Dengan hati yang berdebar-debar, Mila memasuki kamar yang sangat luas. Ia merasa seperti terbang ke dalam mimpi yang begitu nyata. Bagaimana mungkin ia, Kamila Anggraini, seorang wanita biasa, sekarang menjadi istri dari Edward Putra Pratama, seorang CEO di tempatnya bekerja?
Mata Mila melintas ke sekeliling kamar yang megah. Ruangan itu dipenuhi dengan furnitur mewah dan sentuhan elegan yang mencerminkan kemewahan hidup Edward. Langit-langit tinggi, perabotan berkualitas, dan ruang yang luas menciptakan aura kemegahan yang tak terbantahkan.
Saat pandangannya mendarat pada tempat tidur yang besar dan empuk, Mila tak bisa menahan senyum bahagia. Ia tidak bisa menyangka bahwa dirinya, seorang wanita biasa dengan mimpi sederhana, kini berbagi ranjang dengan seorang pria yang memiliki posisi begitu tinggi dalam dunia bisnis.
"Ya ampun, sumpah. Aku enggak lagi mimpi, kan." Milla bermonolog pada dirinya sendirinya.
Rasanya begitu lelah, tapi teramat bahagia bisa bersanding dengan orang yang selama ini diimpikan.
Setelah merajut asmara dengan sang kekasih selama kurang lebih satu tahun, akhirnya hari ini gadis berparas ayu itu sah dipersunting sang pujaan hati.
Senyum bahagia jelas terpancar menghiasi wajahnya. Ia sangat cantik, malam ini pun ia akan mempersembahkan malam special untuk suaminya.
"Mas Edward kemana ya? Kok belum masuk ke kamar.”
Mila meraih ponselnya yang ada di tas, lalu mencari kontak suaminya. Hendak menelepon suaminya, namun urung melakukannya.
"Hmm, biarin aja deh. Lagian aku juga masih deg-degan nih. Nanti kira-kira aku harus ngapain yah? Apa aku langsung tiduran aja di kasur. Atau aku goda dulu mas Edward? Atau.. apa yah?”
Ah, Mila benar-benar sangat gugup. Ia memegangi dadanya yang berdebaran tak karuan, karena akan melewati malam pertamanya bersama sang suami.
Mila duduk di tepi ranjang sambil mengungkang-ungkang kakinya menatap sepatunya yang indah. Rasanya begitu bahagia dinikahi oleh CEO nya yang terkenal dingin dan ketus, entah mengapa membuatnya merasa menjadi wanita istimewa karena bisa memenangkan hatinya.
"Beruntung banget aku, bisa nikah sama bos sendiri yang tajir melintir." Mila tersenyum sendiri jika mengingat hanya dirinyalah yang akhirnya di pilih menjadi pendamping hidup Edward.
Perlahan Mila merebahkan tubuhnya ke atas ranjang king size milik suaminya yang kini akan menjadi miliknya juga.
Pikiran Mila teralihkan pada suara kenop pintu yang dibuka. Ia semakin berdebar saja, ia segera berdiri dan bersiap menyambut suami tampannya yang begitu ia idolakan.
Namun ternyata bukan suaminya yang datang melainkan Jessica, mama mertuanya.
Mila langsung mengembangkan senyumnya dan berlari kecil menghampiri Jessica lalu mencium tangannya.
"Hei sayang, jangan lari-lari, nanti kamu tersandung gaun.”
Mila terkekeh.
"Tenang aja aku ini juara olah raga, Mih." kelakar Mila.
Jessica memeluk Mila lalu mengusap wajahnya lembut. Ia menatap Mila dengan mata berkaca.
"Mami jangan nangis, aku kan tidak jatuh.”
Tadinya Jessica merasa terharu tapi sekarang jadi tertawa mendengar ocehan menantunya.
"Kamu ini, Mami hanya teringat dengan mendiang adiknya Edward, dia seusiamu kalau saja dia masih hidup.”
Mila baru tahu rupanya suaminya memiliki seorang adik yang telah meninggal. Edward orangnya pendiam dan tidak pernah banyak cerita apa pun tentang keluarganya.
"Tapi.. bedanya kamu ini selalu senyum, ceria dan apa adanya. Mami suka itu.”
Mila menampilkan sesnyum manisnya saat mendengar pujian dari mama mertuanya. Keduanya memang cukup singkat berkenalan, tiga bulan saja sebelum pesta ini digelar, namun keduanya sudah sangat cocok dan akrab.
Sebab Jessica juga mirip dengan Ibun, panggilan Milla untuk ibunya. Jessica memperlakukan Mila dengan penuh kasih sayang layak putrinya sendiri.
"Alhamdulilla kalau Mami suka sama aku. Nanti aku jangan dimarahi kayak di sinetron-sinetron itu ya, Mih. Terus maaf juga kalau nanti aku masih suka bangun siang, tapi aku janji akan berusaha menjadi istri dan menantu yang baik dan sholehah.”
Jessica tergelak lagi, rasanya senang sekali jika ngobrol dengan menantunya yang selalu menghibur. Menurtut Jessica, Mila bisa membuat suasana hatinya kembali berwarna. Setelah kehilangan Erika, putrinya.
"Mami akan selalu bersikap baik padamu, tapi.. kamu yang harus sabar dengan sikap dingin Edward. Dia itu cenderung pendiam dan agak cuek, apalagi setelah adiknya meninggal. Dia hampir enggak pernah tersenyum lagi.”
Mila sudah siap dengan hal tersebut, karena Mila juga sangat tahu bagaimana sikap Edward di kantor. Tapi karena memang Mila sangat mengidolakannya hingga ia berpikir bisa mengatasi sikap dingin pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya.
"Dan maklumi juga kalau dia banyak dekat dengan wanita, dia begitu popular. Tapi Mami yakin Ketika dia sudah memilih menikahimu berarti kamu memang benar-benar istimewa baginya. Selama ini dia belum pernah berkomitmen dengan siapa pun, pacaran pun tidak.”
Senyuman Mila seketika lenyap, inilah yang membuatnya kemarin sempat ragu menerima lamaran Edward. Ia tahu betul kalau bosnya sering didatangi wanita, digosipkan dengan para selebriti. Juga sering mendengar rumor kalau Edward itu pemain wanita dan dikenal sebagai rajanya one night stand.
Ibun juga awalnya tidak merestui hubungan Mila dengan Edward lantaran sering mendengar gossip demikian. Namun Mila meyakinkan Ibun jika Edward telah berubah dan memilih mengakhiri pelabuhannya pada Mila.
"Iya, Mih. Mila harap mas Edward benar-benar telah mengakhiri petualangannya.”
Jessica mengelus lembut punggung tangan menantunya.
"Oya, mas Edward nya kemana ya? Dari tadi belum kelihatan.”
"Sepertinya tadi dia masih ngobrol dengan Clarissa.”
Mila mengerucutkan bibirnya saat mendengar suaminya sedang ngobrol berdua dengan wanita lain di malam pengantin mereka.
Tentu saja Mila cemburu, secara Clarissa gadis anggun yang pintar dan popular sebagai selebgram. Wanita yang mengaku sebagai sahabat suaminya sejak kecil, tapi tetap saja Mila merasa terusik.
Istri mana yang tidak risih melihat suaminya yang terlalu dekat dengan wanita lain dan kerap melakukan skin ship tanpa canggung di depan Mila.
"Kok dia ke sini sih? Bukannya pulang ke rumah selesai acara dari hotel?”
Jessica membelai lagi lengan Mila.
"Sabar ya, Sayang. Mereka hanya sahabat kok, meski begitu Mami akan mendukungmu kalau kamu tidak suka Edward dekat-dekat dengan Clarissa.”
"Terus mereka di mana sekarang, Mih?”
"Sepertinya mereka di taman belakang dekat kolam renang. Kamu samperin aja ke sana.”
Mila tersenyum mengangguk. Dengan masih memakai gaunnya yang mengembang dan berumbai serta sepatu hak tinggi, ia berjalan keluar kamar menuju taman belakang rumah.
Sedang Jessica memilih kembali ke kamar tanpa mau ikut campur urusan rumah tangga anaknya.
Susah payah Mila berjalan menuruni anak tangga yang meliuk karena ekor gaunnya yang panjang. Ia menyapu pandangan ke seluruh ruangan dasar rumah mewah tersebut, namun sepi dan tidak menjumpai dua insan yang sedang di incarnya.
"Mas Edward! Mas!" panggil Mila dengan suaranya yang dibuat ceria meski jantungnya berdebar-debar.
Tidak ada sahutan, Mila terus berjalan menuju pintu belakang. Ia membuka pintu yang terbuat dari kaca itu, kini matanya kembali menyapu halaman belakang dengan padang rumput yang luas. Lalu ia menyusuri jalan setapak yang terbuat dari batu-batu coral.
Ia berjalan menuju kolam renang, sampai di tepi kolam ia tak kunjung menjumpai suaminya. Ia memutar tubuhnya dan akhirnya melihat sosok suaminya, hanya saja kini suaminya tengah duduk di kursi dekat kolam dengan seorang wanita duduk di sampingnya dan wajah mereka saling menghadap satu sama lain dengan jarak yang begitu dekat.
BYUURR!!!
Berniat kabur tapi malah tersandung gaunnya dan akhirnya Mila berakhir jatuh ke kolam renang, mengagetkan Edward dan Clarissa.
'Sial! memalukan!’
Entahlah apa yang di lakukan Edward dengan Clarisaa tadi, Mila tidak sempat melihatnya karena sudah terlanjur basah di kolam renang.
Mila, yang kini berada di bawah guyuran shower, merasakan kehangatan air yang menyelimuti tubuh polosnya. Namun, raut wajahnya tidak lagi mencerminkan kebahagiaan yang seharusnya dirasakan oleh seorang pengantin baru. Air matanya bercampur dengan tetesan air shower, menyelinap di pipinya, tetapi tersembunyi dari pandangan karena tersapu oleh air.
Jika ditanya bagaimana perasaan Mila saat ini? Jelas sangat kecewa dan sakit hati. Bagaimana tidak, ia baru saja menjadi istri Edward Putra Pratama, namun di malam pengantin mereka, ia melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain. Rasanya seperti pedang yang menusuk langsung ke dalam hatinya. Sebagai seorang istri, siapa yang tidak akan merasa marah dan terluka oleh pengkhianatan semacam itu?
Setelah semua harapan dan impian tentang kehidupan pernikahan yang harmonis, kejadian ini menghancurkan keyakinan Mila. Ia merasa marah dan terpukul, bertanya-tanya mengapa suaminya dapat melakukannya di saat mereka seharusnya saling mendukung dan mencintai satu sama lain.
Tok..
Tok..
Tok..
Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar dari luar kamar mandi.
“Mila!” panggil Edward.
Tapi tunggu! Kenapa suaranya terdengar seperti orang marah? Apa Mila salah dengar?
Mila memilih untuk tidak mengindahkan panggilan suaminya yang datang dari luar kamar mandi. Ia ingin menyampaikan rasa kesal dan kekecewaannya kepada Edward atas sikapnya yang telah keterlaluan. Merajuk menjadi pilihannya sebagai bentuk protes terhadap perlakuan Edward yang tidak pantas.
Namun, keheningan dalam kamar mandi terganggu oleh suara keras yang menggema di balik pintu. Edward terus menerus menggedor pintu kamar mandi dengan keras, menunjukkan betapa ia sangat marah.
“Mila! Buka pintunya atau aku dobrak!” ancam Edward membuat Mila segera melihat tubuhnya yang polos dan secepatnya mengambil bathrobe dan memakainya menutupi tubuh moleknya.
Lalu ia berjalan cepat membuka pintu sebelum pria itu semakin marah.
“Mila! Aku enggak main-main ya. Aku hitung sampai tiga kalau belum di buka juga aku dobrak pintu ini.”
“Satu.. Dua.. Ti-“
Ceklek..
Pintu terbuka sebelum Edward selesai berhitung dan sudah mengambil ancang-ancang.
“Ada apa?” tanya Mila, mengerucutkan bibirnya merajuk dan berharap suaminya mau merayunya dengan kata-kata manis. Seperti yang dilakukan abangnya, Nathan, saat ia merajuk.
“Jangan bilang Mami soal kejadian yang tadi,” ucapnya dingin, entah mengapa Mila seperti kehilangan sosok Edward saat awal mendekatinya. Saat masa pedekate, Edward sangat manis melebihi manisnya kembang gula.
“Kejadian apa?” ketus Mila pura-pua tidak ingat.
Ingin rasanya ia amnesia agar tidak mengingat kejadian memalukan tadi.
Edward semakin geram dengan sikap Mila yang seolah menantangnya.
“Kejadian kamu jatuh di kolam tadi, sungguh memalukan.” cetus Edward.
Mila berusaha menelan ludahnya, namu tetap menampilkan wajah biasa saja.
“Enggak, aku enggak malu. Yang malu itu seharusnya kamu dan Clarissa. Mas kan sudah menjadi suamiku harusnya Mas bisa jaga sikap. Aku pikir Mas sudah berubah.”
Edward malah tersenyum bengis.
“Cih, kamu pikir kamu siapa bisa merubah hidupku. Kamu itu sama saja dengan wanita lainnya, murahan dan mudah dirayu.”
“Mas Edward! Sekali lagi kamu bilang begitu, aku gampar yah.”
“Oh ya? Memangnya kamu berani? Dasar murahan!” ulangnya sengaja membuat Mila marah.
Namun yang di lakukan Mila sungguh di luar dugaan, Mila merengkuh wajah tampan suaminya, berjinjit dan menyambar pipi suaminya.
Edward shock dengan tindakan Mila, yang ia pikir akan marah dan memberinya sebuah tamparan sesuai ucapannya.
“Aku gamparnya pakai bibir, rasain!” Edward masih membatu di tempat.
Setelahnya Mila mendorong tubuh Edward yang menghalangi jalannya.
“Dasar gadis sinting! Kenapa malah menciumku? Jijik sekali!” gumamnya dengan suara agak kencang sengaja agar Mila bisa mendengarnya dan sakit hati.
Jelas, Mila sangat jelas mendengar ocehan Edward yang jijik padanya. Dan hal itu mampu membuatnya sakit hati, rasanya seperti tertusuk pisau belati. Tapi sebisa mungkin Mila menahan emosinya.
‘Ingat Mila kamu anak baik, wanita sholehah. Jadi tidak boleh marah-marah dan terpancing emosi.’
Selesai memakai pakaiannya, Mila berjalan ke arah pintu seraya membuka kenop pintu hendak keluar kamar.
“Mila! Mau kemana kamu?”
“Aku mau numpang tidur di kamar mami Jessica, biar Mami tahu kalau kelakuan anaknya yang bikin sakit hati istri.” gertaknya, dengan gerakan cepat Mila langsung menutup pintu kembali dan berlari menuju kamar teh Tini, salah satu ART di rumah Edward yang sudah kenal dekat dengannya.
Dalam tiga bulan belakangan Mila kerap kali dibawa Edward berkunjung ke rumahnya. Jadi ia sudah hafal dengan anggota keluarga suaminya yang tinggal di sana dan ruangan-ruangan yang ada di sana.
Mila sedikit berlari kecil menuju kamar teh Tini yang berada di lantai dasar bagian belakang.
Tok..
Tok..
Tok..
Mila mengetuk pintu kamar teh Tini dengan nafas tersengal-sengal. Karena jarak antara kamar Edward dengan kamar sang ART cukup lumayan.
Ceklek..
“Non Mila, ada perlu apa, Non?”
“Hem, Teh aku boleh masuk dulu enggak. Aku capek nih.”
Teh Tini mengangguk lalu membuka lebar pintu kamarnya dan mempersilakan majiannya masuk ke dalam.
Mila langsung menjatuhkan dirinya di kasur single milik teh Tini.
“Ah, rasa nikmat sekali bisa merebahkan badanku.”
“Lho Non, kenapa malah tiduran di sini?”
“Malam ini, aku mau menginap di kamar teh Tini yah.”
Tini terkekeh, baru kali ini ada pengantin baru kabur di malam pertama.
“Non kabur? Kenapa? Apa mas Edward kasar mainnya? Atau tidak sabaran?”
Mila mengangkat kembali tubuhnya lalu duduk di pinggir tempat tidur.
“Apaan yang ada aku yang nyosor duluan. Hah, aku enggak ada harga dirinya banget sih jadi cewek. Apalagi mas Edward ngatain aku yang enggak-enggak gara-gara aku mergokin dia lagi mesraan sama cewek di belakang.”
“Mas Edward sama Non Clarisaa ya?” tebak Tini.
“Kok Teteh tahu sih? Iya, apa mereka punya hubungan? Kalau mereka punya hubungan kenapa enggak di nikahin aja si mak lampir itu.”
Tini mengernyitkan dahinya, “Clarissa maksudnya, Non?”
“Iya itu dia. Kenapa mas Edward malah menikah denganku kalau dia punya kekasih lain. Dulu bilangnya cinta tapi sekarang aku merasa telah di hianati.”
Tini menghampiri Mila duduk di sampingnya. Gadis berusia 33 tahun itu mengusap lembut punggung Mila.
“Sabar ya, Non. Tadinya Teteh pikir juga mas Edward udah berubah karena sudah mengambil keputusan ingin menikah. Tapi.. ternyata seperti ini. Coba non Mila bicarakan dulu baik-baik dengan mas Edward.”
Tini menatap iba pada Mila, sebab ia tahu betul bagaimana sifat Edward. Jika pria itu tetap tidak berubah maka kasihan Mila harus terjebak dalam pernikahan bersama pria dingin yang tidak menghargainya.
Mila tiba-tiba meneteskan air matanya, hal itu semakin membuat Tini jadi ikut terluka. Sesama wanita pasti bisa merasakannya.
“Aku merasa di tipu, Teh. Padahal aku udah mati-matian membujuk Ibun dan Abang agar mau memberikan restu dan mengizinkan aku menikah dengannya. Ah, ternyata aku salah, aku telah memilih pria brengs—tuutt itu.”
Tini mengernyitkan dahinya mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Mila.
“Eh, apaan itu maksudnya?”
“Sensor, Teh. Aku enggak boleh ngatain orang jadi kalau mau bicara yang tidak baik harus di sensor.”
Tini tertawa hingga terbahak-bahak, awalnya ia sedih melihat Mila yang sedang berduka. Tapi yang benar saja Mila masih bisa menghibur orang lain.
“Si Non teh, bisaan aja. Padahal tadi Teteh mau ikutan nangis tapi enggak jadi gara-gara Non ngelawak.”
“Enggak apa-apa dong Teh, berarti bagus kalau aku bisa bikin Teteh senang. Aku dapat pahala.”
Namun wajah Mila kembali murung.
“Apa aku minta dipulangkan aja yah?”
“Jangan dong, Non. Masa baru nikah sehari udah dipulangin. Belum juga di unboxing, non Mila itu cantik, seksi dan bohai. Masa mas Edward enggak tergiur sama non Mila.”
“Iya sih, Teteh benar, aku itu cantik. Kata teman-temanku juga bilang bodi aku bohai montok.”
Tini kembali tergelak melihat Mila yang bergaya menampilkan tubuhnya yang tergolong pas untuk ukuran tubuh wanita ideal. Katanya mah body goals.
“Iya, Non. Orang non Mila udah perfect gini kok di anggurin. Mas Edward lagi mabok kali, Non.”
“Hm, au ah. Aku jadi bingung, aku harus gimana dong, Teh?”
“Berjuang dulu, Non. Teteh akan selalu mendukung non Mila.”
Entahlah, rasanya Mila sudah hilang semangat untuk memperjuangkan cintanya. Melihat sikap Edward yang tiba-tiba 180 derajat berubah drastis setelah ijab qobul.
Ada rasa sesal yang menghantuinya. Tapi ia juga penasaran, apa yang membuat Edward berubah? Pokoknya masalah ini harus di selesaikan. Mila sudah bertekad jika esok ia akan menanyakan langsung pada Edward perihal perubahan sikapnya. Dan mengambil keputusan tentang pernikahannya.
Flashback On
Sebulan sebelum pernikahan Mila dan Edward berlangsung, Mila melakukan hal yang luar biasa. Setiap harinya, ia mengintai ke mana pun abangnya pergi, dengan tujuan agar mendapatkan restu darinya.
Baginya, izin dan restu dari abangnya sangatlah penting, walaupun ia sudah mengantongi restu dari sang ayah.
Mila sangat menyayangi dan menghormati abangnya, karena Nathan selalu memanjakannya dengan kasih sayang dan perhatian.
“Bang, ayo dong. Restuin aku sama mas Edward.” rengek Mila mengekori Nathan yang sedang memasak mie instan.
“Enggak! Udah sana, Abang lagi masak nih.”
Mila tetap berdiri di belakang abangnya sambil bergelayut manja.
“Aku yang masakin yah.”
“Enggak usah, Abang bisa sendiri.”
Mila mengambil bungkus mie instan itu dan memasukan mie nya ke dalam panci berisi air panas.
“Abang enggak sayang ya sama Mila?”
Mila sambil mengaduk-ngaduk mie tersebut.
“Justru karena Abang sama kamu, makanya Abang enggak ijinin kamu nikah sama dia.”
Nathan tahu betul bagaimana sikap dan sifat Edward, karena mereka dulu sempat dekat bahkan bersahabat saat jaman sekolah dan kuliah. Hingga suatu hal yang membuat hubungan keduanya merenggang.
“Kamu itu terlalu berharga buat pria brengsek seperti dia.”
“Sensor, Bang. Enggak boleh ngatain orang dan ngomong kasar.”
“Tapi emang benar, dia itu buaya.”
“Ya udah, Mila mau kok jadi pawangnya. Mas Edward bilang dia itu udah capek berpetualang, dan sekarang dia udah yakin hanya ingin singgah di hati Mila.”
Nathan berdecak kesal, lalu mematikan kompor dan mengangkat mie yang telah matang.
“Kalau mau jadi pawang buaya, nanti Abang daftarin ke kebun binatang.”
Mila semakin geram dengan abangnya.
“Bang, Mila serius. Mila itu udah jatuh cinta banget sama mas Edward, begitu juga mas Edward. Jadi tolong restuin hubungan kita dan jangan pisahin Mila sama mas Edward.”
“Halah, sok tau kamu. Masih kecil mana tau tentang cinta-cintaan.” sungut Nathan yang sudah duduk di meja makan dan bersiap menyantap mie rebus buatannya.
“Siapa bilang Mila masih kecil. Umur Mila itu sudah 23 tahun sudah dewasa dan sudah siap menjadi seorang ibu.”
“Tapi enggak sama Edward.”
Mila bingung harus bagaimana lagi meyakinkan abangnya kalau Edward benar-benar serius padanya. Karena kalau Nathan tidak mengizinkannya maka Ibun juga tidak akan mengizinkan Mila menikah dengan Edward.
Lain halnya dengan Ayah yang sudah langsung merestui hubungan Mila dan Edward.
“Pokoknya kalau Abang tetap enggak mau restui hubungan Mila sama mas Edward, Mila mau pergi aja dari rumah dan enggak akan balik lagi. Dan jangan cari-cari Mila.”
“Coba aja, emangnya kamu berani.” tantang Nathan.
“Beranilah.”
“Ya udah lakuin aja. Tidur aja kadang masih suka minta di temenin, ini ngadi-ngadi mau kabur.”
“Iih, Abang nyebelin banget sih.”
Mila merajuk dengan mengerucutkan bibirnya. Nathan cuek saja sambil menyeruput mie rebusnya.
“Ya udah kalau gitu Mila bunuh diri aja nih.”
Mila mengambil garpu di mangkok Nathan lalu mengarahkannya ke leher Mila.
Nathan tersedak makanannya dan segera mengambil air minum.
“Mila! Jangan ngaco deh kamu.” Nathan merebut garpu dari tangan adiknya.
“Mila serius, Bang! Hiks.. hiks..”
Mila mengeluarkan jurus mautnya dengan air mata buaya.
Nathan menghela nafas lelah, sebenarnya ia tidak rela melihat Mila bersedih tapi lebih tidak rela lagi jika Mila harus bersanding dengan Edward maupun pria lain.
