Kamar yang bernuansa biru malam dengan beberapa piala juara taekwondo dan olimpiade yang berjejer rapi ternyata sangatlah senyap. Hanya suara percakapan dua insan yang terdengar keluar dari laptop yang sedang dilihat oleh seorang gadis berbaju hitam yang sedang tengkurap.
Jika dilihat sekilas, wajahnya mungkin terlihat bosan dan malas. Namun, berbeda dengan hatinya yang sedang berbunga-bunga karena pria yang selama ini dicintai telah menerima dirinya.
Percakapan berbahasa Jepang itu sangat menarik perhatian Alea, seorang gadis yang dikenal sebagai pemalas dan mageran. Dia adalah Berlian Alea yang hanya mengisi hari-harinya dengan bangun, makan, minum, menonton televisi, belajar, dan tidur karena kegiatannya sehari-harinya hanyalah bernafas.
Beberapa piala yang berjejer rapih di almari adalah milik Alea, meskipun dia sudah pensiun dari dunia taekwondo.
"Ah, gawat. Aku lupa melanjutkan Chapter akhir novelku. Tugas liburan musim panasku juga. Tapi ya sudahlah, nanti saja," ucap Alea.
Seketika, perutnya berbunyi. Matanya menelusuri penjuru kamar, berharap menemukan makanan agar tidak harus keluar mencarinya. Namun, usahanya gagal dan dia tidak menemukan apapun yang bisa dimakan. Dengan terpaksa, Alea mematikan laptop dan keluar dari kamar. Saat membuka kulkas, dia menemukan bahwa kosong dan hanya tersedia air es dan beberapa sayuran mentah.
Dengan malas, dia keluar dari rumah dengan membawa uang seribu yen. Panasnya matahari membuat Alea merasa lebih malas berkali-kali lipat. Namun, demi perutnya, dia harus berjuang. Alea tinggal sendirian di Jepang setelah mendapatkan beasiswa dan hidup terpisah dari orangtuanya yang berada di Indonesia.
Meskipun tampak pemalas, Alea sangat pandai. Dia juga seorang penulis novel fiksi. Karena jarak antara supermarket dan rumahnya lumayan jauh, Alea memutuskan untuk menaiki bus umum. Dia membuka handphonenya dan membaca berbagai macam notifikasi di benda tersebut.
Saat Alea menyadari bahwa ada seorang anak laki-laki kecil yang menatapnya sejak tadi, Alea membalas tatapan itu dan tersenyum tipis. Baru disenyumin saja, wajah anak laki-laki itu memerah. Ingin rasanya Alea tertawa.
Tiba-tiba, tubuhnya serasa terombang-ambing. Alea mendadak panik dan berusaha berpegangan dengan benda di dekatnya, namun sia-sia. Kaca bus terdengar pecah. Tubuh Alea serasa kehilangan kendali. Hal terakhir yang Alea ingat adalah merasakan sakit di seluruh tubuhnya dan darah mengalir keluar dari tubuh indahnya.
Saat matanya tiba-tiba mengeluarkan setetes air mata, gadis dengan mata indah dan bulu mata lentik yang sedang tertutup itu, perlahan-lahan membuka matanya dan menatap sendu langit-langit ruangan tempat ia dirawat. Air mata itu kembali jatuh dan ia tidak berniat untuk menghapusnya ataupun mengeluarkan suara.
Di ruangan tersebut, tidak ada seorang pun selain dirinya.
Gadis yang sedang berbaring di brankar itu tiba-tiba tertawa sendiri seolah-olah ia sudah tidak waras.
"Hidupmu benar-benar miris, Athena," ucapnya sambil menutup kembali matanya dan mengingat pertemuannya dengan pemilik tubuh itu.
"Gue sudah menyerah. Maaf ya, Alea. Maaf karena gue tiba-tiba menyerahkan semua masalahku padamu, padahal kita hanya orang asing. Kamu boleh menggunakan tubuhku semaumu, asalkan jangan menjualnya saja," ujar Athena sambil tersenyum.
Ya, gadis yang sedang berbaring itu sebenarnya adalah Athena, tapi sekarang dihuni oleh jiwa Alea, gadis yang terlibat dalam kecelakaan dan berakhir di tubuh Athena.
Kepalanya yang sedang diperban terasa ngilu karena terlalu banyak berfikir. Alea menghela nafas panjang dan menaruh tangannya yang bebas dari infus untuk menutup matanya.
"Semoga-nggak banyak masalah, jadi aku bisa tidur nyenyak. Pedulikan saja cowok-sialan itu. Aku Alea, bukan Athena. Ya, meskipun mesti terbiasa memakai kata-ganti diri Athena. Lama-lama aku benar-benar tidak waras, bicara sendiri," gumam Alea pada dirinya sendiri.
Baru saja Alea ingin masuk ke dalam alam mimpi, pintu ruangannya terbuka kasar dan menampakkan seorang laki-laki jangkung berparas bak dewa laut.
"Sudah siuman?" tanya laki-laki itu.
"Bengong, siapa yang mengusik tidurku?" Alea membalas.
"Lalu kalau begitu, setelah kamu hampir-merusak Nasya, kau masih bisa tidur nyenyak?”
Alea tidak menghiraukan laki-laki itu. Ia sudah mulai berkelana di alam mimpi dengan tangan yang menutup matanya.
Laki-laki itu mendadak emosi dan menarik kasar pergelangan tangan Alea yang menutup matanya.
Alea meringis, "Sakit, brengsek!"
"Makanya kalau aku bicara, dengarkan!" kata laki-laki itu dengan kesal.
"Apakah kau pernah mendengarkan aku saat aku berbicara?" Alea naikkan oktafnya.
Laki-laki itu terdiam. Alea yang tersulut emosi melepaskan cengkraman tangan laki-laki itu dengan kasar dan kembali berbaring membelakangi laki-laki itu.
"Lebih baik kau keluar sekarang. Jangan ganggu aku. Kalau kau ingin meminta maaf, silakan, tapi tidak sekarang, aku lelah."
"Oke, aku akan mematuhi kata-katamu." Laki-laki itu keluar dari ruangan itu setelah mengucapkan itu.
Alea merasa kesal,
"Atheon Charlos Lunch, kembaran Athena Charlotte Lunch." Gumam Alea mengingat nama yang melintas di otaknya.
Ya, saat ia bertemu dengan Athena yang asli, semua kenangan yang terjadi pada Athena pun beralih ke Alea.
"Kasian kau, Na, punya kembaran seperti itu."
Setelah mengucapkan itu, Alea tertidur pulas. Ia adalah tukang tidur sejati.
°•°•°•
Hari ini adalah hari ketiga Alea di tubuh Athena. Dia sudah pulang dari rumah sakit sehari yang lalu karena keadaannya sudah sangat baik. Bahkan, sekarang ia sudah memasuki wilayah SMA Cendrawasih, sekolah Athena.
Alea sengaja berangkat pagi-pagi karena ia sedang malas bertemu dengan Atheon dan Nasya, adik dari dua anak kembar itu.
"Malas banget balik sekolah, sialan. Gue udah kuliah, malah dibalikin ke SMA. Tuhan baik banget sih, jadi pengen gue ajak ketemu, kapan ya kira-kira?"
Alea - atau kini lebih terbiasa dengan nama Athena - memasuki kelas 11 IPA 4. Ia duduk di bangku paling belakang sekaligus paling pojok dan langsung menelungkupkan kepalanya.
****************
Gadis dengan penampilan berantakan dan beberapa lebam di wajahnya itu melaju dengan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Penglihatannya pun menjadi kabur karena genangan air di matanya.
Gadis itu mencengkeram erat setir kemudi dan berteriak seperti orang kesetanan. Ia mencoba untuk menyalurkan rasa sesak di dadanya. Padahal ia sudah tahu fakta itu. Tetapi ketika mendengarnya langsung dari mulut orang itu, mengapa harus sesakit ini?
Gadis itu kembali menatap ke depan. Ah, ternyata ia sudah pindah jalur. Di depannya, dari arah berlawanan, ada sebuah truk yang membunyikan klakson berulang kali. Bukannya berhenti, gadis itu justru semakin menambah kecepatan mobilnya dengan senyum samar di bibirnya.
Dan ...
Bunyi dentuman keras masuk ke indera pendengaran.
"Athena!"
"Athena Charlotte!"
Athena terbangun dengan nafas tak beraturan. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Athena berusaha mengatur nafas dan detak jantungnya yang berdetak kencang.
"Lo kenapa, Na? Mimpi buruk?"
Athena menoleh dan menatap gadis seusia Athena asli yang menatapnya dengan cemas.
Athena menggeleng pelan, "Gak apa-apa, cuma mimpi."
"Oh, yaudah. Ngomong-ngomong, lo salah tempat duduk. Di sini tempat duduk gue. Lo nggak lupa kan?"
Athena menggeleng pelan, "Gue tahu. Lo duduk aja di tempat gue. Kita tukeran."
Gadis itu menatap Athena ragu, "Lo yakin? Lo nggak mau duduk dekat Bara?"
Athena mengangguk singkat sambil bergumam. Gadis tadi tersenyum lebar dan dengan semangat duduk di tempat Athena. Athena mencoba mengingat-ingat wajah teman Athena. Ah, ia lupa. Athena tidak memiliki teman karena sangat sulit didekati. Tentunya, Athena memiliki alasan tersendiri.
"Untung saja si Athena tidak ikut klub apa-apa. Jadi aku bisa lebih lama tidur di kasur nanti." Gumam Athena.
Mungkin sekarang ia memiliki kebiasaan baru, yaitu berbicara pada dirinya sendiri. Teringat satu hal, Athena menggerutu dalam hati.
"Sial, tadi bukan mimpi. Itu ingatan Athena."
Athena menghela nafas dan memilih untuk memainkan ponselnya saja. Hal pertama yang dia lihat saat membuka sandi ponselnya adalah foto seorang laki-laki yang selama ini dikejar Athena asli.
Aldebaran William - atau yang sering disapa Bara - adalah laki-laki yang digilai kaum hawa, termasuk Athena asli. Namun, cinta Athena bertepuk sebelah tangan. Meskipun Bara mengetahui perasaan Athena, ia tetap tidak peduli. Bahkan, laki-laki itu membenci Athena karena perlakuannya yang semena-mena terhadap adiknya sendiri.
Begitulah yang diketahui Athena. Athena berdecak kesal dan membuka aplikasi Google di ponselnya. Ia mencari gambar wallpaper suaminya, Alea, dan langsung menggantinya. Athena tersenyum-senyum sendiri sambil memandangi gambar itu.
"Bodo amat sama si batu Bara, suami aku lebih tampan."
Bel istirahat berbunyi.
Athena yang tertidur sepanjang pelajaran itu terbangun karena tepukan di bahunya. Athena menoleh dan mendapati orang yang membangunkannya.
"Udah istirahat. Lo nggak ke kantin?" tanyanya sambil sesekali menghindari kontak mata dengan Athena.
"Lo siapa?" gumam Athena serak karena masih ngantuk.
"Ah, i-itu. G-gue Antares, lo lupa?"
Athena menatap intens laki-laki disebelahnya. Antares memalingkan wajahnya yang sedikit memerah.
"Oh, Ares. Tapi perasaan Ares nggak gugupan kek lo."
Antares atau yang biasa di sapa Ares itu seperti gelagapan sendiri, "A-a kalo i-tu..."
"Tapi ya sudah. Bawa gue ke kantin."
"Hah?"
"Lo jongkok di depan gue."
Ares menurutinya, "gini?"
Athena mengangguk, "Balik badan."
Ares lagi-lagi menurutinya dan berbalik membelakangi Athena. Athena langsung mengalungkan tangannya dan menyenderkan kepalanya di bahu Ares. Ares yang terkejut itu mendadak gugup sendiri.
"A-Athena,"
"Bawa gue ke kantin. Gue mager."
Mata Ares membulat. Tapi, ia tetap menuruti Athena. Untungnya kelas sepi, jadi tidak ada yang melihat interaksi kedua insan itu.
Di kehidupan sebelumnya, Alea sering digendong oleh Yuka, teman dekat Alea yang memiliki sifat tomboi. Yuka biasa saja sewaktu menggendong Alea, seperti tidak ada beban. Alea mageran, dan Yuuki hiperaktif. Ah, Alea jadi ingin bertemu dengan Yuka lagi.
Ares menggendong Athena dan membawanya ke kantin. Sedangkan Athena, jangan di tanya. Ia sudah tertidur tanpa menghiraukan bisikan setan yang menggosipkan mereka berdua. Ares mati-matian menahan wajahnya agar tetap biasa saja.
****************
Gosip tentang Athena yang mendadak dekat dengan Ares dengan cepat menyebar.
Di salah satu meja kantin, tepatnya di meja Bara dan teman-temannya seperti biasa, sangat ribut.
"Bar, liat nih." Heboh Atlas, salah satu teman Bara yang selalu update.
Bara melirik sekilas benda persegi yang menampilkan kedekatan Athena dan Ares yang tiba-tiba.
"Emang dasarnya murahan mah gitu." Cibir Theo, kembaran Athena. Ya, Theo juga adalah salah satu teman dekat Bara.
"Stt, nggak boleh gitu bang." Peringat Nasya, satu-satunya perempuan disana.
"Salah dia sendiri yang selalu nyakitin lo, Sa. Ya gak Chil?" Sahut Kei, teman dekat Bara juga.
Chilo, salah satu teman dekat Bara yang selalu cuek itu hanya bergumam tanpa minat.
"Udah kak. Jangan gosipin Kak Athena. Mending kita mesan makanan aja yuk. Biar aku yang mesan." Kata Nasya dengan senyum manisnya.
"Wih, neng Nasya baik banget. Biar Bang Atlas aja neng yang mesan." Goda Atlas.
Nasya terkekeh, "Biar aku aja."
Mereka akhirnya membiarkan Nasya yang memesan makanan. Setelah Nasya pergi, mereka kembali bergosip, lebih tepatnya hanya Theo, Atlas, dan Kei.
Athena yang tidak jauh dari tempat Bara dan teman-temannya itu masih tidur. Ares sedang memesan makanan untuk mereka berdua. Ares hanya memiliki 1 teman dekat, dan sekarang temannya itu sedang izin.
Antares Lesham Erlangga, laki-laki yang memiliki rambut dibawah telinga dan selalu berpakaian rapi, si pemegang peringkat paralel ketiga. Jika kalian bertanya siapa yang pertama, maka tempat itu ditempati oleh Nasya, dan yang kedua adalah Bara.
Athena, ia sangat jarang berinteraksi dengan gadis seusianya. Bahkan teman tetap saja ia tidak punya. Dan, satu hal lagi yang membuat gadis seusianya tidak mau berteman dengannya adalah karena sifat semena-menanya.
Dulu, Athena memiliki teman. Namun, ia tidak terlalu menganggap orang itu temannya dan selalu sibuk sendiri dengan urusannya. Hingga akhirnya, ia dijauhi oleh orang yang selama ini menganggapnya teman. Hal itu sudah menjadi rahasia umum di SMA Cendrawasih.
Ares datang dengan nampan yang berisikan pesanan mereka. Ia menaruh piring berisikan nasi goreng ke hadapan Athena. Ares juga membangunkan Athena dengan sabar. Athena terbangun dan mengucapkan terima kasih. Mereka berdua sibuk dengan makanannya masing-masing.
Nasya melewati meja mereka berdua. Entah apa yang terjadi, Nasya tiba-tiba saja terjatuh. Tentu saja pawangnya akan langsung menghampiri gadis itu, kecuali Chilo yang dengan ogah-ogahan hanya mengikuti teman-temannya.
Athena yang tidak tau apa-apa hanya menatap mereka tanpa minat. Ia ingin membantu, namun teringat perlakuan Nasya yang membuat Athena asli kehilangan akal sehatnya membuat Athena malas terlibat dengan gadis itu.
Tiba-tiba saja, rambutnya ditarik kasar oleh Theo. Athena meringis ngilu karena merasa rambutnya akan botak saat itu juga.
"APA YANG LO LAKUIN, HAH?! BELUM PUAS LO NYAKITIN ADEK GUE?!"
"Apa maksud lo?" tanya Athena pelan sambil berusaha mengontrol emosinya yang tiba-tiba memuncak.
"Lo kan yang ngebuat Nasya sampai jatuh?! Jujur lo!"
Memang, Athena yang dulu sering membuat Nasya terjatuh karena tersandung kaki Athena. Namun, kali ini ia tidak melakukan apa-apa. Nasya, gadis itu terjatuh sendiri.
Nasya sudah di bawa ke UKS oleh Bara dengan romantis. Nasya terkena tumpahan kuah bakso. Dan untuk jaga-jaga agar tidak infeksi, Bara membawanya ke UKS.
"Lo jangan asal nuduh! Athena bahkan dari tadi nggak meduliin tuh cewek!"
"Lo ngebela dia Res? Lo kasih pelet apa sampai Ares mihak lo?" Sinis Atlas.
Entah apa yang merasukinya, Athena tiba-tiba saja menendang perut Theo sehingga jambakan laki-laki itu terlepas. Mereka yang melihat itu terkejut bukan main.
Athena, gadis yang biasanya berusaha menarik perhatian Bara dan Theo dengan sifat lembut itu mendadak kasar. Athena dulu bahkan tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar di hadapan kedua orang itu.
Namun, itu Athena dulu. Sekarang yang ada di tubuh ini adalah Alea, gadis pemalas yang kerjaannya hanya tidur, namun akan berubah menjadi iblis jika diganggu.
"Lo jangan asal nuduh. Asal lo tau, gue udah muak sama lo semua. Kalau gue yang dulu selalu ganggu hidup kalian, gue minta maaf. Tapi mulai sekarang, gue bukan Athena yang dulu."
"Cih, paling bentar lagi nempel-nempel sambil minta maaf." Sinis Kei.
"Mulut lo banci ya, jadi pengen gue jahit."
Ares sedari tadi takjub dengan gadis di depannya. Athena yang selesai mengeluarkan unek-uneknya itu kembali duduk dan meminum es teh miliknya. Setelah selesai, ia mendorong piring yang masih berisi nasi goreng itu menjauh dan merebahkan kepalanya di atas meja.
Atlas geram dan ingin mendekat, namun perkataan Chilo menghentikannya.
"Nasya tadi jatuh sendiri. Lo nggak liat tadi tali sepatunya lepas?"
Mereka terdiam.
"Udah, mending lo pada pergi sana." Usir Ares.
Pada akhirnya, keempat cowok itu pergi meninggalkan kantin. Chilo mendorong bahu teman-temannya agar tidak membuat keributan lagi.
Ares menghampiri Athena yang sudah menutup matanya.
"Makanan lo belum habis. Lo juga dari tadi tidur mulu perasaan."
"Gue capek kebanyakan ngomong. Nafsu makan gue juga udah hilang. Gendong gue." Kata Athena serak.
Ares hanya pasrah dan jongkok di samping gadis itu. Athena dengan senang hati mengalungkan tangannya dan menyenderkan kepalanya pada bahu Ares.
Kepala Athena menghadap ke leher Ares, sehingga nafasnya menerpa leher Ares. Telinga Ares memerah. Namun, ia juga tidak tega membangunkan Athena untuk kesekian kalinya.
Interaksi keduanya disaksikan oleh murid yang berada di kantin. Bahkan, ada beberapa yang merekam mereka. Ares dengan tampang santai keluar dari kantin, berbanding terbalik dengan jantungnya yang mendadak tidak normal.
"Jantung gue serasa mau loncat sialan!"
Alea berada di ruangan gelap yang hanya diterangi beberapa lilin. Gadis itu menatap tubuhnya yang berbeda dari tubuh Athena. Jika tebakan Alea benar, ia sekarang berada di raga aslinya, meskipun hanya sekedar mimpi.
Seorang gadis yang mengenakan baju putih panjang sama sepertinya itu perlahan mendekat.
Alea mengenalnya? Tentu saja!
Itu adalah raga yang beberapa hari ini ia tempati. Athena Charlotte Lunch.
"Hai, Alea. Ini kedua kalinya kita bertemu, 'kan?"
Alea mengibaskan tangan kanannya, "Tidak-tidak. Sepertinya ini yang ketiga kalinya. Karena yang kedua kalinya adalah mimpi buruk sialan itu."
Athena terkekeh. "Ada yang mau gue omongin. Bisa kita cari tempat yang lain? Disini terlalu gelap."
"Boleh."
Kedua gadis itu berjalan menyusuri kegelapan. Hingga akhirnya, Alea melihat cahaya di depannya. Setelah memasukinya, pemandangan yang memanjakan mata memasuki indera penglihatan Alea.
Tempat indah yang dihiasi bermacam-macam bunga dan danau jernih membuat suasana menjadi tenang. Athena mengajak Alea untuk duduk di bawah pohon rindang.
Suara lembut Athena mengintrupsi perhatian Alea.
"Ada satu hal yang gue tutupin dari lo. Maaf, seharusnya gue kasih tau lo lebih awal. Gue cuman malu sama diri sendiri."
Alea menggeleng pelan, "Semua orang pasti punya hal yang susah buat dijelaskan. Tapi, kalo lo nggak keberatan buat cerita, gue bakal dengerin dengan seksama."
Athena tersenyum tulus.
Flashback on
"Bara! Gue bawain bekal buat lo." Gadis dengan rambut panjang diurai itu tersenyum lebar sembari menyodorkan sebuah kotak bekal kepada Bara.
Bara hanya melirik kotak itu sekilas. Tanpa mengambilnya, ia pergi meninggalkan gadis tadi. Bahkan, untuk menatap sang pemberi saja ia enggan.
Gadis itu memanggil Bara berulangkali. Namun, ia dihiraukan.
"Athena, nih gue bawain lo susu stroberi buat ngembaliin mood lo." Kata seorang gadis berambut sebahu menghampiri Athena.
Athena hanya menatap punggung Bara yang mulai menjauh dan menghentakkan kakinya. Setelah itu, ia beranjak pergi meninggalkan gadis yang menyodorkan susu stroberi kepadanya.
Gadis itu menatap nanar Athena dan susu di tangannya.
"Stella!" panggil Athena dengan nada merengek. Kelas mereka sudah kosong karena bel sudah berbunyi 10 menit yang lalu.
Gadis yang merasa terpanggil itu menoleh dengan senyum lebarnya.
"Gimana?"
Athena mendudukkan dirinya di samping Stella. "Gue di tolak lagi."
Stella menaruh tangannya di pundak Athena dengan senyum manisnya, mereka berhadapan.
"Mungkin hari ini lo gagal. Tapi siapa tau besok lo diterima Bara. Bara juga goblok banget sih nyia-nyiain lo yang cantiknya nggak ketulungan gini."
Athena kembali tersenyum mendengar kata-kata menenangkan dari Stella.
"Tuh kan, kalo senyum makin cantik. Udah ya, jangan sedih lagi. Nih gue bawain susu stroberi."
Stella hari itu nampak murung. Athena baru saja memasuki kelas dan hanya melirik Stella sekilas. Tanpa menghiraukan alasan Stella murung, Athena kembali keluar kelas dengan kotak bekal di tangannya.
Stella ingin memanggil Athena, namun gadis itu sudah terlebih dahulu menghilang dari balik pintu. Stella akhirnya hanya memendam masalahnya sampai menunggu Athena datang.
Setelah 10 menit menunggu, Athena memasuki kelas dan duduk di sebelah Stella dengan wajah kesalnya.
"Athena, gue mau cerita. Orang tua gue mau cerai. Menurut lo, gue harus gimana?"
Athena hanya mengangguk-angguk saja sambil bergumam samar, "Lo sabar aja."
Stella yang terlalu berharap mendapatkan perhatian Athena itu merasa ada sesuatu yang menusuk dadanya.
"Yang lebih penting, lo bantuin gue mikirin cara buat dapetin Bara!" Rengek Athena.
Stella tersenyum paksa dan menyimak cerita Athena yang tentunya membahas tentang Bara.
Pada akhirnya, ia belajar untuk tidak berharap terlalu tinggi kepada orang lain.
Stella membawa setumpuk buku paket atas perintah guru matematika. Seharusnya, ia membawa buku itu berdua bersama Athena. Namun sedari tadi mood Athena sangat buruk. Jadi Stella berinisiatif untuk tidak melibatkan Athena. Ia juga merasa tidak enak melibatkan teman sekelasnya yang lain karena ini adalah jam istirahat. Jika harus mengantarkan buku paket terlebih dahulu, maka kantin akan penuh.
Begitulah Stella. Ia orangnya tidak enakan.
Stella tiba-tiba saja tersandung kakinya sendiri yang membuatnya terjatuh. Buku-buku ditangannya juga berjatuhan.
Stella meringis ketika merasa perih di lututnya. Gadis dengan rambut sebahu itu kembali mengumpulkan buku yang terjatuh. Tiba-tiba, seseorang menghampiri dan langsung membantunya memungut buku yang berhamburan.
Stella sangat mengenal laki-laki itu. Dia adalah Bara, laki-laki yang selama ini dikejar oleh sahabatnya. Meskipun ia tak tau Athena menganggapnya atau tidak.
"Sorry Bar. Nggak usah repot-repot. Gue bisa sendiri." Kata Stella tidak enak.
"Gue bantu." Kekeh Bara tidak ingin dibantah.
Stella akhirnya mengangguk ragu. Ia hanya takut Athena melihat mereka dan berakhir menjadi kesalahpahaman.
"Bawa kemana?"
"Nggak usah, gue bisa bawa sendiri kok."
"Dengan luka itu?"
Stella menatap lututnya yang terluka dan mengeluarkan darah. Rasanya memang sedikit perih.
"Bawa kemana?" Ulangnya.
"Ke ruang guru."
Setelah mengantarkan buku itu, Stella berterimakasih kepada Bara dan kembali ke dalam kelas. Hal pertama yang ia lihat sewaktu memasuki kelas adalah Athena.
Athena mendekat ke arah Stella. Dan tanpa di sangka,
PLAKK
"Lo suka ya sama Bara?" tuduh Athena.
Stella menatap Athena sambil memegang pipinya yang nyeri.
"Nggak Na!"
"Tadi lo berduaan kan sama Bara? Bara bahkan ngomongnya nggak kasar. Lo mau ngebuat gue tambah patah hati?" Kata Athena dengan tatapan kecewa.
"Nggak, bukan gitu Na! Bara cuman bantuin gue doang."
"LO NGGAK USAH MUNA DEH! Di belakang gue, lo nyimpan rasa kan sama Bara?!"
"UDAH DEH NA! GUE CAPEK! KENAPA LO SELALU NUDUH GUE? LO JUGA NGGAK PEDULI SAMA MASALAH GUE. Lo anggap gue apa, Na?" kata Stella melirih di akhir kalimatnya.
"Lo bukan siapa-siapa gue. Bahkan, sedari awal pun lo bukan siapa-siapa gue."
Dada Stella mendadak sesak. Kata-kata yang keluar dari bibir indah itu menusuk tepat di ulu hati. Mungkin, Athena ada benarnya. Hanya ia saja yang terlalu berharap agar di anggap.
"Tapi, gue nganggap lo sahabat gue, Na!"
"Itu urusan Lo, bukan urusan gue."
Murid-murid yang menyaksikan pun mendengar dengan jelas semua perkataan Athena. Ketika mendengar ada keributan, mereka langsung mendatangi kelas Athena.
Mulai hari itu, Stella perlahan menjauh dari Athena. Athena bahkan mulai di benci beberapa orang di sana.
Flashback off
"Gue tau gue salah," Lirih Athena.
"Gue tau semua perlakuan gue salah. Stella selalu ada buat gue, dia nganggap gue temen. Sedangkan gue, bahkan disaat dia sedih gue gak ada di sana." Lanjut Athena menunduk.
Alea dengan seksama mendengarkan keluh kesah Athena. Kejadian yang diceritakan Athena mendadak memasuki otaknya dan membuatnya menjadi lebih paham.
"Kenapa lo nggak minta maaf dan ngejelasin semuanya?"
"Gue waktu itu nggak peduli. Yang ada di otak gue cuman Bara, Bara, dan Bara. Hingga akhirnya gue kehilangan orang yang selama ini selalu ada buat gue. Setelah gue ngebuang dia, gue baru merasa kehilangan."
Athena terkekeh, "Goblok banget ya gue." Lanjutnya.
"Pada akhirnya, gue cuman lari dari masalah. Gue terlalu takut buat ngehadapin semuanya."
Alea memeluk Athena dan menepuk punggungnya untuk menenangkan. Athena membalas pelukan itu. Pelukan hangat yang setelah sekian lama tidak ia dapatkan.
Setetes cairan bening keluar. Athena dengan cepat menghapusnya dan menyudahi acara berpelukannya.
Athena berdiri, "Sudah waktunya lo balik."
Alea ikut berdiri, "Lo benar. Kalo gue kelamaan disini, entar dikira is dead lagi."
Athena terkekeh. "Ya udah. Sampai ketemu lagi, Alea."
Alea mengangguk dan melambaikan tangannya. "Sampai ketemu lagi juga, Athena."