Lukisan itu berhasil menyembunyikan sosoknya. Gadis manis yang malang itu terperangkap selamanya dengan mudah untuk ditumbalkan. Bibir gadis itu mencoba berteriak namun hanya kedua matanya saja yang bisa berkedip,terhimpit diantara belasan mata milik orang lain yang juga ditumbalkan.
" Tak akan ada jalan keluar" pria itu berbisik lalu mencengkram lukisan itu dengan kedua tangan keriputnya
Gadis itu mencoba menyeruak ke permukaan lukisan,namun sia-sia
Pria itu menatapnya dengan senyum dan mengangkat kedua tangannya,tanda penyesalan
Pintu di ujung lorong terbuka perlahan seeorang wanita yang sama tua dengan usianya berdiri seperti siluet di depan pintu. Menyerukan sesuatu yang hanya bisa dimengerti pria itu saja
Pria tua itu bergegas mundur dan berbalik pergi dengan senyuman.Pintu ditutup,gerendel dipasang dan kunci diputar.
Ruangan pun kembali gelap
Flashback
Beberapa hari sebelumnya
Gadis manis itu bernama Hani,seorang perempuan muda yang sedang mencari pekerjaan untuk menyambung hidupnya. Di dalam kereta yang melaju,Hani mencoba tertidur karena rasa letih yang menjalar di sekujur tubuhnya. Seharian ini ia mengikuti tes wawancara di dua perusahaan yang berbeda namun berakhir mengecewakan. Hanya ada beberapa penumpang yang duduk berjauhan di gerbong kereta yang ditumpanginya sekarang,maklum ini adalah kereta terakhir menuju stasiun akhir di kotanya
Hani menghela nafas,menggeser tubuh,merosot hingga kepalanya mendapatkan sandaran empuk di bahu belakang bangku penumpang yang memanjang. Ia sedikit menggigil karena hawa dingin yang keluar dari embusan pendingin kereta di atas kepalanya. Ia merapatkan jaketnya dan mencoba tidur. Masih ada waktu 10 menit untuk bermimpi,guraunya pada dirinya sendiri
Ia memejamkan matanya, mimpinya mengambil alih kesadarannya. Ia jatuh terguling-guling dari anak tangga yang sangat banyak lalu bangkit secepatnya karena beberapa kepala tanpa tubuh mengejarnya. Kepala-kepala manusia itu nampak basah berdarah-darah. Gadis itu membuat gerakan menangkis dengan tangannya sebisanya dan berhasil. Kepala-kepala itu berjatuhan,menggelinding lalu menghilang di ujung anak tangga yang tak berujung.
Ia sadar ia berada di alam mimpi, ia memutuskan untuk membuka kedua matanya secepatnya namun sebuah tangan menepuk bahunya dari belakang. Ia berbalik dan menjerit melihat jari-jemari manusia yang tak utuh melayang berterbangan di wajahnya. Darah menetes di setiap tangan yang terpotong. Dikorbankan. Sepasang tangan menuju ke arahnya,ia melihat sekilas ada dua sayatan di punggung tangan-tangan itu. Terasa nyata, berwarna ungu, basah belum mengering. Tangan-tangan itu meraih lehernya. Membuat Hani ketakutan
Ia ingin mimpi yang sedang dialaminya berakhir
Tiba-tiba anak tangga yang menjadi pijakan kedua kakinya ambruk berjatuhan ke bawah. Tak mau terjatuh ia meraih puing-puing anak tangga yang hancur menjadi pijakan tangan kanannya. Ia melihat jauh ke bawah yang gelap. Hanya beberapa detik saja tubuhnya menggantung sebelum ia terjatuh ke bawah.
Kesadarannya kembali, seluruh tubuhnya bergetar. Ia membuka kedua matanya,mengakhiri mimpi buruknya dengan nafas tersengal
Mimpi yang menakutkan,mimpi sialan ,gerutunya dalam hati
Ia mengibas-ngibaskan pakaiannya dari debu lantai kereta yang menempel dengan tangan kanannya. Ia bersyukur melihat punggung tangannya yang halus tanpa ada hal menakutkan seperti mimpi yang dialaminya barusan.
