Bab 2

Dari kejauhan Areya melihat seorang Pria berjalan dengan pelan, membawa sesuatu ditangannya. Areya hanya bisa terdiam.

"Oh, ya Tuhan! pria itu terlihat menyeramkan sekali!" Gumam Areya ketika melihat pria dengan hoodie yang menutup separuh wajahnya itu terus berjalan pelan menghampirinya.

Ketika dia sudah semakin mendekat, Mata Areya melebar begitu melihat apa yang sedang dipegang olehnya.

Benda itu adalah pistol. Seolah ditampar angin, Areya langsung tersadar lalu berkata dengan gugup. "Ja-jangan mendekat! pergi kau dari sini!" Areya beringsut mundur perlahan lalu berkata lagi, "Aku bilang, pergi! atau aku akan berteriak sekarang."

Pria itu mengangkat bahu lalu tersenyum mengejek, "Silahkan Nona... kalau kau ingin pita suaramu rusak karena terlalu banyak berteriak."

"Sialan, benar juga. Lagipula dalam keadaan sepi seperti ini... siapa juga yang akan datang menolongku?" batin Areya bersuara.

"Ta-tapi, siapa kau? kenapa kau membawa senjata itu? apa kau suruhan Papa untuk membunuhku?" tanya Areya bertubi-tubi berusaha untuk terlihat berani.

"Papa? Apa yang kau bicarakan? aku di sini untuk membantumu dari tiga tikus itu, dan kau menuduhku seperti itu? Haish... keterlaluan sekali." Pria itu mengomel sembari menggeleng-gelengkan kepala.

"Lalu, kenapa harus membunuh mereka?" tanya Areya lagi padanya, "Sialan! pistolnya membuatku gugup." Lanjut Areya dalam hati.

"Aku malas berlari hanya untuk menolong dirimu. Jadi, aku tembak saja mereka dan masalah selesai." Tangannya dengan pelan mengelus senjata itu, kemudian menyimpan benda itu ke dalam saku jasnya.

Areya hanya ternganga saat mendengar jawaban di luar nalar dari pria yang berdiri menjulang di depannya.

"Berdiri, dan cepat ikuti aku. Aku yang akan mengantarmu pulang." Pria itu berkata lagi, kemudian menjulurkan tangannya ke arah Areya, "Jangan lupa... nama pahlawanmu ini, Pa-sha."

Areya tak menyambut uluran tangan itu dan malah bertanya, "Bagaimana bisa aku harus mengikuti seorang pembunuh sepertimu?"

Melihat tangannya tidak disambut. Pasha mengambil kembali tangannya, "Terserah, kalau kamu ingin bermalam di sini dengan mereka." Jawabnya sambil menunjuk pemuda yang tergeletak di dekat kaki Areya.

"Tu-tunggu! jangan tinggalkan aku. Baiklah aku akan ikut, tapi... aku tidak bisa berdiri." Ucap Areya yang semakin lama semakin mengecil.

"Kau perlu bantuan juga dari Pembunuh ini? walaupun kenyataannya... aku memang sering membunuh sih," Pasha tersenyum mengejek. Tidak ada jawaban dari Areya karena dia sendiripun juga bingung.

"Baiklah... anggap saja ini hutangmu padaku, kau berhutang pada pria Pembunuh ini." ucap pria itu lagi, kemudian dia berjongkok bersiap menggendong Areya.

Perasaan Areya campur aduk pada saat itu. Antara marah, sedih, takut, dan malu. Ya, Areya malu pada Pasha karena jarak mereka terlalu dekat. Dia hanya melihat wajah Pasha sekilas lalu menunduk lagi, Namun, jantungnya sudah berdebar kencang.

"Wajahnya seperti karakter Manhwa. Gila, tampan sekali!" Batin Areya menjerit.

"Kita sudah sampai di mobilku. Maaf, aku akan menurunkanmu dulu dan ini mungkin terasa sedikit sakit. Berdirilah di sini, aku akan menopang tubuhmu sembari membuka pintu mobil." Jelas pria itu sebelum menurunkan Areya dengan perlahan.

Pintu mobil pun terbuka, Pasha kembali menggendong Areya lagi dan dengan perlahan, Pria itu meletakkan gadisi itu pada kursi penumpang dan memasangkan seatbeltnya.

Areya yang sedari tadi menunduk, tiba-tiba mendongakkan kepala karena ingin mengucapkan terima kasih. Namun, itu berakhir dengan kecanggungan karena wajah mereka berhadapan dengan sangat dekat. Mata mereka pun saling bertemu beberapa saat. Areya yang tersadar, langsung menunduk lagi setelah mengucapkan terima kasih.

Pasha tidak menjawab dan menahan senyumnya. Pria itu merasa ada yang aneh pada dirinya. Tanpa ambil pusing, Pasha langsung duduk di kursi kemudi dan melajukan Jeep Gladiator kesayangannya.

Hening, hanya deru mesin mobil yang terdengar. Areya diam menunduk, dan berdoa agar bisa cepat sampai rumah.

"Hei, tetapi tunggu dulu! bagaimana dia terus melaju kalau aku belum memberitahu dimana rumahku?" batin Areya dalam hati.

"Bagaimana kau terus melaju, kalau kau belum kuberi tahu dimana rumahku?" Areya pun akhirnya bertanya apa yang sedang dia pikirkan.

Setelah diam beberapa lama Pasha menjawab, "Aku tahu, tidak perlu khawatir... mungkin sebentar lagi kita sampai."

Gadis itu langsung melihat jendela. kemudian mengamati jalan yang sedang dilewati, dan benar saja, jalan itu memang jalan menuju rumahnya. Areya menunduk lagi, memainkan buku jarinya dan membatin heran, "Bagaimana orang ini tahu di mana rumahku?"

"Hei, sudah sampai, kamu masih ingin di sini bersamaku atau mau turun?" Pasha bersuara, mengalihkan perhatian Areya dari buku jarinya.

"Oh, sudah sampai ya? baiklah aku akan turun terima--" belum selesai Areya berbicara, rasa sakit pada punggungnya kembali dan membuatnya mengaduh kesakitan. Mendengar erangan itu, Pasha bergegas turun dan membantu Areya.

"Sudah, jangan memaksakan diri. Aku antar kamu sampai ke dalam rumah." Ucap Pasha pelan membuat Areya merinding. Tangan dingin yang sedang merengkuhnya ini, tangan yang sama untuk membunuh tiga pemuda brengsek tadi.

Suasana sepi menyambut mereka. Areya mencegah Pasha yang akan membuka mulut untuk memanggil orang rumah.

"Tidak usah memanggil atau mengucapkan apapun Pasha, rumahku ini selalu sepi. Jika kau tidak keberatan, tolong antarkan aku ke atas. kamarku ada di sana." Pinta Areya dengan canggung.

Mendengar permintaan itu, membuat hati Pasha sedikit sedih. Untuk membuat cair suasana, Pasha menjawab, "Hm, Kamu mengundang pembunuh ini masuk ke dalam kamarmu, Nona? kamu sudah tidak merasa takut lagi?"

"Setelah kupikirkan, kamu tidak mungkin mencelakaiku di sini. Karena, jika kamu ingin melakukannya, kenapa tidak dari tadi saat di gang buntu itu?" Jelas Areya panjang lebar, membuat Pasha tertawa.

"Bisa saja aku ingin melakukannya di sini, di kamarmu misalnya?" Jawab Pasha dengan sedikit melirik pada Areya.

"Ya kalau begitu, aku akan menghantuimu selamanya. Hingga kamu mati sama seperti yang kamu lakukan padaku." Areya sudah lebih santai menjawab ocehan Pasha.

"Itu, di sana... kamarku berada di pojok ruangan." Ucap gadis itu lagi, tepat saat kaki Pasha sudah menginjak tangga paling atas.

"Nah, sudah selesai tanggung jawabku padamu. Apakah tidak apa-apa, jika aku tinggal? atau aku akan menunggu hingga orang tuamu pulang?" tanya Pasha merasa enggan untuk meninggalkan gadis itu sendirian.

"Tidak apa-apa, aku akan tidur setelah kamu pergi. Mungkin, punggungku akan sembuh keesokan harinya." Ucap Areya berusaha menenangkan Pasha, sekaligus menguatkan dirinya agar terlihat baik-baik saja.

"Baiklah, sampai jumpa lagi ... Areya." Tangan Pasha mengelus rambut Areya dengan lembut. Membuat gadis itu terkejut, karena Pasha tahu namanya.

"Bagaimana kamu bisa tahu namaku?" Tanya gadis itu penasan.

Pasha hanya tersenyum, tak menjawab. Kemudian, dia keluar dari kamar hingga tak terlihat lagi oleh Areya. Tak ambil pusing dengan kejadian barusan, akhirnya Areya memutuskan untuk tidur.

"Hei, Sayang! kamu tidak ingin keluar dari kamarmu itu? Ayo makan, Mama sudah memasak untukmu." Sebuah panggilan dari luar membangunkan Areya dari lamunan panjangnya.

"Ha? Apa, Ma? Maaf aku tadi tidak mendengar." Teriak Areya dari dalam kamar.

"Astaga Areya... cepat keluarlah, matikan musikmu itu!" Jawab Mama Areya dengan marah.

"Baiklah..." Jawab Areya lesu, lalu beranjak keluar kamar.

Sudah seminggu semenjak kejadian itu. Areya hanya mengurung diri di kamarnya dan selalu menghindari Mama atau Pria yang dia sebut Papa. Karena, dia terus terngiang dengan skandal menjijikan yang sudah dilakukan Pria itu.

Saat sampai di depan ruang makan. Areya terpaku, melihat seseorang yang duduk menatapnya dengan tatapan tajam.

Bab 3

Baru juga dipikirkan, Pria itu justru sudah muncul di depannya. Membuat gadis itu mendengus kesal ketika harus bertatapan dengan Papanya. Areya menarik napas kemudian menghelanya perlahan untuk meredam darahnya yang akan mendidih.

Walaupun tempo hari dengan lantang Areya mengatakan pada pria itu bahwa, dia akan mengajak mamanya pergi. Namun kenyataannya, Areya sendiri yang takut dengan reaksi Mamanya jika tahu tentang kejadian itu. Areya takut, sang Mama tidak percaya padanya. Atau yang lebih parah, Mamanya terkena serangan jantung.

Tidak! Areya tidak bisa membayangkan itu semua terjadi.

"Hai, Sayang! ayo makan. Mama masak sayur asem kesukaanmu lho... Ada ikan asin juga nih." Sapa Mama Areya memutus tantapan sengit antara kedua Ayah dan anak itu.

"Pas sekali, Ma, ASEM macam dia." Ucap Areya sambil tersenyum penuh arti pada Pria itu.

"Kamu itu bicara apa sih? sudah, ayo duduk. Mama sudah ambilkan nasi." Tanya Mama Areya dengan heran.

Areya hanya diam saja, lalu dia menatap Pria itu tanpa berkedip lagi. Dia duduk tenang dengan koran ditangannya seolah tak terjadi apa-apa. Sedangkan Areya, hanya bisa menelan kekesalannya sendiri dengan menenggak segelas jus hingga tandas. Kemudian mulai fokus makan dengan perlahan.

"Areya... kenapa kamu selalu mengurung dirimu di kamar dengan musik kerasmu itu?" Tanya Mama Areya memulai percakapan.

Areya menghendikan bahu dan menjawab singkat, "Hobby." Lalu dia tersenyum canggung pada Mamanya.

Melihat itu, Mamanya merasa sedih. Wanita itu merasa anaknya sudah berubah, setelah kelulusannya yanh tidak bisa dia hadiri.

Dengan wajah sedih, Mamanya bertanya lagi, "Apa karena ... Mama dan Papa tidak bisa hadir pada acara kelulusanmu, Sayang?"

Mendengar pertanyaan itu, membuat makanan yang sedang Areya telan seketika tersangkut, dan membuatnya tersedak. Areya mengambil segelas air. Setelah batuknya reda, dia menjawab dengan tenang, "Sudahlah, Ma. Bukannya sudah biasa, kalian tidak datang ke acara ti-dak penting-ku?" Areya menarik napas lalu melanjutkan lagi, "Aku sudah selesai." Gadis itu bergegas pergi keluar rumah, sebelum emosinya tersulut kembali.

"Hei, Sayang! maafkan Mama, kamu mau pergi kemana? Kamu juga... belum menghabiskan makananmu." Ucap sang Mama berniat menghentikan anaknya.

"Tidak, Ma. Mood ku tiba-tiba jelek. Udara di sini mendadak kotor, dan membuat dadaku sesak." Jawab Areya sambil lalu.

"Tapi Sayang..."

"Sudahlah Ma, biarkan saja." Perintah Pria itu pada akhirnya. Suaranya itu membuat Areya terhenti sejenak. Ingin rasanya, dia melempar vas bunga yang berada di samping tempatnya berdiri. Tetapi dengan sekuat tenaga dia tahan, dan kembali berjalan tanpa menghiraukan orang tuanya.

Cuaca pagi yang cerah sangat berbanding terbalik dengan moodnya. Areya berjalan perlahan menikmati sinar hangat mentari, berharap bisa membuat perasaannya sedikit membaik. Gadis itu terus berjalan sembari sesekali memejamkan mata. Sampai di mana, hidungnya mencium aroma kopi yang sangat menggoda, dari sebuah kafe di seberang jalan. Aroma itu membuat kaki Areya tanpa sadar menuju ke sana.

