“hello, welcome to my live.”
“uhm, Thank you Sir.”
Ucap seorang gadis sambil berbincang di depan kamera handphonenya. Dengan nada lembut dan manja gadis itu selalu berhasil menggoda setiap penonton yang notabene adalah lelaki hidung belang, mereka rela menghamburkan uang demi menyaksikan tarian erotis dari gadis yang sedang live di sebuah platform khusus 21+.
Gadis itu adalah Nesya, sudah sekitar dua tahun terakhir dia menjalani pekerjaan sebagai penari erotis online, sebelumnya ia bekerja sebagai kasir disebuah mini market kecil di ibukota. Namun karena memiliki bos toxic serta gaji yang tidak mencukupi ia akhirnya memutuskan untuk menjadi penari erotis di sebuah platform khusus 21+.
Pekerjaan yang di jalaninya sekarang dikhususkan untuk menghibur para pria kesepian yang menyukai masturbasi. Tidak perlu ijazah ataupun persyaratan lain. yang dibutuhkan hanya penampilan menarik serta keterampilan dalam menggoda dan bergoyang, itu saja cukup untuk menghasilkan banyak uang ketika mulai bekerja di platform ini.
Laki-laki yang bergabung di dalamnya rela mengeluarkan banyak uang demi menyaksikan tarian erotis dari beberapa gadis muda di seluruh dunia yang salah satunya adalah Nesya.
Karena Nesya sudah lama bekerja di platform tersebut, ia lumayan terkenal, Ada sekitar sepuluh ribu penonton setiap kali Nesya melakukan siaran langsung. untungnya dari banyak penonton hanya sedikit laki-laki yang berasal dari Indonesia, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang luar negeri yang tingkah mesumnya lebih terbuka di banding dengan orang Indonesia.
“hmm,no. I’m sorry sir.”
Ucap Nesya pada penonton yang memintanya untuk membuka pakaian. Nesya tidak menuruti permintaan mereka yang memiliki permintaan di luar kodar, gadis cantik itu tidak segan-segan menolaknya walaupun dibayar dengan ratusan dollar, ia berpikir akan sangat berbahaya jika video bugilnya dilihat oleh penonton Indonesia yang diam-diam juga bergabung dalam platform tersebut.
“uhm, ah.”
Nesya mencoba mengusir kecewa dari hati penontonnya, gadis itu mendesah sambil sesekali menggigit bibir bawahnya seraya meremas-remas dua gundukan besar yang meluap ke permukaan, sembari menggoyangkan pinggul dengan lincahnya, geliatan tubuh seksi Nesya tak henti menimbulkan sedikit area terlarang yang sebenarnya tidak boleh diperlihatkan.
Mukan gadis itu memerah mengisyaratkan sebuah tanda bahwa ia sedang orgasme ketika melihat tubuh seksinya sendiri yang terpampang dari kamera handphone. Tak ingin terbuai, Nesya mencoba menahan hasratnya. Sudah beberapa kali gadis itu menggigit bibir bawahnya karena tidak tahan dengan hasrat yang memuncak.
Ingin sekali ia melampiaskannya namun bingung dengan cara apa, tidak mungkin kan harus menyewa berondong hanya untuk menyalurkan hasrat yang nikmatnya hanya sesaat.
Beginilah jika bekerja sebagai pemuas nafsu orang lain, mau tak mau ia juga harus terlibat didalamnya. Bagi Nesya, taka apa jika ia harus menjalani pekerjaan hina dan memalukan ini. toh ia juga menikmatinya dan tidak ada orang yang tahu jika dia bekerja seperti ini, kecuali Cika sahabatnya sendiri.
hasilnya juga lebih menjanjikan dari pada harus kerja keras siang malam di minimarket. Tanpa pekerjaan ini dia tidak mungkin bisa menyewa apartemen mewah yang sekarang ia tinggali. Berkat pekerjaan ini juga ia bisa membiayai pendidikan Rifki, adik kandungnya.
***
“Nes!, lo udah selesai live nya?” teriak Cika dari luar kamar.
Nesya menutup menutup handphonenya dan membuka pintu kamar.
“udah dong, sekarang giliran lo.”
“ya ampun, Nes, lo live masih gitu-gitu aja, haha emang penonton puas?”
“gua ambil aman aja Cik.”
“ya ampun bestie, kenapa? Lo takut kesebar ? penonton itu gak mungkin sebarin video kita, kalo ketahuan mereka bisa kena hukum nanti, jadi lo tenang aja bestie “
“Dasar cewek bar-bar.emangnya gua lo! Yang gak ada takut-takutnya?”
“sekarang lo jangan kemana-mana. Perhatiin cara gua live biar bisa dapetin ratusan dollar. Oke?”
Cika duduk di ranjang empuk Nesya dan memulai siaran langsungnya di platform yang sama dengan Nesya.
Nesya duduk tepat di hadapan Cika .ia memperhatikan Cika yang tampak memberikan arahan pada Nesya agar mendapat saweran yang lebih fantastis. Sebenarnya Nesya sendiri agak gelid an risih melihat penampilan Cika yang lebih berani darinya.
Jika dibandingkan dengan dirinya, keterampilan menari Cika lebih hebat. Cika juga tidak segan-segan memakai pakaian yang lebih seksi di banding Nesya, baju mini yang dipakai Cika hanyalah hiasan yang menutupi dada dengan pay*d*ra besar miliknya dari sebuah titik hitam yang haram siperlihatkan. Cika juga memakai rok mini tanpa dalaman apapun.
Cika menggigit jarinya sambil mengayunkan kaki jenjang yang menyilang menutupi sedikit area terlarang miliknya. Ia kemudian memulai tarian erotis yang membuat siapapun penontonnya akan panas dingin.
“Cik,cik lo ngapain?”
Bisik Nesya pelan. Namun Cika mendekatkan jari telunjuknya ke bibir,ia mengisyaratkan Nesya untuk diam dan cukup memperhatikan saja.Nesya menurtinya walapun merasa risih.
“Ok sir I;m coming please keep your promise to pay more if do that.”
“Nes, perhatiin nih ya, ini waktu yang pas buat dapetin saweran tinggi.”
Gadis itu mulai membuka bajunya dengan pelan hingga terlihat dua gundukan besar di dadanya. saat itu juga penonton di siaran langsungnya mulai meningkat dan memberikan saweran dengan nominal yang bermacam-macam.
***
Setelah sekitar 45 menit, akhirnya Cika menutup siaran langsungnya.
“gimana bestie,penampilan gua? “
Ucap cika pada Nesya.
“gila bestie, lo berani banget.”
“kalo gak berani gak mungkin bisa dapat segini.”
Jawab Cika sambil menunjukkan saldo yang ia dapat dari hasil siaran langsung beberapa menit yang lalu.
“wah,serius ini hasil hari ini doing? Gila banyak banget.”
“iya dong, besok kita shopping. Gua yang traktir.”
“uwah serius nih, aduh baik banget bestie aku.makasih ya.”
“sama-sama bestie, lo belum sholat kan? Lo sholat dulu gih sana, habis itu gua nyusul.
Nesya kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Walaupun dengan pekerjaan seperti itu Nesya selalu taat melaksanakan shalat lima waktu. Ia tidak perduli jika shalatnya diterima atau tidak.
Baginya wanita pendosa juga berhak melaksanakan kewajiban dan meminta ampunan pada Yang Maha Kuasa.
Tidak sampai sepuluh menit melaksanakan sholat, Nesya masih duduk bersimpuh di atas sajadah merah miliknya.
Cika memperhatikan gerak-gerik Nesya yang berulang kali menghela nafas, bukan sekali ini saja,tetapi setiap berada di waktu yang senggang Nesya seperti memikirkan sesuatu yang sangat berat, hingga membuatnya khawatir.
Nesya yang masih bersimpuh tampak memandangi sebuah foto usang, dalam foto tesebut terlihat satu orang perempuan dan laki-laki. wajahnya tidak begitu jelas namun masih bisa dikenali. Mereka adalah orang tua Nesya.
***
“kenapa sih harus mereka yang gua benci.” ucap Nesya sambil mengelus foto tersebut.
Tanpa sengaja Cika mendengar rengekan Nesya, ia kemudian menghamprinya dan mencoba menghibur Nesya.
“Sabar Nes, sabar, nanti juga mereka bakal nyesel nelantarin loh! “ jawab Cika.
“emang harusnya gitu Cik, gara-gara mereka hidup gua hancur.”
“lo yang sabar ya, gua dulu juga gitu, tapi semenjak orang tua gua udah gak ada akhirnya gua mulai iklas. Lo harus bisa berdamai sama masa lalu”
Mendengar ucapan Cika, Nesya terdiam sejenak, pikiran tentang masa lalunya kembali mengambang, ia tampak membendung air mata yang sebentar lagi akan meluap ke permukaan. Mudah sekali jika mendengar kata iklas, setelah sekian lama ia menelan pahit atas kelakuan orang tuanya sendiri.
sudah beberapa tahun semenjak dicampakkan oleh Nur dan Gozali, Nesya belum juga bisa menerima hidupnya sekarang. Baginya kekacauan yang ia lalui adalah dampak dari kesalahan Nur dan Gozali.
orang tua yang tidak bertanggung jawab itu mungkin sudah bahagia dengan keluarganya masing-masing, berbeda dengan Nesya yang harus menderita seorang diri di kota sebesar ini. Tidak adil rasanya jika Nur dan Gozali tidak memuai karma, setidaknya mereka juga harus menyesali perbuatan mereka karena sudah mencampakkan Nesya dan Rifki.
“Udalah Nes, kalau lo mau nangis, tinggal nangis aja. Biar pikiran tenang.” Ujar Cika
Nesya sudah tidak tahan lagi, ia menumpahkan seluruh air matanya sambil memeluk Cika.
“hiks, hiks gua, guaa gak bisa gini terus Cik, gua harus bisa ngelupain masa lalu gua.”
“iya, iya Nes, gua ngerti kok perasaan lo.sekarang lo tarik nafas dan istighfar. Lo tenang ya, ada gua kok yang selalu ada buat lo. “
“thanks ya Cik, udah jadi sahabat terbaik gua.”
“sama-sama bestie ku yang cantik.”
Nesya merasa lega karena sudah meluapkan isi hatinya, ditambah Cika juga bisa menguatkan mentalnya. Ia tak tahu apa yang akan terjadi di dalam hidupnya. Jika saja tidak ada sahabat seperti Cika mungkin sekarang ia sudah bunuh diri.
Waktu itu saja Nesya hampir pernah ingin mengakhiri hidupnya dengan terjun dari jembatan ,namun Cika dengan sigap menahannya. Cika kemudian memberikan Nesya tumpangan hidup dan mencarikan Nesya pekerjaan. Hingga akhirnya mereka kenal lebih dekat dan selalu berbagi kisah satu sama lain. layaknya saudara kandung, tidak ada kemunafikan diantara keduanya.
“woy Cik, molor aja lo! Mentang-mentang hari minggu.”
“apaan sih Nes, gua mager!”
“lo mau ikut gua lari pagi sambil beli sarapan gak?”
“duh, gua masih ngantuk lo sendirian aja, tapi gua nitip ketoprak satu ya.”
“Kebiasaan banget lo ya!. yaudah gua berangkat dulu.”
sambil mencari santapan pagi untuknya dan Cika , Seperti biasa Nesya mengawali paginya dengan berolahraga dan lari kecil ditaman kota, sambil menghirup udara pagi sebelum polusi menyergap.
Nesya selalu melakukan aktivitas ini setiap pagi, tidak heran jika dia mendapatkkan tubuh ideal yang banyak di idam-idamkan oleh kaum hawa.
Selama diperjalanan Nesya selalu menjadi pusat perhatian setiap pasang mata,terutama kaum adam. Bahkan sampai ada yang meminta berfoto dengannya karena mengira Nesya adalah seorang public vigur.
“mbak, mbak! Kamu selebgram ya?”
Ucapan dari salah satu remaja laki-laki itu menghentikan langkah kaki Nesya. ia kemudian membalikkan tubuhnya dan balik bertanya pada remaja itu.
“siapa? Saya?” Jawabnya bingung.
“ya iyalah mbak, masak nenek-nenek itu.”
Jawab remaja itu sambil menunjuk kearah wanita tua yang sedang menyapu dedaunan di bibir jalan.
Nesya menggelengkan kepala pada remaja tengil yang baru saja bertanya padanya. Selebgram? bagaimana bisa ia menjadi selebgram. sedangkan social media saja tidak punya. Nesya hanya memiliki satu social media yang menurutnya penting saja seperti whatsapp. Berbeda dengan Cika yang selalu up to date soal media sosial.
Tidak menghiraukan perkataan remaja tengil itu, nesya melanjutkan langkahnya dengan berlari kecil menyusuri jalan di taman, sambil mencari jajanan pagi.
“yah, udah pegi aja tu cewek.” Gumam remaja tadi.
“nah, akhirnya kena juga, cepet beliin kakak sarapan!” ucap seorang laki-laki dengan nafas yang masih terengah engah.
Setiap pasang mata perempuan akan terkecoh melihat ketampanan laki-laki itu, ia memiliki tubuh gagah dan wajah tampan yang simetris. Membuat siapa saja perempuan melihatnya pasti akan menelan ludah. Siapa sangka lelaki itu adalah Farel.
“kena nih gua!”
“gua gue gua gue. Sudah berapa kali kakak peringatkan Den, bicara dengan orang yang lebih tua dari kita harus sopan. “
“ceilah, sok tua.”
“apa kamu bilang?”
“maaf kak, kak lihat deh ada yang mau terjun di gedung!”
Ucap Deni, ia berupaya mencari celah agar bisa kabur dari laki-laki itu.
“mana Den?”
Farel sadar ia telah dibohongi oleh adiknya, lagi-lagi Deni sudah kabur dari pandangan Farel. Dia sudah kehabisan tenaga untuk mengejar Deni, akhirnya ia berniat untuk singgah disebuah warung bubur ayam yang terletak beberapa meter di hadapannya.
***
“pak bubur ayamnya…”
Kata-kata Farel terhenti ketika menyaksikan seorang perempuan duduk di ujung bangku warung milik pedangan bubur ayam, begitupun juga perempuan itu. Tampak dari pandangannya ia juga terkejut melihat keberadaan Farel. Itu adalah Nesya, cinta pertama Farel.
Farel sempat terdiam kaku, ia tidak tahu harus memulai langkah dari mana, matanya berbinar ketika menatap Nesya. ingin rasanya ia membuka mulut dan meluapkan isi hatinya pada Nesya, tetapi lagi-lagi bibirnya kaku untuk memulai bicara.
Nesya merasakan kehadiran Farel, ia membuang muka ketika laki-laki itu menatapnya tanpa henti. Perasaan Nesya sudah dikuasai oleh kekecewaan yang sangat mendalam, hingga menatap Farel lama saja ia enggan.
“Pak, dibungkus aja dua-duanya.”
Ucap Nesya pada penjual bubur ayam yang sibuk meracik bubur pesanan pelanggan lainnya.
“loh neng, katanya mau makan disini.”
“gak jadi pak dibungkus aja.”
“oke tunggu ya, itu masnya tadi mau makan disini atau di bawa pulang juga?”
“di bawa pulang aja pak.”Jawab Farel.
Nesya berusaha tenang menahan amarah yang bergojolak dalam dirinya, setiap mendengar suara Farel ia merasa ingin mencabik-cabiknya.laki-laki itu sudah melakukan kesalahan besar di masa lalunya,hingga menyisakan luka yang mendalam bagi Nesya.
Dulu, Nesya berharap banyak pada Farel, tetapi ia malah ditinggalkan tanpa alasan. Padahal saat itu hanya Farel lah yang ia harapkan selalu ada saat berada di dalam keterpurukan dan kesepian ketika ditinggalkan oleh orang-orang yang ia sayangi dari sebuah tragedi kecelakaan kala itu.
Farel juga yang menjadi alasan Nesya untuk merantau dikota ini,ia berharap jika meninggalkan kampung halamannya itu, maka semua kenangan bersama Farel akan Lenyap, tetapi sekarang ia malah dipertemukan lagi, hingga membuat kenangan yang sudah ia kubur dalam-dalam mau tak mau harus terkuak kembali.
Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada Farel, tetapi jika bertanya sekarang rasanya sudah basi, tidak ada lagi celah baginya agar bisa memaafkan Farel.
tidak ada gunanya mengetahui semua alasan Farel sekaranf, setelah sekian lama berlalu penuh luka dan kekecewaan. Rasa cintanya pada Farel di masa lalu sudah dikalahkan dengan kebencian serta kekecewaan yang teramat dalam.
Laki-laki memang tidak pandai menjaga hubungan, mereka selalu pergi tanpa memberi alasan yang jelas. Hingga menimbulkan ribuan pertanyaan. Lalu mereka akan datang kembali dengan beberapa alasan basi, berharap semua perempuan iba dan akan memaafkan mereka. ketahuilah, hanya perempuan bodoh yang memiliki hati selembut itu.
***
“ini neng, jadi semuanya dua puluh ribu.”
Nesya menyodorkan uang seratus ribu miliknya.
“aduh, neng gede amat duitnya, toko bapak baru rame, baru ada kembalian lima puluh ribu kurang tiga puluh ribu lagi. duit pas aja ya.”
“yaudah pak saya,..”
“biar saya aja pak bayar.” Potong Farel.
“tidak usah! saya tidak suka berhutang budi pada orang lain.kembaliannya ambil aja pak.”
“waduh kegedean neng,neng!”
Nesya melangkahkan kakinya dengan cepat tanpa menghiraukan teriakan tukang bubur itu.
“tunggu!”
Farel mencoba menghentikan langkah kaki Nesya. ia menghampiri Nesya yang terdiam kaku dihadapannya.
“Nesya, bagaimana kabarmu?”
Sejenak, Nesya tidak menjawab pertanyaan Farel, ia hanya menatap Farel dengan tatapan penuh kebencian.
“apa selama ini kamu baik-baik saja?” Tambah Farel.
Nesya mendekatkan dirinya pada Farel hinga tubuhnya dan Farel hanya berjarak beberapa senti saja.
“menurut kamu?” jawab Nesya sinis
“syukurlah jika kamu baik-baik saja. Sekarang kamu tinggal dimana? Dengan siapa?”
“kalau ada banyak sekali pertanyaan, kenapa dulu pergi begitu aja? Bukankah sekarang tidak ada gunanya lagi bertanya seperti itu.”
Jawaban Nesya mengkhakhiri percakapannya dengan Farel. Saat itu juga Nesya langsung pergi meninggalkan Farel tanpa mendengarkan sepatah kata jawaban apapun dari Farel. dengan perasaan kesal, benci, kecewa ia terus berlari menuju apartemennya. Hingga tidak sadar sepanjang jalan Nesya menangis yang membuat kedua matanya menjadi sembab.
“syukurlah, jika kamu membenciku Nes. Perbuatanku dimasa lalu tentu sangat menyakitimu. Hingga kata maaf saja tidak cukup menutup luka dan kecewamu. Hukuman ini masih terlalu ringan bagiku. Seharusnya aku tidak pantas hidup seperti ini” Gumam farel dalam hati.
Braak..!
Nesya membanting pintu apartemen sangat keras, hingga suara bantingan pintu itu membangunkan Cika dari tidurnya. Cika melihat raut wajah Nesya yang sembab dan penuh kekesalan.
“hiks, hiks, hiks”
“lo kenapa Nes?”
“kenapa sih cik, gua harus ketemu lagi sama dia?”
“dia siapa Nes?”
“Farel!”
“bagus dong lo ketemu lagi sama dia, sekalian lo minta penjelasan kenapa dia bisa pergi gitu aja.”
“percuma Cik, gua juga gak butuh alasan apapun lagi dari dia. Gua benci banget sama dia. Sebenarnya gua udah gak berharao bisa ketemu lagi sama dia. Tapi kenapa tadi harus ketemu sih, hik, hiks, hiks.”
Cika mencoba menenangkan Nesya. Dengan sedikit nasihat yang ia tahu.
“sekarang lo maunya gimana?”
“gua gak tau Cik, gua gak bisa sekota sama dia, kayaknya gua mau pindah aja deh.”
“iiiih Nesya, jangan gitu. Lo gak bakal bisa tenang kalo menghindar terus, sebaiknya lo gak usah peduliin lagi laki-laki itu, lo ngertikan? Sekarang lo siap-siap kita healing kemana aja. Okey bestie?”
Kata-kata Cika sedikit menghibur Nesya, Cika benar. Mungkin maksudnya move on bukan tentang kita yang bisa melupakan segalanya di masa lalu. tetapi, tentang kita yang bisa menerima kepahitan itu dengan lapang dada.
apapun peraasan yang muncul saat ini seharusnya jangan dibiarkan menjalar sampai ke dalam. rumit memang, tetapi akan lebih rumit jika terus berkabung dengan masa lalu itu sendiri. Kebencian dan kekecewaan merupakan kewajaran untuk hubungan yang tidak berhasil. iklas tidaknya terima saja, nanti semua perasaan itu akan terkubur dengan sendirinya.
***
“bestie, lihat penampilan gua, udah kayak mbak-mbak sosialita belum?”
Ucap Cika sambil memperagakan tubuh layaknya model professional.
“widih, cakep banget sahabat gua. Tapi masih cakepan gue, hehe." ledek Nesya
Sesuai rencana hari ini, Nesya dan Cika sudah siap dengan penampilan masing-masing. Nesya tampil dengan pakaian sederhana namun terkesan berkelas dan elegan,Ia memakai dress putuh selutut dengan rambut yang dibiarkan terurai sedada.
Nesya juga memoles wajahnya dengan riasan natural. Tidak perlu berlebihan, tanpa dipolespun wajah gadis itu akan memancarkan aura cantiknya.
Sedangkan Cika berdandan dengan sedikit heboh namun tidak terkesan norak, ia memakai riasan yang lebih mencolok daripada Nesya. hingga membuat gadis itu terkesan berani.
Melihat dari penampilan dua gadis tersebut, mereka layaknya seperti wanita karir dengan kesibukaan mengejar deadline di perusahaan. Dan sekarang sedang mencoba merasakan healing dari pekerjaannya.
Berkat Cika, sekarang Nesya perlahan mulai membiasakan membuka diri untuk dunia luar, Nesya seorang introvert, aslinya ia tidak terlalu suka bergaul dengan orang lain, mungkin karena sudah terbiasa hidup sendiri. pekerjaan yang sekarang dijalaninya juga merupakan sebuah alasan kenapa gadis itu menjadi tidak percaya diri.
Tidak seperti gadis muda lainnya yang sibuk jalan-jalan. Nesya lebih suka menikmati hari-harinya di rumah, mungkin taman adalah tempat yang sering dikunjungi karena hampir setiap hari ia lari pagi disana, selebihnya dia akan menutup diri di apartemennya.
Jika bosan gadis itu akan menonton tv atau memboca novel romantis. Lagi pula, era ini serba online, jika malas memasak bisa memasan makanan dari aplikasi, jika ingin shopping tinggal membuka marketplace hijau atau orange, semua kebutuhan pasti ada disana.
***
“hallo pak kita udah di depan gerbang apartemen ya.”
Ucap Cika memberitahu taksi online melalui panggilan telepon.
“taksinya udah dimana Cik?”
“udah deket bentar lagi nyampe katanya.”
Nesya dan Cika kemudian duduk di lobby appartement sembari menunggu jemputan taksi online yang mereka pesan melalui aplikasi.
“permisi nona, apakah saya boleh meminta kontak whatss app anda?”
Seorang pria tiba-tiba meracaukan Nesya. tanpa angin dan hujan pria tersebut tiba-tiba saja meminta kontak Nesya. sangat tidak sopan.
Tetapi, jika dilhat dari wajahnya pria setengah baya itu terlihat seperti pria jahat yang memiliki banyak modus. Dia bahkan terlihat lugu dengan mata sayu. Namun, wajah pria itu tampak menyeramkan karena terlihat bekas luka bakar yang sangat parah.
“maaf, bapak siapa ya? kenapa meminta kontak saya? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”
Ujar Nesya dengan nada sopan. Pria setengah baya yang menggunakan seragam hitam khusus sopir pribadi itu tampak menundukkan kepala , pria itu tidak berani menatap wajah Nesya. Dia seperti ingin mengutarakan sesuatu namun seperti kebingungan.
“Maaf nona, saya hanya menjalankan perintah Bos saya.”
Jawab pria itu dengan wajah yang masih tertunduk.
“siapa bos anda pak? Kenapa tiba-tiba ingin meminta kontak saya.?” Tanya Nesya lagi.
“maaf nona, saya tidak diizinkan untuk memberitahu nona. Yang pasti bos saya akan menawarkan hadiah yang sangat besar, jika nona bisa bekerja sama dengannya.”
“udah Nes lo kasih aja, siapa tau bos nya itu jodoh lo.” Bisik Cika.
“Maaf pak, tapi-“
“ini pak, ambil kartu nama saya saja. Saya adalah manager Nesya.”
“apaan sih Cik, Maneger apanya?”
“ssst, diam.”
Cika menyeringai kearah Pria tadi.
“Tarimakasih nona, bos saya akan segera menghubungi anda.saya pamit dulu”
***
Di dalam taksi online yang mereka tumpangi, tampak Nesya yang sedang badmood karena kelakun Cika yang bertindak semaunya saja. Gadis itu berulang kali menghela nafas dan mennjukkan wajah masam pada sahabatnya.
“duh, bestie masih ngambek aja.”
“lagian lo kenapa sih Cik asal welcome aja sama orang yang gak dikenal.”
“gua itu memberi kesempatan buat lo Nes.”
“kesempatan apa? Kesempatan jadi model? Artis? Gak mungkinlah Cik, lo taukan kita udah sering ngadepin produser-produser palsu.”
“iya juga sih, tapi mana tau aja kali ini adalah keberentungan bagi kita.”
“jangan mimpi deh, apa lo yakin, bos bapak tadi mau ngajak kerja sama jadi model mereka. Haha mana tau aja mereka agen perdagangan perempuan. Kan serem Cik.”
“haha Kebanyakan nonton film sadis lo Nes, gak mungkin lah kita bisa terjebak gitu aja. Lo gak tau siapa sahabat lo ini? “
“siapa?”
“pegawai me-chat. Haha"
Candaan mereka kala itu memecah heningnya malam, di sepanjang perjalanan Cika tak hentinya bergurau hingga Nesya melupakan kekesalannya.
Sudah sekitar dua puluh menit di perjalanan, mereka tiba di tempat tujuan. Nesya dan Cika tampak sangat tidak sabar masuk ke pasar swalayan terbesar di pusat ibukota.
Di sepanjang jalan yang mereka lalui, ada banyak pajangan berupa pakaian, sepatu, make up dan sejenisnya. Inilah surge para perempuan.
“Cik, liat deh kira-kira ini cocok gak sama gua?”
Kata Nesya seraya menampilkan dress warna hitam bermotif polkadot.
“Gak. Lo pantesnya pakai yang itu.”
Jawab Cika menunjuk kearah dress lengan sejari yang terpampang di patung.
“yah, itu gaya lo kali.”
Belum menemukan pilhan yang cocok, Nesya dan Cika masih menyusuri setiap sudut mall.
Nesya terhenti di depan sebuah toko, ia tampak memperhatikan kedua orang tua yang sibuk memilah baju couple kemudia meminta pendapat anak-anak mereka.
Jika melihat pemandangan seperti itu, terlintas rasa iri di hati Nesya. dulu ia sangat ingin memiliki orang tua yang harmonis dan keluarga yang utuh, tetapi sepertinya hal itu tidak tertulis di dalam scenario hidupnya.
Nesya menepis air mata yang tidak sengaja jatuh ke pipihnya, gadis itu tiba-tiba menjadi lemah, ketika terkenang akan masa lalunya. Di dalam lubuk hati yang terdalam dia masih merindukan Nur dan Gozali. Tetapi, mengingat perlakuan mereka di masa lalu, rasanya sulit menyingkirkan kecewa yang sekarang sudah menjelma menjadi dendam.
Gadis itu terlalu lemah jika harus berurusan dengan masa lalu.