“Ada apa sih ini ribut-ribut?” tegur Ayah yang baru keluar dari kamar.
“Lho anak kesayangan Ibun kenapa nangis?” Ibun memeluk Mila yang sedang merajuk pada Nathan.
“Ayah, Abang nih masih belum mau restuin hubungan Mila sama mas Edward.”
“Bang, kamu jangan gitu dong. Udah kasih aja restu, lagi pula kamu itu kan temannya Edward masa enggak percaya.”
“Justru karena aku temannya jadi aku tahu betul bagaimana sifat Edward.”
“Wah, kamu jangan merusak kebahagiaan Ayah dong yang ingin berbesanan dengan keluarga konglomerat.”
“Ayah ini, apa sih? Kita harus lihat juga dong pria yang akan menikahi anak kita itu bagaimana orangnya.”
“Tapi Bun, kalau Edward tidak serius dengan Mila, kenapa dia langsung melamar dan ingin secepatnya menjadikan Mila istrinya?”
Ibun sebenarnya setuju saja Mila menikah dengan Edward tapi entah mengapa hatinya yang lain seakan tidak rela melepaskan Mila pada Edward.
Lain halnya dengan Ayah yang benar-benar sudah setuju seratus persen tanpa pertimbangan.
Mila berpindah duduk di samping Nathan lalu memeluk erat tubuh pria itu.
“Bang, Mila mohon. Walaupun Ayah sudah merestui hubungan Mila tapi bagi Mila restu Abang juga sangat penting.”
Nathan terdiam bergeming, lalu ia memejamkan matanya dan sejurus kemudian air mata keluar dari kedua sudut netra hazelnya, tanpa Mila tahu.
“Sampai kapan pun Abang tidak akan rela Mila menikah dengan Edward.” Atau dengan pria mana pun, sambungnya dalam hati.
Flashback Off
=========
Dengan perasaan kesal dan gelisah yang memenuhi hatinya, Edward keluar dari kamar menuju anak tangga untuk menuju kamar maminya. Awalnya, ia merasa ragu apakah Mila benar-benar akan tidur di kamar ibunya. Namun, mengingat kedekatan Mila dengan ibunya, kemungkinan besar ia benar-benar berada di sana.
Dengan hati yang berdebar, Edward menghampiri pintu kamar maminya dan ragu-ragu mengetuknya.
Tok..
Tok..
Tok..
“Mih!” panggilnya. Namun belum juga ada sahutan dari dalam.
“Mami!” panggilnya lagi sambil mengetuk pintu kamar.
Tak lama kemudian Jessica membuka pintu dengan mata yang sayup-sayup mengantuk.
“Ada apa, Ed?” tanya Jessica.
Melihat sang mami yang bersikap biasa saja, maka Edward mengambil kesimpulan jika Mila tidak datang ke kamar maminya.
Edward menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Ehm.. itu Mih, aku bingung malam pertama untuk pengantin baru harus apa ya?” kilah Edward, memilih untuk berbohong dari pada nanti heboh karena si pengantin wanita kabur di malam pengantin.
Jessica tergelak dan menjadi segar kembali.
“Kamu ini bagaimana sih, Ed? Masa yang seperti itu harus di ajarkan. Yang jelas kamu harus bersikap baik pada istrimu dan jangan main kasar. Pelan-pelan saja.” Mami Jessica menginterupsi.
“Owhh, hehe. Maaf ya, Mih. Sudah mengganggu waktu istirahat Mami.”
Edward memutuskan untuk kembali ke kamar saja. Setelah mengecek keberadaan Mila yang tidak ada di kamar sang mami sedikit membuatnya lega. Setidaknya wanita itu tidak membuat Mami marah padanya.
“Sayang, semangat!” teriak Mami.
Edward menampilkan senyumnya dengan terpaksa.
Bukannya Edward tidak tahu apa yang harus ia lakukan di malam pertama, tapi memang pria itu tidak mau melakukannya dengan Mila. Bukan karena tubuh wanita itu tidak seksi tapi memang itulah tujuan Edward menikahinya untuk tidak menyentuhnya meskipun mereka sekarang adalah pasangan halal.