Sinta mengamati amplop putih itu. "Baru dua minggu aku di terima kerja disini. Yang benar saja kalau dia memecatku,"
"Jangan sampai orang tuaku tau hal ini. Apa kata mereka nanti kalau anaknya baru kerja dua minggu sudah dipecat?" Gumam Sinta, ia sudah mendapatkan posisi yang selama ini menjadi impiannya dengan segala usaha jerih payah belajar. Ia tidak mau mencari pekerjaan di perusahaan lain.
***
Naura membaca ulang pesan dari Sinta.
"Amplop putih? Apa jangan-jangan Sinta mau di pecat sama bosnya?" Naura mengusap dagunya berpikir sejenak. Sinta memang pernah menjadi teman kerjanya di bulan kemarin. Tapi Sinta merasa tidak cukup dengan gaji yang diterima dan pada akhirnya mencoba melamar di sebuah perusahaan besar di kota.
Sebagai teman yang ingin membantu dan siap kapanpun, Naura tidak mempermasalahkan jika Sinta memberikan amplop putih itu kepadanya.
"Naura, kamu boleh pulang. Sekarang ada pergantian shift sore," seorang pria berkumis yang memakai jas begitu rapi menghampiri Naura yang sejak tadi berdiri dengan beberapa barang yang di tata ke rak makanan.
Naura menoleh. "Eh, Bos. Terima kasih, saya pamit pulang," senangnya perasaan Naura ketika pulang adalah ia bisa menemani ibunya, Kumala yang sendirian terbaring lemah di rumah.
Kumala sedang sakit dan menderita tumor otak yang seharusnya segera di operasi atau tidak hidup Kumala tersisa sedikit lagi di dunia ini.
Naura memilih sepeda untuk transportasi bekerja dan kemanapun ia pergi. Sepeda merah muda yang catnya perlahan pudar. Ia ingin membeli motor, namun uangnya hanya untuk ditabung untuk biaya operasi Kumala.
Setelah sampai di rumah, Naura menemukan amplop putih yang tergeletak di depan pintu.
"Kasihan Sinta kalau dia benar-benar dipecat sama Bosnya," Naura mengambil amplop tersebut dan melangkah masuk ke dalam.
"Apa benar ya surat pemecatan?" Naura duduk di kursi, ia merasa penasaran. Ia membukanya.
Dan yang pertama kali Naura lihat adalah, dua lembar kertas. Saat membaca isinya, jantung Naura berdegup kencang.
"A-apa? 100 juta dollar? Ini ... uang?" Naura fokus dengan selembar cek kertas dengan nominal 100 juta dollar yang bisa di tarik ke bank.
Naura penasaran dengan kertas lainnya yang belum ia baca. Dan ia dibuat terkejut kembali jika isinya adalah, bersedia menikah dan menjadi istri di hari lusa. Ada alamat rumah yang tercantum di sana, jika ia bersedia bisa datang langsung.
"T-tapi, apa benar ini 100 juta dollar uang? Bukan uang mainan kan?" Naura jadi ragu-ragu. Mustahil uang sebanyak itu diberikan secara cuma-cuma hanya karena ingin menikah dan mendapatkan seorang wanita untuk dijadikan istri.
"Kenapa Sinta tidak mau uang sebanyak ini?" Naura merasa bingung, isinya diluar dugaan, bukan surat pemecatan tapi imbalan besar jika menerima permintaan dari isi surat itu.
Suara batuk dari kamar yang terdengar berdahak itu membuat Naura meletakkan kertas itu diatas meja. Ia melangkah terburu-buru menuju ke kamar Kumala, ibunya.
"Ibu, ibu sudah minum obat?" Tanya Naura khawatir, ia melihat Kumala lesu dengan bibir pucatnya. Setiap melihat itu, hati Naura sakit. Ia tidak tega dengan Kumala yang setiap harinya menahan penyakitnya itu.
Kumala menggeleng lesu. "Ibu, belum makan, bagaimana mau minum obat, nak?" Suara serak Kumala terdengar lemah. Berhari-hari ia hanya berbaring diatas kasur, ia tidak bisa melakukan aktivitas apapun.
Di pikiran Naura, uang 100 juta dollar itu juga akan memberinya keuntungan dan keringanan beban hidupnya terutama masalah ekonomi, dan gajinya pas-pasan sebagai seorang kasir di toko klontong yang kecil.
'Ya Tuhan, apakah aku terima saja permintaan dari surat itu? Dan aku menggunakan uang 100 juta dollar untuk ibuku?' Batin Naura merasa dilema. Tapi, ia belum siap menikah dan tidak tau siapa laki-laki yang menulis surat itu.
Naura mengangguk. 'Baiklah, aku terima saja, demi ibuku. Demi ibuku kembali sembuh dan seperti dulu lagi,' ia meyakinkan hatinya bahwa keputusannya ini memang tepat dan tidak salah. Hanya saja keadaan yang terdesak membuatnya terpaksa menyanggupi permintaan tersebut.
"Sebentar ya, bu. Aku belikan makanan, setelah ini ibu minum obat," tentunya Naura akan menarik tunai selembar cek 100 juta dollar ke bank. Ia tidak menarik semuanya, hanya sedikit saja untuk makan Kumala.
Naura kembali mengayuh sepedanya di tengah sore yang sebentar lagi senja. Ia mengayuh sekuat tenaga untuk segera sampai di bank yang jaraknya lumayan jauh. Ia tidak akan membiarkan Kumala kelaparan.
Dalam keranjang sepeda, Naura meletakkan selembar cek itu ke dalam amplop, ia tidak mau kertas penting itu kusut atau terjatuh ketika ia mengayuh sepeda.
Selama 10 menit berhasil menempuh perjalanan dengan sepeda, Naura merasa kelelahan, pelipisnya berkeringat dan napasnya tersengal-sengal.
Naura tiba di bank, ia akan menunjukkan kertas cek itu kepada pegawai bank. Semoga saja itu benar-benar uang cek yang bisa di tarik tunai.
"Ada yang bisa di bantu?" Tanya pegawai perempuan ramah, ia tersenyum kepada Naura.
Naura menunjukkan kertas cek itu kepada pegawai bank. "Bisakah uang ini di tarik tunai? Aku butuh sekali," ia sangat memohon. Ia tidak mau membuat Kumala kelaparan.
Pegawai bank itu membaca kertas cek yang di berikan oleh Naura. "Bisa," ia mengangguk.
"Anda ingin menarik berapa tunai?"
Naura berpikir sejenak, ia tidak pernah membayangkan bisa memiliki uang sebanyak ini.
"200 dollar saja."
"Baik, mohon tunggu sebentar. Saya akan bantu menarik tunai dari kertas cek ini," pegawai bank itu pergi, ia menuju ke mesin ATM.
Naura menunggu dengan perasaan gundah, ia kepikiran dengan Kumala. Ia sampai lupa memasak ubi rebus. Ia terlalu kesiangan berangkat kerja dan tidak sempat merebus ubi.
Beberapa saat kemudian, pegawai bank itu mengembalikan kertas cek Naura dan memberikan uang 200 dollar.
"Dan ini, jumlah riwayat transaksi dan sisa saldo anda," pegawai bank itu juga memberikan kertas riwayat transaksi kepada Naura.
Bibir Naura tersenyum sumringah. Akhirnya ia memiliki pegangan uang walaupun menarik 200 dollar saja.
"Terima kasih," Naura melihat sisa saldonya yang berkurang menjadi 99,999,800 juta dollar.
Naura mengayuh sepeda lagi, ia pergi ke supermarket. Ia ingin membelikan Kumala nasi kotak. Ubi rebus hanya mengganjal rasa lapar sementara saja.
Tiba di supermarket, Naura membeli dua nasi kotak untuk Kumala dan dirinya. Ia tidak peduli melihat harganya yang cukup mahal, 25 dollar. Tapi yang terpenting Kumala makan.
Setelah membayar di kasir, dan uang Naura belum habis.
"Apa kehidupanku lebih terjamin ya, kalau menjadi istri dia?"
Mengingat 200 dollar saja banyak, tapi Naura menerima 100 juta dollar itu cujup banyak dan berlebihan.
"Tapi ... aku harus ke alamat itu," Naura menggigit bibir bawahnya, ia cemas. Ia sampai lupa jika menyanggupi permintaan menikah lusa hari, harus datang ke alamat tersebut.
Naura kembali mengayuh sepeda, alamat pria yang ingin memiliki seorang istri itu cukup jauh sekitar 5 km. Ia akan sampai lebih terlambat.