Sebuah tangan keriput terjulur di hadapannya. Hani mendongakan wajahnya ke atas. Tangan itu sungguhan. Tangan milik seorang perempuan tua yang berusaha membantunya berdiri
"Terima kasih ya nek" Hani membungkukkan kepala sedikit sambil membenahi duduknya
" Mimpi buruk?" Perempuan tua itu bertanya seolah mengetahui apa yang dialami Hani
" Ya begitulah nek,mungkin lagi banyak pikiran aja" Hani berusaha tersenyum. Ia mengamati pakaian yang dikenakan perempuan tua yang duduk di sampingnya. Mantel bulu berwarna cokelat seperti milik almarhum neneknya dulu.
"Jangan ceritakan mimpi burukmu kepada siapapun" perempuan tua itu menasehatinya
"Kenapa?" Hani melirik kantong plastik hitam besar yang di letakkan di depan lututnya. Entah apa isinya
" Karena mimpi burukmu bisa menjadi kenyataan" seusai berkata demikian , perempuan itu mengambil jinjingan kantung plastik miliknya lalu berjalan ke gerbong lain di belakang menyisakan Hani sendirian disana
Mana mungkin ada kepala dan tangan melayang-layang di kehidupan nyata,ucap Hani pada dirinya sendiri
Keretapun berhenti di stasiun akhir, Hani bergegas keluar saat pintu gerbong kereta terbuka. Ia melihat sekelilingnya,bulu kuduknya meremang seketika. Ia sadar rupanya hanya ia saja penumpang kereta terakhir yang turun dan berdiri di peron sendirian sekarang.
seusai menukar tiket perjalanannya dengan uang 10 ribu di loket yang hampir tutup, ia berjalan terhuyung-huyung keluar dari stasiun . Ia mengambil dompet dari saku depan tasnya yang nampak pudar,memasukkan uang kembalian tadi ke dalamnya. Hani menarik nafas melihat isi dompetnya.
"Aku harus secepatnya dapat pekerjaan" tempurung kepalanya mendadak sakit mengingat masalah yang bertubi-tubi menghampirinya. Namanya tak semanis kehidupannya . Hutang yang diwarisi kedua orangtuanya, adik perempuan satu-satunya yang kawin lari dengan suami orang, kadang-kadang ia merasa gila namun tak pernah terlintas untuk mengakhiri hidupnya segera.
Ia memutuskan berjalan kaki sampai rumah demi menghemat uang. Kepalang pegel nih kaki, ucapnya pada diri sendiri
Jalanan nampak sepi dan remang karena banyaknya lampu jalan yang rusak. Hani berjalan di atas trotoar. Ia melirik jam tangannya, sudah pukul 11 malam rupanya
Seseorang membisikan namanya berulang-ulang dari arah belakang
Hani... Hani... Hani....Hani.....
Ia membalik tubuhnya. Tak ada siapapun di sekitarnya.
Ia bergidik ngeri, merapatkan kembali jaketnya lalu melanjutkan perjalananya pura-pura tak mendengar meski ia sendiri ketakutan . Detak jantungnya berdegup keras dalam rongga dadanya.
Lalu suara itu menghilang berubah menjadi kesunyian yang tiba-tiba.
Ia berlari tersendat-sendat, bahunya terasa berat seperti ada yang mendudukinya. Ia hampir menangis lalu terjatuh menyandung batu sebesar kepala manusia di depannya.
Ia jatuh terduduk lalu mendongak menatap satu sosok gelap di depannya, bagian tubuh atasnya tersembunyi dalam gelap. Ia memaksakan untuk melihat bagian bawah tubuh sosok di depannya dengan tangan gemetaran .
Sepasang kaki yang menapak di tanah, seperti hani ia juga seorang manusia . Ia merasa lega
Sosok itu membungkuk, menjulurkan kedua tangannya untuk membantu Hani berdiri. Hani melihat punggung tangan sosok itu sebelum ia menyambut dengan telapak tangannya sendiri. Kulit putih yang pucat dengan tonjolan alur pembuluh darah berwarna biru seakan membentuk peta aliran sungai.
Dingin itulah yang dirasakan Hani saat tangan mereka bersentuhan
"Terima kasih sudah membantu" hani melepaskan tangannya
"Ya , sama-sama" sosok itu rupanya seorang pria
"Kamu lapar?" Pria itu bertanya,menatapnya lekat-lekat
Hani merasa gelisah ia ingin segera pulang ke rumahnya
"Jangan curiga, aku hanya menawarkan daganganku saja. Lihat di seberang jalan sana. Aku baru saja buka kedai bakso seminggu yang lalu "
.🌕🌕🌕🌕
laki-laki itu tidak berbohong, sekarang Hani sedang berada di sebuah kedai bakso. tidak ada pembeli lain selain dirinya sekarang ini. bulu kuduknya meremang,bergidik di sekitar lengannya. ingatannya tak mungkin salah setiap hari ia melewati jalan ini dan belum pernah melihat ada kedai bakso
"namaku Dion, duduklah sebentar , akan kubuatkan pesanannya" laki-laki itu mengenalkan namanya
hani mengambil tempat di meja ujung dekat pintu masuk. untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu , ia akan lari secepatnya
seperti kedai bakso pada umumnya yang biasa Hani singgahi. kursi kayu panjang dan meja kayu panjang berwarna cokelat senada . Hani merasa gugup, ia mengambil minuman dari dalam tasnya
sruput....sruput....
"sudah hampir tengah malam, ko masih buka , apa enggak takut?" Hani mengajukan pertanyaan yang seharusnya pertanyaan itu lebih tepat untuk dirinya sendiri
"takut apa?" Dion bertanya
" yah ...hantu mungkin"
"ha ha ha ha ...." laki-laki itu tertawa, membuat Hani tersedak karena sedikit takut
"bagaimana kalau aku hantunya" Dion mendekatkan wajahnya persis ke depan wajah Hani
...
......
Sejak dulu Hani selalu menakut-nakuti adik perempuan satu-satunya dengan cerita seram menjelang tidur, Hani akan menyelinap masuk ke kamar adiknya saat tengah malam. hani menggulung dirinya dengan selimut putih dengan kedua tangan ditangkupkan di atas kepalanya lalu membuat suaranya memberat sedikit,
aku hantu ... aku hantu yang suka anak gadis yang cantik,ikutlah ke duniaku ...Hi Hi Hi Hi
dan sang adik akan menangis jerit-jerit ketakutan
" Aku benci kakak. kakak jahat"
"Mega,kakak cuma bercanda,lihat ini selimut yang biasanya kakak pakai kan?"
Mega menatap tajam Kakaknya diujung pintu. ini sudah kesekian kalinya kakaknya menakuti dirinya seperti ini. Meski ia sudah mendapatkan haid pertamanya seminggu yang lalu bukan berarti ia menjadi seorang yang pemberani
"Aku sumpahin suatu hari nanti, kakak akan didatangin hantu beneran sampai kakak mati ketakutan" Mega tidak bercanda, ia mengucapkannya keras-keras seperti doa sambil membanting pintu kamarnya. lalu berlari ke arah kamar ibunya, mengadukan perbuatan kakaknya
🌕🌕🌕🌕
dan karma dari adiknya itu mungkin telah datang menghampirinya sekarang
selama beberapa detik Dion menatap Hani dengan tatapan mata seperti ingin menerkam mangsanya. Mulut Hani sedikit terbuka, sekujur otot dan tulangnya menegang, jantungnya berdetak cepat seakan mau copot ia berkeringat ketakutan.
mungkinkah sosok Dion adalah hantu? pikir Hani takut
"Kamu takut?" Dion bertanya, laki-laki itu menyentuh kening Hani
"............" tak ada kata-kata yang sanggup Hani ucapkan saat ini
"Aku bercanda, ini baksonya sudah selesai aku siapkan" tiba-tiba semangkuk bakso sudah ada di atas meja . Hani masih membeku , ia sekilas melihat uap-uap udara yang keluar dari bakso di hadapannya lalu beralih ke wajah Dion yang kini memasang senyuman lebar
aku harus apa .. aku harus apa sekarang... aku bahkan tak punya tenaga untuk segera pergi dari sini ... .
"hei,kamu menganggap tadi itu serius ya? ya ampun coba lihat kedua kakiku kalau tidak percaya. mana ada hantu yang bisa menapak tanah kan?"
Hani ingin percaya tapi sungguh ia merasa masih ada yang janggal
Dion membuka tutup tempat sendok dan garpu,mengambil sebuah sendok dan sebuah garpu , ia mengelapnya dengan tisu kering lalu menaruhnya masing masing di telapak tangan Hani
" Ayo cepat dimakan, nanti baksonya keburu dingin"
dion duduk di depannya , menunggu Hani yang sejak tadi tidak bereaksi
"......nggghhh serius kan cuman bercanda?"
"Apa aku kelihatan tidak seperti manusia hmmmhh???? lagipula mana ada hantu jualan bakso ? "
hani mengambil nafas dan membuangnya panjang
" Syukurlah....." ucap Hani
kini ia sudah tak mau pusing entah manusia entah hantu, ia sudah sangat lelah dan mengantuk setelah seharian ini
Hani mulai memakan baksonya. pertama ia mencicipi kuah beningnya,
rasanya gurih... seperti....
"Gimana? enak kan?"
"Lumayanlah"
"Ayo dicoba baksonya, aku jamin kamu pasti jadi pelanggan setelah malam ini"
hani sedikit tertawa
"Kamu ini pede banget, gimana kalau rasa baksonya biasa aja, atau malah gak enak "
hani menggigit bakso kecil lalu mengunyahnya. ia berhenti sebentar. kedua matanya ia pejamkan untuk lebih menikmati rasa dari bakso buatan Dion.
ini...luar biasa... belum pernah aku makajn bakso seenak ini. serat dagingnya terasa kasar , tidak lembut tapi membuat gigiku ingin menguyah,menguyah dan tak mau berhenti
hani membuka matanya,
"Ini enak banget, bakso paling enak yang pernah aku makan, kamu yang buat ini sendiri? atau beli dari penggilingan daging?"
"iya aku buat sendiri, aku punya alatnya di rumah"
tapi bakso seenak ini kenapa sepi pembeli?" hani mengajukan pertanyaan sambil melanjutkan makannya
"Kamu orangnya jujur sekali. yah entahlah kenapa tak mau ada yang makan disini"
hani terbatuk-batuk mendengar penuturan dion. apa pertanyaanku tadi kelewatan ya?
"Bukan gitu, maksud aku, sayang bakso seenak ini harusnya bisa laku keras"
"Gitu ya! mungkin karena kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita mau"
ahh benar sekali, kenapa aku harus mengajukan pertanyaan bodoh seperti tadi? lihat aku saja lulusan terbaik dari universitas di kotaku tapi sampai hari ini melamar kerja kemanapun, tak pernah ada yang mau menerima... Dion dengan bakso yang sangat enak mustahil kedai baksonya sepi pembeli. tapi lihatlah,,,, kenyataan tak seperti yang kita harapkan
"Nasib kita sama, terima kasih baksonya enak. berapa harganya?" hani sudah menghabiskan baksonya sampai kuah terakhir, ia membuka tasnya, tangannya mencari-cari sesuatu yang hilang
"Kenapa? kamu ga bawa uang?"
"Enak aja kalau ngomong. nih dompetku, aku kehilangan surat lamaran kerja, kenapa bisa hilang sih? apa jatuh pas lari-lari tadi ya? "
"Oh, kamu lagi cari kerja?"
"Iya tapi semua pada menolak, entah apa kurangnya, nilaiku bagus, aku juga tidak menego gaji, apa mungkin aku kurang cantik?"
"Kamu cantik ko" Dion menatapnya, ia melihat lebih dalam jauh ke dalam bola mata Hani
membuat Hani jadi kikuk sendiri
Hani berusaha mengalihkan pandanganya ke seluruh ruangan di kedai. di pojokan ada sebuah lemari pendingin dengan pintu kaca
yang nampak berembun. ada bekas coretan lingkarang lingkaran kecil. seperti kegiatan rutin yang dibuat seseorang yang bosan menunggu waktu.
Hani melihat ke atas dinding sebelahnya dimana ia duduk, ada sebuah lukisan yang tak bergambar, lukisan itu hanya nampak berwarna putih
"itu, kenapa lukisannya kosong?" Hani bertanya
"itu ya... aku juga bingung mau melukis apa"
Hani tertawa ,, ia berpikir Dion tak semisterius yang ia kira.
"Bagaimana kalau aku melukis kamu, kamu mau kan?"
".....ngghhh aku??"
"iya kamu, kamu cantik seperti temanku"
pipi Hani memerah. ia sudah sering dibilang cantik oleh banyak laki-laki lain sebelum Dion, anehnya kali ini Hani merasa tersanjung. ia merasa kata-kata Dion tulus meski kecantikannya mengingatkannya akan teman Dion.
seperti apakah teman perempuannya Dion? kenapa aku justru penasaran ...?
"Apa kamu punya harapan
? " hani bertanya
" apa itu hal yang penting?" jawab dion
"yah penting dong. aku meskipun ditolak kerja berkali-kali tapi aku masih menaruh harapan kalau suatu hari nanti aku bisa jadi manager di sebuah perusahaan besar he he he"
"Anggap saja itu sebagai penyemangat hidup, kamu punya kan Dion?"
"Harapanku ya..? hmmhhh harapanku mungkin...."
hani sedikit mencondongkan tubuhnya, menunggu jawaban yang keluar dari mulut Dion. lama sekali keduanya terdiam
laki-laki itu melihat ke dalam wajah Hani, ada jawaban yang tak bisa ia ungkapkan saat ini , belum saatnya, keraguan itu nampak membentuk di sudut-sudut wajahnya sendiri
"Aku ga punya harapan" Dion mengatakannya dengan tertawa lemah
Hani mengangkat kedua alisnya,,
"Kenapa?"
"Bukan apa-apa. oh tadi kamu bilang kamu lagi butuh kerja kan? aku punya kenalan, kamu coba saja melamar kerja disini?" dion bangkit berdiri lalu mengambil sebuah kartu nama dari laci penyimpanannya
hani jadi merasa menyesal dengan pertanyaan tadi,
aku punya kenalan yang berkerja disana, bilang pada mereka bahwa kamu adalah temanku"
Hani tersenyum senang. ia mencermati nama seseorang dan alamat yang tertera pada kartu yang diberikan Dion.
"dari sini hanya setengah jam perjalanan menggunakan bus, nanti kamu turun di alun-alun kota ambil jalan memutar nanti sudah kelihatan ko gedung perkantorannya" Dion menjelaskan
"Dengan apa aku harus berterima kasih Dion?"
"jadilah temanku"
"Diterima dengan senang hati" jawab Hani tersenyum
🌕🌕🌕🌕
pov Dion
sudah waktunya berhenti berduka,,,
kami tidak boleh merasa bersalah
gadis-gadis itu memang dirancang untuk ditumbalkan...
darah-darah mereka aku butuhkan untuk mengisi hidup dalam duniaku
seperti gadis yang baru saja aku temui
ibuku sudah menandainya dalam mimpi buruknya di kereta
dan aku menghampirinya memakai topeng pahlawan
tiket sudah dilampirkan
gema kematian akan menghantuinya secepatnya
ia memiliki rambut bergelombang di atas bahu
sepasang bola mata yang hitam dan bibir yang merona
kecantikannya seperti muncul dari rimba fantasiku yang terdalam
ia gadis cantik yang membuat adrenalinku bergejolak
mengingatkanku akan gadis yang pernah aku sukai dulu
aku bertanya-tanya dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada
apakah ia gadis yang sama?
apakah ia gadisku yang pergi saat aku hampir meregang nyawa....
lalu bertanya padaku apa harapanku?
tidakkah ia tahu bahwa harapan hanyalah emosi terpendam yang menyedihkan
meskipun begitu bertahun-tahun yang lalu mungkin aku sempat meyakininya dan aku ingin mengatakannya kencang-kencang saat ini di depan wajahnya bahwa aku ingin hidup sampai usia seratus tahun
🌕🌕🌕🌕
Hani berangkat pagi-pagi sekali menggunakan bus , ia tak mau melewatkan kesempatan yang sudah diberikan Dion semalam. Rasa letihnya menguap begitu saja.
Setengah jam perjalanan ia turun di depan alun-alun. Fajar masih menahan setengah cahaya malamnya. Hani berusaha mengingat percakapannya semalam dengan Dion
"Harusnya semalam aku minta nomer ponselnya" ia menggerutui dirinya. Tangan kananya mengeluarkan kartu nama dari saku kemejanya. Ujung jemarinya mengelus huruf-huruf yang timbul berwarna perak
Rian Hariwijaya, manager HRD
hebat juga si Dion bisa punya kenalan manager Hrd lagi, kenapa bukan dia saja yang melamar ke sana ya? pikir Hani
ah sudahlah kenapa juga dipikirkan*
" Semangat, ini pasti jadi rezeki aku " Hani menyemangati dirinya sendiri , ia melihat sekitar. Alun-alun masih nampak sepi.
Ia memutuskan berjalan melihat keadaan di sekitarnya, mungkin akan ada orang yang bisa ditanyainya. Sejauh matanya memandang ia hanya merasakan kengerian. Pagar-pagar runcing berkarat mengelilingi bangunan ruko-ruko tua yang berwarna kusam termakan usia, sebagian dinding luarnya berlumut basah. Angin pagi menerbangkan aroma samar-samar , membuat penciumannya menghirup sesuatu yang tak bisa ia ucapkan.
Tiga meter di depannya terdapat sebuah kolam ikan yang terbuat dari pecahan batu-batu alam dengan patung gadis kecil bermata bolong di tengahnya. Hani mendekat ke arahnya. Sedikit melongokkan kepalanya . Tak ada apa-apa disana. Tak ada air dan tak ada ikan disana .
Seseorang dengan kedua kaki telanjang tanpa alas sedang mengamati Hani sejak tadi
Lalu bahunya dicengkram bukan dari depan melainkan dari samping. Ia menoleh.
Seorang gadis muda dengan gaun hitam transparan menatapnya dengan pandangan penuh dendam. Meski terlihat pucat wajah gadis muda itu penuh riasan.
"Cari siapa di sini?" Gadis itu bertanya,menghakimi Hani
" Ah,maaf bisa lepaskan tanganmu, ini terasa sakit"
" Cari siapa di sini?" Gadis itu mengulangi pertanyaannya tanpa melepaskan cengkramannya di bahu Hani
" Aku cari alamat, aku mau melamar kerja "
Gadis muda itu menurunkan tangannya. Lalu berjalan menghadapi Hani dari depan.
Dengan satu tangan saja sudah membuat bahuku sakit,siapa gadis ini sebenarnya, kenapa berkeliaran dengan gaun transparan yang memperlihatkan pakaian dalamnya sendiri, Hani gemetar bertanya pada dirinya sendiri
Semakin gadis itu mendekat ke arahnya, ia semakin jelas menghirup sesuatu. Seperti sesuatu yang terbakar ,aroma daging yang hangus.
Hani bergidik. Ia ingin lari tapi kedua kakinya membeku tak bisa digerakkan. Gadis muda itu menatap lurus padanya, seakan ingin beradu pandang dengannya. Mau tak mau Hani melihat lebih jauh ke dalam mata gadis itu. Menyeramkan dan penuh dendam
Nafas Hani terhenti . Hening
Hani melangkah mundur dan meremas ujung kemejanya dengan tangan yang gemetaran lalu mengucapkan permohonan
"Kumohon,bisakah aku pergi sekarang "? Suara Hani berubah serak menahan ketakutan
Dan untuk pertama kalinya gadis misterius itu hampir terlihat tersenyum
" Namaku Zara , aku akan mengantarmu , tunjukkan alamatnya padaku"
Dengan nafas yang tercekat Hani menyodorkan kartu nama yang dipegangnya sejak tadi
"Ikuti aku, aku tahu tempat ini" Zara membalik badannya dan mulai berjalan beberapa langkah di depan Hani yang tak berkutik
"Jam berapa sekarang?" Zara membuka percakapan
Hani melihat jam dilengan kirinya. Jam 05.15 pagi. tidak mungkin pikirnya, ia sudah disini sejak tadi dan waktu seakan tidak bergerak
"Apa kamu pernah kehilangan orang yang kamu sayangi?"
" ehh "
"Rasanya seperti tidak akan bertemu lagi selamanya, apa kamu pernah?"
hani belum menjawab pertanyaan-pertanyaan Zara , langkah kakinya berhenti sejenak. ia membuang jauh pandangannya jauh ke atas langit seolah mencari jawaban. langit-langit berwarna kelabu tampak lebih rendah dari yang biasanya ia lihat, sekilas ia beradu pandang mata dengan seekor burung gagak hitam yang bertengger di atas pohon
seekor burung gagak berkaok,mengepakkan sebelah sayapnya dengan liar. ia mengalihkan pandangan dari burung itu lalu mulai berjalan lagi. ia tak menemukan jawabannya . meski hatinya pedih mengingat kepergian adiknya beberapa bulan yang lalu
Zara nampak cantik dan misterius dengan gaun hitam transparan yang dikenakannya. Hani sekali-kali mencuri pandang ke arahnya. seutas kalung emas putih berayun-ayun di atas dadanya. Hani menjelajahi tubuh Zara dengan seksama sampai ke bawah
ujung-ujung jari kakinya yang tampak pucat berkerut membiru, ya Hani baru sadar ternyata Zara bertelanjang kaki rupanya
" Dimana sepatumu?"
"Mereka membuangnya saat aku tak bisa bergerak"
"Maksudnya?" Hani bertanya tak mengerti. ia tak bisa mencerna ucapan Zara barusan
Zara berjalan ke arah Hani menatap dalam pada wajah Hani, ada hening sejenak diantara mereka
"Kita sudah sampai, kamu tinggal menyebrang jalan saja di sana. Ada 3 gedung berjejeran dengan ukuran sama. carilah gedung dengan kaca-kaca berwarna biru"
"baiklah,terima kas...."
belum sempat Hani menyelesaikan kalimatnya,Zara sudah berbalik arah lenyap dari pandangannya membuat Hani sedikit kesal
"Perduli setan, aku juga harus pergi sekarang"
timpal Hani
hanya dalam beberapa detik saat ia baru setengah menyebrangi jalan, langit kelabu yang dilihatnya memudar di ganti sinar matahari yang menerobos setajam pisau asah.
keadaan berbalik aneh dengan sangat cepat.
la berada di tengah garis zebracross dengan lampu yang berganti hijau. suara-suara klakson mobil dan motor hampir meremukan gendang telinganya. seorang pria berkepala plontos menyembul keluar dari jendela yang terbuka, memberinya peringatan keras
" Minggir gadis jelek atau kutabrak sekalian"
hani ingin protes karena memang ia tak habis pikir, seingatnya jalanan masih nampak lenggang
bagaimana bisa berubah ramai dalam sekejap??
Hani membungkukkan kepalanya sedikit kepada mereka, membuat tanda permintaan maaf lalu berjalan pergi secepatnya
Hani merasa lemas,lututnya gemetaran ia hampir terjatuh karena bersenggolan dengan anak anak kecil berseragam sekolah yang lari-lari sambil tertawa
seseorang menolongnya. seorang gadis yang usianya hampir sama dengannya
"kamu baik-baik saja.? ah dasar anak sekolah zaman sekarang enggak punya sopan santun sama yang lebih tua"
"Biarin,.mereka masih anak-anak. aku juga yang salah "
"Serius kamu enggak apa-apa? wajahmu pucat loh! atau kamu lemas karena belum sarapan"
gadis itu benar nyatanya Hani belum Sarapan tapi ia lemas karena pengalaman mencengangkannya beberapa saat yang lalu
"Aku mau melamar kerja,kamu tahu alamat kantor ini?"
"Ahh nanti kita jalan sama-sama kesana ya. ini kantor tempatku bekerja"
" benarkah?"
"iya, tapi sebelum itu kita sarapan yuk, aku yang bayar deh. kan ga lucu kalau kamu sampai pingsan saat wawancara nanti"
"Namaku Dera , aku baru satu tahun kerja disana, bagian purchasing, namamu sendiri siapa?" gadis itu memperkenalkan dirinya pada Hani. Senyum yang menyenangkan dan Hani balas tersenyum
"aku Hani"
seorang pria paruh baya menyela percakapan mereka,menaruh dua mangkok berisi bubur ayam
"Dimakan dulu sarapannya neng "
sambil menyantap sarapan mereka, Dera mulai berbicara dengan pandangan menatap ke atas langit yang cerah di atas mereka
"Aku yakin kamu pasti di terima kerja di kantor tempatku bekerja"
"Kenapa ?"
"Kamu tahu,kantor tempatku bekerja itu lumayan besar, ada lima lantai dan setiap departemen harusnya punya 15 orang staff ditambah 2 asisten manager, dan manager di setiap departemennya , tapi "
"Tapi?"
"Nanti kamu lihat sendiri,bukan kejutan namanya kalau aku beritahu sekarang"
🌕🌕🌕🌕
Zara benar, ketika mereka tiba di kantor yang dimaksud. Ada hal yang yang membuat gedung ini nampak menonjol dari 2 gedung di sebelahnya. Gedung ini nampak cantik dengan kaca-kaca berwarna biru, tidak terlalu tinggi dan besar seperti tembok-tembok pencakar langit di sekelilingnya.
menakjubkan batin Hani terpukau
Dera mendorong pintu Kantor yang transparan lalu mengucapkan selamat pagi teman-teman semua dengan nada yang sedikit keras. Membuat seorang gadis yang duduk di belakang meja berlapis kulit kayu melongokan kepalanya. Rambut gadis itu digelung rapi di belakang kepala, bibirnya berkilau luar biasa karena efek glossy lipstik yang dipakainya, agak mencengangkan sebetulnya dengan bibir tebal yang dimilikinya. bukankah lebih bagus jika memakai lipstik matte sepertiku saja, ucap Hani dalam hati
"Selamat pagi juga Dera. Siapa gadis di sampingmu?
"Oh dia namanya Hani,,calon karyawan baru. hey keluarkan surat lamaran kerjamu"
Hani membuka tasnya,mengeluarkan sebuah amplop coklat kepada Dera
"Ini,tolong sampaikan untuk pak Rian "
kedua gadis itu terdiam. mereka saling menatap pada Hani
"Tidak ada yang namanya pak Rian disini" ucap mereka hampir bersamaan
Hani mengkerutkan keningnya, ia melihat kembali kartu nama yang diberikan Dion kemarin, membaca setiap hurufnya dengan jelas. benar di situ tertulis nama Rian Hariwijaya
tak jauh dari mereka, dinding berwarna cokelat muda dengan corak seperti atmosfer jupiter terbuka, seorang wanita dengan blazer hitam mendatangi mereka. meski rambut wanita itu mulai beruban , wanita itu terlihat cantik dan cerdas dengan kacamata yang dipakainya.
seolah seperti sudah tahu keadaan yang terjadi, wanita itu langsung bertanya pada Hani
"Siapa namamu ?" wanita itu bertanya
"Hani..."
"mari ikut ke ruangan saya ,kamu mau melamar kerja disini kan "
"Ngghh iya bu "
wanita itu berjalan masuk disusul Hani melewati dinding yang sama saat wanita itu keluar tadi.
apa ini sebuah pintu,? Hani bertanya-tanya
sebelum pintu benar-benar tertutup Hani masih dapat mendengar percakapan Dera dan Gadis resepsionis yang dikenalnya beberapa saat lalu
"Hey,bukankah manager hrd kita bernama Bu Sarah ?" .....
🌕🌕🌕🌕
ruangan-ruangan di dalam kantor terlihat jelas karena dinding dan kaca yang transparan. Ruangan pertama yang dilaluinya tidak berukuran besar, beberapa komputer tampak menyala dibiarkan begitu saja tanpa ada penggunanya. tidak ada satu karyawanpun yang ada di ruangan itu
ruangan kedua dan ketiga yang dilaluinya juga tampak sama keadaannya dengan ruangan pertama.
Bukankah ini aneh?
kenapa tidak ada satu karyawanpun yang berada di ruangan-ruangan itu?
apakah ini masih terlalu pagi untuk bekerja....