"Kamu udah di-unboxing sama suami, Sha?"
Sakura menatap Shakira—saudara kembarnya dengan wajah serius.
Wanita berjilbab itu, lantas menggelengkan kepala, pelan. "Belum," jawabnya sambil mengaduk-aduk jusnya.
"Lho, kenapa?"
"Alasannya dia gak cinta. Masih keinget mantannya terus," jawab Shakira, atau yang lebih akrab dipanggil Shasa.
"Wah, susah kalau gitu. Aku dengar suami kamu persis aku, banyak mantannya. Sedangkan suamiku, Mas Genta malah kayak kamu, gak pernah punya mantan," kata wanita yang memiliki nama Sakura tersebut, namun lebih akrab dipanggil Rara.
"Ya … begitulah," tanggap Sasha sambil menyandarkan punggungnya ke kursi cafe. "Kamu sendiri? Udah mapel?" tanyanya.
"Tadinya, sih, hampir. Tapi ia urungkan." Wanita berambut panjang berwarna kecoklatan tersebut menjawab.
"Lho, kenapa?" Sasha mengernyitkan alis.
"Gara-gara aku gak hafal doanya mandi besar."
"Hah!" Saking terkejutnya, Shasa sampai menegakkan punggungnya dengan mata menatap lebar ke wanita yang memiliki wajah bak cerminannya tersebut.
"Kok bisa gak hafal? Kan beda dikit sama mandi habis datang bulan." Sasha berucap dengan bibir menahan senyum lucu.
Mendengar alasan saudara kembarnya yang tak jadi malam pertama hanya gara-gara tidak hafal doa mandi besar rasanya ingin terpingkal-pingkal, namun ia tahan agar saudaranya itu tau tersinggung.
"Kataku iya, tinggal ganti niat aja beres. Bukannya kata ustaz ngaji kita dulu meskipun gak disebutin kalimat penyebabnya juga gak papa, asal niat juga sah. Tapi ya gitu, resiko nikah sama cowok alim mah ribet." Rara menghembuskan nafas kasar.
"Iya, suami kamu 'kan, keustatan gitu. Wajar, sih." Sasha tersenyum sambil kembali menyandarkan punggung ke kursi.
"Gak juga, aku tahu dia jadikan alasan sepele itu biar bisa ngindarin tuk nyentuh aku."
"Emang kamu ngarep?"
"Ya gak juga. Tapi 'kan, aku tersinggung. Lagian … aku mah sependapat sama suami kamu. Kalau belum ada rasa, ya kalau bisa jangan sentuh-sentuhan dululah."
"Kamu gak ada rasa sama suami kamu?" Tatapan Sasha penuh selidik.
"Ya … masih gak ada, sih, selain kita dijodohin, kan pria pinter agama bukan tipeku. Ribet."
Sasha hanya tersenyum tanpa menanggapi.
"Kalau ke kamu, sih, suami model kaya gitu gak masalah, tapi di aku berat banget. Beda sama suami kamu, itu selera aku banget. Suka bergaul dan ngikutin trend, juga … ah, intinya suami idaman aku bangetlah suamimu, Mas Gasta."
"Terus kalau Mas Genta?" Sebelah alis Sasha naik.
"Itu mah, selera kamu, 'kan? Cowok pintar agama idaman kamu banget. Andaikan Mas Genta yang jadi suami kamu, pasti cocok, deh."
Sasha hanya menanggapi dengan senyuman tanpa berkata-kata.
"Eh, bentar, bentar," kata Rara serius, "kok, jodoh kita sepertinya ketuker, ya, Sha?" lanjutnya.
"Maksudnya?"
"Ya seharusnya kamu sama Mas Genta dan aku sama Mas Gasta."
Bina terdiam sambil berpikir. Yang dikatakan Rara itu memang benar, bahkan ia sendiri memang sempat menaruh harapan.
Bertepatan dengan dirinya dijodohkan dengan pria pilihan papanya, Anggasta—putra dari sahabatnya, bahkan sudah tunangan juga, datanglah Argantara—seorang dosen dan da'i muda untuk dijodohkan dengan Rara—saudara kembar identiknya dan sangat sulit dibedakan.
Hanya saja mudah dibedakan karena penampilan mereka yang berbeda. Kalau Rara non hijab, maka Sasha konsisten dengan hijab.