***
"Ini rumahnya? Besar banget, tingkat dua. Pagarnya tinggi. Ya ampun, mirip sama istana di negeri dongeng," Naura menatap rumah megah yang ada di depan matanya. Ia baru saja tiba di alamat yang sudah tertera di dalam amplop putih itu.
"Tapi, gerbangnya di tutup. Apa di dalam ada orangnya ya?" Tanya Naura ragu-ragu. Ia melangkah mendekati pagar hitam yang menjulang tinggi. Ia mengetukkan tangannya beberapa kali. Ah, semoga saja ada orang di dalam. Jadi kedatangannya tidak sia-sia.
Beberapa saat kemudian, gerbang itu terbuka. Seorang satpam menatap Naura dengan heran.
"Maaf, anda siapa?" Ia bertanya cuek. Ia curiga dengan Naura. Dari penampilannya saja bukan berasal dari orang kaya.
Seragam merah berkerah putih, itulah seragam Naura selama bekerja di toko toserba.
"Aku, Naura. Aku datang kesini untuk memenuhi permintaan dari undangan amplop putih. Aku ... tidak tau namanya siapa, ada pria yang ingin mencari seorang wanita dan berjanji segera menikahinya," jawab Naura. Ia memperkenalkan diri dan tujuannya datang kesini. Karena tidak ada nama pengirim dan hanya tulisan saja, ia masih tidak tau siapa pengirim yang sebenarnya. Tapi ia mengerti itu adalah Bos di perusahaan Sinta.
"Hmm ... sepertinya kamu itu tamu penting. Baiklah, masuklah ke dalam. Tekan bel tiga kali saja, jangan berlebihan," Satpam tersebut memberikan jalan masuk kepada Naura.
Akhirnya Naura di perbolehkan masuk. Jantungnya berdebar gugup, ia pikir ia tidak bisa memasuki rumah tingkat dua itu.
Naura melangkah ke pintu utama, hari ini ia pasti bertemu dari pengirim amplop putih.
Naura menekan bel sebanyak tiga kali sesuai intruksi dari satpam tadi. Ia sesekali menyisir rambutnya dengan jemari, semoga saja penampilannya sekarang cantik. Ia tidak mau pria itu nanti kecewa.
Pintu terbuka, seorang wanita dengan rambut bergelombang itu menyambut kedatangan Naura. Namun, pandangan matanya memindai penampilan Naura.
"Kamu, yang jadi pilihan wanita Arkan?" Davina bertanya dengan bibir terangkat ke atas seperti nyinyir.
Naura mengangguk. Tapi sebenarnya yang menjadi pilihan Arkan adalah Sinta, bukan dirinya. Tapi, sudah terlanjur. Ada untungnya ia mendapatkan 100 juta dolar untuk pengobatan Kumala. Ia bukan serakah, hanya sedang terdesak keadaan saja.
"Iya, aku pilihan wanita Arkan. Apa Arkan ada di rumah?" Naura berusaha bersikap ramah dan memberikan senyuman terbaiknya. Ia sudah merasakan kurang nyaman ketika wanita di hadapannya yang sekarang berbicara terkesan ketus seperti tidak menyukainya.
"Ya ampun," Davina menggeleng tak habis pikir. Ternyata selera pilihan Arkan tidak kaya dan cantik.
"Arkan! Arkan!" Davina berteriak memanggil Arkan. Ia harus berbicara dengan putra tunggalnya itu.
Arkan yang sedang menyimpan slide presentasi power point pun terburu-buru menyimpannya. Davina berteriak-teriak berarti ada sebuah masalah.
Arkan melangkah terburu-buru menuruni tangga. Sumber suara Davina sepertinya dari arah ruang tamu karena terdengar samar-samar.
Saat tiba di ruang tamu, pandangan Arkan bertemu dengan mata seorang wanita. Dan itu terlihat asing.
"Siapa dia?" Arkan bergumam heran.
Davina melihat Arkan, langsung saja ia memarahi Arkan. "Jadi, pilihan kamu wanita yang tidak bisa merawat diri, huh?"
Tunggu ... pilihan wanita?
Arkan berpikir sejenak, mendengarkan ucapan Davina baru saja.
Setelah paham maksud Davina, akhirnya Arkan tau, pasti karena undangan amplop putih itu. Tapi, kenapa bukan Sinta? Justru yang datang adalah wanita lain?
"Kamu ... siapa?" Arkan bertanya dengan alis yang mengernyit.
Naura tersenyum malu-malu. Ia menatap Arkan tak berkedip. Arkan begitu tampan dengan setelan jas kantor.
"Aku Naura Shaenette. Panggil aku Naura," Naura mengulurkan tangannya berharap ia bisa berjabat tangan dengan Arkan.
Arkan tidak membalas uluran tangan Naura. Ia hanya diam memperhatikan Naura yang terus tersenyum.
Davina terkekeh. "Kamu berharap sekali ya dengan Arkan? Atau ... kamu suka Arkan?" Tanya Davina dengan mata yang menyipit curiga.
'Aku bukan suka, tapi hanya kagum dengan ketampanan Arkan,' jawab Naura di hatinya.
"Aduh, kamu lebih baik pilih Mutia daripada dia. Mutia lebih jelas dan canik, kaya, dan pekerjaannya? Bos perempuan satu-satunya di perusahaan ayahnya," Davina mulai membanggakan siapa Mutia. Tapi, berkali-kali Arkan tetap saja tidak tertarik dengan Mutia.
"Aku pilih Naura. Dia perempuan yang tepat untukku, Ma," Raka berkata serius. Ia tidak mau memilih Mutia. Ia tau Mutia selalu ingin lebih jika perihal kekayaan dan uang. Karena menikah seumur hidup selamanya, ia tidak mau memiliki istri yang boros. Mutia juga hobi shopping barang-barang branded. Tidak pernah Mutia membeli barang yang harganya murah.
"Naura?" Davina menatap Arkan tidak percaya. Bisa-bisanya Arkan menolak wanita mapan dan cantik seperti Mutia?
"Apa sih yang kamu banggakan dari Naura? Dia kerja apa? Marga keluarganya apa?" Davina bertanya dengan ketus.
"Naura, wanita yang tulus. Dia tidak gila harta seperti Mutia. Naura sederhana apa adanya. Itu yang membuatku mencintainya," jawab Arkan jujur menurut pandangan mata dan hatinya. Ia yakin Naura adalah perempuan yang tepat untuknya.
Arkan sedikit senang, ternyata Sinta menyia-nyiakan undangan amplopnya. Sedangkan Naura mengambil dan menerima kesempatan yang tidak akan datang dua kali ini. Ia akan berterima kasih kepada Naura nantinya. Berkat Naura, ia tidak jadi berjodoh dengan Mutia.
"Dan, Mama jangan coba-coba menghalangi cintaku yang serius dengan Naura. Cinta tidak bisa di paksakan," tegas Arkan tak mau tau.
"Kamu ini ya, baru saja kenal Naura langsung cinta? Hati-hati Arkan, dia bisa saja wanita matre yang menguras dompetmu. Di luaran sana banyak wanita licik dan jahat. Mama hanya tidak mau kamu terperangkap dalam permainan busuknya," Davina menunjuk Naura seolah Naura adalah orang jahat yang harus di jauhi.
"Mutia juga bukan wanita gila harta. Dia memang mapan dan kaya bisa beli apa saja. Mutia mandiri, tidak pernah meminta uang ke orang tuanya lagi. Kamu apresiasi dong pencapaian terbesar Mutia yang se-sukses ini, bukannya menjelekkan Mutia," ucap Davina tidak terima. Ia tidak suka Mutia di nilai buruk, terutama Arkan.
Helaan nafas lelah Arkan dan telinga yang panas karena muak Mutia terus saja di sanjung tinggi oleh Davina. Arkan benci ini.
"Nanti sore, ayo beli cincin dan gaun pengantin. Terserah kamu mau pilih warna apa. Dan ... kamu mau mahar berapa, Naura?" Arkan mengabaikan omelan Davina, ia beralih menatap Naura dengan intens.
Naura langsung gugup dan bingung. Secepat inikah?
"Aku ... mau mahar yang sekiranya tidak memberatkanmu," Naura menjawabnya dengan kepala tertunduk. Ia sedikit malu mengutarakan patokan mahar. Walaupun Arkan sanggup, tapi ia merasa sadar dengan dirinya yang hanya wanita serba kekurangan.