Warning! Cerita dewasa 21+! Banyak adegan berbahaya, tidak untuk ditiru! Selera global, bukan lokal! Kebudayaan barat! Bijak Membaca! Risiko dan tanggung jawab masing-masing! Baca sesuai selera dan usia! Tersedia versi Inggris sebagai versi original! Cerita fiktif alias tidak nyata! Bila cocok lanjutkan membaca!
Di sebuah negara berbudaya barat dan menganut prinsip kebebasan…
“Dasar suami brengsek! Bajingan tengik!” seru Ann sambil membanting gelas yang sudah kosong di tangannya ke atas meja bar.
Bartender melirik sekilas mengawasi perilaku wanita ini sambil membuat minuman untuk pelanggan lainnya. Dia tidak menginginkan keributan yang tidak perlu.
Wajah Ann penuh dengan air mata. Dia adalah wanita cantik dengan rambut lurus merah burgundy dengan mata berwarna hijau cerah.
Wajah tampan Hans Graham dengan mata yang berwarna cokelat dan rambutnya yang pirang kecokelatan terbayang di benaknya.
“Bartender, tambah lagi!” seru Ann memberi perintah. Bar ini terletak di Hotel Grand Imperial, sebuah hotel ternama bintang lima. Alkohol yang disediakan adalah jenis alkohol dengan kualitas terbaik.
Ann minum alkohol dengan perasaan kacau balau sendirian. Harga dirinya sebagai wanita terluka. Dia baru saja menandatangani surat cerai atas permintaan suaminya beberapa hari lalu. Mantan suaminya berjanji memberikan harta dan uang yang cukup untuk kehidupan Ann sebagai kompensasi perceraian, asalkan dia berjanji untuk tidak merusak nama baik mantan suaminya ke publik. Begitu selesai tandatangan, Ann langsung pergi berlibur ke hotel untuk staycation dalam rangka menenangkan diri.
“Sial! Lihat saja nanti! Aku akan balas dendam!” teriak Ann frustrasi.
Beberapa minggu yang lalu, Ann memergoki suaminya, Hans Graham, sedang bercinta dengan hebat dengan dua laki-laki sekaligus di sebuah kamar mewah di hotel bintang lima ternama. Ann mengenal kedua pria itu. Mereka adalah pejabat penting di perusahaan Graham Corporation. Perusahaan itu memang sedang melakukan rapat kerja tahunan di ballroom hotel selama seminggu penuh.
Ann datang menyusul untuk memberi kejutan pada suaminya yang selalu sibuk dan gila kerja. Siapa sangka yang terkejut malah Ann ketika mendapati suaminya sedang berpelukan dalam keadaan telanjang dengan dua pria lain?
Sibuk kerja? Gila kerja? Maksudnya main gila? Yang menyakitkan adalah suami Ann sedang main gila dengan pria! PRIA! DUA ORANG PRIA!!!
Suaminya sama sekali tidak merasa bersalah ketika melihat Ann memergoki mereka, sebaliknya ada ekspresi kelegaan di wajahnya. Mungkin dia sudah lelah menyembunyikan fakta ini dari Ann.
“Hai, Ann. Apa kamu mau menonton atau ikut bergabung untuk bercinta bersama kami?” tanya Hans Graham acuh tak acuh. Dia tetap terbaring di ranjang sambil mengelus bokong pasangannya dengan penuh gairah. Sementara pria yang satunya sedang sibuk mengulum joystick perkasa milik Hans seperti permen lolipop.
“Aaah… iya enak… lagi…” desah Hans Graham dengan nikmat ketika pria yang mengulum joysticknya memainkan lidahnya yang basah di bawah sana.
“Mmm… aargh…”
Dada Ann naik turun menahan amarah yang memuncak. Belum pernah dia merasa terhina seperti ini. Hans tidak pernah menyentuhnya dengan gairah seperti yang Ann lihat saat ini. Sekarang dia tahu alasannya.
“Bajingan kalian semua!” teriak Ann marah, lalu pergi dengan membanting pintu kamar hotel sambil menangis patah hati.
Ann mengenal kekasih suaminya. Yang satu adalah Chief Marketing Officer dari Graham Corporation, Teddy Lee. Pria itu memang memiliki status sebagai pria single tampan yang populer dan senang bergonta ganti pasangan. Rambut Teddy yang ikal berwarna pirang keemasan dan matanya berwarna amber. Dia bertanggung jawab untuk memastikan strategi marketing dari produk Graham Corporation sukses di pasaran.
Pria yang satu lagi adalah Chief Finance Officer dari Graham Corporation, Franz Smith. Pria tampan berkacamata yang terlihat pendiam dan tenang itu banyak dikagumi oleh wanita di dalam perusahaan maupun rekanan perusahaan. Rambut Franz berwarna pirang kemerahan dan matanya berwarna amber. Pria ini adalah orang yang Hans percaya untuk mengelola keuangan perusahaan dengan efektif dan efisien. Dia terkenal sebagai pria tampan idaman para wanita.
Ann Graham sudah menjadi Ann Davis dalam hitungan hari. Segera setelah proses administrasi dari perceraiannya selesai diurus oleh pengacara, dia bukan lagi bagian dari keluarga Graham. Ann menghela napas dan menenggak alkohol di dalam gelasnya dalam satu tegukan. Tidak heran bila kehidupan pernikahannya sangat dingin dan singkat. Kehidupan ranjangnya sama sekali tidak menyenangkan. Sekarang dia tahu sebabnya. Mengapa selama ini dia begitu bodoh?
Selama ini Hans Graham hanya memanfaatkan dirinya sebagai pendamping di acara formal bisnis untuk menjalankan peran istri. Hans Graham, Chief Executive Officer alias CEO dari Graham Corporation tidak pernah mencintainya sedikit pun. Ann menangis sendirian sambil terus memasukkan alkohol ke mulutnya.
“Nyonya, sebaiknya Anda berhenti minum. Anda sudah terlihat mabuk,” kata bartender bersimpati.
“Tidak, aku belum mabuk. Aku hanya patah hati,” jawab Ann sambil terus menangis.
“Okay, jangan muntah di sini. Bila anda perlu bantuan, silakan panggil saya,” sahut bartender memberi peringatan.
“Kamu cerewet sekali,” gerutu Ann kesal. Dia mengeluarkan kartu debitnya untuk membayar tagihannya.
Ann turun dari kursinya dan pergi ke toilet untuk merapikan wajahnya. Riasan wajahnya pasti berantakan dan luntur karena air mata. Ann berniat membersihkan wajahnya supaya tidak terlihat menyedihkan dan seperti hantu. Harga dirinya sudah terluka karena daya tariknya sebagai wanita sudah dikalahkan oleh daya tarik pria. Ann tidak ingin wajahnya pun terlihat seperti wanita jelek. Setidaknya, Ann berusaha tetap tampil cantik dan menarik.
Setelah berhasil menghentikan tangisnya dan membersihkan riasan wajahnya di toilet, Ann keluar dan berniat untuk kembali ke kamar hotel yang dipesannya. Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam.
Di koridor terlihat sepasang pria dan wanita sedang bertengkar.
“Sudah kubilang jangan ikuti aku, Merry,” keluh sang pria dengan pakaian kerja yang rapi. Dia memakai blazer hitam dan kemeja di bagian dalamnya.
“Aku ingin membuat kejutan untukmu, sayang,” kata Merry, wanita yang berbalut gaun warna merah yang berbelahan dada rendah dan rok mini itu sambil memeluk pinggang pria itu. Rambut Merry yang berwarna pirang kemerahan bergelombang dan matanya yang berwarna amber terlihat menggoda.
“Hentikan! Aku tidak menyukaimu! Berhenti membuntutiku!” kata pria itu sambil melepaskan pelukan Merry dari pinggangnya.
“Kenapa? Kamu punya wanita lain?” tanya Merry mendesak.
“Dengar, Merry. Aku tidak punya perasaan apa-apa terhadapmu. Kita juga bukan kekasih. Berhentilah mengangguku. Aku tidak ingin bersikap kasar padamu,” kata pria itu memohon.
Wanita yang bernama Merry itu mengacuhkan permintaan pria itu.
“Bila kamu tidak ada wanita lain berarti tidak ada masalah,” kata Merry memaksa.
“Merry, please…” kata pria itu frustrasi.
Tiba-tiba dari arah belakang Ann datang dan menggamit tangan pria itu.
“Maaf, sayang. Sepertinya aku terlalu lama di toilet. Ayo, kita pergi,” kata Ann sambil menggamit lengan pria itu.
Pria itu melongo karena kehilangan kata-kata. Dia menatap Ann dengan bingung.
“Hei, siapa kamu?” bentak Merry cemburu.
Ann melirik ke arah Merry.
“Sayang, apa wanita ini selingkuhanmu? Kamu tahu aku adalah wanita pencemburu bukan?” tanya Ann sambil melirik ke arah Ann.
“Bukan. Merry hanya anak perempuan salah satu mitra bisnisku. Dia bukan siapa-siapa bagiku,” jawab pria itu.
“Apa?” seru Merry terkejut.
Ann meremas lengan pria itu, memberi isyarat agar dia tetap tenang.
“Bagus. Kalau begitu kita pergi sekarang,” kata Ann sambil menarik lengan pria itu dan bergegas berjalan menuju lift. Pria itu dengan patuh berjalan dengan langkah lebar.
“Hey, tunggu!” teriak Merry dengan tergesa-gesa membuntuti mereka.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” bisik pria itu pada Ann.
“Menyelamatkan hidupmu,” jawab Ann singkat.
“Kita mau ke mana?” tanya pria itu.
“Kamar hotel,” jawab Ann sambil meloncat masuk ke dalam lift lalu menutup pintu lift tepat di wajah Merry.
Ann melepaskan dirinya dari pria itu, lalu menempelkan kartu kamar dan menekan tombol lantai yang dituju. Dia mengambil jarak beberapa langkah menjauh dari pria itu.
“Siapa kamu?” tanya pria itu merasa lega karena akhirnya terbebas dari kejaran Merry. Namun dia melirik Ann dengan perasaan ingin tahu. Wanita ini terlihat sangat cuek dan tidak tertarik padanya. Sikap wanita ini justru membuatnya penasaran dan memancing keinginannya untuk menaklukannya di ranjang. Apakah wanita ini mengenalinya?
“Hanya orang yang kebetulan lewat. Kamu bisa keluar lift di lantaiku dan menunggu beberapa menit untuk mengecoh wanita itu. Setelah itu kamu bisa turun lewat lift yang di sebelah ujung sana,” kata Ann dengan datar. Dia sama sekali tidak memandang wajah pria itu dan menatap kosong ke pintu lift.
“Terima kasih atas bantuanmu,” kata pria itu tersenyum. Dia yakin sekarang kalau wanita ini tidak mengenalinya.
Ann tersenyum sambil melirik sekilas. Pria itu tampan sekali. Garis rahangnya terlihat tegas. Sepasang mata birunya begitu memikat. Rambutnya yang berwarna cokelat hykory gelap yang dipotong pendek terlihat bergaya. Hidungnya mancung. Dadanya lebar dan bidang, sementara perutnya berotot sempurna. Kakinya panjang, dan bokongnya begitu menarik untuk dilihat. Aroma tubuhnya begitu menggoda, membangkitkan gairah. Astaga, pasti amat menyenangkan bila bisa melihat tubuhnya dalam keadaan tanpa pakaian. Imajinasi Ann bergerak liar membayangkan tubuh pria ini. Dia menelan ludah dan menutup matanya.
“Hentikan, Ann! Jaga sikapmu,” tegur Ann pada dirinya sendiri diam-diam.
Ann mengigit bibirnya, berusaha menahan gairah. Tidak, dia tidak boleh terlihat menyedihkan. Dia adalah wanita yang buruk dalam memilih lelaki. Siapa yang tahu bila pria ini lebih menyukai sesama jenis dibandingkan wanita? Ann tidak ingin menjebak dirinya dalam situasi yang memalukan.
Dengan agak sempoyongan, Ann keluar dari lift dan berjalan di koridor.
“Hei, apa kamu tidak apa-apa?” tanya pria itu sedikit cemas.
“Tenanglah. Aku baik-baik saja,” kata Ann menggumam kurang jelas.
Kepalanya terasa pusing sekali dan perutnya mual. Dengan tangan gemetar dia menempelkan kartu kamar ke pintu kamarnya.
Click!
Kunci pintu kamar Ann terbuka. Dia mendorong pintunya hingga terbuka lebar.
Pandangannya mengabur, dan mualnya semakin parah. Kepalanya berdenyut-denyut, sakit sekali. Mendadak, tubuhnya oleng.
“Hei, hati-hati!” seru pria itu cemas.
Ann tidak lagi dapat mendengar seruan pria itu. Tubuh Ann terkulai lemas. Tubuhnya nyaris menghantam lantai.
Namun, tepat sebelum tubuhnya menghantam lantai dengan keras, sebuah lengan yang panjang dan kekar memeluk tubuhnya. Aroma lengan itu terasa harum dan maskulin. Begitu menyenangkan di hidung Ann. Lalu, dalam hitungan menit Ann kehilangan kesadaran.
Ketika Ann membuka matanya kembali, matahari sudah tinggi. Kepalanya berdenyut-denyut ingin pecah. Dia bangun dari ranjang hotel dan menyingkirkan selimutnya. Alangkah terkejutnya ketika dia menemukan dirinya telanjang bulat, tanpa pakaian sedikitpun!
Sialan! Apa yang terjadi semalam?
Bajunya! Di mana pakaiannya? Ann menutup bagian depan tubuhnya dengan selimut dan mencari-cari bajunya. Dia tidak menemukan baju maupun celananya. Dia bahkan tidak tahu di mana bra dan celana dalamnya!
Dengan panik, Ann mencari jubah mandi di dalam lemari pakaian. Untunglah kamar hotel menyediakan jubah mandi itu sehingga dia bisa berkeliaran di dalam kamar hotel dengan bebas. Ann memijit pelipisnya, berusaha mengingat-ingat kejadian semalam. Ingatannya sedikit kabur, karena dia meminum agak banyak alkohol.
Koper Ann masih terkunci dengan rapi dan diletakkan di dekat meja. Ann bermaksud membuka koper itu untuk mengambil barang-barangnya, namun dia menyadari bahwa koper itu masih digembok dengan gembok tambahan secara manual. Dia perlu mencari kuncinya terlebih dahulu yang dia letakkan di dompet.
Iya, benar! Di mana dompetnya? Ann tiba-tiba menjadi pucat dan bergegas mencari dompetnya. Dia tidak menemukannya di manapun. Sialan! Apa ada seseorang mencuri dompetnya? Seluruh uang, kartu kredit, kartu identitas, dan kunci koper ada di sana. Bagaimana ini?
Di atas meja, Ann melihat ponselnya sedang disambungkan ke colokan listrik untuk charge baterai. Oh, untunglah perampok itu tidak mengambil ponselnya. Setidaknya dia masih bisa melakukan transaksi online dan meminta bantuan. Ketika Ann mengangkat ponselnya, ada sebuah pesan tertulis di atas kertas yang ditindih di bawah ponsel.
Ada sebuah kartu nama diletakkan di sana dengan tulisan tangan “Telepon aku!”
Di kartu nama itu ada tulisan nama dan jabatan orang itu, serta alamat kantornya tercetak jelas. Sebuah tulisan tangan menuliskan nomor ponsel orang tersebut.
Mr. J. Carter.
CEO Carter Corporation. CEO Carter Holding Group.
Dengan sedikit gemetar dan tidak sabar, Ann menekan layar ponsel dan menghubungi nomor yang ditulis dengan tulisan tangan. Ini nomor ponsel pribadinya yang tidak diketahui oleh rekan bisnisnya.
[Halo...]
Terdengar suara pria yang terdengar begitu dalam dan berkarisma. Imajinasi liar Ann langsung berkelana mendengar suara yang begitu maskulin dan seksi.
[Halo. Apakah ini Bapak J. Carter?]
[Iya, benar. Siapa ini?]
[Ini Ann. Ann Graham. Maksudku… Ann Davis. Anda menyuruhku mengontak nomor ini.]
Pria di seberang sana menyeringai senang. Dia sudah tahu wanita yang semalam ditemuinya bernama Ann.
[Ya, Ann Davis. Kita bertemu semalam, namun aku baru bisa berkenalan sekarang. Senang mendapat telepon darimu.]
[Di mana dompetku? Apa kamu juga mencuri bajuku?]
[Dompetmu aman bersamaku. Bajumu sudah kucuci di laundry hotel. Mereka akan mengantarkannya ke kamarmu sebentar lagi. Aku akan mengirim sopir dan mobil untuk menjemputmu dalam tiga puluh menit. Bersiaplah untuk makan siang bersama.]
Click. Sambungan ponsel diputus.
Ann bersiap-siap untuk mandi untuk berangkat. Dia tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah pria itu. Dompet miliknya masih berada di pria yang ditemuinya semalam dan dia harus mengambilnya kembali. Aroma maskulin tubuh pria itu tercium di kamar mandi. Mungkin semalam pria itu menggunakan shower, dan wanginya masih tertinggalnya di sana.
Ann dapat membayangkan tangannya menyentuh otot-otot di kulit perut pria itu. Ah, rasanya pasti menyenangkan! Tidak, apa yang kamu bayangkan Ann? Berhentilah berimajinasi yang tidak-tidak.
Sesuai perkataan pria itu, petugas laundry hotel mengantarkan pakaian Ann yang sudah dicuci bersih dan dilipat dengan rapi. Ann mengenakan pakaiannya, dan bersiap turun ke lobi. Resepsionis hotel sudah menelepon Ann ke kamar untuk memberitahu bahwa mobil jemputannya sudah siap menunggu.
Sebuah mobil Maybach hitam seri terbaru menjemput Ann di lobi hotel. Ann naik ke dalam mobil dan sopir mengantarnya ke sebuah restoran ternama dengan gaya barat yang menyediakan daging steak dengan wine terbaik.
Pelayan restoran mengantar Ann ke ruangan privat khusus di bagian dalam restoran, tempat pria itu sudah menunggu Ann sambil memainkan ponsel dengan jemarinya.
“J. Carter?” tanya Ann.
“Hai, Ann. Silakan duduk,” kata J. Carter dengan sopan.
Pelayan segera menyiapkan makanan pembuka untuk mereka berdua, lalu meninggalkan ruangan sambil menutup pintu.
Ann duduk dengan gugup. Pria ini benar-benar tampan. Jantung Ann selalu berdebar-debar bila melihat wajah pria ini.
“Di mana dompetku?” tanya Ann tanpa basa basi.
“Jangan khawatir, aku akan mengembalikannya padamu sesudah makan siang. Mari kita nikmati makanannya dengan santai. Aku ingin mengenalmu lebih jauh,” kata J. Carter.
“Oke, baiklah Pak Carter,” jawab Ann.
“Jace. Panggil aku Jace, Ann. Atau kamu juga boleh memanggilku J,” kata Jace Carter tersenyum. Senyumnya begitu percaya diri dan mempesona.
“Jadi, apa yang terjadi semalam? Apa kamu bisa menjelaskan apa yang terjadi di antara kita dan mengapa aku terbangun tanpa pakaian? Apa kita…” tanya Ann sedikit gugup dan ragu-ragu.
Jace Carter terkekeh. Dia geli mentertawakan sikap Ann yang tampak malu-malu dengan muka memerah. Wanita ini memiliki daya tarik yang membuat Jace ingin bertemu kembali dan mengenalnya lebih jauh.
“Semalam aku membuka pakaianmu dan mengirimnya ke laundry hotel bersama-sama dengan pakaianku. Sebelum pingsan, kamu muntah. Bajumu dan bajuku kotor, sehingga aku harus mengirimnya ke laundry semalam. Petugas housekeeping juga sudah membersihkan muntahannya semalam. Aku pergi mandi, dan sesudah pakaianku kering, aku pergi. Dan, yes, aku membawa dompetmu, karena ingin mengenalmu lebih jauh,” kata Jace Carter dengan nada meminta maaf, meskipun ekspresi wajahnya terlihat jahil dan tidak tampak menyesal.
“Oh, jadi tidak terjadi apa-apa,” kata Ann dengan nada menyesal tanpa sadar.
“Apakah kamu ingin terjadi sesuatu di antara kita, Ann?” goda Jace menikmati wajah Ann yang memerah.
“Tidak, ehm… dompetku. Bisa kembalikan dompetku?” tanya Ann mengalihkan pembicaraan.
“Sesudah makan siang, Ann,” jawab Jace dengan tegas.
“Oke,” kata Ann sambil menikmati sup krim jamur dan makanan pembuka dengan lahap. Perutnya memang sudah lapar sejak tadi, karena dia tidak sempat sarapan.
“Omong-omong, terima kasih sudah menyelamatkanku dari situasi semalam,” kata Jace.
“Sama-sama. Wanita itu, siapamu?” tanya Ann.
“Dia adalah anak dari partner bisnisku. Aku tidak bisa menolaknya dengan kasar, tapi aku sejujurnya terganggu dengan sikapnya. Sebenarnya, aku ingin minta tolong padamu,” kata Jace lagi.
“Minta tolong apa?” tanya Ann.
Pelayan datang untuk menghidangkan makanan utama.
“Apa kamu bisa berpura-pura menjadi kekasihku? Aku akan memberimu tempat tinggal di rumahku. Kita bisa bertunangan lalu menikah kontrak setahun. Kamu juga bisa membalas dendam pada mantan suamimu. Ini tawaran yang menguntungkan kedua belah pihak bukan?” tanya Jace sambil menyeringai lebar.
“Bagaimana kamu? Apa kamu menyelidiki siapa aku?” tanya Ann dengan nada tinggi.
“Iya, aku harus mengetahui dengan siapa aku berurusan. Ann Graham. Kamu baru saja bercerai dengan Hans Graham dan keluar dari rumahnya. Mantan suamimu adalah seorang gay, dan dia menyembunyikan fakta ini darimu. Baru-baru ini kamu memergokinya berselingkuh di belakangmu. Apakah benar?” tanya Jace dengan menyeringai lebar.
“Mengapa kamu mengetahui sedetil itu?” tanya Ann dengan kemarahan tertahan.
“Rileks, Ann. Aku tidak ingin menghina atau merendahkanmu. Sebaliknya, aku akan membantumu. Kamu hanya perlu bekerja sama denganku. Deal?” tanya Jace Carter.
“Apa untungnya buatmu?” tanya Ann curiga.
“Kamu bisa membantuku menyingkirkan Merry Smith. Aku bisa membantumu membalas dendam pada Hans Graham. Omong-omong salah satu kekasih suamimu, Franz Smith adalah kakak kandung Merry Smith,” kata Jace Carter tersenyum menyeringai.
Apa? Merry adalah adik kandung Franz Smith?
“Oke, deal,” jawab Ann tanpa ragu-ragu. Dia menjabat tangan Jace erat-erat.
“Oke, sore nanti sopirku akan menjemputmu di hotel untuk memindahkanmu ke rumahku,” kata Jace.
“Baiklah, aku masih punya waktu untuk menikmati fasilitas hotel dan bersiap-siap. Kembalikan dompetku sekarang. Aku perlu membayar biaya hotel,” kata Ann.
“Tidak perlu. Tagihan hotelmu sudah kubayar dengan kartu kreditku. Silakan gunakan fasilitas hotel sepuasmu. Aku akan menyerahkan dompetmu ketika kita bertemu lagi di rumahku,” kata Jace sambil menyeringai senang.
“Apa kamu tidak percaya padaku?” tanya Ann sambil memicingkan matanya.
“Aku hanya sedikit berhati-hati, Ann. Oiya, satu lagi. Kita harus tampak seperti kekasih di depan publik. Aku ingin Merry benar-benar yakin kita pasangan yang tidak terpisahkan satu sama lain. Kamu harus jadi pacar yang sempurna buat J. Carter,” kata Jace.
“Oh, tentu saja. Aku setuju dengan persyaratanmu,” jawab Ann cepat.
“Kalau begitu bagaimana kalau kita berlatih sedikit?” tanya Jace.
“Berlatih bagaimana?” tanya Ann.
“Seperti ini,” kata Jace. Dia bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri Ann.
Jace menarik pinggang Ann, dan menempelkan tubuh Ann dengan tubuhnya sendiri. Aroma maskulin yang berbahaya tercium dan membangkitkan gairah Ann. Jace melumat bibir Ann dengan penuh gairah. Dia menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Ann, membuat Ann lupa akan sekelilingnya dan tidak ingin melepaskan pria itu lagi.
“Aaah… Jace…” desah Ann penuh kenikmatan. Dia membiarkan tangan Jace menyentuh tubuhnya hingga mengigil penuh gairah.
Ann masih terbayang-bayang dengan ciuman Jace yang begitu memabukkan. Sensasi lidah Jace yang menari dengan lihai di mulut Ann masih terasa hingga sekarang. Ann menginginkannya lagi dan lagi. Ann menginginkan lebih dari sekedar berciuman. Ann menginginkan pria itu menyentuh setiap bagian dari tubuhnya. Aroma Jace begitu memabukkan. Kendalikan dirimu, Ann!
Selama pernikahannya, Hans Graham sangat jarang menyentuhnya. Kalaupun Hans menyentuhnya, Ann sama sekali tidak menikmatinya, bahkan dia cenderung merasa sakit. Hans tidak pernah memperlakukan Ann dengan lembut, apalagi melayaninya hingga dia mencapai puncak kenikmatannya. Hans hanya peduli dengan dirinya sendiri.
Jace berbeda. Jace membuat perasaan Ann melayang, bahkan hanya dengan senyumnya yang menggoda. Ada getaran aneh di dada Ann. Seolah-olah ada ribuan kupu-kupu mengepakkan sayap di perut Ann setiap kali dia melihat senyum Jace. Padahal, mereka baru saja bertemu!
Ann menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Jace hanya menciumnya saja sudah beberapa jam lalu, namun Ann masih belum bisa melupakannya. Astaga!
“Kita sudah hampir tiba, Nyonya,” kata sopir sambil membelokkan mobilnya ke sebuah perumahan mewah dengan pengamanan yang ketat. Mereka masuk ke area pemukiman elit. Ada gerbang pengamanan tambahan di area yang dimasuki oleh mobil tersebut.
Sesuai perkataan J. Carter, mobil jemputan telah menantinya setelah Ann kembali ke hotel dan bersiap-siap. Ann sempat mengambil sedikit waktu untuk menikmati fasilitas spa yang tersedia di hotel untuk membuat dirinya lebih rileks.
Mobil itu mendekati sebuah rumah mewah yang amat besar seperti istana. Dari tampak luar, bangunan itu terlihat artistik dan dilengkapi dengan sistem pengamanan yang canggih. Ann sudah terbiasa tinggal di rumah mewah, mengingat Hans Graham juga pemilik saham terbesar di Graham Corporation. Namun, rumah ini jelas-jelas jauh lebih menakjubkan daripada tempat tinggal Hans Graham.
Siapa sebenarnya J. Carter?
Ann paham kalau dia adalah CEO Carter Holding Group. Namun memiliki rumah semewah ini, dia pasti bukan CEO biasa. Entah dia adalah billionaire sejak lahir atau memiliki kemampuan hebat dalam bisnis.
Ann turun dari mobil dan disambut oleh pelayan yang bertugas di rumah itu. Mereka membawakan koper Ann ke sebuah kamar yang sudah disiapkan untuknya. Setelah melakukan penjelasan dan tur singkat mengenai isi rumah, pelayan mengantarkan Ann kembali ke kamarnya.
Ann menata barang-barangnya di dalam kamarnya. Tidak banyak barang yang dibawanya. Jace sudah mengembalikan kunci kopernya, meskipun pria itu belum mengembalikan dompetnya. Dia mengganti bajunya dengan baju tanktop dan celana pendek santai, merebahkan tubuhnya, dan tertidur lelap. Pijatan ringan di spa membuat tubuh Ann rileks dan mengantuk. Ketika dia terbangun, ada aroma harum masakan yang membuat perutnya berbunyi nyaring.
Dengan setengah mengantuk, Ann keluar dan menuju dapur. Bunyi penggorengan yang berdesis disertai suara seorang pria bersiul sambil memasak terdengar merdu di telinga Ann. Dia menghampiri dapur dan duduk di kursi tinggi di meja bar dekat kitchen set. Punggung pria yang memasak itu terlihat kekar dengan t-shirt slim fit. Otot-ototnya tercetak jelas.
Mm… pria ini sangat menarik untuk dilihat! Sepertinya koki di rumah ini sangat seksi dan enak dilihat.
Pria itu sama sekali tidak menyadari kedatangan Ann. Dia menyelesaikan masakannya dan menatanya di piring-piring. Ketika dia sudah menyelesaikan beberapa masakan, pria itu membalik tubuhnya sambil membawa piring berisi masakan.
Pria itu sedikit terkejut melihat kehadiran Ann.
“Ah, maafkan aku, J. Aku tidak tahu kalau kamu yang sedang masak. Kupikir koki rumah ini, dan aku lapar. Jadi… aku datang…” kata Ann sedikit malu-malu.
J. Carter terlihat blank sesaat memandangi Ann. Dia seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu, lalu tersenyum ramah.
“Apa kamu lapar? Kita bisa makan bersama,” kata J. Carter.
“Iya, aku lapar. Terima kasih J,” kata Ann tersenyum.
J. Carter dengan cepat menata piring di atas meja. Dia memberikan piring dan peralatan makan hingga Ann bisa mulai mengambil makanan.
“Maafkan aku. Kupikir aku sendirian di rumah. Aku benar-benar lupa,” kata J. Carter.
“Oh, tidak apa-apa. Supirmu tadi mengantarku ke sini, dan aku tertidur. Ini enak sekali, J. Kamu pintar masak,” kata Ann memuji sambil makan dengan lahap.
“Terima kasih. Habiskan saja makanannya, masih ada banyak,” sahut J terkekeh.
“Terima kasih, J. Ngomong-ngomong, apakah ada perjanjian yang harus ditandatangani terkait dengan kesepakatan kita sebagai kekasih di depan publik?” tanya Ann.
“Apa kamu lebih merasa nyaman bila menandatangani perjanjian khusus?” tanya J. Carter dengan sabar.
“Aku tidak tahu. Mungkin, supaya sama-sama enak bagi kita untuk paham apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama perjanjian,” kata Ann sambil mengangkat bahu.
“Oke, kalau begitu biar perjanjiannya disusun terlebih dahulu draftnya. Sekarang, kemarikan piring kotornya,” kata J. Carter sambil bergerak menyeberangi meja bar dan menghampiri Ann.
Ann sedikit mendongak dengan bibir terbuka dengan sensual. Matanya menatap kepada J. Carter dengan penuh gairah.
J. Carter menyadari tatapan Ann dan tersenyum puas diam-diam. Dia menyentuh bibir Ann, dan menyapunya lembut dengan jemarinya.
“Ada sisa makanan…” kata J. Carter.
Tanpa sadar tubuh Ann condong ke depan sebagai respon sapuan jemari J. Carter di bibir Ann.
Pria itu mencium bibir Ann dengan lembut dan memainkan lidahnya di dalam mulut Ann, hingga wanita itu mengerang nikmat. Ann membalas ciuman itu dengan penuh gairah. J. Carter tampak berlama-lama menikmati bibir Ann hingga wanita itu kehabisan napas.
“Kamu rasanya enak,” bisik J. Carter di telinga Ann, hingga bibir Ann bergetar.
“Aromamu enak,” balas Ann dengan napas terengah-engah.
Melihat respon Ann, J. Carter menyelipkan tangannya ke balik tank top Ann, dan menyentuh pucuk dari area sensitive di dadanya.
“Aah…” desah Ann menikmati sentuhan J. Carter sambil memejamkan matanya.
Pria itu menciumi leher Ann, lalu perlahan-lahan menyingkap tanktop yang menutupi tubuh Ann. J. Carter melempar tank top milik Ann ke lantai, dan menyusuri lekuk tubuhnya perlahan dengan jemarinya. Bibirnya menyapu permukaan kulit di tubuh Ann dengan lembut hingga seluruh tubuh Ann menggigil dengan penuh kenikmatan. Bibir J. Carter bergerak naik dan menciumi area sensitif di dada Ann. Lidahnya membelai pucuk area sensitid Ann di dadanya yang indah.
Tepat ketika gerakan jemari J. Carter semakin intens di tubuh Ann, terdengar bel pintu berbunyi.
“Oh, shit!”
Ann tersentak kaget dan J. Carter menjauhkan tubuhnya dari Ann.
“Ada tamu?” tanya Ann dengan napas terengah-engah. Pipinya merah merona. Dia bergerak tergesa-gesa mengambil tank top miliknya yang berada di lantai, lalu memakainya segera.
“Biar aku cek ke depan,” kata J. Carter.
“Kalau begitu aku kembali ke kamar saja. Aku ingin mandi,” kata Ann dengan wajah merona. Pipinya terasa panas.
J. Carter tersenyum seksi ketika mendengar kata mandi.
Suara bel terdengar kembali.
“Aku pergi dulu,” kata Ann gugup. Dia lalu membalikkan badannya dan berlari kecil ke kamarnya.
“Okay. Sampai jumpa lagi,” jawab J. Carter sambil menyeringai lebar.