Bab 1

Cup!

Caca membelalakkan mata saat sebuah benda kenyal dan beraroma mint menempel di bibirnya.

"M--Maaf, Ca, gak sengaja," ucap Dafa terbata-bata. Kakinya tadi tersandung dan tidak sengaja menubruk gadis yang ada di depannya, hingga mereka berakhir berpelukan di sofa dengan bibir saling menempel.

Caca memandang tajam Dafa. Kurang ajar sekali sahabatnya ini, meski tidak sengaja tapi ini adalah ciuman pertamanya, bibir yang selalu ia jaga kini telah hilang keperawanan.

Plakk ...

"Bangun! Ngapain masih meluk gini?"

Dafa buru-buru melepas pelukannya dan berdiri.

"Beneran gak sengaja, tadi kesandung," ucapnya menunjuk kaki meja.

Bisa bahaya kalau tidak segera dijelaskan, sahabatnya ini kalau mengamuk sudah seperti mau makan orang.

"Brengs*k! Gara-gara kamu bibirku udah gak suci lagi kan." Caca memukul-mukul punggung lelaki itu dengan sekuat tenaga.

"Kan enggak sengaja, Ca, harus gimana lagi?"

"Kamu cari tempat lain kek buat jatuh, gak usah nabrak-nabrak segala!" Kata Caca memandang sebal lelaki di depannya.

"Ya udah iya, nih aku cari tempat lain."

Dug

Brukk ...

Cup!

"DAFA!"

Dafa yang semula hanya ingin mencontohkan pendaratan berbeda malah kembali tersandung, menubruk dan mencium bibir Caca, membuat gadis itu sangat murka.

"Sialan! Kurang ajar, brengsek ..."

Caca terus menjambak rambut Dafa dengan kuat.

"Ampun, Ca, ampun! Gak sengaja lagi, akhh ...aduh ...!" Pinta Dafa dengan wajah memelas.

"Abang ...!" Caca hampir menangis, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Dafa terlihat mengenaskan, penampilannya sudah acak-acakan tidak karuan.

"Jangan nangis dong, Ca, aku harus gimana biar kamu maafin, ini coba dilap biar hilang bekas ci*mannya," kata Dafa menyodorkan sekotak tisu.

Caca semakin tidak berani menurunkan tangannya. Wajahnya memerah malu bercampur marah.

"Please, Ca, berhenti nangis, nanti aku dibunuh Bunda loh."

"Nanti aku beliin siomay atau temenin nonton drakor deh," kata Dafa lagi, dia sungguh takut jika sang bunda tau dan marah padanya.

"Ca ...." Dafa menyentuh tangan Caca.

Tangisan gadis itu justru semakin keras, Dafa kelimpungan dibuatnya.

"Ca, duh. Udah dong Ca," rayu Dafa akhirnya memeluk sahabatnya karena bingung.

"Aku malu," ucap gadis itu disela tangisannya.

"Malu kenapa?"

Caca melepas pelukannya, dia menatap nyalang sahabat laki-lakinya itu.

"Kamu pura-pura polos apa emang beneran bodoh sih?" Tanya Caca kesal.

Gadis itu segera berdiri dan keluar dengan membanting pintu kamar Dafa.

"Bodoh-bodoh-bodoh," rutuk Caca dalam hati. Bagaimana bisa sahabatnya itu tidak merasa malu setelah menciumnya?

Ah, sial. Kepala Caca rasanya mau meledak memikirkan kejadian barusan.

"Mama ... Bibirku udah gak suci lagi," rengeknya menelungkupkan badannya di kasur.Andai orang tuanya masih tinggal di Bandung, dia pasti akan mengadukan perbuatan Dafa.

Caca tiba-tiba berdiri dan menelfon pelayan di lantai bawah.

"Tolong bawain aqua gelas sekardus ke kamar saya," ucap gadis itu lalu meletakkan kembali gagang telepon.

Tak butuh waktu lama, sekardus aqua kini telah berada di samping ranjangnya.

"Daripada pusing gini mending aku mabuk-mabukan aja deh, gak masalah kalo nanti kembung toh bisa sembuh sendiri," ucap Caca. Ya, mabuk yang dia maksud adalah mabuk aqua, bukan minuman beralkohol seperti orang lain.

Caca menghabiskan 10 aqua gelas lalu berhenti, karena perutnya sudah tidak mampu menampung lagi. Dia bahkan sudah bersendawa beberapa kali.

***

Caca sedang berada di supermarket. Tadi pagi, dia pergi ke toko buku, saat pulang sekalian mampir ke sini, membeli beberapa snack untuk persiapan beberapa hari ke depan. Selain suka makanan berat Caca juga suka ngemil.

"Sekalian beli buah deh," gumam Caca ketika mengingat beberapa buah yang sudah habis ada di rumahnya.

Gadis dengan balutan kaos putih dilapisi jaket jeans itu menoleh kesamping saat mendengar beberapa perempuan berbisik sambil menyebut namanya.

"Permisi, Kak Caca bukan ya?" Tanya salah satu gadis yang tadi berbisik-bisik.

"Iya, siapa ya?" Caca membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya.

Mereka bersorak pelan, tidak menyangka akan bertemu selebgram di supermarket.

"Kita penggemar kakak, boleh minta foto gak?" Tanya gadis tadi tersenyum senang dan disusul anggukan teman-temannya.

"Boleh," jawab Caca sambil tersenyum.

Mereka pun bergantian foto dengan Caca. Caca yang telah selesai memilih buah segera pamit untuk membayar belanjaannya.

Sesampainya di rumah, gadis dengan rambut diikat satu itu memakan buah sambil memainkan ponsel. Dahinya berkerut saat melihat postingan yang menandai dirinya, ternyata gadis-gadis di supermarket tadi menggunggah foto saat bersamanya.

Gak nyangka bakal ketemu seleb di supermarket.

Kak Caca cantik banget.

Ternyata di dunia asli gak sedingin kayak di video.

Ternyata aslinya ramah.

Gak salah gue ngefans berat.

Gadis itu tersenyum ketika membaca caption juga komentar mereka yang menurutnya terlalu berlebihan.

Menurutnya didepan kamera dia bersikap dingin ya karena memang itu adanya, Caca ingin menunjukkan bahwa itulah sikap aslinya jadi saat penggemarnya bertemu mereka tidak akan kecewa. Tapi untuk kasus ini, justru Caca lah yang kecewa.

"Masuk!" Kata Caca saat ada yang mengetuk pintu kamarnya.

Arga dan Gara masuk lalu duduk bersila di karpet bulu, ditemani puluhan makanan ringan juga beberapa jenis buah yang diletakkan dalam dua keranjang.

"Ini kamar atau pasar?" Gara menggeleng heran melihat kamar adiknya yang memang diisi freezer juga beberapa rak khusus untuk menaruh snack.

"Pasar gratis," jawab Caca yang duduk di depannya.

"Lumayan, tiap hari bisa makan enak," kata Arga membuat kembarannya tertawa, sedangkan adik bungsunya menatap tajam.

"Enak aja, beli dong masa minta terus."

"Kalau ada yang gratis kenapa harus beli," balas Arga lagi. Gara hanya diam menikmati makanan di depannya dan menjadi pengamat pertengkaran kedua saudaranya.

"Ini gak aku bagi-bagiin." Caca mengambil snack-snack nya kemudian menyembunyikan di belakang punggung.

"Orang pelit kuburannya sempit loh, Ca," Gara mencoba membantu kembarannya.

"Kan aku belum mau mati, kalo udah deket kematian nanti aku sedekah makanan yang banyak deh."

"Manusia mana ada yang tau takdir, lagian mau sedekah kok nunggu sekarat dulu," cibir Arga.

"Di TV ada loh yang bisa lihat takdir, bahkan udah prediksi kematiannya sendiri."

"Besok-besok gak usah nonton TV lagi deh, lagian musyrik percaya kayak gitu."

"Iya-iya. Yaudah ini, tapi jangan dihabisin," kata gadis itu mengambil snack di belakang punggungnya kemudian menaruh di depan kakaknya lagi.

"Kamu habis ini mau pergi lagi?" Tanya Gara.

"Iya, mau buat video dance."

***

Caca dan ketiga temannya yang tergabung dalam grup HiDFY (Hi Dance For You), serta beberapa orang lainnya sedang berada disebuah bangunan tak terpakai. Gedung ini sudah ditinggal pemiliknya, namun oleh warga setempat diubah menjadi tempat yang cocok untuk berfoto atau membuat video.

Selesai berdandan, Caca, Fey, Naya, dan Kiara langsung memulai dance nya. Mereka menirukan salah satu girl grup dari Korea Selatan, yaitu Black Pink dengan lagunya Pretty Savage. Disini, Caca berperan sebagai Rose.

"Kalian cuma latihan beberapa jam udah sebagus ini," puji manager mereka saat memberikan minum.

"Karna udah terbiasa kak," jawab Kiara.

"Kalo baru belajar dance pasti butuh waktu lebih lama," sahut Naya.

"Istirahat dulu, kalo udah siap itu baju gantinya disana," kata manager menunjuk rak baju yang sudah dipersiapkan. Setelah ini mereka akan membawakan dance Black Mamba dari grup Aespa.

15 menit kemudian mereka telah berganti baju.

***

Malam ini Caca sedang duduk di sofa sembari memakan cemilan yang dibelinya tadi sore, dia sedang menunggu Dafa yang katanya ingin belajar bersama, namun sudah satu jam dia menunggu belum juga kelihatan batang hidung tetangga sekaligus sahabat kecilnya itu.

"Abang mau ke mana?" Tanyanya saat melihat Gara, abang ketiganya sedang berjalan di tangga dengan pakaian modis.

Tak lama setelah itu Arga, abang keduanya juga keluar dengan pakaian yang tak kalah modis. Gara dan Arga merupakan saudara kembar identik.

"Mau malam mingguan dong..," jawab Gara menyombongkan diri.

Caca mengerutkan dahi kemudian melirik Arga yang sedang memakai sepatu.

"Abang juga?"

"Iya dong, masa mau di rumah aja, ketahuan jomblonya," balas Arga mengejek.

"Dih, kalian keluar palingan juga ke supermarket deket perempatan itu, mau ngapelin mbak-mbak yang pakai wig pirang."

"Lagian ya, aku di rumah gak sendiri kok, nanti Dafa mau dateng," lanjut Caca.

"Sembarangan, yang di supermarket itu bukan mbak-mbak tapi mas-mas, masa jeruk makan jeruk," ucap Gara kesal.

"Tapi rambutnya panjang loh, Arga aja pernah dicium," kata Caca menahan tawa.

Arga yang mendengar itu kalang kabut, dia memelototi Caca agar tidak mengatakan lebih lanjut namun yang dipelototi terus saja mengoceh tanpa takut. Arga hanya bisa pasrah dan buru-buru keluar rumah,saudara kembarnya itu pasti akan mengejeknya nanti.

Tak lama setelah keluar, Arga mendengar gelak tawa dari kedua saudaranya. Dia mengumpat pelan sebelum memakai helmnya.

"Mau kemana, Bang?" Tanya Dafa yang baru datang.

Dafa satu tahun lebih muda darinya, seperti Caca.

"Mau nyari pacar," sahut Arga dibalik helmnya.

"Caca di rumahkan?"

"Ada, masuk aja."

"Oke."

Arga melajukan motornya sedangkan Dafa segera masuk ke rumah, saat melepas sendal dia bertemu Gara yang akan keluar juga.

"Mau kemana, Bang?"

"Mau nyari pacar," balas Gara cengengesan.

Dafa menautkan alisnya bingung, dari tadi jika ditanya jawabannya adalah mencari pacar, apa benar si kembar ini akan mencari pacar? Kok aneh.

"Jagain Caca, jangan di macem-macemin."

"Iya," kata Dafa seadanya.

Caca berdecak ketika melihat plastik snack berserakan di ruang tamunya, dia baru saja membuat minum di dapur, saat kembali ruangan ini jadi sangat berantakan. Sesi belajar bersama sudah selesai 30 menit yang lalu.

"Ini sampahnya dikumpulin dong, Daf. Kamu makan kayak anak kecil aja, berserakan dimana-mana."

Dafa hanya meliriknya sekilas kemudian lanjut menonton tv dan memakan snack nya lagi.

"Daf, kamu denger gak sih? Kalau gak mending kamu pulang aja deh, tugasnya juga udah selesai 'kan," kata Caca yang sudah geram dengan tingkah sahabatnya.

"Gak ah, tadi Abang kamu nyuruh aku jagain kamu."

"Aku di rumah sendiri juga gak bakal kenapa-napa, udah kamu pulang aja."

Caca menarik-narik tangan Dafa, namun lelaki itu tetap tidak mau dan menarik tangannya sehingga gadis tersebut jatuh menimpa tubuh Dafa yang sedang rebahan di sofa.

Bab 2

Dafa melingkarkan kedua tangannya di punggung sang sahabat membuat gadis itu seketika melotot.

"Udah diem, pokonya aku gak mau pulang sebelum Abang-Abangmu pulang."

Caca mencoba melepaskan diri tapi sia-sia, laki-laki itu justru mengeratkan pelukannya sambil terus makan snack.

"Ya udah lepas, gak usah peluk-peluk juga, nanti aku bilang ke Gara tau rasa kamu," ancam Caca agar Dafa segera melepaskannya.

"Dulu juga sering pelukan kan, malah kamu dulu yang mulai."

"Itukan dulu pas masih kecil, sekarang beda lagi."

"Apa bedanya?" Tanya Dafa menaik-turunkan alisnya mencoba menggoda Caca.

"Pokoknya beda, udah lepas."

"Gak, nanti aku kamu suruh pulang lagi."

"Ya iyalah inikan udah malem, nanti diomongin tetangga tau."

"Tetanggamu kan aku."

"Emang di sini cuma ada rumahku sama rumahmu?" Sungut Caca.

"Bisa jadi."

"Dafa ... pokoknya pulang! Nanti dicariin Bunda loh."

"Enggak, tadi Bunda nyuruh aku jagain kamu kalo gak ada abang-abangmu, Bik Nuri juga lagi liburkan?"

"Ya udah aku gak bakal nyuruh kamu pulang tapi lepas dulu, badanku kayak mau remuk ini," rengeknya.

Dafa melonggarkan pelukannya dan menggeleng.

"Udahlah Ca diem, tidur aja. Aku jagain sampai Abangmu pulang, biar nanti kamu dipindah sama mereka."

Caca pun mengalah, dia memejamkan matanya karena lelah seharian mengerjakan tugas kuliah yang tiada habisnya.

Orang tua Caca memilih tinggal di desa karena merasa lebih tentram, sedangkan abang pertamanya menjadi pengusaha dan memilih tinggal di korea. Mereka hanya sesekali pulang mengunjungi Caca dan abang kembarnya.

Dafa adalah anak tunggal, ayahnya seorang pilot dan ibunya seorang penerjemah lepas.

Orang tua mereka adalah sahabat dan rumahnya berdekatan, jadi sejak bayi Caca dan Dafa sudah bersama.

15 menit berlalu, Dafa melihat jam ternyata sudah pukul 21.45. Arga dan Gara belum juga pulang, dia menatap Caca yang terlelap di pelukannya.

Dafa menidurkan sahabat perempuannya di sofa pelan-pelan kemudian bergegas ke kamar tamu untuk mengambil selimut yang biasanya selalu disiapkan disemua kamar di rumah ini. Karena sedari kecil sudah terbiasa bersama, dia pun tidak canggung lagi bila berada di rumah Caca, apalagi jika hanya mengambil selimut.

"Ternyata cantik juga," kekehnya sembari memandang wajah sang sahabat.

Melihat rambut Caca yang menutupi wajah, dia pun berinisiatif menyisipkannya ke belakang telinga.

"Nah gini kan tambah cantik."

Tak dapat dipungkiri jika gadis dihadapannya ini mempunyai wajah yang begitu menawan. Banyak laki-laki yang mencoba mendapatkan hatinya, namun akhirnya mereka mundur karena sikap sahabatnya yang terlampau dingin.

"Pengen gue pacarin, tapi sadar, pacar gue udah banyak." Dafa menipiskan bibirnya.

Menoleh ke kanan, kiri, belakang, atas. Aman, batinnya.

"Maaf ya, Ca, cuma dikit kok," ucapnya lalu mencium pipi dan kening sahabatnya dengan pelan karena takut akan terbangun.

Tanpa terasa waktu cepat berlalu, malam pun berganti pagi.

Jam baru menunjukkan pukul 4.45 ketika Caca merasakan gempa di kasurnya.

Ia membuka mata karena terkejut dan berteriak, "Astaghfirullah, gempa!"

Buru-buru turun dari kasur dan bersiap lari.

"Aww..." Dia menoleh ke belakang ketika merasakan sakit di kepalanya, ternyata Dafa pelakunya, lelaki itu sedang menarik rambutnya sambil tertawa.

Caca berteriak lagi mengajak sahabatnya keluar, "Dafa, ayo keluar. Ada gempa!"

Dafa yang masih berdiri di kasur pun tertawa. Caca terus mengoceh dan mencoba melepaskan tangan Dafa di rambutnya.

"Ayo Dafa keluar, jangan ketawa. Nanti kita mati kalo terus disini!" Caca berteriak-teriak hampir menangis, suaranya sudah serak.

Dafa kembali terbahak, tetapi tak urung melepas cekalan tangannya di rambut gadis itu. Dia memegang kedua pipi Caca yang telah basah oleh air mata.

"Ngapain nangis, Ca? Gempanya udah berhenti loh," ucapnya menahan tawa.

Dua kepala tiba-tiba menyembul dari balik pintu, penasaran akan drama pagi hari yang terjadi di kamar adiknya.

"Caca kenapa?" Tanya Arga penasaran.

"Heh! Lo apain adek gue?" Tanya Arga dengan wajah garang seolah siap membunuhnya.

Alih-alih takut, Dafa justru tersenyum dan menyuruh kakak kembar Caca masuk. Dia menceritakan semuanya, membuat satu-satunya perempuan di kamar itu langsung tersadar bahwa dia telah dikerjai. Segera saja gadis itu menatap Dafa dengan tajam seperti pedang yang siap menghunus. Dia balas menjambak rambut sahabatnya dan memukul-mukul pundak lelaki itu.

"Dafa si*lan! Sini aku hajar kamu biar tau rasa," ucapnya, meski sang kakak mencoba memisahkan.

"Udah-udah, Ca, kasian Dafa kayak orang gila ini. Udah, kamu mandi atau cuci muka sana tadi belum cuci muka kan?"

Caca mengangguk dengan muka ditekuk sedangkan Dafa yang sedang memegang rambutnya kesakitan lantas segera melotot kaget. Ia menatap nanar kedua tangannya.

"Astaga aku lupa, Ca. Kamu kan belum cuci muka kenapa aku pegang pipimu tadi."

Caca yang tadinya cemberut kini tertawa, tanpa sengaja, tetangganya yang menyebalkan ini sudah mendapat karma.

***

"Bun!"

Fenti yang sedang memetik anggur di belakang rumah menatap heran pada anak semata wayangnya yang kini berjalan kearahnya dengan wajah tertekuk dan kedua tangan diangkat.

"Kenapa, Nak?" Buru-buru ia menghampiri anaknya karena takut terluka.

"Kotor, Bun, jijik banget. Tadi habis megang muka Caca yang baru bangun," adu nya dengan wajah hampir menangis.

Beginilah Dafa, kalau diluar garang tapi kalau di rumah cengeng dan manja. Apalagi kalau sama Caca, bisa lebih manja ketimbang dengan sang bunda.

"Ya ampun ... Bunda kira kenapa, yaudah dicuci sana, kok malah kesini."

"Bunda kok biasa aja sih," kata Dafa nanar.

"Terus gimana? lagian salah kamu sendiri Caca baru bangun udah dipegang-pegang mukanya."

"Bun, tapi jijik, niatnya kan mau ngerjain."

"Yaudah tinggal dicuci, Bunda mau lanjut metik anggur."

"Bunda gak mau marahin Caca gitu?" Tanya Dafa ketika sang bunda sudah membalikkan badan.

"Enggak, kan yang salah kamu."

Dafa berdecak dan berniat pulang untuk mencuci tangannya, tapi dia melihat Caca yang menyandar di tiang yang berada di belakangnya. Gadis itu terlihat asik makan anggur sembari menatapnya dengan tatapan mengejek.

"Cuma kayak gitu aja lapor."

Dafa melangkah melewatinya dan memutar bola mata jengah, " Ya gapapa, siapa tau Bunda marahin kamu, kan asik tuh."

"Gak bakal, aku kan anak ceweknya Bunda," kata Caca yang berjalan di belakang lelaki itu.

Dafa berdecih, "Sebenernya yang anaknya itu aku apa kamu sih?"

"Udah dibilangin, aku anak kandung kamu anak pungut."

Dafa bertambah kesal ketika mendengar jawaban gadis itu.

"Gak percaya? Tanya aja sama Bunda," kata Caca.

Fenti yang baru pulang sehabis memetik anggur hanya bisa menatap keduanya sambil menggelengkan kepala. Sudah biasa baginya melihat kedua anak di depannya ini berdebat.

"Bun, masa Caca bilang aku anak pungut," adu Dafa yang memang suka mengadu pada bundanya, maklum anak tunggal.

Fenti tersenyum, ia tau kalau Caca sedang mengerjai anaknya, ia pun bertanya dengan santai, "Loh emang bunda belum bilang ya?"

"Bilang apa?" Tanya Dafa dengan alis bertaut.

"Dulu, kamu Bunda temukan di jembatan kayu yang dekat kebun mawar."

Dafa memutar bola matanya malas, sudah berulangkali sang bunda mengatakan hal tersebut, tapi ia tidak akan percaya karena wajah mereka ada kemiripan meski tidak terlalu mirip. Golongan darah mereka pun sama, bagaimana mungkin dia bukan anaknya, Dafa menipiskan bibirnya, kesal.

"Udah deh Bun, gak usah aneh-aneh. Gak bakal percaya lagi aku."

"Kok gak percaya, kamu gak lihat ada anak perempuan Bunda disini?"

"Itu anak perempuan Bunda, kalau aku kan anak laki-laki Bunda."

"Kalau gitu kalian nikah aja gimana?"

"Ukhukk..," Dafa menyemburkan air yang baru diminumnya, sedangkan Caca yang sedang memakan anggur menjadi menganga, mengakibatkan buah yang sudah ada di mulutnya menggelinding sebelum dikunyah.

Fenti tidak mengetahui bahwa perkataannya dapat mengagetkan sepasang sahabat itu, dirinya masih asik membersihkan anggur yang baru dipetik.

"Bunda jangan nambah aneh-aneh deh," kata Dafa setelah pulih dari keterkejutan, Caca hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun, dia masih cukup kaget.

Fenti membalikkan badan, menghadap sepasang sejoli tersebut.

"Emangnya apa yang aneh, kalian ini walaupun masih muda tapi udah cukup umur, yang lebih muda dari kalian aja banyak yang udah nikah," kata Fenti tersenyum.

"Tapikan kita masih kuliah, Bun. Baru semester 4 juga," balas Caca.

"Iya Bun, nikah itu urusan belakangan," sahut Dafa.

"Padahal Bunda nyuruh kalian nikah biar kalian gak pisah loh, kalau suatu saat kalian ketemu orang baru terus jatuh cinta, kalian pasti bakal lupa satu sama lain bakal kayak sekarang."

"Kan masih bisa komunikasi Bun, emangnya pasangan kita udah pasti gak bakal ngasih ijin ketemu sahabat ya," kata Dafa.

"Mungkin kalian bisa ketemu, tapi gak bakal seperti sekarang," jawab Fenti akhirnya.

***

Dafa dan Caca sedang bermain basket, mereka tidak terlalu fokus karena memikirkan perkataan Fenti tadi.

"Ca, bolanya jangan dipeluk gitu dong," protes Dafa saat Caca memeluk bola basket dengan erat dan membawanya lari.

"Gak mau, kalo aku lepas pasti langsung kamu rebut," jawab Caca cemberut.

"Lah, gimana sih? Namanya juga lagi one by one Caca..., ya pasti rebutan lah," ucap Dafa gemas dengan tingkah sahabatnya.

"Jangan dong! Sekali-kali biarin aku menang , kamu kan udah sering," kata Caca dengan muka merajuk.

"Kamu kan pinter basketnya, biasanya juga kamu yang menang." Dafa mencoba mengambil bola di pelukan Caca, tanpa sengaja tangannya menyentuh dua bukit terlarang milik Caca. Sontak saja pupil kedua orang itu melebar, lelaki itu segera menarik tangganya.

"Dafa!" Seru Caca penuh penekanan, dengan mata mendelik dan pipi merah, malu sekaligus kesal.

"Gak sengaja, Ca! B--beneran gak sengaja. Maaf," kata Dafa panik. Sungguh, dia tidak sengaja menyentuh gunung kembar milik sahabatnya.

"Udahlah aku mau pulang!" Teriak Caca masih menahan malu.

"Iya udah aku juga mau pulang." Dafa segera mengambil hp nya dan memejamkan mata sesaat, juga menarik nafas dalam-dalam.

"Aku beneran gak sengaja Ca, maaf," katanya sambil menggigit bibir, tidak tau harus bertindak seperti apa.

"Jangan diomongin lagi, aku mau pulang," jawab Caca cepat kemudian berlari pulang tanpa menatapnya lagi.

Bab 3

Dafa mengacak rambutnya kesal, jujur dia malu, takut jika gadis yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil itu akan marah, tapi tidak dapat dipungkiri kalau dia juga senang. Kucing mana yang tidak akan senang bila dikasih ikan, meskipun secara tidak sengaja, namun ia bisa menyentuh benda empuk milik sahabatnya.

Tak jauh berbeda dengan di lapangan tadi, Caca yang telah pulang kini menelungkupkan badannya di ranjangnya dan membenamkan kepalanya di bantal.

"Huh ... aku malu," ucapnya dengan tangan kanan memukul-mukul kepala menggunakan bantal, sedangkan tangan kirinya ia tindih untuk melindungi bagian tubuhnya yang tadi disentuh sahabatnya.

"Aku harus gimana ini, nanti gak berani ketemu dong?" ujarnya lagi, wajahnya masih merah dengan air mata hampir keluar.

"Kenapa aku gampang nangis kalau sama dia sih, kenapa tadi disentuh juga, hiks..." Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya luruh juga, padahal jika bersama orang lain dia tidak seperti ini, bahkan tidak pernah menangis, dia juga lebih sering melindungi teman-temannya.

"Laper ...." Tangisnya kian deras kala cacing di perut mulai berdemo, kamar yang kedap suara membuat ia bebas saat menangis, tapi biasanya abang kembar tetap akan mendengar. Entah, bagaimana ceritanya mereka selalu tau.

Caca menelfon ke lantai bawah, meminta bibi membawakan nasi goreng untuknya. Selesai menelfon ia segera ke kamar mandi untuk mencuci muka.

"Keliatan banget lagi, kalau bibi tau terus dilaporin Bang Dev bisa bahaya ini," ucapnya saat melihat matanya yang bengkak di pantulan cermin.

Gadis itu lalu mengambil concealer dan mengaplikasikan di wajahnya agar mata sembabnya tidak terlalu terlihat. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya nasi gorengnya datang, Caca segera mengambilnya dan buru-buru menutup pintu agar bibi tidak melihat matanya.

Dilain sisi ada Dafa pulang ke rumah langsung masuk kamarnya. Bingung harus bereaksi seperti apa saat bertemu Caca nanti. Tidak mungkin jika harus pura-pura tidak mengenal atau pura-pura tidak melihat. Huh, sungguh mustahil.

Dafa menghempaskan tubuhnya ke ranjang, menghembuskan napas kasar dan memeluk gulingnya.

"Gue harus gimana dong? Masa di rumah aja gak gangguin Caca, gak mungkin kan. Mana betah," ucapnya bermonolog.

"Dafa, waktunya makan!"

Lelaki yang kini mengenakan kaos hitam dengan tulisan berbahasa Jepang di dadanya itu bergegas ke lantai satu ketika mendengar suara sang bunda. Rumahnya hanya ada dua lantai dan tidak semewah seperti rumah Caca, meskipun gaji ayahnya sebagai pilot lebih dari cukup untuk membangun rumah mewah, namun jika sang bunda yang meminta, ayahnya bisa apa.

"Kenapa muka kamu?" tanya Fenti saat melihat wajah kusut anaknya.

"Gak pa-pa, Bun, cuma ngantuk."

Fenti duduk dihadapan putranya yang kini tengah menyuapkan nasi ke mulut dengan lemas, dia semakin curiga namun tidak akan bertanya lagi karena saat sudah siap nanti Dafa pasti akan bercerita sendiri.

"Kamu besok jadi jenguk temenmu yang habis kecelakaan itu, siapa sih namanya kok Bunda lupa?" Ucap Fenti sembari mencoba mengingat.

"Rian?"

"Nah iya."

"Jadi, tapi ke rumahnya soalnya udah dipindah ke rumah."

"Loh, udah dibawa pulang?"

Dafa mengangguk, "Abis ini mau dibawa ke Singapore soalnya lukanya parah, sekarang juga masih koma."

"Astaghfirullah, tuh udah ada contohnya!makanya kamu kalo naik motor itu pelan gak usah kebut-kebutan!" Kata Fenti.

"Iya, Bun," jawab Dafa setengah malas, dia yakin sebentar lagi bundanya akan meneruskan ceramahnya sampai dia selesai makan.

"Kamu itu kalo di bilangin jawabnya iya-iya tapi gak bener-bener dilakuin."

"Terus aku harus gimana?"

"Ya beneran jangan ngebutlah, kok masih nanya. Bunda udah sering bilang lho!"

"Iya, Bun, iya. Kalo gak lupa," jawab Dafa memelankan suaranya saat di akhir kalimat.

"Tuh kan!"

Fenti meletakkan sendok kasar hingga menimbulkan suara nyaring, Dafa meringis mendengarnya.

"Kamu minta Bunda jewer ya?" Tanya Fenti dengan mata melotot ke arah anaknya.

Dafa menggeleng, badannya merinding. Sungguh, dia tidak ingin merasakan jeweran sang bunda yang begitu menyakitkan.

"Rumahnya Rian itu dimana?" Tanya Fenti masih dengan nada galak.

"Depok."

"Berapa hari mau disana?"

"Tiga hari."

Sekarang sedang libur kuliah membuat dia bebas saat akan bepergian.

"Kalo gitu jangan lupa pamitan sama Caca."

"Ukhukk ...." Sial, sudah dua kali ia tersedak dalam sehari dan itu semua karena ucapan bunda.

"Kalo minum pelan-pelan dong, Daf," ucap Fenti menepuk punggung anaknya yang masih terbatuk-batuk.

"Gak usah pamitan deh, Bun, cuma tiga hari ini," ujar Dafa saat sudah merasa baikan.

"Loh kenapa, biasanya pergi sehari juga pamitan?" Tanya Fenti heran.

"Ya gak papa," jawab pemuda itu sambil mengalihkan pandangan dari sang bunda.

Pemuda itu lantas bangkit menuju kamarnya. Merebahkan tubuhnya dan memutar-mutar ponsel bingung.

"Pamit gak ya?" Tanyanya pada diri sendiri. Padahal rumah Caca berhadapan langsung dengan rumahnya, tapi tidak mungkin ia pergi kesana dan memberitahukan langsung. Dia masih merasa malu karena kejadian tadi.

Dafa mengetikkan sesuatu di ponselnya kemudian menghapusnya lagi hingga berkali-kali.

"Udahlah gak usah," ucapnya berniat meletakkan ponselnya.

"Tapi ...," ujarnya ragu sembari melirik ponsel yang masih berada di genggamannya.

"What?!" Ucapnya dengan mata melotot kaget.

"Astaga ini gimana bisa? Duh, tombol hapus mana lagi, astaga udah dibaca!" Ucap Dafa kelimpungan ketika melihat pesan yang tidak sengaja ia kirim ke Caca sudah menampilkan centang dua berwarna biru.

"Mampus," ujarnya sembari mengacak rambutnya kasar, matanya menatap nanar layar ponsel.

Tak lama kemudian Caca membalas pesannya, gadis itu menanyakan ia akan pergi kemana sampai tiga hari.

Karena merasa sudah terlanjur, dia pun menjelaskan akan menjenguk Rian di Depok. Ia juga menjelaskan kalau teman satu jurusannya di kampus itu sedang koma karena mengalami kecelakaan hebat.

[Kok lama banget?]

Dafa membaca pesan sahabatnya yang diakhiri dengan emoticon menangis. Dia terkekeh pelan.

[Sekalian nyari pacar, biar gak jomblo kayak kamu.] Bunyi pesan yang ia tulis pada layar ponsel kemudian menyentuh tombol send.

Dafa mendelik kesal begitu mendapat balasan sahabatnya.

[Dasar buaya!] Caca.

"Enak aja, baru pacaran lima belas kali kok udah dibilang buaya. Harusnya kadal dong, kebesaran kalo buaya mah," gerutunya sebal.

***

Keesokan harinya, Caca duduk termenung di sudut cafe. Dafa sudah berangkat sejak pagi tadi, lelaki itu hanya berpamitan melalui pesan whatsApp, Caca sendiri juga tidak datang ke rumahnya.

"Loh, Ca?!" Sebuah suara terpaksa membuat gadis itu mendongak.

"Hai, Kak," sapa Caca lemah ketika mengetahui yang menghampirinya adalah Kiara, teman akrabnya juga teman satu grup dance. Kiara 7 bulan lebih tua dari Caca.

Kiara menautkan alis bingung, dia duduk di kursi yang ada di depan Caca.

"Kenapa lo?"

"Gak papa, lagi bosen, capek, sama males aja."

Mendengar jawaban Caca yang sepertinya benar-benar sedang semrawut membuat Kiara berdecak kesal, ia lantas menyeruput kopinya.

"Kalo bosen ya cari hiburan, kalo capek ya istirahat, kalo males ya gak usah ngapa-ngapain," balas Kiara seadanya.

Caca meletakkan kepalanya di meja dan mengaduk-aduk minumannya.

"Sebenernya lo itu kenapa sih, coba cerita sama gue," ucap Kiara gemas melihat tingkah Caca yang jarang seperti sekarang.

"Gue cuma bingung karena belum hapal gerakan dance buat besok," ucapnya berdusta setelah mengingat mereka besok akan membuat video dance cover.

"Lah, tumben amat. Biasanya lima belas menit udah hapal?"

"Gak taulah, lagi banyak pikiran gue."

"Disuruh cerita gak mau."

Caca berdecak. Sejak kejadian kemarin dia menjadi uring-uringan. Ingin menelfon Dafa tapi malu, tidak menelfon tapi rindu.

"Main yuk," ajak Kiara karena melihat sahabatnya bertambah kacau.

"Kemana?" Tanya Caca malas.

"Situ Cisanti," jawab Kiara menyebutkan salah satu tempat wisata yang ada di kota mereka.

"Boleh deh," balas Caca akhirnya. Dia mengambil ponselnya kemudian mengirim pesan pada kedua kakaknya.

"Kita mau berdua aja apa ngajak yang lain nih?" Tanya Kiara, biasanya mereka selalu pergi berempat atau lebih karena akan selalu mengambil foto untuk diunggah di sosial media. Maklum, mereka merupakan anak muda yang saat ini tengah populer lantaran fisik dan otak yang sama-sama unggul, meskipun ketiganya masih kalah jauh dibanding Caca.

"Ajak Kak Fey sama Kak Nay juga."

"Oke."

Kiara segera menghubungi Freya atau yang kerap disapa Fey dan juga Naya, memberitahu mereka bahwa dia dan Caca berniat pergi ke Situ Cisanti.

Entah berapa lama mereka berada di mobil milik Fey, penampilan Fey tidak jauh berbeda dengan Caca. Mereka sama-sama suka mengenakan jeans sobek dan sweater atau kaos lengan pendek karena dinilai lebih simpel.

Di belakang mobil Fey juga ada satu mobil milik manager dan fotografer mereka. meskipun bukan artis, namun mereka kalangan anak-anak famous yang membutuhkan manager.

Caca memilih menatap ke luar jendela, pikirannya tertuju kepada sahabat laki-lakinya. Apa Dafa sudah sampai? Apa Dafa baik-baik saja? Banyak pertanyaan yang berputar dibenaknya.

Dilain tempat, beberapa pemuda yang sedang berkumpul.

Devarga Kingstone Leonard, ketua umum geng motor UKS atau Unit Killer Savage. Kakak kedua Caca namun tidak ada yang mengetahui kecuali keluarga Dafa, sahabat adiknya. Devarga atau yang kerap disapa Arga ini mempunyai saudara kembar, namanya Sagara Kingstone Leonard.

Gara dan Arga mempunyai sifat yang bertolak belakang. Gara memiliki sifat yang ceria dan mudah senyum apalagi jika sudah berhadapan dengan saudaranya maka sifat jahilnya akan muncul. Gara hanya akan bersikap serius jika gengnya mengalami masalah atau saat bersama orang tuanya, dia bahkan bisa berubah mengerikan jika sedang emosi.

Arga, Ketua Umum salah satu geng motor yang paling ditakuti di Bandung, mempunyai sikap yang dingin dan tidak tersentuh, namun berbeda jika berhadapan dengan Caca. Sifat Arga akan lebih lembut dan suka tersenyum, kadang ia bahkan menjadi lumayan jahil jika dengan adik perempuannya.

Hari ini mereka sedang berada di basecamp, beberapa anggota yang berkumpul ada yang menyanyi, bermain gitar, membuat kelompok untuk bermain game atau hanya bermain ponsel.

"Gar, ini Situ Cisanti bukan?" Tanya Arga seraya mendekati adik kembarnya.

Gara yang sedang fokus bermain game pun mengalihkan pandangan ke layar ponsel saudara kembarnya.

"Iya kayaknya." Setelah mengucapkan kalimat itu Gara langsung menghentikan permainannya, dia melihat lagi layar ponsel Arga yang menampilkan foto adik perempuan mereka di suatu tempat.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED