.
Angkasa kira ini hanyalah makan malam biasa. Dia duduk di ruang makan bersama orang tua dan adiknya. Lalu ada seorang lelaki paruh baya berkacamata yang katanya teman bisnis Papa, juga seorang gadis yang sedari tadi melempar senyuman kepadanya.
Angkasa tidak peduli dengan gadis aneh itu dan lebih memfokuskan diri pada makanan di depannya. Ketika orang tuanya memperkenalkan gadis itu sebagai Aurora, Angkasa hanya mengangkat kepala sebentar, mengangguk, kemudian kembali menyuapkan nasi.
Suasana makan malam itu berjalan sebagaimana makan malam bersama seperti biasanya. Tidak terlalu spesial bagi Angkasa. Namun ia cukup terganggu dengan sepasang mata bulat yang tak henti menatapnya dengan binar aneh. Padahal seingat Angkasa ia tidak pernah mengenali gadis itu, berpapasan pun rasanya tidak pernah.
Abai. Iya, Angkasa cukup mengabaikannya, kan?
"Angkasa, disapa dong, Aurora." Seruni, Mama Angkasa menyenggol siku Angkasa. Pemuda itu mengangkat pandangannya yang sedari tadi fokus pada piring makan. Tatapan tidak tertarik.
"Hai," seru cowok itu dengan nada datar. Perutnya lebih memerlukan perhatian daripada cewek bermata bulat yang duduk di seberang sana.
"Haii!" Respons gadis bernama Aurora itu terlalu berlebihan. Senyumnya merekah semakin lebar dan tangannya melambai antusias. Angkasa mendecih dalam hati. Kalau diperhatikan, cewek itu bahkan tidak menghabiskan seperempat dari makanannya. "Lo Angkasa, kan?" suara Aurora terdengar lagi, kini satu tangannya menopang dagu, senyuman manisnya tidak lekas hilang dari bibir tipis itu.
Angkasa mendengus samar. Meladeni orang setipe Aurora adalah salah satu hal yang paling malas ia lakukan. Merepotkan.
"Hm." Angkasa hanya membalasnya dengan gumaman singkat.
"Lo tahu nama gue, gak?"
Mungkin terlihat tidak sopan, tetapi bola mata Angkasa refleks memutar malas mendengar pertanyaan basa-basi itu. "Aurora."
Gadis itu bertepuk tangan kecil. "Lo ingat-"
"Apa nggak sebaiknya lo habiskan makanan lo alih-alih terus mengoceh hal yang gak perlu?" Angkasa segera memotong tak sabar.
Aurora meringis malu lalu meraih kembali sendok dan garpu yang sempat ia taruh di piring. Padahal baginya, ini kesempatan emas mengajak lelaki bernama Angkasa itu mengobrol. Dari awal Aurora sudah merasa tertarik, dan ia tidak keberatan melupakan kebutuhan perutnya demi Angkasa.
Akhirnya suasana kembali hening. Namun hanya berlangsung untuk beberapa saat sebelum Angkasa berhasil menghabiskan makanannya.
"Sa, kami berencana menjodohkan kamu dengan Aurora. Gimana pendapat kamu?" suara berat Felix, lelaki paruh baya yang merupakan ayah Aurora, berhasil membuat sendok Angkasa berhenti di udara sebelum sempat menyuap.
Untuk beberapa saat Angkasa mengerjap mencoba paham.
"Menjodohkan?" Angkasa membeo. Sendoknya segera turun kembali ke piring. Dahinya mengernyit samar. Obrolan random macam apa ini? Dia bukan sedang berada di acara ragam lawak, kan?
"Iya. Sekarang memang masih terasa asing. Tetapi seiring berjalannya waktu, kalian mungkin akan saling suka kalau sudah kenalan nanti," balas Felix lagi. Nadanya datar seolah ini hanyalah obrolan ringan untuk mengisi kekosongan percakapan.
Angkasa perhatikan raut wajahnya tampak tidak bercanda, namun Angkasa tidak bisa menilai dengan serius. Ia tidak bisa menjawabnya. Ini pasti bercanda, kan? Mata gelapnya beralih memandang bergantian pada kedua orang tuanya, meminta penjelasan atas ucapan lelaki berkacamata itu.
"Iya, Angkasa. Kamu sama Aurora sepertinya bakalan cocok." Seruni, mama Angkasa tersenyum sumringah sambil bertepuk tangan kecil memandangi anaknya dan Aurora bergantian. Mata Angkasa semakin membulat tak percaya. Kalau ada lelucon paling lucu tahun ini, sudah pasti suasana sekarang adalah pemenangnya.
Angkasa melirik gadis bernama Aurora di depannya. Ada binar wajah cerah yang menurut Angkasa menyebalkan. Sekaligus juga raut kebingungan yang terpeta pada guratan ekspresi Aurora. Sepertinya gadis itu juga tidak tahu apa-apa. Apa ini rencana orang tua mereka? Perjodohan ini?
"Ma-"
"Kamu percaya, deh! Bertunangan enggak seburuk yang kamu pikirkan, apalagi dengan Aurora. She's the cutest girl for you. Mama punya firasat kalau kalian berdua akan cocok bersama."
Tunangan? Entah kenapa Angkasa merasa ini seperti jebakan dalam hidupnya. Pertunangan ataupun perjodohan atau apapun istilahnya -persetan! Angkasa tidak mau! Kemarahan yang nyata terpampang jelas di raut wajahnya.
"Tapi Angkasa baru kelas dua SMP! Mana ada yang udah tunangan di umur segitu?!"
"Angkasa, ini hanya masalah waktu. Kita juga tidak memaksa kamu untuk terlalu terbebani dengan perjodohan ini. Jalani saja keseharian kamu seperti biasa," pria paruh baya itu kembali berbicara dengan nada tegas.
"Tidak memaksa? Berarti Angkasa berhak menolak, kan? Siapa juga yang mau menerima perjodohan konyol dengan cewek asing yang bahkan baru dikenalkan malam ini?" Angkasa menatap berani pada semua orang yang ada di meja makan itu. Lalu tatapan terakhirnya jatuh pada Aurora, cewek antah berantah yang tiba-tiba ditakdirkan untuk mengusik hidup Angkasa.
Aurora melarikan pandangannya kesana kemari dengan jari-jari yang bertaut gugup. Pandangan Angkasa terasa mengulitinya dengan galak sehingga nyali Aurora menciut untuk balik menatap balik mata segelap langit malam itu.
"Hei, lo," suara Angkasa memanggil, memaksa bola mata Aurora untuk menangkap wajah yang kini menampilkan raut keruh dan kesal. "Bilang kalau lo juga nggak setuju dengan ide konyol ini," tuntut Angkasa, rahangnya mengeras tegas dengan alis menukik tajam.
Aurora membuka mulutnya. "Gue-"
"Angkasa, kemari." Arthur, ayah Angkasa, yang sejak tadi diam akhirnya angkat suara. Sosok yang selalu Angkasa hormati itu berdiri dan berjalan menjauh dari meja makan dengan diam. Mata Angkasa terpejam beberapa saat, ada hembusan nafas samar yang mengartikan pemuda itu sedang mencoba mengendalikan kemarahannya.
Kekesalan Angkasa bukan di taraf biasa lagi sekarang. Baginya, perjodohan ataupun pertunangan bukan hal yang main-main dan bisa dijalani seperti biasa. Dengan dada mengembang, Angkasa mengikuti langkah ayah kandungnya yang menjauh dari meja makan.
Pemuda itu menatap berani seakan matanya berkata bahwa dia memang tidak setuju dengan ide gila ini. Tidak pernah setuju. Tidak akan. "Pa, Angkasa-"
"Sa, tolong. Kamu harapan kita satu-satunya. Suatu saat nanti, kamu pasti akan mengerti. Dan ingatlah bahwa kami akan selalu berterimakasih atas kesediaan kamu untuk mengikuti keputusan yang tidak mudah ini."
