatkan semua perhatianmu, Allexa.” Earl mengecup lembut puncak kepala Alle dan mengeratkan pelukannya.

Membuat Alle tersenyum walau hatinya menangis lagi, namun juga bersyukur, setidaknya, satu langkah yang telah ia ambil membawa harapan, jika Earl bisa memiliki perasaan yang sama dengannya dan melupakan Valeria. Orang bilang, cinta bisa datang karena terbiasa dan rasa nyaman kan? Alle ingin membuktikan itu, dia akan membuat Earl terbiasa dan bergantung padanya, juga memberikan kenyamanan yang tidak akan Earl dapatkan dari mana pun, termasuk Valeria sekali pun.

“Aku menyayangimu, Earl.” Gumam Alle membalas tak kalah erat pelukan Earl.

“Aku juga menyayangimu, Xa.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED