"Laras bangun, kita harus pergi dari sini."
Samar-samar aku mendengar suara temanku Yuni yang berusaha membangunkan kesadaranku saat ini.
" Hemm, ada apa?"
Kita harus pergi sekarang atau kita yang akan jadi tumbal."
Aku tercekat dengan apa yang dikatakan Yuni, apa ?Tumbal?
Aku berusaha bangun dan mengembalikan kesadaranku sesaat aku terbuai dari mimpi indahku.
“ Kau bicara omong kosong apa? Kita disini lagi KKN. Siapa yang akan menjadikan kita tumbal?”
“ Kepala Desa disini.” Jawab Yuni dengan wajah panik.
Seketika aku terlonjak kaget, Ibu Ratih sang Kepala Desa? Aku segera menepuk pipinya dan aku ketakkan ounggung tanganku ke dahinya.
“ Kau tak percaya? Kita ke sana sekarang!” ajaknya dengan menarik tanganku
Segera aku ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi terlebih dahulu, lalu segera aku memakai jaket dan sandal ku lalu mengikuti Yuni yang sudah tak sabar mengajakku ke suatu tempat.
Saat tiba dengan tempat yang dimaksud yuni, segera aku melangkah hati-hati bersama Yuni untuk mengintip dibalik gubuk Rumah yang masih layak untuk di huni.
Aku dan Yuni sedang mengintip pada lobang yang ada di Gubug itu, aku dan Yuni terkejut saat melihat sang Kepala Desa sedang berdiri di depan tubuh Rani yang sudah terikat di ranjang itu.
“ Wahai Raja Iblis, aku persembahkan Tumbal perawan untukmu, jadikanlah aku Wanita yang paling cantik dan tak menua karena umur, Jadikanlah aku Ratu Pemikat Pria tampan yang akan menjadi Pemuas birahiku.”
Deg..deg..deg..
Jantungku terasa copot saat melihat Bu Ratih sudah menel*nj*ngi temanku Rani, sungguh aku tak kuasa melihat Rani yang meronta meminta tolong dengan mulut disumpal dan juga tangan dan kedua kaki terikat kanan dan kiri.
Ingin aku menolongnya, namun aku takut nanti kami yang akan dijadikan tumbal olehnya. Aku melihat Bu Ratih mengguyur tubuh Rani dengan gayung yang berisikan bunga tujuh rupa, ia guyur mulai dari kepala sampai kaki.
Tidak hanya itu saja, dia bahkan meraba-raba Payud*ra Rani dan bagian sensitif Rani. Aku sudah tak bisa melihat itu lagi, segera aku menutup wajahku dengan air mata yang sudah membasahi pipiku. Lama-lama aku mendengar suara aneh saat Bu Ratih mulai membacakan mantranya, aku terkejut saat tiba-tiba ada sosok Makhluk Ghaib yang siap untuk membawah Rani sebagai tumbalnya.
Dengan cepat, ada asap putih sudah memenuhi tubuh Rani, dengan sekejab Rani pun sudah tak terlihat. Hanya sosok Tua yang kini tengah berbating diatas Ranjang. Segera Bu Ratih menutupi tubuh polos wanita yang sudah tua itu dengan jarik yang sudah tersedia.
Dan herannya saat ini wajah Bu Ratih terlihat begitu Cantik dan awet muda kembali, kini aku mengerti diusianya yang ke 45 tahun dia masih terlihat masih berumur 25 tahunan sungguh Luar biasa bagiku. Apalagi teman-teman cowokku banyak yang tertarik dengan pesona Bu Ratih sebagai Kepala Desa disini.
Kini aku tau dibalik itu semua, dia memang banyak menjadikan tumbal para perawan yang bukan dari Desa nya. Sebelum kesini aku sempat membaca beberapa mahasiswi yang pernah KKN disini pernah hilang tanpa jejak, mungkin saat itu mereka dijadikan tumbal seperti Rani.
Aku dan Yuni berjalan sempoyongan setelah melihat kejadian itu, entah kenapa saat itu kakiku tiba-tiba berat untuk melangkah, ditambah Yuni yang sudah tak sabar untuk segera pulang ke balai penginapan kami.
“ Kenapa kau lama sekali Laras, nanti Bu Ratih keburu kesini.” Ucap Rani dengan sedikit memarahiku
“ Iya, aku sudah mencoba berjalan cepat tapi kaki ku tiba-tiba lemas Yun, aku harus bagaimana.” Ucapku dengan sedikit menangis
Yuni terlihat panik saat melihatku yang sudah tak bisa berjalan lagi, ia lalu membantuku berjalan menuju sebuah pondok yang tak jauh dari Gubug tadi. Ia lalu menyembunyikan diriku didalam Pondok tersebut. Aku sangat ketakutan saat dirinya akan segera meninggalkan ku sendiri untuk mencari bantuan.
“ Kau akan aman disini, tenanglah aku akan mencari bantuan, jangan kemana-mana. Maaf aku tak bisa menemanimu disini, kalu aku disini ini akan membahayakan Nyawa kita Laras. Jadi aku mohon kau tetap tenang dan berdo'a aku segera kembali membawahmu ke Balai Penginapan kita.”
Ucap Yuni lalu beranjak pergi meninggalkan diriku sendiri, aku terus memanggil namanya namun tak dihiraukannya, dia malah menyuruhku untuk tetap diam. Aku pun terpaksa menuruti ucapannya , kini aku sendiri di pondok sepi ini, dalam hati aku berdo'a agar ada orang yang baik hati menolongku nanti.
**”...***
Aku Yuni Ratna sari, saat ini aku dan teman-temanku tak sengaja terjebak di Desa KKN yang Kepala Desanya tengah mencari tumbal untuk kecantikan dan awet mudanya. Sungguh aku tak mengira jika harus berakhir si tempat ini, niat hati untuk menimbah ilmu tapi kini kami dihadapkan oleh sosok Kepala Desa yang memiliki kekuatan mistis dibalik Kecantikan dan Pesonanya.
Saat ini terpaksa aku meninggalkan Laras sendiri di Gubug, karena kakinya yang tiba-tiba tak bisa bergerak lagi saat akan pulang. Sungguh aku heran dengan apa yang menimpa temanku ini, aku berlari untuk mencari bantuan, Bali Penginapan kami sedikit jauh, terpaksa aku berlari ke pemukiman penduduk, namun saat aku berada di tepi sungai yang bening itu, aku melihat sosok pemuda yang sangat tampan sedang mandi di sungai yang hernih itu.
Aku malu saat melihat tubuh atasnya bertelanj*ng dada, otot-ototnya terlihat sangat kekar bahkan otot perutnya yang seperti roti sobek membuat gairahku membuncah begitu saja. Kenapa Pria yang biasaya aku lihat di televisi bak model susu ElMen , kini sudah bisa aku lihat dihadapanku langsung.
Aku sempat bertemu dengannya beberapa kali saat perkenalan kami waktu pertama kali KKN disini. Namun terlihat dia sering menatap ke arah Laras saat bertemu, ia pun tau kalau saat ini Laras pun KKN bersama kekasihnya Fabian.
Saat aku akan menghampiri dirinya tiba-tiba aku hampir terpeleset saat kakiku menginjak batu yang licin yang ada disungai itu, aku pun hampir terjatuh saat namun seseorang telah menarik tanganku lalu dengan cepat aku didekapnya agar diriku tidak terjatuh.
Saat moment itu, entah kenapa aku merasakan dag dig dug saat berada didekapan sorang lelaki tampan yang ada di depanku. Kini tangaku menyentuh dada bidangnya yang polos dan sedikit basah karena lelaki tersebut telah selesai mandi di sungai jernih itu.
Aku sedikit terbuai kala dia menatapku, uh dia terlihat seksi, lengannya yang berotot sempat membuat aku kesusahan untuk meneguk salivaku sendiri.
“ Mbak kamu gak apa-apa? “
Tiba-tiba ucapanya membuyarkan lamunanku, segera aku atur posisiku menjadi tegap setelah sebelumnya miring karena saat itu dirinya telah mendekapku ketika aku mau terjatuh.
