Pagi ini Rumah Bersalin milik Warni di penuhi oleh pasien. Tidak hanya Ibu hamil. Tetapi juga para wanita yang ingin melakukan suntik KB dan Imunisasi.
"Sepertinya 2 orang tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan sebanyak ini," ucap Sari sambil sibuk mencatat nama pasien.
"Kamu benar. Sebaiknya cepat panggil Nur dan Siti! Biar aku yang mengambil alih tugasmu terlebih dahulu," perintah Yuni yang langsung mendekat ke arah sahabatnya.
Disaat Sari dan Yuni sedang sibuk melayani pasien yang semakin membludak. Warni yang baru saja keluar dari rumahnya terlihat berdiri di depan pintu. Dia terlihat tersenyum sambil melihat ke arah pasien yang berdatangan.
"Sudah kuduga, selain emas dan harta pasien akan semakin banyak yang datang," ucap Warni sambil tersenyum.
Dengan penuh rasa bahagia Warni mulai berjalan ke arah ruangannya. Senyum ramah dia tunjukkan pada setiap pasien yang ada di tempat itu. Hingga akhirnya dia tiba-tiba berhenti dan tersenyum ke arah wanita muda yang ada di sudut kursi.
"Sepertinya wanita itu cocok untuk tumbal selanjutnya, semoga saja dia melahirkan di waktu yang tepat," batin Warni sambil tersenyum ke arah wanita tersebut.
Sambil menoleh ke arah para perawat. "Jika selesai di data, mereka suruh langsung masuk ke ruang periksa."
"Baik. Bu Bidan," jawab mereka secara bersamaan.
***
Waktu berlalu dengan begitu cepat. Semua pekerjaan Warni sebagai seorang bidan desa akhirnya berakhir. Setelah membersihkan mejanya dia segera berjalan ke arah rumahnya. Dia sengaja membuka rumah bersalin itu berdekatan dengan rumahnya. Agar memudahkannya mengawasi rumah bersalinnya.
"Sudah pulang. Dek?" tanya Surya yang melihat sang istri masuk ke dalam kamar.
"Kamu tidak lihat sekarang jam berapa? Ya pasti aku sudah pulang." Warni menjawab dengan ketus.
"Bukan begitu, apa kamu mau aku siapkan makanan atau minuman," ujar Surya sambil memijat tangan sang istri.
"Tidak perlu! Lebih baik kamu pergi saja ke pasar, aku bisa melakukannya sendiri!" bentak Warni sambil menoleh ke arah Surya yang ada di belakangnya.
"Apa kamu yakin?" tanya Surya memastikan.
"Sudah kamu tidak perlu banyak tanya! Lebih baik kamu urusi saja pekerjaanmu yang tidak pernah menghasilkan uang banyak untukku!" bentak Warni sambil mendorong tubuh sang suami ke arah pintu rumah.
Setelah menutup pintu, Warni duduk termenung di lantai sambil mengingat kejadian 2 tahun yang lalu. Warni yang saat itu baru saja mendapat gelar Bidan langsung memutuskan untuk membuka rumah bersalin kecil di rumah peninggalan almarhum orang tuanya. Namun, pasien yang dia harap akan datang dengan jumlah banyak justru tidak ada yang bersedia memeriksakan kandungannya ke Warni. Usia yang masih muda serta gelar Bidan yang baru diterimanya, dan status Warni yang hanya anak seorang petani miskin menjadi alasan utama warga menolak memeriksakan diri ke Warni
Berbagai cara sudah dilakukan Warni mulai memberikan diskon, sampai pemeriksaan gratis dengan harapan agar warga bersedia memeriksakan kandungannya ke rumah bersalin miliknya. Namun, hal itu tidak membuat warga luluh, pemikiran dan anggapan warga tentang anak petani miskin tidak pantas menjadi seorang bidan terus melekat di pikiran mereka. Warni yang kebingungan akhirnya mendatangi Nia sahabatnya yang tinggal di Desa sebelah untuk menceritakan apa yang sedang terjadi padanya saat ini. Nia yang saat itu memiliki kekayaan dari hasil pesugihan siluman ular putih, menyarankan kepada Warni untuk mengikuti jejaknya.
Nia juga mengatakan untuk tumbal awal dia harus menyiapkan seorang bayi yang lahir dari rahimnya. Hal itu tentu membuatnya bingung, pasalnya sampai saat ini Warni belum juga mempunyai seorang pendamping. Hingga akhirnya Nia menyarankan Warni untuk menikah dengan seorang pria miskin dan lugu.
Karena dengan begitu, dia akan mudah menjalankan rencananya. Waktu berlalu dengan begitu cepat. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menikah dengan Surya, seorang penjual bumbu giling di pasar tradisional.
Saat Warni sedang melamun, tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara ponsel yang ada di dalam saku bajunya. Dengan cepat Warni pun mengambil ponselnya, terlihat nama Yuni ada di layar ponselnya. Seketika Warni langsung mematikan ponselnya dan bergegas berjalan ke arah halaman belakang.
"Yuni? Sebaiknya aku biarkan saja, karena ada hal yang lebih penting." Warni segera berdiri dari tempat duduknya.
Perlahan Warni masuk ke dalam kamar kecil yang terletak di pojok halaman, sebuah kamar yang selalu tertutup rapat dengan kunci gembok yang menggantung. Di dalam kamar yang engap dan dengan penerangan yang seadanya terlihat sebuah ubo rampe seperti bunga tujuh rupa, dupa serta tempat untuk membakar kemenyan. Warni yang sudah gelap mata langsung duduk bersilah sambil membaca mantra untuk memanggil Nyi Sukma, tidak berapa lama wanita cantik dengan tubuh menyerupai ular sudah ada di hadapannya.
“Ada apa kamu memanggilku kemari?" tanya Nyi Sukma.
“Maaf, Nyai. Saya hanya ingin memberitahukan jika saya sudah mendapatkan tumbal untuk bulan depan, Nyai bisa melihat wanita itu. Apa dia sesuai dengan pilihan anda.” Warni menjawab sambil bersimpuh di hadapan wanita bertubuh ular tersebut.
Nyai Sukma sendiri adalah seorang wanita cantik yang memiliki tubuh seperti ular. Di Desa Tlogo Ungu Nyai Sukma terkenal sebagai siluman ular putih. Banyak dari warga Tlogo Ungu meminta bantuannya untuk mendapatkan kekayaan secara instan. Bahkan ada sebagian laki-laki yang rela hidup sendiri demi bisa menikah dengan Nyi Sukma. Semua itu mereka lakukan hanya demi mendapatkan kekayaan dunia.
Tatapan tajam terlihat jelas dari dua mata siluman ular tersebut. Sebenarnya ada rasa takut dalam diri Warni saat berhadapan dengannya. Namun, semua seketika sirna saat dia mengingat kembali penghinaan yang diberikan warga desa.
"Siapa wanita ini?" tanya Nyi Sukma penasaran.
"Dia adalah salah satu dari warga desa sebelah. Saat saya periksa usia kehamilan sudah masuk bulan ke 7," jawab Warni sambil gemetar.
"Bulan ke 7 lalu bagaimana mungkin kamu bisa menjadikan dia tumbal. Sementara dia akan melahirkan 2 bulan lagi!" bentak wanita ular hingga membuat Warni terkejut.
"Ampun. Nyai, maksud saya jika Nyai berkenan saya ingin meminta bantuan agar Nyai melakukan sesuatu untuk membuatnya melahirkan di bulan depan," jawab Warni sambil terus bersujud.
Nyi Sukma terlihat memandang wanita itu dengan mata yang lebar. Tubuh menyerupai ular terlihat berlenggak-lenggok di hadapan sang bidan desa. Tidak ada jawaban apapun dari wanita cantik itu selain pergi meninggalkan Warni begitu saja.
"Kenapa Nyi Sukma pergi? Apa jangan-jangan dia menolak tumbal ku kali ini."
Sambil menarik nafas panjang. "Baiklah, kalau begitu aku akan mencari tumbal lain untuknya."
Warni yang sejak tadi duduk di kamar itu segera bangkit dan berjalan keluar. Dengan langkah pasti dia mulai berjalan ke arah dapur. Perutnya yang sudah lapar, membuatnya segera mencari makanan.
"Dasar laki-laki tidak berguna! Bisa-bisanya dia tidak memasak makanan," gerutunya sambil masuk ke dalam rumah.
Warni yang baru saja sampai dirumah langsung berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia juga meminta kepada ketiga karyawannya yang lain untuk segera membersihkan diri dan langsung istirahat di kamar masing-masing. Malam ini Warni merasa tidak nyaman, seperti ada yang mengintainya dari kejauhan.
“Dasar laki-laki kebo, baru kena bantal saja sudah pulas banget,” gerutu Warni sambil bangun dari tempat tidurnya.
Malam ini Warni seakan terpanggil untuk masuk ke area rumah bersalin. Namun, saat kakinya baru saja memasuki area itu, tiba-tiba matanya tertuju pada sosok wanita yang duduk di meja resepsionis dengan menggunakan seragam perawat. Warni yang penasaran mulai mendekati wanita tersebut.
“Sari apa yang kamu lakukan disini? Bukannya aku sudah menyuruh kalian untuk beristirahat di kamar masing-masing!” bentak Warni.
Namun, tidak ada jawaban dari wanita tersebut, dia tetap duduk dengan tenang sambil membelakangi Warni. Udara malam yang dingin dan suasana yang sepi membuat kondisi di area itu terasa begitu menyeramkan. Perlahan Warni mulai memberanikan diri menyentuh tubuh wanita itu.
“Bu Bidan, sedang apa Ibu kesini?” tanya Nur yang tiba-tiba datang.
"Ya ampun, Nur. Kamu membuat saya terkejut saja? Ini Sari malam-malam begini bukannya istirahat malah duduk di sini," jawab Warni sambil melihat ke arah Nur.
"Sari. Bukannya Sari ada di kamarnya, saya baru saja dari sana untuk mengambil obat semprot nyamuk ini," jawab Nur yang langsung membuat Warni terkejut.
"Jika Sari ada di dalam kamarnya, lalu siapa wanita yang ada di belakangku saat ini." Warni langsung mengalihkan pandangan kepada kursi yang ada di belakangnya.
Kursi yang tadi dia melihat ada seseorang duduk tiba-tiba kosong begitu saja. Wajah yang biasa terlihat kasar dan judes mendadak pucat dan ketakutan. Kaki Warni yang sejak tadi berdiri kokoh langsung terduduk lemas di kursi.
“Apa jangan-jangan itu? Tidak, mereka sudah meninggal, jadi tidak mungkin mereka ada disini,” batin Warni sambil duduk termenung.
“Bu Bidan, apa Ibu baik-baik saja?” tanya Nur saat melihat wajah Warni pucat.
“Aku baik-baik saja, mungkin aku hanya kecapean,” jawab Warni sambil mulai berdiri dan berjalan ke arah rumahnya.
Sejak kematian beberapa korban pesugihan, rumah bersalin itu menjadi lokasi yang menakutkan bagi sebagian orang. Tidak hanya rumah bersalin, rumah Warni yang biasanya tenang sekarang sering terjadi hal-hal di luar nalar. Bahkan Surya yang saat itu akan bersiap-siap ke pasar tiba-tiba dikejutkan sosok wanita yang mirip dengan sang istri.
“Kamu mau kemana, Dek?” tanya Surya saat melihat Warni berjalan ke arah belakang rumahnya.
Wanita itu tidak menjawab pertanyaan Surya, dia terus berjalan ke arah belakang rumah tanpa mempedulikan Surya. Surya yang penasaran dengan sang istri terus mengikuti langkah kaki Warni. Hingga tiba-tiba dia berhenti di bibir sumur tua yang ada di depan sebuah kamar yang biasa di sebut gudang oleh Warni.
“Apa yang kamu lakukan di sini, Dek? anginnya sangat kencang, lebih baik kita masuk ke dalam kamar.” Surya tiba-tiba menggandeng tangan Warni.
Surya yang melihat wajah wanita itu langsung berteriak histeris. Wanita yang dia pikir sang istri ternyata memiliki wajah hancur yang di penuhi dengan ribuan belatung yang menempel. Wanita yang sejak tadi diam itu tiba-tiba tertawa kencang, hingga membuat Surya tidak dapat menggerakkan kakinya.
“Tolong saya, Mas. Saya mau pulang,” ucap wanita itu sambil menatap ke arah Surya yang terduduk di tanah.
“Pergi, cepat kamu pergi dari sini! Dek, tolong aku,” teriak Surya sambil berusaha menjauh.
Teriakan Surya terlihat sia-sia, wanita berwajah rusak itu terus mendekatinya sambil terus tertawa. Surya yang merasa jijik berusaha untuk menutup matanya rapat-rapat. Namun, lengkingan suaranya justru membuat Surya semakin ketakutan.
“Mas, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Warni yang tiba-tiba ada di hadapannya.
“Aku … dimana wanita itu? Wajah wanita itu sangat mengerikan, ada banyak belatung yang menempel di wajahnya yang buruk,” jawab Surya dengan ketakutan.
“Wanita, wanita apa! Disini tidak ada wanita lain selain aku, kamu pasti hanya bermimpi,” bentak Warni sambil menggoncang-goncangkan tubuh Surya agar tersadar dari ketakutannya.
“Tidak, aku tidak bermimpi, Dek. aku benar-benar melihat wanita itu, wajahnya penuh luka dan belatung. Bahkan aromanya membuat perutku mual.” Surya terus meyakinkan Warni.
“Sudah, sudah … lebih baik kamu mandi setelah itu berangkat ke pasar, jual semua bumbu-bumbu yang sudah ada di depan rumah itu, karena aku tidak mau rumahku kotor karena bumbu dapur yang sudah kamu beli itu,” perintah Warni sambil menarik tangan Surya dengan kasar.
“Tapi, Dek ….”
“Aku tidak mau mendengar alasan apapun darimu, Mas. kamu harus segera berangkat dan bawa bumbu dapur yang bau itu pergi dari sini!” bentak Warni.
Malam itu hujan turun dengan deras, kilat dan petir yang saling menyambar bersamaan. Jarum jam menunjukkan pukul 2 malam, Bidan Warni masih terlihat sibuk di ruangannya. Siti yang saat itu baru saja mengunci dan memeriksa rumah bersalin langsung masuk ke ruangan Warni.
"maaf, saya tidak tahu jika Bu Bidan masih ada di ruangan, " ucap Siti sambil sedikit menunduk.
"Tidak apa-apa, saya hanya membuat beberapa surat rujukan untuk pasien yang akan menjalani operasi di rumah sakit." Bidan Warni menghentikan pekerjaannya lalu menoleh ke arah Siti.
"Tapi, Bu Bidan. Sekarang sudah pukul 2 malam, apa tidak sebaiknya Ibu istirahat dulu?" tanya Sti yang merasa khawatir dengan Warni.
Kamu istirahat saja dulu, setelah surat ini selesai saya akan segera masuk ke dalam kamar saya, " perintah Warni sambil terus menatap layar laptopnya.
Siti yang mendengar jawaban Warni langsung pamit untuk kembali ke kamarnya. Hari ini Siti memang mendapat tugas jaga malam, jadi tidak heran jika dia baru bisa beristirahat pukul 2 malam. Warni yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya langsung keluar dari ruangannya untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Aduh, kenapa tiba-tiba perutku sakit sekali, lebih baik aku ke kamar mandi dulu sebelum masuk ke dalam rumah," ucap Warni sambil melangkah ke arah kamar mandi.
Kamar mandi di rumah bersalin itu tidak begitu besar, hanya memiliki 2 bilik kecil dalam satu ruangan. terdapat juga satu kaca besar dengan 3 buah wastafel di dalam ruangan itu. Ruangan berukuran 4X2 meter itu terlihat sangat bersih.
“Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba lampunya berkedip seperti ini,” ucap Warni yang saat itu sedang mencuci tangannya.
Lampu yang awalnya menyala dengan terang tiba-tiba berkedip seolah rusak. Tidak berapa lama terdengar suara tangisan seorang wanita dari salah satu bilik kamar mandi yang sedang tertutup. Suara tangisan itu terdengar begitu menyayat hati, hingga membuat bulu kuduk Warni berdiri.
"Siapa yang menangis malam-malam begini," batin Warni sambil mendekati bilik yang ada di paling ujung.