Untuk pertama kalinya hati Sasha tersentuh dan merasakan getaran-getaran asmara yang terasa sejuk menyelimuti kalbu begitu melihat wajah teduh pria pemilik nama lengkap Argantara tersebut.
Saat datang bersama keluarganya, untuk membahas pernikahannya dengan Rara, tanpa sadar hati Sasha tersenyum ketika mencuri-curi pandang pada wajah pria yang selalu dihiasi senyuman simpul tersebut.
Pria pintar agama itu memang idaman Sasha selama ini. Sebab sadar ilmu agamanya masih minim, ia butuh pria yang bisa mendidiknya.
Namun entah kenapa yang dipilihkan papanya bukan Genta, melainkan Anggasta, pria yang seharusnya cocok untuk jadi suami Rara kalau dilihat dari gayanya yang suka mengikuti trend. Tak seperti dirinya yang apa adanya dan tertutup.
Karena alasan itulah, dia jatuh cinta pada pria yang kini telah menjadi iparnya. Bisa dikatakan itu cinta pertamanya.
"Sha, bagaimana kalau kita tukar istri."
"Hah!" Mata Sasha langsung melebar mendengar ajakan saudara kembar identiknya.
"Tukar istri gimana?" tanya wanita berjilbab biru mudah itu, kebingungan.
"Tukar posisi. Kamu jadi istri Mas Genta dan aku jadi istri Mas Gasta."
"Tukar suami maksudnya?"
"Ya begitulah intinya. Tukar suami ya otomatis tukar istri 'kan?"
Sejenak Sasha terdiam, mencoba menimang-nimang tawaran Rara.
"Gak serius tukeran, Sha. Hanya main-main saja. Biar kita sama-sama ngerasain gimana punya suami yang kita idamkan selama ini. Kan kita udah seminggu dengan suami pilihan Papa, terus seminggu juga kita ngerasain gimana hidup dengan suami pilihan kita. Gimana?" Rara menaik turunkan alis.
"Terus kalau ketahuan gimana?"
"Gak bakalan, Sha, kita 'kan, mirip banget, sulit dibedakan. Hanya saja beda di jilbab, kamu pakai, aku gak," jelas Rara.
"Iya, sih, kalau itunya mereka gak akan curiga."
"Itu dia," sahut Rara girang.
"Terus, aku harus buka jilbab gitu, agar suami kamu percaya kalau aku benar-benar kamu."
"Eh, gak perlu. Malah itu bagus, soalnya Mas Genta menginginkan aku berjilbab. Hanya saja aku cuekin."
"Wah, sama kalau gitu. Pas itu, suamiku ngajakin aku ikut ke pesta temannya 'kan, eh dia malah bilang, 'gimana kalau kamu buka jilbab aja, biar terlihat cantik dan modis', kan gak banget itu. Ya kali kalau modis dan cantik kudu lepas jilbab." Sasha menghembuskan nafas kasar. Masih kesel aja kalau mengingat kata-kata Gasta saat itu.
"Kalau begitu, deal, tukar istri. Maksudnya posisi istri atau tukar suamilah, apa namanya. Jelas kita gak akan ketahuan." Dengan semangat Rara mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Ini serius, ya?" Sasha masih ragu.
"Iyalah, cuman seminggu, kok. Main-main aja. Selain ngerasa hidup dengan suami pilihan, juga cari pengalaman."
"Okelah!" Sasha pun menyambut uluran tangan wanita pemilik wajah duplikatnya tersebut. Seletelah menepis keraguannya.
Karena rasa obsesi masing-masing, Rara dan Sasha tanpa sadar melakukan kekhilafan.
***
Untuk jaga-jaga takut ketahuan, Rara dan Sasha saling tukar KTP juga. Sesat memang, namun rasa sadar mereka dikalahkan dengan rasa obsesi masing-masing pada pria berstatus iparnya.
Sedikit gila memang jika dipikir-pikir oleh Sasha, namun wanita itu hanya ingin mengobati rasa penasaran. Seperti apa rasanya menjadi istri dari suami pria seperti Genta. Pria idaman yang menjadi pelabuhan hatinya untuk pertama kalinya.
Sekitar jam 5 sore, di rumah Sasha, Rara siap-siap di depan pintu untuk menyambut kedatangan Gasta—suami saudara kembar sekaligus iparnya tersebut.
"Selamat datang, Suamiku …." Rara yang cosplay jadi Sasha mengulurkan tangan untuk salim.
Gasta pun ikut mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan Rara. Namun sebelum itu terjadi, tiba-tiba ….
"Eh, bentar, bentar!" Gasta menarik tangannya kembali sambil menatap heran pada Rara yang dikira Sasha—istrinya.
"Apa, Mas?" tanya Rara dengan lembut, mencoba mengikuti kekaleman Sasha.
"Itu kamu?" Jari telunjuk pria berjas navy tersebut terarah ke kepala Rara.
"Kan kalau dalam rumah emang gak pakek jilbab, Mas." Rara segera menjelaskan. Untungnya Sasha sempat cerita kalau di rumah ia memang suka lepas jilbab.
"Bukan karena jilbabnya, namun warna rambut kamu!"
Sontak mata Rara melebar dengan sempurna.
Ia lupa kalau rambut Sasha hitam pekat dan lurus. Sedangkan punya dirinya coklat dan ikal gantung.
Mampus ….
***
Di rumah Rara dan suaminya, Sasha tengah cosplay jadi Rara.
Saat bel rumah berbunyi, meskipun lagi ada di kamar mandi, wanita itu dengan segera melangkah cepat menuju pintu utama dan membukanya.
"Assalamualaikum …."
Deg. Mendadak hati Sasha berdegup kencang. Sejenak ia termangu sambil menatap wajah yang sering ai curi pandang, kini malah dengan jarak begitu dekat bisa ia pandangi.
"Kok gak dijawab? Lupa jawaban salam?"
"Eh, waalaikumsalam, Mas!"
Sasha yang tersadar akan keterbiusannya tadi, segera menjawab salam. Lantas menunduk.
"Kok berjilbab?" Genta menatap kepala Sasha.
"Bukannya Mas memang menginginkan aku berjilbab?"
Kata-kata yang diajarin Rara, segera Rara keluarkan.
"Emhh ... baguslah, itu sangat membuatmu cantik."
Deg. Lagi-lagi suami saudaranya itu kembali membuat jantung Sasha berdegup. Bahkan ia terasa ingin melayang akan pujian pria yang telah diam-diam mencuri hatinya di waktu pertama kali melihatnya.
Dan kali ini, pria idamannya itu tengah mengulurkan tangannya untuk disalim, namun Sasha hanya diam saja, tampak kebingungan.
Mau disambut, bukan muhrim.
"Kok gak mau salim?"
Tangan Genta semakin maju, namun Sasha segera menghindar dengan menyembunyikan tangannya ke belakang.
"Lah, kok? Kenapa?" Raut Genta kebingungan.
"I–itu, Mas, aku lagi punya wudhu, mau sholat Ashar, nanti batal."
Sejenak Genta terdiam, sebelum akhirnya pria itu mengangguk-angguk tampak mengerti.
"Ya sudah sana sholat duluan! Aku masih mau mandi," ucap Genta sambil melewati Sasha.
Segera Sasha menghembuskan nafas lega. Selamat ….
Iya, kali ini ia selamat, tapi setelah ini, nanti? Lalu besok? Dan besoknya lagi?
_____
Nafkah batin
Rara menghembuskan nafas lega. Untung saja suami saudaranya itu percaya saat ia menjelaskan tentang warna rambutnya yang memang suka ia ubah-ubah.
Kadang Hitam, juga kadang coklat, bahkan merah. Gasta yang memang terbiasa dengan gaya wanita yang menurutnya berlebihan demi bisa terlihat cantik, ya percaya saja dengan penjelasan iparnya yang lagi cosplay jadi istrinya.
Meskipun sedikit tak percaya, sebab wanita model kayak Sasha yang berjilbab suka ganti warna rambut.
Malamnya, Rara menelpon Sasha. Ingin tahu keadaan di rumahnya.
"Gimana, aman?" tanya Rara begitu panggilan terhubung.
Sasha menghembuskan nafas lesu. "Aman, sih, untuk saat ini. Tapi untuk ke depannya aku gak yakin."
"Kenapa?"
"Takut ketahuan. Terus … gimana nanti tidurnya?'
"Ya tidur biasa. Kamu bisa tidur di sofa seperti biasa aku tidur. Sedang Mas Genta di ranjang."
"Hah! Jadi model tidur kalian selama seminggu gitu?" Sasha terheran-heran.
