“Dik, nanti istirahat ketemu saya di ruang kesehatan.”
Indira menatap bingung dengan apa yang dilakukan pria itu, pria yang tidak lain seniornya. Mengalihkan kembali pandangan ke depan dan mencoba fokus tapi tetap saja memikirkan perkataan senior tadi, menatap Mita yang berada disampingnya dengan tatapan bingung.
“Tadi siapa?” bisik Indira.
“Kayaknya senior deh, kamu nanti jangan lupa kesana.” Mita mengatakan tanpa menatap Indira.
Materi yang disampaikan berjalan cukup lama, Indira mulai mencatat apa saja yang penting. Mendengarkan semuanya tanpa ada yang terlewatkan, menjelang istirahat tugas diberikan dengan membentuk kelompok berdasarkan absen.
“Jangan lupa ke ruang kesehatan,” ucap Mita mengingatkan.
“Hampir aja lupa,” ucap Indira sambil memukul keningnya pelan.
“Kalian ke kantin?” tanya Lia, salah satu mahasiswi baru sama seperti Indira dan Mira.
“Aku yang ke kantin,” jawab Mita.
“Kamu?” Lia menatap Indira.
“Dipanggil sama senior, kalian ke kantin aja. Aku nitip minum sama roti ya.” Indira memberikan uang pada Mita.
Mereka bertiga keluar dari ruangan, langkah Indira berhenti di salah satu pintu sedangkan kedua temannya melanjutkan langkahnya menuju kantin. Indira menatap pintu bingung, tidak tahu siapa nama senior yang memanggilnya tadi.
“Cari siapa?” tanya salah satu senior wanita.
“Gue panggil dia,” sahut senior pria yang tadi memanggil Indira sebelum membuka mulut “Ayo ikut.”
Indira memilih mengikuti langkah senior yang memanggilnya, memasuki ruangan yang tampak sepi. Menutup pintu dengan pikirannya masih bertanya-tanya tentang apa kesalahan yang baru saja dirinya lakukan sampai-sampai harus dipanggil oleh senior, tidak berani menatap senior pria yang bersandar di meja dengan Indira dihadapannya.
“Indira Pradipta, kamu tahu letak kesalahan kamu kenapa saya panggil?” Indira langsung menggelengkan kepalanya “Kamu tidak menghargai senior yang berbicara di depan sampai-sampai melamun?”
Indira menatap senior pria dihadapannya dengan tatapan terkejut, seketika dirinya ingat berada dimana sekarang. Fakultas psikologi, orang-orang yang berada disini pastinya belajar membaca bahasa tubuh dan ekspresi wajah jadi tahu apa yang ada didalam isi kepala atau dipikirkan oleh orang tersebut.
“Kenapa diam? Benar kata-kata saya? Apa senior kamu terlalu membosankan sampai-sampai kamu tidak mau mendengarkan?”
“Bukan begitu, kak.” Indira langsung membantahnya.
“Lalu?”
“Tiba-tiba aja blank.” Indira memberikan alasan yang sangat masuk akal.
Senior dihadapannya hanya menggelengkan kepalanya “Kamu beruntung karena saya yang tahu coba kalau senior lain pasti habis.”
“Maaf, kak.” Indira menundukkan kepalanya merasa tidak enak dan bersalah.
“Kamu tahu siapa saya?” Indira langsung menggelengkan kepalanya “Fajar Putra Mardani panggilannya Fajar, ingat nama ini baik-baik.”
“Baik, kak.” Indira menganggukkan kepalanya masih tidak berani menatap seniornya, Fajar.
“Saya mau kasih hukuman buat kamu.”
Indira mengangkat kepalanya terkejut dengan kata-kata Fajar, tidak menyangka akan mendapatkan hukuman di hari pertamanya masuk perguruan tinggi. Menatap Fajar dengan harapan yang di dengarnya tidak benar, bisa dikatakan salah mendengar apa yang dikatakan Fajar.
“Kamu mau tahu hukumannya?” tanya Fajar.
Indira menganggukkan kepalanya ragu tanpa melepaskan tatapan pada Fajar, senyum kecil terlihat di bibir Fajar membuat Indira menatap terkejut. Menggelengkan kepalanya cepat, tidak boleh terpesona dengan senior yang baru dikenalnya ini.
“Bagaimana mau tahu hukumannya?” Fajar bertanya lagi yang diangguki Indira “Saya nggak tahu kamu mau tahu atau tidak, memang kamu mau dihukum?”
“Nggak mau dihukum, kak.” Indira menjawab cepat.
Indira melihat Fajar memberikan kantong plastik yang tadi dibawanya, menatap bingung atas kantong plastik yang diberikan Fajar. Tatapan mereka bertemu, Fajar seakan memberitahukan Indira untuk mengambil kantong plastik, sedikit ragu Indira mengambilnya dengan tatapan bingung.
“Kamu makan dulu,” ucap Fajar dengan menunjukkan kantong plastik yang ada di tangan Indira “Saya nggak tahu kamu suka atau tidak.”
“Terima kasih, kak. Pasti aku makan setelah ini.” Indira langsung menjawabnya.
Fajar menganggukkan kepalanya “Lebih baik kamu istirahat dulu masalah hukuman saya pikirkan terlebih dahulu.”
“Baik, kak.” Indira menanggapi dengan sopan.
Keluar dari ruangan dengan bertanya-tanya, seharusnya bukan hanya dirinya saja yang tidak memperhatikan orang berbicara didepan tapi kenapa hanya dirinya saja yang dipanggil. Menggelengkan kepalanya untuk tidak berpikir aneh-aneh, bisa saja memang dirinya yang sedang apes.
Melangkahkan kakinya menuju musholla untuk melakukan ibadah, langkah Indira terhenti saat melihat Fajar berada didepan dan mereka akan melakukan jamaah. Melihat itu membuat Indira langsung menggunakan mukena dan bergabung bersama, setelah selesai Indira kembali ke ruangan dan teringat kantong plastik yang diberikan Fajar dengan segera dibuka dan dimakannya.
“Ini pesanan kamu,” ucap Lia yang mengambil tempat duduk disamping Indira “Kamu satu kelompok sama siapa?”
“Makasih, aku belum ketemu anak-anaknya yang mana. Mita kemana?”
“Mita di musholla, memang siapa saja anak-anaknya?” Indira langsung mengambil catatan dan memperlihatkan pada Lia “Shinta, tadi duduk disampingku kalau yang lain nggak tahu aku.”
“Nanti aku cari,” ucap Indira langsung menerima bukunya.
Memilih tidak banyak bicara dengan menikmati pesananannya, Indira sudah makan dua bungkus roti. Lia sendiri masih setia duduk disamping Indira dengan memainkan ponselnya, mencoba untuk tidak peduli dengan menikmati makanannya.
“Aku tadi lihat ada senior cakep banget.” Lia membuka suara membuat Indira menatap kearahnya “Tadi memang kamu kemana? Habis melakukan kesalahan apa?”
“Dipanggil ke ruang kesehatan, nggak tahu salahnya apa mungkin lagi apes aja.” Indira mengangkat bahunya saat menjawab.
Indira juga tidak bertanya tentang senior yang dimaksud, bagi dirinya senior semua sama. Tampan atau tidak bukan utama dirinya mencari pasangan, Indira lebih menyukai pria dewasa dengan ibadahnya yang bagus.
“Indira ya?” suara seseorang membuat Indira menatap kearahnya “Tio, kita satu kelompok. Nanti selesai acara ngerjain tugasnya ya.”
“Ok, yang lain udah tahu siapa saja?” Indira langsung menanggapi Tio.
“Sudah, tapi ada beberapa yang belum. Kita ketemu di gazebo ya nanti.” Tio menjawab yang diangguki Indira.
Menatap Tio yang berjalan menjauh dari mereka, tampaknya memang Indira harus mengenal banyak anak disini. Menatap sekitar dan ruangan terisi penuh, tampaknya yang keterima di tahunnya sangat banyak dan tidak mungkin mengenal mereka satu per satu dengan cepat.
“Mas Wahyu tadi bilang kalau angkatan kita paling banyak dibanding tahun sebelumnya,” ucap Lia seakan paham dengan yang dilakukan Indira dan membuat Indira menatap kearahnya.
“Gimana bisa kenal sama mereka cepat?”
Acara orientasi berlangsung sampai sore, Indira sendiri sudah lumayan lelah dan merindukan ranjangnya. Acara selesai langsung lanjut dengan mengerjakan tugas, Indira sudah benar-benar lelah dan membutuhkan istirahat, beberapa kali mamanya menghubungi tentang keberadaannya dan dijemput jam berapa.
.
Fokus dengan tugas yang dikerjakan, perlahan Indira mulai mengenal beberapa anak itupun juga dari teman-teman satu kelompoknya saja. Indira baru mengetahui dan bertemu dengan anak dari saudara papanya dan itu artinya mereka masih mempunyai hubungan saudara meskipun jauh, hebatnya lagi Indira satu kelompok dan memiliki nomer absen yang tidak terlalu jauh.
Tugas yang dikerjakan bersama akhirnya selesai sudah, membagi tugas tentang siapa yang mengeprint dan menjilidnya menjadi satu. Indira sudah menawarkan tapi nyatanya ada yang lebih cepat, akhirnya mereka satu per satu pulang tapi ada juga yang masih bertahan di gazebo untuk saling mengenal satu sama lain.
“Dijemput?” tanya Dita, saudara Indira yang baru ditemuinya.
“Belum, kamu sendiri bagaimana?” tanya Indira sambil menatap Dita.
“Bentar lagi mama mau sampai, mau bareng?”
Indira langsung menggelengkan kepalanya “Pak Dirman kasihan nanti, sudah perjalanan kata mama nanti salam buat tante aja.”
Tidak lama Dita pulang setelah mamanya sudah sampai depan gazebo, meninggalkan Indira dengan teman-teman yang lain tapi mereka sibuk sendiri-sendiri. Sisi gazebo lainnya masih ada yang mengerjakan tugasnya, sedangkan teman satu kelompoknya asyik sendiri berbicara yang Indira tidak paham apa.
“Indira, belum dijemput?” Indira menatap seseorang yang menyapanya tidak lama kemudian ingat jika yang menyapanya teman satu kelompok, Shinta.
“Belum, kamu udah mau pulang?” Indira menatap Shinta yang sudah siap pulang.
Shinta menganggukkan kepalanya “Aku tinggal dulu ya keburu malam, mau istirahat. Masih ada teman lain juga yang lagi ngerjain.”
Indira menganggukkan kepalanya “Kamu pulang aja, ati-ati.”
Menatap punggung Shinta yang menjauh bersama seseorang yang lagi-lagi Indira lupa namanya, Indira mencari keberadaan Mita dan Lia di sisi gazebo lain tapi nyatanya tidak ada sama sekali. Menatap ponselnya ingin menghubungi orang tuanya bertanya keberadaan supirnya, tapi segera dihentikan karena percuma saja.
“Belum dijemput?”
Indira mengalihkan pandangan pada sumber suara, menatap Fajar yang sudah duduk disampingnya. Indira menatap sekitar sedikit takut dengan pandangan orang lain, pasalnya saat ini duduk berdampingan dengan senior. Indira tidak tahu siapa sebenarnya Fajar, bagaimana tahu mereka baru bertemu beberapa jam yang lalu dan seniornya ini akan memberikan hukuman tapi belum mengatakan apa yang harus dirinya lakukan.
“Kamu belum dijemput?” tanya Fajar lagi.
“Masih perjalanan, kak. Kakak kenapa belum pulang?” Indira mencoba bersikap sopan dengan bertanya balik.
“Nungguin kamu pulang,” jawab Fajar yang membuat Indira membuka mulutnya mendengar perkataan Fajar “Bercanda, tadi habis kumpul sama anak-anak BEM buat bahas lomba besok.”
“Besok isinya lomba?” tanya Indira langsung.
Fajar menutup mulutnya “Waduh...aku kelepasan bicara! Kamu pura-pura nggak tahu aja besok biar aku nggak dimarahin Wahyu.”
Indira hanya diam mendengarkan dan menatap apa yang dilakukan Fajar, menggelengkan kepalanya pelan melihat semua sikap Fajar. Mengalihkan pandangan kearah jalanan yang ada di gazebo berharap supir segera datang, menatap jam yang tampaknya beberapa menit lagi akan datang.
“Kamu sudah shalat tadi?” tanya Fajar tiba-tiba.
“Sudah tadi, kak.” Indira menjawab sopan.
“Besok biar aku yang antar pulang daripada kamu nunggu dijemput kaya gini.” Fajar memberikan usul yang lagi-lagi membuat Indira menatap bingung dan terkejut.
“Apa ini hukuman yang mau kakak berikan ke aku?” tembak Indira langsung.
“Hukuman?” tanya Fajar yang diangguki Indira “Oh...bukan, nggak ada hubungan sama sekali sama hukuman. Masalah hukuman aku belum memikirkannya, nanti kalau sudah tahu pasti akan aku katakan langsung.”
Indira semakin bingung dengan kata-kata Fajar, mereka baru bertemu tapi sikapnya sudah seperti bertemu dan berkenalan lama. Indira sedikit takut dengan apa yang akan dilakukan Fajar, pengalaman dengan pria belum terlalu bagus sama sekali, selama ini selalu memandang orang baik tanpa niat apapun termasuk niat yang buruk atau jelek sekalipun.
Suasana hening diantara mereka mendominasi, bahkan suara anak-anak yang berada di gazebo lainnya terdengar jelas. Indira sedikit merasa tidak nyaman dengan Fajar yang ada disampingnya, tidak mau menjadi bahan pembicaraan teman-teman atau seniornya. Indira tidak mau menjadi pusat perhatian dengan kedekatan bersama senior, pastinya saat ini menjadi pandangan banyak orang.
“Memikirkan apa?” tanya Fajar yang membuyarkan lamunan Indira.
“Bukan hal penting, kak.” Indira menjawab langsung.
“Kita tidak akan menjadi bahan pembicaraan tenang saja,” ucap Fajar seakan paham dengan apa yang Indira rasakan.
“Kakak baca pikiranku? Memang bisa?” tanya Indira penasaran.
“Nanti kamu juga akan diajari, nggak usah heboh begitu.” Fajar menenangkan Indira yang langsung mengerucutkan bibirnya “Kamu masih ingat tugasmu?”
“Tadi ngerjain tokoh psikologi, kak.” Indira menjawab langsung.
“Bukan itu, tugas lain.” Fajar mengingatkan lagi yang membuat Indira mengerutkan keningnya. “Kamu nggak ingat beneran atau gimana?”
“Tugas....astaga tanda tangan senior.” Indira menepuk keningnya pelan.
Indira mengeluarkan buku didalam tasnya untuk diberikan pada Fajar, gerakannya terhenti saat melihat Fajar tidak mengambil buku yang ada di tangannya. Indira menatap bingung atas apa yang dilakukan Fajar, tatapan mereka bertemu membuat Indira tidak tahu harus berbuat apa.
“Aku nggak mau tanda tangan sekarang.” Fajar membuka suaranya membuat Indira mengerutkan keningnya “Aku belum bilang mau kasih hukuman kamu apa.”
Indira menatap tidak percaya dengan apa yang Fajar katakan, bayangannya adalah hukuman itu tidak akan ada sama sekali atau bisa dikatakan lupa, tapi tampaknya tidak mungkin karena daritadi Fajar membicarakan mengenai hukuman dan parahnya sekarang tidak mau memberikan tanda tangan hanya karena belum memberikan hukuman.
“Kalau gitu Kak Fajar bisa beri hukuman sekarang,” ucap Indira langsung.
Fajar langsung menggelengkan kepalanya “Nggak, kalau aku kasih tahu sekarang yang ada kamu pasti akan langsung menghindar.”
“Kenapa harus menghindar?” tanya Indira bingung. “Kakak kan senior aku jadi buat apa menghindar?”
“Yakin tidak akan menghindar setelah tahu hukumannya?” tanya Fajar dengan tatapan penuh selidik yang dijawab anggukan kepala Indira dengan cepat.
Diam setelah memberikan jawaban pada Fajar, seketika menyesali apa yang dilakukannya tadi. Mereka baru saling mengenal, tidak mungkin memang Fajar memiliki niat jahat padanya, jika jujur justru Indira yang ingin memanfaatkan Fajar dalam pendidikannya.
“Aku pulang dulu, kak.”
Indira langsung berdiri saat melihat mobil keluarganya, menatap Fajar yang juga menatap dirinya. Memberikan anggukan singkat sebelum melangkah kearah mobil, masuk kedalam dan mendapati supir keluarganya tampak lelah. Indira menatap ke tempat dimana dirinya dan Fajar berbicara satu sama lain, tapi seketika tidak melihat keberadaan Fajar sama sekali. Indira mencari keberadaan Fajar, tidak lama melihatnya berjalan kearah parkiran motor bersama dengan teman satu angkatannya.
“Dia naik motor, aku kira dia naik mobil.”
“Game hari ini,” ucap Mita yang duduk disamping Indira “Kemarin kamu dijemput?”
“Ya, haduh game aja ini? Moga aku kuat.”
Mita menggenggam tangan Indira “Kalau capek istirahat aja, bilang sama senior-senior pasti dikasih.”
Melangkah ke halaman belakang perpustakaan, tempat yang digunakan untuk permainan. Indira tidak tahu permainan apa yang akan mereka lakukan, berbicara dengan Mita dan teman-teman yang lain sambil menunggu para senior datang.
“Kemarin aku lihat kamu sama Mas Fajar.” Lia membuka suaranya yang diangguki Indira “Kalian dekat?”
“Nggak juga, cuman temani aku sampai dijemput.” Indira memberikan jawaban sebenarnya.
“Dewasa dia, kriteria aku banget.” Lia mengatakan dengan ekspresi bahagia.
Indira saling menatap dengan Mita yang hanya bisa mengangkat bahu, mereka baru mengenal Lia jadi tidak tahu seperti apa dia sebenarnya. Indira sendiri tidak terlalu mengenal Fajar dengan baik, mereka baru bertemu kemarin dan tidak berbeda jauh dengan senior yang lain.
“Katanya dia MA,” ucap Lia yang membuat Indira dan Mita menatap bingung “Mas Fajar.”
Senior datang tidak lama kemudian, memberikan beberapa instruksi membuat pembicaraan mereka terhenti. Mendengarkan instruksi yang diberikan membuat mereka berjalan ke kelompoknya kemarin, Indira bersama dengan Sinta menjadi satu kelompok dan mereka duduk bersebelahan. Instruksi sudah diberikan membuat mereka langsung melakukan apa yang diminta, melakukan permainan.
Perminan yang dilakukan dengan kelompok lain, dimana satu orang berada didalam dan satu lagi diluar, bagaimana caranya mereka tidak ketangkap satu sama lain. Permainan yang mereka lakukan memang seru dan menyenangkan, Indira melupakan satu hal yaitu penyakitnya yang membutuhkan istirahat. Permainan berlangsung lama, setelah permainan mereka diberikan penjelasan tentang permainan yang baru saja mereka lakukan.
“Capek banget,” ucap Shinta yang diangguki Indira.
“Kamu pucet,” bisik Mita yang sejak kapan berada disamping Indira.
“Nggak papa, bentar lagi juga udah tenang.” Indira menenangkan Mita.
“Minum kamu mana?” tanya Mita membuat Indira hanya menggelengkan kepalanya “Kamu nggak ambil?”
Indira menggelengkan kepalanya “Nggak kuat kesananya.”
“Aku ambilin kalau gitu.” Mita berdiri untuk mengambil air.
“Ini buat kamu,” ucap salah satu senior cewek paling cantik, Suci.
Indira menatap minuman yang ada dihadapannya, mengalihkan pandangan kearah Mita yang hanya mengangkat bahu. Indira memilih tidak peduli dengan langsung membuka dan meminumnya.
Indira mendengar senior memberikan tugas dengan mencari kata yang berhubungan dengan psikologi, membagi tugas dengan yang lain dan Indira mendapatkan bagian menunggu untuk mencatat kata yang mereka temukan. Mereka langsung jalan setelah mendapatkan instruksi untuk memulai sekarang juga, suasana sepi membuat Indira menatap sekitar dimana hanya beberapa anak saja.
“Kita berdua yang ada disini,” ucap Lia yang langsung duduk disamping Indira.
“Ya, kamu juga bagiannya sama kaya aku?” menatap Lia yang ada disampingnya.
Lia menganggukkan kepalanya “Mereka ngasih tugas yang kita nggak tahu apa-apa tentang psikologi, kasih sedikit clue gitu apa aja bukan langsung begini.”
“Ya, namanya orientasi. Kita bukan lagi sekolah jenjangnya lebih tinggi jadi nggak harus dicekoki sama materi tapi kita yang harus mencari sendiri.” Indira memberikan alasan masuk akal.
“Kita baru dua hari sudah dikasih yang beginian,” ucap Lia yang mempertahankan pendapatnya.
“Terus maunya gimana?” tanya senior pria yang sudah dihadapan mereka berdua.
“Mas Wahyu,” ucap Lia yang menatap kearahnya.
“Kalau bicara dipikir jangan asal njeplak,” omel Wahyu langsung.
Indira meringis mendengarnya, memilih menundukkan kepalanya tidak berani menatap senior yang dari kemarin mengisi di tempat mereka. Wahyu kalau tidak salah ketua dari acara ini, beberapa wanita angkatannya mencoba mencari cara untuk mendekatinya, tapi tidak dengan dirinya yang sadar diri tidak mungkin dilihat oleh senior.
“Kalian sudah paham apa yang aku bilang tadi?” tanya Wahyu yang menyadarkan Indira jika masih berada dihadapan mereka.
“Sudah, mas.” Kami berdua menjawab bersama.
“Komting kalian siapa?” tanya Wahyu.
“Dito, mas.” Lia yang menjawab.
“Suruh nanti ke ruangan saya sama kamu.” Wahyu menatap Indira yang membuatnya terkejut “Datang sama Dito diatas nanti waktu istirahat.”
“Ya, mas.” Indira menjawab langsung.
Wahyu meninggalkan mereka yang masih tidak tahu harus berbuat apa, menatap satu sama lain dan hembusan nafas lega mereka keluarkan.
“Mending kalau ngomong harus hati-hati.” Indira mengingatkan Lia.
“Untung nggak dikasih hukuman.”
Indira terdiam mendengar kata-kata Lia, hukuman yang belum dikatakan sama Fajar membuatnya bertanya-tanya jenis hukuman apa yang nanti akan diberikan. Menggelengkan kepalanya pelan agar tidak memikirkan terlalu lebih tentang hukuman yang akan diberikan, terlalu sibuk melamun membuat Indira tidak menyadari jika Lia sudah tidak berada disampingnya.
“Kenapa menggelengkan kepalanya? Ada yang sakit?”
Indira menatap terkejut dengan suara pria disampingnya “Kak Fajar?” mencari keberadaan Lia yang ternyata sedang menuliskan sesuatu.
“Kemarin tugasnya tentang tokoh siapa?” tanya Fajar dengan duduk disamping Indira.
“Kenapa memang?” tanya Indira balik tanpa menjawab pertanyaan Fajar.
“Masih ingat tentang teorinya? Kamu bisa menggunakan kata-kata yang diucapkan tokoh itu.” Fajar menjelaskan detail “Jadi tokohnya?” menatap Indira lembut.
“Sigmund Freud.” Indira menjawab langsung.
“Kamu tulis aja sambil menunggu teman-teman yang lain,” ucap Fajar memberikan usul.
“Memang boleh?” tanya Indira langsung “Nanti kakak laporin kalau aku curang terus dapat hukuman.”
“Boleh, kamu ingetin hukuman nanti ke ruangan kemarin.”
“Nggak bisa, aku dipanggil sama Mas Wahyu.” Indira langsung menolak.
“Kamu kerjain yang aku bilang, nanti ketemu di ruanganku.” Fajar meletakkan botol air mineral disamping Indira “Jangan terlalu lelah, kamu bisa bilang kalau capek dan kita nggak akan kasih hukuman. Diminum biar nggak pucat wajahmu, jangan lupa ketemu di ruangan kemarin buat bicara tentang hukuman. Satu lagi nanti pulang sama aku, tidak ada penolakan.”
Indira menatap tidak percaya dengan kata-kata yang Fajar berikan, belum sempat membantah atau mengatakan sesuatu sudah pergi begitu saja. Menatap botol air mineral dengan tatapan tanda tanya, botol pertama didapat dari senior wanita padahal tidak ada yang tahu tentang wajah pucatnya kecuali Mita, sekarang ada botol lain yang diberikan Fajar dengan kata-katanya yang membuat Indira bertanya-tanya. Menggelengkan kepalanya karena sekarang bukan waktunya berpikir tidak-tidak, lebih baik Indira mengerjakan apa yang menjadi tugasnya sesuai dengan usulan Fajar.
Menulis beberapa kata yang diingatnya sambil menunggu pesan dari kelompoknya tentang temuan mereka, tidak lama satu per satu mengirim pesan dan kembali. Kelompok yang lain sudah penuh dan mengerjakan tugas mereka, tidak berbeda jauh dengan kelompok Indira yang mulai mendebatkan beberapa hal.
“Indira ketemu Mas Wahyu?” Indira menatap Dito yang berada dihadapannya dengan menganggukkan kepalanya “Ayo, buruan.”