Tiba-tiba pintu itu terbuka sedikit lebih besar lalu muncul tangan yang langsung mencengkeram pergelangan tangan Elina dan menariknya dengan paksa untuk masuk ke dalam. Badan Elina yang sedikit oleng, segera terbawa masuk ke dalam kamar tanpa bisa dia cegah lagi.
“Eh apa-apaan ini!” tolak Elina ketika dia merasa ada seseorang yang membawanya masuk ke dalam kamar tersebut.
Tidak mendapatkan jawaban apa pun atas perlakuan sedikit kasar yang dia terima itu, Elina kini semakin bingung dengan keadaan ini. Dan sekarang tiba-tiba Elina merasa tubuhnya dipeluk oleh seseorang. Pelukan yang sangat erat sampai membuat tubuhnya menempel dengan sempurna di dada bidang yang saat ini sedang mengimpitnya itu.
Entah apa yang terjadi pada tubuh Elina malam ini, bukannya menolak tindakan pria itu, tubuh Elina malah merespons apa yang dia terima saat ini. Elina ikut memeluk tubuh pria itu dan menghirup dalam aroma parfum maskulin yang kini langsung menguar memenuhi rongga hidungnya.
“Sayang,” panggil Elina sambil sedikit mengendus di area leher si pria.
Merasa wanita yang ada dalam pelukannya ini sudah mulai jinak, pria itu mulai mengusap punggung Elina. Dia pun secara perlahan menghujani pundak Elina dengan ciuman hangatnya yang sesekali membuat mangsanya itu mengeluarkan leguhan. Aroma parfum yang dipakai oleh Elina, mampu membuat Kevin, si pria penarik Elina itu semakin terbuai.
“Aaah,” leguhan Elina mulai keluar setelah dia mendapatkan serangan dari Kevin yang menghujaninya dengan ciuman.
Mendengar suara leguhan Elina tepat di telinganya, membuat Kevin semakin bersemangat menikmati hidangan indah di hadapannya itu. Entah mengapa, suara leguhan Elina itu terdengar sangat seksi dan membakar gairah liar Kevin.
Tangan Kevin yang terampil kini dengan sangat lihai segera saja melucuti pakaian Elina karena dia sudah tidak tahan untuk menyalurkan hasratnya.
“Wow ... indah banget sayang,” puji Kevin melihat dua gunung menjulang dengan puncak keras yang menantangnya.
Meski dalam keadaan kamar yang temaram, mata Kevin masih bisa mengenali dengan baik lekuk tubuh Elina. Kevin kembali melahap rakusnya bibir Elina dan kini dia sudah mendapatkan balasan yang tidak kalah panas dari si pemilik bibir merah itu.
Tangan Kevin semakin melingkar kuat di pinggang Elina, agar wanita yang sedang ada dalam kuasanya itu tidak pergi. Tentu saja hal itu kian membakar gelora Elina yang kini mulai mengalungkan tangannya di leher Kevin yang saat ini semakin memperdalam ciuman mereka.
‘Sial! Wanita macam apa ini. Nikmat sekali bibirnya,’ ucap Kevin dalam hati.
Kevin yang sudah terbiasa mencari wanita penghangat ranjang untuk melepaskan kepenatannya bekerja, kali ini sepertinya mendapatkan wanita istimewa dari asisten pribadinya. Kevin merasakan madu lain dari tubuh wanitanya, seolah dia tidak ingin mengakhiri malam ini dengan cepat. Kevin ingin menikmati hidangannya dengan waktu yang sangat lama hingga dia puas.
Bibir Kevin kini mulai menyusuri leher jenjang milik Elina. Leher memikat itu kini sudah mulai basah oleh saliva Kevin dan juga keringatnya sendiri. Elina mulai menggantungkan tubuhnya di leher Kevin untuk menjaga keseimbangannya karena hasrat gila sudah mulai menguasainya.
Kevin yang semakin terikat dengan keindahan wanitanya, secara perlahan dia pun mulai melucuti pakaian yang dikenakan oleh Elina. Wanita cantik yang masuk ke kamarnya itu sama sekali tidak melakukan perlawanan dan hanya mengeluarkan beberapa desahan yang membuat gelora hasrat menggebu dalam diri mereka kian terbakar.
“Perfect!” gumam Kevin yang kini sudah bisa melihat tubuh bagian atas Elina yang sudah tanpa pelindung lagi.
Tatapan mata Elina kini semakin sayu. Kesadarannya yang mulai hilang, hingga membuat dia tidak bisa berpikir lagi tentang apa yang terjadi malam ini. Baginya saat ini hanyalah ingin meneruskan apa yang tadi sudah dia lakukan bersama dengan pria yang saat ini ada di hadapannya.
‘Sejak kapan Bram jadi ganteng dan seksi begini,’ ucap Elina dalam hati saat sekelebat dia melihat wajah tampan di hadapannya.
Tidak ingin hasrat mangsanya turun, Kevin segera menggendong tubuh Elina untuk dia bawa ke atas ranjang yang akan menjadi tempat pertarungan mereka malam ini. Sambil menggendong Elina ala bridal style, Kevin kembali meraup bibir Elina yang sudah menjadi candu bagi dirinya malam ini.
Kevin meletakkan tubuh Elina di atas ranjang lalu menatapnya dengan sorot mata yang sangat lapar. Rasanya adik kecilnya itu saat ini sudah sangat memberontak ingin menikmati juga tubuh Elina yang kini sudah tanpa sehelai benang pun untuk menutupi tubuhnya.
“Berikan pelayananmu yang terbaik malam ini, sayang,” ucap Kevin sebelum dia kembali membuai Elina dan membawanya terbang ke awang-awang.
Pergulatan malam itu berlangsung dengan sangat sengit. Kevin merasakan sensasi lain dari Elina yang tidak pernah dia dapatkan dari wanita yang sering dia sewa. Kevin benar-benar tidak ingin melepaskan Elina sedikit pun.
Erangan demi erangan keluar begitu saja dari bibir Elina ketika dia mendapatkan perlakuan yang membuatnya mabuk kepayang malam ini. Meskipun dia sempat beberapa kali melakukan hubungan badan dengan mantan kekasihnya, namun apa yang dia nikmati malam ini terasa sangat luar biasa.
“Ah sayang ... enak sayang. Aku milikmu malam ini, sayang,” rancau Elina ketika badannya bergerak-gerak karena dorongan dari senjata ampuh milik Kevin.
“Kamu milikku, sayang,” ucap Kevin yang terus memompa area kewanitaan Elina yang membuatnya keenakan itu.
Dua insan yang kini sedang dibakar api gairah yang tengah berkobar dalam tubuh mereka itu sudah tidak lagi berpikir tentang siapa orang yang sedang bersama mereka saat ini. Yang ada di pikiran mereka saat ini hanyalah puncak kepuasan yang mereka nantikan sejak tadi.
Mereka terus berlomba untuk mendapatkan kepuasan. Menikmati malam yang benar-benar membuat mereka sangat lelah, bahagia dan akhirnya tertidur pulas.
***
“Selamat pagi, Bos,” sapa Bima saat masuk ke dalam kamar Kevin.
“Hmm ... gimana, udah ada kabar dari Paris?” tanya Kevin yang baru keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“Tadi malam mereka hanya mengirimkan kabar kalau hari ini akan mengirimkan proposalnya pada kita.”
“Oh ok! Oh ya, di mana wanita semalam? Kok aku gak liat dia pas aku bangun,” tanya Kevin.
“Wanita? Memangnya tadi malam Bos tidur dengan siapa?” tanya Bima balik.
Kevin menoleh ke Bima, “Siapa? Bukannya kamu aku suruh cari orang,” ucap Kevin yang sedikit kaget dengan respons asisten pribadinya itu.
“Iya Bos, tapi tadi malam saat saya ke sini ... Bos gak buka pintunya. Saya pikir Bos sudah tidur lalu wanita itu saya suruh pergi,” papar Bima menjelaskan pada Kevin.
Mata Kevin membulat lebar saat dia mendengar apa yang dia dengar dari asistennya itu. Dia semakin bingung dengan sosok wanita yang membuatnya kelabakan tadi malam.
“Apa kamu bilang? Tadi malam ada orang ke sini dan aku tidur dengan dia. Brengsek! Cari dia dan bawa dia ke hadapan aku!” perintah Kevin tegas sambil sedikit membentak Bima.
“Aaacckkk!!! Gak bener ini gak bener!” ucap Elina sambil mengacak rambutnya sendiri karena frustasi.
“Bego banget sih, Ell. Kenapa malah tidur ama orang. Aduuuhh ... beneran gak waras aku. Sejak kapan Elina jadi bego!”
Elina menjadi sangat frustasi setiap Dia teringat akan kejadian malam panasnya dengan pria yang tidak dia kenal itu. Elina tidak menyangka kalau malam itu akan menambah masalah baru dalam hidupnya.
“Nggak boleh. Pokoknya nggak ada yang boleh tahu tentang kejadian ini. Come on Elina, ini cuma mimpi. Iya ini cuma mimpi! Tadi malam aku tidur di kamar aku sendirian. Iya aku tidur sendirian, nggak mungkin aku tidur sama laki-laki itu. Aduh ... kepalaku rasanya mau pecah,” keluh Elina lagi sambil mulai memijat pelipisnya sendiri.
Elina merasa sangat kaget ketika dia bangun tidur dan mendapati tangan seseorang sedang melingkar di pinggangnya secara posesif. Tadinya Elina mengira kalau dia saat ini sedang bersama dengan Hendra, mantan kekasihnya, namun ketika dia berbalik untuk menyapa pria yang pernah dia cintai itu, Elina kaget dengan sosok pria yang bahkan belum pernah sama sekali dia temui.
Elina yang ketakutan pun akhirnya memilih untuk segera meninggalkan kamar hotel yang ternyata memang bukan kamar miliknya. Dia segera mengambil semua barang-barang miliknya yang bersebiman di kamar tersebut, berusaha tidak meninggalkan jejak sedikit pun.
“Oh iya, Dinda. Aduh ... tu anak pasti kepo banget. Pasti dia bakalan nanyain kenapa aku pergi gak bilang-bilang. Bodo ah! Pokoknya dua ratu kepo itu gak boleh tau,” ucap Elina yang kemudian segera menutup kembali kepalanya dengan selimut.
Tidak ingin ada masalah baru lagi, Elina langsung pergi meninggalkan hotel tempat dia menginap di pagi buta itu. Dia tidak ingin ada di hotel itu lebih lama lagi karena hal itu akan membuat dia mengingat malam kelam nan panas yang baru saja dia alami.
Sejak meninggalkan kamar Kevin, Elina mencoba untuk mensugesti dirinya sendiri kalau kejadian tadi malam itu hanya sebuah mimpi. Dia segera pergi meninggalkan kamar Mario dengan harapan pria itu juga akan melupakannya begitu saja.
“Tapi gimana ceritanya ya aku bisa masuk ke kamar cowok itu. Kayaknya semalam tuh bener deh aku masuk ke kamarku sendiri ... tapi kenapa malah ke kamar orang lain. Aduh Elina, kamu nih bener-bener cari masalah deh,” gerutu Elina yang benar benar menyesal atas tindakannya tadi malam.
“Tapi dia siapa ya? Aku nggak pernah melihat orang itu deh. Cakep sih, tapi kok dia main tidur aja sama orang yang nggak dia kenal. Ah brengsek, pasti dia cowok cabul. Kurang ajar, awas ya kalau sampai ketemu aku lagi bakal aku habisi dia,” gerutu Elina sambil meremas kuat guling yang ada di sampingnya.
Entah kenapa tiba-tiba bayangan sosok pria yang menghabiskan malam bersamanya itu tiba-tiba terlintas begitu saja di dalam pikirannya. Elina bisa mengingat dengan jelas bagaimana cara pria itu membuainya dengan sangat baik sampai membuat Elina lupa diri.
Wajah tampan dan juga aroma parfum maskulin yang sampai saat ini bahkan masih melekat di hidung Elina, benar-benar mampu membuat wanita cantik itu sedikit menyunggingkan senyum. Namun beberapa detik kemudian, Elina langsung menggelengkan kepalanya sendiri untuk mengusir ingatan tersebut.
“Ah rese! Kenapa juga sih pakai ingat-ingat dia segala, dasar cowok mesum!” umpat Elina mencoba untuk membuat dirinya tidak ingat lagi dengan kejadian semalam.
Elina memilih untuk tidur dan menonaktifkan ponselnya setelah dia mengirim pesan untuk dua sahabatnya kalau hari ini dia tidak ingin diganggu. Elina ingin menjauhi sejenak dua temannya itu, setidaknya agar emosinya sendiri lebih stabil setelah kejadian panas tadi malam.
Ketika Elina sedang sibuk dengan dirinya sendiri yang kabur setelah dia mengetahui kalau tadi malam dia menghabiskan malam panasnya dengan seseorang yang dia kenal, di tempat lain Kevin saat ini sedang uring-uringan karena dia merasa ditipu oleh Elina.
Setelah mendapatkan pesan dari asistennya, sesuai dengan petunjuk dari Bima sang asisten pribadi, Kevin langsung menarik orang yang ada di depan pintu kamarnya setelah mengintip dari lubang pengintai pintu. Tepat pada saat itulah Elina muncul sebagai seseorang yang dianggap oleh Kevin adalah orang kiriman dari sang asisten pribadi.
“Brengsek! Siapa dia sebenarnya, kenapa dia bisa ada di depan kamarku dan nggak nolak sedikit pun waktu aku mulai cumbuin dia. Dasar cewek mesum! Awas aja ya kalau sampai nanti dia ketemu dan berani nyebarin masalah ini ke publik, aku nggak akan segan buat habisin dia saat itu juga!” gerutu Kevin yang sangat kesal pagi ini.
“Eh tunggu dulu! Gimana kalau dia sebenarnya itu cewek panggilan dari tamu yang ada di sini. Terus dia salah kamar dan jadi tidur ama aku. Gila! Dia bersih nggak tuh. Aduh ... mana aku nggak gak sempet pake pengaman lagi. Lagian dia enak banget sih ... beda kayak cewek-cewek lainnya. Ah! Sialan bener tuh cewek, dia udah bikin aku makin stres,” umpat Kevin yang sangat kesal mengingat kejadian tadi malam.
Kevin yang sangat kesal dengan kejadian tadi malam, segera melemparkan handuk yang ada di tangannya itu ke atas ranjang. Kondisi ranjang itu masih sangat berantakan sisa dari pertempurannya semalam dengan wanita yang tidak dia tahu jati dirinya.
Kevin segera meraih ponselnya lalu duduk di sofa yang ada di kamar itu. Dia mengambil kopi hitam hangat yang tadi sudah dia pesan untuk membuat otaknya semakin cepat berpikir, agar cepat menemukan cara dia bisa tahu tentang identitas wanita misterius itu.
“Bima mana sih! Lama amat disuruh gitu doang,” ucap Kevin yang kini semakin kesal karena dia harus menunggu lebih lama.
“Halo, Bima!” bentak Kevin ketika dia menghubungi asisten pribadinya itu.
“Iya Bos, ada apa?” tanya Bima balik.
“Udah ketemu orangnya?” tanya Kevin yang sudah tidak ingin menunggu lebih lama lagi.
“Saya sudah mendapatkan tangkapan layar CCTV-nya, Bos. Tapi saya tidak mengenal wanita itu. Saya akan segera membawa rekaman ini ke kamar Bos, siapa tahu Bos mengenali wanita itu,” lapor Bima pada atasannya.
“Cepat bawa ke sini!”
Mendengar berita dari Bima, membuat Kevin semakin geram pada pria muda yang sudah 2 tahun ini selalu ada bersamanya. Entah mengapa Kevin merasa pekerjaan Bima kali ini terasa begitu lambat padahal selama ini dia tidak pernah mengeluh pada kinerja Bima yang selalu memuaskannya.
Kevin menggerak-gerakkan kakinya untuk menghilangkan sedikit rasa emosinya karena dia sangat ingin tahu bagaimana sosok wanita muda yang tadi malam hanya dia lihat dalam pencahayaan yang minim itu.
“Awas aja kamu ya, bentar lagi kamu bakalan aku tangkep. Dan waktu kita ketemu lagi, maka itu adalah hari terakhir kamu hidup di dunia ini,” ancam Kevin pada Elina secara tidak langsung.
“Bos, ini videonya sudah saya dapatkan,” ucap Bima yang berjalan cepat menuju ke Kevin yang sedang menantinya sejak tadi.
“Cepet bawa sini, aku nggak sabar pengen lihat cewek brengsek itu,” ucap Kevin sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil iPad yang di bawah oleh Bima.
Bima menyerahkan iPad yang ada di tangannya itu setelah dia membuka video yang dia dapatkan dari keamanan hotel. Ini adalah salah satu hotel milik keluarga Kevin, jadi dia bisa dengan mudah untuk mendapatkan akses pengambilan rekaman CCTV yang dia inginkan itu.
Kevin langsung menekan tombol pemutar video untuk melihat sosok wanita yang di dalam pikirannya hanya tergambar samar-samar. Dia sampai beberapa kali mengulang video di lorong depan kamarnya mencoba untuk mengenali sosok wanita misterius itu.
“Siapa dia?” tanya Kevin sambil menautkan dua alis tebalnya.
“Bos juga tidak mengenal dia?” tanya Bima.
“Enggak! Aku nggak pernah lihat muka jelek kayak begini,” ucap Kevin yang geram melihat sosok wanita yang ada di dalam video itu.
“Lalu sekarang bagaimana, Bos?”
Kevin menoleh ke arah Bima, “Sejak kapan kamu jadi bodoh! Cepat cari dia dan seret dia ke sini! Selama dia belum ketemu, aku akan potong gajimu 50 persen!”