“ Iya Mas aku gak apa-apa.” Ucapku saat itu
Sesaat kemudian aku teringat tentang laras yang saat ini tengah berada dalam gubug tua, segera aku meminta tolong kepadanya untuk membantuku menolomg Laras
“ Mas tolong ikut aku, temanku Laras sedang dalam Gubug disana sendirian.” Ucapku dengan menggoyangkan lengannya
“ Apa? Laras ada di Gubug? Kalian dari mana? “ tanyanya dengan rautbwajah cemas
“ Tak ada waktu untuk menjelaskan tolong Laras sekarang juga Mas.” Pintaku dengan nada memohon
“ Ayo kita kesana.” Jawabnya dengan memakai kaos oblongnya yang saat itu ia letakkan diatas Batu pinggir sungai
Aku segera berlari dengan nafas yang tersengal-sengal, sungguh tubuhku saat ini sudah tidak kuat lagi jika harus berlari, ku lihat Gubug itu sudah semakin dekat, namun aku sudah tak sanggup untuk kesana lagi, aku suruh Mas Ganteng tadi yang saat ini aku belum mengetahui siapa namanya untuk kesana sendiri membantu Laras yang tiba-tiba tak bisa berjalan.
“ Aku sudah tak sanggup berjalan lagi, di Gibug itu Laras aku sembunyikan, tolong jemput dia Mas, aku akan beristirahat sejenak disini” tuturku dengan nada tersengal-sengal
“ Baiklah, Mbak tunggu disini akan aku susul Laras kesana. “ ucapnya dengan membantuku duduk dibawah Pepohonan besar yang ada sini.
Aku pun mengangguk dan cukup terheran saat dia menyebutkan nama Laras tanpa embel-embel Mbak. Namun aku tak pedulikan itu, yang penting Gadis itu delamat dan kami bisa sampai ke Balai Penginapan kami.
Aku melihat dirinya berlari secepat kilat, aku pun sudah tak melihat punggungnya lagi. Aku cukup khawatir saat ini, inginku kabari teman-teman ku setelah ini. Lebih baik pulang dengan selamat atau satu persatu dari kami akan binasa jadi tumbal seperti Rani saat ini.
Bersambung...
Sudah hampir putus asa Laras saat ini, entah karena syndrom ketakutannya yang membuat dirinya kini tak bisa berjalan tiba-tiba. Ia terus meneriaki nama Fabian ditengah keputus asaannya, biasaya kekasihnya selalu datang menolongnya saat dia dalam masalah.
Dalam ketakutannya tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, bulu kuduknya sudah mulai merinding, matanya sudah mulai basah hingga dia sudah tak bisa mengontrol detak jantungnya yang sudah berdetak kencang tak karuan karena ketakutan.
Tak ada yang bisa ia lakukan, kakinya seperti lumpuh tak bisa digerakkan sama sekali, dalam hatinya selalu berpikir bahwa ini adalah hidup terakhirnya di Dunia ini.
“ Ya Allah, tolong selamatkan aku, aku belum menikmati surga Dunia saat ini.” Gumamnya dalam hati
Kreteeeek...
Terdengar cukup kencang suara pintu itu saat dibuka, Laras yang saat ini tak tau apa yang harus dilakukan hanya menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara sedikit pun.
“ Laras.. Laras.. Kamu dimana Laras?”
Terdengar suara lelaki memanggil namanya, namun Laras tak bergeming karrna ia tak kenal dengan suara bariton serak-serak basah dan sexy itu.
Lama Pemuda itu berteriak memanggil nama Laras, namun tak ada sahutan sedikitpun dari dalam Gubug itu, ia tau saat ini Laras pasti bersembunyi dan sedang ketakutan hingga dia pun tak berani bersuara saat ini.
“ Gadis bod*h, kenapa dia tak menayahut setelah aku memanggil namanya, jika kau terdiam terus malah kau bisa mati disini.” Umpatnya saat ini
Ia pun menyisir disetiap Ruangan yang ada di dalam Gubug itu, terlihat saru Ruangan yang cukup sempit yang ada disebelah kamar utama Gubug tersebut, disitu dia belum menyisir tempat tersebut. Segera dia memasuki Ruangan sempit itu, karena gelap ia pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menyalakan senter yang menerangi Ruangan tersebut.
Terlihat seorang gadis tengah meringkuk dibawah dengan wajah yang ditutupi kedua tangannya. Ia terlihat ketakutan saat itu, sungguh aku tak tega melihatnya.
“ T-tolong J-jangan s-sakiti a-aku.” Ucapnya dengan terbata-bata dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya
Segera pemuda tersebut menghampiri dirinya, lalu ia mulai berjongkok dan dengan perlahan mulai membuka tangannya yang menutupi wajahnya.
“ Kau tak perlu takut, aku akan segera menolong mu.” Ucapnya dengan tersenyum
“ Kau..” ucapnya dengan sedikit kebingungan ketika yang datang adalah Pemuda yang selalu membuatnya kesal sejak awal berkenalan
“ Iya , ini aku Arjanta, Laras.” Ucapnya dengan tersenyum ke arah Laras
Laras tak menanggapi, ia pun terpaksa harus pasrah saat Arjanta datang untuk menolong dirinya. Arjanta mulai menggendong tubuh mungilnya untuk segera keluar dari Gubug terdebut . terlihat wsjah Laras yang tertunduk malu saat Arjanta menggendongnya saat itu, kedua tangannya ia kalungkan di leher Arjanta, terlihat Arjanta yang saat ini tersenyum penuh kemenangan setelah lama diacuhkan oleh Laras sejak awal bertemu.
Tak lama kemudian Yuni menghampiri Kami, terlihat wsjah cemas saat melihatku saat ini. Kami pun segera mempercepat langkah kami menuju Balai Penginapan untuk segera memberitahukan kejadian ini kepada teman-teman kami.
Cukup jauh kami menyusuri jalanan setapak menuju Balai Penginapan kami, desa ini masih asri dan belum ada perbaikan jalan yang menghubungkan antara satu dusun dengan dusun lainnya.
Ku lihat peluh keringat sudah membasahi wajah Arjanta , inginku menghapus peluh keringat itu dengan lengan jaketku , namun aku terlalu gengsi untuk melakukan itu, ditambah dia yang terus memandangi wajahku.
Beberapa lama kemudian, akhirnya kami pun sampai di Pondok tersebut, segera aku dibaringkan oleh Arjanta di Kamar tidurku, kakiku di selonjorkan dan aku didudukkan olehnya, tak lama kemudian dia keluar entah kemana, aku mencoba untuk menggerakkan kakiku yang baru bisa digerakkan lagi walaupun hanya sedikit. Sejenak aku mengulas senyuman dalam pikiranku aku bersyukur karena aku tidak akan lumpuh.
Saat aku menggerakkan kakiku, tiba-tiba Arjanta masuk dengan membawah ramuan untuk kaki ku, ia sibakkan celana kulot yang aku pakai sampai atas lutut, tangannya kini mulai lincah mengolesi ramuan pada kedua kakiku..
Entah apa yang aku rasakan, pikiranku sudah mulai melayang saat tangannya mulai mengolesi ramuan itu pada dua kakiku, aku merasakan tangannya seperti menggelitik diriku, hingga pada akhirnya aku sedikit terangsang oleh sentuhan tangannya itu.
Tangan itu seakan menghipnotis pikiranku hingga aku tak sadar aku mendesah saat itu dan langsung aku tutup mulutku saat Yuni dan Arjanta melihatku dengan tatapan heran.
Kulihat Arjanta yang sudah tau akan diriku yang sudah terangsang oleh sentuhannya, ia pun tak berhenti sampai disitu, ia lalu menggodaku dengan memberikan sentuhan yang berbeda dari awal ia lakukan pertama kali kepadaku.
Tangannya bukan lagi mengoles dan memijat, namun berganti mengelus-elus kedua kakiku hingga aku tak bisa untuk menahan geli-geli enak yang menyelingkupi pikiranku saat ini. Aku terus menyingkirkan tangannya namun dia tetap menyentuh kaki ku, hingga akhirnya dia beralibi bahwa ini pemijatan agar otot-ototku tidak terasa kaku saat ini.
“ Berhentilah menyingkirkan tanganku Laras, aku sedang menyembuhkan kakimu.” Ucapnya dengan terus menyorot tajam matanya ke arahku.
Yuni yang melihatku selalu menyingkirkan tangan Arjanta segera memegangiku agar aku tak bisa lagi memberontak saat tangan jahil Arjanta menari-nari diatas kakiku.
Aku menggelinjang kegelian, sungguh sentuhan Arjanta membuat birahiku naik seketika, entah magnet sihir apa yang dimilikinya, tubuhku sudah mulai merasakan panas, ditambah wajahku yang sudah mulai merah padam.
Nampak dia asyik melihatku mulai terangsang dengan sentuhannya, hingga ia pun segera menghentikan tangannya yang tadi mengelus kakiku.
“ Sudah selesai, sekarang coba kau gerakkan.” Ucapnya dengan menurunkan kedua kakiku diatas ranjang
Segera aku gerakkan kedua kakiku, ternya sekarang jauh lebih baik dan sudah mulai bisa di gerakkan, aku mencoba berdiri dan ternyata ramuan dari Arjanta cukup berhasil saat ini. Aku senang dan tersenyum kepadanya, inginku berterima kasih karena sudah mau menolong dan mengobati kaki ku, namun lagi-lagi aku terlalu gengsi untuk melakukan itu.
“ Kau bisa berdiri Laras, coba kau berjalan sampai depan pintu.” Ucap Yuni dengan melepaskan tangannya yang tadi sempat memegangiku
Aku pun berjala sampai depan pintu kamar, tak ada sakit yang aku rasakan, aku sudah bisa berjalan normal kembali saat ini.
“ Kau terkena Syndrom kaki gelisah atau disebut dengan Restless leg Syndrome ( RLS ). Syndrome itu terjadi karena gangguan neurologis yang menyebabkan dorongan kuat Yang tak bisa ditahan saat menggerakkan kaki.”
Jelasnya kepada kami saat ini, cukup kagum aku saat mendengar penjelasan darinya, sepertinya pemuda ini memang bukan pemuda biasa seperti yang aku pikir.
“ Kadang terjadi saat tiba-tiba kamu sedang panik atau ketakutan, tapi tak apa-apa semua itu bisa disembuhkan dengan cara terapi. “ lanjutnya
“ Kau seorang Dokter? “ Tanya Yuni tiba-tiba
“ Bukan, tapi aku mengerti tentang ilmu pengobatan.” Jawabnya dengan tersenyum ke arahku
“ Ohya, siapa nama kamu Mas? Aku Yuni. “ ucapnya dengan mengulurkan tangannya kearah Arjanta
“ Arjanta.” Jawabnya dengan menerima uluran tangan Yuni
“ Kau Pemuda sini? Apa kau kenal dengan Bu Ratih Sang Kepada Desa disini?”
Tanya Yuni dengan tatapan penuh menelisik
“ Bisa dikatakan begitu Kenapa dengan Bu Ratih ?”
“ Dia punya ilmu mistis, barusan kami kesana melihat teman kami sedang dijadikan tumbal olehnya.” Ucap Yuni
sejenak Arjanta terdiam, ia sudah tau wanita itu bakal mencari tumbal para Mahasiswi yang sedang melakukan KKN di sini, ditambah sebentar lagi bulan Purnama akan segera tiba, sudah pasti akan banyak tumbal dan ritual yang akan dilakukannya
Arjanta hanya bisa terdiam saat saat Yuni mengatakan itu , dirinya seolah tau akan seluk beluk dari Sang Kepala Desa saat ini.
“ Kau sepertinya tau akan hal ini ?” celetukku saat ini
Arjanta Tiba-tiba mendadak menatapku dengan tatapan tajam, tak menjawab pertanyaanku, dirinya kini mulai mendekat ke arahku.
“ Sebaiknya jangan pernah menuduh Orang Larasati Anjani.” Arjanta membisikkan kata-kata itu tepat di telingaku.
Aku terdiam seribu bahasa, saat dirinya mendekatkan tubuhnya tepat di tubuhku dengan jarak satu senti saja.
Entah kenapa saat itu, otakku mulai rusuh, aku tak kuat menahan desiran aneh yang menjalar di tubuhku, aroma nafasnya dan aroma maskulinnya sudah menusuk hidungku saat ini.
“ Laras !”
Aku terkejut saat tiba-tiba ada orang yang berteriak memanggil namaku, segera aku dorong tubuh Arjanta yang sangat dekat denganku hingga dia terjungkal ke belakang. Astaga, tetnyata Fabian yang datang.
Aku sungguh gugup, sudah pasti dia akan berpikir macam-macam tentangku, aku langkahkan kakiku menuju Fabian tanpa menghiraukan Arjanta yang masih dalam posisi duduk di lantai karena jatuh akibar aku dorong tadi.
Aku tersenyum puas saat melihat Pria menyebalkan itu menatap ku kesal. Aku pun segera memeluk kekasihku Fabian saat itu, terlihat wajah Fabian yang sangat kesal saat ini, aku pun mengeratkan pelukanku dan bersikap manja seolah tak terjadi apa-apa denganku hari ini.
“ Kau selingkuh LARAS?” tanyanya dengan mengeratkan giginya saat ini
Aku pun mendongak dan menatap wajahnya, saat itu aku menggelengkan kepalaku. Sungguh aku tak bisa berpaling dari Fabian, kekasih yang menjadi pacarku sejak lima tahun yang lalu saat masih di sekolah.
“ Mana mungkin Sayang, siapa yang selingkuh.” Ucapku dengan mengendus-endus dada bidangnya saat itu
“ lalu kenapa ada Pria aneh ini?” tanyanya dengan menunjuk ke wajah Arjanta
“ Dia yang menolong kami Fabian, sudahlah, kau jangan terlalu cemburu dengan gadismu itu, asal kau tau Bian, dia hampir celaka kalau tidak di tolong olehnya.” Yuni menyahuti
“ Apa? Memangnya Apa yang terjadi?” tanyanya dengan wajah cemas menatapku
“ Kami habis melihat hal yang mengejutkan, Rani teman kita sudah dijadikan tumbal oleh Kepala Desa sini.” Jawab Yuni
“ Apa? Tumbal? Kau bicara omong kosong apa Yun? Jaman semakin modern kau masih percaya takhayul?” Fabian tak percaya dengan kata-kata Yuni
“ Benar Sayang, aku dan Yuni barusan ke Gubug di pojok sana, aku lihat Rani dibaringkan dan di tel*njangi oleh Bu Ratih Kepala Desa ini. Dalam waktu sekejab Rani sudah menghilang dab berganti dengan Nenek-nenek Tua. Ucapku menjelaskan
“ Hahahah bahkan kau juga termakan takhayul sayang, mana mungkin itu semua terjadi? Aku barusan melihat Rani dia baik-baik saja.” Ucapnya dengan melihatku aneh
Aku seakan tak percaya dengan apa yang diucapkannya termasuk dengan Yuni saat itu.
“ Mana mungkin Rani...”
Belum sempat Yuni berkata, tiba-tiba kami dikejutkan dengan suara perempuan di luar.
“ Permisi, Apakah ada orang didalam ? “
Suara itu tiba-tiba terdengar dari luar, kami pun bergegas keluar dan melihat siapa yang sedang mencari kami, dan ternyata..
“ Loh, kok kalian ada disini semuanya? Teman-teman kalian sudah berkumpul di Balai Dusun loh.”
Aku dan Yuni terkejut, saat wanita Cantik dan tampak muda dari sebelumnya sudah berada di depan kami. Sungguh jantungku seakan mau copot saat ini, begitupun dengan Yuni yang terlihat sudah mulai berkeringat dingin menatap wajahnya.
Ya, wanita itu adalah sang Kepala Desa yang dikenal Orang-orang dengan sebutan Nyai Ratih.
Akupun segera bersembunyi dibalik tubuh Fabian, begitupun dengan Yuni yang saat ini bersembunyi dibalik Tubuh Arjanta yang saat itu berdiri tepat disamping Fabian kekasihku.
Nyai Ratih terlihat sedang curiga dengan tingkah laku kami saat itu, namun apalah daya kami benar-benar takut saat ini. Ditambah dengan mengingat kejadian tadi pagi.
Nyai Ratih lalu tersenyum kepada Kami, dia tak menunjukkan sikap yang mencurigakan saat itu, seperti biasa mengawali kegiatan KKN , Kami semua akan berkumpul di Balai Dusun untuk melakukan kegiatan kemasyarakatan yaitu memberikan penyuluhan kepada penduduk Desa, masing-masing dari kami akan dibagi menjadi beberapa kelompok dalam kegiatan kami.
“ Ayo, sudah ditunggu sama yang lain.” Ucapnya dengan mengajak kami untuk mengikuti dirinya.
Aku yang belum mandi saat itu, meminta ijin terlebih dahulu untuk membersihkan diri sebelum acara dimulai.
“ Maaf Bu Kades, Saya belum mandi, saya minta ijin mandi dulu.” Ucap ku dengan menunduk tanpa berani menatap wajahnya
Nyai Ratih tampak memperhatikan diriku, entah kenapa aku melihat tatapan aneh dari dirinya.
“ Kok belum mandi, habis dari mana tadi?” tanyanya dengan sedikit curiga
“ Maaf Nyai, tadi saya ajak dia sedang main di Sungai.”
Tiba-tiba saja Arjanta menyahuti, Huff..hampir saja jantungku ini mencelos.
“ Oh, lain kali kamu jangan ajak mereka main air di sungai, aliran sungai itu sangat deras nanti bisa terjadi apa-apa dengan mereka.” Nasehat Nyai Ratih kepada Arjanta
“ Maaf Nyai, saya hanya ingin memperlihatkan keindahan Desa kita disinj.” Ucapnya dengan nada penyesalan
“ Ya sudah kalau begitu kalian ikut Aku, biarkan dia mandi dulu.” Ucapnya dengan mengajak mereka ikut bersama
Mereka pun segera mengikuti Nyai Ratih menuju Balai Dusun, sedangkan aku segera mandi membersihkan diriku lalu segera menyusul mereka ke Balai Dusun.
..
Sudah sedari tadi Nyai Ratih memperhatikan ada yang aneh dari sikap Yuni dan Laras hingga akhirnya dia pun tak bisa untuk tidak bertanya kepada Yuni yang saat ini berjalan di disampingnya.
“ Kamu baik-baik saja Dek? Kok mukamu sedikit pucat?” tanya Nyai Ratih
Yuni yang tadinya bungkam, akhirnya tergugup saat Nyai Ratih menanyakan hal itu kepadanya, wajanhnya kini terlihat pucat pasi, jantungnya sudah berdegub kencang dan tangannya sudah mengeluarkan keringat dingin.
“ I-Iya Saya baik-baik saja Bu Kades, saya hanya sedikit tidak enak badan saja.” Ucapnya dengan tergagap
Nyai Ratih lalu menghentikan langkahnya, ia tempelkan punggung tangannya pada dahi Yuni, namun dia tak merasakan hawa panas di suhu badannya, tapi banyak keringat dingin yang membasahi pelipisnya.
“ Hmm kau tidak panas, mungkin kau sedang masuk angin, Ke Rumahku setelah kegiatan selesai, biar aku yang mengobatimu.” Tawarnya dengan tersenyum ke arah Yuni
Yuni langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, tak berharap dirinya di obati oleh Orang pencari tumbal keabadian saat ini, bisa-bisa bukannya di obati namun dirinya akan dijadikan tumbal seperti temannya Rani saat ini.
“ T-tidak perlu Bu Kades, saya baik-baik saja kok, tadi hanya belum sarapan saja.” Tolaknya dengan halus
“ Habis ini kamu makan , tadi aku bawah makanan untuk kalian dari Rumah Daging Rendang Jawa buatanku, Nanti Kita akan makan bersama-sama . “
Gleg..Yuni meneguk salivanya sendiri.
Sungguh ucapan Nyai Ratih seketika membuat yuni merasa mual, saat Nyai Ratih mengatakan menu masakannya tadi, Daging Rendang? Itu daging manusia atau apa ya ? Seketika membuat Yuni begidig ngeri saat membayangkan daging tersebut adalah daging Temannya Rani.