Gadis itu pun masuk mengambil duduk di pojok ruangan yang kosong. Kemudian tanpa menunggu lama, seorang pelayan datang menghampiri dan bertanya dengan ramah, "Ingin memesan sesuatu, Nona?"

Tanpa basa-basi Areya langsung memesan, "Secangkir kopi, tanpa gula. Untuk gadis Unfortunate." Pelayan itu mengernyitkan dahi, dan Areya hanya membalasnya dengan senyuman.

"Baiklah, Nona. Kopi untuk gadis Fortunate akan segera datang." Pelayan itu mengucapkannya dengan lembut, membuat gadis itu tertegun saat mendengarnya.

Ketika pelayan itu pergi, pikiran Areya kembali berkelana. Pada saat pertemuan dirinyya dengan Pria misterius tempo hari. Dia Tampan, sekaligus mengerikan. Seakan membunuh tiga pemuda brengsek itu hanya seperti membunuh lalat. Bahkan, Areya masih ingat darah salah satu dari mereka ada yang mengenai kakinya. Sungguh membuat gadis itu merasa mual.

Di dalam hatinya dia berharap agar dia tidak bertemu dan berurusan lagi dengan Pria bernama Pasha itu. Walaupun tak menampik, Pria itulah yang menyelamatkan dirinya dari bahaya. Namun tetap saja, itu pengalaman yang mengerikan bagi Areya.

"Kopi untuk gadis Fortunate, sudah datang." Seru seseorang menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

"Terima Ka--" Ucapan Areya langsung terputus ketika kepalanya sudah sepenuhnya mendongak dan melihat siapa yang berdiri di hadapannya.

"Bagaimana bisa? kenapa kamu bisa di sini dan bisa memegang kopi pesananku?" tanya Areya keheranan.

"Sial, baru saja aku berdoa agar tidak bertemu dengannya. Tetapi sekarang, dia sudah berada tepat dihadapanku!" Areya mengomel dalam batinnya.

"Nasib baik yang mempertemukan kita dan kebetulan, kafe ini milikku. Jadi, aku juga bisa melayani pelanggan cantik sepertimu." Jawab pria itu santai, mengambil duduk di depan Areya.

"Tidak mungkin! Ini bukan karena nasib, tapi kamu membuntutiku, atau mungkin...  kamu hanya mengaku-ngaku bahwa tempat ini milikmu. Hish! yang benar saja!" Areya tiba-tiba mengomel pada Pasha, karena doanya untuk tidak bertemu dengan Pria ini, tidak terkabul.

Pasha yang terkena omelan Areya hanya tersenyum, kemudian mengangkat tangan seperti memberikan kode. Lalu datanglah pelayan yang melayani Areya tadi.

Pelayan itu bertanya, "Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan?"

"Jelaskan padanya bahwa, kafe ini memang milikku." Pinta Pasha pada si pelayan dan sebelum pelayan itu membuka mulut, Areya sudah lebih dulu mengangkat tangan. "Stop! aku tidak perlu penjelasan. Lagi pula, itu juga bukan urusanku. Ah, ya Tuhan! malangnya nasibku di pagi yang cerah ini." Ratap Areya dengan wajah lelah.

Kehadiran Pasha membuatnya bertambah yakin, bahwa, hidupnya memang harus penuh dengan kemuraman.

"Malang? bertemu denganku adalah sebuah kemalangan katamu?" Pasha bertanya dengan sorot mata tak suka.

Areya mengendikkan bahu, lalu menjawab acuh, "Kamu sendiri yang berkata seperti itu. Baiklah, aku akan pergi. Aku sudah tidak berselera lagi, terima kasih." Areya segera bangkit, kemudian meninggalkan sejumlah uang yang dia harap melebihi harga kopinya.

Pergi meninggalkan kafe itu dengan segera, adalah hal yang harus Areya lakukan. Gadis itu tidak mau mengingat kejadian kemarin lagi. Dia juga takut berurusan dengan polisi, karena berhubungan dengan seorang pembunuh. Otaknya mengatakan, bahwa Pria itu "Berbahaya" dan patut untuk dihindari apapun alasannya.

"Areya! Oi, Areya..." Sebuah panggilan terdengar dari belakang. Tetapi, dia sama sekali tidak mau menengok, siapapun yang memanggilnya. Gadis itu hanya memikirkan cara cepat pulang dan mendekam di kamar.

Tiba-tiba, kepala Areya terasa ada yang memukul.

"Dasar, si kuping budeg! dipanggil bukannya jawab, malah jalannya makin cepet. Capek nih, ngejar Lu!" Omel seseorang di belakang Areya. Rupanya, sahabat Areya yang memanggil dan memukul kepalanya.

"Maaf Lin, aku kira tadi fans."

"Lagak Lu, dah kek macem artis bintang lima! cantik-kan juga gue." Ucap lina sambil mengibaskan rambut panjangnya. Areya hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat sikap sahabatnya.

Selain kisah hidup yang menurutnya penuh kemalangan. Tuhan juga belum puas. Lalu menghadiahkan seorang sahabat yang sangat bertolak belakang kepadanya.

"Lagian... Lu kenapa sih? dipanggil malah ngibrit begitu, ada penjahat yang ngejar?" Tanya Lina penasaran.

Areya menggelengkan kepala untuk menjawabnya.

"Lah, terus?" tanya Lina lagi.

"Sudah, lupakan saja. Kamu dari mana,  Kenapa juga ngejar aku?" tanya gadis itu mengalihkan pembicaraan.

"Ya Tuhan! ditanyain, malah tanya balik. Gue lagi jalan-jalan tadi. Terus liat Lu, baru keluar dari kafe baru itu. Ya udah, gue panggil. Eh, Lu malah ngibrit kek abis lihat setan." Lina menjelaskan pada Areya sembari menunjuk-nunjuk kafe.

"Ya sudah, maaf. Aku mau pulang. Capek badan, habis lari tadi." Areya meminta maaf agar tidak memperpanjang masalah.

"Nah, itu rumahnya dah keliatan. Ya udah, gue juga mau pulang. Bye Re!" Ucap Lina sambil melambaikan tangan, Areya tersenyum dan membalasnya dengan lambaian tangan juga.

Sebelum masuk, Areya mengamati situasi sekitar. Memastikan tidak ada yang mengikutinya. Setelah dirasa aman, Areya berjalan dengan riang. "Huh, aman! lega rasanya." Gumam gadis itu riang. Kemudian pergi menuju rumahnya, tanpa menghirauman sepasang manusia yang sedang duduk di ruang tamu.

Di lain sisi, ketika gadis itu masuk ke rumah. Ada seseorang yang baru keluar dari persembunyiannya, kemudian pergi menghilang begitu saja.

Sesampainya di kamar, Areya langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur kesayangannya. Tempat ternyaman menurut Areya adalah kamarnya. Di kamar itu, dia bisa menumpahkan segala isi hatinya dan menangis sesukanya tanpa orang lain tahu.

Saat mata gadis itu mulai terpejam, dering ponselnya berbunyi dengan sangat nyaring. Gadis itu berniat untuk membiarkannya saja, karena rasa kantuknya sudah tidak tertahankan lagi. Tetapi, semakin didiamkan, dering itu semakin menjadi-jadi.

Lalu, dengan kemurkaan yang luar biasa. Gadis itu mengangkat panggilan itu dan tanpa basa-basi, Areya langsung memaki orang yang menelepon dirinya. "Siapa sih, kamu? kalau penting langsung bicara. Kalau cuma iseng aku matiin kamu, Sialan." Tidak ada jawaban dari seberang, hanya deru napas yang terdengar. "Cepetan ngomong brengsek, ngantuk ini."

"Begitukah, cara berbicara pada pacarmu?" Tanya seorang pria di sebrang dengan nada berat. Mendengar pertanyaan aneh itu, langsung membuat mata Areya terbuka lebar.

"Pacar? siapa yang punya pacar? gila kamu." Langsung saja gadis itu memutus sambungan setelah memakinya. Areya jengkel setengah mati. Dia saja, dapat gelar jomblo tahunan dari si Lina. Entah badai dari mana, ada Pria yang meneleponnya dan mengaku sebagai pacarnya. Areya merasa otaknya sudah eror, lalu mempengaruhi kehidupannya.

Tak berapa lama, layar ponselnya berkedip. Saat gadis itu melihat, ternyata, nomor tak dikenal tadi mengirim sebuah foto yang hampir membuat Areya terkena serangan jantung. Tidak, bukan karena ketampanan orang yang ada difoto itu. Tetapi, orang itu adalah pria yang sangat Areya takuti. Sekarang, gadis itupun sangat sadar. Bahwa, setelah ini hidupnya yang sudah suram akan bertambah suram. Setelah membaca kalimat di bawah foto itu.

"Pembunuh ini... ingin menagih hutang kecil, pada Tuan putri yang selalu muram setiap hari. Aku ingin, kau menjadi milikku dan aku rasa itu setimpal."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED