Bab 1

"Pergi! Pergilah dari rumah ini sejauh mungkin dan jangan pernah kembali!" Paeng melempar dua tas besar ke halaman rumah, sementara Charita kebingungan terhadap situasi yang terjadi.

"Apa, apa yang kau lakukan, Paeng? Kenapa kau mengemasi semua pakaianku serta milik putriku, lalu melemparnya seperti ini." Charita berlari untuk mengambil tas besar miliknya.

"Hey! Apa kau benar-benar bodoh sehingga tak tahu apa yang terjadi, Charita!" Paeng tertawa sombong, ekspresi jahatnya seperti ibu tiri dalam dongeng klasik.

"Katakan padaku apa maksudmu?"

Paeng mendekati Charita, wanita itu mendelik dengan suara rendah. "Kau benar-benar tidak tahu? Setelah kakakku meninggal, kau dan putrimu tak lagi bernilai di rumah ini, jadi sebaiknya pergi,  kalian bukan lagi bagian keluarga besar Parthatap." Ia terlihat sangat bengis saat mengatakannya.

"Tidak mungkin." Charita menolak mengerti. "Suamiku baru meninggal dua hari sebelumnya, lalu malam ini kau mengusir kami? Bukankah Chali menjadi pewaris tunggal atas rumah ini?"

"Hey, wanita bodoh. Kau tak bisa mengatakannya tanpa sebuah bukti, apa yang kau miliki sehingga seperti ini? Aku tegaskan kembali bahwa kau dan Bella tak menjadi bagian keluarga Parthatap lagi, kau mengerti?"

Charita menggeleng. "Chali pernah menunjukan padaku bahwa dia adalah pemilik tunggal rumah ini, bagaimana mungkin kau mengusir istri dan putrinya. Aku akan menghubungi pengacara keluarga."

Ketika Charita hendak menelepon seseorang, Paeng merebut ponsel, melemparnya ke tanah dan menginjak benda itu hingga bagian layar retak.

"Paeng! Kau sudah keterlaluan!" Charita menjerit panik.

Paeng tertawa, ia tak memiliki hati manusia sampai bersikap sangat jahat. "Kau baru sadar? Aku memang tak pernah menyukaimu sebagai kakak ipar, dan situasi seperti ini sudah lama aku tunggu."

Mata Charita berubah merah, ia hampir menangis saat memungut ponselnya yang rusak. "Bagaimana mungkin kau berubah seperti ini?"

"Sst. Diamlah, aku lelah bersandiwara."

Dari arah gerbang terlihat sebuah taksi berhenti, Bella muncul di sana, gadis itu baru saja mengikuti jam kuliah malam. Bella mengerutkan kening melihat ibu dan bibinya berada di halaman dengan situasi aneh.

"Apa yang sebenarnya terjadi sekarang?" Bella bergumam lirih, ia berlari menghampiri Charita, ternyata wanita itu sudah menangis. "Astaga, Bu. Apa yang terjadi? Kenapa Ibu menangis?"

"Baguslah kau akhirnya pulang, Bella." Paeng berbicara, ia tak menunjukan belas kasih pada mereka. "Cepat bawa ibumu pergi dari tempat ini."

Bella kebingungan. "Tapi kenapa? Untuk apa ibu pergi?"

"Bukan hanya ibumu, tapi kau juga harus mengikutinya. Enyahlah, aku sudah bosan melihat kalian tinggal di rumah ini." Paeng akan pergi, tapi Bella cepat mencegahnya, Paeng kesal dan menarik tangannya dari cekalan Bella. "Jangan menyentuhku!"

"Katakan padaku apa yang sudah terjadi, Bibi? Mengapa ibuku sampai menangis? Mengapa kau mengusir kami?"

"Kau belum mengerti?" Paeng melihat Charita. "Hey, kakak ipar. Seharusnya kau mengatakan sesuatu kepada putrimu, untuk apa menangis?"

"Tolong, Bibi. Katakan saja padaku apa yang terjadi." Bella memohon, ia sudah tak tahan melihat Charita menangis.

"Baiklah jika kau memaksa." Paeng menyeringai. "Mulai malam ini, kau dan ibumu bukanlah bagian keluarga besar Parthatap, aku mengusir kalian berdua, jadi lekaslah enyah dari tempat ini!" Suara Paeng meninggi pada bagian akhir.

"Mengusir?" Buku-buku tebal yang sempat didekap Bella akhirnya jatuh ke tanah, ia cukup terkejut mendengar semua itu. "Tapi, kenapa? Bukankah semua baik-baik saja? Apa salahku dan ibu sehingga Bibi melakukan ini?"

"Bella, sudahlah." Suara Charita terdengar, Bella menoleh dan menghampiri wanita itu.

"Tapi, Bu. Ada apa? Kenapa Bibi Paeng melakukan hal ini?"

Charita menggeleng, ia memilih memungut buku-buku milik Bella.

Suara klakson mobil terdengar dari arah gerbang, rupanya putri Paeng baru saja pulang, Balila Parthatap yang anggun.

Paeng tersenyum lebar ketika Balila turun dari mobil setelah supir membuka pintu untuknya, Balila terlahir lima bulan saat Bella menginjak usia setahun.

"Putriku yang cantik, akhirnya kau kembali." Paeng memeluk Balila dan mengecup keningnya. "Bagaimana harimu?"

"Semua baik-baik saja, Bu."

Balila tersentak melihat pemandangan aneh di depannya, Charita yang menangis dan Bella menatap nanar Paeng sekaligus Balila.

"Apa yang terjadi di sini?" Balila menatap Paeng. "Ada apa dengan mereka, Bu?"

Paeng mengajak Balila berhenti, ia mengangkat dagu dan kembali menatap Bella serta Charita penuh kebencian. "Mereka sudah tak layak tinggal di rumah ini, jadi seharusnya mereka pergi sejauh mungkin."

"Apa?" Balila terkejut. "Tapi, tapi untuk apa mengusirnya? Mereka adalah bagian keluarga Parthatap, Bu."

"Tidak lagi." Paeng menggeleng.

"Apa ayah tahu?"

"Kami sudah membicarakannya sejak hari kematian pamanmu."

"Kau sudah gila!" Charita tiba-tiba menjerit, ia bergerak cepat mendorong Paeng hingga adik iparnya tersungkur ke tanah. "Kau sangat jahat, Paeng! Kau sangat keji!"

"IBU!!!" Bella dan Balila kompak berteriak, Bella menarik Charita agar mundur, sementara Balila membantu ibunya supaya berdiri.

"Berani-beraninya kau melakukan itu!" Paeng tidak bisa menerima perilaku kasar Charita, ia mendekat dan berniat menampar kakak iparnya, tapi bukan wajah Charita yang berhasil tersentuh tangan Paeng, melainkan wajah Bella, gadis itu sudah berdiri siaga di depan Charita.

"Ibu!" Balila kembali berteriak, hatinya terlalu lembut untuk menyaksikan setiap hal buruk malam ini. "Sudah, Bu. Jangan memukul Kak Bella, tidak perlu sampai seperti ini." Ia menarik mundur Paeng.

Sementara Bella masih terdiam, ia tak bergerak meski wajahnya terasa panas, Charita memeluk Bella, ia kembali menangis kencang.

"Sudah, Bella. Sudah. Kau tak perlu seperti ini, kau tak pantas mendapatkannya, jika mereka memang menginginkan rumah ini, lepaskan saja, ibu bisa menerima semua ini. Jangan biarkan mereka menyakitimu, Nak."

"Aku hanya ingin mendengar alasannya, Bu. Apa sebelumnya ayah tahu tentang ini?"

Charita menggeleng. "Kita harus pergi sekarang, ibu tak ingin melihatmu diperlakukan kasar lagi. Sudah cukup, Bella. Ibu mengerti."

"Pergi kalian! Enyah dari rumah ini! Aku dan suamiku takkan membiarkan kalian kembali lagi, pergi sejauh mungkin!" Paeng berteriak dan mendelik, ia menunjuk gerbang, bahkan supir tak berani melawan Paeng, pria itu hanya bisa menyaksikan saat Charita terus memaksa Bella agar mereka pergi.

"Ibu baik-baik saja, Bella. Percayalah, kita akan baik-baik saja." Charita berusaha membuat Bella mengalah, tanpa banyak bicara gadis itu mengikuti keinginan sang ibu, mereka pergi berbekal dua tas besar tanpa tahu lebih banyak alasan sebenarnya dari pengusiran paksa malam ini.

Sesaat langkah Bella berhenti di balik gerbang, ia melihat Paeng terakhir kali sebelum wanita itu mengajak Balila masuk ke dalam rumah yang sudah dua puluh tahun lebih menjadi tempat tinggal Bella.

"Bu, apa yang harus kita lakukan setelah ini? Di mana kita akan tinggal?"

Pertanyaan klasik yang membuat Charita menarik napas panjang.

***

Bab 2

Bella menangis, ia mendapat kabar buruk berikutnya, sebut saja vonis mutlak yang tak bisa Bella tolak.

Bella resmi dikeluarkan dari universitas pagi ini, perwakilan universitas hanya mengatakan jika mereka tak bisa membantu Bella lebih banyak, tapi siapa pun pasti tahu jika keluarga Parthatap menjadi pemasok dana terbesar bagi universitas.

Mikky memeluknya, ia membiarkan Bella menangis tanpa bertanya lebih banyak, hanya Mikky yang bisa memahami Bella sejak mereka menjadi teman dekat dua tahun lalu.

Ujian universitas segera tiba, tapi Bella harus menerima keputusan buruk seperti ini secara sepihak, ia tak bisa mengubur mimpi kecilnya begitu saja.

"Mereka melakukannya, Mikky. Mereka melepaskanku tanpa alasan yang jelas, kenapa banyak hal buruk mendatangiku setiap hari?" Bella mengangkat wajah, terlihat basah, ia menggeleng dan terus berbicara, memprotes di depan Mikky yang hanya mendengarkan tanpa berniat memotong ucapannya. "Apa yang harus aku lakukan setelah ini, bagaimana cara menjelaskan pada ibu jika putrinya dikeluarkan dari universitas?"

"Ini di luar prediksi, aku tak menyangka jika memang keluarga bibimu ada di balik semuanya. Aku turut bersedih untukmu, Bella. Bagaimana aku harus membantumu?"

Bella terdiam, ia menghapus air matanya, mahasiswi lain menjadikan gadis itu seperti tontonan gratis.

Balila berada di sana, berdiri dari jauh memperhatikan interaksi Bella dan Mikky, gadis itu seolah tahu jika hal buruk menimpa sepupu perempuannya hari ini. Balila menunduk, ia seperti menyesal.

"Apa yang harus aku lakukan, Bella? Semuanya terjadi sangat cepat, aku tak bisa menentang keputusan ayah dan ibu, tapi bagaimana mungkin aku melihatmu menangis sebanyak itu?" Balila memutuskan mendekat saat Bella dan Mikky duduk di sebuah kursi besi panjang di sisi koridor kampus.

"Aku terlalu terkejut sehingga tak bisa berpikir dengan benar."

"Kau harus tenang, Bella. Tarik napasmu perlahan, kau bisa melakukannya."

Bella mengangguk, meski masih menangis, ia tetap mengikuti perintah Mikky.

"Jika sudah merasa lebih tenang, kau bisa berpikir dengan benar." Mikky memeluknya. "Beritahu jika aku harus membantu sesuatu, kau tak perlu sungkan pada sahabatmu, Bella."

"Kejadian buruk datang satu per satu, membuatku kembali curiga jika setelah ini mendengar hal yang sama—bagaimana aku sanggup menghadapinya lebih jauh, Mikky? Bagaimana perempuan ini dapat melakukannya?"

Balila sudah berdiri di dekat mereka, ia terdiam memperhatikan interaksi tersebut sampai Mikky menyadari keberadaan Balila dan perlahan melepas pelukannya pada Bella.

"Dia di sini," ucap Mikky.

"Siapa?" Bella menoleh, ia beranjak menghadap Balila.

"Kak Bella, aku—"

"Kau sudah tahu tentang ini, Balila?" Bella seperti kehilangan kesabaran, ia mencengkram lengan Balila. "Kau pasti tahu jika ini pasti perbuatan ibumu, bukan? Katakan padaku, Balila. Jelaskan padaku sekarang." Bella tak sungkan mengguncangnya.

"Bella, tenanglah. Kau menyakitinya, dia merintih." Mikky berusaha mengingatkan ketika melihat ekspresi kesakitan di wajah Balila.

Bella melepaskannya, tapi ia tetap mencecar Balila. "Apa saja rencana ibumu, Balila." Ia meralat perkataannya. "Tidak, apa saja rencana orangtuamu, selain Bibi Paeng, Paman Nabdao juga tahu, bukan? Katakan padaku sekarang jika kau masih menganggap persaudaraan di antara kita."

Gadis itu menunduk di depan Bella, ia terlihat ketakutan sekaligus bingung menghadapi situasi seperti ini, ia sadar jika amarah sedang membakar Bella, meski Balila tahu segala rencana orangtuanya, tapi benarkah Bella harus tahu?

"Balila, katakan padaku. Bukankah kau masih menganggapku kakak tersayangmu? Ayo katakan." Bella menyentuhnya kembali, hanya cukup lembut tanpa cengkraman. Sementara Mikky tetap memperhatikan mereka, ia takut Bella bertingkah kasar.

Jika Bella berpikir Balila akan mengatakan sesuatu atas dasar persaudaraan mereka, maka gadis itu harus menelan kekecewaan, sebab Balila menggeleng.

"Aku tidak tahu, Kak Bella. Ibu dan ayah tak memberitahu apa pun."

"Benarkah? Kalau begitu lihat mataku, bicara kejujuran jika memang kau tak menyembunyikan apa pun, jangan menunduk."

Balila menelan ludah, ia memberanikan diri menatap kobaran api pada sepasang mata Bella, tubuhnya gemetar, meski karakter Bella terkesan lembut, tapi atmosfer kemarahan gadis itu selalu meletup jika sudah melewati batas kesabarannya.

"Kau akan mengatakannya sekali lagi?" tanya Bella.

"Aku tidak tahu apa pun terkait rencana orangtuaku, Kak Bella."

"Kau lihat dia, Mikky." Tiba-tiba saja Bella tertawa hambar. "Bahkan saudariku sendiri akan berbohong, meski dia mengingat kenangan jika kami pernah bertukar pakaian atau meminjam mainan saat kecil, dia akan tetap membohongiku."

"Bella, mungkin Balila memang tidak tahu apa pun. Kau tak bisa memaksanya,"  ujar Mikky.

Bella melihat Balila dengan tatapan bengis serta penuh curiga. "Seharusnya aku melempar pertanyaan itu pada Bibi Paeng dan Paman Nabdao langsung, aku akan melakukannya sekarang."

"Bella, kau akan pergi dalam keadaan seperti ini? Tidak, Bella. Tahan dirimu." Mikky berusaha mencegahnya, tapi Bella sudah mengeraskan hati dan menulikan telinga, ia tak peduli lagi.

Bella tetap menyingkir, berlari meninggalkan koridor utama, ia harus menggapai keadilan kembali.

***

Saat Bella mendatangi MP Group, pihak keamanan melarangnya untuk masuk meski mereka tahu bahwa sebelumnya Chali Parthapat—mendiang ayah Bella yang sempat menjadi CEO perusahaan sebelum berpindah ke tangan Nabdao Parthapat.

Ketika Bella meminta penjelasan, mereka berkata jika Bella serta ibunya memang tak lagi memiliki akses masuk ke tempat itu setelah posisi CEO digantikan pamannya.

Bella hampir terkejut, tapi ia tak berniat melawan atau memprotes lebih banyak, jika Nabdao membatasinya seperti ini, maka Bella akan mengejar Paeng.

Gadis itu memutuskan datang ke rumah besar keluarga Parthapat sepulang dari MC Group, tapi satpam rumah juga mencegahnya agar tidak masuk.

"Kenapa semua orang melakukan ini padaku!" Bella membentak satpam karena terus ditarik mundur menjauhi gerbang.

"Nona, sungguh maafkan aku, aku terpaksa mengikuti perintah Nyonya Paeng, aku masih ingin bekerja di tempat ini." Satpam itu bernama Jirawat, ia merasa kasihan melihat kondisi Bella, tapi Jirawat benar-benar tak bisa berbuat banyak.

"Jika benar seperti itu, sebaiknya tutup kedua telingamu," ucap Bella.

"Apa yang akan Nona lakukan?"

"BIBI PAENG!!! BIBI PAENG KELUARLAH SEKARANG, AKU MENUNGGUMU DI LUAR!!!" Bella berteriak sekuat tenaga sehingga Jirawat menutup telinganya, gadis itu belum kehilangan akal untuk mencari perhatian. "Bibi Paeng keluarlah sekarang!"

Keributan di luar rumah merusak fokus Paeng ketika sibuk membuka majalah mingguan, ia sudah mengincar tas baru untuk dibeli, tapi suara Bella menghancurkan suasana hatinya yang bagus.

Bersama dua asisten rumah, Paeng keluar menemui Bella yang masih berdiri di balik gerbang bersama Jirawat.

Paeng lantas berdecih melihat Bella, ia bersedekap dan tersenyum miring, tatapan menyepelekan.

"Untuk apa kau berteriak di depan rumahku? Aku tak bisa mencabut keputusan bahwa kau dan ibumu tak lagi tinggal di tempat ini, jadi pergilah, Bella."

Gadis itu mencengkram besi gerbang. "Aku dan ibu sudah pergi sesuai keinginanmu, tapi bagaimana mungkin Bibi juga mencabut status mahasiswiku di kampus. Kenapa kalian tega melakukannya, apa rencana kalian, kami sudah cukup teraniaya sekarang."

Paeng tertawa, tapi kedua asisten serta Jirawat hanya diam, ini bukan situasi lucu untuk tertawa, Paeng memang memiliki hati yang keras.

"Teraniaya? Benarkah, tapi kurasa kau belum menyadari segalanya, Bella. Jangan sampai kau menangis darah, aku tak ingin melihatnya."

"Apa maksud, Bibi."

Paeng mendekat, gerbang utama menjadi pembatas antara mereka. "Setelah kematian Chula, kau dan ibumu tak lagi bisa menemukan kebahagiaan di dunia, tak ada yang akan menerima kalian, karena aku ingin melihat kau dan ibumu sengsara selamanya."

***

Bab 3

Sebuah bendungan dengan arus deras air di bawahnya, terdapat jembatan cukup panjang membentang. Bella memutuskan datang ke tempat ini karena merasa stres menanggapi perbuatan jahat Paeng dan Nabdao yang tiba-tiba memperlakukannya tanpa keadilan, padahal selama Chali masih hidup, semua bersikap baik dan hangat.

Sekarang, dunia Bella jungkir balik dengan cepat hanya dalam jangka beberapa malam setelah upacara kremasi mendiang Chali Parthatap.

Bahkan rasa sakit kehilangan ditinggal pergi ayah terkasih masih memenuhi hati Bella, tapi ia dipaksa memahami situasi aneh seperti yang terjadi.

"Ayah, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa sikap Paman Nabdao dan Bibi Paeng tiba-tiba berubah? Dunia seperti berbalik memunggungiku setelah ayah pergi." Bella meratap, ia berdiri mematung menatap derasnya air dari sisi jembatan, gadis itu menunduk dengan wajah yang pucat, bekas tangisan masih terlihat di sana.

"Ayah, bagaimana cara mengatakan pada ibu bahwa putrinya tak bisa mengikuti ujian karena dikeluarkan begitu saja, bagaimana aku harus jujur pada ibu? Aku tak bisa melihat kekecewaan di wajahnya, aku kesulitan, ayah."

Bella menutup wajahnya, ia kembali menangis, sepertinya hari ini akan dipenuhi banyak air mata.

"Aku takut, ayah. Aku takut menghancurkan ekspektasi ibu, haruskah aku berbohong saja?"

Gadis itu tiba-tiba diam, ia mulai terhanyut oleh derasnya air, lalu pikiran gila mulai muncul ketika setiap perkataan menyakitkan dari Paeng berdengung pada sepasang telinga Bella.

"Ayah, apakah sebaiknya aku menyusulmu saja?"

Sebuah mobil porsche hitam melaju dengan kecepatan sedang dari arah berbeda, tapi akan melewati jalur jembatan.

Seorang pria dengan jaket hitam berlambang metalica duduk santai mengemudi, ia juga menghidupkan musik di mobilnya.

Pria itu mengerutkan kening ketika melihat perempuan berdiri di sisi jembatan, lantas membuat gesture seperti ketika seseorang akan melompat ke kolam renang.

"Dia akan berenang, ya," gumamnya.

Namun, tiga detik berselang pria itu baru menyadari sesuatu, ia mendelik sekaligus menginjak pedal gas supaya laju mobil lebih cepat—sebelum berhenti di sisi lain bendungan.

"APA DIA SUDAH GILA!!!"

Secepat angin pria itu keluar dari mobil dan berlari menuju Bella yang sepertinya hendak melompat ke air, tanpa banyak berpikir pria itu mengangkat tubuh Bella dari belakang sebelum sempat melompat, setiap detik sangat berharga pada situasi kritis seperti ini.

Pria asing tersebut berhasil menarik mundur hingga jarak satu meter dari tepi bendungan yang hampir membuatnya menyaksikan seseorang bunuh diri, sementara gadis muda itu terus meronta supaya diturunkan.

"Lepaskan aku! Lepaskan! Apa kau sudah gila!" Bella membentak dan mencakar tangan yang melingkar di pinggangnya sebelum diturunkan.

"Gila? Bukankah tuduhan seperti itu ada pada dirimu saat ini, kau yang gila!" Si pria ikut membentak. Mereka bertatapan ketika Bella memutar tubuhnya. "Kau pikir aku tak tahu jika kau ingin melompat ke bawah, bukan?"

"Bukan urusanmu, enyahlah." Bella berniat menghampiri tepi jembatan lagi, tapi pria itu mencekal pergelangan tangannya. "Lepaskan aku, kau dengar!"

"Tidak! Terserah apa masalahmu, tapi jangan bunuh diri!"

"Aku ulangi sekali lagi, semua itu bukan urusanmu, kau tak perlu mengurus masalah orang lain. Pergi dari sini!"

"Lalu, kau akan melompat, bukan? Kau akan bebas melakukannya jika aku pergi sekarang." Pria itu berdecih. "Berhentilah membodohi orang lain, seharusnya kau berpikir jernih sekarang. Tarik dalam-dalam napasmu, lalu keluarkan."

"Berhenti memberi nasihat." Bella sibuk menarik tangannya supaya terlepas dari cekalan pria asing itu. "Bisakah kau melepaskannya? Perbuatanmu menyakiti orang lain."

Ekspresi Bella yang memelas membuat pria itu luluh dan melepas cekalannya, tapi saat Bella tiba-tiba berlari menuju tepi jembatan, ia sadar sudah kecolongan oleh tipu daya perempuan.

"Sialan!"

Tak ingin dibohongi kembali, ia mengejar Bella, menariknya dari belakang sebelum mengangkat tubuh gadis itu ala bridal style.

"Hey! Lepaskan aku! Kau tak bisa melakukannya! Kau siapa!" Bella sibuk meronta, kedua tangan gadis itu terkepal dan memukul punggung si pria.

Meski Bella bersemangat memukulnya, si pria memilih diam, ia terus melangkah ke sebrang jembatan—menuju mobilnya.

Tak ada keraguan ketika pria itu menurunkan Bella di sisi mobil, membuka pintu dan memaksa Bella agar masuk.

"Masuklah."

"Tidak mau! Kau siapa memperlakukanku seperti ini, biarkan aku sendiri." Bella masih meronta, ia mencoba memasang ekspresi memelas seperti sebelumnya, tapi si pria tak lagi terenyuh, ia sudah memahami tipu daya gadis itu.

"Masuk atau aku akan melemparmu ke kandang harimau," ancam pria itu.

"Kau sudah gila!"

Bella berhasil dipaksa masuk, pria itu tak sungkan memasang sabuk pengaman untuk Bella, jarak wajah mereka sangat dekat ketika si pria menunduk, lantas mengangkat wajah dan menatap Bella lekat. Iris cokelatnya seperti bagian ujung pisau yang menghunus Bella.

Seolah terhipnotis, Bella tak lagi berbicara dan diam.

"Tetaplah tenang, biarkan aku membawamu pergi dari tempat ini," ucap pria asing sebelum menutup pintu dan berlari mengitari mobil, sekarang ia sudah duduk di balik kemudi, sementara keadaan Bella masih sama, diam membisu.

Mobil melaju, mereka pergi dari jembatan.

Selama perjalanan, keduanya kompak diam, atmosfer di dalamnya menjadi sangat tenang. Efek hipnotis seakan masih mengikat tubuh Bella.

"Aku tidak tahu siapa dirimu, tapi bukan hal yang bijak jika kau melakukan bunuh diri." Pria itu akhirnya berbicara. "Apa tak terlintas di kepalamu jika hal gila itu benar-benar terjadi—bagaimana orangtuamu harus menghadapinya?"

Bella tetap diam, pandangannya kosong.

"Sebesar apa masalah yang kau hadapi sehingga akan menyerah? Apa pun itu, tolong pikirkan semuanya dengan tenang, bunuh diri bukanlah tindakan bijak."

Laju mobil melambat ketika menjumpai keriuhan sebuah pasar tradisional, pria itu berdecak karena merasa sudah salah memotong jalan.

"Terlalu lama pergi dari Bangkok membuatku lupa beberapa hal."

Bella menoleh, mereka bertatapan, tapi gadis itu tak bersuara.

"Bagaimana cara keluar dari kerumunan pada jalanan pasar yang ramai seperti ini, apa kau tahu?" tanya pria itu.

Di sepanjang jalan mereka terus menemukan banyak orang melangkah  di jalanan yang sempit, membuat pergerakan mobil menjadi sangat terbatas.

"Apa mereka tidak takut jika bagian tubuhnya tersentuh mobil yang melaju?" Pria itu berdecak frustrasi. "Ah! Ini menyebalkan."

Meski sudah menekan klakson, tapi pengunjung pasar yang melintas di depan mobil sepertinya tak terusik, mereka tetap beraktifitas. Si pria akhirnya mengalah, ia memutuskan berhenti karena tak mungkin mampu menembus kerumunan manusia di tengah jalan.

"Aku ingin buang air kecil," ucap Bella setelah sekian lama membisu.

"Kau?"

"Apa? Aku tak boleh melakukannya, maksudmu?" Bella mengerutkan kening.

"Bukan itu maksudku, kau tak berniat bunuh diri di toilet umum, kan?"

Bella tertawa. "Apa hanya itu di pikiranmu? Aku tak bisa menahannya lebih lama." Ia melepas sabuk pengamannya sendiri ketika si pria asing turun dan mengitari mobil, pintu di samping Bella terbuka.

"Aku harus memastikannya sekali lagi, kau tak berniat bunuh diri di toilet umum, kan?" Pria itu sangat menunjukan kecemasannya, Bella seperti terenyuh menanggapi bagaimana dua karakter manusia sangat bertolak belakang.

Pertama, keluarga yang begitu dekat dengannya cukup lama tiba-tiba berkhianat dan berusaha membuat kehidupan Bella serta Charita sengsara.

Kedua, pria asing yang baru pertama ditemuinya justru menunjukan sikap yang sangat baik dengan segala perhatiannya.

Mata Bella kembali sayu, ia menunduk terdiam.

"Kenapa hanya diam? Kau tak yakin dengan jawabanmu?" tanya pria itu.

Bella menggeleng. "Tidak, aku tak berniat bunuh diri di toilet, kau tak perlu mencemaskanku terus. Uruslah dirimu saja."

"Aku sudah mengurus diriku."

"Sudahlah, aku harus mencari toilet umum." Bella pergi begitu saja, ia menerobos kerumunan di antara padatnya pedagang dan pembeli pada barisan kedai sayur serta barang lainnya.

"Aku berharap dia sudah sadar, aku berharap dia takkan kembali ke jembatan itu." Si pria kembali memasuki mobil, ia hanya meyakini jika gadis itu pasti takkan kembali untuk menghampirinya dan memberi laporan bahwa sudah selesai buang air kecil.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED