“woy Cik, molor aja lo! Mentang-mentang hari minggu.”
“apaan sih Nes, gua mager!”
“lo mau ikut gua lari pagi sambil beli sarapan gak?”
“duh, gua masih ngantuk lo sendirian aja, tapi gua nitip ketoprak satu ya.”
“Kebiasaan banget lo ya!. yaudah gua berangkat dulu.”
sambil mencari santapan pagi untuknya dan Cika , Seperti biasa Nesya mengawali paginya dengan berolahraga dan lari kecil ditaman kota, sambil menghirup udara pagi sebelum polusi menyergap.
Nesya selalu melakukan aktivitas ini setiap pagi, tidak heran jika dia mendapatkkan tubuh ideal yang banyak di idam-idamkan oleh kaum hawa.
Selama diperjalanan Nesya selalu menjadi pusat perhatian setiap pasang mata,terutama kaum adam. Bahkan sampai ada yang meminta berfoto dengannya karena mengira Nesya adalah seorang public vigur.
“mbak, mbak! Kamu selebgram ya?”
Ucapan dari salah satu remaja laki-laki itu menghentikan langkah kaki Nesya. ia kemudian membalikkan tubuhnya dan balik bertanya pada remaja itu.
“siapa? Saya?” Jawabnya bingung.
“ya iyalah mbak, masak nenek-nenek itu.”
Jawab remaja itu sambil menunjuk kearah wanita tua yang sedang menyapu dedaunan di bibir jalan.
Nesya menggelengkan kepala pada remaja tengil yang baru saja bertanya padanya. Selebgram? bagaimana bisa ia menjadi selebgram. sedangkan social media saja tidak punya. Nesya hanya memiliki satu social media yang menurutnya penting saja seperti whatsapp. Berbeda dengan Cika yang selalu up to date soal media sosial.
Tidak menghiraukan perkataan remaja tengil itu, nesya melanjutkan langkahnya dengan berlari kecil menyusuri jalan di taman, sambil mencari jajanan pagi.
“yah, udah pegi aja tu cewek.” Gumam remaja tadi.
“nah, akhirnya kena juga, cepet beliin kakak sarapan!” ucap seorang laki-laki dengan nafas yang masih terengah engah.
Setiap pasang mata perempuan akan terkecoh melihat ketampanan laki-laki itu, ia memiliki tubuh gagah dan wajah tampan yang simetris. Membuat siapa saja perempuan melihatnya pasti akan menelan ludah. Siapa sangka lelaki itu adalah Farel.
“kena nih gua!”
“gua gue gua gue. Sudah berapa kali kakak peringatkan Den, bicara dengan orang yang lebih tua dari kita harus sopan. “
“ceilah, sok tua.”
“apa kamu bilang?”
“maaf kak, kak lihat deh ada yang mau terjun di gedung!”
Ucap Deni, ia berupaya mencari celah agar bisa kabur dari laki-laki itu.
“mana Den?”
Farel sadar ia telah dibohongi oleh adiknya, lagi-lagi Deni sudah kabur dari pandangan Farel. Dia sudah kehabisan tenaga untuk mengejar Deni, akhirnya ia berniat untuk singgah disebuah warung bubur ayam yang terletak beberapa meter di hadapannya.
***
“pak bubur ayamnya…”
Kata-kata Farel terhenti ketika menyaksikan seorang perempuan duduk di ujung bangku warung milik pedangan bubur ayam, begitupun juga perempuan itu. Tampak dari pandangannya ia juga terkejut melihat keberadaan Farel. Itu adalah Nesya, cinta pertama Farel.
Farel sempat terdiam kaku, ia tidak tahu harus memulai langkah dari mana, matanya berbinar ketika menatap Nesya. ingin rasanya ia membuka mulut dan meluapkan isi hatinya pada Nesya, tetapi lagi-lagi bibirnya kaku untuk memulai bicara.
Nesya merasakan kehadiran Farel, ia membuang muka ketika laki-laki itu menatapnya tanpa henti. Perasaan Nesya sudah dikuasai oleh kekecewaan yang sangat mendalam, hingga menatap Farel lama saja ia enggan.
“Pak, dibungkus aja dua-duanya.”
Ucap Nesya pada penjual bubur ayam yang sibuk meracik bubur pesanan pelanggan lainnya.
“loh neng, katanya mau makan disini.”
“gak jadi pak dibungkus aja.”
“oke tunggu ya, itu masnya tadi mau makan disini atau di bawa pulang juga?”
“di bawa pulang aja pak.”Jawab Farel.
Nesya berusaha tenang menahan amarah yang bergojolak dalam dirinya, setiap mendengar suara Farel ia merasa ingin mencabik-cabiknya.laki-laki itu sudah melakukan kesalahan besar di masa lalunya,hingga menyisakan luka yang mendalam bagi Nesya.
Dulu, Nesya berharap banyak pada Farel, tetapi ia malah ditinggalkan tanpa alasan. Padahal saat itu hanya Farel lah yang ia harapkan selalu ada saat berada di dalam keterpurukan dan kesepian ketika ditinggalkan oleh orang-orang yang ia sayangi dari sebuah tragedi kecelakaan kala itu.
Farel juga yang menjadi alasan Nesya untuk merantau dikota ini,ia berharap jika meninggalkan kampung halamannya itu, maka semua kenangan bersama Farel akan Lenyap, tetapi sekarang ia malah dipertemukan lagi, hingga membuat kenangan yang sudah ia kubur dalam-dalam mau tak mau harus terkuak kembali.
Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada Farel, tetapi jika bertanya sekarang rasanya sudah basi, tidak ada lagi celah baginya agar bisa memaafkan Farel.
tidak ada gunanya mengetahui semua alasan Farel sekaranf, setelah sekian lama berlalu penuh luka dan kekecewaan. Rasa cintanya pada Farel di masa lalu sudah dikalahkan dengan kebencian serta kekecewaan yang teramat dalam.
Laki-laki memang tidak pandai menjaga hubungan, mereka selalu pergi tanpa memberi alasan yang jelas. Hingga menimbulkan ribuan pertanyaan. Lalu mereka akan datang kembali dengan beberapa alasan basi, berharap semua perempuan iba dan akan memaafkan mereka. ketahuilah, hanya perempuan bodoh yang memiliki hati selembut itu.
***
“ini neng, jadi semuanya dua puluh ribu.”
Nesya menyodorkan uang seratus ribu miliknya.
“aduh, neng gede amat duitnya, toko bapak baru rame, baru ada kembalian lima puluh ribu kurang tiga puluh ribu lagi. duit pas aja ya.”
“yaudah pak saya,..”
“biar saya aja pak bayar.” Potong Farel.
“tidak usah! saya tidak suka berhutang budi pada orang lain.kembaliannya ambil aja pak.”
“waduh kegedean neng,neng!”
Nesya melangkahkan kakinya dengan cepat tanpa menghiraukan teriakan tukang bubur itu.
“tunggu!”
Farel mencoba menghentikan langkah kaki Nesya. ia menghampiri Nesya yang terdiam kaku dihadapannya.
“Nesya, bagaimana kabarmu?”
Sejenak, Nesya tidak menjawab pertanyaan Farel, ia hanya menatap Farel dengan tatapan penuh kebencian.
“apa selama ini kamu baik-baik saja?” Tambah Farel.
Nesya mendekatkan dirinya pada Farel hinga tubuhnya dan Farel hanya berjarak beberapa senti saja.
“menurut kamu?” jawab Nesya sinis
“syukurlah jika kamu baik-baik saja. Sekarang kamu tinggal dimana? Dengan siapa?”
“kalau ada banyak sekali pertanyaan, kenapa dulu pergi begitu aja? Bukankah sekarang tidak ada gunanya lagi bertanya seperti itu.”
Jawaban Nesya mengkhakhiri percakapannya dengan Farel. Saat itu juga Nesya langsung pergi meninggalkan Farel tanpa mendengarkan sepatah kata jawaban apapun dari Farel. dengan perasaan kesal, benci, kecewa ia terus berlari menuju apartemennya. Hingga tidak sadar sepanjang jalan Nesya menangis yang membuat kedua matanya menjadi sembab.
“syukurlah, jika kamu membenciku Nes. Perbuatanku dimasa lalu tentu sangat menyakitimu. Hingga kata maaf saja tidak cukup menutup luka dan kecewamu. Hukuman ini masih terlalu ringan bagiku. Seharusnya aku tidak pantas hidup seperti ini” Gumam farel dalam hati.
Braak..!
Nesya membanting pintu apartemen sangat keras, hingga suara bantingan pintu itu membangunkan Cika dari tidurnya. Cika melihat raut wajah Nesya yang sembab dan penuh kekesalan.
“hiks, hiks, hiks”
“lo kenapa Nes?”
“kenapa sih cik, gua harus ketemu lagi sama dia?”
“dia siapa Nes?”
“Farel!”
“bagus dong lo ketemu lagi sama dia, sekalian lo minta penjelasan kenapa dia bisa pergi gitu aja.”
“percuma Cik, gua juga gak butuh alasan apapun lagi dari dia. Gua benci banget sama dia. Sebenarnya gua udah gak berharao bisa ketemu lagi sama dia. Tapi kenapa tadi harus ketemu sih, hik, hiks, hiks.”
Cika mencoba menenangkan Nesya. Dengan sedikit nasihat yang ia tahu.
“sekarang lo maunya gimana?”
“gua gak tau Cik, gua gak bisa sekota sama dia, kayaknya gua mau pindah aja deh.”
“iiiih Nesya, jangan gitu. Lo gak bakal bisa tenang kalo menghindar terus, sebaiknya lo gak usah peduliin lagi laki-laki itu, lo ngertikan? Sekarang lo siap-siap kita healing kemana aja. Okey bestie?”
Kata-kata Cika sedikit menghibur Nesya, Cika benar. Mungkin maksudnya move on bukan tentang kita yang bisa melupakan segalanya di masa lalu. tetapi, tentang kita yang bisa menerima kepahitan itu dengan lapang dada.
apapun peraasan yang muncul saat ini seharusnya jangan dibiarkan menjalar sampai ke dalam. rumit memang, tetapi akan lebih rumit jika terus berkabung dengan masa lalu itu sendiri. Kebencian dan kekecewaan merupakan kewajaran untuk hubungan yang tidak berhasil. iklas tidaknya terima saja, nanti semua perasaan itu akan terkubur dengan sendirinya.
***
“bestie, lihat penampilan gua, udah kayak mbak-mbak sosialita belum?”
Ucap Cika sambil memperagakan tubuh layaknya model professional.
“widih, cakep banget sahabat gua. Tapi masih cakepan gue, hehe." ledek Nesya
Sesuai rencana hari ini, Nesya dan Cika sudah siap dengan penampilan masing-masing. Nesya tampil dengan pakaian sederhana namun terkesan berkelas dan elegan,Ia memakai dress putuh selutut dengan rambut yang dibiarkan terurai sedada.
Nesya juga memoles wajahnya dengan riasan natural. Tidak perlu berlebihan, tanpa dipolespun wajah gadis itu akan memancarkan aura cantiknya.
Sedangkan Cika berdandan dengan sedikit heboh namun tidak terkesan norak, ia memakai riasan yang lebih mencolok daripada Nesya. hingga membuat gadis itu terkesan berani.
Melihat dari penampilan dua gadis tersebut, mereka layaknya seperti wanita karir dengan kesibukaan mengejar deadline di perusahaan. Dan sekarang sedang mencoba merasakan healing dari pekerjaannya.
Berkat Cika, sekarang Nesya perlahan mulai membiasakan membuka diri untuk dunia luar, Nesya seorang introvert, aslinya ia tidak terlalu suka bergaul dengan orang lain, mungkin karena sudah terbiasa hidup sendiri. pekerjaan yang sekarang dijalaninya juga merupakan sebuah alasan kenapa gadis itu menjadi tidak percaya diri.
Tidak seperti gadis muda lainnya yang sibuk jalan-jalan. Nesya lebih suka menikmati hari-harinya di rumah, mungkin taman adalah tempat yang sering dikunjungi karena hampir setiap hari ia lari pagi disana, selebihnya dia akan menutup diri di apartemennya.
Jika bosan gadis itu akan menonton tv atau memboca novel romantis. Lagi pula, era ini serba online, jika malas memasak bisa memasan makanan dari aplikasi, jika ingin shopping tinggal membuka marketplace hijau atau orange, semua kebutuhan pasti ada disana.
***
“hallo pak kita udah di depan gerbang apartemen ya.”
Ucap Cika memberitahu taksi online melalui panggilan telepon.
“taksinya udah dimana Cik?”
“udah deket bentar lagi nyampe katanya.”
Nesya dan Cika kemudian duduk di lobby appartement sembari menunggu jemputan taksi online yang mereka pesan melalui aplikasi.
“permisi nona, apakah saya boleh meminta kontak whatss app anda?”
Seorang pria tiba-tiba meracaukan Nesya. tanpa angin dan hujan pria tersebut tiba-tiba saja meminta kontak Nesya. sangat tidak sopan.
Tetapi, jika dilhat dari wajahnya pria setengah baya itu terlihat seperti pria jahat yang memiliki banyak modus. Dia bahkan terlihat lugu dengan mata sayu. Namun, wajah pria itu tampak menyeramkan karena terlihat bekas luka bakar yang sangat parah.
“maaf, bapak siapa ya? kenapa meminta kontak saya? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”
Ujar Nesya dengan nada sopan. Pria setengah baya yang menggunakan seragam hitam khusus sopir pribadi itu tampak menundukkan kepala , pria itu tidak berani menatap wajah Nesya. Dia seperti ingin mengutarakan sesuatu namun seperti kebingungan.
“Maaf nona, saya hanya menjalankan perintah Bos saya.”
Jawab pria itu dengan wajah yang masih tertunduk.
“siapa bos anda pak? Kenapa tiba-tiba ingin meminta kontak saya.?” Tanya Nesya lagi.
“maaf nona, saya tidak diizinkan untuk memberitahu nona. Yang pasti bos saya akan menawarkan hadiah yang sangat besar, jika nona bisa bekerja sama dengannya.”
“udah Nes lo kasih aja, siapa tau bos nya itu jodoh lo.” Bisik Cika.
“Maaf pak, tapi-“
“ini pak, ambil kartu nama saya saja. Saya adalah manager Nesya.”
“apaan sih Cik, Maneger apanya?”
“ssst, diam.”
Cika menyeringai kearah Pria tadi.
“Tarimakasih nona, bos saya akan segera menghubungi anda.saya pamit dulu”
***
Di dalam taksi online yang mereka tumpangi, tampak Nesya yang sedang badmood karena kelakun Cika yang bertindak semaunya saja. Gadis itu berulang kali menghela nafas dan mennjukkan wajah masam pada sahabatnya.
“duh, bestie masih ngambek aja.”
“lagian lo kenapa sih Cik asal welcome aja sama orang yang gak dikenal.”
“gua itu memberi kesempatan buat lo Nes.”
“kesempatan apa? Kesempatan jadi model? Artis? Gak mungkinlah Cik, lo taukan kita udah sering ngadepin produser-produser palsu.”
“iya juga sih, tapi mana tau aja kali ini adalah keberentungan bagi kita.”
“jangan mimpi deh, apa lo yakin, bos bapak tadi mau ngajak kerja sama jadi model mereka. Haha mana tau aja mereka agen perdagangan perempuan. Kan serem Cik.”
“haha Kebanyakan nonton film sadis lo Nes, gak mungkin lah kita bisa terjebak gitu aja. Lo gak tau siapa sahabat lo ini? “
“siapa?”
“pegawai me-chat. Haha"
Candaan mereka kala itu memecah heningnya malam, di sepanjang perjalanan Cika tak hentinya bergurau hingga Nesya melupakan kekesalannya.
Sudah sekitar dua puluh menit di perjalanan, mereka tiba di tempat tujuan. Nesya dan Cika tampak sangat tidak sabar masuk ke pasar swalayan terbesar di pusat ibukota.
Di sepanjang jalan yang mereka lalui, ada banyak pajangan berupa pakaian, sepatu, make up dan sejenisnya. Inilah surge para perempuan.
“Cik, liat deh kira-kira ini cocok gak sama gua?”
Kata Nesya seraya menampilkan dress warna hitam bermotif polkadot.
“Gak. Lo pantesnya pakai yang itu.”
Jawab Cika menunjuk kearah dress lengan sejari yang terpampang di patung.
“yah, itu gaya lo kali.”
Belum menemukan pilhan yang cocok, Nesya dan Cika masih menyusuri setiap sudut mall.
Nesya terhenti di depan sebuah toko, ia tampak memperhatikan kedua orang tua yang sibuk memilah baju couple kemudia meminta pendapat anak-anak mereka.
Jika melihat pemandangan seperti itu, terlintas rasa iri di hati Nesya. dulu ia sangat ingin memiliki orang tua yang harmonis dan keluarga yang utuh, tetapi sepertinya hal itu tidak tertulis di dalam scenario hidupnya.
Nesya menepis air mata yang tidak sengaja jatuh ke pipihnya, gadis itu tiba-tiba menjadi lemah, ketika terkenang akan masa lalunya. Di dalam lubuk hati yang terdalam dia masih merindukan Nur dan Gozali. Tetapi, mengingat perlakuan mereka di masa lalu, rasanya sulit menyingkirkan kecewa yang sekarang sudah menjelma menjadi dendam.
Gadis itu terlalu lemah jika harus berurusan dengan masa lalu.