Vicky selalu mengira bahwa pria itu akan mendatanginya malam-malam.
Mungkin Evander akhirnya akan bosan dengan istrinya dan masuk ke dalam kamarnya.
Pria itu akan mengunci pintu kamar dan membangunkannya dengan sebuah ciuman. Pria itu kemudian akan duduk di pinggir ranjang dan menyalakan lampu agar bisa melucuti pakaiannya.
Tangan kasar Evander akan terasa luar biasa melawan kulitnya yang gemetaran. Pria itu bahkan tidak perlu mengatakan apa-apa. Vicky hanya butuh pria itu menindih dan menjejalkan kejantanannya, lalu menyetubuhinya hingga ia menjerit dan memohon agar diampuni.
Tapi seperti biasa, semua itu hanya fantasi.
Vicky tidak benar-benar ingin memiliki hubungan dengan suami baru mommynya. Evander Jacobson adalah daddy tirinya.
Vicky hanya suka membayangkan pria itu ketika ia bermasturbasi. Ia membayangkan kepala kekakuan pria itu terbenam di antara pahanya, lidah kasar menjilatinya. Sangat cepat hingga yang bisa dilakukannya hanyalah menggeliat dan melenguh memanggil namanya. Oh, daddy.
Ia ingin kata-kata yang keluar dari bibir Evander hanyalah perintah. Ia butuh kuku pria itu menggali ke pahanya ketika pria itu membenamkan dirinya hingga ke pangkal, memenuhi dan merobek celahnya yang belum tersentuh pria manapun.
Vicky membayangkan suara bola pria itu menampar selangkangannya. Denyutan batang yang ada di dalamnya akan terasa seirama dengan remasan celahnya, membentuk nada yang sempurna.
Ia mungkin akan melenguh dan membuat semuanya terasa sangat seksi. Tapi ia juga tidak ingin membuat semuanya mudah bagi pria itu. Ia mungkin akan melawan dan membantah. Hanya untuk melihat seberapa jauh pria itu bersedia mempertaruhkan harga dirinya untuk mendapatkannya.
Vicky tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya ketika lendir pelepasan pria itu berceceran memenuhi lubang sempitnya. Ia akan memastikan ia melenguh sekeras mungkin agar mommynya mendengar. Betapa ia membenci mommynya sendiri karena menikahi pria itu.
Vicky baru saja pulang dari kampus ketika menemukan pintu ruang kerja daddynya terbuka. Ia tidak bisa menahan diri. Ia tidak tahu mengapa ia melakukannya, tapi ia melakukannya. Ia masuk ke dalam.
Evander mendirikan perusahaan teknologi bersama beberapa teman kuliahnya ketika pria itu berumur 19 tahun. Perusahaan yang kemudian dijualnya dengan harga ratusan milyar ketika ia berusia 25 tahun. Sejak itu, Evander bekerja di rumah. Sebagai freelance dari satu proyek ke proyek lain, membangun semacam program komputer yang tidak terlalu dipahami oleh Vicky.
Ruang kerja Evander memperlihatkan level organisir di atas rata-rata. Pria itu memiliki binder berisi dokumen yang semuanya tersusun rapi sesuai abjad di lemari cabinet.
Vicky melihat laptop Evander terbuka di atas meja kerjanya. Mengikuti rasa penasarannya, Vicky duduk dan menekan mouse yang ada di sebelah laptop.
Layar langsung menyala, menampakkan screen saver laptop. Seorang model berbikini dengan dada padat tersenyum ke arah Vicky.
Kemudian kolom yang meminta password muncul.
Sial.
Vicky mencari-cari di sekitar meja untuk menemukan petunjuk. Secarik kertas atau note pad. Tapi ia tidak menemukan apa-apa.
Iseng, Vicky memasukkan namanya sendiri dengan sedikit tambahan yang kreatif. Siapa tahu, kan.
Victoria. Salah.
Vicky1. Salah.
FuckVicky.
Hampir saja Vicky menjerit ketika pesan "password diterima" muncul.
Vicky mulai menjelajah isi laptop daddy tirinya.
Tidak banyak yang menarik, kecuali satu, tersimpan di dalam folder tersembunyi. Folder dengan namanya, Vicky.
Vicky membuka folder sambil menahan napas dan hampir tersedak ketika melihat isinya. Puluhan, bahkan mungkin ratusan foto di dalamnya. Semua foto dirinya. Semua diambil ketika ia sedang telanjang.
Di salah satunya, Vicky bisa melihat dirinya sendiri ketika sedang bermasturbasi di kamar. Sangat jelas seakan pria itu berada di depannya ketika memotret. Vicky bisa melihat jemarinya masuk ke dalam celahnya yang sangat basah sementara matanya setengah terpejam dengan bibir membuka.
Dari mana pria itu mendapatkan semua foto ini?
Apakah ia memasang semacam kamera atau alat perekam di dalam kamarnya?
Kemungkinan besar begitu. Lagipula, ia dan mommynya lah yang pindah ke rumah pria itu setelah mereka menikah. Siapa yang tahu apa yang di pasang pria itu di kamarnya.
Vicky mendengar suara langkah kaki di lorong.
Panik, Vicky membanting laptop menutup dan mencari tempat untuk sembunyi. Ia memutuskan untuk masuk ke dalam lemari. Sambil menangkupkan tangannya sendiri ke depan bibir agar tidak bersuara, Vicky menunggu.
"Vicky?" Suara pria itu terdengar.
Langkah kaki kembali terdengar. Berjalan mengitari ruangan sebelum berhenti di depan lemari.
"Aku tahu kau ada di dalam lemari," pria itu melanjutkan. "Daddy punya mata di mana-mana."
Vicky mengumpat dalam hati. Tentu saja pria itu tahu ia ada di sana. Tidak punya pilihan, Vicky membuka pintu lemari dan menundukkan wajahnya, merasa bersalah sekaligus karena tidak ingin merasakan tatapan marah pria itu. Vicky yakin ia pasti akan dihukum setelah ini.
"Daddy hanya ke bawah sebentar tahu-tahu kau sudah ada di dalam. Kukira kau mengerti peraturan di rumah ini, Vicky. Ruang kerja Daddy adalah off limit untukmu. Apakah kau lupa?"
Vicky menggeleng.
"Tidak, Daddy. Sorry," gadis itu menjawab.
Evander menarik lengan Vicky dari dalam lemari. Cengkeraman tangan pria itu terasa erat. Tidak aneh karena Evander memiliki badan yang kekar dari menghabiskan banyak waktu di gym. Badan berotot pria itu membuktikan hasil kerja kerasnya.
Evander mungkin berumur 40 tahun, tapi pria itu terlihat jauh lebih muda dari umurnya.
Vicky tidak berani mengangkat wajahnya tapi ia bisa merasakan napas Evander yang panas di lehernya.
Sebuah getaran mengalir melewati tubuh Vicky. Di satu sisi, ia ingin pria itu menindih dan menyetubuhinya hingga lemas, tapi di sisi lain, sisi yang lebih waras, sisi yang mengerti betapa gilanya keinginannya itu, memberitahunya untuk kabur dari hadapan pria itu.
Sayangnya sisi liarnya mengambil alih tubuh Vicky. Karena saat ini, celah Vicky benar-benar basah. Ia bahkan bisa merasakan cairannya merembes keluar dari celahnya dan membasahi celana dalam yang ia kenakan.
Vicky mengenakan rok pendek dan kaos ketat saat itu. Dan seakan bisa membaca keinginan di dalam wajah Vicky, Evander meraih ke bawah dan meminggirkan kain di selangkangan Vicky ke samping.
Tahu-tahu, satu jemari pria itu sudah mengusap sepanjang belahan di antara paha Vicky yang tercukur rapi.
"Aku sudah memberikanmu sangat banyak kan, Vicky?" pria itu bertanya dengan napas berat.
"Y-ya, Daddy."
Sambil merasakan jemari pria itu mengusap, Vicky mulai gemetaran. Gadis itu ingin melenguh tapi ia tidak ingin Evander tahu betapa bergairahnya ia sekarang.
Evander melingkarkan tangannya yang lain ke pinggang Vicky dan menarik gadis itu kian mendekat.
Vicky berusaha untuk mundur ke belakang. Tapi Evander tidak mengijinkan. Pria itu menahan sementara jemarinya mulai bergerak kasar dan memaksa, bekerja kian masuk ke dalam lipatan Vicky yang licin.
Semakin susah bagi Vicky untuk bisa menahan lenguhannya sekarang.
Tapi begitu desahan itu terlepas dari bibir Vicky, Evanler menarik tangannya dan melangkah mundur.
"Aku menebak kau melihat foto-fotomu?" pria itu bertanya sambil mengamati Vicky dengan pandangan tajam.
Vicky mendongak sekarang.
"Ya. Bagaimana Daddy bisa—"
"Aku memiliki cara. Aku selalu mengawasimu, Babygirl. Ingat itu."
Pria itu meraih lengan Vicky dan memutar tubuh gadis itu membelakanginya. Menahan satu tangan Vicky di belakang punggung, . Evander meraih tangan Vicky yang lain dan meletakkannya ke posisi yang sama sebelum mendorong tubuh gadis itu ke arah tembok.
"Daddy sudah mengamatimu sejak lama, Babygirl. Aku sudah memberikan apapun yang kau inginkan. Sekolah, pakaian dan tas bermerk, perhiasan, kendaraan pribadi. Sekarang, Daddy butuh sesuatu balik darimu."
Jantung Vicky berdetak semakin keras. Apakah yang didengarnya tidak keliru? Pria itu menginginkan sesuatu darinya?
"P-please... Lepaskan aku, Daddy," Vicky membisik.
Evander menekan tubuh Vicky sedikit lebih keras ke arah tembok.
"Oh... Daddy akan melepaskanmu, Baby. Setelah Daddy selesai," pria itu berkata sambil menggesekkan selangkangannya ke pantat Vicky.
"T-tapi, Daddy. A-aku belum pernah melakukannya dengan siapapun sebelum ini," Vicky merintih. Ia bisa merasakan kekakuan di antara kaki Evander menekan pantatnya.
Evander tertawa. Pria itu melilitkan tangannya ke pinggang Vicky. Kemudian dengan kekuatan penuh, pria itu mendorongkan tonjolan keras dan kaku di dalam celananya dan menggosokkannya melawan bagian belakang putri tirinya
Vicky hampir tidak bisa bernapas. Ia yakin Evander akan menyetubuhinya dengan kasar dan tanpa ampun, ia bisa merasakan gairah pria itu meluap dari badan Evander yang panas.
Celah Vicky berdenyut penuh gairah memikirkannya. Siapa yang mengira, pria itu rupanya menginginkan dirinya juga.
Evander memutar badan Vicky kembali menatap ke depan dan tanpa membuang waktu mulai melucuti pakaian gadis. Evander merobek kaos yang di kenakan Vicky hingga dada gadis itu memburai keluar. Kemudian, dengan kekuatan yang sama, Evander memelorotkan rok dan celana dalam Vicky hingga pussy berambut halus itu terpampang jelas.
Udara di dalam ruangan dingin, tapi tubuh Vicky gemetaran oleh gairah yang panas.
Walau ia bisa merasakan celahnya berdenyut ingin segera dimasuki, tapi Vicky juga menemukan dirinya merasa malu. Vicky menaikkan kedua tangannya menutupi dadanya yang padat dan mengeratkan kedua kakinya menjadi satu.
"Jangan, Daddy," Vicky mendesah, entah menolak atau menggoda.
Dengan mudah, Evander menurunkan tangan Vicky dan menarik paha gadis itu membuka. Kemudian tanpa aba-aba, Evander memasukkan satu jarinya ke dalam celah putri tirinya.
to be continue...
to be continue...
"Ah! Sakit, Daddy," Vicky menjerit kaget. Ia bisa merasakan jari pria itu mengaduk di dalam tubuhnya sebelum mendesak lebih masuk.
Vicky meraih ke bawah dan mencengkeram pergelangan tangan Evander, berusaha menjauhan tangan pria itu dari bagian intinya.
Tapi satu jari Evander kini menjadi dua lalu tiga. Pria itu mulai menghujamkan tangannya ke dalam sekuat tenaga hingga Vicky merasa jemari pria itu hendak merobeknya menjadi dua.
Gadis itu mulai terengah-engah dan anehnya, merasa semakin basah oleh kekasaran yang di tunjukkan Evander.
"Kau adalah milikku, Slut," pria itu menggeram.
Ingin Vicky menjerit, ia bukan pelacur, mengapa pria itu mengatakan ia pelacur?
Tapi sekali lagi, Evander sepertinya lebih memahami Vicky daripada gadis itu sendiri. Karena kini bukannya meronta, Vicky justru menabrakkan tubuhnya sendiri melawan jemari Evander. Semakin keras, semakin cepat.
Napas Vicky semakin dangkal. Ia terus menggesek hingga semakin banyak lendir membasahi jemari Evander. Apa yang dilakukan pria itu membuat Vicky menjadi sangat basah.
"Ooohhhh, Dadddyyy....."
Vicky tidak lagi bisa manahan lenguhannya. Suaranya terasa sangat seksi, gadis itu bahkan menjadi semakin bergairah mendengar suaranya sendiri.
"Good girl," Evander memuji sementara Vicky terus memantulkan tubuhnya melawan tangan pria itu,
Evander menarik tiga jemarinya keluar sebelum menabrakkannya kembali ke dalam gadis itu hingga Vicky melenguh dengan tubuh gemetaran.
Semuanya terasa luar biasa bagi Vicky. Ia bisa merasakan dirinya hendak klimaks.
"Ohhh... tidak...tidak...tidakk!" Vicky menjerit sambil melepaskan dirinya ke tangan Evander. Cairan menyembur keluar dari celah Vicky yang berdenyut, menyemprot ke segala arah.
Vicky hampir tidak percaya bagaimana ia membiarkan dirinya sendiri klimaks di depan pria itu. Ia seharusnya menahan dirinya. Bukannya membiarkan pria itu tahu betapa ia menyukai apa yang terjadi.
Terlambat sekarang. Vicky sudah menyerahkan kekuatannya kepada pria itu dengan suka rela.
Evander menarik tangannya dari keluar dari celah Vicky dan menjejalkannya masuk ke dalam mulut gadis itu.
"Jilat," pria itu memerintah.
Vicky menurut, menjilati dan menghisap cairan yang melumuri tangan Evander sementara pria itu mendorongkan tangannya semakin dalam ke mulut Vicky.
Untung saja cairannya terasa manis, pikir Vicky. Kini ia penasaran bagaimana rasa pelepasan Evander di dalam mulutnya.
Evander akhirnya menarik tangannya keluar dan melepaskan Vicky, memberi kesempatan gadis itu untuk mengumpulkan nyawanya yang tercecer.
Napas Vicky berat dan terengah. Dada gadis itu bergerak naik dan turun.
Pandangan mata Evander kini tertuju pada ujung dada Vicky yang membengkak. Evander meraih salah satunya dan mencubit keras. Begitu Vicky menjerit, pria itu memajukan wajahnya untuk menyesap yang lain.
Vicky melenguh ketika merasakan sentilan lidah Evander. Tapi pria itu kemudian mengigit dan membuat Vicky mendengking kesakitan.
Pria itu mengulangi beberapa kali, bergantian antara satu ke yang lain. Tak lama, Vicky sadar betapa ia menyukai rasa sakit berkejar kenikmatan yang dilakukan oleh lidah Evander. Pria itu tampaknya sudah sangat berpengalaman dalam hal semacam ini. Mengaburkan kenikmatan dan rasa sakit hingga Vicky tidak lagi bisa membedakan satu dengan yang lain dan menginginkan keduanya.
Evander meremas daging kenyal Vicky sambil menggeram sebelum akhirnya melangkah mundur.
"Lihat ke laptop," pria itu berkata.
Vicky dengan patuh mengikuti Evander yang berjalan menuju meja kerja.
Pria itu membuka laptop dan mengetikkan sesuatu dalamnya. Tak lama sebuah video muncul di layar dan pria itu menekan play.
Vicky membuka bibirnya kaget. Video yang ditunjukkan Evander adalah videonya ketika sedang memuaskan diri di kamar, melenguhkan nama Evander sambil memasukkan jarinya ke dalam dan mengocok berulang kali.
"Aku melihatmu melakukannya setiap malam,Vi."
Wajah Vicky memerah sekarang. Ia tahu ia seharusnya marah. Evander sudah melanggar privasinya, tapi diakui Vicky, ia justru merasa bergairah dan panas.
"Berlutut di bawah meja," Evander memerintah.
Entah mengapa, Vicky merasa kini saat yang tepat untuk membantah.
"Tidak mau."
Pria itu menarik Vicky turun dan memaksanya untuk berlutut. Ia kemudian melepaskan resleting celananya dan mendudukan tubuhnya ke atas kursi. Sambil meraih rambut Vicky, pria itu mendekatkan wajah Vicky ke selangkangannya, kemudian...
Evander menarik keluar kejantanan paling besar yang pernah dilihat atau pun dibayangkan oleh Vicky dan mendorongkannya ke depan mulut gadis itu.
Benda panjang yang tebal itu berurat dan melengkung naik ke atas. Vicky bisa membayangkan benda itu akan menghancurkannya, tapi ia tidak bisa berpaling. Biarpun menakutkan, benda itu adalah benda paling indah yang pernah dilihatnya.
Vicky kembali menggeleng dengan mata membelalak.
"Tidak mungkin benda itu akan muat ke dalam mulutku, Daddy." Suara Vicky lirih dan gemetaran.
Tapi Evander tidak menerima kata tidak. Pria itu menarik kepala Vicky ke belakang dan mendorongkannya maju sekali lagi.
Evander mengusapkan ujung kejantanannya ke bibir Vicky. Lelehan gairah yang keluar dari ujung kejantanan Evander membasahi bibir Vicky, merembes ke dalam dan terasa asin di lidah gadis itu.
Akhirnya Vicky menyerah dan melemaskan rahangnya.
Menyadari ini, Evander langsung menurunkan kepala Vicky ke atas batangnya yang keras dan mendorongkan kepala Vicky hingga ke pangkal.
Ujungnya yang panas menabrak tenggorokan Vicky, menyebabkan gadis itu tersedak dan membuat suara hendak muntah. Tapi Evander tidak melepaskan. Pria itu mendorong keras hingga Vicky menggeliat dan mulai menangis karena tidak bisa bernapas.
Melihat air mata Vicky, Evander melonggarkan cengkeramannya dan menggiring kepala Vicky naik ke atas.
Gadis itu bisa merasakan benda di mulutnya berdenyut sepanjang lidahnya. Terasa panas dan hidup.
Baru kali ini Vicky merasakan keinginan yang kuat untuk dimiliki oleh seseorang. Untuk digunakan sepuas hati.
Vicky melekatkan bibirnya ke sekeliling batang Evander dan mulai mengisap. Lidahnya menjilat dan menyesap hingga ke ujungnya sebelum kembali menelan ke bawah.
Vicky melilitkan bibirnya mengitari kepala kejantanan Evander dan menyedot dengan kenikmatan yang membuat pria itu menggeram.
Evander menggerakkan pinggulnya naik ke atas sementara tangannya menekan kepala Vicky ke bawah, mendesakkan batangnya berkali-kali ke dalam tenggorokan gadis itu. Menggunakan mulut Vicky sebagai benda untuk memuaskan nafsunya.
Pria itu menggeram. Hisapan bibir Vicky terasa luar biasa nikmatnya. Ia bisa merasakan kejantanannya membesar dan mengeras, menuju klimaks. Evander menunggu hinga pelepasannya di ujung tanduk sebelum menarik kepala Vicky menjauh dan menyemprotkan cairah putih kentalnya ke seluruh wajah Vicky.
Evander mengarahkan semburan itu ke dalam mulut Vicky yang membuka. Sebagian mengenai pipi gadis itu sebelum menetes ke dadanya yang kencang.
Vicky melenguh, mengoleskan lendir Evander ke dadanya sendiri seakan cairan itu adalah salah satu body lotion paling mahal yang pernah dikenakannya.
"Oh yeah, Daddy. Lagi... Berikan lebih banyak," Vicky melenguh dengan rakusnya.
Evander dengan senang hati menuruti permintaan Vicky. Pria itu tidak berhenti menyemprotkan pelepasannya ke wajah Vicky, memandikan gadis itu dengan lebih banyak cairan lengket berbau khas miliknya.
Bahkan ketika pria itu akhirnya selesai, Vicky bisa melihat bahwa kejantanan Evander sepertinya tidak melemas. Benda itu masih sangat kaku dan keras. Bagaimana mungkin?
Evander meraih Vicky dan menarik gadis itu menghadap meja. Tanpa banyak bicara, Evander mendorong tubuh Vicky ke depan. Vicky bisa merasakan sisi wajahnya melawan kerasnya meja sementara pinggulnya terangkat ke atas untuk Evander.
Pria itu mengusapkan ujung kejantanannya sepanjang celah Vicky. Kemudian tengan tangan yang lain, Evander meraih tengkuk Vicky dan menekan leher gadis itu ke bawah.
"Apakah kau ingin merasakan Daddy di dalam celah tebalmu, Baby?" Evander membungkuk dan bertanya.
to be continue...
Vicky melenguh, "Ya, Daddy."
Evander menendang kaki Vicky agar melebar ke samping. Begitu lipatan Vicky membuka, pria itu langsung menjejalkan kejantanannya masuk ke dalam celah Vicky yang basah.
"Ooohhh!" Vicky menjerit. Celahnya meregang sangat lebar. Panasnya desakan Evander membuat air mata keluar dari mata Vicky. Tapi tidak terlalu lama karena semakin dalam Evander memasukinya, semakin nikmat pula yang dirasakan oleh Vicky. Hingga tidak ada yang tersisa selain kenikmatan dari penyatuan tubuh mereka berdua.
Evander mulai menggerakkan pinggulnya. Dorongan pria itu keras dan memaksa. Dan walaupun sempit dan belum pernah dimasuki pria, tapi celah Vicky yang sudah sangat basah membuat kejantanan Evander dengan mudahnya menggesek keluar dan masuk.
Vicky melenguh. Evander menggeram dan memompa lebih cepat.
"Kau sudah lama menginginkan Daddy, bukan?" pria itu bertanya.
Vicky mengigit bibirnya. Ia tidak ingin memberi tahu Evander. Karena hal itu tidak benar dan penuh dosa.
Sinful.
Unholy.
Tapi mulut Vicky tidak bisa berbohong.
"Ya, Daddy. Aku sudah bermimpi tentang hal ini sejak lama. Aku ingin kau menggunakan dengan kasar. Aku adalah jalang kecilmu, daddy, dan aku menginginkan kejantanan besarmu di dalamku."
Vicky menekankan pinggangnya semakin ke belakang sementara pinggul Evander menabrak keras. Pria itu menggeram penuh kenikmatan sambil memberikan tamparan keras ke pantat Vicky yang padat.
Suara telapak tangan Evander melawan kulit Vicky terdengar nyaring dan sangat memuaskan.
Aroma keringat dan gaira yang kental memenuhi penciuman Vicky.
Evander membenamkan batangnya ke dalam celah Vicky dengan sangat keras yang bisa dilakukan gadis itu hanyalah melenguh. Kenikmatan dari disetubuhi dengan kasar oleh Evander benar-benar terasa luar biasa.
Celahnya terasa layaknya sebuah sarung tangan untuk kejantanan daddynya. Tubuhnya meremas dengan erat dan berdenyut mengelilingi Evander.
Vicky mencengkeram pinggiran meja dengan erat untuk pegangan. Kekuatan dari tumbukan badan Evander yang kuat, membuat Vicky merasa ia hampir terbang.
Geraman Evander kian tidak terkontrol. Celah sempit putri tirinya itu terasa sungguh luar biasa. Ia merasa tidak puas. Ia ingin lebih. Lebih keras. Lebih dalam. Lebih kasar.
Ia ingin membuat gadis itu menjeritkan namanya berulang-ulang. Ia ingin melihat wajah Vicky ketika gadis itu klimaks.
Ditariknya kejantanannya keluar dan dibaliknya badan Vicky agar menghadap ke arahnya.
Kini dalam posisi telentang, Evander menidurkan Vicky ke atas meja sebelum mengangkat kaki anak tirinya itu ke pundaknya dan kembali menghantam dengan keras.
"Kau menyukainya, Baby?" Evander menggeram. Pria itu mengusapkan ibu jarinya ke ujung bundelan di cela Vicky yang membengkak.
Vicky tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa mengerang sambil mencari pegangan ke pinggiran meja. Gadis itu yakin bahkan tanpa menjawab, Evander bisa melihat betapa ia menyukai semua ini. Apa yang diimpikannya selama berbulan-bulan akhirnya terkabulkan.
Evander menurunkan kaki Vicky dari pundaknya dan mendorongnya tertekuk ke depan, membuka celah Vicky lebih lebar. Evander bisa melihat lipatan putrinya yang merah muda dan licin, penuh lendir gairah yang membuat kejantanannya semakin tegang.
Evander mencengkeram paha Vicky dengan penuh kekuatan, hingga gadis itu bisa merasakan kuku Evander mencakar kulitnya. Pedih dan jelas dan membuatnya merasa lebih hidup.
Semuanya terasa jelas bagi Vicky. Ini lah yang diinginkannya. Menjadi mainan dan digunakan oleh Daddynya dengan kasar. Mulai sekarang ia ingin Evander memenuhi semua celah yang dimilikinya, sesering mungkin, sedalam mungkin, selama mungkin. Fuck Mom. Wanita itu bisa mencari pria lain untuk disedot kekayaannya. Evander adalah miliknya.
Evander menenggelamkan dirinya masuk dan keluar dengan sangat cepatnya, Vicky tidak lagi bisa mengikuti apa yang dirasakannya. Pria itu terus menggesek ke dalam celah Vicky sambil menggeram pada setiap hentakannya.
Vicky bisa merasakan tepian orgasme berikutnya mulai mengintip. Hampir saja ia terjatuh, mendadak Evander berhenti dan menarik tubuhnya keluar.
"Tidak, Daddy! Jangan berhenti, please." Vicky merengek penuh frustasi. Benar-benar sebuah siksaan yang dilakukan pria itu.
Tapi Evander hanya tertawa rendah. Getaran suara pria itu membuat Vicky hampir saja klimaks tanpa sentuhan. Hampir.
Evander mendudukkan dirinya kembali ke kursi.
"Kemari, Babygirl," pria itu memerintah menjulurkan tangannya.
Vicky turun dari atas meja. Dengan kaki gemetaran, Vicky berjalan mendekati Evander yang langsung menarik pinggang Vicky dan menaikkan gadis itu ke atas pangkuannya. Vicky membuka pahanya dan kejantanan Evander yang kaku langsung menusuk kembali ke dalam celahnya yang panas.
Evander mencengkeram pinggang Vicky erat sambil mengangkat gadis itu naik ke atas sebelum kembali menabrakkan gadis itu ke bawah.
"Oh yeah... oh, Daddy...." Vicky meremas pundak Evander sambil melenguh ketika merasakan ujung kejantanan Evander menabrak rahimnya. "Enak sekali, Daddy."
Pria itu mengeratkan cengkeramannya dan menggerakkan pinggul Vicky lebih keras, membuat gadis itu kian terengah-engah.
Betapa Vicky menyukai kekuatan Evander.
Ada sesuatu yang seksi dengan cara pria itu memperlakukannya. Seakan pria itu benar-benar membutuhkannya dan bisa mati tanpanya. Setidaknya itulah yang dibayangkan Vicky saat itu. Setidaknya itulah yang dirasakan Vicky sementara dirinya menggenjot naik dan turun kejantanan tebal Daddynya.
Tangan Evander bergerak menggerayang. Jemari pria itu mencubit dan menjentik ujung dada Vicky hingga ia menggeliat dan melepaskan lenguhan tanpa jeda satu sebelum yang lain. Hingga akhirnya, tanpa bisa dicegah, gadis itu klimaks dengan kuatnya.
"Ooohhhh, Daadddyyy," Vicky menjerit sekuat tenaga. "Aku keluar lagi, Daddy!"
Vicky mendongakkan kepalanya sambil terus memanggil pria itu. Tubuh mungilnya gemetaran hebat. Cairan pelepasannya menyembur kemana-mana, membasahi tubuh Evander yang ada di bawahnya. Pria itu pasti mengerti apa yang dilakukannya karena Vicky bisa merasakan kehangatan pelepasannya muncrat keluar tanpa henti.
"Seorang squirter rupanya kau, Baby? Luar biasa," pria itu berkomentar.
Tak lama, Evander akhirnya membiarkan dirinya sendiri klimaks. Vicky melenguh ketika merasakan semburan dari kejantanan Evander di dalamnya. Cairan kental berwarna putih itu membanjiri celahnya. Satu semburan disusul semburan lain hingga lendir pria itu merembes dan meleleh keluar karena tidak lagi bisa tertampung di dalam.
Ketika Evander akhirnya berhenti, pria itu bergidik pelan dan menarik tubuh Vicky dari atas pangkuannya.
Hampir Vicky berhenti bernapas ketika melihat kekakuan Evander ketika pria itu ikut berdiri. Benda itu masih tegak berdiri. Evander sepertinya masih belum selesai!
Evander menjambak rambut Vicky dan menarik gadis itu ke lantai.
"Berlutut di atas kaki dan tanganmu," pria itu memberi perintah.
Dengan kegirangan, Vicky menurut. Tangan dan pahanya gemetaran. Celahnya lengket penuh oleh lendir. Wajahnya belepotan, tapi ia masih merasa kurang.
Evander ikut berlutut di belakang Vicky. Kemudian sekali lagi, pria itu menyelinapkan kejantanannya ke dalam celah sempit yang ada di depannya.
Kali ini Vicky bisa merasakan setiap senti benda itu di dalamnya. Kembali meregangnya hingga batas maksimal.
"Aku akan menyetubuhimu sepanjang malam hingga kau tidak bisa berdiri, Slut. Apa kau mengerti?" Evander menggeram.
"Oh yeah, Daddy," Vicky menjerit sementara pria itu menjejalkan kejantanannya lebih dalam. "Penuhi aku hingga cairanmu menetes keluar dari semua celahku, Daddy."
Vicky tidak bisa menahan rasa girangnya sekarang. Akhirnya mimpinya menjadi kenyataan.
~FuckVicky: THE END~