"Gak juga, sih, cuman dua kali. Pertama pas awal nikah Mas Genta nolak, kedua entah hari ke berapa. Sebenarnya Mas Genta tak terima, tapi bodo amat," kata Rara enteng.
"Percaya, kan kamu sejenis istri pembangkang gitu. Ha ha ha." Sasha tergelak dengan candaannya sendiri.
"Nanti gak lagi. Ini efek aku masih gak ada rasa mungkin. Kalau dah cinta mah—"
"Bakal minta tuk jemput pahala duluan," potong Sasha cepat. Membuat gelak tawa keduanya pecah.
Sesaat hening. Keduanya sama-sama terdiam.
"Eh, Ra, BTW, kita main-main gini dosa, lho."
"Dosa apa? Kita kan gak melanggar hukum. Tidur pun terpisah, begitupun dengan suami kamu, dia tidur di sofa 'kan?" tanya Rara.
"Iya, sih, tapi—"
"Andaikan dosa, ya palingan dikitlah!" Rara nyengir di akhir kalimat.
"Iya, tapi tetep aja—"
"Ayolah, Sha … gak usah dibawa panik dan susah gitu. Masalah dosa, manusia gak akan luput dari yang namanya salah dan dosa, bukan?"
Sejenak Sasha terdiam, lalu menjawab, "Iya, sih."
"Nah itu dia. Kamu nikmati aja gimana rasanya jadi istri dari pria yang sefrekuensi kayak kamu. Sejalan dan …." Rara menggantung kata-kata terakhirnya, seolah ragu.
"Apa?" tanya Sasha.
"Sehati."
Sasha terdiam. Yang dikatakan saudara kembarnya itu memang benar. Tak sampai satu hari ia tinggal dengan Genta, ada rasa nyaman ia menjalani kegiatannya. Sebagai seorang istri. Entahlah, memang tak sama saat ia menjalani seorang istri untuk Gasta, padahal asli suaminya sendiri.
Genta dan Gasta, dua pria yang benar-benar memiliki karakter yang beda hampir bertolak belakang menurut pemikiran Sasha.
Karena alasan itu juga mungkin yang membuat ia tak menolak untuk tukar posisi sebagai istri dengan saudaranya.
Sadar juga, ia memang berjilbab, namun kalau untuk julukan wanita alim … rasanya jauh, ia gak begitu agamis. Ia hanya nyaman dengan berjilbab, tidak ada alasan lain. Bisa dikatakan belum lillahi ta'ala.
Karenanya, ia butuh seorang imam yang bisa mendidiknya menjadi wanita yang benar-benar agamis sesuai jilbab yang ia pakai.
Namun … pria yang ia impikan malah berjodoh dengan saudaranya.
"Sha, kok diem. Berarti benar, ya?" Rara kembali bersuara.
"Apa?"
"Kamu sehati sama Mas Genta?"
"Ih, kok bisa?"
"Udah ngaku aja, aku sama suami kamu aja sehati."
"Eh, sehati apaan? Jangan macem-macem, ya!"
"Maksudnya?"
"Meskipun kamu sama Mas Gasta sehati, tetap gak boleh sentuh-sentuhan!"
"Memang kenapa? Kan yang penting gak tidur bareng."
"Duh, Ingat, bukan muhrim. Kalau sampai Mas Gasta nyentuh kamu sebab dia gak tahu kalau kamu bukan istrinya, kan yang dosa aku di sini. Sudah nipu dia. Wah dosaku bakalan berlipat-lipat ganda kayaknya, nih," kata Sasha menggebu-gebu.
"Duh, iya, iya, entar aku usahain, deh, gimana caranya agar gak sampai sentuhan. Itu pun kalau akunya yang gak khilaf."
"Heh!" Sasha melotot.
"Hi hi hi … habis suami kamu ganteng banget, Sha, keren, gaul pokok semua ada. Idaman aku banget pokoknya." Antusias Rara saat mengucapkannya.
Sasha tak menjawab, hanya memutar bola mata malas.
"Ya sudah, aku mau nyiapin makan malam. Jangan lupa kamu siapin makan malam untuk suamiku. Kita saling jalani tugas istri kita masing-masing dengan sempurna. Biar gak banyak dosa," pesan Rara sambil cekikikan.
"Iya, aku juga udah masak kali. Ya sudah, titip suamiku, ya, jaga benar-benar. Jangan sampai ia keracunan karena masakanmu," pesan Sasha sambil menahan senyum.
"Gak lah, aku belikan. Gak masak, kasihan suami ganteng orang kalau sampai nyicipin masakan aku yang ala restoran bintang lima ini. Hi hi hi …." Rara kembali cekikikan, sedangkan Sasha hanya tersenyum.
"Oh ya, dia alergi udang. Jangan sampai dia makan itu, ya!" pesan Sasha, antusias.
"Idih, cie … yang katanya gak cinta, suami bukan tipenya, tapi diam-diam perhatian," goda Rara sambil menahan senyum.
"Gak Cinta bukan berarti gak ngabdi dan jaga suami 'kan. Kewajiban dan pengabdian itu tak harus dengan cinta."
"Siap, Bu Ustazah!" sahut Rara.
"Ustazah apaan?"
"Ya, sekarang kamu lagi jadi istri Mas Genta—pria yang sering jadi da'i di acara tebar dakwah," jawab Rara, sontak membuat Sasha terkekeh dengan sedikit rasa bangga. Padahal istri palsu. Gitu aja udah seneng.
***
Usai berteleponan dengan Sasha, Rara segera menyiapkan makan malam. Menata makanan yang tadi ia beli di piring dan meletakkannya di meja.
"Hei!"
"Eh, wanjir! Eh …!" Rara segera membekap mulutnya dengan kedua telapak tangan.
Saking terkejutnya, kebiasaan latahnya muncul di waktu yang sangat tidak tepat.
Pria di depan Rara, yaitu Gasta, mengernyitkan alis tebalnya. Menatap penuh keheranan. "Baru tahu aku kalau kamu latah," ucapanya masih dengan alis mengerut.
"Ya habis, Mas ngagetin, sih," kata Rara sambil menghirup nafas dalam-dalam.
"Ya habis sedari tadi aku manggil kamu gak nyaut," timpal pria berkaos lengan pendek tersebut. Menampakkan ototnya yang aduhai.
"Kapan panggil?"
"Tadi, barusan. Sasha. Shakira, Elsa Shakira. Tetap kamu gak nyaut. Yaudah aku tepuk pundak kamu."
Rara menepuk jidatnya sendiri. Ia tak sadar saat sedang pura-pura jadi Sasha. Jadi harus terbiasa dengan panggilan itu selama satu Minggu ini.
"Kenapa nepuk jidat?" tanya Gasta sambil melipat tangan di dada.
"Gapapa, tadi aku sedang ngelamun, makanya gak dengar. Ya udah, yok! Makan!"
Rara segera duduk di kursi, begitupun dengan Gasta ikut duduk.
"Tumben," celetuk Gasta.
"Apa, Mas?"
"Kamu beli makanan. Bukannya kamu bilang gak suka makanan yang dibeli. Makanya sering masak."
Rara menelan ludah. Lupa kalau Sasha pintar masak, kebalikan dengan dirinya yang gak bisa masak sama sekali.
Sudah pasti selama satu Minggu ini dia memanjakan perut suaminya dengan masakannya.
"Anu, Mas, itu … aku lagi malas masak."
"Malas?" Kening Gasta semakin mengerut.
Lagi-lagi Rara menelan ludah. Lupa kalau untuk Sasha gak ada kata malas untuk masak. Wanita itu cita-citanya memang ingin jadi chef.
"Bukan, maksudku lagi ingin makan, makanan di luar."
Entah percaya atau gak pria di depannya, Rara gak peduli. Ya itulah, salah satu sifatnya, gak mau peduli dan ambil pusing.
Namun tampaknya percaya, buktinya pria itu mengangguk-anggukan kepala.
Acara makan malam pun berlangsung dengan keheningan. Hingga Gasta bersuara menyingkirkan keheningan yang tercipta.
"Sha!"
"Iya, Mas?"
"Aku lihat tadi pas kamu keluar rumah, pergi ke minimarket seberang sana gak pakek jilbab." Gasta berucap sambil menyudahi makannya yang memang sudah habis.
"He he he, iya, Mas." Rara hanya nyengir sambil menyudahi makannya juga.
"Aku, sih, gapapa, sebab sebelum itu aku memang ada nyuruh kamu untuk lepas jilbab saja."
"Itu dia, Mas!" Rara segera menyahuti.
"Tapi … apa kamu melakukan ini supaya aku bisa memberikan nafkah batin untuk kamu?"
"Hah!" Mata Rara membulat secara sempurna.
***
"Tumben kamu masak?" tanya Genta yang baru saja tiba di meja makan.
Sasha tergeragap. Namun tak berlangsung lama, sebab ia sudah menyiapkan jawabannya. Setelah bisa menebak selama satu Minggu, saudaranya menjadi istri dari pria di depannya tersebut memberikan makanan yang sudah pasti dibeli.
"Bukannya Mas menginginkan aku bisa masak?" Sasha berusaha lebih percaya diri, meniru gaya istri dari iparnya itu.
"Ah iya, benar. Tapi …." Genta tak meneruskan kata-katanya, seolah ragu.
"Apa?"
"Kenapa?"
"Apanya?" Sasha semakin bingung.
"Kenapa mendadak mau?"
Alis Sasha bertautan. "Mau apa?"
"Mau pakai jilbab dan mau belajar masak," kata Genta penuh selidik.
"Oh, itu karena aku—"
"Apa kamu tersinggung karena sikapku, Rara?" tanya Genta yang mengira Sasha adalah Rara.
"Eh, gak, kok, Mas!"
"Iya, kamu tersinggung karena aku tak menyentuhmu 'kan?"
"Bukan begit—"
"Baiklah, malam ini juga aku memberikan apa yang kamu inginkan."
"Apa?"
"Nafkah batin!"
"Hah!" Sasha melongo kaget.
_______
"Kenapa kamu kaget gitu?" tanya Gasta, menatap heran pada Rara yang dikira istrinya, Sasha.
"Tuduhan Mas itu lho, ngagetin," jawab Rara.
"Benar 'kan, tapi? Kamu ingin nafkah batin dariku?"
"Iya, eh, tidak maksudnya."
Rara merutuki dirinya sendiri yang begitu jujur menyatakan keinginannya yang ingin disentuh.
Memang iya, sih, dia suka sekali sama suami saudara kembarnya, yang asli memang tipenya. Namun ia masih waras, tak mungkin mengharapkan nafkah batin itu dari pria yang bukan suaminya.
Meskipun ia gak pintar ilmu agama, tetap saja ia sedikit tahu tentang mana yang boleh dan tidak boleh. Contohnya, ya seperti yang saat ini ia lakukan.
Tukar posisi istri. Bukan dia gak tahu kalau dosa. Namun ia wanita biasa, jauh dari kata alim hingga sulit untuk tak terbujuk nafsu.
Apa yang sedang ia lakukan dengan saudaranya itu karena nafsunya, bukan? Menginginkan milik orang lain tanpa mensyukuri milik sendiri.
"Terus?"
"Apa?" tanya Rara.
Gasta tak segera menjawab, mata elang pria itu hanya menatap lekat wajah Rara.
"Gak papa, lupakan saja." Gasta berdiri dari kursi dan melangkah.
Segera Rara menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.
"Oh ya!" Gasta menghentikan langkahnya, dan berbalik. "Besok aku mau bawa kamu ke pesta temanku. Namun sebelum itu aku masih ada acara seminar sebentar. Siap-siap besok pagi!"
Setelah berucap, Gasta kembali melanjutkan langkahnya.
Sedangkan Rara, ia langsung bersorak girang. Akhirnya, ia bisa jalan dengan cowok keren juga.
***
"Gak usah jaim, aku tahu kamu menginginkannya 'kan?"
Sasha menelan ludah mendengar tuduhan pria di depannya yang mengatakan dirinya ingin disentuh.
"Meskipun aku gak pernah dekat dengan seorang wanita selama ini, namun aku tahu wanita seperti kamu itu memang … maaf, sedikit agresif."
Kali ini mulut Sasha menganga lebar bersamaan dengan rasa malu yang menjalar dari ujung rambut hingga ke wajahnya.
Sadar yang dikatain itu adalah Rara bukan dirinya, namun tetap saja ia yang merasa malu, lebih-lebih dikatakan secara langsung.
Benar ternyata kata Rara, kalau suaminya itu memang lebih suka jujur, walau kadang menyinggung.
Sehabis makan malam, Sashalangsung masuk ke kamar dan duduk di sofa mainan ponsel. Tak lama dari itu, Genta juga masuk dan duduk di kursi meja, membuka laptopnya.
Gabut, wanita berjilbab putih itu mengirim pesan untuk saudaranya.
[Ternyata wajah kita benar-benar mirip, ya?]
Pesan terkirim dan langsung terbaca oleh Rara.
[Kenapa memang?]
[Aneh aja, suami kita gak ada curiga dengan kita yang tengah tukar posisi,] balas Sasha.
[Iya, tak hanya wajah kita. Bahkan suara kita juga sama. Akan sulit orang membedakan kita. Hanya ada satu orang yang bisa membedakan kita dengan mudah.]
[Papa?] tebak Sasha.
[Iya, dan jangan sampai Papa tahu akan ini, apalagi posisi kita yang tukar posisi istri.]
[Iya, aku tahu. Tapi 'kan, pastinya itu tak mungkin, sebab kita saling berjauhan. Antara kita juga rumah Papa.]
[Iya, makanya kamu gak usah khawatir. Jalanin aja sisa hari kita menjadi istri dari pria idola kita masing-masing.]
Belum sempat Sasha mengetik balasan, pesan Rara kembali masuk.
[Oh ya, suamiku … maksudku, suamimu mengajakku ke sebuah acara. Ini maksudku izin, ya! Boleh gak?]
Saat jari Sasha bergerak hendak mengetik, tiba-tiba ….
"Oh ya, Ra!" Suara Genta menggema di telinganya.
Sontak Sasha menoleh, menatap pria yang saat ini juga tengah menatap dirinya.
"Besok aku ada undangan mengisi acara akbar untuk tim tebar dakwah."
"Oh ya, Mas, gapapa," tanggap Sasha. Seolah mengizinkan.
"Bukan begitunya, besok kamu ikut, ya?"
Kali ini Sasha tak langsung menjawab. Tampak kebingungan.
"Teman-temanku banyak yang nanyain kamu. Ingin tahu akan rupa istriku katanya, makanya aku mau bawa kamu."
Setelah berucap, Genta kembali menghadap ke laptopnya, menganggap diamnya Sasha yang dikira istrinya itu sebuah jawaban.
Setelah lama termangu, Sasha kembali menatap layar ponsel dan mengetik pesan.
[Suamimu juga mengajakku ke acara Akbar.]
***
Pagi ini Rara bangun terlambat. Tak henti-hentinya ia merutuki dirinya sendiri. Entah kenapa tak bisa banget menjadi seperti Sasha, yang bisa bangun di pagi buta.
"Kamu mau ke mana?"
Rara yang tadinya hendak keluar kamar tak jadi, saat mendengar pertanyaan pria yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Rara termangu sejenak, sebab ia sendiri bingung mau ngapain.
Seorang istri di pagi hari harus sibuk. Itu yang ia dengar dari ibunya sehari setelah pernikahannya, sebelum akhirnya ia diboyong ke rumah suaminya, Genta.
"Emhh … ya … ya seperti biasa, Mas, menyibukkan diri."
Jawaban Rara, entah kenapa terdengar lucu hingga membuat Gasta tersenyum, memamerkan gigi gingsulnya, membuat hati Rara berdenyut tak karuan.
'Masya Allah … gantengnya jodoh saudara kembarku,' gumam Rara dalam hati.
"Sudah, hari ini kamu gak perlu sibuk. Sudah cukup sibuk sebelum-sebelumnya."
"Tapi, Mas—"
"Pekerjaan rumah biar di handle anaknya Mbok Ina—pelayan yang kemarin kamu tolak sebab bisa melakukan pekerjaan rumah sendiri."
Mendapatkan perhatian seperti itu dari pria tampan di depannya, seketika hati Rara meleleh.
Meskipun perhatian Gasta sebenarnya untuk Sasha, namun tetap saja dia yang baper.
Di rumah Genta, Sasha yang memang bangun di pagi buta, pagi ini sudah siap dengan pakaian rapinya.
Jilbab yang dipakai senada dengan bajunya.
"Tumben pagi-pagi buta kamu sudah bangun?" tanya Genta. Pria itu kini juga sudah siap dengan jas abu-abunya.
Sasha tersenyum. "Kan Mas semalem udah ngasih tahu mau ajak aku pergi."
Kali ini Genta yang tersenyum sambil berpikir, hal apa yang telah ia lakukan hingga bisa membuat istrinya berubah dan melakukan sesuai keinginannya.
Genta berpikir seperti itu tanpa ia tahu bahwa yang saat ini ada di depannya bukanlah istrinya, melainkan wanita yang begitu mengagumi di waktu pertama kali melihatnya.
***
Setelah dari acara seminar, sebuah seminar kewirausahaan, Gasta juga membawa Rara ke pesta undangan teman bisnisnya.
Tak hanya di tempat seminar tadi Rara dihormati sebagai istri dari seorang Anggasta—putra dari seorang pebisnis besar. Di pesta tersebut, ia lebih dihormati lagi, bahkan dianggap tamu VIP.
"Istri kamu cantik sekali, Gas, pinter banget papa kamu pilihkan istri," celetuk teman Gasta.
"Oh iya, aku lupa kalau Gasta ini dijodohkan, ya?" Seorang perempuan juga menyahuti.
Pujian demi pujian bersusulan untuk Rara. Wanita itu hanya diam saja, sebab ia tak tahu, pujian itu untuk siapa?
Untuk Sasha, apa dirinya?
Sebab saat ini ia tidak lagi sedang berpenampilan seperti Sasha, namun ciri khas dirinya sendiri. Yang tampil modis tanpa hijab.
"Kenapa harus menunduk tampak malu begitu, kan kata orang-orang kamu cantik. Masak gak pede menampakkan wajah cantikmu." Gasta berbisik di dekat telinga Rara sambil tersenyum.
Entah kenapa tiba-tiba ada rasa lain yang menyelinap masuk ke dalam hati wanita itu.
Selain ketampanan yang Rara lihat, ia juga melihat keistimewaan Gasta yang membuat ia kagum. Bahkan semakin mengagumi.
Yaitu, saat melihat kewibawaan Gasta di acara seminar tadi. Jiwa bisnis pria berumur 27 tahun itu benar-benar memancarkan aura lebih.
Dan, pria seperti itulah yang Rara rindukan untuk menjadi suaminya.
***
"Masya Allah, ini yang kamu bawa bidadari, Pak Gen?"
Begitu sampai di gedung acara, Ganta dan Sasha disambut hangat dan begitu dihormati oleh beberapa orang terhormat pula.
"Subhanallah … cantiknya istri Pak Genta."
"Wah, sungguh pasangan yang sangat serasi. Sebuah pasangan surga ini, mah … yang istri anggun dengan jilbabnya, dan si suami wibawa dengan kalam indahnya yang mendidik yang selalu disampaikan saat berpidato."
Mendengar pujian demi pujian yang ditujukan untuk dirinya dan istrinya, refleks Genta menoleh, dan di waktu yang bersamaan, Sasha ikut menoleh.
Sejenak pandangan keduanya bertemu, namun dengan segera Sasha memutuskan kontak mata, kembali menunduk.
"Oh ya, nama bidadarinya Pak Genta siapa?" Salah satu mahasiswi yang diajar oleh Genta bertanya.
"Iya, jadi pengen kenalan. Yuk, namaku Nurul." Wanita yang lainnya mengulurkan tangan.
Dengan pelan Sasha mengulurkan tangannya juga. "Namaku Elsa…." Kata-kata Sasha terhenti. Ia hampir keceplosan mengenalkan diri dengan mana Elsa Shakira.
"Emhh … maaf, maksudku namaku Elvira Sakura. Panggil saja Rara," kata Sasha setelah sadar dia sekarang lagi bersandiwara jadi Rara—istri dari pria di sampingnya.
"Wah, nama yang begitu cantik," tanggap yang lain.
Saat acara dimulai, Sasha didudukkan di kursi barisan paling depan. Bergabung dengan para istri terhormat lainnya.
Di depan panggung sana, dengan jelas Sasha bisa melihat pria berpeci dan berpakaian koko itu sedang membius para hadirin dengan kata-kata indahnya.
Figur Genta menebar sejuta pesona. Setiap kata yang keluar penuh keindahan.
Hati Sasha seolah bertasbih memuji keindahan Tuhan yang ia lihat di atas panggung sana.
Rasa kagum itu kini menggunung, menjadi lebih tinggi.
Hingga ia hampir lupa, bahwa apa yang tengah ia kagumi itu milik saudara kembarnya.
Dan tak pantas ia memiliki rasa itu.
______