Bab 1

Di Kerajaan Feodora, setelah masa kejayaan Raja Chaperon berakhir, Raja yang dikenal bengis karena merebut takhta dengan cara melakukan pemberontakan dan membunuh ayahnya sendiri lalu naik ke atas takhta.

Tujuh tahun bertakhta, Raja Chaperon yang dikenal tidak memiliki sedikitpun rasa belas kasih, bahkan membuat kontrak dengan Raja Iblis —oleh para bawahannya yang merencanakan kudeta, kembali melakukan pemberontakan untuk menggulingkannya.

Pemberontakan itu dikepalai oleh adik Chaperon yang bernama Calliope.

Calliope yang merupakan seorang Sword Master bersama dengan para bangsawan dan dibantu oleh para Penyihir, Elf, Mage, Naga, bahkan para Spirit —bersatu untuk melawan Chaperon yang dibantu oleh Raja Iblis Biru.

Chaperon kalah. Calliope naik ke atas takhta menggantikan kakaknya.

Pemerintahan Calliope yang terlihat damai itu ternyata memiliki kelemahan.

Pemberontakan Calliope yang dibantu oleh para bangsawan saat menggulingkan kakaknya, terpecah menjadi dua faksi dengan dalih menentang Pangeran pertama untuk naik takhta.

Akhirnya, Raja Calliope membuat sebuah perjanjian darah, di mana yang berhak untuk menjadi Raja berikutnya menggantikan dia haruslah seorang Sword Master seperti dirinya.

***

Tiba-tiba ia berada ditempat yang asing. Ia memang memiliki keistimewaan bisa melihat emosi seseorang lewat aura tubuhnya.

Marah, sedih, kecewa, dan jenis emosi lainnya. Ia bisa mengotak-kotakkan manusia dari auranya. Ia bisa melihat warna aura yang menyeruak keluar dari tubuh manusia.

Namanya GYANDRA VEGA, wanita dua puluh lima tahun dan biasa dipanggil Jia.

Jia merupakan seorang wanita karir yang hidup sendirian tanpa orang tua dan saudara. Dulu ia memilikinya. Tapi ia memutuskan untuk membuang mereka dari hidupnya.

Terakhir kali yang ia ingat, Jia sedang duduk termenung sendirian di apartemen sederhana miliknya di lantai paling atas —tepatnya di atap sebuah gedung berlantai tujuh.

Di hadapannya berserakan beberapa botol bir. Ia sedang merasa hancur, pikirannya tidak waras karena menjadi wanita bodoh yang ditipu oleh kekasihnya.

Lelaki itu pergi dengan wanita lain membawa semua uang yang sudah mereka kumpulkan bersama untuk menikah.

Jia merasa dirinya sangat bodoh. Padahal ia bisa melihat auranya. Aura ketidaktulusan. Aura pembohong. Tapi karena dibutakan oleh perasaan, ia terus menepisnya.

Tidak sampai di situ saja. Jia yang tidak salah apa-apa malah dituduh sebagai selingkuhan yang sudah mengganggu hubungan orang lain. Padahal sudah jelas kalau Jia memiliki hubungan dengan laki-laki bernama FABIAN itu —sebelum lelaki itu mengenal selingkuhannya.

Beberapa orang yang mengetahui tentang kenyataan itu, ikut bungkam karena tidak mau terlibat masalah.

Sialnya, wanita yang didekati oleh Fabian merupakan keponakan pemilik tempat Jia bekerja. Akhirnya, Jia pun dipecat.

Jia yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan hanya bisa pasrah. Sepertinya, memercayai seseorang adalah hal yang tabu untuknya. Ia bahkan tidak bisa menangis. Jadi ia minum alkohol saja untuk menemani perasaannya yang kacau.

Dua jam kemudian. Saat kesadaran Jia mulai menurun, ia merasakan aura kehadiran seseorang dari arah belakangnya.

Saat Jia hendak berbalik, orang itu dengan cepat mencekik lehernya. Jia tidak bisa melawan karena tenaganya sangat kuat. Dari situ Jia tahu bahwa orang yang mencekiknya merupakan seorang lelaki.