Angkasa menggelengkan kepalanya. "Pa, ini sulit. Sangat sulit dimengerti. Bahkan jika Papa beri alasan terlogis sekali pun, Angkasa tetap akan sulit mengerti."
Benar. Angkasa tidak mengerti. Kenapa harus dia yang mengalami lelucon ini. Takdir seperti apa yang sedang Tuhan rencanakan dengan memenjarakannya dalam suatu status hubungan bernama perjodohan?
Sialan! Umpatan itu tak hentinya lepas dalam hati Angkasa.
Arthur menepuk bahu sang anak beberapa kali. Lelaki paruh baya itu pun tahu ini tidak akan mudah. Usia anaknya bahkan masih tergolong belia. Tetapi selalu ada alasan dalam sebuah pengorbanan. Dan Angkasa yang sekarang mungkin terlalu labil jika tahu alasannya.
"Orang tua selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, Sa. Kamu percaya sama Mama dan Papa, kan?" Arthur bertanya sekaligus mencoba memberikan pengertian kepada sang anak. Kedua lelaki beda usia itu saling bertatapan dengan makna yang dalam.
Sorot mata Angkasa yang dalam saat ini tampak kecewa. Dia memang menghormati ayahnya, tetapi mengapa rasanya ini tidak benar? Angkasa merasa terjebak dalam skenario saat ini. Ini masih terlalu berat. Hatinya tidak terima. Namun tatapan penuh kasih dan keyakinan dari sang ayah mampu menggoyahkan Angkasa.
"Tapi Pa..."
"Kalau masih cukup sulit, tolong anggap ini sebagai permohonan. Perjodohan kamu dan Aurora adalah permohonan kami, para orang dewasa yang terlalu bingung untuk mencari jalan keluar hingga harus mengorbankan perasaan kamu."
Angkasa tidak bisa lagi mengelak. Pemuda itu hanya memiliki firasat bahwa, malam ini dan ke depannya tidak akan sama lagi seperti hari-hari sebelumnya. Dengan terpaksa ia menerima perjodohan dan berganti status sebagai tunangan seorang gadis yang tampak merepotkan. Aurora, huh? Arti dari namanya saja sudah kelihatan kalau kelak warna-warna itu bakal memenuhi dunia Angkasa, yang lebih menyukai rasa sepi dan tak ingin tersentuh.
Mari kita lihat, siapa yang akan bertahan. Aurora dengan warna-warna indah yang membawa nuansa cerah, atau Angkasa sang langit kelam yang menikmati dunia sepinya.
.
-Kamu adalah ketidak mungkinan yang selalu aku usahakan.-
..
.
.
***
Tiga tahun kemudian...
.
"HORMAT... GRAK!"
Murid SMA 71 yang berjejer memenuhi lapangan kompak mengikuti intruksi dari komandan upacara. Lagu Indonesia Raya mengalun semangat dinyanyikan oleh tim paduan suara yang dipimpin oleh seorang dirigen.
Terik matahari di Senin pagi ini mungkin bakalan menjatuhkan banyak korban jiwa kalau-kalau nanti Pak Supendi, selaku pembina upacara, menyampaikan amanat lebih dari tiga puluh menit. Ditambah lagi jika Bu Anih -sang guru BK yang sering digodain begundal langganan sekolah, menambahkan pengumuman di akhir upacara. Beuh, siksa neraka berasa sedang turun sebagai azab para murid 71.
Vivian yang berdiri di depan Aurora sudah tampak menyerah, kakinya ditekuk bergantian sambil menahan tangannya agar tetap tegap di ujung topi. Bulir keringat keluar dari pelipis adalah tanda bahwa matahari pagi ini bersinar tanpa ampun.
Lagu kebangsaan Indonesia Raya akhirnya selesai bersamaan dengan Sang Saka Merah Putih yang berkibar gagah di ujung tiang bendera. Bendera kebanggaan Indonesia yang butuh ratusan tahun perjuangan dan jutaan darah agar dapat mencapai puncak kejayaannya.
"TEGAK... GRAK!"
Aurora ikut menurunkan tangannya ketika komandan upacara memberi perintah lagi. Lalu dengan iseng, diam-diam kepalanya menengok ke belakang, kemudian dipalingkan lagi ke depan sambil membawa seulas senyuman cerah. Gerakan mengintip itu dilakukan beberapa kali oleh Aurora sambil mesem-mesem.
Ada Angkasa di belakangnya. Di samping kanan kalau mau tahu lebih detailnya.
Upacara di SMA 71 selalu mengatur siswanya agar berbaris sesuai kelas, dengan posisi wanita di depan, laki-laki di belakang. Aurora sengaja berdiri paling akhir di antara barisan kelasnya. Disusul Agum di belakang yang kadang iseng mencolek pinggangnya. Lalu di sebelah kanan adalah kelas sebelah. Kebetulan banget itu adalah kelas Angkasa. Dan kebetulan juga cowok itu berdiri paling pertama di antara teman cowok lainnya. Yang artinya posisi berdiri antara Aurora dan Angkasa cukup dekat.
Aurora menengok lagi ke belakang, keberuntungan di pihaknya karena Angkasa langsung menoleh ke arahnya. Aurora langsung memasang senyuman semanis mungkin. Dan Angkasa langsung memalingkan arah pandangnya lagi ke depan dengan malas.
Huh. Aurora mendengus, tetapi tetap senang. Angkasa adalah tempat dimana Aurora mengitari setiap detik dalam hidupnya. Sumbu porosnya.
"Untuk pengumuman. Istirahat di tempat... Grak!"
Terdengar helaan nafas lelah yang panjang dari mulut para peserta upacara. Hampir semuanya melenguh protes. Perkiraan tidak meleset. Bu Anih memang tidak pernah absen memberikan pengumuman tambahan. Uh, Aurora terpaksa ikut menggenggam pergelangan tangan kanannya ke belakang. Vivian sudah membungkukkan punggungnya lemas, lalu menoleh sedikit ke belakang dengan tatapan melas. "Rora, pengen pingsan," rengeknya pucat.
Aurora mengelus-elus punggung Vivian. "Gue duluan ya," sahutnya sama lemas.
"Psst! Sini abang tangkap!" Agum, teman sekelasnya, ikut-ikutan aja. Aurora dan Vivian segera merespon dengan delikan tak sudi.
BRUK!
Ada yang pingsan, namun bukan Aurora ataupun Vivian. Dia seorang siswi dari kelas sebelah yang berdiri tepat di depan Angkasa, di sebelah Aurora.
Siswa lain yang ada di sekitar gadis pingsan itu sama kagetnya seperti Aurora. Namun yang lebih tak habis pikir adalah respons Angkasa. Alih-alih menangkap dan menahan tubuh itu agar tidak jatuh, Angkasa malah minggir ke kiri hampir menabrak Agum di sebelahnya, sehingga siswi itu ditangkap oleh siswa lain di belakangnya. Mulut Aurora melangah menatap tidak percaya pada wajah Angkasa yang tetap datar tidak peduli.
Benar. Inilah Angkasanya. Seorang cowok dengan segala sikap tidak pedulinya. Mulut pedasnya. Tatapan tajamnya. Wajah juteknya. Dan hati kerasnya.
***
Setelah mencepol rambutnya yang banjir keringat itu ke atas dengan hasil acak-acakan, Aurora menepuk-nepuk paha Vivian dengan cekikikan kencang. "Sengklek banget tunangan gue! Orang pingsan bukannya ditolongin malah diliatin doang," seru Aurora. Vivian mengangguk antusias.
Vivian tidak berhenti ngakak bersama Aurora saat membicarakan kejadian di upacara tadi.
"Lihat enggak sih, Ra. Itu si Kania kayaknya bohongan pingsan deh. Cari kesempatan itu mentang-mentang yang di belakangnya ada Angkasa. Padahal duuh, yang nangkep si Jojo." Tawa Vivian menyembur lebih keras lagi. Geli ketika memori saat Kania yang jatuh dengan dramatis sambil memegangi kening dan ditangkap oleh Jojo berputar lagi di otaknya. Dasar dramaqueen!
Satu laki-laki berpostur tubuh tinggi berkulit cokelat gelap yang sedang menyeruput minuman dingin ikut berkomentar. "Tega kalian ngetawain orang yang lagi sakit. Asal lo semua tahu, azab orang julid, saat meninggal mayatnya tidak dikubur tapi cuma dinyinyirin doang," celetuk Juned sambil melengang duduk ke kursinya di belakang.
Vivian dan Aurora mendecih dengan mata mengekori langkah Juned. "Bilang aja kalau lo iri, karena yang nangkap Kania itu Jojo, bukan lo Juned, wahahaha," Aurora terbahak lebih keras.
"Idih, apaan Kania mah gak level, selera gue kan minimal yang kayak lo, Rora," elak Juned tidak terima.
"Seonggok Juned mengharapkan Aurora?" Vivian mengikik tak percaya. "Kalau mau sama Rora seenggaknya lo harus seganteng Angkasa. Ngebayangin Rora suka sama lo aja, gue sebagai temannya enggak sudi, Juneeed!"
Juned langsung memajukan bibir bawahnya ke depan sambil memasang wajah terluka. "Kalian jahat. Aku sakit." Juned menepuk dadanya mendramatisasi keadaan.
Untung saja ada Aksel, sang ketua kelas dengan otak jenius dan pembawaannya yang kalem itu segera menengahi hujatan. "Ganti baju olahraga. Ditunggu Pak Anton di lapangan," suara serak yang dipuja-puja sama Vivian itu menyeru kepada semua isi kelas.
Bahu Aurora langsung turun lemas. "Kenapa jam olahraga harus pas selesai upacara, sih? Berasa banget double kill. Dedek kan lelaah," ia menggerak-gerakkan kakinya geregetan di bawah meja.
Vivian ikut menghela nafas panjang. Olahraga setelah upacara memang keterlaluan, gak sih? "Untung ada Aksel di kelas kita. Kalau capek gue bisa modus pura-pura pingsan kayak si Kania tadi," sahut Vivian, kemudian nyengir sendiri atas idenya barusan.
"Belajar dari kejadian tadi. Aksel entar minggir, dan hap! Yayang Juned yang membopong dengan gagah perkasa!" Aurora tergelak keras saat mendapatkan toyoran dari Vivian.
Semua siswi di kelas sebelas IPS 1 itu langsung membawa seragam olahraga ke toilet untuk berganti termasuk Aurora. Kalau cowok sih enggak ribet, karena mereka tanpa malu-malu membuka kancing dan berganti di kelas.
Baru sampai di koridor, langkah Aurora berhenti ketika di depan kelas. Vivian yang berjalan di sebelahnya ikut berhenti sambil mengkerutkan kening. "Apaan?"
Aurora nyengir penuh maksud. "Bentar ya," ujarnya pelan. Lalu gadis itu membalikkan langkahnya ke kelas sebelah, IPS 2. Tempat dimana Angkasa sedang belajar hari ini. Vivian menghela nafas panjang lalu bersidakep menunggu temannya yang mendadak fangirling. Seantero sekolah tahu obsesi Aurora yang selalu mengejar-ngejar Angkasa.
Pelan-pelan Aurora menyembulkan kepalanya di jendela paling belakang kelas itu untuk menghindari pantauan guru. Matanya segera menangkap sosok yang dia cari. Angkasa ada di dalam sana. Duduk paling belakang dan menyender malas pada tembok sambil memainkan pulpen di tangannya alih-alih menyimak pelajaran. Aurora jadi terkikik melihat wajah lesu Angkasa.
Merasa ada yang memperhatikan, Angkasa menoleh ke jendela dan melebarkan matanya ketika mendapati Aurora sedang mengintip di jendela. Angkasa mendelik tak suka ketika Aurora melambai dan mengepalkan tangan untuk memberinya semangat. Cowok itu mengalihkan tatapannya ke depan sambil berdecak malas.
Melihat respon itu, Aurora jadi manyun. Beruang kutub itu memang susah banget untuk senyum kepadanya.
"Rora buruan ih!" Vivian menyeru.
Aurora mendengus tapi menurut juga. Untuk terakhir kalinya dia mengintip lagi ke dalam kelas itu, tetapi Angkasa tidak pernah menoleh lagi ke arahnya. Memang seperti itu selama tiga tahun ini. Aurora hanya mampu mengubah status Angkasa sebagai tunangan, tetapi hati laki-laki itu terlalu abu-abu untuk bisa menerima setiap warna yang dia berikan.
Namun, batu yang keras saja bisa lapuk jika terus menerus terkena air, kan? Aurora sudah membulatkan tekad untuk menghancurkan batu yang mengeraskan hati Angkasa untuknya. Membuat Angkasa juga membalas perasaannya. Semoga saja dia tidak menyerah. Berjuang untuk Angkasa seringkali melukai harga dirinya, tetapi jika Angkasa mau berbalik dan meraihnya, bukankah hasilnya sepadan?
Aurora, fighting!
.
.
"I will love you unconditionally."
-Aurora
"Then I will hate you officially."
-Angkasa
.
***
.
Sejak dulu, Angkasa tidak pernah mengambil pusing sikap dan aksioma orang-orang terhadapnya. Cowok itu memang apatis, tapi dia juga sadar akan pesonanya. Bukannya tidak peka dengan wanita yang mendekatinya silih berganti, cari-cari perhatian dengan berbagai modus. Hanya saja dia malas terlibat hubungan dengan wanita yang menurutnya ribet dan mengekang. Setiap ada yang mendekat, Angkasa hanya perlu diam, menatap malas, memicing risih, lalu mereka akan tahu diri dan mundur dengan sendirinya.
Kecuali satu.
Aurora.
Jangan klasifikasikan cewek itu ke dalam golongan wanita yang tahu diri setelah Angkasa menolaknya. Karena pada kenyataannya, Aurora selalu lekat sebagai bayangan Angkasa. Mengikuti langkah demi langkah dalam pijakan alur kehidupannya. Tidak akan hengkang walaupun berkali-kali Angkasa menjatuhkan semangat gadis itu lalu menginjaknya.
Pernah, suatu ketika saat Angkasa mengusir Aurora dari rumahnya karena entah kenapa cewek itu betah sekali selonjoran di kamarnya, Aurora berkata,
"Gue itu seperti rumput. Walaupun lo injak dan lo babat. Bagaimanapun caranya pasti akan tumbuh lagi. Semuanya tergantung lo, Angkasa. Mau menganggap gue sebagai rumput hijau yang menghiasi taman, atau rumput liar yang merusak pemandangan. Gue bakal tetap hidup. Di hati lo."
Aurora mengatakan itu dengan santai sambil menyeruput yakult yang dia ambil dari kulkas dapur. Angkasa hanya bisa mengepalkan tangan dan berlalu dari ruang kamarnya sendiri.
Jika saja ada yang bisa menjawab tentang 'oke google, cara melenyapkan Aurora', Angkasa akan segera berlutut menyembahnya seperti dewa.
***
Bel pulang sekolah berbunyi.
Angkasa berjalan sendiri dengan tenang di antara kerumunan siswa siswi lain yang saling bertukar canda dan jalan beriringan bersama-sama. Bukan karena tidak memiliki teman, Angkasa hanya tidak suka dunianya terlalu ramai. Menikmati kesendirian jelas lebih menghemat energi. Malas sekali terlibat interaksi dan berbagi emosi jika tidak terlalu penting. Dia lebih suka jika dunianya sepi.
"Angkasaa!"
Oke, satu orang saja sudah berhasil membuat hidup Angkasa ramai. Angkasa berdecak ketika sesosok gadis menghadang dengan tangan merentang di depannya.
"Kenapa enggak tungguin gue?" Aurora manyun. Angkasa menghela nafas sabar. Menghadapi Aurora selalu sukses membuat mood nya berantakan.
"Toh lo nyusul, kan?" suara berat Angkasa terdengar dingin.
"Iya, sih. Tapi kenapa lo selalu ninggalin, kan gue mau bareng. Belum pernah ya lo, ngerasain ditinggal? Mau gue tinggal, hah?"
MAU PAKE BANGET YA AMPUN!
Tetapi Angkasa tahu, apapun jawabannya, Aurora akan tetap di sampingnya. Walaupun dia ingin sekali menjauhkan diri sejauh mungkin, Aurora akan tetap mengikutinya. Pindah planet kalau bisa, dan Angkasa akan menemukan Aurora menyusulnya.
Aurora mengomel dengan kalimat-kalimat yang sama sekali tidak Angkasa dengarkan, pemuda itu hanya memandangi wajah polos di depannya dengan malas. Angkasa memperhatikan sejumput anak rambut Aurora yang basah karena keringat dan menempel di pipi cewek itu. Ck. Aurora ini habis belajar apa lari marathon, sih? Kenapa keringetan? Bikin risih aja.
Angkasa menyibak anak rambut itu ke belakang telinga Aurora sehingga sukses membuat omelan dari bibir gadis itu berhenti dan kini terpana menatapnya.
Melihat respon itu, Angkasa mendengus lalu mendorong dahi Aurora. "Bacot banget sih, lo!" makinya lalu pergi meninggalkan Aurora yang kini tengah memegangi pipinya yang merona. Merasakan dentuman jantung yang sedang euforia dan melelehkan kakinya seperti jelly.
Tolong kasih tahu Aurora, Angkasa barusan so sweet banget, kan?
Menyadari lagi-lagi ditinggalkan, Aurora berlari mengejar ke parkiran. Lalu mencomot helm putih yang bertengger di sisi kanan dan naik ke boncengan. Motor hitam itu baru akan melaju, Aurora segera memeluk Angkasa sangat erat.
"Woy engap! Gue juga butuh napas kali!" semprot pemuda itu.
Aurora malah cengar-cengir melonggarkan pegangannya. "Tenang, Angkasa. Ada Aurora yang sigap kasih napas buatan kalau lo nanti engap-ngapan!"
Serius. Angkasa tidak suka Aurora. Kenapa dari sekian banyak alur kehidupan manusia, dia ditakdirkan untuk mengasuh bocil kematian seperti Aurora?
Masih dengan perasaan dongkol, Angkasa tetap melajukan motornya. Padahal, kalau bisa tuh cewek di belakangnya ini minggat aja gitu. Naik angkot, kek. Manja, deh.
Saat kuda besinya sudah membelah jalanan, Aurora kembali mengeratkan pegangannya menjadi sebuah pelukan. Menghirup wangi khas Angkasa yang sangat cocok bagi indera penciumannya. Angkasa ini termasuk cowok yang memperhatikan penampilan loh. Walaupun terkesan slengean, tetapi baju seragamnya selalu licin dan harum.
Oke iya deh, itu karena Tante Seruni yang setrikain.
"Sa," panggil Aurora. Angkasa tidak menjawab. Tetapi Aurora tahu kalau lelaki itu mendengarnya. "Mau mampir beli es krim gak?" tawarnya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Angkasa menjawab tawaran itu. "Gak."
Aurora memberengut kusut mendengar jawaban yang seolah tidak perlu proses penyaringan itu. Susah sekali membujuk Angkasa untuk menuruti kemauannya.
Angkasa segera turun saat telah sampai di rumahnya. Bangunan putih dengan dua lantai yang memiliki taman dan kolam kecil di halaman depan.
Aurora berjalan mengekor di belakang Angkasa seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Setiap langkah santai Angkasa menapak selalu dipijak oleh Aurora sambil senyum-senyum. Tak sadar pemilik kaki itu berhenti, Aurora langsung menubruk punggungnya. Angkasa jadi berbalik melotot galak.
"Ngapain sih, lo?" semprot Angkasa sebal.
Aurora malah nyengir. "Setiap langkah Angkasa adalah langkah Aurora."
Angkasa jadi kepikiran untuk menginjakkan kakinya di liang lahat, lalu mengubur Aurora disana biar enggak bisa keluar lagi.
"Jangan masuk kamar gue. Gue mau ganti baju!" peringatnya lalu beranjak ke kamar.
"Eeh," tangan Aurora terulur menahan udara. Terlambat. Pintu kamar Angkasa langsung menutup begitu Aurora berniat mengejarnya.
Menghela nafas lesu, Aurora mendekati Tante Seruni yang sedang sibuk di dapur. Wanita paruh baya yang nampak teduh dan selalu tersenyum kepada Aurora, kini sedang menggosok spons ke piring kotor.
"Biar Rora yang bilas, Tante!" serunya jadi semangat. Lalu berdiri di sebelah Seruni dan mengambil piring yang sudah dicuci untuk kemudian dibilas menggunakan air keran.
Seruni ingin menjembel pipi gembil Aurora kalau saja tangannya tidak penuh dengan busa. "Calon mantu paling perhatian deh, kamu, Ra."
Deretan gigi rapih Aurora tercetak atas pujian itu. Memang, tidak ada yang lebih baik dari Tante Seruni dalam memperlakukan Aurora di keluarga ini.
"Halah, palingan juga ada maunya."
Kenalin, Pelangi. Adik Angkasa yang sebenarnya siiih cakep, tapi mulutnya lebih berbahaya dari petasan di bulan puasa. Berjarak umur tiga tahun, sekarang dia baru kelas dua SMP. Seperti Angkasa yang tampan sempurna, Pelangi juga begitu cantik dengan lesung pipi yang hanya muncul di pipi kirinya. Cuma ya gitu, galaknya bisa bikin dia diterima langsung di geng Yakuza. Selalu menjelek-jelekkan Aurora di berbagai kesempatan, sering mengibarkan bendera perang dan untungnya Aurora terlalu malas meladeni.
"Kan maunya cuma Angkasa," Aurora memberikan kedipan kepada Pelangi yang sedang duduk di meja makan sambil memotong apel. Bukan kedipan tulus. Hanya sengaja ingin membuat Pelangi tambah keki.
Benar saja. Pelangi melotot kepada Aurora sambil mengacungkan pisau ditangannya. Segera dibalas juluran lidah oleh Aurora.
"Hush! Berantem terus kalian kalau ketemu." Seruni menengahi dua anak gadisnya. "Di kulkas ada es krim strawberry kesukaan kamu, Ra. Tadi tante sengaja belikan pas belanja. Mau?"
Mata Aurora langsung berbinar terang. "Mau!" Tanpa disuruh lagi, kaki jenjangnya berlari kecil membuka kulkas.
"Sekalian minta tolong panggilkan Angkasa ya, Rora. Dia pasti langsung tidur deh lupa makan siang kalau enggak diingetin," pinta Seruni yang langsung diangguki oleh Aurora. Dengan segera gadis itu melangkah naik memasuki kamar Angkasa.
Karena pintu tidak terkunci, Aurora jadi lupa untuk mengetuk. Sebenarnya karena keseringan begitu, jadi kebablasan. Dan pemandangan Angkasa yang sedang berganti baju pun tanpa sengaja kini terlihat. Bukan menutup mata, Aurora refleks menutup mulut takut air liurnya mengalir deras melihat pemandangan langka di depannya. Tubuh tinggi Angkasa dengan otot dada dan lengan yang terlihat kokoh tentu saja membuat Aurora terpesona hingga lupa berkedip.
Angkasa berdecak, berbalik memunggungi Aurora. "Ketuk pintu dulu, dong!" omelnya.
Aurora nyengir. "Lupa."
Angkasa memutar bola mata malas. "Pergi lo, gue mau ganti baju."
"Tapi jangan lupa makan ya!"
"Bawel!"
Sebelum benar-benar menutup pintu lagi, sekali lagi Aurora mengintip badan shirtless Angkasa, lalu gadis itu nyengir lagi. Sexy banget tunangan gue! Jeritnya yang sangat ingin menyentuh dada bidang itu.
Oh, Aurora pasti mupeng banget, kan?!
***