"Apakah dia Fabian? Teganya dia!" batin Jia dengan penuh putus asa.

Saat Jia hampir kehabisan napas dan tergeletak lemas. Lelaki itu mengangkat tubuhnya dan melemparkannya begitu saja dari atap gedung berlantai tujuh itu.

Sebelum melepaskan tubuh Jia, si lelaki membisikkan sesuatu di telinganya, "Jangan membenciku!" —lalu melemparkan tubuh Jia begitu saja seperti sampah.

Tubuh Jia melayang. Beberapa detik sebelum kematiannya, Jia sempat melihat sosok lelaki yang sangat tega menghempaskan tubuhnya itu.

"Dia bukan Fabian! Di-dia ...,AZIEL! Dia sepupu Fabian. Apa mungkin Fabian yang menyuruhnya?" Begitulah hal terakhir yang Jia ingat.

Anehnya, Jia melihat dari tubuh Aziel menyeruak aura berwarna abu-abu. Kalau Aziel sedang marah seharusnya aura tubuhnya berwarna merah atau hitam. Tapi kenapa abu-abu?

Aziel yang membunuh Jia. Tapi kenapa malah Aziel yang tampak merasa bersalah? Apa maksudnya?

Kemudian Jia menutup mata. Pasrah dengan apa pun yang akan terjadi.

Bab 2

"Kak ...,kakak ...,kakak sudah bangun? Kakak sudah sadar?" —sayup Jia mendengar suara entah dari mana asalnya.

Jia berpikir bahwa ia baru jatuh dari atas gedung lantai tujuh. Jadi wajar bila mendengar suara-suara seperti itu.

"KAK!!!" Suara yang awalnya hanya terdengar sayup, kini berubah menjadi teriakan.

"Aneh. Kenapa sejak tadi teriakan itu terus memanggil kakak? Apa ini semacam kilas balik kehidupanku? Tapi di kehidupanku yang sekarang aku tidak punya adik. Apa ini kilas balik dari kehidupanku yang sebelumnya? Eiy, masa iya?" batin Jia masih terus berbicara entah pada siapa.

Anehnya, Jia masih bisa berpikir macam-macam dikepalanya.

"Ayah! Ayah! Kakak sudah sadar." Suara teriakan yang sama terus menggema.

"APA?! Cette sudah siuman?" Disambut oleh suara dari orang yang lainnya.

Perlahan Jia membuka mata.

"Duh, kira-kira di neraka atau di surga ya?" batin Jia agak risau kalau saja ia malah berakhir di neraka.

Jia pernah mendengar bahwa di neraka sangat menyiksa. Walaupun Jia bukan orang yang benar. Tapi ia juga tidak ingin berakhir di neraka.

"Aku tidak merasakan hawa panas sedikitpun. Apa aku harus bersyukur?" batin Jia sedikit lega.

Setelah matanya terbuka, hal pertama yang Jia lihat adalah seorang pria paruh baya yang menatapnya penuh cemas, juga seorang wanita berusia belasan duduk di sebelahnya sambil memegangi tangannya dan menangis.

"Kak, kakak sudah sadar? Kakak benar-benar sudah sadar?" isak si gadis remaja dengan memegangi tangan Jia.

"Kakak? Apa-apaan gadis ini? Kenapa dia memanggilku kakak dan kenapa dia menangis segala?" batin Jia merasa bingung dengan aksi si gadis remaja itu.

Mata Jia menangkap sesuatu yang lebih aneh lagi. Ia melihat si gadis remaja mengenakan gaun yang sangat berlebihan. Warna rambut dan matanya juga tidak biasa.

"Kenapa pakaiannya seperti pakaian bangsawan abad pertengahan begitu? Mereka sedang syuting film dokumenter zaman kerajaan atau bagaimana, sih?" batin Jia masih sempat menebak-nebak dalam pikirannya.

"Cette, anakku! Ayah senang karena kamu sudah sadar. Ayah sangat takut dan khawatir. Tapi syukurlah," ucap si bapak paruh baya dengan tatapan berkaca-kaca.

"Ini apa lagi, sih? Nama aneh dari mana lagi itu? Om, namaku itu Jia bukan Cette. Lagian aku bukan anak kamu. Asal om tahu ya, aku sudah membuang jauh-jauh keluargaku yang tidak membanggakan itu," batin Jia panjang lebar mendadak menggebu-gebu.

"Panggilkan tabib keluarga!" titah si Pria paruh baya entah pada siapa.

"Tabib? Hello, om! Aku itu butuhnya dokter bukan tabib. Eh bentar deh!" Tiba-tiba Jia mengingat sesuatu. "Aku jatuh dari lantai tujuh, masa iya aku masih hidup?"

Perlahan Jia mengangkat tangan kirinya. Ia semakin bingung dan merasakan banyaknya keanehan.

"Tidak ada bekas luka sayatan yang aku terima dua tahun lalu di lengan kiriku. Jelas-jelas bekasnya tidak bisa hilang dan membekas. Kenapa sekarang tidak ada?" batin Jia semakin larut dalam kebingungan.

Kini pandangannya kembali terlempar ke setiap sudut ruangan yang sedang ia tempati saat ini. Jia melihat ornamen-ornamen yang memenuhi ruangan itu tidak biasa.

"Apa-apan kamar luas yang mewah ini? Aku sebenarnya ada di mana, sih?" Jia benar-benar tidak memahami situasinya.

"Tuan, tabib sudah datang!" ungkap seseorang dari depan pintu.

"Biarkan masuk!" titah si Pria paruh baya itu.

Begitu tabib yang dimaksud masuk, Pria paruh baya itu menghampiri si tabib dan menyeretnya untuk langsung mendekat pada Jia.

"Tolong periksa Putri saya!" pinta si Pria paruh baya kepada si tabib yang baru saja datang.

Tabib yang perawakannya cukup tua dengan jenggot putihnya yang panjang nan lebat, mendekat pada Jia dan memeriksa denyut nadinya.

"Nona, apa Anda bisa melihat saya?" tanya si Tabib pada Jia. Jia mengangguk saja. "Apa ada bagian tubuh Anda yang terasa sakit?"

Jia yang sejak membuka mata memang merasakan sakit yang sangat mencekam di bagian kepalanya, menyentuh bagian kepalanya yang sakit untuk memberitahu kepada si tabib, agar memeriksanya.

"Saya akan meresepkan obat untuk sakit kepala Anda," ujar si tabib kepada Jia dengan tenang.

"Resep obat? Hello? Annyeonghaseyo mang tabib?" batin Jia sambil membelalakkan mata di depan si tabib. "Aku ini bukan lagi pusing karena kelelahan atau migrain. Apa dia tidak tahu kalau aku baru jatuh dari gedung yang tinggi ya? Aku harus di CT-Scan, kepalaku harus di periksa. Bagaimana kalau aku sampai gegar otak? Bahaya banget, kan? Ya ampun," batin Jia tidak habis pikir dengan si tabib yang hanya ingin meresepkan obat saja.

"Apa mungkin Anda masih kesulitan berbicara?" tanya si tabib ketika melihat Jia hanya bungkam sejak kedatangannya.

"Lah iya yak!" batin Jia terkesiap mendengar pertanyaan si tabib. "Ngapa aku dodol banget ngomong dalam hati mulu dari tadi." Jia malah merasa konyol sendiri.

Jia perlahan membuka mulut untuk mengeluarkan suara pertamanya setelah kejadian tragis itu.

"Ahhhhrrrr ...." Jia mulai mengeluarkan suara. Tapi ia merasa sakit yang mencekam pada tenggorokannya.

Jia kesulitan mengeluarkan suara. Ia berpikir rasa sakit pada tenggorokannya dikarenakan Aziel sempat mencekik lehernya.

"Pantas saja!" batin Jia seraya mengelus pelan lehernya. Karena ia kesulitan mengeluarkan suara, akhirnya Jia menggelengkan kepalanya kepada si tabib menandakan kalau ada yang salah dengan tenggorokannya.

"Apa tenggorokan Anda sakit?" tanya si tabib dan Jia mengangguk. "Itu efek luka goresan yang megenai leher Anda. Nanti saya akan menyuruh murid saya untuk mengganti perban di leher dan kepala Anda. Apa masih ada lagi yang sakit?" lanjut si tabib dan Jia hanya menggeleng. "Baiklah!" Kemudian si tabib menjauh darinya dan langsung menemui Pria paruh baya yang tadi.

"Nona Luvena perlahan akan stabil kembali. Mungkin karena sudah tertidur selama hampir sebulan ...."

"Wait —WHAT? SEBULAN??? Lah udah selama itu? Padahal kayak baru semenit yang lalu aku jatuh," batin Jia sambil membelalakkan kedua matanya ke arah si tabib yang berbicara dengan si Pria paruh baya.

"....jadi sistem motoriknya masih belum berfungsi dengan baik, karena sudah terlalu lama vakum. Tuan Penguasa, Nona Muda, atau para pelayan bisa pelan-pelan membantunya pulih dengan cara menggerak-gerakkan atau memijit-mijit tubuh Nona. Itu akan sangat membantu," jelas si tabib pada si pria paruh baya.

"Saya akan mengirimkan murid saya untuk mengganti perban dan membawa beberapa obat yang saya resepkan untuk Nona Luvena. Kalau begitu saya permisi," sambung si tabib.

Setelah kepergian si tabib tua berjenggot itu, kini tinggal si gadis remaja, si pria paruh baya, dan Jia saja.

"Kak, syukurlah kakak sudah sadar. Aku sangat kesepian dan sangat takut karena kakak tidak kunjung bangun," isak si gadis remaja yang masih berada di sebelah Jia dan memeluknya.

"Cette, kamu benar-benar sudah sembuh, kan, Nak? Ayah sangat takut kehilangan kamu. Apa yang akan ayah katakan kepada ibumu yang tidak bisa menjagamu ini nanti. Maafkan ayah, mulai sekarang ayah akan lebih melndungimu dan menjagamu. Ayah berjanji!" Si Pria paruh baya juga turut terisak sambil memegangi tangan kiri Jia.

"Apa ini? Kenapa mereka sesedih itu? Aku bukan siapa-siapa mereka. Aku bahkan tidak tahu siapa mereka," batin Jia karena merasa banyak hal yang tidak ia mengerti sedang terjadi.

Tiba-tiba saja ingatan-ingatan yang sepertinya bukan milik Jia —dengan cepat dan secara paksa melintas di kepalanya.

'Kalau kalian tidak menjauh, aku akan menggores leherku dengan pecahan kaca ini. Jadi aku mohon menjauhlah!'

'Anda tidak boleh melakukan itu, Nona. Anda tidak boleh membuat bekas di tubuh Anda.'

'Lepaskan aku, Dav!'

'Pangeran akan segera mati. Jadi kalau kamu terlalu mencintainya, kenapa kamu tidak mengorbankan nyawamu saja!'

*

"Ingatan siapa itu? Kenapa ingatan yang tidak pernah aku alami melintas di kepalaku? Astaga! Kepalaku sakit sekali," batin Jia sambil memegangi kepalanya yang sakit. Ia bahkan memejamkan paksa matanya karena rasa sakit itu.

"Kakak kenapa?" teriak si gadis remaja ketika melihat Jia menutup mata sambil memegangi kepala.

"Tuan, tabib muda sudah datang!" seru seseorang dari depan pintu.

"Persilakan masuk!" titah si Pria paruh baya.

"Saya Zien. Saya diminta guru untuk mengganti perban Nona Luvena," tutur si tabib wanita begitu ia sampai.

"Tolong sekalian diperiksa karena Putri saya baru saja mengerang kesakitan," balas si pria paruh baya yang langsung mempersilakan Zien untuk mendekat pada Jia.

Zien mendekat kepada Jia dan bertanya, "Nona, apa Anda mengenal Nona ini?" tanya Zien sambil menunjuk ke arah si gadis remaja.

Jia yang memang tidak tahu gadis itu siapa, langsung menggelengkan kepala tanpa keraguan.

"Ka-kakak tidak ingat siapa saya?" Si gadis remaja kembali memasang raut wajah sedih. "Kak, ini saya Gitte —adikmu!"

"Apa kamu juga tidak mengingat ayah?" tanya si pria paruh baya yang turut menanyakan tentangnya juga.

Jia kembali mengangguk.

"A-apa yang terjadi pada Putri saya? Kenapa Cette tidak mengingat kami?" tanya si Pria paruh baya pada Zien mulai panik.

"Bingung, kan, kalian? Sama! Aku juga. Kalian kenal aku, sementara aku tidak kenal siapa kalian. Bahkan aku tidak tahu sedang berada di mana dan kenapa masih hidup. Yaps, mari bingung bersama. Hehe ....!" Jia malah senyum-senyum sendiri karena saking bingungnya.

"Kita hanya bisa berharap agar Nona tidak mengalami amnesia," tutur Zien dengan sangat berberat hati.

Namun, di tengah pembahasan itu, tiba-tiba seorang kesatria kediaman Luvena menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut.

"Tuan!" pekik si kesatria tergopoh-gopoh mendapatkan si pria paruh baya, langsung menghadap dan menunduk.

"Ada apa?" tanya si pria paruh baya kepada kesatria yang baru saja datang itu.

"Maafkan atas kelancangan saya. Tapi Lord ...."

Kesatria itu belum selesai menyampaikan maksudnya, seseorang sudah berdiri di belakangnya.

Jia melihat Zien langsung menyingkir dari tempat tidur, kemudian menundukkan kepalanya ke sebuah arah.

Tidak hanya Zien, bahkan si gadis remaja yang mengaku bernama Gitte turut menundukkan kepala mengikuti Zien.

Kini si Pria paruh baya tengah menatap kepada seseorang tersebut. Walaupun Jia belum bisa melihatnya lebih jelas karena posisi Jia saat ini masih berbaring.

"Hormat kami kepada Lord Glenn, Sang Bulan Kerajaan!" tutur si Pria paruh baya pelan, lalu turut menundukkan kepalanya juga.

"Lord Glenn? Aku seperti tidak asing dengan nama itu," batin Jia bingung.

Bab 3

"Salam kepada Sang Bulan kerajaan, Yang Mulia Grand Duke!" ujar Penguasa Luvena, yakni RUXEN ODELO LUVENA —ayah kandung Cette dan Gitte, kepada seseorang yang baru datang.

Bukan hanya Ruxen saja yang menundukkan kepalanya, tapi semua orang yang ada di ruangan ini melakukan hal yang sama.

"Ada keperluan apa Anda datang ke kediaman kami tanpa pemberitahuan?" tanya Ruxen pada orang yang ia sebut Yang Mulia tersebut.

Ada sedikit penekanan dari kata-kata yang diucapkan oleh Ruxen kepada orang yang ia maksudkan.

Ruxen sepertinya tidak begitu menerima kedatangan Lord Morgan di kediamannya. Belum lagi karena Morgan datang tanpa pemberitahuan —merupakan hal yang tidak sopan bagi seorang bangsawan yang datang bertamu ke kediaman bangsawan lain tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Alasan lain, karena faksi yang mereka anut jelas berbeda.

Orang yang ditanyai bukannya menjawab pertanyaan Ruxen, ia malah berjalan semakin mendekat ke arah Jia yang masih terbaring di atas tempat tidur.

Kini orang yang disebut sebagai Lord Morgan itu sudah berada dihadapan Jia.

"Puja kerang ajaib!" batin Jia terkesiap.

Jia terperangah melihat ketampanan tiada tara dari makhluk yang sedang ia tatap saat ini.

Wajah tampan nan rupawan, rambut silver dengan mata berwarna merah yang tajam. Tidak ketinggalan bentuk tubuh indah bak pahatan dari sang profesional.

Laki-laki yang benar-benar merefleksikan suami idaman yang sangat mustahil untuk Jia wujudkan selama ini. Karena menurutnya tidak mungkin ada yang sesempurna seperti sosok yang sedang ia tatap ini.

Tapi karena Jia melihatnya dengan jelas berdiri dihadapannya, ia semakin yakin kalau ia tengah bermimpi.

"Boleh bawa pulang gak bang?" batin Jia malah cengengesan sendiri.

Laki-laki itu berdiri sambil menatap pada Jia yang terbaring lemah di atas tempat tidur.

"Duh, kalau dia menatapku sampai sebegitunya, kan aku jadi malu!" batin Jia lagi malah dengan tatapan malu-malu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Tapi ....

"Pfft!!"

"Eh? Tertawa mengejek darimana yang baru saja aku dengar ini?" batin Jia mulai mencari asal suara tersebut.

Jia kembali melemparkan pandangannya kepada laki-laki bertubuh indah dan berparas memesona itu. Wajah tampannya masih menunjukkan senyuman menyeringai yang tidak enak untuk dilihat.

"Apa dia yang baru saja menertawakan aku? Benarkah?" batin Jia sembari mengernyitkan dahi. "Aku sudah memujimu karena kamu sangat tampan, tapi kamu baru saja menertawakanku? Tidak terpuji sekali kamu!" batin Jia lagi yang malah sebal sendiri.

"Lagi pula apa yang sedang dia tertawakan? Apa baginya melihatku yang seperti ini merupakan sebuah lelucon?" lanjut Jia masih berbicara di dalam hati dengan raut wajah sebal.

Laki-laki yang dipanggil Lord itu tiba-tiba mengubah raut wajahnya menjadi serius. "Ternyata kamu masih hidup ya!" decihnya dengan ekspresi seriusnya itu.

Jia membelalakkan mata. "Apa dia sudah gila?! Berani sekali dia mengatakan hal mengerikan itu dengan ekspresi seperti itu."

Jia mengedarkan pandangannya ke sekitar. Tapi tidak seorangpun yang berusaha untuk menimpali ucapan manusia dengan lidah iblis itu.

"Apa mereka tidak mendengar ucapannya yang sangat menusuk jantungku itu?" tanya Jia dalam hati merasa kebingungan.

"Ayah, Cettemu ini sedang dihina oleh orang tampan yang sedikit gila ini. Tolong bela aku!" batin Jia lagi dengan tatapan sayu rayu yang mendadak mengakui dirinya sebagai Cette kepada Ruxen yang tadi sangat mengkhawatirkannya itu.

Ruxen yang seolah mengerti Jia sedang meminta pembelaan darinya, akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap Lord Morgan.

"Tolong usir dia, ayahnya Cette! Walaupun dia tampan dan sangat idaman. Tetap saja dia sangat menyebalkan!" batin Jia merasa akan mendapatkan dukungan dari Ruxen.

"Yang Mulia, maafkan atas kelancangan saya! Tapi, ada keperluan apa Anda tiba-tiba datang ke kediaman kami?" tanya Ruxen lagi dengan pertanyaan sebelumnya kepada Morgan.

"Tidak ada. Aku datang karena mendengar Putri Anda sudah siuman," jawab Morgan dengan santainya.

"Lihatlah jawabannya yang sangat menyebalkan itu!" batin Jia masih terus merasa sebal, walaupun tidak ada yang bisa mendengarkan suaranya.

"Tapi ...melihat keadaannya yang sangat memprihatinkan, aku jadi semakin merasa kasihan!" lanjut Morgan lagi belum mengalihkan pandangannya dari Jia. Ia bahkan tersenyum kecil seperti mengejek.

"Ka ...,kaaauuu ...!" bentak Jia akhirnya dengan sangat kesusahan dari sisa kekuatan yang sudah ia kumpulkan dengan sekuat tenaganya.

"Suara sialan ini malah tidak bisa ke luar di saat yang penting seperti ini!" batin Jia merasa sangat geram. "Aku sangat ingin memukulnya!"

Kemudian Jia mengepalkan tangan kanannya. Walaupun dengan sangat kesulitan, ia mencoba untuk mengangkatnya.

"Apa kamu ingin memukulku?" tanya Morgan dengan entengnya. "Menarik!"

"Menarik lambemu! Aku benar-benar akan memukulmu sekuat tenagaku," sarkas Jia dalam hati dengan penuh kekesalan.

"Cette, sopanlah pada Yang Mulia!" perintah Ruxen kepada Jia. "Beliau yang sudah menyelamatkan kamu!"

"Eh...?" Jia berdeham dan langsung mengubah raut wajahnya menjadi lebih lembut. "Dia yang sudah menyelamatkanku? Tapi kenapa dia berbicara seolah-olah tidak senang karena aku masih hidup?" batin Jia semakin dilema harus berterimakasih atau mengutuknya saat ini.

"Sejak tadi dia juga dipanggil Yang Mulia. Apa mungkin dia Raja? Atau Pangeran? Dia cakep, sih! Tapi sayang perangainya tidak sesuai dengan wajah tampan dan juga gelarnya," batin Jia sambil menggeleng dan memasang ekspresi tidak suka.

"Mungkin kamu lupa. Tapi beliau merupakan Yang Mulia Grand Duke. Nama beliau adalah MORRIGAN CAVELIO GLENN," jelas Ruxen pada Cette yang seperti kebingungan.

"Morrigan? Glenn? Kenapa aku seperti tidak asing dengan nama itu?" batin Jia sedang menerawang jauh dalam memori ingatannya tentang kapan dan di mana ia pernah mendengar nama yang sama.

"Lupa? Apa mungkin Putri Anda ...."

"Tabib mengatakan bahwa ada kemungkinan Cette mengalami amnesia. Cette bahkan tidak mengingat saya dan juga adiknya," jelas Ruxen kepada Morgan.

"Amnesia?" desis Morgan sembari memiringkan kepalanya dan menatap Jia. "Benarkah?"

"Iya benar. Terus lu mau apa?" batin Jia masih sebal.

Namun, Morgan malah kembali tersenyum menyeringai.

"Ada yang bisa ngambilin tongkat baseball gak, sih?" batin Jia sudah tidak bisa menahan diri. "Aku akan memberikan pelajaran kepada Yang Mulia ini!"

Tiba-tiba Jia merasakan seperti ada yang memukul kepalanya dengan sangat kuat. Ia seperti mendengar bunyi 'TING!!!' dengan sangat keras dari kepalanya.

Jia terdiam beberapa saat. Ia tidak bisa merasakan apa-apa. Bunyi yang hanya sekali tapi sangat keras itu berhasil membuatnya tak berdaya.

"Perasaan aneh apa ini? Ke-kenapa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku sendiri!" batin Jia kebingungan sendiri. Ia bahkan tidak bisa mengedipkan matanya sendiri. "A-apa yang harus aku lakukan?"

"Nona? Apa Anda baik-baik saja?" tanya Zien saat melihat gelagat Jia yang sedikit aneh.

Tanpa memedulikan ada Morgan di sana, Zien langsung berhambur ke dekat Jia untuk memeriksa keadaannya.

"Kakak!" Gitte juga ikut berteriak dan kembali menangis.

Di tengah kericuhan yang tercipta itu, Jia baru menyadari bahwa sekitarnya mendadak menjadi gelap. Ia tidak bisa melihat apa-apa.

Tapi saat Jia melihat sebuah cahaya berwarna Biru melesat cepat ke arahnya dan menembus jantungnya, ia merasakan dadanya seperti terbakar.

"Aarrgghhhhhh!" erang Jia sekuat tenaga walaupun ia belum benar-benar bisa mengeluarkan suara. Tapi Jia sudah bisa menggerakkan tubuhnya kembali.

"Dadaku sakit sekali!" batin Jia mulai mengeluarkan air mata. Ia tidak berdaya dengan perasaan mencekam seperti di antara hidup dan mati yang sedang menimpanya saat ini.

"Rasa sakit ini lebih menyiksa daripada ketika aku dicekik oleh Aziel," batin Jia lagi masih belum bisa mengendalikan dirinya.

"Nona Luvena, tenanglah!" Jia mendengar ada suara orang yang berbicara. Walaupun suara itu terasa sangat jauh sekali.

Jia terus mengerang kesakitan dan menyadari tengah menggenggam erat tangan seseorang. Walaupun ia tidak tahu tangan siapa yang ia genggam.

"Apakah ini tangan Zien? Atau Gitte?" batin Jia masih sempat menerkanya. Beberapa saat kemudian Jia tidak sadarkan diri.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED